• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan

Dalam dokumen Perkembangan dan Kelangsungan Hidup Larv (Halaman 55-110)

D. Parameter yang Diamati

4. Perkembangan

Pengamatan perkembangan stadia larva pada setiap perlakuan digunakan mikroskop yang dilengkapi dengan kamera digital dan bisa diakses dalam bentuk gambar (foto larva). Perkembangan stadia larva didokumetasi dengan kamera. Kemudian mencatat ukuran AP x DV dan tingkat perkembangan stadia.

5. Panjang dan Tinggi Cangkang

Pengukuran larva meliputi pengukuran panjang dan tinggi cangkang berdasarkan metode yang digunakan oleh Winanto (2009) dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Pengukuran Panjang dan Tinggi Larva Kerang Mutiara (P. maxima) (Keterangan: AP. panjang cangkang bagian anterior-posterior dan DV. tinggi cangkang bagian dorso-ventral)

6. Kualitas Air

Pengamatan kualitas air yang meliputi salinitas, pH dan suhu dilakukan pada setiap unit satuan media organisme uji dengan menggunakan alat termometer batang, hand refraktometer dan pH meter digital. Pengamatan kualitas air pada

28

bak pendederan larva hingga mencapai spat (juvenil) yang meliputi salinitas, pH dan oksigen terlarut dilakukan saat tidak ganti air.

Untuk mendapatkan nilai suhu rendah sesuai dengan nilai perlakuan, maka wadah percobaan dimasukan es dengan dilengkapi oleh pipa paralon yang dimodifikasi agar tidak terkontaminasi langsung dengan air media uji serta dipasang Heater untuk mengatur suhu, sehingga suhunya secara otomatis sesuai dengan kisaran nilai perlakuan. Sistem kerja alat pemanas otomatis (heater) yaitu dengan memutar tombol secara otomatis, sehingga kualitas suhu air media pengamatan tetap berada pada kisaran suhu perlakuan yang telah ditetapkan. Tabel 3. Kualitas Air dan Peralatan yang Digunakan dalam Pengukuran

No. Kualitas Air Satuan Alat

1. 2. 3. Salinitas pH Suhu ppt - 0C Hand refraktometer pH meter digital Termometer E. Analisis Data

Data hasil penelitian di laboraorium yang merupakan metoda eksperimen dengan lima perlakuan suhu yang berbeda diulang 3 kali (sebagai ulangan perlakuan) yaitu digunakan rancangan acak lengkap (Hanafiah, 2014). Selanjutnya bila perlakuan suhu memberikan respons yang berpengaruh nyata, maka dilanjutkan uji Duncan. Data pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima) dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA). Data perkembangan larva dan kualitas air dianalisis secara deskriptif. Analisis data penelitian dibantu dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics Version 23.

29

Model matematika dari rancangan percobaan dan Uji Duncan adalah terlihat sebagai berikut:

Yij = µ + ƒi+ ϵij ... (6) Keterangan :

Yij = variabel yang akan dianalisis, dimisalkan berdistribusi normal

µ = rata-rata umum atau rata-rata sebenarnya

ƒi = efek perlakuan ke- i

ij = kekeliruan, berupa efek acak yang berasal dari unit

eksperimen ke j karena dikenai perlakuan ke i

� ������ ∶ = �. � ... (7)

Keterangan :

Rp = wilayah nyata terkecil Duncan

qα’ = sebaran wilayah di-student-kan untuk uji Duncan pada

30

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup larva kerang mutiara (Pinctada maxima) merupakan persentase dari jumlah spat (akhir pengamatan) umur 35 hari setelah pemijahan dibanding dengan jumlah larva awal pengamatan. Hasil penelitian tingkat kelangsungan hidup selama penelitian disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Kerang Mutiara (P. maxima) pada Kondisi Suhu yang Berbeda (Mean±SD) (Keterangan: notasi yang sama menunjukan pengaruh yang tidak berbeda nyata)

Pada Gambar 7 terlihat bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi didapatkan pada perlakuan B yaitu 8,00%±0,16 dan diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan Kontrol yaitu 7,53%±0,20, perlakuan C yaitu 5,25%±1,81, perlakuan A yaitu 3,99%±0,57 dan terendah pada perlakuan D yaitu 3,98%±0,53. Hasil analisis ragam (Lampiran 4) menunjukan bahwa perlakuan suhu memberikan

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 Tin g k a t K ela n g su n g a n H id u p (% ) Perlakuan Kontrol A B C D b b a a a

32

pengaruh yang sangat nyata (Sig.≤0,01) terhadap kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima).

