• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II JAMINAN FIDUSIA DALAM HUKUM JAMINAN D

D. Perkembangan Jaminan Fidusia dan Kebutuhan Masyarakat

Fidusia sebagai lembaga jaminan sudah lama di kenal dalam masyarakat Romawi, yang pada mulanya tumbuh dan hidup dalam hukum kebiasaan. Berdasarkan peraturan sejarah, lembaga jumlah fidusia selanjutnya diatur dalam yurisprudensi dan kini telah mendapat pengakuan dalam undang-undang.62

Fidusia adalah lembaga yang berasal dari sistem hukum perdata barat63 yang eksistensi dan perkembangannya selalu dikaitkan dengan sistem civil law. Istilah civil law berasal dari kata Latin jus civile, yang di perlakukan kepada masyarakat Romawi.

62

Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung :Alumni,Bandung 2004, hal. 28.

63

Di Indonesia, dalam pandangan tradisionil, potensi fidusia ini sudah cukup lama dikenal dalam kehidupan masyarakat dengan sebutan “boreh”. Lihat R. Subekti, Suatu Tinjauan Tentang Sistem Hukum Jaminan Nasional, kertas kerja pada seminar Hukum Jaminan, Bina Cipta tahun 1978,:, 1981), hal. 29.

Selain jus civile terdapat pula yang mengatur warga romawi dengan orang asing yang di kenal dengan jus getium,64

Jus civile di artikan sebagai hukum sipil yakni hukum yang di buat oleh rakyat untuk kalangan warga sendiri65 sedangkan jus disebut juga dengan hukum bangsa-bangsa. Sistem civil law disebut juga dengan sistem hukum Eropa kontinental, yang berakar dari tradisi hukum Indo-Jerman dan Romawi.66 Dalam proses perkembangannya sistem civil law tidak saja dijumpai di benua Eropa melainkan berlaku secara luas di berbagai negara di luar Eropa antara lain Indonesia.

Sistem hukum Indonesia mempunyai hubungan yang erat dengan hukum Belanda karena adanya peraturan sejarah yang didasarkan kepada asas konkordansi (concordantie beginsel). 67 Demikian pula sistem hukum Belanda memiliki pertautan sejarah dengan hukum Prancis yang berasal dari hukum Romawi.68 pada abad ke 6 hukum Romawi di kumpulkan dan di jadikan kodifikasi atas perintah kaisar Yustianus dalam sebuah kitab undang-undang yang diberi nama Corpus Iuris

64

Joseph Dainow, the civil law and the common law: some points of comparison, The American Journal of Comparative Law, vol.15, 1967, hal. 420.

65

IPM Ranuhandoko, Terminologi Hukum Inggris – Indonesia, : Sinar Grafika Jakarta, 1996, hal. 364-365.

66

Sutandyo Wigyo Soebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional, Dinamika Sosial- Politik Dalam Perkembangan Hukum Di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 2.

67

Schoulten van Out Haarlem, asa konkordansi yang diikuti Indonesia adalah konkordansi sempit (enge concordantie), lihat C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1982), hal. 198.

68

Daerah Prancis di bagian utara dan tengah berlaku hukum lokal yakni hukum Prancis kuno yang berasal dari Germania disebut pays de droit coutumier, sedangkan dibagian selatan merupakan daerah Hukum Romawi yang berlaku pays de droit ecrit.

civilis.69 Dengan meluasnya kerajaan Romawi ke Eropa Barat hukum romawi pun menjadi luas jangkauan berlakunya.

Menurut Sunaryati Hartono, ada 2 (dua) faktor yang menyebabkan di dituangkannya hukum Romawi ke dalam hukum Eropa Barat yakni :

Pertama, mulai abad pertengahan banyak mahasiswa-mahasiswa dari Eropa Barat dan Utara belajar di Universitas di Italia dan Perancis Selatan (di mana Italia merupakan pusat kebudayaan Eropa). Pada zaman ini yang dipelajari oleh ahli hukum hanya hukum Romawi, setelah tiba di tanah airnya, kalau ada persoalan, hukum Romawilah yang dipergunakan, jika hukumnya sendiri tidak dapat memberi penyelesaian, bahkan ada kalanya jika hukumnya sendiri dapat dipergunakan, mereka sengaja tidak memakainya.

