• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Infrastruktur 4.3 Perikanan

Pada SKPT Sabang terdapat beberapa fasilitas yang sudah dibangun. Fasilitas mandi cuci kakus (MCK) sudah berfungsi tapi tidak ada air. Fasilitas cold storage (kapasitas 100 ton), ice flake (10 ton), tempat pelelangan ikan (TPI), dan kolam labuh adalah fasilitas yang belum berfungsi.

(a)

(c)

(b)

(d)

Gambar 5 Fasilitas yang sudah dibangun di dalam SKPT Sabang (a) integerated cold storage; dan (b) mesin pembuat ice flake;

(c) tandon air bersih; (d) kolam labuh, 2018

Kondisi infrastruktur di SKPT Sabang dapat dipelajari pada Tabel 7. Di SKPT Sabang sarana dan prasarana seperti cold storage, ice flake, tempat pelelangan ikan (TPI), dan kolam labuh, kualitas fisiknya sangat baik dibandingkan dengan di SKPT lain. Namun fasilitas tersebut sampai buku ini diterbitkan belum berfungsi karena permasalahan non teknis.

Beberapa sarana perikanan telah tersedia di luar SKPT Sabang, namun sarana seperti SPDN dan pabrik es tersebut tidak beroperasi lagi. SPDN tidak beroperasi karena terbatas stok BBM. Armada Sabang lebih mudah mendapat BBM di Lampulo atau di Ulhee Cot di desa Deah Glumpang di Banda Aceh.

Sementara, pabrik es di Sabang tidak beroperasi karena tidak efisien. Harga es yang dijual ke nelayan dari pabrik tersebut lebih mahal dari harga produk yang sama jika dibeli dari Lampulo. Di Lampulo harga es balok dibayar nelayan Rp20.000 per balok dan di Sabang Rp25.000 per balok.

Identifikasi kondisi infrastruktur di SKPT Sabang, 2018 Tabel 7

No. Fasilitas Hasil Kajian Fisik Keterangan

1 “Jetty”

pendaratan

ikan Tidak ada Tidak ada Menunggu pihak investor

2 Luas lahan Kurang dari 3 ha, milik

berfungsi Tidak mungkin diserahkan ke Pemprov Aceh

4 Kolam labuh Hanya untuk kapal < 5 GT Belum

berfungsi Kedalamannya 1 meter

5 Cold storage Pemko Sabang ke Pemprov Aceh dan belum ada pihak ke-3 yang mengelola

BAB 4 MEMBANGUN PERIKANAN SABANG DENGAN SKPT

39 No. Fasilitas Hasil Kajian Fisik Keterangan

6 Ice flake 10 ton Belum

berfungsi

Belum diserahkan dari Pemko Sabang ke Pemprov Aceh dan belum ada pihak ke-3 yang akan mengelola.

7 Pabrik es Tidak ada Tidak ada Menunggu pihak investor di Pasiran terdapat pabrik es dan tidak berfungsi.

8 SPDN Tidak ada Tidak ada

Menunggu pihak investor.

Di Pasiran pernah ada SPDN (sekarang wujudnya tidak ada).

Sumber data: Hasil survei, 2018

Tabel 8 menunjukkan perbandingan kondisi SKPT Sabang dan PPS Lampulo. Berdasarkan tabel tersebut, infrastruktur di PPS Lampulo dapat berperan sebagai pesaing atau mitra SKPT Sabang, tergantung dari konstruksi sosial yang diciptakan pemerintah. Pengamatan lapangan menunjukkan PPS Lampulo merupakan pesaing dari SKPT Sabang. Keragaan fisik infrastruktur pada SKPT Sabang dapat dipelajari pada Lampiran 1, Lampiran 2, dan Lampiran 3.

Identifikasi kondisi fisik dan fungsi infrastruktur di SKPT Sabang Tabel 8

dan PPS Lampulo, 2018 Infrastruktur Infrastruktur di SKPT

Sabang Infrastruktur di PPS Lampulo

Listrik

Tersedia dan memadai untuk memenuhi kebutuhan kapasitas cold storage 100 ton dan ice flake 10 ton

Tersedia dan memadai dengan 200 ton cold strorage dan untuk keperluan lain

Air Tersedia dan memadai.

