• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "LAPORAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN 2015"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia merupakan publikasi triwulanan yang diterbitkan oleh Kedeputian Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, yang

didasarkan pada publikasi dan data-data yang sudah dikeluarkan oleh

Kementerian/Lembaga, dan instansi internasional, maupun hasil dari Focus Group

Discussion (FGD) yang dilakukan bersama dengan beberapa Kementerian/Lembaga.

Publikasi triwulan III tahun 2015 ini memberikan gambaran dan analisa mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan III tahun 2015. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III tahun 2015 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, perkembangan investasi dan kerja sama internasional, serta industri dalam negeri.

Sangat disadari bahwa publikasi ini masih jauh dari sempurna dan memerlukan banyak perbaikan dan penyempurnaan. Oleh sebab itu, masukan dan saran yang membangun dari pembaca tetap sangat diharapkan, agar tujuan dari penyusunan dan penerbitan publikasi ini dapat tercapai.

Jakarta, November 2015

(3)

Ringkasan Eksekutif

Perekonomian dunia hingga triwulan III tahun 2015 masih melambat akibat moderasi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Disisi lain, laju pertumbuhan

ekonomi negara-negara berkembang terhambat karena ketidakpastian

perekonomian global. Fluktuasi pasar keuangan juga meningkat tajam, seiring dengan penurunan harga komoditas dan tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara berkembang. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh moderat sebesar 1,5 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015, melambat dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,3 persen (YoY). Kondisi ini disebabkan oleh perlambatan akumulasi persediaan sebagai upaya sektor bisnis mengurangi stok di gudang yang berlimpah.

Penguatan ekonomi di kawasan Eropa dan Uni Eropa kembali berlanjut, meskipun perbaikan resesi ekonomi regional akibat krisis keuangan global 2008 dan krisis utang Eropa 2010 masih berjalan melambat. Pada triwulan III tahun, perekonomian 28 negara Uni Eropa (EU28) tumbuh sebesar 0,4 persen (YoY) atau sama dengan triwulan II tahun 2015. Di sisi lain, perekonomian Kawasan Eropa (U19) tumbuh sebesar 0,3 persen, melambat dibandingkan triwulan II tahun 2015 yang tumbuh sebesar 0,4 persen. Perlambatan ekonomi di kawasan Eropa dan Uni Eropa pada triwulan III tahun 2015 disebabkan oleh net perdagangan Kawasan Eropa dengan seluruh dunia yang tercatat negatif. Selain itu, juga dipicu oleh perlambatan ekonomi global, pelemahan mata uang Euro, dan penguatan permintaan dalam negeri yang meningkatkan impor.

Sementara itu, perekonomian Tingkok hingga triwulan III tahun 2015 masih dihadapkan pada perbaikan ekonomi global yang melemah dan tekanan pembangunan ekonomi dalam negeri. Sepanjang bulan Juli hingga September 2015, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 6,9 persen (YoY), menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,2 persen (YoY). Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan III tahun 2015 merupakan paling rendah sejak tahun 2009. Hal ini disebabkan oleh pelemahan investasi dan tekanan bagi perekonomian yang meningkat, setelah kebijakan pemotongan suku bunga dilaksanakan.

(4)

adalah sektor Pertambangan dan Penggalian dengan kontraksi sebesar 5,6 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang melambat sebesar 0,8 persen (YoY).

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III tahun 2015 mengalami defisit sebesar USD 4,6 miliar atau menurun dibandingkan NPI triwulan II tahun 2015 yang surplus USD 2,9 miliar. Menguatnya kinerja tersebut disebabkan oleh membaiknya defisit neraca transaksi berjalan dengan defisit sebesar USD 4,0 miliar (1,9 persen PDB). Sejalan dengan defisit NPI, cadangan devisa Indonesia pada triwulan III tahun 2015 turun menjadi USD 101,7 miliar atau setara dengan 6,8 bulan impor.

Tingkat inflasi pada triwulan III tahun 2015 membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, baik secara tahunan (YoY) maupun bulanan (MtM) dan bahkan mencatatkan deflasi pada bulan September 2015. Inflasi tahunan (YoY) Indonesia pada bulan Juli-September 2015 masing-masing sebesar 7,26 persen, 7,18 persen, dan 6,25 persen. Inflasi tahun kalender pada bulan September 2015 tersebut merupakan yang terendah selama 10 tahun terakhir.

Realisasi investasi untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) triwulan III tahun 2015 sebesar Rp 47,8 miliar, lebih besar dari realisasi triwulan III tahun 2014 atau tumbuh sebesar 15,0 persen. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA), realisasi triwulan III tahun 2015 sebesar USD 7.401,1 juta, dan mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 0,8 persen dibandingkan triwulan III tahun 2014. Sementara itu, dalam lima tahun terakhir, utang pemerintah terus menunjukkan peningkatan. sampai dengan triwulan III tahun 2015, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 3.091,1 triliun.

Penjualan mobil dan motor pada bulan Januari-September 2015 menurun dibandingkan bulan Januari-September 2014. Penurunan ini disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya harga jual mobil akibat depresiasi Rupiah. Sampai dengan bulan September 2015 penjualan mobil sebanyak 764.683 unit, sedangkan pada bulan Januari-September 2014 mencapai 932.943 unit. Penjualan motor sampai dengan bulan September 2015 sebanyak 5.424.073 unit, sedangkan pada bulan Januari-September 2014 mencapai 6.728.484 unit. Sementara itu, penjualan semen terus meningkat sejak bulan Agustus 2015. Penjualan semen bulan Oktober 2015 sebesar 2.713 juta ton, yang merupakan penjualan tertinggi sepanjang tahun 2015. Namun penjualan tersebut masih lebih rendah dibandingkan penjualan bulan Oktober tahun 2014 yang sebesar 21.577 juta ton.

(5)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... III DAFTAR TABEL ...VII DAFTAR GAMBAR ... IX

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA ... 2

Perkembangan Ekonomi Amerika Serikat ... 2

Perkembangan Ekonomi Uni Eropa ... 4

Perekonomian Tiongkok ... 7

Perekonomian Jepang ... 9

Perekonomian Singapura ... 11

OUTLOOK EKONOMI DUNIA 2015-2016 ... 12

PERKEMBANGAN HARGA MINYAK DUNIA ... 16

PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA ... 19

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 19

Indeks Tendensi Konsumen... 23

Indeks Keyakinan Konsumen ... 24

Neraca Pembayaran Indonesia ... 26

PERKEMBANGAN UTANG INDONESIA ... 31

Pembiayaan Utang Pemerintah ... 31

Pagu dan Realisasi Pembiayaan Utang ... 31

Posisi Utang Pemerintah ... 32

Surat Berharga Negara (SBN) ... 34

Pinjaman ... 37

ISU TERKINI PERDAGANGAN INTERNASIONAL ... 39

Penundaan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 87/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu Tetap Meresahkan Pengusaha Elektronika ... 39

(6)

Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terhadap Barang dan

Jasa yang Diperdagangkan ... 40

Penerbitan Peraturan Menteri Keuangan Berupa Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-03/PJ/2015 tentang Penyampaian Surat Pemberitahuan Elektronik ... 41