Kedua, adanya kepercayaan pada hukum alam yang asasi yang dianggap sebagai suatu hukum yang sempurna dan berlaku bagi setiap tempat dan waktu (zaman). Karena mereka yang menerima hukum alam itu tidak dapat melepaskan dirinya dari hukum Romawi yang telah dipelajarinya di Negara Italia dan Perancis selatan, biasanya mereka menyamakan hukum alam itu dengan hukum Romawi.70

Sementara itu, di Perancis berlaku juga hukum kanonik yang ditetapkan oleh gereja Katolik Roma dalam Codex Iuris Canonici. Kodifikasi Perancis baru terjadi

69

Corpus Iuris Civilis dibagi atas 4 bagian yakni Codex, Pandexten,Instituten Dan Novellen, lihat R. Feenstra, Inleidende Hoofdstukken Betreffende De Romeinsrechtelijke Gronslagen Van Het Nederlands Privaatrecht, (Den Haag : Universitaire pers laiden, 1978), hal. 8-9.

70

Sunaryati Hartono, Capita Selekta Perbandingan Hukum, Bandung : Alumni, 1982, hal. 108.

setelah Revolusi Perancis atas prakasar Napoleon yang di sebut dengan Code Civil. 71 Tujuan kodifikasi ini adalah untuk menciptakan kesatuan hukum dan kepastian hukum. Selanjutnya, Code Civil dari tahun 1811 sampai 1838 di perlakukan di Belanda. Sebagian besar hukum perdata Belanda didasarkan atas Code Civil dan hanya sebagian kecil saja yang didasarkan atas hukum Belanda kuno. Oleh karena itu, kodifikasi hukum perdata Belanda adalah suatu tiruan kodifikasi hukum perdata Perancis dengan beberapa perubahan kecil yang berasal dari hukum Belanda kuno.

Berdasarkan asas konkordansi, kodifikasi hukum perdata Belanda selanjutnya menjadi contoh kodifikasi hukum perdata di Indonesia. Sebagai kesimpulan bahwa unsur-unsur hukum perdata di Indonesia terdiri dari hukum Romawi, hukum Perancis kuno dan hukum Belanda Kuno. 72

Dalam hukum Romawi, khususnya dibidang hukum perjanjian pada tingkat awal perkembangannya tidak terdapat bentuk yuridis yang memadai untuk memberikan jaminan baik benda bergerak maupun benda tidak bergerak, karena hak gadai dan hipotek sebagai hak jaminan belum berkembang. Sementara itu kebutuhan masyarakat Romawi akan bentuk lembaga jaminan pada saat itu sangat dirasakan dalam hubungannya dengan peminjaman uang, sehingga praktek menggunakan konstruksi hukum yang ada yaitu pemberian jaminan kebendaan oleh debitur kepada krediturnya dengan pengalihan hak milik kepercayaan.

71

Sunaryati Hartono, Capita Selekta Perandingan Hukum, Bandung : Alumni, 1982, hal. 108.

72

Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Penerbitan Universitas Jakarta hal 72 Ibid hal 72, Mahadi, Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional, Proyek BPHN, hal.1

Dalam kaitanya dengan hal ini, O.K Brahn mengatakan bahwa pembagian hak milik antara hak milik secara yuridis berada di tangan kreditur dan hak milik secara ekonomis tetap berada di tangan debitur, lazimnnya orang menyebut dengan istilah milik fidusia73.

Mengenai istilah fidusia ini, Mahadi menjelaskan bahwa kata fidusia berasal dari bahasa Latin. Kata tersebut merupakan kata benda artinya kepercayaan terhadap seseorang atau sesuatu, pengharapan yang besar. Selain itu, terdapat kata “fido” merupakan kata kerja yang berarti mempercayai seseorang atau sesuatu.74 Subekti menjelaskan arti kata fiducial adalah kepercayaan yang lain bahwa apa yang keluar ditampakkan sebagai pemindahan milik, sebenarnya ( ke dalam, intern hanya suatu jaminan saja untuk suatu hutang).