Kebutuhan air 250 ribu – 500 ribu liter per hari

Tersedia dan kurang memadai kebutuhan air mencapai 500 ribu liter – 1 juta liter air per hari

Jalan Baik tetapi belum mencukupi Tersedia dan memadai

Tabel 7 Identifikasi kondisi infrastruktur di SKPT Sabang, 2018 (lanjutan)

Infrastruktur Infrastruktur di SKPT

Sabang Infrastruktur di PPS Lampulo Komunikasi Tersedia tetapi kurang memadai Tersedia dan memadai

Bandar udara

Tersedia tetapi tidak efisien karena jadwal penerbangan komersial tidak jelas. Volume ikan sangat kecil dan lebih baik lewat laut di kirim ke kota Banda Aceh (3–4 jam perjalan ke Bandara Sultan Iskandar Muda)

Tersedia dan butuh 1 jam perjalan menuju Bandara

Pelabuhan Tersedia dan tidak memadai (di luar SKPT tersedia dengan

kapasitas besar) Tersedia dan memadai Sumber data: Hasil FGD, 2018

Faktor nonteknis yang membuat infrastruktur belum berfungsi, antara lain petugas yang ditunjuk sebagai pengelola merangkap jabatan dengan tugas lain di luar Kota Sabang, dan belum tersedianya anggaran untuk mengelola SKPT Sabang. Penunjukkan pengelola SKPT Sabang telah dilakukan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.

111/Men-SJ/KP.444/VIII/2018. Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikaan tersebut menyebabkan Pemkot Sabang dan Pemprov Aceh ragu mengelola SKPT Sabang. Meskipun sampai tulisan ini dibuat, semua aset yang dibangun di SKPT tersebut belum dikelola oleh petugas yang ditunjuk.

Proses penyerahan aset belum terjadi antara pihak Pemkot Sabang, Pemprov Aceh, dan pihak KKP. Hal ini menyebabkan Pemkot Sabang dan Pemprov Aceh saling menunggu. Tabel 9, memberi gambaran tentang kapasitas aset di SKPT Sabang dan PPS Lampulo. Kapasitas ini menunjukkan kemampuan ekspansi usaha dan kesiapan dari SKPT Sabang menjadi pusat produksi, distribusi, dan ekspor.

Tabel 8 Identifikasi kondisi fisik dan fungsi infrastruktur di SKPT Sabang dan PPS Lampulo, 2018 (lanjutan)

BAB 4 MEMBANGUN PERIKANAN SABANG DENGAN SKPT

41 Perbandingan kapasitas infrastruktur SKPT Sabang dan PPS Tabel 9

Lampulo, 2018

No. Fasilitas SKPT Sabang PPS Lampulo

1 Luas lahan Kurang dari 3 ha, milik

Pemkot Sabang 73 ha, milik Pemda Provinsi Aceh

2 Kawasan

pelabuhan Sertifikat milik Pemda Kota

Sabang Sertifikat milik Pemda

Provinsi Aceh

3 Dermaga Tidak ada Tersedia tetapi tidak

mencukupi 4 Kolam labuh Hanya untuk kapal sampai 5 GT (kedalaman 1 meter)

Cukup untuk ukuran 100 GT (kedalaman 4 sampai 5 meter)

5 Cold Storage 2 unit @ 50 ton. Total kapasitas 100 ton 2 unit @ 100 ton. Total kapasitas 200 ton

6 Ice flake 10 ton Tidak ada

7 Pabrik Es Tidak ada Tersedia pabrik es di dalam dan di luar pelabuhan

8 SPDN Tidak ada 1 unit di dalam kawasan dan

1 unit di luar kawasan (Ulhee Cot)

Sumber data: Hasil FGD, 2018

Di SKPT Sabang terdapat beberapa infrastruktur yang harus disiapkan, seperti dermaga bongkar ikan, pabrik es, serta SPDN. Selain itu, kolam labuh harus perdalam dan disempurnakan. Jika fasilitas tersebut tidak disiapkan maka sangat sulit bagi SKPT Sabang menjadi pusat produksi, distribusi, dan ekspor hasil perikanan. Harapan nelayan Sabang terhadap SKPT Sabang adalah

“Selama ini kami sudah terbiasa menjual hasil tangkapan ke PPS Lampulo bila harga di Kota Sabang lebih rendah. Jika dibangun infrastruktur di SKPT Sabang, kami cukup senang, akan tetapi sebenarnya kami sudah terbiasa membangun hubungan dengan toke bangku dan pedagang pengumpul yang di PPS Lampulo.

Tidak mudah merubah kebiasaan tersebut. Jika ada cold storage lagi di SKPT Sabang, kami berharap cold storage itu juga menampung jenis ikan lainnya, seperti ikan demersal karena kami juga menangkap ikan jenis itu. Informasi yang kami dengar, cold storage di Sabang hanya akan menampung Tuna.”

Senada dengan nelayan, eskportir ikan Tuna yang ada di Kota Banda Aceh berpendapat: kapal yang ada di Lampulo tidak serta-merta dapat dipindahkan ke SKPT Sabang, karena ukuran kapal yang di Lampulo > 50 GT sehingga kapal tersebut tidak dapat membongkar ikan di SKPT Sabang. Sementara terdapat beberapa kapal penangkap tuna dari Sabang ukuran 5 GT cenderung mendaratkan ikan di Banda Aceh (Ulhee Cot – Deah Glumpang). Perilaku ini dapat menghambat berfungsinya SKPT Sabang jika hanya mengandalkan ikan dari nelayan Sabang.

Kelembagaan Pengelolaan