BAB III METODE PENELITIAN
A. Perkembangan musik keroncong …
b. Perkembangan musik keroncong dari segi aransemen.
Adapun pokok-pokok pertanyaan yang dinyatakan dalam penelitian ini sesuai dengan aspek tersebut adalah:
a. Seperti apakah perkembangan musik keroncong yang ada di desa Brojonalan Boroudur?
b. Seperti apakah perkembangan musik keroncong dilihat dari segi aransemen musik?
Dalam penelitian ini wawancara dimulai pada bulan Maret sampai April, disaat melakukan wawancara dilakukan pengumpulan dokumentasi-dokumntasi tertulis berupa buku-buku sebagai sumber sekunder yang membantu proses intrepretasi.
40
Pada tanggal 7 Maret diadakan wawancara dengan Bapak Adi Panuwun, beliau merupakan seniman dan pemimpin orkes keroncong Puri Rama yang masih aktif hingga sekarang. Peneliti sudah menyiapkan instrumen wawancara berupa daftar pertanyaan untuk wawancara dan hasil wawancara tersebut mengenai perkembangan musik keroncong di desa BrojonalanBorobudur dan perkembangan dari segi aransemen.
Pada tanggal 14 Maret diadakan wawancara dengan Bapak Rudi Supranansis, beliau merupakan seniman dan pemerhati keroncong. Setelah wawancara didapatkan hasil yaitu funsi keberadaan kesenian musik keroncong bagi masyarakat di desa Brojonalan Borobudur.
Pada tanggal 25 Maret diadakan wawancara dengan Bapak Trisno Wibowo. Dari wawancara tersebut didapatkan usaha yang dapat dilakukan untuk mengembangkan musiik keroncong di desa Brojonalan Borobudur.
Pada tanggal yang sama yaitu 25 Maret dialnjutkan wawancara dengan Bapak Rochyan, beliau merupakan seniman dan pecinta musik keroncong. Hasil yang didapat dari wawancara tersebut adalah uasaha yang dapat dilakukan untuk mempertahankan musik keroncong di desa Brojonalan Borobudur supaya lenih dikenal oleh masyarakat khususnya generasi muda.
Pada tanggal, 26 Maret diadakan wawancara dengan Bapak fajar, beliau merupakan ketua dari komunitas Kogma atau Komunitas Keroncong Magelang. Hasil dari wawancara tersebut adalah usaha yang dilakukan pemerintah dan komunitas keroncong untuk mengembangkan musik keroncong di Kabupaten Magelang.
41
Pada tanggal yang sama, 26 Maret diadakan wawancara dengan Bapak anang, beliau merupakan arramger dan pencipta lagu-lagu keroncog dari grup keroncong Puri Rama. Hasil wawancara tersebut ialah aranncongsir-aransir yang dilakukan dalam usaha mengembangkan dan meberikan inovasi baru pada musik keroncong.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah penyelidikan yang ditunjukan pada penguraian dan penjelasan penyimpanan apa yang telah lalu melaui dokumentasi (Winarno, 1982: 93). Dokumentasi adalah simpanan kumpulan bukti-bukti keterangan di bidang ilmu pengetahuan, seperti gambar, kutipan, guntingan koran, naskah, surat-surat dan referensi lainya. Dengan demikian metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen yang berupa surat-surat naskah, dan bahan referensi lainya sebagai bukti kebenaran data.