Dalam sistem hukum anglo sakson, dikenal istilah “fiduciary” yang diartikan sebagai berikut fidusia adalah suatu istilah yang berasal dari hukum Romawi, yang memiliki dua pengertian yakni sebagai kata benda dan kata sifat. Sebagai kata benda, istilah fidusia memiliki arti seseorang yang diberi amanah untuk mengurus kepentingan pihak ketiga dengan itikad baik, penuh ketelitian, bersikap hati-hati dan berterus terang. Orang yang diberi kepercayaan dibebani kewajiban untuk melakukan

60 Mahadi, Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional, Proyek BPHN

61 R. Subekti, Pokok Pokok Hukum Perdata (Jakarta : Intermasa,1982), Hal. 82

perbuatan untuk kemanfaatan orang lain. Sebagai kata sifat, istilah fidusia menunjukkan pengertian tentang hal yang berhubungan dengan kepercayaan75.

Menurut Bogart, trust dapat dideskripsikan dalam berbagai pengertian sebagai berikut : trust adalah hubungan kepercayaan (fiduciary) yang di dalamnya satu orang adalah sebagai pemegang hak atas harta kekayaan berdasarkan hukum (legal title) tunduk pada kewajiban berdasarkan equity untuk memelihara atau mempergunakan milik itu untuk kepentingan orang lain 76.

Kimbrough dalam Summary of American Law mengatakan bahwa trust adalah hak milik atas harta kekayaan dipegang oleh satu pihak untuk penggunaan atau kepentingan bagi orang lain yang mempunyai hak berdasarkan equity. 77 Trust juga dapat diartikan sebagai hubungan hukum antara dua atau lebih orang yang di dalamnya seorang terikat untuk menguasai harta kekayaan atas dasar hak menurut hukum untuk kemanfaatan orang lain yang mempunyai kepentingan berdasarkan equity.78 Dalam pengertian yang sederhana, trust adalah kepercayaan yang diberikan kepada seseorang (di sebut trustee) dan melakukan kewajiban untuk kepentingan orang lain (di sebut beneficiary).

76 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Mengenal Trust, Penataran Dosen Hukum Perdata/Dagang, (Yogyakarta : 16-18 November, 1992), hal. 1.

77 Ibid Hal. 1; Secara etimologi, arti kata “equtiy” adalah keadilan yang ideal yang tidak diatur oleh hukum bahkan yang dapat bertentangan dengan hukum. Equity merupakan bagian dari hukum Inggris yang tidak berasal dari adat kebiasaan dan putusan-putusan parlemen, tetapi berasal dari putusan-putusan court of Chancery zaman dahulu. Dahulu (abad ke 14) Chancelor adalah pendeta yang menyelesaikan perkara yang diajukan oleh masyarakat untuk memperoleh keadilan yang selanjutnya berkembang menjadi suatu pengadilan yang disebut “court of Chancery”. Dalam perkembangannya (abad ke 17) court of chancery dipegang oleh ahli-ahli hukum dan pada awal abad ke 19 pengertian equity sama terikatnya dengan precedent seperti common law. Lebih lanjut lihat Abdulkadir Muhammad, Hukum Perjanjian, (Bandung : alumni, 1986), Hal. 6-7.

Menurut Peter Hefti, berdasarkan sistem common law bahwa dalam trust, pihak trustee mempunyai kedudukan sebagai legal owner atas harta kekayaan trust. Yang menjadi pertanyaan bagi Peter Hefti adalah apakah makna dari cita-cita atau ide bahwa trustee itu adalah legal owner. Pertanyaan tersebut harus diselesaikan dengan membandingkan pada lembaga fidusia dalam hukum Romawi yang menurut pendapat para ahli kebanyakan mempunyai konsep yang sama dengan trust .79

Jika dilihat uraian di atas konsep trust dalam sistem common law adalah mengenal adanya pemisahan antara penguasaan dengan kemilikan, sedangkan dalam sistem civil law bahwa hak penguasan dan kemilikan atas benda tidak terpisah melainkan merupakan suatu kesatuan. Hal ini di dasarkan kepada prinsip yang tekandung dalam Pasal 1977 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata80.

Dalam bidang hukum, menurut hukum romawi dikenal 2 (dua) bentuk fiduia yaitu pertama fiducia cum creditore an fiducia cum amico81. Kedua bentuk fidusia tersebut timbul dari perjanjian yang disebut pactum fiduciace kemudian diikuti dengan penyerahan hak atau in iure cessio82. Dari kata cum creditore dapat diduga bahwa debitur akan mengalihkan kemilikan atas suatu benda kepada krediturnya

79 Ibid, hal. 3.

80 Dalam pasal ini terdapat azas bahwa siapa yang menguasai barang bergerak di anggap sebagai pemilik dari barang tersebut, disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung :Alumni,Bandung 2004, hal. 42.