2. Pertumbuhan

Pertumbuhan larva kerang mutiara (P. maxima) merupakan perubahan ukuran cangkang dari waktu ke waktu. Pertumbuhan larva kerang mutiara (P. maxima) pada penelitian ini meliputi pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (pertumbuhan harian).

2.1.Pertumbuhan Mutlak

Pertumbuhan mutlak dihitung berdasarkan data ukuran anterior-posterior (AP) larva awal pengamatan (fase D-veliger) sampai menempel pada kolektor (spat) umur 35 hari setelah pemijahan. Hasil penelitian pertumbuhan mutlak selama penelitian disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8. Pertumbuhan Mutlak Kerang Mutiara (P. maxima) pada Kondisi Suhu yang Berbeda (Mean±SD) (Keterangan: notasi yang sama menunjukan pengaruh yang tidak berbeda nyata)

0.00 200.00 400.00 600.00 800.00 1000.00 1200.00 1400.00 1600.00 Per tu m b u h a n M u tla k ( µ m ) Perlakuan Kontrol A B C D c b bc a a

33

Pada Gambar 8 terlihat bahwa pertumbuhan mutlak tertinggi didapatkan pada perlakuan B yaitu 1458,32µm±32,16 dan diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan C yaitu 1379,71µm±15,47, perlakuan Kontrol yaitu 1258,21µm±67,45, perlakuan D yaitu 1072,40µm±51,13 dan terendah pada perlakuan A yaitu 1031,31µm±158,49. Hasil analisis ragam (Lampiran 5) menunjukan bahwa perlakuan suhu memberikan pengaruh yang sangat nyata (Sig.≤0,01) terhadap pertumbuhan mutlak larva kerang mutiara (P. maxima) hingga mencapai spat.

2.2.Laju Pertumbuhan Spesifik

2.2.1.Laju Pertumbuhan Spesifik Dorsal-Ventral

Laju pertumbuhan spesifik larva dihitung berdasarkan data ukuran dorsal-ventral larva awal pengamatan hingga mencapai 20 hari setelah pemijahan. Hasil penelitian laju pertumbuhan spesifik dorsal-ventral selama penelitian disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Laju Pertumbuhan Spesifik DV Larva Kerang Mutiara (P. maxima) pada Kondisi Suhu yang Berbeda (Mean±SD) (Keterangan: notasi yang sama menunjukan pengaruh yang tidak berbeda nyata)

4.40 4.60 4.80 5.00 5.20 5.40 5.60 LPS DV (% ) Perlakuan Kontrol A B C D c b b a b

34

Pada Gambar 9 terlihat bahwa laju pertumbuhan spesifik dorsal-ventral tertinggi didapatkan pada perlakuan B yaitu 5,46%±0,03 dan diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan C yaitu 5,27%±0,09, perlakuan Kontrol yaitu 5,25%±0,08, perlakuan A yaitu 5,12%±0,08 dan terendah pada perlakuan D yaitu 4,91%±0,12. Hasil analisis ragam (Lampiran 6) menunjukan bahwa perlakuan suhu memberikan pengaruh yang sangat nyata (Sig.≤0,01) terhadap laju pertumbuhan spesifik dorsal-ventral larva kerang mutiara (P. maxima).

