• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSPEKTIF PEMBANGUNAN PERIKANAN DI PULAU TERLUAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERSPEKTIF PEMBANGUNAN PERIKANAN DI PULAU TERLUAR"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

LESSON LEARNED MEMBANGUN PERIKANAN DENGAN KONSEP SENTRA KELAUTAN DAN PERIKANAN TERPADU DI KOTA SABANG

PERSPEKTIF

PEMBANGUNAN PERIKANAN

DI PULAU TERLUAR

(3)

Kota Bogor - Indonesia

C.01/11.2019

(4)

Armen Zulham Freshty Yulia Arthatiani

Rani Hafsaridewi Mira

Penerbit IPB Press

Jalan Taman Kencana No. 3, Kota Bogor - Indonesia

C.01/11.2019

LESSON LEARNED MEMBANGUN PERIKANAN DENGAN KONSEP SENTRA KELAUTAN DAN PERIKANAN TERPADU DI KOTA SABANG

PERSPEKTIF

PEMBANGUNAN PERIKANAN

DI PULAU TERLUAR

(5)

Penulis:

Armen Zulham Freshty Yulia Arthatiani Rani Hafsaridewi Mira

Editor:

Dr. Budi Wardono Penyunting Bahasa:

Nopiona Dwi Andari Penata Isi dan Desain Sampul:

Makhbub Khoirul Fahmi Korektor:

Dwi M Nastiti Jumlah Halaman:

98 + 20 hal romawi Edisi/Cetakan:

Cetakan 1, November 2019

PT Penerbit IPB Press

Anggota IKAPI No. 193/JBA/2010 Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16128

Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: [email protected] www.ipbpress.com

ISBN: 978-602-440-947-0

Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan

© 2019, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit

(6)

PRAKATA

Buku ini diterbitkan untuk memberikan informasi tentang upaya pemerintah membangun perikanan pada pulau-pulau terluar seperti di Kota Sabang.

Pembangunan perikanan di kota tersebut telah dilakukan sejak beroperasinya PT Perikanan Samudra Besar pada tahun 1970-an. Selanjutnya untuk meningkatkan peran Lapangan Usaha Perikanan dalam perekonomian Kota Sabang, pada tahun 2017 Kementerian Kelautan dan Perikanan membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Ie Meulee. SKPT itu merupakan salah satu program yang tujuannya untuk pengembangan perekonomian di pulau-pulau terluar agar pemerataan pembangunan dapat diwujudkan.

Sabang dipilih sebagai salah satu kawasan SKPT karena lokasinya strategis, terletak pada jalur lintas perdagangan laut antara Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan dengan negara-negara di Asia Timur dan Samudra Pasifik.

Pembangunan SKPT di Sabang diharapkan dapat menjadikan kawasan itu sebagai sentra produksi ikan di WPPNRI 572 dan pusat ekspor hasil perikanan.

Apalagi Sabang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Sebagai kawasan dengan kebijakan yang demikian, aktivitas bisnis di Sabang diberi keistimewaan, bebas dari pungutan bea masuk, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah dan cukai. Akan tetapi untuk merealisasikan manfaat dari kebijakan tersebut pada program SKPT menghadapi berbagai tantangan.

Buku ini disusun dari hasil penelitian tentang pembangunan SKPT Sabang yang dilakukan pada tahun 2018. Informasi yang disampaikan di dalam buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama memberi informasi kondisi perekonomian Kota Sabang yang dilanjutkan dengan uraian mengenai berbagai

(7)

permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perikanan di Kota Sabang.

Posisi Kota Sabang yang strategis di jalur perdagangan laut tersebut, belum mampu membuat kota tersebut berperan sebagai pusat distribusi barang dan jasa serta ekspor dan impor hasil perikanan.

Bagian kedua, membahas permasalahan pembangunan perikanan di Kota Sabang. Permasalahan tersebut mencakup permasalahan infrastruktur, pemanfaatan sumber daya, kelembagaan, dan bisnis perikanan.

Bagian ketiga, menjelaskan kondisi eksisting perikanan di Kota Sabang, yaitu informasi tentang besaran potensi sumber daya yang ada dan perlu dipertimbangkan untuk mewujudkan tujuan program SKPT yang ditempatkan di Ie Meulee Sabang. Gambaran pelaksanaan SKPT dijelaskan pada bagian keempat, termasuk konsep program SKPT hingga upaya pemanfaatan sumber daya perikanan, kelembagaan pengelolaan SKPT, dan juga pengembangan bisnis perikanan. Pada bagian ini juga dijelaskan, bagaimana prakiraan dampak sosial ekonomi jika SKPT Sabang di Ie Meulee dapat berfungsi.

Bagian akhir dari buku ini menjelaskan tantangan dalam memfungsikan SKPT Sabang, dengan tingkat kesulitan yang dihadapi agar tujuan pemerataan pembangunan di pulau terluar tersebut dapat terwujud. Harapannya SKPT Sabang di Ie Meulee dapat menjadi motor yang menstimulasi perekonomian di Kota Sabang.

Semoga buku ini dapat memberikan wawasan tentang permasalahan pembangunan perikanan di pulau terluar seperti di Kota Sabang. Keberhasilan memfungsikan SKPT tersebut sangat tergantung pada kebijakan dari sektor lain. Buku ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan jika membangun perikanan di Kota Sabang.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang bersedia menjadi narasumber dan memberi informasi tentang masalah pembangunan perikanan di Kota Sabang. Terima kasih juga kepada Plt. Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan yang telah menugaskan tim Penulis dan membiayai kegiatan penelitian selama di Sabang dan Banda Aceh pada bulan Oktober 2018.

(8)

vii Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca dalam perbaikan buku ini, sehingga ke depan dapat dihasilkan buku pembangunan perikanan yang lebih berkualitas.

Jakarta, Agustus 2019

Tim Penulis

PRAKATA

(9)
(10)

KATA PENGANTAR EDITOR

Gagasan menerbitkan buku Perspektif Pembangunan Perikanan di Pulau Terluar ini telah didiskusikan sejak Mei 2019. Gagasan tersebut muncul setelah kontributor utama penulisan buku Dr. Armen Zulham mencermati berbagai kendala untuk memfungsikan SKPT yang telah dibangun di Pulau Simeulue, Kepulauan Natuna, Merauke, Sebatik, dan Sabang.

Editor membaca, Tim Penulis telah menempatkan SKPT Sabang di Ie Meulee sebagai contoh yang unik untuk dibahas. Apalagi SKPT tersebut terletak pada jalur perdagangan lalu lintas kapal antara benua Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan dengan Asia Tenggara, serta negara-negara Asia Timur. Selain itu Kota Sabang ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Pada sisi lain, potensi perikanan pada perairan Samudra Hindia di sekitar Provinsi Aceh masih menjanjikan. Dengan kelebihan seperti itu, SKPT Sabang seharusnya dapat berfungsi seperti yang diharapkan pemerintah. Namun, SKPT tersebut dalam kenyataannya belum dapat melaksanakan fungsinya karena berbagai permasalahan. Editor mendapatkan pelajaran dari buku ini, dan selanjutnya harus menjadi perhatian semua pihak jika membangun perikanan di pulau terluar.

Oleh sebab itu, penyuntingan buku ini dimaksudkan untuk membantu pembaca memahami, kenapa permasalahan pada SKPT tersebut bisa terjadi, konstruksi sosial apa yang berperan, dan bagaimana strategi menyelesaikan permasalahan tersebut. Dengan alur pikir yang demikian maka buku ini ditulis dalam 5 bagian. Setiap bagian mengandung informasi penting yang berguna bagi para perumus kebijakan, mahasiwa, peneliti termasuk para pelaku usaha yang akan berinvestasi pada lapangan usaha perikanan di Sabang.

(11)

Editor berkesimpulan bahwa penulis buku berhasil memberi informasi sosial ekonomi terkait dengan pembangunan perikanan di pulau terluar tersebut dengan kondisi infrastruktur yang kurang mendukung. Selain itu, disampaikan juga kebutuhan dasar yang harus tersedia untuk membangun perikanan di pulau terluar.

Editor mengharapkan penerbitan buku “Perspektif Pembangunan Perikanan di Pulau Terluar” ini dapat memberi inspirasi kepada penulis lain, agar menerbitkan buku serupa tentang SKPT di berbagai tempat di Indonesia, tentu dengan permasalahan yang berbeda pula. Semoga hasil penyuntingan ini membantu semua pihak memahami isi dari buku ini.

Jakarta, September 2019

Editor

(12)

KATA PENGANTAR PENERBIT

Buku ini adalah salah satu buku yang diterbitkan oleh IPB Press, karena informasi yang disampaikan dapat menjadi sumbangsih pemikiran terkait dengan pembangunan perikanan di pulau terluar. Penerbit menilai informasi yang disampaikan dalam buku ini merupakan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan yang terkait dengan masyarakat Sabang.

Oleh karena itu, buku ini diharapkan dapat menjadi lesson learned bagi pembaca dan berbagai pelaku yang memiliki perhatian terhadap program pembangunan pemerintah di bidang perikanan.

