BAB III TOPIK PENELITIAN
B. Perkembangan Lingkungan Strategis
Untuk merespon secara efektif perubahan dalam lingkungannya, organisasi harus terus mencermati lingkungan eksternal dan internalnya. Dalam bahasa Yogi Berra, mereka harus mengamati (watch). Tetapi mereka juga harus menafsirkan apa yang dilihat. Wechsler dan Backoff (1987) menyarankan bahwa setiap organisasi harus mengelola ketegangan di antara kapasitas dan tujuannya, sehubungan dengan peluang dan ancaman yang dihadapinya. Analisis SWOT memperjelas sifat ketegangan ini dengan cara menjajarkan dua dimensi pokok: baik (kekuatan dan peluang) dan buruk (kelemahan dan Ancaman) (R. W. Backoff, komunikasi pribadi, 1985).
1. Pengembangan pendidikan tidak dapat terlepas dari perkembangan
lingkungan strategis, sebab pendidikan harus tanggap terhadap kebutuhan lingkungannya. Poses pendidikan harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan strategis, khususnya dalam menangkap peluang yang ada dan mengantisipasi kendala yang mungkin timbul, sedangkan lingkungan itu sendiri merupakan materi pendidikan yang harus diajarkan kepada peserta didik. Perkembangan lingkungan strategis berubah dengan cepat yang tidak mudah dunia pendidikan dapat mengikuti, dihadapkan pada masalah perubahan kurikulum, penyediaan tenaga pendidik, sarana prasarana pendidikan dan lain-lain.
2. Lingkungan Strategis Global
a. Pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Komunikasi dan
Dewasa ini berbagai perkembangan dan kemajuan pesat akan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi dan informasi menyebabkan perubahan besar di berbagai aspek dan bidang kehidupan manusia. Kondisi ini mau tidak mau dan suka atau tidak suka mengharuskan mahasiswa/i untuk mengikuti dan berkembang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan tersebut yang berarti akan menjadi semakin kompleks dan persaingan akan semakin ketat. Menjelang berakhirnya abad 20 ditandai dengan pesatnya kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komunikasi Informasi menjadi cirri kehidupan manusia dan yang paling menyolok adalah bidang informasi. Media komunikasi yang berkembang membuat arus informasi itu dapat dengan cepat mencapai setiap tempat di dunia ini, menembus batas antar Negara.
b. Globalisasi Pendidikan
Globalisasi juga merambah dunia pendidikan baik menyangkut kurikulum maupun peluang untuk mengikuti pendidikan. Sasaran pendidikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik suatu Negara tetapi sudah diarahkan kepada kebutuhan globalisasi untuk mengantisipasi “era keterbukaan”, dimana tenaga kerja sudah dengan mudah melintasi batas-batas Negara. Peluang untuk mengikuti pendidikan tinggi di dunia ini semakin banyak pilihan. Bahkan lembaga-lembaga pendidikan domestik maupun asing sudah mulai bergerak mendekati calon peserta didik dengan memanfaatkan kemampuan promosi masing-masing, yang juga tidak
jarang terjadi pemberian gelar tanpa memperhatikan proses belajar mengajar yang semestinya.
3. Lingkungan Strategis Nasional
a. Krisis Moneter, disusul dengan krisis ekonomi dan berlanjut sampai pada krisis multidimensional yang sampai saat ini belum berakhir berdampak buruk terhadap dunia pendidikan terutama terkait dengan pendanaan dan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Upaya-upaya komersialisasi pendidikan nampaknya makin dapat
ditoleransi oleh masyarakat, karena tanpa dukungan dana yang kuat agaknya sulit mengejar mutu yang baik.
b. Masyarakat menempatkan gelar kesarjanaan hanya sebagai status sosial, tidak menghargai kesesuaian hasil kerja dengan gelar kesarjanaan. Berbeda dengan masa lalu dimana tidak jarang diketemukan orang tanpa gelar namun menunjukkan kemampuan bahwa ia cukup banyak belajar (terpelajar).