2.2.2.Laju Pertumbuhan Spesifik Anterior-Posterior

Laju pertumbuhan spesifik larva dihitung berdasarkan data ukuran anterior-posterior larva awal pengamatan hingga mencapai 20 hari setelah pemijahan. Hasil penelitian laju pertumbuhan spesifik anterior-posterior selama penelitian disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10. Laju Pertumbuhan Spesifik AP Larva Kerang Mutiara (P. maxima) pada Kondisi Suhu yang Berbeda (Mean±SD) (Keterangan: notasi yang sama menunjukan pengaruh yang tidak berbeda nyata)

4.60 4.80 5.00 5.20 5.40 5.60 5.80 6.00 LPS AP (% ) Perlakuan Kontrol A B C D b a b a a

35

Pada Gambar 9 terlihat bahwa laju pertumbuhan spesifik anterior-posterior tertinggi didapatkan pada perlakuan B yaitu 5,71%±0,04 dan diikuti secara berturut-turut oleh perlakuan C yaitu 5,54%±0,23, perlakuan D yaitu 5,21%±0,11, perlakuan Kontrol yaitu 5,15%±0,08 dan terendah pada perlakuan A yaitu 5,14%±0,05. Hasil analisis ragam (Lampiran 7) menunjukan bahwa perlakuan suhu memberikan pengaruh yang sangat nyata (Sig.≤0,01) terhadap laju pertumbuhan spesifik anterior-posterior larva kerang mutiara (P. maxima).

3. Perkembangan

Data perkembangan stadia larva kerang mutiara (P. maxima) hingga mencapai spat berdasarkan pengaruh suhu yang berbeda terlihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perkembangan Stadia Larva Kerang Mutiara (P. maxima) Hingga

Mencapai Spat (Juvenil)

No. Stadia Waktu Keterangan

1. D-Veliger 24 jam-12 hari

Larva berbentuk D dengan ukuran AP x DV yaitu sekitar 80 x 75µm

2. Umbo 12-18 hari Muncul tonjolan dibagian dorsal cangkang dengan masing-masing ukuran AP±SD x DV±SD pada masing-masing perlakuan yaitu kontrol (162,50µm±17,25 x 151,67µm±16,02), A (159,55µm±18,64 x 148,18µm± 22,28), B (170,67µm±30,11 x 153,67µm±26,76), C (158,46µm±12,14 x 142,31µm±10,13) dan D (157,50µm±10,35 x 143,75µm±10,61)

3. Eyespot 18-22 hari Terlihat bintik hitam pada cangkang dengan masing-masing ukuran AP±SD x DV±SD pada masing-masing perlakuan yaitu Kontrol (206,67µm±8,16 x 196,67µm±8,16), A (194,00µm±16,73 x 178,00µm±14,83), B (209,00µm±9,94 x 196,00µm±9,66), C (203,00µm±8,23 x 187,00µm±16,36) dan D (204,00µm±8,94 x 184,00µm±21,91)

36

No. Stadia Waktu Keterangan

4. Pediveliger 22-24 hari Terlihat kaki yang keluar pada bagian dorsal cangkang dengan masing-masing ukuran AP±SD x DV±SD pada masing-masing perlakuan yaitu kontrol (227,14µm±14,68 x 203,57µm±9,45), A (227,27µm±20,90 x 196,82µm±19,53), B (237,22µm±29,86 x 207,50µm±31,17), C (234,33µm±23,67 x 201,67µm±26,57) dan D (227,14µm±19,76 x 199,29µm±18,35)

5. Spat >26 hari Menyerupai bentuk anakan kerang dengan masing ukuran AP±SD pada masing-masing perlakuan yaitu Kontrol (1382,11µm ± 198,81), A (1196,25µm ± 343,66), B (1510,67µm ± 155,56), C (1231,46µm ± 322,24) dan D (1152,40µm ± 296,19)

4. Parameter Kualitas Air

Kisaran parameter kualitas air yang terukur selama penelitian berdasarkan perlakuan suhu yang berbeda terlihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Parameter Kualitas Air yang Diukur Selama Penelitian

No. Parameter Kisaran Referensi

1. 2. Salinitas pH 32 - 34 ppt 8,11 - 8,35

30-34 ppt (Taylor et al., 2004; Southgate dan Lucas, 2008; Winanto dkk., 2009) 7,8-8,6 (Matsui, 1960 dalam Winanto, 2009)

B. Pembahasan

1. Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup merupakan salah satu faktor terpenting dalam suatu usaha pembenihan kerang mutiara (P. maxima) karena berpengaruh terhadap jumlah spat (juvenil) yang akan dihasilkan. Kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima) diestimasi dari data jumlah larva awal pangamatan (larva