Untuk mengumpulkan data pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa tahapan yaitu pengumpulan data melaui observasi, wawancara atau interview, yang mempunyai peran yang sangat penting sebagai bahan dalam penyusunan data penelitian. Namun data tersebut akan lebih kuat lagi dan sempurna serta valid apabila disertai foto, gambar, dan buku-buku kajian pustaka dalam mendukung penelitian ini. Oleh karena itu, data pelengkap dengan teknik dokumentasi ini juga diperlukan dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini metode dokumentasi dilakukan dengan memngumpulkan berbagai data berntuk tulisan dari berbagai buku sejarah tentang perkembangan musik keroncong di indonesia dan foto dan vidio mengenai musik
42
keroncong yang berada di desa Brojonalan Borobudur. Dokumentasi telah dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:
a. Pada saat grup musik keroncong Puri Rama tampil
b. Pada saat berlangsungnya wawancara yang dilakukakan di kecamatan Borobudur
c. Pada saat acara Gemilang Keroncong Menggema berlangsung
H. Kritik Sumber
Setelah sumber sejarah dalam berbagai kategorinya terkumpul, tahap berikutnya adalah verifikasi atau kritik untuk memperoleh keabsahan sumber (Abdurahman, 2007: 68). Sumber primer yang dapat dipercaya yaitu sumber lisan yang berasl dari hasil wawancara dengan informan-informan yang manyaksikan peristiwa perkembangan musik keroncong di desa Brojonalan Borobudur. Dalam penelitian ini kritik sumber primer (sumber lisan) secara internal dilakukan pada hasil wawancara terhadap para informan, mencari kesamaan informasi yang diperoleh antara informan yang satu dengan yang lainnya. Hasil wawancara tersebut kemudian dapat dinyatakan valid dan kredibel untuk dipakai dalam proses historigrafi (penulisan sejarah). Dalam penelitian ini kritik sumber dilakukan pada sumber lisan terhadap hal-hal yang dicari pada latar belakang dikarenakan peninggalan-peninggalan fisik yang dapat memgunggkap sejarah musik keroncong dan mengungkap perkembangan musik keroncong yang berada di desa Brojonalan Borobudur.
43
Kritik internal sumber sekunder dilakukan pada data dokumentasi berupa buku-buku yang berfungi sebagai tinjauan pustaka. Kritik sumber tersebut dilakukan dengan memeriksa keakuratan dan kesalahan dalam pernyataan terdapat dalam sumber. Peneliti mencocokan kesesuaian antar sumber sehingga dapat terungkap kebenaran dalam sumber tersebut.
Setelah melalui langkah-langkah pengumpulan sumber atau sering disebut heuristik yang telah di paparkan dalam penelitian maka langkah selanjutnya dalam metode penelitian sejarah ini adalah dengan melakukan kritik pada sumber yang telah didapatkan. Dalam penelitian ini peninggalan fisik yang dapat mengungkap kepastian lahirnya musik keroncong tidak dapat ditemukan, oleh karena itu kritik sumber dilakukan pada sumber lisan kepada pada informan terhadap hal-hal yang dipertanyakan pada latar belakang masalah penelitian ini.
I. Interpretasi Sumber
Interpretasi sejarah sering disebut juga dengan analisis sejarah. dalam hal ini, ada dua metode yang digunakan, yaitu analisis dan sintesis. Analisis berarti menguraikan, sedangkan sintesis berarti menyatukan. Analisis sejarah itu sendiri bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu dalam suatu intepretasi yang menyeluruh (Berkhofer, dikutip dalam Abdurahman 2007: 73). Dalam kegiatan interpretasi penulis berusaha menganalisis sumber-sumber yang ada kemudian menyusun sumber-sumber-sumber-sumber tersebut dalam bentuk tulisan skripsi. Tahap interpretasi dibagi dalam dua langkah yaitu analisis dan
44
sintetis. Analisis merupakan kegiatan untuk menguraikan sedangkan sisntetis berarti menyampaikan.
Asal mula musik keroncong tidak terlepas dari cerita sumber yang menjelaskan tentang sejarah awal mula masuknya musik keroncong. Contohnya seperti musik yang awalnya di bawa oleh tentara Portugis pada tahun 1500 yang kemudian tmbuh dan berkembang di masyarakat pribumi. Sejarah perkembangan musik keroncongpada era reformasi, permainan alat musiknya musik keroncong masih dimainkan dengan cara permainannya. Awalnya musik keroncong haya dimainkan oleh para tawanan Portugis di sela- sela waktu istirahat setelah mereka bekerja dan bertan., Sedangkan setelah reformasi musik keroncong berfungsi sebgai hiburan dan pengisi di berbagai acara seperti sykuran, perkawinan dan acara-acara penting yang lain. Pementasanya pun hanya dari desa ke desa. Namun pada saat itu musik keroncong masih sangat populer di kalangan masyarakat dan menjadi hiburan yang sangat ditunggu-tunggu.