Penerbitan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana ... 42

Hasil Utama Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat ... 42

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN ... 43

Perkembangan Ekspor ... 43

Perkembangan Impor ... 47

Perkembangan Neraca Perdagangan ... 49

Perkembangan Harga Domestik ... 52

Perkembangan Harga Internasional ... 52

Kondisi Bisnis Indonesia Triwulan III Tahun 2015 ... 53

PERKEMBANGAN INVESTASI ... 57

Perkembangan Investasi ... 57

Realisasi Investasi Semester III Tahun 2015 ... 58

Realisasi Per Sektor ... 58

Realisasi Per Lokasi ... 59

Realisasi per Negara ... 61

PERKEMBANGAN KERJA SAMA EKONOMI INTERNASIONAL ... 62

Perkembangan Perjanjian Ekonomi Internasional Indonesia ... 62

Perkembangan Ekspor Impor Dalam Kerangka ASEAN-Tiongkok FTA ... 62

Ekspor ASEAN Ke Tiongkok... 63

Impor ASEAN Dari Tiongkok ... 64

Perkembangan Perjanjian Ekspor Berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) ... 65

Perkembangan Ekspor dan Impor Dalam Kerangka ASEAN FTA ... 66

Ekspor Impor Indonesia-ASEAN ... 66

PERKEMBANGAN INDIKATOR MONETER ... 69

Perkembangan Moneter Global ... 69

(7)

INFLASI ... 72

Inflasi Global ... 72

Inflasi Domestik ... 73

Nilai Tukar Mata Uang Dunia ... 76

Indeks Harga Saham ... 78

Indeks Harga Komoditas Internasional ... 80

Harga Bahan Pokok Nasional ... 81

Respon Kebijakan Moneter ... 82

SEKTOR PERBANKAN ... 84

PERKEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI... 87

Pertumbuhan Industri Pengolahan ... 87

Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri ... 90

Data Penjualan Komoditas Industri Utama ... 94

Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja Industri... 97

Jumlah Wisatawan ... 98

LAMPIRAN ...101

Lampiran 1: Inflasi Domestik (lanjutan) ...102

Lampiran 1: Inflasi Domestik (lanjutan) ...103

Lampiran 2: Nilai Tukar Mata Uang...104

Lampiran 3: Indeks Saham Global ...105

Lampiran 4: Indeks Harga Komoditas Internasional ...106

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY) ... 3

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Eropa dan Uni Eropa ... 5

Tabel 3. Purchasing Manager IndexTM Tiongkok Tahun 2015 (YoY) ... 9

Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi Singapura Tahun 2015 ... 11

Tabel 5. Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurut IMF ... 12

Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia (YoY) ... 14

Tabel 7. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barel) ... 16

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan III Tahun 2015 Menurut Lapangan Usaha (YoY) ... 20

Tabel 9. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 (persen) Menurut Jenis Pengeluaran (YoY) ... 22

Tabel 10. Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan III Tahun 2015 Menurut Sektor dan Variabel Pembentuknya ... 23

Tabel 11. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Januari –Oktober 2015... 24

Tabel 12. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan III Tahun 2015 ... 28

Tabel 13. Perkembangan Pembiayaan Utang Pemerintah 2010 - Triwulan III Tahun 2015 (triliun rupiah) ... 31

Tabel 14. Pagu Dan Realisasi Pembiayaan Utang s.d. Triwulan III Tahun 2015 (Triliun Rupiah) ... 32

Tabel 15. Posisi Utang Pemerintah Tahun 2010 s.d. Triwulan III Tahun 2015 ... 33

Tabel 16. Persentase Pinjaman dan SBN Terhadap Total Utang Pemerintah Tahun 2010 – Triwulan III Tahun 2015 ... 33

Tabel 17. Posisi Outstanding Surat Berharga Negara 2010 – Triwulan III Tahun 2015 (triliun Rupiah) ... 34

Tabel 18. Realisasi Penerbitan Surat Berharga Negara s.d. Triwulan III Tahun 2015 (Neto) (Juta Rupiah) ... 35

Tabel 19. Posisi Kepemilikan SBN DOMESTIK Per 31 Triwulan III Tahun 2015 (triliun Rupiah) ... 36

Tabel 20. Realisasi Pembiayaan Utang Melalui Pinjaman 2010- Triwulan II 2015 (trilun Rupiah) ... 37

Tabel 21. Perkembangan Ekspor Triwulan III Tahun 2015 ... 44

Tabel 22. Perkembangan 10 Golongan Barang dengan Nilai Ekspor Non-Migas Terbesar Triwulan III Tahun 2015 ... 45

Tabel 23. Perkembangan 10 Golongan Barang dengan Volume Ekspor Non-Migas Terbesar Triwulan III Tahun 2015 ... 46

Tabel 24. Perkembangan Ekspor Non-Migas ke Negara Tujuan Utama Triwulan III Tahun 2015 ... 46

Tabel 25. Perkembangan Impor Triwulan III Tahun 2015 ... 47

Tabel 26. Perkembangan Impor Non-Migas Menurut Golongan Barang Terpilih Triwulan III Tahun 2015 ... 48

Tabel 27. Negara Utama Asal Impor Non-Migas Triwulan III Tahun 2015 ... 49

Tabel 28. Neraca Perdagangan Indonesia Triwulan III Tahun 2015 ... 50

Tabel 29. Neraca Perdagangan Indonesia-Tiongkok ... 50

Tabel 30. Neraca Perdagangan Indonesia-Jepang ... 50

Tabel 31. Neraca Perdagangan Indonesia-Amerika ... 51

(9)

Tabel 33. Harga dan Inflasi Komoditas Tertentu ... 52

Tabel 34. Perkembangan Harga untuk Komoditas Terpilih ... 52

Tabel 35. Indeks Tendensi Bisnis Menurut Sektor Triwulan III Tahun 2015... 54

Tabel 36. Pertumbuhan dan Share PMTB Triwulan III Tahun 2015 (persen) ... 57

Tabel 37. Realisasi PMA dan PMDN Tahun 2007-2015 Triwulan III ... 58

Tabel 38. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMDN dan PMA Triwulan III Tahun 2015 Berdasar Sektor ... 58

Tabel 39. Lima Besar Sektor Realisasi Investasi Triwulan III Tahun 2015 ... 59

Tabel 40. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMDN Triwulan III Tahun 2015 Berdasarkan Lokasi (Rp Miliar) ... 60

Tabel 41. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMA Triwulan III Tahun 2015 Berdasarkan Lokasi (USD Juta) ... 60

Tabel 42. Lima Besar Lokasi Realisasi Investasi Triwulan III Tahun 2015 ... 61

Tabel 43. Lima Besar Negara Asal Realisasi Investasi PMA Triwulan III Tahun 2015 ... 61