D-37

veliger) hingga mencapai stadia spat (juvenil) yang berumur 35 hari setelah pemijahan. Hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa suhu memberikan pengaruh yang sangat nyata (Sig.<0,01) bagi kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima) dari stadia D-veliger hingga mencapai spat (juvenil). Hal ini didukung oleh pernyataan Southgate dan Lucas (2008) bahwa suhu terlalu rendah dan terlalu tinggi memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup kerang mutiara (P. maxima). Lebih lanjut O’Connor dan Lawler (2004) menyatakan bahwa perbedaan toleransi suhu tidak hanya terjadi pada masa embrio hingga juvenil, tetapi juga berpengaruh pada spat hingga mencapai kerang dewasa, terutama pada suhu rendah.

Berdasarkan uji Duncan pengaruh suhu yang berbeda terhadap kelangsungan hidup larva kerang mutiara (P. maxima) pada awal pengamatan hingga mencapai spat (juvenil) menunjukan bahwa perlakuan B (suhu 28±0,5oC) memberikan persentasi nilai yang tertinggi yaitu 8,00%±0,16 dan disusul perlakuan Kontrol (26,5-28oC) yaitu 7,53%±0,20. Kedua perlakuan ini menunjukan pengaruh yang tidak signifikan, hal ini diduga bahwa kondisi suhu tersebut masih dalam kisaran toleransi kelangsungan hidup larva kerang mutiara sampai stadia spat (juvenil). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Winanto dkk. (2009) yang mengemukakan bahwa sintasan larva kerang mutiara (P. maxima) tertinggi terjadi pada perlakuan suhu 28oC dengan salinitas 32 ppt dan 34 ppt. Doroudi et al. (1999) menambahkan bahwa kondisi fisiologis optimal untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva kerang mutiara yaitu pada suhu 26-29oC. Lebih lanjut Southgate dan Lucas (2008) menjelaskan bahwa kerang mutiara memiliki kisaran suhu yang beragam seperti

38

larva kerang mutiara Akoya (India) hidup dengan baik pada kisaran suhu 24-29oC dan Pteria sterna pada kisaran suhu 21-28oC.

Kelangsungan hidup terendah didapatkan pada perlakuan D (suhu 32oC±0,5) dengan nilai 3,98%±0,53 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan A (suhu 26oC±0,5) dan perlakuan C (suhu 30oC±0,5) dengan nilai persentasi masing-masing yaitu 3,99%±0,57 dan 5,25%±1,81. Rendahnya nilai kelangsungan hidup yang terjadi pada perlakuan tersebut diduga bahwa larva kerang mutiara (P. maxima) tidak dapat mentolelir suhu tersebut sehingga terjadi mortalitas yang cukup tinggi. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Winanto (2009) yang mengemukakan bahwa suhu 26oC dan 30oC memberikan hasil kelangsungan hidup yang rendah dibandingkan suhu 28oC dengan salinitas 30-34ppt. Nair dan Appukuttan (2003) juga menambahkan bahwa suhu >33oC menyebabkan mortalitas yang tinggi pada larva kerang. Peningkatan suhu menyebabkan perubahan signifikan pada aktivitas fisiologis yang akan mempengaruhi kemampuan organisme untuk bertahan hidup pada kondisi yang tidak menguntungkan (Rajagopal et al., 2005). Saucedo et al. (2004) menjelaskan bahwa beberapa jenis bivalvia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu air dalam bertahan hidup dan bereproduksi.

2. Pertumbuhan

Pertumbuhan larva kerang mutiara (P. maxima) yang diukur meliputi pertumbuhan lebar cangkang (Anterior-Posterior) dan pertumbuhan tinggi cangkang (Dorsal-Ventral) berdasarkan pengaruh suhu yang berbeda. Menurut

39

Southgate dan Lucas (2008) pengukuran cangkang merupakan metode yang paling umum digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan pada kerang mutiara.