81

W.M. Kleyin, Kepastian dan Ketidakpastian Peralihan Milik Fidusiyer Compedindium Hukum Belanda (Gravenhage; Yayasan Kerjasama Ilmu Hukum-Indonesia-Belanda, 1978), hal.17

82

disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 42.

sebagai jaminan untuk mengalihkan kembali kepemilikan tersebut kepada debitur bilaman hutangnya sudah dibayar lunas.83

Apabila dilihat dari isi janji yang disepakati dalam bentuk fiducia cum creditore, maka ada beberapa hal yang penting sebagai unsur dalam hubungan antara debitur dengan krediturnya yakni : pertama, debitur megalihkan kemilikan atas benda kepada kreditur kedua benda yang diserahkan adalah sebagai jaminan hutang, ketiga, secarra fisik benda yang dijadiklan jaminan hutang dikuasai oleh debitur, keempat kreditur berkewajiban mengembalikan hak milik atas benda kepada debitur setelah melaksanakan kewajibannya.84

Dalam kontruksi fiducia cum creditore, walaupun debitur menyerahkan benda dalam kemilikan kreditur bukan berarti bahwa kreditur dapat melakukan sesuatu terhadap benda itu secara bebas dan tidak terbatas. Debitur percaya bahwa kreditur tidak akan menyalahgunakan hak tersebut walaupun tidak ada undang-undang atau peradilan yang menetapkan hubungan kepercayaan itu. Jadi, dapat dikatakan bahwa hubungan kepercayaan itu didasarkan kepada aturan moral.85

Berdasarkan pendapat ini dikatakan bahwa moral itu terdapat dalam perbuatan yang dilakukan karena kebiasaan, layak sesuai dengan kehidupan bermasyarakat terutama kalau perbuatan itu menyangkut hal yang tidak baik atau buruk, benar atau

83

Ibid, hal. 42.

84

http://hardijma.wordpress.com/2008/04/15/sekilas-tentang-fidusia-dan-jaminan-fidusia/. Dikutip tanggal 08 januari 2009.pukul 15.00.

85

Kata ”moral” berasal dari kata Latin ”mores” yang identik dengan akar kata ”ethos” berarti alat kebiasaan. Moral berarti sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan wajar, lihat Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Buku IV, (Jakarta: Bulan Bintang 1978) hal. 512 (lihat Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 43).

salah. Apabila perbuatan itu bebas telepas dari setiap bentuk hukum positif disebut dengan moral instrinsik dan jika perbuatan itu sebagai sesuatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang berkuasa atau oleh hukum positif baik dari manusia maupun dari Tuhan disebut moral ekstrinsik.86

Moral dan hukum merupakan dua hal yang berbeda, tetapi saling berkaitan satu dengan lainnya. Perbedaan itu terletak kepada karakter dan sanksi. Karakter moral adalah otonomitas dan memiliki sanksi batiniah, sedangkan karakter hukum adalah heteronomitas dan memiliki sanksi lahiriah. Keterkaitan antara keduanya berada dalam hubungan vertikal yakni tata tertib sosial bahwa itu lebih tinggi kedudukannya di dalam hukum (moral is a high grade law) 87. Bruggink mengatakan bahwa kaidah hukum diderivasi dari kaidah moral atau berpijak dari moral88. Di Cina,

Hal ini menunjukan bahwa moral dalam hukum positif berbeda dengan moral dalam

Jadi, dapat dilihat bahwa justice under the law adalah keadilam yang mengacu kepada hukum positif, sedangkan justice above the law adalah keadilan yang mengacu kepada hukum atau keadilan yang mengacu kepada moral yang transendental. Konsep justice under the law merupakan konsep dari kaum legalis sedangkan konsep justice above the law merupakan pandangan dari kaum Confusius.

86

W. poespoprodjo, Filsafat Moral Kesusilaan dalam Teori dan Praktek, (Bandung : Remaja Karya, 1986), hal. 103 (lihat Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 43).

87

Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 43-44).