Penulis buku menjelaskan upaya pembangunan perikanan berbasis kawasan di Kota Sabang yang gerbongnya adalah Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) dan disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca dapat memperoleh inti dari pembangunan tersebut.

Sejatinya perencanaan pembangunan berbasis kawasan ditujukan untuk mengupayakan keserasian dan keseimbangan pembangunan yang disesuaikan dengan potensi alam dan memanfaatkan potensi tersebut dengan efisien, adil, dan bertanggung jawab. Pengalaman pembangunan pada beberapa negara berkembang menunjukkan kegagalan maupun keberhasilan tersebut dapat menjadi pelajaran dalam mengembangkan pembangunan di Indonesia. Ada tiga indikator keberhasilan pembangunan wilayah yang dapat diukur, yaitu perkembangan kinerja suatu institusi dengan sumber daya yang dimilikinya, efisiensi yang terkait dengan meningkatnya kemampuan teknologi/sistem, dan kualitas sumber daya manusia dalam pelaksanaan pembangunan, yang diikut dengan partisipasi masyarakat yang dapat menjamin kesinambungan pelaksanaan pembangunan.

(13)

Ketiga indikator tersebut, dijelaskan dalam buku ini dengan alur yang lengkap mulai dari konsep hingga implementasi dan kendala-kendala yang dihadapi serta dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.

Oleh sebab itu, buku ini sangat penting bagi mahasiswa, peneliti perikanan, praktisi pembangunan berbasis kawasan, dan para pengambil kebijakan perikanan di Indonesia. Penerbit berharap isi buku ini dapat bermanfaat untuk perbaikan pembangunan perikanan di Kota Sabang khususnya serta di pulau terluar pada umumnya.

Bogor, Oktober 2019

Penerbit

(14)

DAFTAR ISI

PRAKATA ...v

KATA PENGANTAR EDITOR ...ix

KATA PENGANTAR PENERBIT ...xi

DAFTAR ISI ...xiii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

Bab 1 Gambaran Umum Perekonomian Sabang ...1

Bab 2 Permasalahan Membangun Perikanan di Kota Sabang ...9

Bab 3 Usaha Perikanan di Sabang ...19

Bab 4 Membangun Perikanan Sabang dengan SKPT ...29

4.1 Konsep SKPT dan Rencana Pengembangan SKPT Kota Sabang ...29

4.2 Keragaan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan ...34

4.3 Perkembangan Infrastruktur Perikanan ...37

4.4 Kelembagaan Pengelolaan SKPT ...42

4.4.1 Kelembagaan Pengelola Pemanfaatan Infrastruktur ....42

4.4.2 Kelembagaan Pengelola Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan ...44

4.4.3 Kelembagaan Pengelola Pengembangan Bisnis ...46

4.4.4 Kelembagaan Pengelola Administrasi SKPT ...47

(15)

4.5 Pengembangan Bisnis ...49

4.5.1 Kondisi Eksisting Usaha Perikanan...49

4.5.2 Saluran Pemasaran ...53

4.5.3 Informasi Pasar ...57

4.5.4 Strategi peningkatan nilai tambah bisnis perikanan ....58

4.6 Prakiraan Dampak Sosial Ekonomi ...63

Bab 5 Tantangan Memfungsikan SKPT Sabang ...65

DAFTAR PUSTAKA ...75

DAFTAR LAMPIRAN ...81

PROFIL PENULIS ...89

INDEKS ...95

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Sebaran alat penangkapan ikan di Sabang, 2018 ...12 Tabel 2 Total PDRB Kota Sabang dan distribusi kontribusi menurut

lapangan usaha berdasarkan harga konstan tahun 2010 ...15 Tabel 3 Karakteristik usaha perikanan tangkap laut di Sabang, 2018 ...22 Tabel 4 Wujud implementasi konsep SKPT pada SKPT Sabang

di Ie Meulee, 2018 ...33 Tabel 5 Perhitungan potensi sumber daya perikanan di Kota Sabang ...34 Tabel 6 Ringkasan pendapat tokoh masyarakat perikanan Sabang

terhadap pemanfaatan sumber daya perikanan

di Sabang, 2018 ...35 Tabel 7 Identifikasi kondisi infrastruktur di SKPT Sabang, 2018 ...38 Tabel 8 Identifikasi kondisi fisik dan fungsi infrastruktur

di SKPT Sabang dan PPS Lampulo, 2018...39 Tabel 9 Perbandingan kapasitas infrastruktur SKPT Sabang dan

PPS Lampulo, 2018 ...41 Tabel 10 Kondisi fisik dan fungsi sarana dan prasarana

di lokasi SKPT Kota Sabang, 2018 ...43 Tabel 11 Karakteristik lembaga bisnis untuk mendukung perikanan

di Sabang, 2018 ...46 Tabel 12 Karakteristik kelembagaan pengelola administrasi

di SKPT Sabang, 2018 ...48 Tabel 13 Jumlah armada berdasarkan ukuran kapal

di Kota Sabang, 2017 ...50

(17)

Tabel 14 Karakteristik usaha perikanan di Kota Sabang, 2018 ...51

Tabel 15 Faktor penyebab penurunan kualitas dan tindakan yang harus dilakukan pada ikan Tuna, 2018 ...59

Tabel 16 Prakiraan dampak sosial ekonomi jika SKPT Sabang berfungsi, 2018 ...63

Tabel 17 Isu aspek kelembagaan pada SKPT Sabang, 2018 ...67

Tabel 18 Isu aspek infrastruktur di SKPT Sabang, 2018 ...69

Tabel 19 Isu aspek ekonomi dan bisnis di SKPT Sabang, 2018 ...71

Tabel 20 Isu aspek pemanfaatan potensi ikan di SKPT Sabang, 2018 ...72

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 SPDN Agritama Ulhee Cot–Ulhee Lheu

Banda Aceh, 2018 ...10 Gambar 2 Armada penangkapan ikan di Ie Meulee Sabang, 2018 ...11 Gambar 3 Penanganan ikan tuna sirip kuning pada tingkat

toke bangku di Ie Meulee Sabang, 2018 ...26 Gambar 4 Penanganan ikan tuna sirip kuning dan cakalang

di Sabang, 2018 ...27 Gambar 5 Fasilitas yang sudah dibangun di dalam SKPT Sabang

(a) Integerated cold storage; dan (b) mesin pembuat ice flake;

(c) tandon air bersih; (d) kolam labuh, 2018 ...37 Gambar 6 Struktur organisasi pengelola Sentra Kelautan

dan Perikanan di pulau-pulau kecil

dan kawasan perbatasan, 2018 ...49 Gambar 7 Sistem bagi hasil usaha penangkapan ikan

di Kota Sabang, 2018 ...52 Gambar 8 Saluran pemasaran hasil tangkapan nelayan

di Kota Sabang, 2018 ...53 Gambar 9 Hasil tangkapan ikan di pendaratan ikan di Ie Meulee (a),

dan (b) tempat penjualan ikan hasil tangkapan nelayan, (c) anak itik sedang menurunkan hasil tangkapan nelayan dari atas kapal, (d) ikan tuna sirip kuning yang akan

dikirim ke Lampulo, 2018 ...56 Gambar 10 Penanganan hasil tangkapan ikan di Ie Meulee, 2018 ...61

(19)
(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kondisi fisik infrastruktur umum pada kawasan

dan di luar Kawasan SKPT Sabang, 2018 ...81 Lampiran 2 Kondisi fisik infrastruktur utama pada kawasan

SKPT Sabang, 2018 ...82 Lampiran 3 Keragaan kelembagaan infrastruktur pada kawasan

SKPT Sabang, 2018 ...83 Lampiran 4 Perkembangan aspek ekonomi dan bisnis

di Kota Sabang, 2018 ...85 Lampiran 5 Neraca perdagangan ikan Banda Aceh

dan Sabang, 2017 ...87

(21)
(22)

Bab 1

Gambaran Umum Perekonomian Sabang

Kota Sabang berada pada koordinat (5°46’28”–5°54’28”) Lintang Utara dan (95°13’12”–95°22’36”) Bujur Timur. Kota ini pernah tercatat sebagai salah satu pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Pada zaman kolonial di Asia (1865–1915), Sabang dijadikan pelabuhan laut yang melayani kapal di jalur perdagangan Asia Tenggara oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada periode itu, menurut situs Pemerintah Kota Sabang 2013, Sabang menjadi sentra logistik di Asia Tenggara untuk kapal Angkatan Laut Belanda, kapal dagang dari berbagai negara untuk mendapatkan batubara dari Ombilin, bahan bakar minyak dari Palembang, dan air bersih yang tersedia dari Danau Aneuk Laot di Sabang. Oleh sebab itu, Kota Sabang sangat ramai dan menjadi pelabuhan penting di Asia Tenggara. Kala itu, Sabang diharapkan dapat menyaingi Penang di Semenajung Malaysia dan Temasek di Singapura yang telah dibangun Inggris (Tagliacozzo 2007).