Tabel 44. Status Perjanjian Ekonomi Internasional ... 62

Tabel 45. Ekspor ASEAN ke Tiongkok ... 63

Tabel 46. Impor ASEAN dari Tiongkok ... 64

Tabel 47. Presentase Penggunaan SKA terhadap Total Ekspor Indonesia ... 65

Tabel 48. Ekspor Indonesia-ASEAN ... 67

Tabel 49. Impor Indonesia-ASEAN ... 67

Tabel 50. Posisi Cadangan Devisa Dunia (triliun USD) ... 69

Tabel 51. Penurunan Suku Bunga Bank Sentral Berbagai Negara Triwulan II Tahun 2015 (persentase) ... 71

Tabel 52. Tingkat Inflasi Global (YoY) ... 73

Tabel 53. Tingkat Inflasi Domestik ... 74

Tabel 54. Tingkat Inflasi Domestik berdasarkan Komponen ... 74

Tabel 55. Inflasi berdasarkan Sumbangan (Share) ... 74

Tabel 56. Berdasarkan Kelompok Pengeluaran (YoY) ... 75

Tabel 57. Nilai Investasi Dan Jumlah Proyek PMA Sektor Industri Triwulan III Tahun 2015 ... 92

Tabel 58. Nilai Investasi Dan Jumlah Proyek PMDN Sektor Industri Triwulan III Tahun 2015 ... 93

Tabel 59. Nilai Tukar Mata Uang ... 104

Tabel 60. Indeks Saham Global ... 105

Tabel 61. Indeks Harga Komoditas Internasional ... 106

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel)... 17

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2011- Triwulan III Tahun 2015 (persen) ... 19

Gambar 3. Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan III Tahun 2015 ... 24

Gambar 4. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia April 2014 – Oktober 2015 ... 25

Gambar 5. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan III Tahun 2015 ... 26

Gambar 6. Neraca Perdagangan Non-migas dan Migas Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan III Tahun 2015 ... 27

Gambar 7. Neraca Transaksi Finansial Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan III Tahun 2015 27 Gambar 8. Nilai dan Volume Ekspor Hingga September 2015 ... 43

Gambar 9. Nilai dan Volume Impor Hingga September 2015 ... 47

Gambar 10. Indeks Tendensi Bisnis Indonesia Triwulan I Tahun 2010 - Triwulan III Tahun 2015 ... 54

Gambar 11. Persentase Penggunaan SKA Preferensi terhadap Total SKA Preferensi ... 65

Gambar 12. Persentase Penggunaan SKA Non-Preferensi terhadap Total SKA Non-Preferensi ... 66

Gambar 13. Pertumbuhan Uang Beredar (YoY) ... 72

Gambar 14. Real Effective Exchange Rate ASEAN-5 (2010=100) ... 77

Gambar 15. Indeks Saham BRIC & Indonesia ... 79

Gambar 16. Indeks Saham ASEAN-3 & Indonesia ... 79

Gambar 17. Indeks Saham Negara Maju & Indonesia ... 79

Gambar 18. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Pangan Global ... 80

Gambar 19. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Mineral Global ... 81

Gambar 20. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Kebutuhan Pokok ... 82

Gambar 21. Perkembangan Kinerja Bank Umum di Indonesia ... 84

Gambar 22. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit di Indonesia ... 85

Gambar 23. Perkembangan Kredit Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya ... 85

Gambar 24. Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas (YoY, %) ... 87

Gambar 25. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Non Migas Triwulan III Tahun 2015 (YoY, %) ... 87

Gambar 26. Komposisi Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan Non-Migas ... 88

Gambar 27. Tenaga Kerja Sektor Industri (Juta Jiwa) ... 89

Gambar 28. Ekspor Produk Industri ... 89

Gambar 29. Perkembangan PMA Sektor Industri ... 90

Gambar 30. Perkembangan PMDN Sektor Industri ... 91

Gambar 31. Penjualan Mobil Di Indonesia Triwulan III Tahun 2015 ... 94

Gambar 32. Penjualan Motor Di Indonesia Triwulan III Tahun 2015 ... 95

Gambar 33. Penjualan Semen Di Indonesia Triwulan III Tahun 2015 (Juta Ton) ... 96

Gambar 34. Pertumbuhan Sektor Konstruksi dan Penjualan Semen Triwulan III Tahun 2015 ... 97

Gambar 35. Kredit Modal Kerja Dan Investasi Triwulan III Tahun 2015 ... 97

(11)

Gambar 37. Jumlah Wisatawan Mancanegara Menurut Kebangsaan Hingga Triwulan III Tahun

2015 ... 99

Gambar 38. Jumlah Wisatawan Mancanegara Menurut Lima Besar Pintu Masuk Utama ... 100

Gambar 39. Inflasi YoY 82 Kabupaten/ Kota Juli-September 2015 ... 102

(12)

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA

 Perekonomian Amerika Serikat tumbuh moderat sebesar 1,5 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015, melambat dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,3 persen (YoY).

 Perekonomian 28 negara Uni Eropa (EU28) tumbuh sebesar 1,9 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015, menguat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,3 persen (YoY).

 Sepanjang bulan Juli hingga September 2015, ekonomi Tiongkok tumbuh sebesar 6,9 persen (YoY), sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,2 persen (YoY).

(13)

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA

Perekonomian dunia hingga semester I tahun 2015 masih melambat akibat moderasi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Disisi lain, laju pertumbuhan

ekonomi negara-negara berkembang terhambat karena ketidakpastian

perekonomian global. Fluktuasi pasar keuangan juga meningkat tajam, seiring dengan penurunan harga komoditas dan tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara berkembang. Selain itu, perlambatan arus modal masuk dan kelanjutan kebijakan suku bunga dibawah ambang batas nol diperkirakan masih terjadi akibat kemungkinan pengetatan kebijakan yang dipengaruhi oleh kondisi keuangan eksternal. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat sejalan dengan perkiraan, namun dampak antar wilayah lebih besar dari perkiraan awal. Hal ini menggambarkan pelemahan harga komoditas khususnya baja dan tingkat ekspor Tiongkok.

Harga komoditas mengalami pelemahan pada triwulan III tahun 2015. Hal ini disebabkan oleh supply minyak yang tetap tinggi dan kemungkinan output yang terus meningkat, seiring dengan kesepakatan nuklir dengan Iran dan penurunan permintaan global. Harga komoditas logam juga mengalami penurunan bersamaan dengan pelemahan permintaan global, karena perlambatan aktivitas manufaktur Tiongkok dan tingginya supply sebagai dampak boom investasi sektor pertambangan pada triwulan sebelumnya.

Perkembangan Ekonomi Amerika Serikat

Bureau Economic Analysis merilis revisi terakhir pertumbuhan ekonomi Amerika

Serikat triwulan II tahun 2015 yang sebelumnya tumbuh sebesar 3,7 persen menjadi tumbuh sebesar 3,9 persen (YoY). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tahun 2015 disebabkan oleh pelemahan belanja pemerintah. Meskipun demikian, kenaikan belanja konsumen, dan ekspor lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh moderat sebesar 1,5 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015, melambat dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,3 persen (YoY). Kondisi ini disebabkan oleh perlambatan akumulasi persediaan karena adanya upaya sektor bisnis mengurangi stok di gudang yang berlimpah.

