GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Jumlah Uang Beredar
4.1.1 Perkembangan Jumlah Uang Beredar dalam Arti Sempit (M 1 )
Perkembangan jumlah uang beredar (M1) di Sulawesi Selatan selama 2001-2010 memperlihatkan fenomena yang terus berkembang baik uang giral maupun uang kartal. Terutama untuk uang giral sendiri mengalami peningkatan yang cukup pesat karena didukung oleh investasi di daerah Sulawesi Selatan yang terus mengalami kenaikan sehingga intensitas transaksi ekonomipun berkembang cukup pesat.
Tabel 4.1
Perkembangan Jumlah Uang Beredar di Sulawesi Selatan Dalam Arti Sempit (M1), Tahun 2001-2010
(Dalam Milyar Rupiah)
Tahun Uang Kartal Uang Giral M1
2001 1.815 2.000 3.815 2002 1.670 2.037 3.707 2003 1.605 2.129 3.734 2004 1.875 2.103 3978 2005 2.157 2.593 4.750 2006 2.600 5.410 8.010 2007 1.810 5.060 6.870 2008 2.220 5.410 7.630 2009 2.730 6.117 8.847 2010 2.180 5.840 8.020 Sumber : BI SulSel
Tahun 2001 merupakan awal meningkatnya permintaan uang terutama untuk uang kartal di masyarakat. Permintaan tersebut disebabkan oleh terjadinya pergeseran yang cukup signifikan dari struktur perekonomian Sulawesi Selatan, seperti tercermin pada meningkatnya pernana usaha kecil mengah (UKM) dan
menggunakan pembiayaan sendiri dibandingkan dengan pembiayaan dari sektor perbankan. Di samping itu, masih tingginya ketidakpastian kondisi sosial politik pada 2001 telah mendorong permintaan uang kartal oleh masyarakat untuk berjaga-jaga.
Tingginya permintaan uang kartal ditambah dengan beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam operasional kebijakan moneter, seperti kurang efektifnya transmisi kebijakan moneter akibat masih belum pulihnya intermediasi perbankan, menyebabkan penyerapan uang primer menjadi sulit dilakukan secara optimal. Meskipun berbagai langkah penyerapan likuiditas telah dilakukan, baik melalui OPT (Operasi Pasar Terbuka) maupun kenaikan suku bunga intervensi rupiah, perkembangan uang primer seringkali berada diluar sasaran yang telah ditetapkan.
Membaiknya perkembangan inflasi di Sulawesi Selatan pada tahun 2002 dari 12,55% menjadi 10,03% dan nilai tukar mendorong ekpektasi positif masyarakat terhadap penurunan inflasi dan kestabilan moneter yang kemudian mendorong mereka menurunkan permintaan uang kartal untuk berjaga-jaga. Disamping itu, menurunnya permintaan uang kartal untuk motif ini didorong oleh membaiknya kondisi sosial politik pada tahun 2002. Menurunnya pertumbuhan uang kartal ini menjadi penyebab utama menurunnya pertumbuhan uang primer selama tahun 2002.
Kondisi moneter Sulawesi Selatan pada tahun 2003 yang cenderung stabil juga tercermin dari tingkat inflasi yang mengalami penurunan dan kemudian
diikuti oleh tingkat suku bunga yang juga menunjukkan hal yang sama. Permintaan uang (M1) yang juga mengalami peningkatan terutama pada uang giral yang mengalami kenaikan 9% dari tahun sebelumnya dimana keadaan investasi Sulawesi Selatan terutama dalam sektor perhotelan dan pertanian merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut.
Di tahun 2004 uang primer meningkat karena tingginya permintaan uang kartal dan kelebihan giro positif perbankan dari perkiraan semula. Tingginya permintaan uang kartal pada tahun 2004 terkait erat dengan kegiatan perekonomian dan beberapa kegiatan temporer seperti serangkaian kegiatan pemilu, puasa, hari raya, dan tutup tahun.