C. Analisis SWOT Dalam Kebijakan Pendidikan di Era Globalisasi
Analisis SWOT (singkatan bahasa Inggris dari “kekuatan”/strengths, “kelemahan”/weaknesses, “kesempatan”/opportunities, dan “ancamaan”/threats) adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek.
Analisis SWOT merupakan sebuah alat analisis yang cukup baik, efektif, dan efisien serta sebagai alat yang cepat dalam menemukenali kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan pengembangan awal program-program
inovasi baru di perguruan tinggi, di samping dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam organisasi atau bahkan individu. Juga sebagai alat bantu untuk memperluas dan mengembangkan visi dan misi suatu organisasi.
Analisis SWOT dapat melihat seluruh kemungkinan perubahan masa depan sebuah institusi melalui pendekatan sistematik melalui proses instropeksi dan mawas diri ke dalam, baik bersifat positif maupun negatif. Makna dan pesan yang paling mendalam dari analisis SWOT adalah apapun cara-cara serta tindakan yang diambil, proses pembuatan keputusan harus mengandung dan mempunyai prinsip berikut ini; kembangkan kekuatan, minimalkan kelemahan, tangkap kesempatan/peluang, dan hilangkan ancaman.
Penggunaannya agar lebih efektif hendaknya analisis SWOT harus bersifat fleksibel. Mengingat situasi dan kondisi yang cepat berubah seiring dengan berjalannya waktu, maka analisis harus sesering mungkin dibuat dan disesuaikan. SWOT sangat praktis dan tidak boros terhadap waktu, serta efektif karena kesederhanaannya. Dapat digunakan secara kreatif, sehingga membentuk dan membangun fondasi, dimana dapat menciptakan sejumlah rencana strategis untuk pengembangan program-program baru di Perguruan Tinggi khususnya.
Beberapa contoh lingkungan lembaga pendidikan 1. Tempat kerja yang prospektif bagi lulusan 2. Orang tua dan keluarga Mahasiswa 3. Lembaga pendidikan pesaing lainnya 4. Demografi sosial dan ekonomi penduduk
Menurut Jhonson, dkk (1989, Google. Dita Rebeneka’s Blok 2009)
“SWOT merupakan perangkat umum yang digunakan sebagai langkah awal
dalam proses pembuatan keputusan dan perencanaan strategis dalam berbagai terapan.”
Secara garis besar, teori SWOT dibagi 2 yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah kondisi yang telah kita miliki yang mana dapat dikondisikan, diatasi dengan tindakan yaitu:
Faktor Internal :
b. Strengths (Kekuatan) b. Weaknesses (Kelemahan)
Sedangkan faktor eksternal adalah kondisi yang dari luar sistem, negara yang hanya dapat diatasi dengan antisipasi, negosiasi, perundingan yaitu
Faktor eksternal :
a. Opportunities (Ancaman)
b. Threats (Peluang atau Ancaman)
1. Kekuatan (Strengths) : Kualitas dan Kuantitas Perguruan Tinggi
Dilihat dari sektor demografi, Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang sangat besar. Hal ini merupakan satu kesatuan yang patut diperhitungkan oleh Negara-negara lain. Di samping itu, jumlah perguruan tinggi yang cukup besar di Negara ini, dapat pula menjadi nilai atau posisi tawar (bargaining position) yang baik, terutama beberapa diantaranya dapat dikatakan memiliki
peringkat yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan Universitas atau Perguruan Tinggi di negara-negara kawasan Asia Tenggara.