2.1.Pertumbuhan Mutlak

Pertumbuhan mutlak merupakan pertumbuhan larva awal pengamatan hingga mencapai spat (akhir pengamatan). Laju pertumbuhan mutlak merupakan parameter yang menentukan laju peningkatan ukuran maupun bobot pada waktu tertentu, umumnya digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan bivalvia yang dibudidayakan dan sangat berperan penting dalam membandingkan antara perlakuan dalam studi yang sama. Umumnya pertumbuhan mutlak kerang mutiara dipengaruhi oleh ukuran dan usia bivalvia serta variasi musiman dalam memperoleh makanan, suhu air dan lokasi budidaya (Southgate dan Lucas, 2008). Hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukan bahwa suhu memberikan pengaruh yang sangat nyata (Sig.<0,01) bagi pertumbuhan mutlak larva kerang mutiara (P. maxima) hingga mencapai spat (juvenil) dengan taraf kepercayaan 99%. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Doroudi et al. (1999) bahwa dalam kisaran salinitas yang cocok, pertumbuhan larva P. margaritifera tergantung pada suhu. Lebih lanjut Yukihira et al. (2000) menjelaskan bahwa tingkat metabolisme moluska khususnya kerang mutiara dan organisme poikilothermic lainnya biasanya meningkat seiring dengan peningkatan suhu hingga titik maksimal.

Berdasarkan hasil uji Duncan, rata-rata pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu pada perlakuan B (suhu 28oC±0,5) dengan nilai 1458,32µm±32,16 dan menunjukan nilai yang tidak signifikan dengan perlakuan C (suhu 30oC±0,5) yaitu 1379,71µm±15,47. Kemudian disusul oleh perlakuan Kontrol (suhu 26,5-28oC)

40

dengan nilai 1258,21µm±67,45. Hasil yang hampir sama juga dilaporkan oleh Saucedo et al. (2009) bahwa P. mazatlanica secara signifikan mencapai ukuran yang lebih besar, tingkat pertumbuhan yang lebih besar dan lebih berat (basah dan kering) terjadi pada suhu 29oC, dan diberi pakan campuran Isochrysis-Chaetoceros (untuk berat) serta Pavlova-Chaetoceros (untuk tinggi cangkang). Cáceres-Puig et al. (2007) juga menambahkan bahwa kerang subtropis Crassostrea corteziensis merupakan spesies eurythermal dengan kisaran toleransi suhu yang luas yaitu 16-32°C. Akan tetapi spesies ini sangat tergantung pada suhu antara 24-30°C dan tumbuh dengan baik pada suhu optimal yaitu suhu 28oC. Terlepas dari faktor tersebut, ternyata pertumbuhan panjang mutlak Dorsal-Ventral dan Anterior–

Posterior P. maxima tertinggi mulai dari veliger sampai spat umur 30 hari yang diberi pakan alami kombinasi I. galbana 25% dan C. amami 75% dengan mencapai ukuran masing-masing yaitu 1623,72µm dan 2217,11µm (Taufiq dkk., 2010).

Pertumbuhan terendah terjadi pada perlakuan A (suhu 26oC±0,5) yaitu 1031,31µm±158,49 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan D (suhu 32oC±0,5) yaitu 1072,40µm±51,13. Pertumbuhan yang rendah pada perlakuan tersebut diduga bahwa suhu 26oC±0,5 terlalu rendah dan suhu 32oC±0,5 terlalu tinggi dalam mendukung pertumbuhan larva kerang mutiara (P. maxima) hingga mencapai spat (juvenil). Yukihira et al. (2000) dan Yukihira et al. (2006) menjelaskan perbedaan suhu selama pemeliharaan walaupun kecil atau sekitar 1–2oC berpengaruh kuat terhadap laju pertumbuhan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa suhu berpengaruh terhadap proses metabolisme larva, semakin rendah suhu maka laju metabolisme semakin menurun, sehingga laju pertumbuhan larva jadi

41

lambat. Pada bivalvia umumnya pertumbuhan terjadi melalui deposisi kalsit jaringan mantel dan aragonit pada garis cangkang sehingga pada kerang mutiara, dimensi cangkang merupakan ciri-ciri yang paling sering diukur untuk mengetahui tingkat pertumbuhan (Rose dan Baker, 1994 dalam Kvingedal et al., 2010).