Untuk memulihkan stabilitas moneter dan nilai tukar pada tahun 2005, Bank Indonesia menempuh langkah-langkah pengetatan moneter, terutama melalui penerapan kerangka kerja moneter ITF sejak juli 2005, dimana Bank Indonesia menggunakan BI Rate sebagai sinyal kebijakan moneter, pengetatan moneter tercermin dari kenaikan BI Rate dan Giro Wajib Minimum (GWM).
Pengetatan tersebut mendorong peningkatan suku bunga simpanan sehingga pada tahun 2005, uang beredar dalam arti sempit (M1) mengalmi perkembangan positif. Rata-rata laju pertumbuhan tahunan M1 secara nominal tercatat mencapai 11,1 %.
Pada tahun 2006 M1 tumbuh mencapai 23,54% jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan M1 dipengaruhi oleh peningkatan permintaan uang kartal. Selain didorong oleh ekonomi yang masih tumbuh positif,
peningkatan kebutuhan uang kartal juga dipengaruhi oleh kebijakan fiskal berupa percepatan realisasi anggaran, penyaluran bantuan langsung tunai (BLT), dan kenaikan gaji PNS. Selain itu, uang giral juga mengalami peningkatan menjadi Rp. 5,41 triliun pada kahir 2006 sejalan dengan peningkatan lokasi dana perimbangan.
Di tahun 2007 kondisi moneter Sulawesi Selatan cenderung stabil yang ditunjukkan dengan menurunnya laju inflasi sehingga menurunkan permintaan uang kartal yang kemudian diikuti dengan turunnya tingkat suku bunga dari pihak perbankan.
Kondisi di tahun 2008 berbanding terbalik dari tahun sebelumnya dimana permintaan uang kartal masyarakat Sulawesi Selatan melonjak naik dari Rp. 1, 81 triliun menjadi Rp. 2,22 triliun. Kondisi ini juga diikuti oleh kenaikan inflasi dan tingkat suku bunga hal ini disebabkan karena adanya peningkatan belanja pemerintah daerah dan kenaikan harga beberapa komoditas secara umum tentunya akan mendorong terjadinya peningkatan jumlah uang beredar yang secara tidak langsung akan mendorong terjadinya peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit/pembiayaan perbankan juga faktor sosial politik (pilkada) Sulsel yang menjadi perhatian perbankan dalam beroperasi.
Di tahun 2009 krisis global melanda beberapa Negara, walaupun pengaruhnya terhadap Indonesia terutama Sulawesi Selatan tidak terlalu besar namun, menimbulkan efek terhadap permintaan uang kartal masyarakat Sulawesi Selatan yang ikut meningkat. Hal ini disebabkan oleh ekspekatasi masyarakat
terhadap laju inflasi yang akan meningkat selain itu permintaan uang kartal juga disebabkan karena kondisi politik yang akan kembali dimulai di tahun berikutnya.
Berbeda pada tahun-tahun sebelumnya ketika kondisi politik Selawesi Selatan sedang mengalami pergantian di tahun 2010 jumlah permintaan uang cenderung menurun begitu pula dengan tingkat suku bunga, hal ini disebabkan meningkatnya jumlah sektor informal perekonomian di Sulawesi Selatan, yang kemudian diikuti penurunan inflasi yang turun menjadi 7,3%.
Gejala bertambahnya jumlah uang beredar M1 di atas berkaitan dengan fungsi uang sebagai alat tukar, yang semakin dibutuhkan pada saat perekonomian berkembang. Ekonomi yang bertumbuh dan berkembang mempunyai konsekuensi meningkatkan transaksi, yang membutuhkan uang guna mempermudah proses pembayaran. Lebih tingginya pertambahan uang giral dibanding uang kartal telah mengubah komposisi M1. Gejala makin besarnya porsi uang giral dalam M1 merupakan hal yang lumrah dalam perekonomian yang terus bertumbuh dan berkembang.
Pada saat perekonomian makin besar dan modern, maka transaksi ekonomi nilainya makin besar dan intensitasnya makin tinggi serta makin melibatkan banyak pihak. Dengan demikian, penggunaan uang giral akan mempermudah dan mempercepat berlangsungnya transaksi karena pemanfaatan mekanisme pemindahbukuan. Selain itu, jauh lebih aman menggunakan uang giral apalagi untuk transaksi besar.