• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Perkembangan Kognitif (akal) Menurut Al-Ghazali

Akal merupakan ciptaan Allah yang dianugrahkan kepada makhluknya bernama manusia. Dengan akalnya manusia mampu berpikir, berbudi, dan bisa memilah antara sesuatu yang benar dan yang salah. Dengan dimilikinya akal, kedudukan manusia menjadi lebih sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Orang yang mau menggunakan fungsi akalnya akan mendapatkan kemampuan mencegah dari seluruh kesia-siaan.58

Manusia itu sendiri berada pada tingkatan antara malaikat dan binatang. Dari segi makan dan berketurunan, manusia lebih mirip dengan tumbuh-tumbuhan.Dari segi merasa dan bergerak dengan kemauan, manusia lebih seperti binatang. Dan dari segi bentuk serta perawakannya, manusia lebih seperti gambar yang diukir pada

57

C. George Boeree, Op. Cit, h. 271

58

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama), (Jakarta: Republika, 2012), hlm. 22

dinding. Sesungguhnya kekhususan manusia tersemat pada porsi mengetahui hakikat-hakikat perkara. Karenanya, siapa saja yang menggunakan anggota tubuh dan kekuatan-kekuatan yang disandangnya untuk diminta pertolongan atas ilmu serta amal, maka ia telah menyerupai kedudukan malaikat, dan ia berhak dihubungkan dengan malaikat serta ia patut dinamakan malaikat dan Rabbani (orang yang dekat dengan Allah Swt). Dan siapa saja yang melakukan cita-citanya untuk mengikuti kelezatan-kelezatan tubuh, ia makan seperti layaknya binatang makan, niscaya ia turun ke posisi yang setingkat dengan binatang. Hingga adakalanya manusia tipe ini terlihat bodoh seperti sapi, dan ada kalanya bersikap rakus seperti babi, juga adakalanya buas seperti anjing dan harimau. Atau pendengki seperti unta, berlaku sombong seperti harimau, atau bergaya menipu seperti landak, bahkan mengumpulkan semua sifat itu seperti iblis yang durhaka.59

Al-Ghazali dalam salah satu buku filsafatnya Mi‟raj al-Salikin, menggambarkan manusia terdiri dari al-nafs, al-ruh, dan Al-Jism.Al-Nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat.Al-ruh adalah panas alami (al-hararat al-ghazariyat) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf. Sedangkan al-jism adalah yang tersusun dari unsur-unsur materi.60

Untuk mengetahui lebih jauh perbedaan ketiga unsur pembentuk totalitas manusia itu, perlu dikemukakan pembagian jenis yang terdapat dikalangan para filosof sebelumnya yang digunakan oleh Al-Ghazali, yaitu: al-ajsam,al-nufus, dan

al-„uqul.Yang paling rendah tingkatnya adalah al-ajsam dan yang tertinggi adalah

59

Ibid, h. 27

60

„uqul. Al-ajsam dianggap rendah karena jenis inilah yang terakhir dalam proses penciptaan, sehingga sangat jauh jaraknya dari sumber wujud.Sedangkan al-„uqul

sangat dekat dengan sumber wujud, wujud pertama setelah sumbernya adalah al-„aql

al-awwal (akal pertama). Akal ini mempunyai daya pada dirinya, dan melalui dayanya terciptalah wujud-wujud lain. Al-„uqul dan al-ajsam mempunyai sifat-sifat dasar yang berbeda, bahkan bertentangan.Yang pertama merupakan substansi immaterial murni dan berhubungan dengan wujud-wujud abstrak, yang kedua adalah substansi material yang hanya bersifat pasif. Karena watak substansialnya yang bertentangan itu, kedua jenis ini tidak dapat berhubungan secara langsung.Al-nufus