Pada 1896 Sabang ditetapkan sebagai pelabuhan bebas (vrij haven) oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk perdagangan umum dan pelabuhan transit hasil pertanian tembakau dan teh dari Sumatera Utara (Deli) serta rempah-rempah dari daratan Aceh (Pemerintah Kota Sabang 2013). Peran Sabang sebagai pelabuhan laut pada jalur pedagangan Asia Tenggara semakin memudar karena Pemerintah Kerajaan Atjeh saat itu, tak mampu menyediakan batubara dan bahan bakar minyak, serta orientasi perdagangan saudagar Aceh beralih ke Penang (Evers 1988). Pada masa penjajahan Jepang (1942–1945) pelabuhan Sabang ditutup dan hanya dijadikan basis pertahanan tentara Jepang di wilayah utara Pulau Sumatera.

(23)

Selama masa pemerintahan Indonesia, aktivitas bongkar muat di pelabuhan Sabang mengalami pasang surut (Pemkot Sabang, 2013). Pasang surut peran Sabang itu tergantung pada kebijakan Pemerintah Pusat. Kebijakan yang mendukung Sabang sebagai kawasan ekonomi, antara lain:

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1963, Sabang

ditetapkan sebagai Pelabuhan Bebas (free port), dan pelaksanaannya diserahkan kepada Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE).

Tahun 1964 dibentuk intitusi Komando Pelaksana Pembangunan Proyek

Pelabuhan Bebas Sabang (KP4BS) melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1964.

UU No. 3 Tahun 1970 dan No. 4 Tahun 1970 tentang ketentuan-

ketentuan pokok daerah perdagangan bebas dengan pelabuhan Sabang dan tentang daerah perdagangan bebas dengan pelabuhan bebas.

Saat adanya kerja sama ekonomi regional Indonesia-Malaysia-Thailand

Growth Triangle (IMT-GT) pada tahun 1993 Sabang dijadikan bagian dari kerja sama tersebut.

Keppres No. 171 Tanggal 26 September 1998, manjadikan Sabang sebagai

salah satu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET).

Undang-Undang No. 37 Tahun 2000 Tanggal 21 Desember 2000 tentang

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Untuk melaksanakan undang-undang tersebut, Pemerintah Aceh membentuk Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang yang lebih dikenal sebagai Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS).

Perjanjian Helsinki 15 Agustus 2005, geliat perekonomian Sabang

kembali tumbuh.

Kebijakan Pemerintah Pusat yang tidak mendukung berkembangnya aktivitas ekonomi di Sabang adalah:

Undang-Undang No. 10 Tahun 1985 status Sabang sebagai Daerah

Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang ditutup oleh Pemerintah Republik Indonesia, dengan alasan maraknya penyeludupan dan Batam akan dijadikan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

Operasi keamanan di Aceh 2003–2004.

(24)

BAB 1 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN SABANG

3 Uraian tersebut menunjukkan, perkembangan perekonomian Kota Sabang sangat dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah Pusat pada periode yang terkait.

Perekonomian Sabang setelah perjanjian Helsinki antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, mulai kembali menggeliat dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada, terutama potensi perikanan dan wisata bahari.

Perekonomian tersebut, seperti perekonomian pada pulau kecil lain di Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan, semuanya disebabkan oleh terbatasnya fasilitas infrastruktur dasar, layanan jasa yang kurang memadai, kapasitas sumber daya manusia yang terbatas, tingginya ongkos produksi, kerentanan lingkungan, terbatasnya sumber investasi untuk pengembangan ekonomi (Andres, Singh, dan Kai 2018).

Perekonomian Sabang selama periode 2011–2017 didominasi oleh tiga lapangan usaha, yaitu Konstruksi, Administrasi Pemerintahan, Perdagangan Besar dan Eceran (BPS Kota Sabang 2016 dan BPS Kota Sabang 2018).

Pada tahun 2017, Lapangan Usaha Konstruksi, Administrasi Pemerintahan, dan Perdagangan Besar serta Eceran kontribusinya masing-masing mencapai 30,84%, 16,38%, dan 15,41% dalam perekonomian Sabang. Perekonomian Sabang tumbuh berfluktuasi karena sumber pertumbuhannya terbatas, serta banyak dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah Pusat dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang. Data BPS Kota Sabang 2016 dan 2018 menunjukkan, perekonomian Sabang tumbuh sebesar 4,23% pada tahun 2013, pada tahun 2014 turun menjadi 3,93%, tahun 2015 tumbuh stagnan sebesar 3,93%, dan pada tahun 2017 perekonomian Sabang meningkat sebesar 6,07%.

Pertumbuhan perekonoian pada tahun 2017 didorong oleh pelaksanaan kegiatan skala internasional Sail Sabang 2017. Geliat kegiatan seperti itu, mendorong tumbuhnya usaha penginapan, sentra kuliner, dan berbagai kebutuhan akomodasi lainnya di Sabang.

Data BPS Kota Sabang (2018) menunjukkan jumlah penduduk Kota Sabang pada Tahun 2017 sekitar 33.978 jiwa (50,57% penduduk berada di Kecamatan Sukajaya dan 49,43% di Kecamatan Sukakarya). Kedua kecamatan tersebut merupakan pusat aktivitas ekonomi Sabang. Jumlah penduduk yang bekerja (umur > 15 tahun) tercatat 16.084 jiwa. Jumlah tersebut 13,9% bekerja pada

(25)

Lapangan Usaha Pertanian, 6,9% bekerja pada Lapangan Usaha Industri Pengolahan, 6,6% pada lapangan kerja konstruksi (bangunan), 14,4% pada Lapangan Usaha Perdagangan, serta 51,7% bekerja pada Lapangan Usaha Jasa, sisanya dalam jumlah yang kecil bekerja pada Lapangan Usaha Listrik dan Gas, Transportasi dan Keuangan, serta Asuransi.

Data Dinas Perikanan Kota Sabang menunjukkan jumlah nelayan di Sabang sekitar 1.395 orang sehingga angkatan kerja perikanan yang berkontribusi dalam perekonomian Kota Sabang sekitar 8,7%. Kegiatan penangkapan ikan merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang berperan dalam perekonomian dan memberi arti penting bagi kehidupan masyarakat pesisir di Kota Sabang, terutama pada lokasi pendaratan ikan di Pasiran dan Ie Meulue. Kegiatan ini menjadi faktor pendorong tumbuhnya aktivitas lain dalam masyarakat perikanan Sabang, seperti perdagangan ikan dan jasa pengangkutan ikan.

Kontribusi Lapangan Usaha Perikanan Sabang dalam perekonomian Sabang pada tahun 2017 hanya sebesar 2,11% (BPS Kota Sabang 2018), data BPS Kota Sabang (2016) lainnya menunjukkan kontribusi Lapangan Usaha Perikanan pada tahun 2011 (2,30%), tahun 2013 (2,27%), dan tahun 2015 (2,24%).

Angka ini dapat mengindikasikan kapasitas pelaku usaha pada Lapangan Usaha Perikanan dalam Perekonomian Sabang relatif kecil, produktivitas nelayan dalam perikanan Sabang cukup rendah. Pada sisi lain, tingkat pemanfaatan potensi ikan berdasarkan KEPMEN KP Nomor: 50/KEPMEN- KP/2017 pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 572 termasuk pada perairan Sabang masih dapat ditingkatkan.

Data perhitungan Ditjen Perencanaan Ruang Laut (2017) menunjukkan jumlah ikan yang boleh ditangkap pada perairan Sabang tahun 2016 adalah 25.084 ton. Sementara data BPS Kota Sabang, (2018) melaporkan nelayan Sabang pada tahun 2017 hanya menangkap ikan sebanyak 4.747 ton. Dengan karakteristik dan kapasitas nelayan di Sabang saat ini (Zulham et al. 2019), kemampuan penangkapan ikan nelayan Sabang hanya sekitar 18,92% dari jumlah ikan yang boleh ditangkap.

Dengan demikian, program terobosan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) diperlukan untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas nelayan di Sabang. Program SKPT mengintroduksi teknologi penangkapan ikan dalam

(26)

BAB 1 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN SABANG

5 bentuk bantuan kapal, memperbaiki dan membangun berbagai infrastruktur, seperti ice flake, cold storage, dan beberapa fasilitas lain yang mendukung peningkatan kapasitas nelayan Sabang. Program tersebut dirancang agar pada Lapangan Usaha Perikanan tumbuh usaha baru yang inovatif dan efisien, menyediakan lapangan kerja, serta tumbuh sumber pendapatan bagi masyarakat.

Kota Sabang ditetapkan sebagai lokasi program SKPT berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 51 Tahun 2016. Implikasinya Kota Sabang akan menjadi pusat produksi/industri perikanan serta ekspor hasil perikanan di ujung pulau Sumatera. Harapannya SKPT Sabang dapat menjadikan: “potret” pembangunan ekonomi pulau kecil terluar dan perbatasan, mewujudkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan produksi dan produktivitas usaha perikanan, serta menciptakan kawasan industri baru di Sabang.