(14)

Konsumsi barang mengalami kenaikan sebesar 4,5 persen (YoY), dan konsumsi jasa naik sebesar 2,6 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015. Belanja konsumen yang menguat seperti furnitur dan jasa seperti asuransi dan jasa kesehatan yang meningkat lebih dari dua kali lipat.

Belanja Pemerintah Amerika Serikat secara keseluruhan tumbuh sebesar 1,7 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015, melambat dibandingkan triwulan III tahun 2014 sebesar 1,8 persen (YoY). Pengeluaran pemerintah pusat hanya tumbuh sebesar 0,2 persen (YoY) dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,7 persen. Di sisi lain, belanja pemerintah untuk bidang pertahanan terkontraksi sebesar 1,4 persen, meningkat setelah tumbuh sebesar 4,5 persen (YoY). Belanja pemerintah non-pertahanan mengalami pertumbuhan sebesar 2,8 persen pada triwulan III tahun 2015, menguat setelah tumbuh 2,5 persen (YoY) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sama hal nya dengan belanja pemerintah pusat, belanja pemerintah daerah mengalami kenaikan dengan tumbuh sebesar 2,6 persen (YoY), sedangkan triwulan III tahun 2014 tumbuh sebesar 0,6 persen (YoY).

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY) 2014 2015 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Pertumbuhan Ekonomi –0,9 4,6 4,3 2,1 0,6 3,9 1,5

Konsumsi 1,3 3,8 3,5 4,3 1,8 3,6 3,2

Barang 1,1 6,7 4,1 4,1 1,1 5,5 4,5

Jasa 1,4 2,4 3,1 4,3 2,1 2,7 2,6

Investasi –2,5 12,6 7,4 2,1 8,6 5,0 -5,6

Ekspor -6,7 9,8 1,8 5,4 -6,0 5,1 1,9

Impor 2,8 9,6 -0,8 10,3 7,1 3,0 1,8

Belanja Pemerintah 0,0 1,2 1,8 –1,4 -0,1 2,6 1,7 Belanja Pemerintah Pusat 0,3 –1,2 3,7 –5,7 1,1 0,0 0,2 Belanja Pertahanan –4,6 –0,5 4,5 –10,3 1,0 0,3 -1,4 Belanja Non-Pertahanan 8,9 2,2 2,5 2,1 1,2 0,5 2,8

Belanja Pemerintah Daerah –0,2 2,6 0,6 1,3 –0,8 4,3 2,6

Sumber: Bureau of Economic Analysis, 2015

(15)

penurunan harga komoditas dunia termasuk minyak mentah, serta perbaikan kosumsi dalam negeri, pasar tenaga kerja, dan apresiasi mata uang dolar. Pada bulan September 2015, The Fed mempertahankan federal fund rate (FFR) karena perlambatan penciptaan lapangan kerja, tingkat pengangguran tetap stagnan, dan tingkat inflasi juga masih berada dibawah target.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat merilis neraca perdagangan pada bulan September 2015 masih menunjukkan posisi defisit mencapai USD 40,8 miliar, menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD 48,0 miliar. Defisit perdagangan barang turun menjadi sebesar USD 60,3 miliar, sedangkan sektor jasa mengalami penurunan surplus menjadi sebesar USD 19,5 miliar. Ekspor barang dan jasa naik dari USD 3,0 miliar menjadi USD 187,9 miliar. Kinerja ekspor barang meningkat terutama disebabkan oleh peningkatan barang modal dan barang konsumsi khususnya barang antik, perangko serta perhiasan. Sementara itu, ekspor jasa mengalami sedikit kenaikan disebabkan oleh peningkatan bisnis jasa (jasa penelitian dan pembangunan, jasa manajerial dan profesional, jasa hubungan dan teknis perdagangan) dan transportasi (termasuk jasa pelabuhan dan tarif penumpang). Impor barang dan jasa meningkat USD 4,2 miliar menjadi USD 228,7 miliar, dengan peningkatan pada impor barang yang disebabkan oleh kenaikan pada barang konsumsi, barang modal, serta bahan dan penawaran barang industri. Sedangkan impor jasa berupa peningkatan biaya untuk transportasi (termasuk jasa pelabuhan dan tarif penumpang) dan wisata (untuk semua tujuan termasuk pendidikan).

Berdasarkan Bureau of Labor Statistics, jumlah pengangguran hingga bulan September 2015 turun sebesar 400.000 orang menjadi 7,9 juta orang. Dalam 12 bulan terakhir tingkat pengangguran turun 0,8 persen atau sebesar 1.300.000 orang. Kenaikan jumlah lapangan kerja baru tersebar luas di berbagai sektor, diantaranya pada bisnis jasa dan profesional, kesehatan, perdagangan retail, bisnis jasa makanan dan minuman. Pada bulan September 2015, penyerapan tenaga kerja di sektor non-pertanian sebesar 142.000 orang. Kondisi ini menunjukkan perlambatan dua bulan berturut-turut, setelah data jumlah lapangan kerja AS bulan Agustus 2015 hanya naik sebesar 136.000. Tingkat partisipasi angkatan kerja AS bulan September 2015 sebesar 62,4 persen atau menurun dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 62,7 persen. Hal ini menunjukkan partisipasi tenaga kerja turun ke tingkat terendah dalam 38 tahun. Pelemahan data tenaga kerja AS disebabkan oleh perlambatan ekonomi Tiongkok yang berdampak terhadap penurunan harga komoditas dan kondisi finansial global, serta mempengaruhi kekuatan ekonomi AS.

Perkembangan Ekonomi Uni Eropa

(16)

2010 masih berjalan lambat. Perlambatan Ekonomi di kawasan Eropa dan Uni Eropa pada triwulan III tahun 2015 disebabkan oleh net perdagangan Kawasan Eropa dengan seluruh dunia yang tercatat negatif, seperti yang terjadi pada negara Jerman, Perancis dan Italia. Selain itu, perlambatan ekonomi global, pelemahan mata uang Euro, dan penguatan permintaan dalam negeri yang mendorong impor juga berkontribusi negatif bagi perekonomian.

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Eropa dan Uni Eropa Pertumbuhan PDB (%)

Tahunan (YoY) Triwulanan (QtQ) Q3-14 Q3-15 Q2-15 Q3-15 Kawasan Eropa (U19) 0,8 1,6 0,4 0,3

Uni Eropa (U28) 1,3 1,9 0,4 0,4

Sumber: Eurostat

Berdasarkan publikasi Eurostat, Rumania diperkirakan menjadi negara di kawasan Eropa yang mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan III tahun 2015, yaitu sebesar 1,4 persen (QtQ). Sementara, perekonomian Jerman diperkirakan sedikit melambat dengan tumbuh 0,3 persen (QtQ), dibandingkan triwulan II tahun 2015 yang tumbuh hanya 0,4 persen. Finlandia menjadi negara yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi paling dalam pada triwulan III tahun 2015, yang besarnya 0,6 persen (QtQ). Di sisi lain, perekonomian Portugal diperkirakan mengalami stagnasi pada triwulan III tahun 2015. Sedangkan Italia, Perancis, dan Spanyol dalam tren positif yang diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 0,2 persen (QtQ), 0,3 persen (QtQ), dan 0,8 persen (QtQ). Perekonomian Yunani diperkirakan terkontraksi sebesar 0,5 persen, setelah sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 0,4 persen pada triwulan II tahun 2015.