2.2.Laju Pertumbuhan Spesifik

Larva bivalvia memiliki pertumbuhan eksponensial (Gosling, 2007) dan tingkat pertumbuhan kemungkinan akan dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi endogen dan eksogen, dan kondisi lingkungan budaya (Doroudi dan Southgate, 2003). Laju pertumbuhan spesifik larva kerang mutiara (P. maxima) yang diukur pada awal pengamatan hingga hari ke 20 setelah pemijahan ternyata sangat dipengaruhi oleh suhu. Hal ini dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan spesifik anterior-posterior maupun dorsal-ventral ternyata sangat dipengaruhi oleh suhu dengan nilai Sig.<0,01 yang menunjukan bahwa suhu memberikan pengaruh yang sangat nyata pada taraf kepercayaan 99% terhadap pertumbuhan DV maupun AP. Hal ini didukung oleh pernyataan Southgate dan Lucas (2008) yang mengemukakan bahwa pertumbuhan kerang mutiara dipengaruhi oleh ukuran, usia, serta variasi musiman dalam ketersediaan makanan, suhu air dan lokasi budidaya. Lebih lanjut Yukihira et al. (2006) juga menambahkan bahwa suhu memberikan pengaruh signifikan pada pertumbuhan dan pada suhu rendah juvenil kerang mutiara (P. maxima) akan mengalami kematian.

Berdasarkan hasil uji Duncan, laju pertumbuhan spesifik Dorsal-Ventral (DV) menunjukan bahwa perlakuan B (suhu 28oC±0,5) adalah yang terbaik dengan nilai 5,46%±0,03 dan menunjukan hasil yang berbeda nyata dengan semua

42

perlakuan. Hal ini berkaitan dengan pernyataan Winanto dkk. (2009) bahwa laju metabolisme meningkat dengan meningkatnya suhu sehingga mencapai batas optimum (28oC), selanjutnya akan menurun seiring dengan meningkatnya suhu. Perlakuan yang memberikan hasil terendah yaitu perlakuan D (suhu 32oC±0,5) dengan nilai 4,91%±0,12. Pertumbuhan yang rendah pada perlakuan D (suhu 32oC±0,5) diduga bahwa suhu media tersebut terlalu tinggi sehingga menyebabkan aktifitas fisiologis larva terganggu sehingga berdampak pada pertumbuhan cangkang yang lambat. Hal ini didukung oleh Hamzah (2016) yang mengemukakan bahwa kondisi lingkungan merupakan faktor penting dalam proses aktivitas enzim dalam pencerna protein. Lebih lanjut dijelaskan bahwa semakin tinggi kadar kalsium karbonat yang terkandung dalam cangkang adalah berbanding lurus dengan tingginya daya metabolisme reaksi enzim dalam mencerna protein untuk pertumbuhan.

Pertumbuhan Anterior-Posterior pada larva kerang mutiara (P. maxima) juga dipengaruhi oleh suhu air walaupun menunjukan hasil yang sedikit berbeda dari pertumbuhan DV. Berdasarkan hasil uji Duncan, perlakuan B (suhu 28oC±0,5) menunjukan nilai yang tertinggi yaitu 5,71µm±0,04 dan menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan C (suhu 30oC±0,5) yaitu 5,54µm±0,23. Hal ini didukung oleh pernyaataan Dove dan O’Connor (2007) bahwa suhu secara

signifikan mempengaruhi pertumbuhan larva pediveliger kerang batu Sydney (Saccostrea glomerata) dengan suhu >26oC mengakibatkan tingkat pertumbuhan terbaik, terutama pada salinitas >20 ppt. Hal yang hampir sama juga dikemukakan oleh Li dan Li (2010) yang menyatakan bahwa suhu 27oC memberikan