Ditambah lagi, di beberapa Universitas tersebut telah terjalin kerja sama yang baik dengan beberapa Negara di Amerika, Inggris atau Australia, yang cukup dikenal sebagai Negara yang terbaik dan memiliki pengalaman yang panjang dalam pengelolaan perguruan tinggi. Dilihat dari kekuatan ini, seharusnya Indonesia mampu menjadi Negara sasaran perburuan pendidikan tinggi bagi Negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dengan kata lain, mereka tidak pergi jauh-jauh untuk belajar di negara-negara tersebut, cukup datang ke Indonesia saja. 2. Hambatan (Weaknesses) : Krisis Multidimensi
Krisis multidimensi yang melanda kawasan Asia Tenggara dan beberapa Negara Asia Timur dalam beberapa tahun belakangan ini membuat kondisi perekonomian Negara di kawasan tersebut belum mampu bangkit kembali terutama Negara Indonesia. Sampai detik ini, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkisar anatara bilangan 0 sampai 3 persen. Tingkat pertumbuhan yang kecil ini membuat Indonesia perlu mengkaji ulang beberapa proyek besar yang telah direncanakan sebelumnya, ini berimplikasi pada dunia pendidikan.
Usaha untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia lewat dunia pendidikan menjadi terbengkalai dan terhambat. Beberapa Negara Asean yang telah lebih dulu berhasil lepas dari krisis, akhirnya mampu meningkatkan jumlah sarjananya yang secara persentase lebih besar dibandingkan dengan Negara Indonesia.
3. Peluang (Opportunities) : Antara Motivasi dan Menangkap Peluang
Peluang Indonesia untuk dapat bangkit dan bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sebenarnya cukup besar. Hal tersebut terutama disebabkan oleh kondisi dan kecenderungan global yang disebabkan oleh majunya teknologi informatika membuat motivasi dan keinginan umum manusia untuk terus maju dan bergerak ke depan menjadi sesuatu yang besar.
Di samping itu, kemajuan dan perkembangan dunia bisnis dan bidang usaha lain yang persaingannya begitu ketat menjadi pemicu sebagian orang untuk mendapatkan peluang tersebut. Hal itu membuat orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar akademik yang lebih tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Motivasi yang cukup tinggi untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia bagi diri sendiri membuat bangsa Indonesia secara tidak langsung memiliki peluang yang cukup besar untuk dapat bersaing di kawasan Asia Tenggara ini.
Selain itu, beberapa Negara donor yang peduli pada peningkatan mutu sumber daya manusia di bidang-bidang tertentu, juga memberikan beasiswa yang cukup besar bagi orang-orang yang berminat dan memenuhi syarat yang mereka tetapkan. Peluang-peluang ini, tentu saja menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika kondisi keuangan Negara sedang tidak kondusif. Hanya saja peluang-peluang ini, sebagian diantaranya tidak pernah mendapat respons yang baik dari para tenaga akademik yang ada di Indonesia. Hal tersebut umumnya disebabkan kemampuan penguasaan bahasa asing terutama Inggris para tenaga akademik tersebut tidak memenuhi syarat. Akhirnya, peluang-peluang tersebut terbuang
percuma, tanpa ada yang memanfaatkannya. Kesalahan ini sepenuhnya ada pada pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak mempersiapkan sebelumnya para tenaga akademik ini dalam menyambut berbagai peluang tersebut. Pelatihan-pelatihan bahasa Inggris dan TPA secara intensif dan berkesinambungan merupakan salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan untuk dapat dilaksanakan.
