• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN DOMESTIK DAN INTERNASIONAL

Dalam dokumen LAPORAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN 2015 (Halaman 49-54)

39

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2015

ISU TERKINI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Penundaan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 87/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu Tetap Meresahkan Pengusaha Elektronika

Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 87/M-DAG/PER/10/2015 (Permendag Nomor 87/2015) tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu ditetapkan dalam rangka mendorong peningkatan daya saing nasional, dimana terjadi penyederhanaan perizinan di bidang perdagangan, khususnya impor produk tertentu. Permendag

Nomor / 5 tersebut diterbitkan oleh Menteri Perdagangan pada 5 Oktober 5

dan rencananya diberlakukan mulai 1 November 2015. Namun kebijakan tersebut banyak menuai kritik dari kalangan pengusaha.

Dalam Permendag Nomor 87/2015, Menteri Perdagangan menghapus ketentuan penetapan sebagai Importir Terdaftar (IT) Produk Tertentu. Produk tertentu yang dimaksud adalah kosmetik, pakaian jadi, obat tradisional, elektronik, alas kaki, mainan anak. Dengan begitu, impor produk-produk tersebut tidak memerlukan IT lagi, hanya perlu Angka Pengenal Importir Umum (API-U) saja. Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) menyatakan bahwa aturan impor ini akan membuat impor ilegal, terutama elektronika, semakin membanjiri pasar Indonesia. Sebab, kini pemegang API-U bisa mengimpor semua produk tertentu yang tertera di Permendag Nomor 87/2015, tidak terbatas pada 1 produk saja.

Dengan adanya Permendag Nomor 87/ 2015, perusahaan asing bisa dengan mudahnya membuat API-U, membuat kantor di Indonesia dengan hanya mempekerjakan sekitar 5 orang karyawan, menyewa gudang, lalu berdagang di Indonesia. Sementara industri dalam negeri sendiri belum dapat berkompetisi.

Gabel menilai aturan baru Menteri Perdagangan ini tidak mendukung industri di dalam negeri dan mendorong pengusaha hanya menjadi pedagang/importir saja. Oleh karena itu, Permendag Nomor 87/2015 diharapkan dapat segera direvisi.

Kementerian Perdagangan Berencana Melakukan Redefinisi Kebutuhan Barang

Komplementer, Tes Pasar, dan After Sales Untuk Importir Produsen

Sesuai dengan Paket Kebijakan Ekonomi Tahap 1, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70/M-DAG/PER/9/2015 (Permendag Nomor 70/2015) tentang Angka Pengenal Importir (API) yang tujuannya adalah melakukan penyederhanaan ketentuan mengenai API. Dalam Permendag No.70/2015, Angka Pengenal Importir (API) dibedakan menjadi dua yaitu API Produsen (API-P) dan API Umum (API-U). API U digunakan bagi importir yang melakukan impor barang apa saja, yang bertujuan untuk diperdagangkan. Sementara untuk API-P, digunakan oleh importir yang melakukan impor barang untuk dipergunakan sendiri, yaitu impor bahan baku, bahan penolong, bahan barang modal,

atau bahan yang mendukung produksinya. Barang yang diimpor tersebut tidak boleh dipindahtangankan.

Dalam peraturan sebelumnya, Permendag Nomor 27/2012, importir produsen masih diperbolehkan untuk melakukan impor barang komplementer, barang untuk keperluan tes pasar dan layanan purnajual, sepanjang mendapat rekomendasi dari Kementerian Perindustrian. Impor barang-barang tersebut dapat dipindahtangankan kepada konsumen langsung. Namun berdasarkan Permendag Nomor 70/2015 yang akan berlaku pada 1 Januari 2016, importir produsen tidak lagi diperbolehkan untuk mengimpor barang-barang tersebut.

Menurut Kementerian Perdagangan, pembatasan terhadap API-P bukan bertujuan untuk membatasi ruang gerak importir produsen. Namun berdasarkan praktek yang berlaku selama ini disinyalir banyak importir produsen yang menyalahgunakan API-P, seperti impor barang untuk keperluan tes pasar namun dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama sampai 5-10 tahun. Oleh sebab itu Kementerian Perdagangan akan melakukan redefinisi atas Kebutuhan Barang Komplementer, Tes Pasar, dan After Sales untuk importir Produsen. Diharapkan ketentuan tersebut tidak membuka celah bagi produsen untuk berubah fungsi sebagai pedagang.

Penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 72/M-DAG/PER/9/2015 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/M-DAG/PER/3/2007 tentang Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terhadap Barang dan Jasa yang Diperdagangkan

Pada tanggal 28 September 2015, Kementerian Perdagangan melakukan revisi atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/M-DAG/PER/3/2007 (Permendag Nomor 14/2007) tentang Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terhadap Barang dan Jasa yang Diperdagangkan, menjadi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 72/M-DAG/PER/9/2015 (Permendag Nomor 72/2015). Permendag Nomor 14/2007 tersebut masuk sebagai salah satu peraturan yang didebirokratisasi dalam Paket Kebijakan Ekonomi Tahap 1.

Perubahan ketentuan mengenai SNI wajib tersebut dilakukan dalam rangka: (1) simplifikasi perizinan impor yang dapat mempercepat arus dokumen; (2) penyederhanaan terhadap persyaratan perizinan yang mengunci waktu pengurusan perizinan terhadap izin transaksional; (3) mendorong percepatan pelayanan perizinan di K/L teknis secara real time online dan terintegrasi dalam INSW; serta memperbaiki kinerja pelayanan perizinan perdagangan. Secara garis besar, revisi Permendag Nomor 72/2015 adalah terkait 3 (tiga) hal yaitu:

(1) Mekanisme pengawasan pra pasar, dimana sebelumnya mekansime pengawasan pra pasar terhadap produk impor dilakukan melalui Surat Pendaftaran Barang (SPB) dan SPB tersebut wajib dimiliki importir setiap kali melakukan impor, saat

41

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2015

ini mekanisme pengawasan produk hanya dilakukan melalui Nomor Pendaftaran Barang (NPB). NPB wajib dimiliki oleh importir produk SNI yang diberlakukan wajib dan berlaku sesuai dengan masa berlaku Sertifikat Produk Pengguna Tanda (SPPT) SNI.

(2) Waktu pelayanan, dimana terdapat pengurangan jangka waktu penerbitan NPB. Sebelumnya penerbitan NPB dilakukan maksimal 5 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap dan benar, serta surat penolakan NPB diterbitkan maksimal 3 hari kerja sejak permohonan diterima. Saat ini penerbitan NPB dilakukan maksimal 3 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap dan benar, sedangkan surat penolakan NPB diterbitkan maksimal 2 hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Sanksi, dimana terhadap barang impor SNI wajib yang berada di kawasan pabean

akan dilakukan pemusnahan dan wajib re-ekspor apabila permohonan SPB ditolak atau tidak memiliki SPPT-SNI. Saat ini, sanksi yang dilakukan adalah pembekuan NPB (sampai pelaku usaha menyampaikan hasil perbaikan) terhadap barang impor yang ditemukan tidak sesuai SNI serta pemusnahan dan kewajiban re-ekspor terhadap barang impor SNI wajib di kawasan pabean yang tidak memiliki NPB. Isu terkait Permendag Nomor 72/2015 saat ini adalah terkait sweeping terhadap barang impor yang beredar di pasaran. Terkait hal tersebut, Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa Permendag Nomor 72/2015 hanya diberlakukan terhadap barang-barang yang diberlakukan SNI wajib. Dari total 8.000 lebih barang, baru 118 barang yang sudah diberlakukan SNI wajib, sehingga pedagang eceran tidak perlu khawatir. Melalui peraturan tersebut justru diharapkan pedagang eceran dapat ikut berperan aktif untuk melakukan pengawasan barang beredar, dengan cara memperhatikan NPB dan ketentuan lain atas barang yang ditawarkan oleh pemasoknya.

Penerbitan Peraturan Menteri Keuangan Berupa Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-03/PJ/2015 tentang Penyampaian Surat Pemberitahuan Elektronik

Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-03/PJ/2015 tentang Penyampaian Surat Pemberitahuan Elektronik yang diterbitkan pada 13 Februari 2015 mengatur mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) dapat dilaukan dalam bentuk formulir kertas (hardcopy) ataupun dokumen elektronik. Penyampaian dokumen SPT selain dengan cara langsung mauun melalui pos, melalui perusahaan jasa ekspedisi, juga dapat di lakukan melalui saluran tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak, antara lain melalui elektronik. Dengan demikian, penyampaian surat pemberitahuan pajak (SPT) secara elektronik ini akan memudahkan wajib pajak karena akan lebih irit waktu, tidak perlu menyampaiakan secara hardcopy, yang tentunya juga memerlukan waktu dan biaya untuk menyampaikan dokumen tersebut. Dengan di terbitkannya peraturan tersebut, sangat mendukung upaya Indonesia untuk perbaikan peringat

kemudahan usaha (Ease of Doing Business). Peraturan tersebut mendukung salah satu indikator EoDB, yaitu indikator Paying Taxes.