Pada bulan September 2015, indeks harga sektor industri dari keseluruhan industri di kawasan Eropa dan Uni Eropa kembali mengalami penurunan sebesar 3,1 persen (YoY), dan 3,8 persen (YoY). Sementara, produksi industri di kawasan Eropa dan Uni Eropa mengalami peningkatan dengan tumbuh sebesar 1,7 persen (YoY), dan 1,8 persen (YoY), dibandingkan periode waktu yang sama tahun sebelumnya. Produksi industri meningkat disebabkan oleh kenaikan produksi barang modal sebesar 2,2 persen, barang konsumsi tidak tahan lama sebesar 2,1 persen, barang setengah jadi sebesar 1,8 persen, dan barang konsumsi tahan lama sebesar 2,6 persen dibandingkan September 2014. Sementara itu, produksi sektor industri yang menguat di kawasan Uni Eropa disebabkan oleh peningkatan barang modal sebesar 2,7 persen, barang konsumsi tahan lama dan tidak tahan lama sebesar 1,7 persen, produksi energi sebesar 0,1 persen, serta barang setengah jadi sebesar 1,4 persen dibandingkan bulan September 2014.

(17)

meningkat dibandingkan bulan September 2014 yang besarnya EUR 17,4 miliar. Pada September 2015, negara-negara Uni Eropa juga mengalami surplus sebesar EUR 4,3 miliar, meningkat dibandingkan bulan September 2014 yang surplus sebesar EUR 2,0 miliar. Sejalan dengan tren positif neraca perdagangan Eropa, volume perdagangan ritel bulan September 2015 di kawasan Eropa meningkat sebesar 2,9 persen (YoY) dan 3,7 persen (YoY) di Uni Eropa dibandingkan bulan September 2014. Hal ini disebabkan oleh kenaikan penjualan pada sektor non-makanan sebesar 4,0 persen, bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 5,3 persen serta sektor makanan, minum, dan tembakau sebesar 1,6 persen. Di sisi lain, peningkatan volume perdagangan Uni Eropa karena penjualan pada sektor non-makanan naik sebesar 4,9 persen, dan sektor non-makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 2,3 persen, serta bahan bakar kendaraan bermotor naik sebesar 5,3 persen.

Kondisi fiskal di kawasan Eropa dan Uni Eropa menunjukkan perbaikan. Rasio defisit anggaran pemerintah terhadap PDB pada triwulan II tahun 2015 di kawasan Eropa menjadi sebesar 2,0 persen, sedikit menurun dibandingkan triwulan I tahun 2015 yang besarnya 2,1 persen. Defisit anggaran pemerintah terhadap PDB di Uni Eropa juga menurun dari triwulan I tahun 2014 sebesar 2,5 persen menjadi 2,4 persen pada triwulan II tahun 2015. Sementara itu, perbaikan fiskal di kawasan Eropa dan Uni Eropa diikuti perbaikan kondisi tingkat utang terhadap PDB. Pada triwulan II tahun 2015, di kawasan Euro tingkat utang mencapai 92,2 persen dari PDB, sedikit menurun jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 92,7 persen. Sejalan dengan penurunan tingkat utang terhadap PDB di kawasan Eropa, Uni Eropa juga mengalami penurunan tingkat utang sebesar 87,8 persen terhadap PDB dibandingkan triwulan I tahun 2015 yang besarnya 88,1 persen. Pada triwulan II tahun 2015, Yunani, Italia, dan Portugal menjadi negara dengan tingkat utang terhadap PDB tertinggi yaitu masing-masing sebesar 167,8 persen; 136,0 persen; dan 128,7 persen. Sementara itu negara dengan tingkat utang terhadap PDB terendah adalah Estonia yang besarnya 9,9 persen, Luxemburg yang besarnya 21,9 persen, dan Bulgaria yang besarnya 28,3 persen.

Perbaikan perekonomian negara-negara di kawasan Eropa diikuti oleh penurunan jumlah pengangguran. Tingkat pengangguran di kawasan Eropa pada bulan September mencapai 10,8 persen (YoY), menurun dibandingkan bulan September 2014 yang besarnya 11,5 persen (YoY). Tingkat pengangguran pada bulan September 2015 merupakan yang terendah sejak bulan Januari 2012. Sementara itu, tingkat pengangguran di Uni Eropa pada bulan September 2015 adalah sebesar 9,3 persen, menurun dibandingkan bulan September 2014 yang besarnya 10,1 persen.

Eurostat mengestimasi jumlah tenaga kerja di Uni Eropa sebanyak 22.631 juta

(18)

kawasan Eropa jika dibandingkan dengan bulan September 2014. Tingkat pengangguran tertinggi terdapat di Spanyol (21,6 persen), dan Yunani (25,0 persen pada bulan Juli 2015). Sementara itu tingkat pengangguran paling rendah adalah Jerman (4,5 persen), dan Republik Ceko (4,8 persen).

Perekonomian Tiongkok

Perekonomian Tingkok hingga triwulan III tahun 2015 masih dipengaruhi oleh pada perbaikan ekonomi global yang melemah dan tekanan pembangunan ekonomi dalam negeri. Pemerintah Tiongkok menerapkan perekonomian yang terus bergerak maju dengan tetap menjaga stabilitas, mendorong restrukturisasi, perbaikan regulasi makro ekonomi, reformasi yang lebih mendalam dan terbuka, mendukung kewirausahaan skala besar dan inovasi, serta meningkat supply barang dan jasa publik. Hal ini menyebabkan perekonomian Tiongkok secara bertahap masih melambat seiring dengan berlanjutnya reformasi struktural, meskipun mengarah pada kondisi yang positif.

Perekonomian Tiongkok bergerak pada jalur yang tepat, beberapa indikator ekonomi mengalami kenaikan secara stabil. Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tidak lagi menjadi prioritas. Sepanjang bulan Juli hingga September 2015, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 6,9 persen (YoY), menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,2 persen (YoY). Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan III tahun 2015 merupakan paling rendah sejak tahun 2009. Hal ini disebabkan oleh pelemahan investasi dan tekanan bagi perekonomian yang meningkat, setelah kebijakan pemotongan suku bunga dilaksanakan. Tiongkok mengharapkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan, serta dapat memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter untuk mencegah perlambatan tajam yang berdampak pada berkurangnya lapangan kerja dan pendapatan.