88

J.J.H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum, alih bahasa Arief Sidharta, (Bandung:Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 189, disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 44.

hukum alam. Seolah-olah moral dalam hukum alam lebih tinggi kedudukannya dari moral hukum positif 89.

Dalam pandangan positivitas, kalau hendak mempelajari hukum secara ilmiah, hukum harus dipisahkan dari moral. Dalam kaitannya dengan fiducia cum creditore, hubungan pihak pihak didasarkan atas pertimbangan kepercayaan kepada moral yaitu moral intrinsik, yang tidak dipengaruhi oleh hukum positif baik undang- undang maupun yurisprudensi 90.

Selain bentuk fiducia cum creditore, dikenal pula fiducia cum amico, yang terjadi bilamana seseorang menyerahkan kewenangannya kepada pihak lain atau menyerahkan suatu barang kepada pihak lain untuk diurus 91.

Mengenai fiducia cum amico, Fred B.G. Tumbuan menjelaskan bahwa : Fiducian cum amico merupakan suatu lembaga titipan yang dikenal dalam hukum Romawi. Lembaga ini sering digunakan oleh seorang pater familias yang harus meninggalkan keluarga dan tanahnya untuk jangka waktu yang lama karena ia harus membuat perjalanan jauh atau bepergian perang. Dalam hal demikian, pater familias tersebut akan menitipkan familiarnya yaitu keluarga dan seluruh kekayaanya kepada seorang teman yang selanjutnya akan mengurus tanah dan kekayaanya yang ditinggalkan oleh pater familias. Tentu saja antara pater familias dan temannya tersebut dibuat janji bahwa teman tersebut akan mengembalikan kepemilikan atas familia bilamana si pater familias sudah kembali dari perjalanannya.92

Dari gambaran di atas, dapat dikatakan bahwa fiducia cum amico merupakan hubungan yang tidak ditujukan untuk kepentingan jaminan hutang. Hubungan antara

89

Soetikno, Filsafat Hukum Bagian II, (Jakarta, Pradnya Paramita, 1989), h. 9, disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 44.

90

Tan Kamello, Op.Cit, hal. 44

91

Oey Hoey Tiong, Op.cit, hal. 37

92

Fred B.C.Tumbuan, Op.cit, h.11, disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, h. 45.

pemberi dan penerima adalah bersifat kepengurusan harta benda. Penerima harta benda menjalankan kewenangan sesuai dengan kepentingan dari si pemberi harta benda. Jadi, fiducia cum amico ini dikenal juga dalam hukum anglo Amerika dengan nama trust 93.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa istilah fiduciary dalam hukum Anglo Sakson yang dimaksudkan tidak lain adalah fiducia cum amico dalam hukum Romawi. Dengan demikian, dalam bahasan selanjutnya yang dimaksud adalah fidusia dalam pengertian dan tujuannya sebagai jaminan hutang atau fiducia cum creditore dalam hukum Romawi 94.

Dalam pengertian fiducia cum creditore, seorang kreditur pemegang benda jaminan tidak dapat bertindak seperti seorang pemilik benda. Debitur percaya bahwa kreditur tidak akan memiliki benda jaminan untuk selamanya dan akan memenuhi janjinya untuk mengembalikan benda jaminan jika debitur telah memenuhi kewajibannya. Yang menjadi persoalan, bagaimana kalau kreditur tidak menepati janjinya untuk mengembalikan barang jaminan. Apakah debitur dapat menuntut haknya kembali? Tentunya jawaban tersebut terpulang kepada hakikat hubungan fiducia cum creditore yang didasarkan kepada moral. Sangat sulit bagi debitur untuk menuntut haknya melalui saluran hukum. Di sinilah kelemahan lembaga fiducia cum creditore 95.

93

Tan Kamello, Op.Cit, hal. 45.

94

Tan Kamello, Op.Cit, hal. 46

95

Dengan adanya kelemahan tersebut, diikuti pula dengan berkembangnya gadai dan hipotek sebagai lembaga jaminan, kehidupan lembaga fiducia cum creditore terdesak dan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat akan lembaga jaminan, yang kemudian lenyap dalam lalu lintas hukum 96.