4. Tantangan (Threats) : Antara Memerangi Kebodohan dan Stabilisasi Ekonomi
Hal mendasar yang patut diperhitungkan oleh bangsa Indonesia, khususnya pemerintah saat ini ialah menjadikan Negara besar dalam jumlah penduduk ini betul-betul besar dalam mutu sumber daya manusianya. Dengan demikian tantangan terbesar bangsa ini ialah bagaimana mengalahkan kebodohan yang sementara ini sedang melanda sebagian rakyatnya. Meningkatkan mutu SDM lewat pendidikan menjadi sesuatu yang bersifat keniscayaan. Bangsa ini mau tidak mau harus melakukan perbaikan dan pembaruan di segala sektor yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Upaya pemerintah yang akan menaikkan anggaran belanja bidang pendidikan sebesar 20 persen, haruslah menjadi kenyataan. Janganlah hal itu hanya sekedar hisapan jempol atau hanya digunakan sebagai pemanis bibir ketika sedang berbicara. Jika itu baru pada tataran wacana dalam arti belum sanggup untuk dilaksanakan dalam waktu dekat, hendaknya jangan dulu diumumkan. Tantangan lain yang perlu dicermati oleh pemerintah saat ini, terutama yang berhubungan dengan Program AFTA 2003 atau kecenderungan global umumnya, yaitu bagaimana meningkatkan atau
mengembalikan posisi perekonomian seperti tahun 80-an, tetapi dengan landasan perekonomian yang lebih kokoh. Dalam menghadapi AFTA 2003 dan WTO 2020, Azhari melihat tantangan yang perlu dicermati oleh pemerintah Indonesia ialah berusaha mempertahankan suatu tingkat pertumbuhan ekonomi yang mantap dan berkelanjutan. Azhari meramalkan pertumbuhan sekitar 9 persen dengan skenario tinggi dan 6,5 persen dengan skenario pertumbuhan rendah. Hal itu akan membuat peluang-peluang yang ada dapat direalisasikan secara baik dan optimal.
Selain itu, tentu saja pemerintah ini harus berupaya bagaimana caranya agar Indonesia dapat menjadi sentral perburuan pendidikan tinggi bagi para calon mahasiswa yang ada di Negara-negara Asia Tenggara. Dengan kondisi tersebut, mahasiswa Indonesia lainnya menjadi tertantang untuk berbuat yang lebih baik.
D. Penjaminan Mutu di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Mutu pendidikan di USU bersifat proaktif dalam arti bahwa lulusan USU mampu secara terus-menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta realitas sosial budaya yang terus berkembang secara dinamis. Mutu pendidikan di USU juga mencakup aspek pelayanan administrasi, sarana, prasarana, organisasi dan manajemen yang dapat memenuhi harapan sivitas akademika dan masyarakat (baik orang tua mahasiswa, pengguna lulusan, maupun masyarakat luas).
Sistem penjaminan mutu akademik di USU dirancang dan dilaksanakan untuk dapat menjamin mutu gelar akademik yang diberikan. Hal ini berarti bahwa sistem penjaminan mutu harus dapat menjamin bahwa lulusan akan memiliki
kompetensi yang ditetapkan dalam Spesifikasi Program Studi. Dengan demikian Universitas juga menjamin Mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar seperti yang dijanjikan di dalam spesifikasi departemen.
Organisasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) USU pada tingkat Universitas telah masuk dalam organisasi Universitas, sesuai SK Majelis Wali Amanat (MWA) USU Nomor: 26/SK/MWA/IV/2007 tanggal 25 April 2007. untuk dapat berjalannya sistem penjaminan mutu secara efektif dan terintegrasi sesuai pendekatan siklus PDCA: P (Plan), D (Do), C (Check), A (Action), yang dibentuk Unit Manajemen Mutu (UMM) SK Rektor Nomor: 190/J05/SK/PP/2007 tanggal 18 Januari 2007. Gugus Jaminan Mutu (GJM) pada tingkat Fakultas serta Gugus Kendali Mutu (GKM) pada Departemen SK Rektor Nomor: 191/J05/SK/PP/2007 tanggal 18 Januari 2007.
E. Analisis SWOT Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dalam kegiatan kerja tahunan dilaksanakan berdasarkan analisis SWOT yang mana di dalam analisis tersebut didasarkan kepada kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan tantangan (threats).
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, Fakultas Ekonomi merencanakan kegiatan kerja yang akan dihadapi adalah harus melihat ke depan sesuai kebutuhan pasar dalam menghasilkan Mahasiswa yang berkualitas, beretika, serta berakhlak sesuai yang diharapkan oleh masyarakat serta negara.