43

pertumbuhan yang cepat namun kelangsungan hidup lebih rendah dan hal ini juga ditemukan pada spesies invertebrata lainnya. Perlakuan yang memberikan hasil pertumbuhan terendah yaitu perlakuan A (suhu 26oC±0,5) yaitu 5,14µm±0,05 dan menunjukan nilai yang tidak signifikan dengan perlakuan Kontrol (suhu 26,5-28oC) dan perlakuan D (suhu 32oC±0,5) yaitu 5,15µm±0,08 dan 5,21µm±0,11. Hal ini diduga bahwa suhu 26oC±0,5 terlalu rendah dan suhu 32oC±0,5 terlalu tinggi dalam mendukung pertumbuhan larva kerang mutiara. Hal serupa juga dilaporkan oleh Winanto (2009) bahwa suhu 26oC relatif rendah untuk perkembangan larva dan sebaliknya suhu 30oC relatif tinggi untuk perkembangan larva. Lebih lanjut Hamzah (2016) menjelelaskan bahwa kisaran kondisi suhu dan salinitas yang rendah, mengakibatkan pertumbuhan larva menjadi lambat dan lebih lama menempel pada kolektor.

3. Perkembangan

Induk kerang mutiara (P. maxima) merupakan induk alam yang berasal dari Pulau Sumbawa dan dipijahkan di Laboratorium Basah Kerang Mutiara LPBIL LIPI Mataram pada tanggal 10 Februari 2016. Perbandingan induk jantan dan induk betina yang digunakan yaitu 4:4 dengan ukuran panjang cangkang sekitar 12cm. Berdasarkan data sekunder yang diperoleh bahwa kerang mutiara (P. maxima) di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur matang gonad pada bulan September sampai bulan Maret sehingga pemijahan dilakukan pada bulan-bulan tersebut. Hal ini hampir sama dengan kerang mutiara (P. maxima) di Australia yang mengalami kematangan seksual pada akhir tahun pertama dan ditandai kecenderungan protandrous. Pemijahan terjadi sepanjang tahun, dengan puncaknya

44

pada bulan September-November dengan suhu 27°C dan 29°C. Musim kawin terjadi pada September hingga April, dengan puncak pada bulan Oktober dan hanya sedikit pada bulan April (Southgate dan Lucas, 2008).

Fujimura et al. (1995) dalam Miyazaki et al. (2010) menjelaskan bahwa proses perkembangan P. fucata diklasifikasikan ke dalam enam tahap yaitu telur yang telah dibuahi, trochophore, veliger (larva bentuk D), pediveliger (tahap umbonal), juvenil dan tahap dewasa. Lebih lanjut dijelaskan bahwa cangkang pertama yang disebut prodissoconch I, disekresikan sepasang kelenjar cangkang dari sel-sel larva planktonik selama tahap trochophore (6-24 jam setelah pembuahan). Pengamatan perkembangan larva kerang mutiara (P. maxima) dimulai pada saat larva mencapai fase D-veliger yang dicapai sekitar 24 jam setelah fertilisasi hingga mencapai stadia spat (juvenil) umur 35 hari. Berdasarkan hasil pengamatan, suhu memberikan pengaruh yang beragam terhadap ukuran larva kerang mutiara (P. maxima). Hal ini sejalan dengan pernyataan Winanto (2009) yang menyatakan bahwa suhu memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan larva, selisih perlakuan suhu (2oC) ternyata memberikan efek yang signifikan pada sintasan dan pertumbuhan larva. Cataldo et al. (2005) juga menambahkan bahwa waktu perkembangan larva Mytilidae laut lainnya juga dipengaruhi oleh suhu. Lebih lanjut Gervais dan Sims (1992) dalam Southgate dan Lucas (2008) menjelaskan bahwa perkembangan larva kerang mutiara membutuhkan 16-30 hari dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti suhu air, nutrisi dan ketersediaan substrat yang tepat.

45

Gambar 11. Larva Kerang Mutiara (P. maxima) Stadia D-Veliger dan Umbo (Keterangan: A. D-Veliger; dan B. Umbo)

Stadia D-veliger dicapai pada 24 jam setelah pemijahan dengan larva yang berbentuk huruf D dengan ukuran sekitar 80 x 75µm (AP x DV). Hal ini hampir sama dengan Doroudi dan Southgate (2003) bahwa larva D-Veliger P. margaritifera dicapai sekitar 24 jam setelah pembuahan dengan ukuran panjang cangkang 79,7±2,3 (n = 40). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Larva D menunjukkan lingkaran pertumbuhan awal setelah 2 hari dan cangkang menunjukkan sedikit pertumbuhan umbonal setelah berkembang selama 6 hari serta prodissoconch I dan II bisa diidentifikasi secara jelas. Tahap veliger ditandai dengan bentuk engsel yang lurus dan cangkang berbentuk huruf “D”. Pada tahap ini, larva semi-transparan dan menunjukan bagian velum yang menonjol, larva veliger berenang di permukaan air serta menciptakan arus yang kuat dengan menggunakan sillia (Acarli dan Lok, 2009).