Pada era 80-an musik keroncong semakin berkembang dan tumbuh dengan pesat. Pemerintah pada saat itu juga ikut serta dalam usaha mengembangkan musik keroncong salah satunya dengan mengadakan berbagai lomba dan membuat suatu aturan untuk mengadakan kelompok musik keroncong di setiap Kelurahan. Usaha pemerintah tersebut menjadikan generasi muda pada tahun 80-an tertarik dan mencoba untuk memainkan musik keroncong. Musik keroncong yang pada mulanya dimainkan dengan pola irama yang sederhana kemudian diaransir dengan pola irama yang berbeda tanpa meninggalakan ciri khas atau pakemnya musik keroncong itu sendiri. Dengan mengaransir lagu-lagu
45
keroncong yang dulunya terkesan lemah lembut setelah diaransir terkesan lebih berwana dan lebih energik.
Banyak perkembangan yang terjadi pada musik keroncong setelah era reformasi yaitu dari segi fungsi musik keroncong tidak hanya hiburan pada saat syukuran antar desa saja namun menjadi hiburanuntuk mengisi di berbagai acara, misalnya mengisi acara konser musik keroncong di sebuah televisi yang bisa ditonton oleh seluruh penonton di Indonesia, dan menghibur tamu undangan di acara pernikahan. Di Kabupaten Magelang yang merupakan salah satu wilayah yang terdapat banyak musisi keroncong dan menjadi salah satu alasan mengapa musik keroncong masih berkembang hingga saat ini. Pengaruh para seniman keroncong yang memberikan inovasi-inovasi baru pada permainan musik keroncong menjadikan daya tarik para generasi muda untuk mempelajari musik jeroncong lebih dalam lagi. Salah satu seniman keroncong yang sangat berpengaruh pada perkembangan musik keroncong di Kabupaten Magelang yaitu Bapak Rochani Adisutrisno, beliau telah menciptakan kurang lebih 200 lagu langgam keroncong.
Wilayah Borobudur merupakan wilayah dimana sentral wisata Kabupaten Magelang. Di sana terdapat beberapa hotel dan tempat-tempat penggung terbuka yang disediakan untuk siapa saja yang akan menampilkn kretifitasnya salah satunya hotel Pondok Tingal yang berada di desa Brojonalan. Disana diadakan berbaga acara di setiap malam seperti pertunjukan tari-tarian tradisional, pertunjukan wayang kulit dan salah satunya pertinjukan musik keroncong. Setiap hari Senin dan Rabu malam selalu kumpul komunitas pecita
46
musik keroncong yang dinamakan Gemilang keroncong Menggema dan juga diadakan pertunjukan musik keroncong, tidak hanya itu saja pada acara tersebut juga diadakan diskusi tentang musik keroncong. Anggota dari acara tersebut tidak hanya para pemain dan seniman keroncong saja namun penikmat dan pecinta keroncong, bahkan oarang yang tidak bisa main alat musik pun boleh ikut serta dalam acara tersebut. Acara tersebut diselenggarakan dengan tujuan menjaga kelsetarian musik keroncong dana mengembangkan musik keroncong, karena pada saat ini musik keroncong pada saat ini dirasa mulai berkurang popularitasnya dan kurang perkembangannya mulai menurun seiring dengan munculnya musik-musik dengan aliran baru yang lebih modern.
J. Hitoriografi
Menurut Abdurahman (2007:76) historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang perkembangan musik keroncong ini menggunakan analisis data deskriptif kualitatif. Data yang telah terkumpul diverifikasi selama penelitian berlangsung , sehingga didapat kesimpulan yang menjamin kredibilitas dan obyektifitas. Artinya data-data yang terkumpul selama penelitian masih perlu dicocokan antara data-data yang diperoleh peneliti saat observasi, wawancara, maupun dokumnetasi. Hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian dengan obyek penelitian ada relevansinya atau hubungan kebenaran kesamaanya, dengan demikian akan diperoleh catatan yang sistematis dan bermakna. Interpretasi sumber adalah data-data yang terkumpul dianalisis dengan
47
membandingkan data atau sumber sampai pada satu kesimpulan yang dapat dituliskan dengan kalimat sebab akibat.