Penetapan Kota Sabang sebagai lokasi SKPT, dimaksudkan juga untuk memanfaatkan potensi ikan pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 571 dan WPPNRI 572 serta melakukan ekspor hasil perikanan dari kawasan SKPT. Peluang melakukan ekspor hasil perikanan dapat dilakukan dari Sabang, karena tersedianya infrastruktur pelabuhan laut untuk ekspor-impor di Sabang. Pelabuhan tersebut dikelola oleh Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Sabang (BPKS). Fasilitas tersebut seharusnya dapat menjadikan Kota Sabang sebagai pusat industri penangkapan ikan, pusat industri olahan perikanan, pusat distribusi ikan, serta jasa perikanan. Namun pemanfaatan fasilitas tersebut untuk ekspor hasil perikanan penuh tantangan karena kebijakan orientasi bisnis dari pengelola pelabuhan dan terbatasnya kapasitas produksi ikan nelayan Sabang. SKPT Sabang akan dijadikan motor penggerak perubahan untuk mewujudkan harapan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya sehingga peran SKPT Sabang ke depan tidak hanya sebatas peningkatan perekonomian masyarakat setempat, tetapi berkontribusi pada perekonomian nasional dan regional.

(27)

Pusat produksi perikanan Kota Sabang, pada tahun 2017 menghasilkan 4.392 ton ikan (Dinas Perikanan Kota Sabang 2018). Ikan tersebut terdiri dari ikan demersal 355 ton (8,08%), ikan pelagis besar 2.306 ton (52,50%), serta ikan pelagis kecil 1.731 ton (39,41%). Ikan tersebut didaratkan pada beberapa tempat di Kota Sabang terutama di pantai Gampong Ie Meulee Kecamatan Sukajaya, pangkalan pendaratan ikan pasiran Kecamatan Sukakarya, Desa Beurawang Kecamatan Sukajaya, dan dermaga tempat pendaratan ikan jaboi Kecamatan Sukajaya. Sebaran lokasi pendaratan ikan ini, berpengaruh pada mutu ikan yang dipasarkan, dan efisiensi usaha perikanan di Sabang karena ongkos pengiriman ikan ke pusat distribusi bertambah. Pembangunan SKPT Sabang di Ie Meulee diharapkan dapat memperbaiki mutu dan mewujudkan efisiensi pemasaran tersebut sehingga daya saing ikan hasil tangkapan nelayan Sabang di pasar meningkat.

Dengan demikian, tantangan yang dihadapi Kota Sabang menjadi sangat kompleks. Kota Sabang harus mempersiapkan/menyempurnakan berbagai hal, seperti sarana dan prasarana perikanan terutama; kapal penangkap ikan, teknologi penangkapan ikan, penanganan dan distribusi ikan hasil tangkapan;

menyediakan sumber daya manusia perikanan yang kompeten: menciptakan iklim bisnis perikanan yang kondusif; serta mempersiapkan kelembagaan bisnis perikanan dan keuangan yang mendukung tumbuhnya bisnis perikanan.

Sarana dan prasarana perikanan tersebut, sebagian sudah disiapkan pada SKPT Sabang sejak tahun 2017. Namun, masih terdapat beberapa sarana dan prasarana lain yang harus dilengkapi oleh beberapa pihak.

Buku ini bertujuan untuk melakukan analisis upaya membangun perikanan Sabang dengan konsep SKPT. Hasil analisis tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan perikanan di Sabang.

Data dan informasi yang dianalisis, diperoleh dari hasil survei yang dilakukan di Sabang pada bulan Oktober 2018.

Data dan informasi tersebut merupakan data primer dan data sekunder.

Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan pejabat Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kota Sabang, pelaku usaha perikanan (nelayan, pedagang termasuk mugee engkot, toke bangku) di PPS Lampulo dan tempat pendaratan ikan di Kota Sabang.

(28)

BAB 1 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN SABANG

7 Data primer dikumpulkan melalui diskusi kelompok terfokus, yang dihadiri oleh Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan Perindustrian, tokoh masyarakat (Panglima Laot), perwakilan nelayan, koperasi nelayan, dan pengusaha/swasta. Cakupan data yang dikumpulkan adalah terkait dengan kondisi terkini infrastruktur, kelembagaan, pemanfaatan sumber daya serta perkembangan ekonomi dan bisnis perikanan di Kota Sabang. Selain itu, persepsi masayarakat terhadap SKPT Kota Sabang.

Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota Sabang, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sabang, Bappeda Kota Sabang. Cakupan data sekunder yang dikumpulkan adalah stastistik yang terkait dengan perikanan tangkap dan berbagai peraturan yang berhubungan dengan SKPT.

Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dengan memanfaatkan hasil tabulasi yang dilakukan. Informasi tersebut digunakan untuk menilai kesiapan dan peluang pengembangan dan operasionalisasi SKPT Sabang.

Teknik analisis preskriptif (Huisman 2015, de Lange 2017, dan Heaney 2015) digunakan dari informasi deskriptif serta persepsi responden untuk menilai kesiapan SKPT Kota Sabang.

Oleh sebab itu, buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama merupakan pengantar tentang perkembangan perekonomian di Kota Sabang serta informasi yang terkait dengan peran Lapangan Usaha Perikanan dalam perekonomian Sabang. Bagian kedua membahas permasalahan dalam membangun perikanan di Sabang, permasalahan infrastruktur perikanan, pemanfaatan sumber daya, kelembagaan serta permasalahan ekonomi dan bisnis perikanan di Sabang.

Pada permasalahan kedua ini dilengkapi dengan konsep SKPT Sabang. Bagian ketiga memberi gambaran kondisi usaha perikanan di Sabang. Pada bagian ini dibahas juga permasalahan iklim dan pembangunan wisata yang dihadapi usaha perikanan di Sabang. Bagian keempat dari buku ini terkait dengan upaya membangun perikanan di Sabang dengan SKPT. Bahasan mencakup rencana pengembangan SKPT, termasuk keragaan pemanfaatan sumber daya perikanan, infrastruktur perikanan, perkembangan kelembagaan pengelolaan SKPT, pasar hasil perikanan, dan prakiraan dampak sosial ekonomi. Bagian terakhir membahas tentang tantangan memfungsikan SKPT Sabang.

(29)
(30)

Bab 2

Permasalahan

Membangun Perikanan di Kota Sabang

Posisi Kota Sabang yang strategis pada jalur perdagangan di Asia Tenggara, belum membuat kota tesebut berperan sebagai pusat distribusi barang dan jasa serta ekspor dan impor hasil perikanan. Analisis politik mengenai peran Sabang sebagai pusat distribusi dan ekspor impor telah dilakukan oleh Nivada (2012). Analisis tersebut menunjukkan walaupun Sabang sangat strategis, tetapi kebijakan pemerintah pusat belum menjadikan pelabuhan Sabang sebagai pusat distribusi barang.

Ketika Sabang dijadikan sebagai pusat aktivitas industri perikanan dengan pertimbangan potensi ikan yang tersedia dan boleh ditangkap mencapai 25.084 ton ikan per tahun, sedangkan armada perikanan asal Sabang baru mampu menangkap sebesar 18,92% dari potensi itu. Keputusan tersebut akan efektif jika empat hal yang menonjol, seperti infrastruktur, pemanfaatan sumber daya, kelembagaan, dan bisnis perikanan di Sabang dibenahi kembali.

Infrastruktur

Kota Sabang pernah menjadi basis aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan pada era tahun 1970-an sampai 1980-an sehingga terdapat beberapa infrastruktur perikanan yang pernah dibangun pada kota tersebut. Sebagian infrastruktur tersebut telah rusak dan beralih fungsi, seperti aset PT. Perikanan Samudra Besar di Pasiran. Aset tersebut telah beralih kepemilikan menjadi aset Perum Perikanan Nusantara.

(31)

Aset perusahaan tersebut, seperti pabrik es, SPDN (di Pasiran), dan beberapa fasilitas lain rusak dan tidak berfungsi. Saat ini aset tersebut ditinggalkan pemiliknya karena keputusan internal perusahaan.

Seluruh tempat pendaratan ikan di Sabang belum tersedia fasilitas bongkar muat ikan, seperti dermaga/jetty (dermaga di Pasiran sudah kurang memadai, namun tetap digunakan nelayan, di Ie Meulee pembongkaran ikan dilakukan di tepi pantai), pasar ikan, tempat penampungan dan penyimpanan ikan belum sesuai dengan standar mutu. Akibatnya, sistem rantai dingin di tempat pendaratan ikan belum berfungsi.

Infrastruktur lain yang menjadi kendala pengembangan perikanan di Kota Sabang adalah Stasiun Pengisi Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dan Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN). Stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan itu belum tersedia di dalam SKPT Sabang. Armada-armada motor tempel di Sabang mendapat pasokan bahan bakar dari Stasiun Pengisi Bahan Bakar Umum SPBU atau pengecer bahan bakar minyak di Kota Sabang. Sebagian besar pasokan bahan bakar armada kapal motor 5 GT–10 GT (armada penangkap ikan tuna) diperoleh dari SPDN Agritama di Ulhee Cot–Desa Deah Glumpang–Banda Aceh (Gambar 1). Pengisian bahan bakar dilakukan setelah melakukan pembongkaran ikan tuna dan cakalang pada lokasi tersebut.

