• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM INDUSTRI

4.2. Perkembangan Industri Kertas

Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia, hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan, tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9,8 persen pada periode 1997- 2001. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19,1 persen per tahun. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4,7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, 2003).

35

Tabel 4.2. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003

Tahun Konsumsi Kertas / Kapita

1993 11,1 kg 1994 13,0 kg 1995 14,0 kg 1996 16,3 kg 1997 16,9 kg 1998 14,1 kg 1999 19,6 kg 2000 20,8 kg 2001 23,3 kg 2002 24,0 kg 2003 25.0 kg

Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, 2003.

Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini, para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas, bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10,3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4.2). Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita, namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita, industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus

meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi.

4.3. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia

Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003, tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4.1). Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66,08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21,32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas.

Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih, 2002)

Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri, masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.

37

Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri, terutama pasar Asia, dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura, Cina, Malaysia, dan India. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd.). Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka.

Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko, 2002).

4.4. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia

Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. Pertama, PT. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. yang menguasai

20,5 persen dari total kapasitas industri, kemudian disusul oleh PT. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.2 persen, dan perusahaan ketiga adalah PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10,1 persen (Tabel 4.3). Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa, NAD. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.

Tabel 4.3. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan Kapasitas Terpasang

(Ton)

Persentase (%) PT. Indah Kiat Pulp& Paper Corp 2.111.000 20,5

PT. Pakerin 700.000 6,8

PT. Aspex Kumbong 430.000 4,2

PT. Ekamas Fortuna 150.000 1,4

PT. Fajar Surya Wisesa 500,000 4,8

PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills 1.465.000 14,2

PT. Riau Andalan Kertas 350.000 3,4

PT. Surabaya Agung 486.800 4,7

PT. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper 450.000 4,4

PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia 1.044.000 10,1

PT. Pelita Cengkareng Paper Co. 157.800 1,5

PT. Kertas Leces (Persero) 195.000 1,9

PT. Papyrus Sakti 150.500 1,4 PT. Pura Barutama 93.000 0,9 PT. Suparma 150.000 1,4 PT. Surabaya Mekabox Ltd. 85.200 0,8 PT. Adiprima Suraprinta 150.000 1,4 PT. Gede Karang 50.400 0,5 PT. Papertech Indonesia 60.000 0,6 Lain-lain 2.986.000 28,9

39

1) PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk

Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No.Y.A.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978, dan didaftarkan diKantor Pengadilan Negeri Jakarta No. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga, 2005). PT.Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. Pada susunan pemegang saham, masyarakat menguasai 38,78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.4).

PT.Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp, kertas budaya, kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton, dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas, perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1.631.000 ton pulp per tahun, 744.000 ton kertas budaya per tahun, 980.000 ton kertas industri per tahun dan 100.000 ton corrugated boxes per tahun.

Pada saat ini, perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya, terutama pabrik kertas budaya di Tangerang, yang menempati lahan seluas 28 Ha, pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang, Riau seluas 1.722 Ha

dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308,9 Ha. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan, mess karyawan dan lain-lain.

Tabel 4.4. Boards PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004

Dewan Komisaris

Presiden Komisaris : Indra Widjaja

Wakil Presiden Komisaris : Ir. Gandi Sulistiyanto Soeherman

Komisaris : Show Chung Ho

Komisaris : Kuo Cheng Shyong

Komisaris : Raymond Liu, Phd.

Komisaris : Lo Shang Shung

Independen Komisaris : Hj. Ryani Soedirman

Independen Komisaris : Mas Achmad Daniri

Independen Komisaris : Prof. Dr. Teddy Pawitra

Independen Komisaris : Kamardy Arief

Independen Komisaris : Let Jend (Purn) Soetedjo

Dewan Direksi

Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja

Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin

Direktur : Suresh Kilam

Direktur : Didi Harsa

Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja

Susunan Pemegang Saham

PT Purinusa Ekapersada : 52,72%

CHP International (BVI) Corp. British Virgin Island

: 5,88% YFY Global Investment (BVI) Corp.

British Virgin Island

: 2,56% Yuen Foong Yu H.K., Co. Ltd, Hong

Kong

: 0,05%

Masyarakat : 38,78%

41

2) PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills

PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No.6 tahun 1968 tentang PMDN, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.12 tahun1970, dengan Akta No.75 tanggal 31 Januari 1975, Akta Perubahan No.5 tanggal 3 April 1975, Akta Perubahan No.59 tanggal 26 April 1975, Akta Perubahan No.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga, 2005). Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97,57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4.5).

Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa, Karawang (Pindo 1). Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210.000 ton per tahun. Pada Oktober 1995, PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar, Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine, dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652.000 ton per tahun. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate, salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas, berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48.000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga, 2005).

Tabel 4.5. Boards PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004.

Dewan Komisaris

Komisaris Utama : Indra Widjaja

Komisaris : Drs. Jhon Ferdinand Pandelaki

Komisaris : Yudi Setiawan Lin

Komisaris : Let Jend (Purn) Soetedjo

Komisaris : Hajjah Ryani Soedirman

Komisaris : Arthur Tahya

Dewan Direksi

Direktur Utama : Teguh Ganda Wijaja

Wakil Direktur Utama : Muktar Widjaja

Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih

Wakil Direktur Utama : Suresh Kilam

Wakil Direktur Utama : Tsai Huan Chi

Direktur : Huang Wen Hai

Direktur : Tri Ramadi

Susunan Pemegang Saham

PT Purinusa Ekapersada : 97,57%

PT Mega Kleenindo : 0,91%

PT Unitama Sartindo : 0,61%

Sumber: Bank Niaga, 2005.

3) PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undang- undang Negara Republik Indonesia No.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga, 2005). PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham, masyarakat menguasai 36,60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.6).

Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar

43

termasuk industri kertas dan pulp, real estate, minyak goreng, produksi bahan makanan, hotel dan perumahan, bidang kimia, perbankan dan jasa keuangan.

Tabel 4.6. Boards PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004

Dewan Komisaris

Presiden Komisaris : Indra Widjaja

Wakil Presiden Komisaris : Ir. Gandi Sulistiyanto Soeherman

Komisaris : Show Chung Ho

Komisaris : Kuo Cheng Shyong

Komisaris : Raymond Liu, Phd.

Komisaris : Lo Shang Shung

Independen Komisaris : Hj. Ryani Soedirman

Independen Komisaris : Mas Achmad Daniri

Independen Komisaris : Prof DR. Teddy Pawitra

Independen Komisaris : Kamardy Arief

Independen Komisaris : Let Jend (Purn) Soetedjo

Dewan Direksi

Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja

Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin

Direktur : Suresh Kilam

Direktur : Didi Harsa

Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja

Susunan Pemegang Saham

PT Purinusa Ekapersada : 63,30%

Koperasi : 0,10%

Masyarakat : 36,60%

Sumber: Bank Niaga, 2005.

Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur, yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan, sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan

perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik.

Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia, Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan pengawasan mutu disamping meningkatkan kesempatan kerja.

Pada tahun 1994, PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B.V, Rotterdam, Belanda, yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi, kertas HVS mengkilap, dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas, perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan, diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok, minyak wangi, kertas tissue, dan sereal. Saat ini PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30.000 ton boxboard pertahun. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas.

45

4) PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry

Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa, Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co.Ltd., dalam rangka Undang-Undang No.6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga, 2005). Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen), PT Satria Perkasa Agung (19,75 persen), dan PT. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0,25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4.7).

PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas, dengan produksi utama pulp jenis LBKP, kertas budaya dan tissue. Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545.000 ton pulp per tahun dan 7.500 ton kertas per tahun. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi, modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya.

Disamping pulp dan kertas, pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai, dengan kapasitas produksi 60.000 ton per tahun. PT. Lontar Papyrus Pulp

& Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung, Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa, NAD.

Tabel 4.7. Boards PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003

Dewan Komisaris

Komisaris Utama : Indra Widjaja

Wakil Komisaris Utama : Drs. John Ferdinand Pandelaki

Komisaris : Sukirta Mangku Djaja

Komisaris : Let Jend (Purn) Soetedjo

Komisaris : Hj. Ryani Soedirman

Dewan Direksi

Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja

Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih

Direktur : Muktar Widjaja

Direktur : Suresh Kilam

Direktur : Lin Shun Keng

Direktur : Tri Ramadi

Direktur : Arthur Tahya

Susunan Pemegang Saham

PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80,00%

PT Satria Perkasa Agung : 19,75%

PT Arthadana Mulia Makmur : 0,25%

Sumber: Bank Niaga, 2005.

Dalam menjalankan usahanya, PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. Di samping itu, perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga, 2005).

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia

Dokumen terkait