Terkait dengan penelitian ini, maka uraian tentang cara penulisan atau pelaporan (historiografi) dilaporkan sebagai berikut:
a. Abstrak
b. Bab I Pendahuluan terdiri atas : 1) Latar Belakang
2) Identifikasi Masalah 3) Fokus Penelitian 4) Tujuan Penelitian 5) Manfaat Penelitian
c. Bab II Kajian Pustaka terdiri atas : 1) Musik Keroncong
2) Perkembangan Musik Keroncong 3) Permainan Musik Keroncong
d. Bab III Metode Penelitian terdiri atas : 1) Pendekatan Penelitian
2) Tempat dan Waktu Penelitian 3) Informan dan Objek Penelitian 4) Tahapan Penelitian
5) Instrument Penelitian
6) Teknik Pengumpulan Sumber 7) Kritik Sumber
48 8) Interpretasi Sumber
9) Historiografi
e. Bab IV Perkembangan Musik Keroncong di Desa Brojonalan Borobudur Magelang terdiri atas:
1) Perkembangan Musik Keroncong
2) Perkembangan Musik Keroncong Periode 2005 3) Perkembangan Musik Keroncong Periode 2015
4) Perkembangan Aransemen Musik Keroncong Periode 2005 5) Perkembangan Aransemen Musik Keroncong Periode 2015 f. Bab V Sesimpulan dan Saran terdiri atas :
1) Simpulan 2) Saran
49 BAB IV
PERKEMBANGAN MUSIK KERONCONG DI DESA BROJONALAN BOROBUDUR MAGELANG
A.Perkembangan Musik Keroncong
Musik keroncong yang ada pada saat ini merupakan jenis musik yang sudah mengalami banyak perkembangan. Pada mulaya musik keroncong dibawa oleh para pelaut Portugis yang datang ke Indonesia. Musik keroncong pada pada saat itu tumbuh dan berkembang dengan baik terutama di daerah Indonesia bagian timur, seperti pulau Maluku yang kemudian tumbuh dan berkembang sampai di pulau Jawa.
Menurut hasil wawancara dengan Bapak Wibowo, perkembangan musik keroncong di Jawa Tengah khususnya di Borobudur juga mengalami perkembangan yang sangat baik pada tahun 80-an, dimana pada saat itu diadakan wajib keroncong di setiap kelurahan. Hal tersebut disampaikan Bapak. Wibowo pada wawancara tanggal 25 Maret 2015, menyatakan ;
“Dulu pas tahun 80-an musik keroncong berkembang dengan baik, soalnya pemerintah pada saat itu mewajibkan untuk setiap kelurahan yang ada di kabupaten Magelang mempunyai grup-grup keroncong jadi kalau ada acara dikampung koyo tujuh belasan grup-grup itu ikut serta mengisi acara, ora koyo saiki mbak, jarang sekali saya melihat grup keroncong tampil di acara tujuh belasan di desa- desa pol mentok ya paling ogan tunggal to”.
Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa di tahun 80-an musik keroncong mengalami perkembangan yang sangat baik, dilihat dari munculnya beberapa grup-grup keroncong baru di setiap kelurahan.
50
Menurut hasil wawancara dengan Bapak Rochyan, musik keroncong pada tahun 80-an begitu populer di kalangan masyarakat Borobudur. Wujud kepopuleran musik keroncong pada saat itu yaitu musik keroncong menjadi salah satu hiburan yang selalu ditampilkan di setiap acara, seperti hajatan, pernikahan dan syukuran. Hal tersebut disampaikan Bapak Rochyan pada wawancara 25 Maret 2015, menyatakan:
“kalau saya lihat, jaman dulu itu musik keroncong sangat digemari bahkan anak-anak pun hafal dengan lagu keroncong nah apalagi pertunjukanya sangat ditunggu-tunggu oleh warga, bahkan setiap ada acara-acara penting yo koyo nikahan, supitan, syukuran lairan, tujuh belasan mesti menampilke keroncong”.
Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa di tahun 80- an musik keroncong masih sangat digemari oleh masyarakat luas, tak hanya dikalangan generasi tua saja musik keroncong juga digemari oleh anak-anak hal ini disebabkan karena pada tahun 80-an musik keroncong sering tampil di berbagai acara yang diadakan oleh masyarakat sebagai musik hiburan.