Kekuatan (Strengths)
1. Minat staf pengajar untuk mengikuti pendidikan S2 dan S3 sangat tinggi
dan hal ini dapat meningkatkan keahlian Dosen dalam penelitian.
2. Minat staf pengajar untuk mengikuti pelatihan pekerti, AA Seminar dan
workshop meningkat.
Mengadakan pelatihan yang mendukung peningkatan keahlian Dosen seperti workshop dan penulisan karya ilmiah.
3. Jumlah Dosen Fakultas Ekonomi yang berpendidikan S1=3,5%, S2=77%,
S3=19,5%
Dosen yang memiliki posisi strategi dalam usaha tercapainya kualitas pendidikan yang semakin baik amat dituntut kemampuan profesionalnya. Skill dan kemampuan profesional ini harus selalu ditingkatkan.
Kelemahan (Weaknesses)
1. Jumlah Dosen yang sangat terbatas
Masalah kuantitas dan kualitas Dosen di Fakultas Ekonomi, juga merupakan hal yang dilematis. Secara objektif jumlah Dosen saat ini memang kurang memadai, namun hal ini tidak dapat diratakan begitu saja karena ternyata jumlah yang sedikit ini salah satu indikatornya adalah masalah pemerataan Dosen. Peneliti telah menghitung jumlah ruang belajar Fakultas Ekonomi adalah sebanyak 47 ruangan. Dimana jumlah data mahasiswa tahun 2009/2010 adalah:
Tabel 3.1.
Jumlah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Tahun Ajaran 2009/2010 Program Studi/Jurusan Jumlah Mahasiswa Jumlah Mahasiswa Mahasiswa Tidak Aktif Mahasiswa Aktif S1-Reguler
Ekonomi Pembangunan 528 Orang 128 Orang 400 Orang
Akuntansi 1114 Orang 292 Orang 822 Orang
Manajemen 1042 Orang 275 Orang 764 Orang
Jumlah 2684 Orang 695 Orang 1989 Orang
Diploma III
Keuangan 518 Orang 194 Orang 324 Orang
Akuntansi 437 Orang 152 Orang 285 Orang
Kesekretariatan 286 Orang 86 Orang 200 Orang
Jumlah 1241 Orang 432 Orang 809 Orang
Jumlah Keseluruhan 3925 Orang 1127 Orang 2798 Orang Sumber: Bagian Tata Usaha FE-USU
2. Penghasilan yang rendah bagi Dosen dan Staf Administrasi
Jika ada keinginan pemerintah menaikkan gaji Dosen dan Staf Administrasi, baik berita maupun keinginan, harga-harga telah melambung tinggi mendahului kenaikan sesungguhnya yang masih saja tidak memadai. Ditambah lagi dengan efek berita kenaikan gaji yang menyodok meningkatnya kenaikan harga. Dan terkadang justru dengan kenaikan gaji, kesejahteraan Dosen dan Staf Administrasi bukan semakin membaik malah semakin memburuk.
Kadang-kadang untuk menutupi kekurangan gajinya dan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, seorang Dosen ada yang mencari pekerjaan sampingan dengan membuka bisnis di luar dan mengajar malam sebagai Dosen di suatu Perguruan Tinggi Swasta.
Dilihat dari kesejahteraan Dosen, bagaimana seorang Dosen dapat konsentrasi/fokus/serius dalam mengajar. Belum lagi masalah pelatihan-pelatihan yang seharusnya menjadi hak Dosen, pada kenyataannya di lapangan jika ada kegiatan-kegiatan yang berupaya meningkatkan skill dan profesionalisme, Dosen pula harus mengeluarkan biaya.
3. Ratio Dosen dan Mahasiswa tidak sesuai
Posisi Dosen sangat rentan. Dari segi kuantitas ratio Dosen dan Mahasiswa tidak sesuai. Untuk hal ini Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan peluang untuk menjadi Dosen baru.