(19)

Investasi aset tetap Tiongkok pada triwulan III tahun 2015 tumbuh 10,3 persen (YoY). Sementara itu, anggaran pemerintah untuk invetasi mengalami kenaikan sebesar 20,5 persen (YoY). Berbeda dengan investasi lainnya, pinjaman dalam negeri dan investasi asing masing-masing mengalami penurunan 4,4 persen (YoY) dan 26,2 persen (YoY). Kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok yang fokus mendorong perbaikan konsumsi dalam negeri melalui penyaluran kredit, untuk mendorong pertumbuhan UMKM dan sektor pertanian. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan Tiongkok merilis penjualan retail barang konsumsi pada bulan September 2015 tumbuh 10,9 persen (YoY), melambat dibandingkan bulan September 2014 yang tumbuh sebesar 11,6 persen (YOY). Kondisi ini disebabkan oleh pelemahan penurunan harga minyak dan produk turunan minyak, seiring pertumbuhan penjualan padi-padian dan bahan makanan lainnya.

Sektor properti Tiongkok yang sempat terpuruk akibat perlambatan ekonomi pada semester I tahun 2014, secara bertahap semakin menguat. Pada triwulan III tahun 2015, penjualan bangunan perumahan dan bangunan komersial naik masing-masing sebesar 18,2 persen (YoY) dan 15,3 persen (YoY). Selain itu , total investasi di sektor

real estate selama semester I tahun 2015 sebesar CNY 7.053,4 miliar, atau tumbuh

sebesar 4,2 persen (YoY) diharapkan dapat memberikan sentimen positif dalam penguatan kinerja sektor properti Tiongkok. People's Bank of Tiongkok (PBoC) masih memiliki peluang untuk melaksanakan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendorong perekonomian yang melambat. Biro Statistik Nasional Tiongkok merilis IHK naik sebesar 1,6 persen (YoY) atau dibawah target pemerintah sebesar 3,0 persen. Bank Sentral memiliki kapasitas lebih lanjut untuk memacu pinjaman, meskipun telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali sejak November 2014. Dengan demikian, PBoC akan melakukan beberapa tindakan, diantaranya penerbitan surat utang bertenor tiga bulan secara mingguan, penambahan waktu perdagangan mata uang Yuan menjadi 7 jam (04.30 -11.30) mulai akhir bulan November 2015, dan melakukan perdagangan langsung antara mata uang Yuan dan mata uang Swiss, Franc.

(20)

akibat penurunan harga komoditas global, dan perbaikan pemintaan dalam negeri Tiongkok.

Tabel 3. Purchasing Manager IndexTM Tiongkok Tahun 2015 (YoY)

PMI Tiongkok

Agustus-15 September-15

HSBC 50,2 50,5

NBS Tiongkok 49,7 49,8

Sumber: HSBC PMITM dan National Bureau of Statistic Tiongkok, 2015

Perbaikan aktivitas manufaktur Tiongkok menunjukkan kinerja sektor manufaktur menguat selama dua bulan berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh permintaan terhadap barang ekspor yang meningkat. Namun demikian, indeks tenaga kerja diperkirakan terus menurun dan tekanan disinflasi yang meningkat. Hal ini menandai penurunan jumlah buruh pabrik terendah dalam lima setengah tahun. Pada bulan September 2015, aktivitas perekonomian di sektor manufaktur menunjukkan kestabilan. National Bureau of Statistic Tiongkok juga merilis data PMITM sebesar 49,8 sedikit menguat dibandingkan bulan Agustus 2015. Hal ini

disebabkan oleh indeks produksi, indeks permintaan baru, dan indeks waktu pengiriman dari supplier sebagai indikator pembentuk PMITM nilainya lebih tinggi

dari batas nilai indeks PMITM manufaktur Tiongkok yang besarnya 50,0. Kondisi ini

menggambarkan perekonomian Tiongkok momentum penguatan sektor manufaktur pada triwulan III tahun 2015, karena jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur dan inventori bahan mentah untuk produksi manufaktur masih berkurangnya. Dengan demikian, upaya bertahap untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja dari pemerintah sangat dibutuhkan.

Perekonomian Jepang

Perekonomian Jepang yang terus stagnan mendorong pemerintah di bawah Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe telah mencanangkan kebijakan baru yang dikenal sebagai Abenomics. Sejak awal tahun 2013, Jepang memberlakukan perubahan rezim moneter, yaitu bank sentral Jepang menetapkan target inflasi sebesar 2,0 persen. Pemerintah Shinzo Abe mendukung perubahan ini dengan kebijakan fiskal dan reformasi struktural. Kebijakan fiskal yang dilaksanakan pemerintah Jepang yaitu menaikkan pajak penjualan menjadi 8,0 persen pada bulan April 2014, dan 10,0 persen pada bulan Oktober 2015. Kebijakan kenaikan pajak penjualan dilaksanakan untuk membayar tingkat utang pemerintah Jepang yang besar, dimana tingkat utang pemerintah ini merupakan terburuk di antara negara-negara maju. Sedangkan kebijakan reformasi struktural yang dilakukan pemerintah Jepang salah satunya adalah dengan merelaksasi kekakuan pasar tenaga kerja.

(21)

ekonomi. Pelemahan ekonomi Jepang menjadi hambatan bagi supply side termasuk

labor shortage, akibat aging population yang meningkat semakin cepat. Selain itu,

perekonomian Jepang masih berada dalam jerat deflasi selama lebih dari 15 tahun. Seiring dengan penurunan pertumbuhan ekonomi Jepang, tingkat pengangguran mengalami kenaikan. Pengangguran Jepang pada bulan September 2015 tumbuh 0,0 persen (MtM) dibandingkan bulan Agustus 2015 yang besarnya 3,4 persen (MtM). Namun demikian, jumlah pengangguran secara tahunan menurun hingga sebesar 2,6 persen (YoY) atau menjadi sebesar 2,27 juta orang dibandingkan bulan September 2014.

Pemerintah Jepang berada dalam posisi sulit, kenaikan pajak penjualan untuk mengurangi beban utang pemerintah semakin membuat perekonomian Jepang terpuruk. Di sisi lain, kebijakan Abenomics yang pro pengeluaran semakin menambah utang pemerintah. Namun demikian, Pemerintah Jepang belum merencanakan penambahan anggaran untuk membiayai perangkat stimulus ekonomi, walaupun kebijakan tersebut dapat menguatkan permintaan. Demikian hal nya dengan pemerintah Jepang, Bank of Japan (BOJ) belum melakukan kembali pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh perekonomian Jepang masih berada pada jalur perbaikan yang moderat. BOJ sebelumnya telah mengucurkan stimulus moneter melalui pembelian obligasi tahunan pemerintah sebesar JPY 80 triliun. Melalui penundaan kebijakan pelonggaran baik kuantiatif maupun kualitatif, BOJ berharap pengetatan pasar tenaga kerja dapat mendorong upah dan mempercepat pertumbuhan harga. Selain itu, pembelian obligasi pemerintah terus menerus untuk mendorong inflasi, serta berakibat pada berkurangnya likuditas dan mendistorsi pasar.