R. Sutterheim menjelaskan tentang latar belakang sejarah lenyapnya lembaga fidusia akibat tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan kepastian hukum serta berkembangnya gadai dan hipotek sebagai jaminan kebendaan sebagai berikut : Hubungan-hubungan fidusia didasarkan kepada kepercayaan dan terlalu memberi kewenangan kepada kreditur yang menjadi pemilik barang yang diarahkan sebagai jaminan. Dalam kepercayaan itu, kreditur tidak akan menyalahgunakan haknya tanpa ada ketentuan dalam undang-undang atau peradilan yang menetapkan kepercayaan itu. Hubungan tersebut dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan hak dibutuhkan dalam lalu lintas kredit. Maka dari itu, dalam Hukum Romawi pada akhir zaman klasik, hak-hak gadai dan hipotek berkembang sebagai hak-hak jaminan kebendaan, yang kemudian hilanglah fudisia untuk akhirnya pada zaman sesudah zaman klasik di bawah Yustianus hilang sama sekali.97

Dengan berkembangnya gadai dan hipotek, lembaga fidusia yang berasal dari romawi itu tidak populer lagi dan tidak digemari lagi oleh masyarakat sehingga hilang dari lalu lintas perkreditan 98.

96

Tan Kamello, Op.Cit, hal. 46.

97

R. Sutterheim, Op.cit, h. 54; disitir dari Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 47.

98

Selain bentuk fiducia dalam hukum Romawi dikenal pula suatu cara lain untuk menjaminkan barang kepada orang lain dengan nama pignus depositum. Melalui lembaga pignus depositum99, barang jaminan tidak menjadi milik dari kreditur melainkan hanya sebagai pegangan saja 100.

Ketika hukum Romawi diresepsi oleh hukum Belanda, lembaga fidusia tidak turut diambil alih. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa fidusia sebagai lembaga tidak terdapat dalam Burgelijk Wetboek (BW). Menurut sistem B.W. lembaga gadai dipergunakan untuk jaminan benda bergerak dengan konstruksi bahwa barang jaminan dilepaskan dari kekuasaan debitur sedangkan lembaga hipotek dipergunakan untuk benda-benda tidak bergerak. Pada mulanya, kedua bentuk jaminan kebendaan tersebut dirasakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang perkreditan. Namun, pada akhir abad 19 terjadi perubahan dalam masyarakat yang ditandai dengan adanya krisis di bidang pertanian akibat datangnya serangan hama sehingga para petani tidak mendapatkan hasil panennya. Konsekuensinya para pengusaha di bidang pertanian mengalami kekurangan modal.101 Para pengusaha tersebut tidak mungkin lagi melakukan investasi. Salah satu harapan untuk mendapatkan bantuan modal adalah dari bank. Namun, bank pada waktu itu tidak mau memberikan kredit para pengusaha pertanian kecuali

99

Kata ”Pignus Depositum” terdiri dari dua kata yaitu pignus artinya gadai dan depositum artinya penitipan. Pignus dapat juga diartikan sebagai barang-barang yang di sita oleh kreditur untuk pelunasan hutang, sedangkan depositum diartikan sebagai kontrak mengenai penjaminan. Lebih lanjut lihat Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Bandung:Alumni, Bandung 2004, hal. 47.

100

R. Subekti, Op.cit, hal. 78.

101

disediakan barang jaminan berupa alat-alat pertanian dalam bentuk jaminan gadai. Demikian pula jaminan hipotek tidak dimungkinkan karena para pengusaha pertanian tidak banyak yang memiliki tanah hak milik. Di samping itu juga bank sebagai pemberi kredit meminta jaminan tambahan selain jaminan hipotek. Apabila para pengusaha pertanian memberikan sekaligus dua barang jaminan yakni alat-alat pertanian dengan jaminan gadai dan tanah pertanian dengan bentuk berhenti melanjutkan usahanya. Kalau bank memberikan kredit kepada para pengusaha pertanian dengan jaminan gadai berarti alat-alat pertanian harus diserahkan kepada bank. Hal itu tentu memberatkan para pengusaha. Apabila dilakukan dengan kontruksi jaminan gadai tanpa penyerahan barang jaminan ke dalam kekuasaan kreditur (bank), akan bertentangan dengan norma hukum dari gadai yang diatur dalam Pasal 1198 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 102.

Dalam suasana kritis tersebut, pada tahun 1884 dikeluarkan undang-undang

Dokumen terkait