• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Kurikulum SD

Dalam dokumen LANDASAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN Bero (Halaman 123-127)

BAB I. KONSEP KURIKULUM

A. Kurikulum sebelum dan sesudah Kemerdekaan

1. Perkembangan Kurikulum SD

a. Periode sebelum Kemerdekaan (Penjajahan)

Awalnya bangsa Eropa baik Portugis maupun kompeni (Belanda) belum memperhatikan terhadap pendidikan pribumi.Tujuan datang mereka hanya untuk mencari rempah- rempah dan berdagang. Meskipun demekian, tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Eropa ini datang ke Indonesia mempunyai tujuan lain, misalnya menyebarkan misi agamanya, hal ini dilakukan agar mempermudah pelaksanan misi perdagangan. Lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya penyebaran agama Kristen ditanah air (oleh kompeni), sedangkan Portugis mendirikan lembaga pendidikan di Maluku dalam upaya mengembangkan agama Katolik khususnya di daerah pantai dan terbatas untuk hanya penganut agama Kristen.

Berdasarkan adanya lembaga pendidikan tersebut, maka pihak kompeni merasakan perlunya pegawai rendahan yang dapat membaca dan menulis dalam membantu pengembangan usaha pendidikan tersebut, sehingga kompeni terdorong untuk membuka sekolah-sekolah yang mana dalam peraturan sekolah tahun 1964 menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah agar anak didik nantinya sanggup dipekerjakan pada pemerintah dan membantu Gereja.

Pasa masa jajahan Inggris (1811 1816) masalah pendidikan tidak dipehatikan. Sekolah sekolah yang dibangun pada zaman Deandels (1808 1811) hampir tidak ada lagi. Zaman Van den Bosch (1830 1834) Belanda memerlukan pegawai rendahan yang dapat membaca dan menulis yang jumlahnya cukup banyak untuk keperluan tanam paksa. Hingga akhirnya, sekolah sekolah mulai dibuka kembali, tetapi masih terbatas hanya untuk anak pribumi atau priyayi golongan pribumi (Rosiana, 2014).

Tahun 1848 biaya pendidikan di tanah air agak besar jumlahnya, berdirilah sekolah sekolah bagi bangsa Belanda dan juga bagi pribumi, sekolah bagi bangsa Belanda sangat di utamakan. Tahun 1892 terdapat 2 macam sekolah rendah , yaitu :

1) Sekolah kelas dua untuk anak pribumi, dengan lama pendidikannya 3 tahun dan pelajaran yang diprogramkan diantaranya berhitung, menulis dan membaca.

2) Sekolah kelas satu untuk anak pegawai pemerintah Hindia Belanda lama pendidikannya mulanya 4 tahun, kemudian 5 tahun dan akhirnya 7 tahun. Tujuannya untuk mendidik pegawai-pegawai rendahan untuk keperluan kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor dagang, programnya ilmu bumi, sejarah, ilmu hayat atau menggambar dan ilmu mengukur tanah. Bahasa pengantarnya adalah bahasa melayu dan bahasa belanda. Awal abad ke-20 dengan munculnya relovasi sosial dan idustri di Eropa, maka muncullah paham humanistik, di Indonesia muncul politik Etisch. Memberi pengaruh pada perluasan sekolah bagi putra putri indonesia. Masa ini, di Jawa telah di bangun sekolah desa yang lamanya 3 tahun, semacam sekolah kelas dua, sekolah kelas dua pada waktu itu, (1905) sudah menjadi lima tahun pada tahun 1914 didirikan sekolah sambungan yang lamanya dua tahun setelah sekolah desa.

Undang undang Hindia Belanda membagi jenis penduduk menjadi 3 golongan: Eropa, Timur Asing dan Bumi Putra, maka di dirikan pula tiga jenis sekolah rendah bagi anak-anak berdasarkan 3 jenis penduduk tersebut yakni:

1) E.L.S (Europese Lagere School) untuk anak-anak Eropa, Tiong Hoa dan Indonesia yang menurut undang-undang haknya disamakan dengan bangsa Eropa.

2) H.C.S (Holland Chinese School) untuk golongan TiongHoa. 3) H.I.S (Holland Inlandse School) untuk rakyat golongan pribumi

atau bumi putra kalangan atas.

4) Sekolah Desa dan Sekolah sambungan, untuk pribumi dari kalangan bawahan.

Gambaran pendidikan rendah di Indonesia pada masa Hindia Belanda sebagaimana di ungkapkan di atas, berlangsung sampai dengan tahun 1942.