Menurut hasil wawancara dengan Bapak Adhi, perkembangan musik keroncong di Borobudur juga sangat dipengaruhi oleh para generasi-genasi muda pada tahun 80-an, karena pada saat itu minat dan keingin tahuan generasi muda terhadap musik keroncong masih sangat menggelora. Hal tersebut disampaikan Bapak Adhi pada wawancara 7 Maret 2015, menyatakan :
“Perkembangan keroncong di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh anak-anak muda di tahun 80-an, karena musik keroncong dianggap musik yang sangat populer pada masa itu, rasa keingin tahuan dan ketertarikan anak muda terhadap musik keroncong tersebut yang
menginspirasi para generasi muda utuk menginovasi dan
51
Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan musik kerocong pada tahun 80- an juga dipengaruhi oleh peran serta para generasi muda di era tersebut, salah satu usaha yang dilakukan untuk mengembangkan musik keroncoong yaitu dengan menginovasi dan mengembangkan musik keroncong agar lebih menarik.
B.Perkembangan Musik Keroncong Periode 2005
Setelah memasuki era modernisasi musik keroncong lambat laun mulai berkurang popularitasnya salah satu faktor yang mempengaruhinya ialah munccuknya musik-musik jenis baru yang lebih modern. Menurut hasil wawancara dengan Bapak Adhi, setelah memasuki era moderenisasi musik keroncong dirasa kurang berkembang dengan baik dibandingkan pada saat tahun 80-an dimana musik keroncong tumbuh dan berkembang dengan pesat dan bahkan banyak melahirkan para seniman keroncong muda seperti Koko Tole dan Budiman B.J. Kurangnya minat generasi muda pada saat ini terhadap musik keroncong salah satunya dipengaruhi oleh munculnya musik-musik jenis baru yang kemudian memunculkan anggapan bahwa musik keroncong adalah musiknya orang tua atau musik kuno. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Adhi pada 7 Maret 2015 menyatakan :
“Pada jaman sekarang anak-anak muda hanya tertarik pada musik-musik modern saja dan kurang berminat untuk mengenal dan mencoba memainkan musik keroncong, karena anggapan anak muda terhadap musik keroncong adalah musik yang kuno musiknya orang-orang tua, yang membuat ngantuk kalo didengarkan. Kalo pas jaman saya dulu musik keroncong itu sangat populer di kalangan anak muda bahkan banyak seniman muda keroncong seperti Koko Tole dan Budiman B.J.
52
Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa musik keronconng semakin lama semakin ditinggalkan dikarenakan arus modernisasi.
Melihat kondisi tersebut munculah ide dan gagasan para seniman-seniman keroncong yang ada di Borobudur mempunyai untuk menggemakan dan memperkenalkan kembali musik keroncong di masyarakat khususnya dikalangan generasi muda. Salah satu usaha yang dilakukan yaitu dengan mengadakan suatu acara komunitas grup keroncong yang diberi nama Gemilang keroncong Menggema. Puri Rama pertama kali dibentuk pada 28 November 2005 dan salah satu grup keroncong pencetus dan penngerak dari terbentuknya komunitas ialah grup keroncong Puri Rama yang bersal dari desa Brojonalan. Komunitas tersebut dibentuk karena kecintaanya terhadap musik keroncong dan rasa keprihatinan para seniman dan pemusik keroncong melihat kondisi pada saat itu dimana musik keroncong mulai dilupakan oleh generasi muda, kemudian munculah ide-ide untuk menginovasi musik keroncong sedemikian rupa agar lebih menarik, hal tersebut merupakan salah satu usaha yang dilakukan untuk mengenalkan musik keroncong kepada generasi muda dan usaha untuk menjaga kelestarian musik keroncong supaya tidak terlupakan dan tersaingi oleh musik-musik dengan modern.