(22)

Perekonomian Singapura

Perlambatan ekonomi Singapura pada triwulan III tahun 2015 disebabkan oleh

rebalancing ekonomi Tiongkok, kontraksi sektor manufaktur akibat permintaan

global yang tidak menentu, dan ketidakpastian perbaikan ekonomi global. Perekonomian Singapura sangat dipengaruhi oleh siklus bisnis global akibat keterkaitan investasi dan perdagangan yang besar, sehingga permasalahan eksternal akan berdampak besar terhadap kinerja perekonomian dalam negeri Singapura. Namun demikian, pertumbuhan sektor jasa yang solid membawa perekonomian Singapura terhindar dari resesi.

Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi Singapura Tahun 2015

Tahunan (YoY) Triwulanan (QtQ) Q3-14 Q3-15 Q2-15 Q3-15 Pertumbuhan Ekonomi 2,8 1,9 2,6 1,9

Manufaktur 1,7 -6,2 0,9 -4,6

Konstruksi 1,1 1,6 0,7 -1,6

Perdagangan Retail dan

Grosir 2,1 6,8 1,9 5,3

Asuransi dan Keuangan 9,9 4,8 7,9 -0,4

Akomodasi dan Jasa Makanan 1,0 0,9 4,5 11,9

Bisnis Jasa 2,6 1,5 2,5 2,6

Sumber: Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Singapura

Seiring dengan perlambatan ekonomi, kinerja perdagangan luar negeri Singapura mengalami penurunan. Berdasarkan Departement of Statistics Singapore, kinerja ekspor terkontraksi sebesar 8,9 persen (YoY), menurun dibandingkan bulan September 2014. Sementara, kinerja impor juga terkontraksi sebesar 10,9 persen (YoY), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan kinerja ekspor disebabkan oleh penurunan tajam ekspor minyak domestik yang terkontraksi hingga 37,9 persen (YoY) dan re-ekspor minyak sebesar 0,1 persen (YoY). Namun, penguatan ekspor domestik non-minyak sebesar 0,3 persen (YoY), belum dapat mendorong secara optimal laju pertumbuhan ekspor pada bulan September 2015.

(23)

sedikit penguatan manajemen keuangan, asuransi dan segmen lainnya. Sementara, pertumbuhan di sektor bisnis jasa yang cenderung melambat disebabkan pelemahan segmen sewa dan leasing serta jasa administrasi dan pendukung.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Singapura memperkirakan tahun 2015 negara tersebut akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cenderung moderat. Sektor yang berorientasi eksternal seperti asuransi dan keuangan, serta perdagangan besar akan mendukung pertumbuhan. Namun, sektor manufaktur diperkirakan tetap melemah. Penurunan harga minyak mentah akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan sektor kelautan dan lepas pantai. Pertumbuhan sektor berbasis padat kerja seperti retail dan jasa makanan juga diperkirakan melambat, karena pengetatan pasar tenaga kerja. Dengan demikian, pemerintah Singapura akan menjaga pertumbuhan ekonomi pada level 1,0-3,0 persen.

OUTLOOK

EKONOMI DUNIA 2015-2016

Tabel 5. Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurut IMF WEO-IMF Realisasi Perkiraan Kelompok Negara 2014 2015 2016 Dunia 3,4 3,1 3,6 Negara Maju 1,8 2,0 2,2

Amerika Serikat 2,4 2,6 2,8

Kawasan Eropa 0,9 1,5 1,6

Negara Berkembang 4,6 4,0 4,5

Tiongkok 7,3 6,8 6,3

ASEAN-5 4,6 4,6 4,9 Amerika Latin dan

Karibia 1,3 -0,3 0,8 Sub Sahara Afrika 5,0 3,8 4,3

Sumber: World Economic Outlook, Oktober 2015

Resiko ketidakpastian aktivitas ekonomi global masih menandai kelanjutan pelemahan kondisi ekonomi negara-negara berkembang dan perbaikan ekonomi negara-negara maju yang berjalan lambat. Potensi pertumbuhan PDB dunia yang masih terkoreksi pada tahun 2015 disebabkan oleh penurunan harga komoditas, depresiasi mata uang negara-negara berkembang, dan volatilitas pasar keuangan terus meningkat. Namun demikian, aktivitas perekonomian global mengalami sedikit penguatan pada tahun 2016. Perbaikan ekonomi negara-negara maju yang dimulai tahun 2014 diperkirakan semakin menguat. Disisi lain, beberapa proyeksi pertumbuhan negara-negara berkembang mengalami kenaikan secara bertahap diantaranya Brazil, Rusia, beberapa negara Amerika Latin, dan Timur Tengah, meskipun perekonomian Tiongkok diperkirakan masih melambat.

(24)

menurun akibat penguatan dolar terjadi pada tahun 2016. Di sisi lain, perekonomian di kawasan Eropa diperkirakan terus membaik dan pertumbuhannya cenderung moderat. Penurunan harga minyak dunia, kebijakan moneter longgar, dan depresiasi mata uang Euro. Pemulihan ekonomi Eropa diperkirakan melambat tidak hanya disebabkan oleh demografi dan perlambatan total faktor produksi. Dengan demikian, perkiraan pertumbuhan ekonomi Eropa cenderung moderat dan kenaikan tingkat inflasi.

Sementara, pertumbuhan ekonomi negara berkembang masih akan cenderung melambat pada tahun 2015. Hal ini disebabkan oleh moderasi pertumbuhan investasi Tiongkok khususnya di sektor perumahan. IMF memperkirakan aksi kebijakan dari pemerintah Tiongkok sejalan dengan berkurangnya kerentanan terhadap percepatan pertumbuhan kredit dan investasi. Selain itu, implementasi reformasi struktural, penurunan harga minyak mentah dan komoditas lainnya diperkirakan mendorong ekspansi aktivitas ekonomi yang berorientasi konsumen, dan mengurangi perlambatan. Disisi lain, penguatan ekonomi India diperkirakan terjadi akibat reformasi kebijakan seiring dengan kenaikan investasi dan penurunan harga komoditas. Perlambatan ekonomi ASEAN-5 dipengaruhi oleh pelemahan term

of trade Malaysia, serta perbaikan ekonomi Thailand, Filipina, dan Vietnam akibat

penurunan harga minyak mentah.

Sementara itu, kondisi ekonomi di kawasan Amerika Latin dan Karibia diperkirakan masih melambat pada tahun 2015, dan pertumbuhan cenderung moderat pada tahun 2016. Proyeksi penurunan harga komoditas menekan kinerja perekonomian beberapa negara eksportir komoditas di Amerika Latin. Sementara itu, Brazil sebagai salah satu perekonomian terbesar diperkirakan kembali tumbuh dibawah prediksi. Penurunan kepercayaan konsumen dan bisnis, serta permintaan dalam negeri terjadi akibat gangguan politik, penurunan investasi secara cepat, dan pengetatan kebijakan makroekonomi. Selain itu, Venezuela diperkirakan mengalami resesi yang cukup dalam pada tahun 2015 dan 2016, karena harga minyak mentah terus menurun sejak bulan Juni 2014 telah memperburuk ketidakseimbangan makroekonomi dan memberi tekanan bagi neraca pembayaran.