4. Kurang memadainya ruang kerja Dosen
Menambah ruang kerja Dosen dengan mempersiapkan ruang untuk Dosen Muda dan Dosen yang belum memiliki ruang kerja. Ini dapat dilihat dari jumlah dosen yang ada dan jumlah ruangan yang ada pada data di bawah ini.
Tabel 3.2.
Jumlah Ruangan Dosen Pada Fakultas Ekonomi Letak Departemen Ruangan Keterangan Lantai II gedung
baru
Akuntansi 2 ruangan Ditempati oleh 3 orang
pengajar Lantai II gedung
baru
Manajemen 1 ruangan Ditempati oleh 13 orang
pengajar
Gedung lama Ekonomi
Pembangunan
10 ruangan Ditempati oleh 20 orang
pengajar yang masing-masing pada 1 ruangan ditempati 2 orang pengajar
Jumlah 13 ruangan 36 pengajar
5. Kurang memadainya media pendukung pengajaran
Tidak adanya penyediaan laptop untuk mendukung kegiatan pembelajaran, sehingga apabila melakukan presentasi, dosen membawa laptop pribadi dan sebaiknya menambah penerangan dan pendingin ruangan.
Peluang (Opportunities)
1. Adanya semangat dari kalangan masyarakat untuk turut serta mengawasi
pelaksanaan kebijakan desentralisasi kebijakan pendidikan di daerah masing-masing. Bahkan muncul banyak LSM atau lembaga non-pemerintah yang merelakan diri memonitor dan mengawasi pelaksanaan kebijakan desentralisasi.
2. Kerjasama yang erat, baik bagi Perusahaan Swasta dan Pemerintah Kota,
dan Kabupaten
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara telah menjalin kerja sama kemitraan dengan berbagai instansi baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kemitraan internal ini sendiri dapat menciptakan suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat mekanisme terstruktur. Mekanisme itu merangsang dan membentuk aliansi yang saling mendukung antara Fakultas Ekonomi dan instansi lain.
Kerja sama tersebut dalam berbagai bentuk seperti penelitian, pengabdian masyarakat, seminar dan lokakarya. Berbagai instansi yang telah menjalin kerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara adalah:
1) Pemerintah Propinsi Sumatera Utara
2) Bappeda Propinsi Sumatera Utara
3) Badan Pusat Statistik Sumatera Utara
4) Dinas Pendapatan Propinsi Sumatera Utara
5) Pemerintah Kota Medan
6) Bappeda Kota Medan
7) Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara
8) Bappeda Kabupaten Tapanuli Utara
9) PT. Bank Sumut
10)PTPN 2
11)PTPN 3
12)PTPN 4
13)BSMR (Badan Sertifikasi Manajemen Risiko)
14)PT. Pertamina (Persero)
15)Pemerintah Kota Tanjung Balai 16)Pemerintah Kota Tebing Tinggi
17)Pemerintah Kabupaten Simalungun
18)Lembaga Riset Informasi (LRI) 19)Bank Indonesia
20)Pemerintah Kabupaten Deli Serdang
21)Departemen Perdagangan Indonesia
22)Departemen Keuangan Indonesia
24)Komisi Pemberantasan Korupsi
25)Beberapa Universitas Negeri maupun Swasta di Indonesia 26)Universiti Utara Malaysia
27)Universiti Kebangsaan Malaysia
28) International Islamic University of Malaysia
29) INCEIF (International Islamic University for Education in Islamic Finance)
30)Universiti Teknologi Mara (UiTM, Shah Alam)
31)Komisi Pengawasan dan Persaingan Usaha (KPPU)
3. Minat Siswa untuk memilih kuliah di Fakultas Ekonomi sangat tinggi Peningkatan animo calon mahasiswa ditempuh dengan cara menyiapkan brosur dan menyebarkannya ke sekolah-sekolah menengah (SMA/SMK sederajat). Selain itu, Fakultas menyelenggarakan seminar-seminar dengan mengundang kepala sekolah.guru SMA/SMK sederajat di Kota Medan.