Gambar 1 SPDN Agritama Ulhee Cot–Ulhee Lheu Banda Aceh, 2018

(32)

BAB 2 PERMASALAHAN MEMBANGUN PERIKANAN DI KOTA SABANG

11

Sumber: Zulham A (2018)

Pemanfaatan sumber daya ikan

Perairan Kota Sabang mencakup sebagian dari WPPNRI 571 dan WPPNRI 572, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 50/

KEPMEN-KP/2017, tingkat pemanfaatan potensi ikan pelagis kecil, pelagis besar, ikan demersal dan ikan karang, serta cumi pada WPPNRI tersebut masih dapat ditingkatkan, namun harus dalam pengendalian yang ketat.

Ekspansi penangkapan ikan ke perairan lebih dari 12 mil dan ZEE Indonesia di Samudra Hindia sulit dilakukan karena ukuran armada penangkapan ikan Kota Sabang umumnya < 5 GT (Gambar 2). Fishing ground umumnya terkonsentrasi pada perairan di bawah 12 mil di sekitar pulau-pulau kecil yang ada di Sabang. Potensi ikan pada perairan lebih dari 12 mil dimanfaatkan oleh armada dari luar Kota Sabang, terutama armada dari Sibolga (Provinsi Sumatera Utara) dan Lampulo Kota Banda Aceh, dengan ukuran kapal antara 60 GT–70 GT dan menggunakan teknologi penangkapan yang lebih baik.

Konstruksi armada perikanan di Sabang sangat sederhana, seperti pada Gambar 2. Alat tangkap yang digunakan adalah jenis pancing dan rawai, sedangkan alat tangkap jaring/pukat umumnya menggunakan perahu/kapal dengan model yang lain. Sebaran alat tangkap menurut lokasi dapat dipelajari pada Tabel 1.

(33)

Gambar 2 Armada penangkapan ikan di Ie Meulee Sabang, 2018

Sumber: Zulham A (2018)

Sebaran alat penangkapan ikan di Sabang, 2018 Tabel 1

Lokasi Kelompok alat tangkap

Jaring dan Pukat (unit) Pancing/Rawai (unit)

Ie Meulee - 92

Ujong Kareung - 36

Kota Atas - 27

Balohan 4 101

Kuta Timu 9 25

Kuta Barat - 26

Krueng Raya 3 31

Ujong Seukundur - 23

Pria Laot 5 45

Iboih - 40

Jaboi 4 29

Beurawang 3 33

Keunekai - 37

Paya - 36

Anoitam - 54

Aneuk Laot - 10

Jumlah Total 28 645

Sumber: Dinas Perikanan Kota Sabang (2018)

Total jumlah alat penangkap ikan di Sabang adalah 673 unit. Berdasarkan Tabel 1, sebesar 60,5% armada perikanan di Sabang menggunakan alat tangkap pancing ulur, 32,4% menggunakan pancing tonda, serta 1,6%

armada menggunakan rawai dasar. Selanjutnya dari jumlah tersebut 3,2%

menggunakan jaring insang tetap, 1,6% menggunakan purse seine, 0,6%

menggunakan pukat kelambu/pukat pantai dan 0,14% menggunakan jaring insang hanyut.

Berdasarkan struktur armada dan alat tangkap, kapasitas perikanan di Sabang

(34)

BAB 2 PERMASALAHAN MEMBANGUN PERIKANAN DI KOTA SABANG

13 sangat terbatas. Kapasitas usaha perikanan Sabang perlu ditingkatkan agar jangkauan penangkapan ikan lebih luas dan hasil tangkapan ikan untuk tujuan ekspor seperti tuna sirip kuning meningkat.

Kelembagaan

Kelembagaan pada masyarakat perikanan di Sabang dapat dimaknai sebagai aturan/norma yang secara umum diterima oleh anggota kelompok sosial masyarakat perikanan Sabang, termasuk norma (perilaku) spesifik untuk situasi tertentu yang diawasi sendiri atau dilakukan pihak lain (Rutherford 1994). Dengan demikian, kelembagaan dalam masyarakat perikanan di Sabang dengan konsep Bardhan (1989) merupakan aturan-aturan sosial, kesepakatan kerja atau keputusan yang terkait dengan struktur relasi dari interaksi sosial dalam masyarakat perikanan itu.

Berdasarkan dua pendapat tersebut maka kelembagaan pada masyarakat perikanan di Kota Sabang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi proses dan tujuan. Dari sisi proses kelembagaan merupakan upaya mendesain pola interaksi antarpelaku usaha agar transaksi antarpelaku usaha dapat terjadi dan tidak berkonflik. Dari sisi tujuan, kelembagaan itu berupaya menciptakan efisiensi ekonomi berdasarkan struktur kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial antarpelaku usaha. Di Sabang terdapat beberapa kelembagaan, baik formal maupun tidak formal seperti kelembagaan toke bangku dan panglima laot.

Kelembagaan panglima laot adalah kelembagaan dalam bentuk hukum adat laot yang telah mendesain pola interaksi antara panglima laot dengan berbagai pelaku usaha perikanan pada masyarakat perikanan di Sabang. Kelembagaan panglima laot, efektif berfungsi menjaga pelaksanaan larangan melaut, mengatur aturan adat bagi hasil penangkapan ikan, penyelesaian konflik penangkapan ikan di laut, sebagai penghubung antar pemerintah dengan masyarakat nelayan dan berfungsi sebagai penengah apabila terjadi konflik transaksi antara pedagang dan pemilik kapal. Pada tahun 2006, kelembagaan panglima laot diakui di Indonesia melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Implementasinya terdapat dalam Qanun Aceh No. 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat

(35)

serta Qanun Aceh No. 10 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat. Aturan/norma kelembagaan dari sisi proses ini tidak diskriminatif dan berlaku terhadap semua pelaku usaha pada kawasan tersebut.

Sebaliknya dari sisi tujuan, kelembagaan itu mempunyai motif tertentu terutama untuk mendapat pasokan ikan atau untuk menguasai pasar.

Kelembagaan yang demikian tidak berlaku umum dan bersifat eksklusif.

Kelembagaan toke bangku adalah contoh kelembagaan yang dimaksud.

Kelembagaan toke bangku diperlukan nelayan untuk membantu biaya operasional penangkapan ikan dan menjual hasil tangkapan nelayan. Hal tersebut karena daya serap pasar ikan di Kota Sabang antara 1–3 ton per hari, sedangkan total hasil tangkapan nelayan kota Sabang rata-rata 12 ton per hari. Kelembagaan toke bangku dengan kekuasaan yang dimilikinya mengatur interaksi dengan nelayan sesuai dengan kesepakatan agar transaksi tersebut dapat berjalan dengan baik.

Kelembagan lain yang terkait dengan motif efisiensi ekonomi pengembangan bisnis perikanan adalah koperasi dan lembaga keuangan. Koperasi dan lembaga finansial secara fisik mudah ditemui, namun pada umumnya tidak berfungsi. Koperasi Nelayan Teupin Ujung Sekundur misalnya, telah berbadan hukum No. 518/159/BH/1.13/2016 yang berlokasi di Krueng Raya Sabang. Koperasi tersebut dengan kekuasaan dan struktur sosial yang dikuasainya diberi kepercayaan mengelola 7 kapal bantuan SKPT Kota Sabang ukuran 5 GT, namun pengelolaannya kurang efektif. Di Sabang terdapat 30 unit kapal 5 GT dan 1 unit 10 GT bantuan SKPT Sabang dikelola oleh 4 koperasi. Kemampuan manajerial koperasi untuk mengelola kapal bantuan, operasi penangkapan ikan kapal bantuan, serta pemasaran hasil tangkapan sangat terbatas. Di lapangan peran toke bangku ikan Sabang lebih dominan dari koperasi dalam memfungsikan kapal bantuan tersebut, karena biaya operasional kapal bantuan di bawah kendali koperasi adalah dari toke bangku.

Kelembagaan pengelolaan infrastruktur SKPT Sabang secara fisik telah dibentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Keputusan Menteri

(36)

BAB 2 PERMASALAHAN MEMBANGUN PERIKANAN DI KOTA SABANG

15 Kelautan dan Perikanan RI No. 111/Men-SJ/KP.444/VIII/2018. Namun, kekuasaan yang diberikan kepada kelembagaan tersebut tidak berfungsi karena berbagai kendala. Kelembagaan itu tidak didukung oleh anggaran operasional untuk melaksanakan tugas mengelola SKPT Sabang. Selain itu, petugas yang ditunjuk untuk mengelola SKPT Sabang merangkap dengan tugas lain sehingga yang bersangkutan tidak memahami tugas yang dilakukan untuk memfungsikan SKPT Sabang.

Ekonomi dan bisnis

Aktivitas ekonomi Kota Sabang digerakkan oleh kegiatan pada Lapangan Usaha Konstruksi dan Lapangan Usaha Perdagangan (Tabel 2). Aktivitas Lapangan Usaha Perikanan dalam perekonomian Sabang perannya sangat kecil hanya sekitar 2,11% sampai 2,21% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sabang.