Stadia umbo dicapai pada umur 12-18 hari dengan bagian umbo yang kelihatan jelas pada bagian dorsal. Acarli dan Lok (2009) menjelaskan bahwa pada kerang Ostrea edulis, larva berenang lebih lambat daripada tahap-tahap awal. Pada bagian velum silia juga kurang aktif dan hanya sebagian larva yang mencapai tahap

46

umbo pada hari ke 14. Rata-rata ukuran panjang x tinggi cangkang (AP±SD x DV±SD) tertinggi pada stadia umbo yaitu pada perlakuan B (suhu 28oC±0,5) yaitu 170,67µm±30,11 x 153,67µm±26,76 dan terendah pada perlakuan D (suhu 32oC±0,5) yaitu 157,50µm±10,35 x 143,75µm±10,61. Hal ini sedikit berbeda dengan Doroudi dan Southgate (2003) yang menjelaskan bahwa larva P. margaritifera membutuhkan waktu 8 hari untuk mencapai tahap umbo awal dengan panjang cangkang 110µm dan menunjukkan tingkat pertumbuhan harian rata-rata 3,7µm. Pada larva P. margaritifera, suhu 20oC memberikan perkembangan stadia umbo yang lambat, bahkan setelah mencapai 15 hari (Doroudi et al., 1999).

Gambar 12. Larva Kerang Mutiara (P. maxima) Stadia Eyespot Tampak Atas dan Samping

Stadia Eyespot dicapai sekitar 18-22 hari dengan ditandai bintik hitam (spot) yang tampak jelas. Bintik hitam kecil pada kedua sisi cangkang tampak setelah berumur 16-17 hari. Bintik hitam ini menggambarkan larva mulai menempel dan kolektor segera ditebarkan dalam bak pemeliharaan (Hamzah, 2015). Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata ukuran larva tertinggi pada perlakuan B (suhu 28oC±0,5) yaitu 209,00µm±9,94 x 196,00µm±9,66 dan terendah pada perlakuan A (suhu 26oC±0,5) yaitu 194,00µm±16.73 x 178,00µm±14,83. Pada suhu 26oC laju pertumbuhan larva lebih rendah dibanding pada suhu 28oC dan 30oC, diduga suhu

47

26oC relatif rendah dan kurang efektif untuk proses metabolisme, sehingga berimplikasi pada perkembangan dan pertumbuhan larva (Winanto, 2009). Lebih lanjut Kheder and Robert (2010) menyatakan bahwa suhu ≥27°C memiliki efek positif pada laju metamorfosis dan sebaliknya suhu ≤22°C memberikan efek yang rendah, sehingga menyebabkan lambatnya pencapaian stadia berikutnya. Sedikitnya pertumbuhan yang dialami dari tahap perkembangan awal kemungkinan disebabkan oleh penurunan dari proses kalsifikasi (Parker et al., 2010).

Gambar 13. Kerang Mutiara (P. maxima) Stadia Pediveliger dan Spat (Keterangan: A. Pediveliger; dan B. Spat)

Berdasarkan hasil penelitian, stadia Pediveliger dicapai sekitar 22-24 hari setelah fertilisasi dengan ditandai munculnya kaki yang keluar pada bagian dorsal cangkang serta bintik hitam pada stadia Eyespot telah menghilang. Gerakan larva mulai melambat dan nampak adanya pertumbuhan organ penempel seperti lidah yang keluar dari dalam tubuh larva (Wardana dkk., 2009). Lebih lanjut Acarli dan

Dalam dokumen Perkembangan dan Kelangsungan Hidup Larv (Halaman 55-110)

Dokumen terkait