Masa Jepang mempunyai arti tersendiri bagi bangsa Indonesia, yakni terjadinya keruntuhan sistem pemerintahan kolonial Belanda. Masa ini, semua sekolah-sekolah rendah yang bermacam-macam tingkatannya dihilangkan dan tinggallah sekolah rendah untuk bangsa Indonesia, yaitu sekolah rakyat yang disebut Kokumin Gako (6 tahun) lamanya.

Jenis pendidikan ini kurang memperhatikan isinya, anak didik pada waktu itu harus membantu Jepang dalam peperangan, sehingga anak-anak pribumi harus mengikuti latihan militer di sekolah, pelajaran olahraga sangat penting, karenanya anak didik harus mengumpulkan batu, kerikil dan pasir untuk kepemtingan pertahanan, kemudian anak-anak sekolah juga di suruh untuk menanam pohon jarak untuk membuat minyak demi kepentingan perang, selanjutnya pelajaran berbau Belanda di hilangkan dan bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar(Idi, 1999: 197- 199).

b. Kurikulum Sekolah Dasar Pasca Kemerdekaan s/d 1964 1) Masa setelah Merdeka s/d 1952

Setelah merdeka pedoman pelaksanaan pendidikan berdasarkan UUD 1945. Atas usul dari badan pekerja KNIP, pada bulan desember 1945 dibentuklah panitia penyelidikan pendidikan oleh Menteri PP dan K.

Masa pendudukan Belanda (NICA), Indonesia dibagi menjadi negara-negara bagian (RIS), sehingga perbedaan- perbedaaan dalam pendidikan dari negara-negara itu pun terjadi, setelah kembali menjadi negara kesatuan republik indonesia yang diresmikan pada tanggal 17 agustus 1950, maka pendidikan disatukan kembali atau seragam kembali, kaadaan ini berlangsung sampai tahun 1952.

2) Sejak Tahun 1952 s/d 1964

Pada masa ini pendidikan di Indonesia mengalami penyempurnaan. Tujuan pendidikan dan pengajaran republik

Indonesia pada waktu itu ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Tahun 1952 pemerintah republik Indonesia, kementrian pendidikan pengajaran dan kebudayaan menerbitkan rencana pengajaran terurai untuk sekolah rakyat III dan IV yang bertujuan untuk guru sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar pada sekolah dasar.

Jenis-jenis pelajarannya adalah: Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi dan Sejarah, dalam satu tahun terdapat 8 bulan waktu untuk belajar dan tiap mata pelajaran di uraikan menjadi 8 bagian untuk masing-masing kelas yakni untuk bulan pertama, kedua, ketiga sampai dengan bulan delapan. Pendidikan guru dalam tiap kelas sudah memiliki pedoman mengenai hal-hal yang perlu di ajarkan berdasarkan waktu yang telah di tentukan.

Mata pelajaran yang juga diajarkan di sekolah selain mata pelajaran yang telah tercantum di dalam rencana pelajaran terurai, sesuai dengan peraturan kementrian PP dan K, yakni :

a. Penertiban aparatur dan usaha-usaha kementrian PP&K b. Menggiatkan kesenian dan olahraga.

c. Mengharuskan penabungan. d. Mewajibkan usaha-usaha koperasi. e. Mengadakan kelas masyarakat.

f. Membentuk regu kerja pada SLA dan Universitas.

Kurikulum sekolah dasar dari tahun 1952 s.d 1964 dapat di kategorikan kurikulum tradisional, yaknisepareted subject curriculum. 3) Kurikulum Sekolah Dasar Tahun 1964

Kurikulum ini merupakan perbaikan dari kurikulum sebelumnya yang berlaku sejak tahun 1952 s/d 1964. Tahun 1964 direktorat pendidikan dasar prasekolah, departemen PP dan K, meneribitkan suatu buku yang dinamakan rencana pendidikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Tujuan pendidikan pada masa ini adalah membentuk manusia Pancasila dan Manipol yang bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat adil dan makmur, materil dan spiritual.

Sistem pendidikannya dinamakan sistem Panca Wardana aspek perkembangannya, diantaranya perkembangan moral, perkembangan intelegensi, perkembangan emosional artistik, perkembangan keprigelan dan perkembangan jasmaniah.

4) Kurikulum Sekolah Dasar Sejak Orde Baru (1965) s/d 1968 Pemerintah epartemen P dan K pada tahun 1968, menerbitkan buku pedoman kurikulum sekolah dasar yang dinamakan kurikulum SD, sebagai reaksi dari pada rencana pendidikan TK, yang di dalamnya berbau politik Orde Lama. Perubahan terletak pada landasan pendidikannya yang berdasarkan Falsafah negara Pancasila (Idi, 1999: 199-201).

Dalam dokumen LANDASAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN Bero (Halaman 123-127)