Daya serap rumah tangga dan rumah makan, terhadap konsumsi ikan sangat rendah antara 1–3 ton/hari. Hal ini disebabkan karena industri pengolahan ikan skala rumah tangga maupun skala komersial tidak ada di Sabang. Semua hasil tangkapan nelayan dijual segar oleh toke bangku Sabang ke toke bangku atau pedagang ikan di Pelabuhan Perikanan Lampulo di Banda Aceh.

Total PDRB Kota Sabang dan distribusi kontribusi menurut Tabel 2

lapangan usaha berdasarkan harga konstan tahun 2010

No. Lapangan Usaha 2015 2016 2017

1 Pertanian (%) 5,04 4,95 4,65

2 Perikanan (%) 2,21 2,18 2,11

3 Konstruksi (%) 29,91 30,14 30,48

4 Penyediaan akomodasi dan

makan minum (%) 7,86 -8,01 3,62

5 Perdagangan besar dan

eceran (%) 14,91 14,91 15,41

6 Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan

sosial wajib 6,6 -5,26 16,38

Total PDRB (Rp Juta) 912.987,20 957.293,60 1.015.425,20 Sumber: BPS Kota Sabang (2018)

(37)

Peran Lapangan Usaha Industri Pengolahan sangat kecil dalam perekonomian Sabang. Kontribusi lapangan usaha ini berkisar antara 2,5% sampai 2,6%

selama periode 2015–2017.

Potensi ekonomi Sabang termasuk potensi sumber daya ikan seperti yang telah diuraikan sebelumnya, tidak mampu dikembangkan oleh para pelaku usaha yang terdapat di Kota Sabang. Penyebab yang paling menonjol adalah kapasitas ekonomi di Sabang yang terbatas. Hal ini terlihat dari PDRB Sabang yang hanya mencapai Rp912,987 miliar pada tahun 2015 dan pada tahun 2018 baru mencapai Rp1.015,425 miliar.

Investasi perikanan dalam perekonomian Sabang sangat terbatas, dan sumbernya adalah dari anggaran Pemerintah Pusat 2017 dan 2018. Sebagian besar dari anggaran tersebut diinvestasikan untuk pembangunan infarstruktur pada kawasan SKPT Sabang di Ie Meulee dalam bentuk pembangunan air blast freezer, cold storage, fasilitas ice flake, tempat pelelangan ikan, dan kolam labuh. Pada tahun 2018 tercatat terdapat alokasi bantuan langsung kepada nelayan penangkap ikan di Sabang dalam bentuk kapal penangkap ikan ukuran 5 GT sebanyak 30 unit dan 1 unit untuk armada 10 GT.

Pemerintah melihat, bantuan tidak langsung dan bantuan langsung pada kegiatan perikanan tersebut adalah upaya untuk membangun perekonomian dan bisnis di Sabang. Pada perdagangan global, bantuan langsung untuk nelayan tersebut banyak ditentang oleh berbagai negara yang ikut dalam perdagangan bebas, terutama terhadap ikan hasil tangkapan yang dijual ke pasar ekspor.

Pada sisi lain, bantuan langsung dan tidak langsung tersebut menurut Béné et al. (2016) berkontribusi membangun perekonomian pada kawasan pulau kecil seperti Sabang. Bantuan tersebut mendorong berkembangnya berbagai sumber mata pencaharian baru untuk masyarakat terutama untuk kaum perempuan (FAO 2018). Hal ini potensial terjadi dalam sistem rantai pasok bisnis perikanan di Sabang mulai dari penangkapan ikan sampai ke penanganan, transportasi, dan distribusi ikan ke pasar tujuan. Aktivitas-aktivitas bisnis pada rantai pasok tersebut akan menambah pendapatan masyarakat, dan untuk komoditas ekspor seperti tuna dan ikan karang berpotensi menambah perolehan devisa (OECD 2018).

(38)

BAB 2 PERMASALAHAN MEMBANGUN PERIKANAN DI KOTA SABANG

17 Ekspektasi membangun bisnis dalam sistem rantai pasok perikanan pada perekonomian Sabang tidak mudah dilakukan karena terkait dengan dua hal yang sangat menonjol, yaitu:

Entrepreneur

a. yang memanfaatkan sistem rantai pasok perikanan untuk membangun perekonomian Sabang tidak ada. Pada aktivitas bisnis perikanan hanya ada pedagang (toke bangku) dengan motivasi jangka pendek sebagai pemasok ikan ke pasar untuk mendapat keuntungan.

Toke bangku di Sabang belum termotivasi menjadi eksportir ikan ke pasar global. Mereka tidak memahami sistem transaksi bisnis pada pasar global serta tidak pernah mengikuti kegiatan pameran perdagangan ikan internasional. Enterpreneur perikanan yang muncul dalam pengembangan bisnis perikanan di Sabang adalah dari luar Sabang yang mengharapkan dapat memanfaatkan peluang dari bantuan pemerintah tersebut, namun mereka tidak mempunyai jaringan pasar.

Transportasi dan sistem logistik perdagangan yang tidak baik. Kondisi b.

ini mempengaruhi minat investor berinvestasi pada usaha perikanan di Sabang. Hasil penelitian Sunarti (2018) di pulau terluar di Kabupaten Banggai Laut misalnya, mengidentifikasi dua permasalahan tentang investasi untuk pengembangan ekonomi pada pulau terluar, yaitu jarak dan akses pulau tersebut ke pusat perdagangan, serta kondisi fasilitas dan infrastruktur yang kurang memadai. Pada aktivitas perikanan di Sabang persoalan ini muncul ketika suplai ikan hasil tangkapan melebihi daya serap pasar tujuan. Ikan hasil tangkapan nelayan Sabang akhirnya dibuang ke laut karena tidak tersedia transportasi untuk mengakses pasar yang lebih jauh, apalagi kondisi infarstruktur yang dapat menampung kelebihan suplai ikan tersebut tidak baik. Fenomena ini sering terjadi antara Februari sampai April setiap tahun. UNCTAD (2014) melihat sisi lain dari permasalahan bisnis tersebut, seperti pengiriman barang (shipping), akses pada jaringan pelayaran global, peralatan dan infrastruktur pelabuhan, cuaca ekstrem, dan perubahan iklim. Permasalahan pengiriman barang (shipping) yang paling menonjol adalah terbatasnya volume barang (ikan) yang dikirim melalui kargo berpendingin sehingga biaya pengiriman menjadi lebih mahal dan harga ikan asal Sabang menjadi tidak kompetitif di pasar tujuan. Selain itu, akses Sabang terhadap jaringan pelayaran global saat ini tidak ada lagi, walaupun jaringan pelayaran global pernah memanfaatkan Sabang sebagai pelabuhan transit, struktur pasar

(39)

pengiriman barang dengan kargo saat ini telah berubah dan lebih banyak mengangkut barang manufaktur dalam volume yang besar. Fasilitas dan infrastruktur yang tersedia pada pelabuhan Sabang tidak sesuai lagi dengan kondisi dan kebutuhan kapal niaga untuk pelayaran global.

Faktor alam yang juga mengganggu transportasi adalah perubahan cuaca yang kerap terjadi di pulau kecil terluar seperti Sabang. Cuaca ekstrem ini mengganggu pengiriman barang dan jasa dari Sabang ke Banda Aceh atau ke pelabuhan tujuan lainnya.

(40)

Bab 3

Usaha Perikanan di Sabang

Uraian di atas menunjukkan sebagian besar usaha perikanan di Sabang merupakan usaha perikanan skala kecil (small scale fisheries) yang disebut Momzunder et al. (2018) sebagai artisanal fisheries. Usaha perikanan yang demikian merupakan usaha dengan ukuran kapal/perahu yang bertonase kecil, investasi dan biaya operasional rendah, serta adaptif dalam menggunakan berbagai jenis alat tangkap (Farrugio et al. 1993).

Usaha perikanan skala kecil merupakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat pulau-pulau kecil dan pesisir. Peran usaha perikanan yang demikian, telah dibahas oleh Kittinger et al. (2013) di berbagai lokasi dunia.

Béné et al. (2007); FAO (2016)a dan FAO (2016)b memperkirakan terdapat sekitar 34 juta orang di dunia yang terkait langsung pada perikanan skala kecil. Sementara 100 juta lainnya ikut serta dalam berbagai aktivitas yang terkait dengan perikanan skala kecil ini. Di Sabang diperkirakan terdapat sekitar 1.395 penduduk (4,1% dari total penduduk 33.978 orang) yang kehidupannya tergantung pada perikanan skala kecil serta sekitar 510 orang (1,5%) penduduk lainnya yang ikut berperan sebagai pedagang, buruh angkut serta pembersih dan perawat kapal/perahu penangkap ikan.

Usaha perikanan skala kecil di Sabang berbeda antara satu kelompok armada tangkap dengan kelompok armada perikanan lainnya. Perbedaan itu menurut Battaglia et al. (2010) dan Fabio et al. (2016) dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat nelayan menangkap ikan, jenis ikan yang menjadi target tangkapan, kondisi sosial ekonomi serta budaya nelayan setempat, maupun alat tangkap yang digunakan.