berada diantara kedua jenis tersebut, baik dalam proses penciptaan maupun dalam sifat-sifat dasar. Dari satu segi, jenis ini menyerupai al-„uqul, tetapi dari segi lain menyerupai al-ajsam.61Penserupaannya dengan yang pertama dari segi bahwa ini bukan materi dan mempunyai daya, sedangkan penserupaannya dengan yang kedua kelihatannya adalah dari segi keterikatannya kepada sesuatu yang lain diluar dirinya dalam mengaktualisasi daya. Pada diri manusia, substansi yang menjadi esensi itu merupakan representasi dari al-„uqul; al-ruh atau jiwa vegetatif dan jiwa sensitif mewakili al-nufus; dan tubuhnya sebagai representasi dari al-ajsam. Karena itulah, substansi yang disebut esensi manusia dinamakan juga al-aql. Karena al-aql (esensi manusia) tidak berhubungan secara langsung dengan badan, ia memerlukan penghubung. Penghubung itu adalah al-nafs al-hayawaniyyat dan nafs al-nabatiyyat.62 61 Ibid, h. 66 62 Ibid, h. 67

Dengan menyebut al-„aqal (esensi manusia) sebagai al-nafs al-nathiqat. Maka berdasarkan tingkatan daya-dayanya, pada diri manusia terdapat tiga jiwa (al-nufus al-salasat), yaitu jiwa vegetatif, jiwa sensitif dan jiwa rasional.Yang paling rendah tingkatan daya-dayanya adalah jiwa vegatatif. Ia mempunyai tiga daya: al-ghadziyat

(daya nutrisi), al-munmiyat (daya tumbuh), dan al-muwallidat (daya reproduksi). Dengan jiwa ini, badan manusia berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak, sama dengan tumbuh-tumbuhan; tidak mempunyai perasaan dan gerakan yang bebas.63

Daya penggerak (al-muharrikat) dan daya persepsi (al-mudrikat) terdapat pada jiwa sensitif.Al-muharrikat terdiri atas daya pendorong (ba‟isat) dan daya berbuat (fa‟ilat). Hubungan antara yang pertama dan yang kedua seperti hubungan antara potensi dan aktus, keduanya adalah potensi sebelum mencapai aktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan, karena itu Al-Ghazali menyebut yang pertama iradat dan yang kedua qudrat.64Sedangkan daya persepsi (al-mudrikat) terdiri atas daya tangkap dari luar (mudrikat min zhahir) dan daya tangkap dari dalam (mudrikat min bathin). Daya tangkap dari luar terdapat pada panca indera, masing-masing panca indera menangkap informasi yang khusus. Dalam hal ini, bukan organ fisik yang menangkap informasi melainkan jiwa (sensitif) itu. Informasi yang ditangkap panca indera diteruskan kepada daya tangkap dari dalam untuk diolah, disimpan, dan sewaktu-waktu di reproduksi kembali.65

63Ibid 64 Ibid 65 Ibid, h. 68

Ada lima bagian daya tangkap dari dalam yang dilalui informasi itu, yaitu: al-hiss al-musytarak, al-khayaliyat (representasi), al-wahmiyyat (estimasi), al-dzakirat

(pengingat) dan al-mutakayyilat (imajinasi).Al-hiss al-musytarak berfungsi menerima gambar-gambar dari objek-objek yang ditangkap panca indera, dan al-khalliyyat

menyimpan gambar-gambar tersebut.66 Proses selanjutnya adalah abstraksi yang dilakukan oleh al-wahmiyyat, disini yang ditangkap tidak lagi gambar objek tetapi makna objek.67Makna yang ditangkap oleh al-wahmiyyat ini seterusnya dikirim kepada al-dzakirat untuk disimpan.68 Daya tertinggi yang terakhir dalam proses pengolahan informasi pada daya tangkap dari dalam adalah al-mutakhayillat yang juga disebut al-mufakkirat yang berfungsi menghubung-hubungkan dan memisahkan gambar-gambar yang telah ditangkap sebelumnya. Seluruh daya tangkap dari dalam ini menggunakan otak sebagai alat.69