Selain itu, Fakultas juga menyiapkan sebuah situs memberikan informasi kepada masyarakat tentang perkembangan Fakultas. Pada situs tersebut diberikan informasi mengenai tata cara pendaftaran mahasiswa baru dan pengumuman kelulusan mahasiswa baru yang masuk ke Universitas Sumatera Utara.
4. Para alumni yang lulus banyak memperoleh Indeks Prestasi di atas 3.00
dengan masa studi 8 sampai dengan 9 semester untuk program S1 Reguler, sedangkan program D-III dapat menyelesaikan studi 5 sampai dengan 6
Tabel 3.3.
Jumlah Alumni Dan Lama Studi
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Tahun 2009 Program
Studi/Jurusan
Rata-rata Lama Studi Jumlah Alumni
>2-3 thn >3-4 thn >4-5 thn >5-6 thn >6-7 thn Jumlah Keseluruhan % S1-Reguler Ekonomi Pembangunan - 88 22 6 1 117 Orang 22,72 Akuntansi - 91 54 18 5 168 Orang 32,62 Manajemen - 119 88 13 10 230 Orang 44,66 Jumlah - 298 164 37 16 515 Orang 100 Diploma III Keuangan 122 28 9 1 - 160 Orang 44,94 Akuntansi 89 13 2 1 - 105 Orang 29,49 Kesekretariatan 62 25 4 - - 91 Orang 25,57 Jumlah 273 66 15 2 - 356 Orang 100
Jumlah Keseluruhan - - - 871 Orang -
Sumber: Bagian Akademik FE-USU
Tabel 3.4. Jumlah IPK Alumni
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Tahun 2009
NO PREDIKAT S1 REG D III
Jumlah (%) Jumlah (%) 1 Memuaskan 6 1,16 30 8,43 2 Sangat Memuaskan 435 84,47 309 86,80 3 Cumlaude 74 14,37 17 4,77 Jumlah 515 100 356 100
Sumber: Bagian Akademik FE-USU
Tantangan (Threats)
1) Menghasilkan lulusan yang profesional, objektif, independen, dan berkualitas untuk memenuhi permintaan dunia usaha yang tumbuh dengan cepat.
b. Menghasilkan lulusan yang tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu dan teknologi informasi.
2. Perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat pesat
Kemajuan di bidang informasi dalam ilmu dan teknologi ini memberi dampak positif maupun negatif terhadap dunia pendidikan. Meningkatnya akses pendidikan kepada sumber informasi ilmu pengetahuan merupakan dampak positif yang diharapkan.
3. Para pekerja pada era globalisasi harus profesionalisme
Era globalisasi merupakan suatu kondisi yang memperlihatkan bahwa dunia ini semakin kecil. Hal ini kemungkinan terjadi berkat kemajuan teknik informatika. Globalisasi ini menjadi sebuah proses interaktif yang mengembangkan suatu kebudayaan dunia yang sama sehingga akan memunculkan suatu kebudayaan atau peradaban universal. Dengan demikian pada era globalisasi, para pekerja harus profesional dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
4. Tidak meratanya hasil prestasi pendidikan dilihat secara nasional karena sangat dimungkinkan munculnya variasi kualitas di masing-masing lembaga pendidikan, baik di dalam suatu wilayah daerah, maupun dibandingkan dengan daerah yang lain.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab terakhir ini Penulis telah membuat suatu uraian yang berupa kesimpulan dan saran atas hasil penelitian yang dilakukan Penulis pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Adapun kesimpulan dan saran yang mencakup penulisan tugas akhir ini sebagai berikut:
A. Kesimpulan
1) Analisis SWOT sangat berperan dalam upaya pengembangan pendidikan
pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
2) Dengan melakukan kedua analisis yaitu analisis internal dan analisis
eksternal berarti Fakultas Ekonomi USU telah melakukan analisis SWOT.
3) Membantu kelancaran perkembangan Fakultas sebagai suatu keseluruhan.