IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Perkembangan Larva
a. b.
Gambar 13. Pengontrolan aerasi (a) dan pengisian air dengan filter bag (b)
B. Perkembangan Larva
Pada saat dilakukan pengamatan di lokasi Praktek Kerja Lapang, perkembangan larva dimulai dari stadia veliger, yaitu larva yang bentuk tubuhnya seperti huruf D atau yang disebut D-shape yang dicapai pada saat larva berumur satu hari dan berlangsung selama 4-6 hari. Fase D-shape memiliki ukuran antara
70-80 µm, dan larva tampak berenang-renang di permukaan air. Sesuai dengan pernyataan Sujoko (2010) bahwa larva fase veliger bersifat fotopositif sehingga tampak berenang-renang di sekitar permukaan air.
Selama pertumbuhannya, berdasarkan pengalaman di lapangan waktu PKL, larva tiram mengalami empat masa kritis. Pada fase D-shape merupakan masa kritis yang pertama, karena telur sangat sensitif, sehingga tidak semua berkembang menjadi D-shape. Selain itu pada fase D-shape, larva pertama kali mulai makan, sehingga pakan yang diberikan harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut larva. Jika tidak sesuai dengan bukaan mulut larva, dapat mengakibatkan larva drop dan terjadi kematian massal karena larva tidak mau makan. Pada waktu pengamatan terlihat larva yang sehat adalah yang bergerak aktif dan tubuhnya yang transparan berwarna kuning tua atau coklat yang berarti memiliki cadangan makanan di perutnya.
Setelah larva berumur 6-9 hari, larva berkembang mengalami fase umbo satu dan umbo dua yang memiliki ukuran berkisar antara 90-100 µm pada fase umbo satu, sedangkan ukuran fase umbo dua lebih besar yaitu berkisar antara 100-120 µm. Bentuk tubuh larva pada fase umbo sudah sedikit berubah menjadi seperti agak membulat, tidak seperti huruf D lagi. Selain itu pada fase ini terjadi masa kritis kedua disaat mengalami proses perubahan menuju fase umbo tiga yang memilki ukuran yang semakin besar dan bentuk larva yang berbeda. Pada fase ini larva juga bisa akan drop atau juga tidak dapat berkembang dengan baik pertumbuhannya karena dipengaruhi juga oleh perubahan metabolisme dalam individu larva tersebut.
Selanjutnya pada pemeliharaan masuk pada hari ke 10-13, larva mayoritas berkembang lagi mengalami fase umbo tiga, bentuk tubuh larva pada fase ini berubah banyak, saat diperiksa di mikroskop terlihat adanya tonjolan pada bagian dorsal larva dan dilihat oleh kasat mata saat larva terkumpul di plankton net, terlihat warna larva coklat tua tidak sepeti fase sebelumnya berwarna merah. Larva ini memiliki ukuran berkisar antara 120-180 µm bahkan ada yang sampai memiliki ukuran hingga 200 µm. Pada fase ini pertumbuhannya sangat pesat, karena itu terjadi masa kritis yang lumayan parah, sehingga mengakibatkan 80% larva tiram mengendap didasar bak. Larva yang mengendap ini diakibatkan pertumbuhannya yang semakin besar sehingga kemampuan berenangnya berkurang. Hal ini jika tidak segera diatasi atau dibiarkan akan terjadi kematian. Masa kritis pada hari ke-13 ini selalu terjadi pada saat pemeliharaan larva dan bisa terjadi kira-kira selama dua hari.
Pada hari ke-15 larva yang lolos melewati masa kritis mengalami perubahan menjadi fase bintik mata (eye spot) yang memiliki ukuran berkisar 210-250 µm. Winanto (2004) menyatakan bahwa posisi eye spot berada disebelah bawah primordia kaki. Selanjutnya pada hari ke-17 larva mencapai fase umbo akhir yang dsebut fase pediveliger atau fase plantigrade dengan ukuran 250-300 µm yang ditandai tumbuhnya organ bisus untuk menempelkan diri pada substrat. Sehingga larva siap dipelihara dikolektor sebelum dipelihara dilaut atau dijual. Pada fase ini terjadi masa kritis yang terakhir dan yang paling parah, karena larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat planktonis ke sifat sesil, yaitu sifat yang dimiliki oleh stadia spat yang sudah masuk umur hari ke-21 dan
hidupnya menetap sehingga mau tidaknya menempel pada kolektor. Proses perkembangan larva tiram mutiara (P. maxima) dapat dilihat pada Lampiran 4.
C. Pemberian Pakan
Berdasarkan pengalaman di lapang pada waktu Praktek Kerja Lapang, pemberian pakan dilakukan pada saat larva di pelihara memasuki fase D-shape. Pakan yang digunakan ialah pakan alami berupa fitoplankton. Pola pemberian pakan yang tepat baik dari segi jenis maupun jumlah diharapkan sesuai dengan kebutuhan larva tiram mutiara mengingat sifat tiram mutiara, yaitu filter feeder dan hidup menetap, sehingga pakan yang diberikan sebaiknya dikombinasi dari beberapa jenis fitoplankton. Jenis pakan yang diberikan pada fase D-shape yang merupakan kondisi larva pada fase awal yang masih lemah untuk mencerna makanan dan dilihat dari bentuk ukuran mulut, diberi berupa kombinasi fitoplankton dari jenis I. galbana dan C. gracilis dengan dosis empat liter yang perbandingannya 50%:50% atau sebesar dua liter untuk setiap jenisnya. Winanto (2004) menyatakan bahwa pakan utama larva tiram mutiara adalah jenis-jenis flagelata berukuran kurang dari 10 µm seperti I. galbana, C. gracilis, P. Lutheri, Nannochloropsis oculata, dan Chromulina sp. Frekuensi pemberian pakan dilakukan hanya sekali saja pada waktu pagi hari yang diberikan secara merata dari tiap sudut bak. Pemberian pakan dengan dosis 4-5 liter per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi larva.
Pada saat larva memasuki fase umbo tiga dan seterusnya sampai spat, karena pertumbuhannya yang semakin besar, sehingga kebutuhan pakan meningkat. Pakan yang diberikan pada fase ini.dtambahkan kombinasi pakan
menjadi tiga jenis fitoplankton, yaitu I. galbana, C. gracilis, dan Nannochloropsis oculata dengan dosis lima liter, yang dibagi menjadi satu liter untuk Nannochloropsis oculata dan empat liter sisanya. Selain Nannochloropsis oculata sebagai pakan yang diberikan pada fase ini ada juga jenis plankton lain yang sama memiliki ukuran yang lebih besar seperti Pavlova lutheri dan Tetraselmis yang dibutuhkan untuk mengganti pada saat salah satu persediaan pakan alami mengalami kekurangan, sehingga perbandingan pemberian pakan dapat berubah karena mungkin juga dari salah satu jenis pakan alami ini mengalami gangguan atau kualitasnya menurun.
Gambar 14. Pemberian pakan