Isi dari acara Gemilang keroncong Menggema yaitu diskusi tentang keroncong, atau saling tukar ide dan gagasan yang berhubungan dengan musik keroncong. Berikut ini adalah dokumentasi pada saat acara Gemilang Keroncong Menggema berlangsung, para anggota komunitas keroncong sedang mengadakan diskusi membahas tentanng musik keronocong
53
Gambar 20. Diskusi acara gemilang keroncong menggema (Dokumentasi: Ashila 2015)
Bagi orang yang awam tentang musik keroncong dan igin mempelajari musik keroncong di acara tersebut juga akan diberi arahan pengetahuan oleh para seniman keroncong, karena anggota dari acara tersebut tidak hanya para seniman keroncong saja namun bagi siapa saja yang ingin belajar musik keroncong bahkan untuk mereka yang tidak bisa main alat musik sama sekali. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Adhi pada 7 Maret 2015:
“Di acara Gemilang keroncong menggema anggotanya tidak harus yang bisa main keroncong atau seniman keroncong, tapi orang yang tidak bisa main musik ba bar blas juga boleh ikut dalam acara tersebut, yang penting mereka suka sama musik keroncong,dan umur tidak dibatasi dari anak muda sampai orang tua juga boleh ikut”.
Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa peserta dari gemilang keroncong menggema tidak hanya boleh diikuti oleh para seniman keroncong atau orang- orang yang mahir dalam bermain alat musik keroncong, namun acara tersebut semua orang yang tertarik dan ingin belajar keroncong meskipun tidak bisa memainkan alat musik sekalipun boleh ikut, dan tidak dibatasi oleh umur
54
karena dari anak muda sampai orang tua juga boleh ikut. hal tersebut juga disampaikan oleh Bapak. Rudi pada 14 maret 2015:
“Pada acara gemilang keroncong menggema siapapun boleh tampil untuk mengisi acara arep pemuala opo rung lancar main e ya rapopo. Hal ini dilakukan untuk menginterpretasi para seniman keroncong yang lain untuk melihat bagaimana karakter permainan keroncong pada setiap grup”.
Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pada acara komunitas gemilang keroncong menggema tidak hanya dilakukan diskusi saja namun juga diselingi dengan penampilan grup-grup keroncong yang ikut dalam komunitas tersebut, meskipun para pemain masih pemula atau pun permainan belum lancar tidak dimasalahkan, hal tersebut dilakukan untuk mengintepretasi para semiman keroncong supaya tau kelebihan dan kekurangan tiap grup-grup keroncong, dengan begitu diharapkan para angggota komunitas bisa saling belajar dan mngajarkan.
Dengan diadakannya acara Komunitas Gemilang keroncong menggema kemudian diadakanlah berbagai pertunjukan musik keroncong, lomba dan festival musik keroncong di lingkungan kecamatan Borobudur, meskipun diadakan di wilayah Borobudur namun para peserta lomba dan festival tak hanya dari ruang lingkup Borobudur saja. Festival dan lombaa ini juga diikuti dari berbagai wilayah kota Magelang, contohnya seperti grup musik keroncong Putra kasih yang berasal dari wilayah Muntilan. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Adi pada tanggal 7 Maret 2015:
“Dari acara komunitas itu terbentuklah pemikiran untuk mengadakan acara festival dan lomba yan didakan untuk mengenalkan komunitas gemilang keroncong menggema dan menambah anggta komunitas agar
55
tidak hanya dari wilayah Borobudur saja namun juga ruang lingkup yang lebih luas lagi, sehingga musik keroncong bisa lebih dikenal oeh masyrakat luas”
Dari wancara tersebut disimpulkan bahwa dari acara komunitas Gemilang Keroncong Menggema munculah ide untuk mengadakan suatu acara festival atau lomba yang bertujuan untuk mengenalkan komunitas Gemilang Keroncong Menggema ke masyarakat se-Kabupaten Magelang khususnya kepada para seniman dan pecinta musik keroncong, dan dari acara tersebut diharapkan anggota dari komunitas Gemilang Keroncong Menggema menjadi bertambah dengan ruang lingkup anggota komunitas yang lebih luas dari berbagai daerah yang berada di wilayah Kabupaten Magelang.
Memasuki tahun ketiga dari dibentuknya acara komunitas Gemilang Keroncong Menggema intensitas pengdaan lomba dan festival- festival musik keroncong mulai berkurang, hal terebut dikarenakan para anggota komunitas yang mempunyai tanggungan ataupun kesibukan- kesibukan bari seperti pekerjaan dan