Al-hiss al-musytarak bertempat pada pangkal syaraf indera pada otak bagian depan, al-khayaliyyat dibelakangnya (masih pada bagian depan otak), al-wahmiyyat

bertempat lebih khusus pada rongga tengah otak terutama sebelah belakang, al-mutakhayyilat pada rongga tengah otak sebelah depan, dan al-dzakirat yang disebut juga al-hafizhat bertempat pada bagian belakang otak. Karena daya-daya ini seluruhnya menggunakan organ fisik, sehingga Al-Ghazali menyebutnya daya-daya jasmani (qiwa jasmaniyyat) dan bekerja secara alami. Daya ini belum merupakan daya yang khas manusiawi, karena pada tahap ini manusia dianggap sama dengan hewan-hewan lainnya.70 66 Ibid 67Ibid 68 Ibid, h. 69 69 Ibid 70 Ibid

Meskipun daya jiwa sensitif inidikatakan Al-Ghazali bekerja secara alami, khususnya al-mutakhayyilat tidak selamanya bersifat teratur (muntazham), ia juga bersifat tidak teratur (ghayr muntazham).71Dengan demikian, sifat tidak teratur pada daya ini (disamping sifat teratur) hanya ada pada manusia. Kesimpulannya, meskipun manusia dan binatang mempunyai daya al-mutakhayyilat namun sifat kegiatan daya itu pada manusia dan binatang tidak sepenuhnya sama. Pada manusia ada hubungan dengan jiwa yang lebih tinggi, sedangkan pada binatang tidak demikian. Al-Ghazali selanjutnya membedakan berdasarkan hubungannya dengan jiwa rasional, apabila daya ini diintervensi oleh jiwa rasional dalam persoalan-persoalan yang bersifat „aqli, maka ia dinamakan al-mufakkirat.Sedangkanapabila ia bersifat teratur, ia dinamakan

al-mutakhayyilat.72

Jiwa rasional mempunyai dua daya, yaitu: al-„amilat (praktis) dan al-„alimat

(teoritis). Yang pertama berfungsi menggerakan tubuh melalui daya-daya jiwa sensitif, sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teoritis.73 Akal teoritis dan akal praktis bukanlah dua daya yang betul-betul terpisah, melainkan dua sisi dari akal yang sama. Sisi yang menghadap kebawah (badan) adalah akal praktis, dan sisi yang menghadap keatas (akal aktif) adalah akal teoritis. Dilihat dari segi perbuatan manusia, hubungan badan dengan akal memperlihatkan momen desensif. Artinya, badan bersifat pasif terhadap jiwa sensitif, jiwa sensitif bersifatpasif terhadap jiwa rasional (akal).Akallah yang mengaktifkan daya-daya jiwa sensitif untuk menggerakan badan.74 71Ibid 72 Ibid, h. 70 73 Ibid 74 Ibid, h. 71

Al-Ghazali menekankan pentingnya arti dari akal praktis ini bagi manusia, khususnya bagi kreativitas dan akhlak. Akal praktis mesti dapat menguasai seluruh daya-daya jiwa yang dibawahnya untuk mencapai akhlak yang mulia. Artinya, terwujudnya tingkah laku yang baik tergantung pada kekuatan akal praktis menguasai daya-daya jiwa tersebut.75Yang menyebabkan timbulnya pengetahuan moral adalah hubungan akal praktis dengan akal teoritis, seperti pengetahuan bahwa dusta adalah buruk dan adil adalah baik. Akal praktis, dengan demikian adalah untuk menyempurnakan badan sesuai dengan tuntutan pengetahuan manusia.76

Akal teoritis berfungsi untuk menyempurnakan substansinya, substansinya bersifat immateri dan abstrak. Hubungannya adalah dengan pengetahuan-pengetahuan yang abstrak dan universal. Dari sudut ini (teoritis), akal mempunyai empat tingkat kemampuan, yaitu: al-„aqal al-hayulani (akal materi),al-„aqal bi al -malakat (habitual intellect), al-„aqal bi al-fi‟l(akal aktual) dan al-„aql al-mustafad