(41)

Perkembangan kebijakan perekonomian Kota Sabang yang mempromosikan potensi wisata laut sebagai sumber penggerak perekonomian, berpotensi mengganggu keseimbangan perairan, dan sosial ekonomi nelayan skala kecil di Sabang karena aktivitas wisata laut tersebut berada pada daerah penangkapan ikan nelayan Sabang.

Namun, perubahan keseimbangan pada perairan Sabang selain disebabkan oleh aktivitas wisata, dipengaruhi juga oleh perubahan iklim. Listriani dan Roesa (2015) mencoba mempelajari perubahan iklim terhadap masyarakat nelayan pada perairan Kabupaten Aceh Besar tidak jauh dari perairan Sabang, namun perubahan iklim yang dimaksud adalah perubahan cuaca (bersifat jangka pendek), bukan perubahan iklim karena kenaikan suhu permukaan air laut yang berpengaruh pada ekosistem laut (bersifat jangka panjang).

Hasil penelitian tersebut melaporkan perubahan cuaca pada lokasi penelitian menyebabkan nelayan dan pencari kerang tidak dapat beraktivitas, jika terjadi perubahan cuaca di atas normal pada perairan di sekitar perairan Kabupaten Aceh Besar termasuk Sabang. Periode perubahan cuaca pada perairan Aceh Besar dan Sabang menurut nelayan telah bergeser dari kebiasaannya. Hasil analisis stasiun klimatologi Indrapuri Aceh Besar lebih dominan disebabkan oleh Dipole Mode Index (DMI) yang merupakan fenomena interaksi laut–

atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. DMI positif, umumnya berdampak kurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat (terutama perairan Aceh), sedangkan nilai DMI negatif, berdampak meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat termasuk di perairan Aceh yang diikuti dengan badai di sekitar pulau Weh. Analisis lebih lanjut pengaruh dipole pada perairan Sebelah Barat Sumatera di Aceh dapat dipelajari pada Laporan Stasiun Klimatologi Indarpuri Aceh Besar (2018).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan pulau pulau kecil termasuk Sabang rentan terhadap perubahan iklim (Hanich et al. 2018; Fernandes 2018;

Moustahfid et al. 2018; Bell et al. 2018). Pada perairan di sekitar pulau-pulau kecil, naiknya suhu permukaan laut mengganggu keseimbangan ekosistem terumbu karang, sementara ekosistem itu adalah tempat hidup berbagai jenis ikan karang. Kerusakan terumbu karang karena perubahan iklim di

(42)

BAB 3 USAHA PERIKANAN DI SABANG

21 perairan Sabang telah dilaporkan oleh Rudi et al. (2012) dan Ulfa (2011).

Hasil penelitian tersebut menunjukkan tingkat kerusakan terumbu karang (coral bleaching) karena peningkatan suhu permukaan laut di perairan sekitar Pulau Weh mencapai > 60% pada tahun 2010, akibatnya ekosistem terumbu karang tidak berfungsi sebagai lokasi breeding, nursery, dan tempat berlindung serta mencari makan berbagai jenis ikan karang dan organisme laut lainnya.

Rusaknya ekosistem terumbu karang akan mengurangi ketahanan usaha perikanan skala kecil yang dominan di Sabang, seperti yang terjadi pada pulau kecil di kawasan pasifik (Hanich et al. 2018).

Dampak coral bleaching yang dilaporkan oleh Rudi et al. (2012)a pada 5 lokasi pendaratan ikan di Sabang, yaitu Anoi Itam, Ie Meulee, Keneukai, Pasiran, dan Pria Laot menunjukkan jumlah ikan karang yang ditangkap nelayan merosot lebih dari 50% pada 2010 dibandingkan dengan tahun 2008. Hasil penelitian tersebut juga menyebutkan keragaman spesies ikan karang yang didaratkan pada lima lokasi itu juga menurun.

Kerusakan ekositem terumbu karang di perairan sekitar pulau Weh dipengaruhi juga oleh tingginya aktivitas wisata laut. Meningkatnya kunjungan wisata ke Lhok Iboih menyebabkan banyak sampah ikut masuk ke laut. Sampah- sampah tersebut berperan merusak lingkungan pesisir, termasuk terumbu karang dalam perairan di sekitar Pulau Rubiah, Pulau Selaku, dan Pulau Klah. Saat ini perairan pesisir ketiga pulau tersebut tidak lagi dijadikan lokasi penangkapan ikan.

Kerusakan lingkungan laut pada pada pesisir perairan pulau Weh, berpengaruh pada aktivitas nelayan perikanan skala kecil karena perairan itu merupakan fishing ground nelayan skala kecil. Informasi lapangan menunjukkan sebelum tahun 2010 di Sabang terdapat nelayan yang menangkap ikan karang dan lobster dengan menggunakan alat tangkap tradisional. Ikan karang ditangkap dengan menggunakan tombak atau perangkap seperti bubu, sedangkan lobster ditangkap dengan menyelam menggunakan kompressor. Kerusakan ekosistem laut pada perairan di sekitar pulau Weh (Sabang), terutama pada perairan Pulau Rubiah, Pulau Seulaku, dan Pulau Klah mengurangi populasi ikan karang dan lobster. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian Rudi (2012)a.

(43)

Data statistik perikanan Sabang menunjukkan produksi nelayan Sabang mencapai 4.497 ton (2008) dan pada tahun 2010 turun menjadi 1.793 ton, dari jumlah tersebut ikan kerapu yang didaratkan menurun dari 83 ton (2008) menjadi 45 ton (2010). Penurunan jumlah hasil tangkapan ini diduga terkait dengan coral bleaching karena perubahan iklim pada perairan Sabang seperti yang hasil penelitian Rudi (2012); Rudi (2012)a dan Ulfa (2012).

Selanjutnya, produksi perikanan laut Sabang meningkat sejak tahun 2011 setelah dampak coral bleaching mulai berkurang. Hasil tangkapan nelayan pada tahun 2011 adalah 2.112 ton, pada tahun 2017 meningkat menjadi 4.432 ton. Jumlah ikan kerapu yang ditangkap meningkat dari 67 ton (2011) menjadi 93 ton (2017). Sementara, pada statistik perikanan tidak tercatat hasil tangkapan lobster, tetapi di Sabang diidentifikasi terdapat sekitar dua pedagang lobster yang menjual lobster hasil tangkapan nelayan pada pengumpul lobster di Desa Deah Baro di Banda Aceh. Informasi tersebut dapat menunjukkan pada perairan Sabang telah terjadi recovery ekosistem terumbu karang dan ekosistem pesisir.

Pada sisi lain, struktur usaha perikanan tangkap di Sabang tidak banyak mengalami perubahan. Usaha perikanan di Sabang dapat dikatakan sebagai usaha perikanan skala kecil dengan kapasitas terbatas serta karakteristik seperti pada Tabel 3.

Karakteristik usaha perikanan tangkap laut di Sabang, 2018 Tabel 3

Karakteristik PTM MT 0–5 GT 5–10 GT 10–20 GT 30 GT Jumlah armada

(unit) 128 99 438 12 6 1

Trip penangkapan ikan

1 hari per

trip 1 hari per

trip 1 hari per trip

Rata rata 2 hari per

trip

Rata rata 3 hari per

trip

Rata rata 7 hari per

trip Sumber modal sendiri toke

bangku toke

bangku toke

bangku toke bangku toke bangku Biaya rata-rata

Rp per trip 100 ribu 300 ribu 775 ribu 2.950

ribu 3.632 ribu 14.500 ribu

(44)

BAB 3 USAHA PERIKANAN DI SABANG

23 Karakteristik PTM MT 0–5 GT 5–10 GT 10–20 GT 30 GT

Alat tangkap

dominan Pukat

pantai

Pancing ulur; jaring

insang hanyut;

jaring insang tetap

Pancing ulur;

pancing tonda;

rawai dasar

Pancing tonda;

rawai dasar;

Purse Seine dan jaring

insang hanyut

Purse Seine

Fishing ground < 2 mil laut dari

pantai

< 4 mil laut dari

pantai

4–10 mil laut dari

pantai

10–12

mil laut 10–12 mil

laut 12–50 mil laut

Jenis ikan yang ditangkap

Pelagis kecil:

layang, selar, pisang pisang, tembang,

lemuru

Pelagis besar:

Tuna sirip kuning

dan cakalang.

Pelagis kecil:

(layang, selar, pisang pisang, tembang,

lemuru)

Tuna sirip kuning, cakalang,

tongkol, setuhuk, kwee, layaran, lemadang,

kakap merah

Tuna sirip kuning, cakalang,

tongkol, setuhuk, kwee, kakap merah,

kurisi, gurita

Cakalang, tongkol,

layang, kembung,

Cakalang, tongkol, kembung,

layang, tembang

Tempat pendaratan ikan

Berbagai lokasi di Sabang

Pasiran, Ie Meulee, Anoi Itam,

Keneukai, Pria Laot

Pasiran, Ie Meulee, Anoi Itam,

Keneukai, Pria Laot

Pasiran, Ie Meulee, Ulhee Cot

– Banda Aceh

Lampulo PPS dan Ulhee

Cot

PPS Lampulo

Pasar tujuan Pasar lokal

Sabang Pasar lokal Sabang

Pasar lokal Sabang dan Banda

Aceh

Sabang, Banda Aceh dan

Medan

Banda Aceh dan Medan

Banda Aceh dan

Medan

Tabel 3 Karakteristik usaha perikanan tangkap laut di Sabang, 2018 (lanjutan)

(45)

Jenis armada penangkapan yang paling dominan adalah armada penangkapan ikan 0–5 GT (438 unit), armada ini tersebar pada berbagai lokasi di Sabang.