Penerbitan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana

Selain peraturan Dirjen Pajak, dalam rangka mendukung perbaikan peringkat Indonesia dalam kemudahan berusaha/Ease of Doing Business (EoDB), pada indikator

Kemudahan Penegakan Kontrak/Enforcing Contract, Mahkamah Agung telah

mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana pada 7 Agustus 2015. Dalam peraturan tersebut, yang di maksud penyelesaian gugatan sederhana adalah tata cara pemeriksanaan di persidangan terhadap gugatan perdata dengan nilai gugatan material paling banyak Rp 200.000.00 (dua ratus juta rupiah) sesuai definisi penyelesaian gugatan sederhana pada pasal 1 ayat 1. Pengadilan ini dilakukan oleh hakim tunggal, dengan waktu penyelesaian dua puluh lima (25) hari dan sekali banding dengan keputusan tetap selama 30 hari.

Tahapan penyelesaian gugatan sederhana dalam pasal 5 di atur bahwa Gugatan sederhana diperiksa dan diputus oleh Hakim yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan. Adapun Tahapan Penyelesaian Gugatan Sederhana meliputi: a. pendaftaran; pemeriksaan gugatan sederhana; c. penetapan hakim dan penunjukan panitera pengganti; d. pemeriksaan pendahuluan; e. penetapan hari siding dan pemanggilan para pihak; f. pemeriksaan siding dan perdamaian; g. Pembuktian; dan h. putusan. Dalam peraturan ini juga di sebutkan terdapat dua jenis perkara yang tidak bisa diselesaikan dalam small claim court. Pertama, perkara yang penyelesaian sengketanya dilakukan melalui pengadilan khusus sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Kedua, perkara sengketa hak atas tanah (Pasal 3 ayat (2).

Hasil Utama Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat

Trans Pacific Partnership (TPP) telah mencapai kesepakatan diantara 12 negara

anggotanya pada 5 Oktober 2015. Mereka sepakat untuk memangkas tarif dan menetapkan standar umum perdagangan antar negara-negara anggota TPP. Sebagai informasi, TPP adalah kerjasama perdagangan regional yang melibatkan 12 negara di kawasan pasifik yang merepresentasikan sekitar 40 persen (sumber: office of the US

trade representative; 2015) dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Terkait telah disepakatinya kerjasama TPP, Pemerintah menyiratkan ketertarikannya untuk bergabung dalam TPP. Hal ini disampaikan oleh Presiden Joko Widodo ketika bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pada akhir bulan Oktober 2015. Namun demikian, masih diperlukan waktu yang panjang untuk Indonesia dapat bergabung ke dalam TPP, banyak perhitungan yang harus dilakukan dan banyak pula peraturan harus diubah. Dengan bergabungnya Indonesia ke dalam TPP setelah TPP mencapai kesepakatan, maka berarti Indonesia tidak mempunyai kesempatan untuk

43

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2015

bernegosiasi dengan semua negara anggota dan harus siap untuk mengadopsi seluruh kerangka kerjasama TPP yang telah disepakati. Jika aturan yang diterapkan di dalam negeri belum sesuai dengan aturan yang disepakati dalam TPP, maka Indonesialah yang harus melakukan penyesuaian.

Salah satu pertimbangan yang perlu mendapat perhatian khusus adalah cakupan TPP yang luas dengan tingkat liberalisasi yang tinggi. Persyaratan ini membuat Indonesia harus membuka sektor-sektor yang selama ini dinilai sensitif. Dengan kata lain, Indonesia pun harus siap melakukan reformasi ekonomi dan regulasi, seperti yang dilakukan negara-negara ASEAN yang tergabung dalam TPP yaitu Vietnam, Brunei, dan Malaysia. Sebagai catatan, saat ini pemerintah masih fokus dalam proses penyelesaian perundingan perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yaitu suatu blok kerja sama ekonomi yang beranggotakan negara-negara ASEAN dan enam negara mitra lainnya, yaitu Australia, Tiongkok, India, Jepang, Korea, dan Selandia Baru. Selain itu, pemerintah juga telah memulai kembali persiapan perundingan Indonesia-EU

CEPA (European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement), yaitu suatu

perjanjian perdagangan yang cakupannya hampir setingkat dengan TPP. Jika Indonesia dapat menyelesaikan perundingan RCEP dan Indonesia-EU CEPA, maka hal tersebut dapat dijadikan sebagai batu loncatan bagi Indonesia untuk bergabung ke dalam TPP.

Dalam dokumen LAPORAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN 2015 (Halaman 49-54)

Dokumen terkait