(akal perolehan). Al-„aql al-hayulani adalah tingkat yang paling rendah dan masih bersifat potensi belaka.77Sedangkan tingkat akal yang lebih tinggi disebut al-„aql al -mustafad.Yang dimaksud dengannya adalah tingkat kemampuan intelek yang didalamnya selalu hadir pengetahuan-pengetahuan intelektual. Akal pada tingkat ini menyadari pengetahuan-pengetahuan itu secara aktual dan menyadari kesadarannya secara faktual. Ini hanya diperoleh oleh orang-orang yang terbatas jumlahnya dan diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh.78

75Ibid 76 Ibid, h. 72 77 Ibid 78 Ibid, h. 73

Pendapat al-Ghazali mengenai akal sangat jelas di sini bahwa akal salah satu dimensi terpenting pada diri manusia, dimana akal sebagai alat berpikir telah memberi andil besar terhadap alur kehidupan manusia, mempolakan hidup dan mengatur proses kehidupan secara esensial. Akal telah bekerja menurut ukuran yang ada, justru itu maka al-Ghazali membagi akal dalam beberapa daya. Klasifikasi tentang akal ini menurut al-Ghazali dilihat dari potensi dan kadar akal dalam beberapa macam, yaitu akal praktis dan akal teoritis. Akal praktis merupakan saluran yang menyampaikan gagasan-gagasan akal teoritis kepada daya penggerak (Almuharrikat) sekaligus merangsangnya menjadi aktual. Akal praktis tersebut berfungsi untuk menggugah dan menggerakkan anggota tubuh secara praktis untuk melakukan kepentingan-kepentingannya. Kebutuhan-kebutuhan diri manusia itu sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapainya. Kerja akal praktis hasilnya terlihat lebih efisien dalam gerak dan wujudnya.Bahkan mampu memotivasi secara langsung oleh anggota tubuh manusia dan melahirkan pengetahuan-pengetahuan praktis. Pengetahuan yang berasal dari akal praktis, biasanya hanya terbatas dengan apa yang ada di hadapan kenyataan yang ada. Seterusnya disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan jiwa manusia. Pengkajian lebih lanjut tentang hakikat dari pengetahuan-pengetahuan itu sendiri menjadi tugas bagi akal yang lain yang disebut dengan akal teoritis. Akal praktis merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, seperti perkembangan kreatifitas dan penerapan akhlak dalam diri pribadi seseorang.Kekuatan daya akal praktis harus selalu dibina agar dapat menguasai sepenuhnya terhadap daya-daya jiwa yang ada. Dengan demikian akan melahirkan

kemuliaan-kemuliaan dalam tingkah manusia, artinya terwujudnya tingkah laku yang baik tergantung kepada kekuatan akal praktis menguasai daya jiwa tersebut. Lain halnya dengan akal teoritis, al-Ghazali memberikan penjelasan tentang fungsi dan aktifitas akal teoritis.Akal teoritis merupakan daya mengetahui dalam diri manusia, maka keinginan manusia untuk mengetahui sesuatu adalah hasil kerja dari akal teoritis. Untuk itu maka akal teoritis adalah berfungsi untuk menyempurnakan substansinya yang bersifat immateri dan abstrak.

STRUKTUR DAN ESENSIAL DAYA-DAYA MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI

Akal perolehan (al-mustafad)

akal teoritis akal aktual

(al-„alimat) (bi al-fi‟il)

akal mungkin

III. Jiwa rasional (bi al-malakat)

akal material

akal praktis (al-haryulani)

(al-„amilat) imajinasi (mutakhayyilat) pengingat (dzakirat) dari estimasi dalam (wahmiyyat) representasi pencerap (khayaliyyat)

(al-mudrikat) indera bersama

(hiss musytarak)

dari Penglihatan

luar pendengaran

jiwa penciuman

sensitif perasa lidah

perasa tubuh

pendorong syawal

( ba‟isat, ...di jantung

iradat) ghadab

II penggerak

(al-muh arrikat)

pelaku

(fa‟ilat, ... dalam otot-

qudrat) otot

jiwa vegetatif reproduksi

tumbuh nutrisi I. Badan: tidak mempunyai daya sama sekali

Dokumen terkait