Armada tersebut umumnya menggunakan alat tangkap pancing ulur, pancing tonda, dan rawai dasar serta menangkap ikan pada pada perairan 4–10 mil dari pantai. Hasil tangkapan utama adalah tuna sirip kuning, cakalang, dan ikan demersal. Hasil tangkapan didaratkan di Pasiran (Sabang) untuk konsumsi lokal dan dikirim oleh pedagang ke Banda Aceh terutama ikan tuna sirip kuning dan ikan karang. Armada penangkapan ikan 0–5 GT di Sabang dalam satu bulan dapat melakukan kegiatan penangkapan ikan antara 18–20 trip.

Di Sabang terdapat armada perikanan 5–10 GT yang mendaratkan ikan di Banda Aceh terutama di Ulhee Cot Desa Deah Glumpang. Armada perikanan tersebut merupakan armada pancing tonda dan rawai dasar. Hasil tangkapan utama adalah tuna, cakalang, tongkol, setuhuk, kuwe, dan ikan karang serta gurita. Jumlah armada asal Sabang yang mendaratkan hasil tangkapan di lokasi tersebut sekitar 12 kapal ikan.

Armada perikanan Sabang ukuran 10–20 GT yang menangkap ikan cakalang umumnya mendaratkan ikan di Ulhee Cot Desa Deah Glumpang Banda Aceh, namun jika hasil tangkapannya ikan tongkol dan ikan pelagis kecil armada perikanan tersebut mendaratkan ikan hasil tangkapan di PPS Lampulo.

Ulhee Cot adalah tempat pilihan bagi armada perikanan Sabang yang menangkap tuna sirip kuning dan cakalang untuk membongkar hasil tangkapan. Pembongkaran ikan di lokasi ini lebih cepat, keamanan ikan yang dibongkar terjamin, ikan tuna dan cakalang langsung dimasukkan dalam kontainer serta truk berpendingin, kemudian dibawa ke tempat pengemasan atau langsung dibawa ke Medan.

Armada penangkapan ikan Perahu Tanpa Motor (PTM) merupakan salah satu pemasok ikan pelagis kecil untuk pasar lokal di Sabang. Armada penangkapan PTM menggunakan pukat pantai dan jumlahnya sekitar 128 unit. Armada pukat pantai ini tersebar pada beberapa lokasi di Sabang. Armada pukat pantai beroperasi setiap hari (kecuali pada hari Jumat dan hari libur nasional).

Aktivitas penangkapan ikan dilakukan pada pagi hari dan siang hari. Hasil tangkapan setiap operasi penangkapan ikan umumnya sekitar 1 kuintal berbagai jenis ikan pelagis kecil.

(46)

BAB 3 USAHA PERIKANAN DI SABANG

25 Di Sabang tercatat 1 armada penangkapan ikan 30 GT yang menggunakan alat tangkap purse seine. Armada penangkapan ini menangkap ikan cakalang, tongkol, atau ikan pelagis kecil lainnya. Hasil tangkapan tersebut selanjutnya didaratkan pada PPS Lampulo. Armada penangkapan ini beroperasi sekitar 7 hari per trip, hasil tangkapan rata-rata mencapai 3–4 ton ikan per trip.

Armada penangkapan ikan di Sabang dengan tonase > 10 GT umumnya mendaratkan ikan di Banda Aceh untuk memudahkan mendapat bahan bakar minyak. Di Sabang, stok bahan bakar untuk armada perikanan ini relatif terbatas sehingga armada perikanan Sabang berpotensi tidak mendapat BBM.

Pada Tabel 3, hasil tangkapan nelayan dijual untuk pasar ikan lokal di Sabang.

Konsumen lokal Sabang hanya mampu menyerap ikan sekitar 3–4 ton ikan per hari, terutama ikan pelagis kecil, cakalang, dan tongkol. Oleh sebab itu, sisa hasil tangkapan armada perikanan Sabang selanjutnya dipasarkan ke Medan dan Banda Aceh melalui PPS Lampulo. Selain itu sebagian besar ikan tuna sirip kuning hasil tangkapan nelayan Sabang yang tidak masuk grade ekspor, di jual ke PPS Lampulo. Di PPS Lampulo ikan tuna yang penanganannya di atas kapal dan di tempat pendaratan ikan yang kurang baik, dijual eceran di Banda Aceh atau kota-kota lain di Aceh.

Pada tempat pendaratan ikan, seperti di Ie Meulee, ikan tuna sirip kuning dengan berat mencapai 25 kg dibongkar dari kapal penangkap tuna tanpa mengunakan alat. Ikan tersebut selanjutnya dimasukkan dalam cool box dengan jumlah es yang tidak memadai. Bahkan ukuran cool box lebih pendek dari ukuran panjang ikan sehingga ikan “dipaksa” dimasukkan dalam cool box tersebut (Gambar 3).

(47)

Gambar 3 Penanganan ikan tuna sirip kuning pada tingkat toke bangku di Ie Meulee Sabang, 2018

Sumber: Zulham A (2018)

Pada Gambar 4, diketahui penanganan hasil tangkapan nelayan umumya tidak sesuai dengan prinsip penanganan ikan yang baik, kondisi ini terjadi pada semua lokasi pendaratan ikan di Sabang. Hal ini terjadi karena nelayan Sabang mendaratkan ikan pada tempat-tempat tertentu yang terdapat toke bangku, fasilitas pada tempat itu kurang memadai, namun mudah diakses, harga ikan hasil tangkapan nelayan Sabang ditentukan oleh toke bangku yang telah menjadi langganan nelayan. Nelayan penangkap ikan tuna dan cakalang di Sabang tidak mungkin menjual hasil tangkapannya di pasar eceran karena penjual ikan pada pasar itu sebagaian besar menjual ikan pelagis kecil. Selain itu, daya serap pasar ikan Sabang relatif kecil.

(48)

BAB 3 USAHA PERIKANAN DI SABANG

27 Gambar 4 Penanganan ikan tuna sirip kuning dan cakalang di Sabang, 2018

Sumber: Zulham A (2018)

(49)
(50)

Bab 4

Membangun Perikanan Sabang dengan SKPT

Konsep SKPT dan Rencana 4.1 Pengembangan SKPT Kota

Sabang

Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) adalah program Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membangun perekonomian di pulau-pulau terluar. Program tersebut dilaksanakan sejak tahun 2015, tujuannya adalah menjadikan kawasan SKPT sebagai sentra produksi dan pusat ekspor hasil perikanan dari pulau-pulau terluar dan kawasan perbatasan. Karakteristik SKPT sebagai pusat produksi dan ekspor hasil perikanan harus inovatif, unggul, dan berdaya saing sehingga dapat berkontribusi pada percepatan pembangunan perikanan nasional.

Pada tahun 2015 SKPT dibangun di beberapa lokasi, antara lain Simeulue, Natuna, Tahuna, Saumlaki, dan Merauke. Pada tahun 2016 dikembangkan lagi di 10 lokasi Mentawai, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak Numfor, Tual, Timka, Sarmi, Moa, dan Rote Ndao. Dan pada tahun 2017 prioritas pembangunan SKPT meliputi Natuna, Saumlaki, Merauke, Mentawai, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak Numfor, Timika, Rote Ndao, Kota Sabang, dan Sumba Timur.

Referensi

Dokumen terkait

Laksanakan penilaian mandiri dengan mempelajari dan menilai kemampuan yang sdr miliki secara obyektif terhadap seluruh daftar pertanyaan yang ada, serta tentukan

Untuk itu akan dibuat simulator plant yang dihubungkan ke PLC Omron C200HG dan dari PLC dihubungkan ke komputer dengan software Wonderware InTouch.. Pada program SCADA yang

extension officer at the field site has remarked that by helping to address concrete needs of the community as seen from their perspective, they became more willing to listen to

Penelitian ini merupakan penelitian survei bersifat analitik dengan pendekatan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh antara variabel-variabel

The Tanzania Coastal Management Partnership is a joint initiative between the National Environmental Management Council, the University of Rhode Island’s Coastal Resources Center

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keamanan aminoilin berdasarkan terjadinya Adverse Drug Reaction (ADR) pada pasien rawat inap di rumah sakit.. Penelitian ini meng

KETEPATAN PENGAKUAN PENDAPATAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KEWAJ ARAN PEKYAJ I AN LAPORAN KEUANGAN PADA PT... Ar s ono

Sesuai dengan ketentuan penilaian penetapan kesehatan koperasi menurut Peraturan Menteri Negara Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (2008), nilai yang didapat oleh