(25)

Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia (YoY) Pertumbuhan PDB (%)

2014 2015 2016 ADO Update ADO Update Asia 6,2 6,3 5,8 6,3 6,0

Asia Timur 6,5 6,5 6,0 6,3 6,0

Tiongkok 7,3 7,2 6,8 7,0 6,7

Jepang -0,1 1,1 1,5 1,4 1,6

Asia Selatan 6,8 7,2 6,9 7,6 7,3

Asia Tengah 5,1 3,5 3,3 4,5 4,2

ASEAN 4,4 4,9 4,4 5,3 4,9

Singapura 2,9 3,0 2,1 3,4 2,5

Sumber: Asian Development Outlook, 2015

Pada bulan September 2015, ADB mengeluarkan proyeksi mengenai pertumbuhan negara berkembang di Asia tahun 2015 dan 2016. Perekonomian negara-negara berkembang Asia tahun 2015 dan 2016 kembali dikoreksi, karena lambatnya perbaikan ekonomi beberapa negara maju, serta moderasi proyeksi pertumbuhan negara Tiongkok dan India. Prospek perlambatan negara-negara berkembang Asia menyebar ke seluruh kawasan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara diperkirakan masih cenderung moderat. Sementara, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tengah menunjukkan pelemahan. ADB memprediksi pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur masih melambat akibat permintaan eksternal yang melemah, meskipun terdapat stimulus fiskal di Korea Selatan dan kebiijakan akomodatif pemerintah Tiongkok. Perlambatan ekonomi di kawasan Asia Timur paling dirasakan oleh negara Mongolia dimana penurunan penanaman modal asing, output pertanian, dan kelanjutan kebijakan moneter ketat yang diberlakukan pemerintah. Selain itu, kinerja ekspor negara Taiwan mengalami penurunan akibat perlambatan ekonomi Tiongkok. Pada tahun 2016, kinerja perekonomian di negara-negara maju diasumsikan mengalami perbaikan yang akan berdampak positif bagi negara-negara di kawasan Asia Timur kecuali Tiongkok.

(26)

Aktivitas perekonomian Jepang terkontraksi sebesar 1,2 persen pada triwulan II tahun 2015, dimana pelemahan permintaan baik dalam maupun luar negeri. Konsumsi swasta juga terkontraksi sebesar 1,6 persen akibat kenaikan upah yang relatif kecil dan udara dingin di bulan Juni 2015. Sementara itu, investasi Jepang cenderung volatile, dimana investasi perumahan swasta meningkat tetapi investasi bisnis justru mengalami penurunan. Selain itu, permintaan terhadap ekspor Jepang yang terus berkurang pada triwulan II tahun 2015 seiring penurunan ekspor riil di berbagai negara. Namun demikian, penguatan profit perusahaan swasta, depresiasi mata uang Yen, dan penurunan harga minyak mentah mendorong perkiraan pertumbuhan positif ekonomi Jepang. Fluktuasi pasar keuangan, devaluasi mata uang Tiongkok, dan depresiasi mata uang negara lain di Asia dapat menekan permintaan ekspor Jepang. Konsumsi dalam negeri dan investasi diproyeksikan mengalami perbaikan, meskipun fase perlambatan permintaan eksternal diperkirakan tetap terjadi.

Sementara itu, estimasi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan pada tahun 2015 menurun disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi India yang cenderung moderat, perlambatan ekonomi di negara-negara maju, perdagangan global, penundaan mengenai reformasi struktural India yang berakhir deadlock di Parlemen. Disisi lain, perlambatan aktivitas ekonomi negara-negara lain dapat memberi sentimen negatif bagi pertumbuhan kawasan Asia Selatan. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan pendapatan sektor pariwisata Maladewa dan pemulihan ekonomi akibat gempa besar di Nepal berjalan lambat, meskipun permintaan dalam negeri Bangladesh dan Pakistan cukup kuat.

Perekonomian di kawasan Asia Tengah diperkirakan kembali melemah seiring dengan penurunan harga komoditas, dan perlambatan ekonomi Federasi Rusia. Pada tahun 2015, pertumbuhan negara-negara eksportir energi seperti Azerbaijan, Kazakhstan, Turkmenistan, serta Uzbekistan melambat akibat penurunan harga minyak mentah dan gas. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negara-negara importir energi seperti Armenia, Georgia, Kirgiztan, serta Tajikistan juga melambat karena pelemahan konsumsi domestik akibat remittances yang lebih rendah. Pada tahun 2016, pelemahan ekonomi pada sebagian besar negara-negara eksportir akibat

perlambatan ekonomi Federasi Rusia dan Tiongkok akan menahan laju

pertumbuhan ekonomi di Kawasan Asia Tengah.

(27)

2016, perekonomian ASEAN diperkirakan membaik melalui peningkatan ekspor dan investasi pemerintah, seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi global.

Dalam publikasi Asian Development Outlook 2015, proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura dikoreksi turun disebabkan oleh revisi turun pertumbuhan ekspor pada sebagian besar negara tujuan ekspor, serta kontraksi pertumbuhan pada sektor manufaktur yang menyebabkan penurunan output rekayasa transportasi, dan industri biomedis. Pertumbuhan yang moderat juga ditunjukkan oleh perkiraan tumbuhnya sektor jasa khususnya perdagangan besar, retail, bisnis jasa, dan konstruksi. Pada sisi penerimaan, kenaikan konsumsi swasta akan mendorong pengeluaran konsumsi, meskipun permintaan dalam negeri masih melemah akibat penurunan inventoris.

PERKEMBANGAN HARGA MINYAK DUNIA

Pada triwulan III tahun 2015, pergerakan harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi akibat kekhawatiran pasar minyak mentah akibat kondisi oversupply. Tren harga minyak mentah cenderung volatile pada triwulan III tahun 2015 disebabkan oleh penghapusan sanksi ekonomi terkait kesepakatan nuklir Iran, serta publikasi IEA dan OPEC pada bulan September 2015 merevisi naik tingkat permintaan minyak mentah pada Triwulan III tahun 2015 berturut-turut sebesar 0,45 juta barel per hari dan 0,04 juta barel per hari dibandingkan publikasi sebelumnya. Selain itu, penurunan Oil Rig Count di Amerika Serikat turun selama empat minggu berturut-turut di bulan September 2015 hingga 35 rig, dan tingkat stok minyak mentah sektor komersial Amerika Serikat akhir bulan September 2015 lebih rendah 1,4 juta barel dibandingkan dengan stok pada akhir bulan sebelumnya. Kondisi ini dapat mendorong harga minyak mentah sedikit menguat, mengingat Amerika Serikat merupakan konsumen minyak kedua terbesar di dunia.

Tabel 7. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barel)

Harga Minyak Mentah Dunia

Rata-rata

Triwulanan Rata-rata Bulanan

2015 2015

Q1 Q2 Q3 Juli Agts Sept

Crude Oil (Rata-rata) 51.6 60.5 48.8 54.3 45.7 46.3

Crude Oil; Brent 53.9 62.1 50.0 55.9 47.0 47.2

Crude Oil; Dubai 52.2 61.4 49.9 56.3 47.2 46.2

Crude Oil; WTI 48.6 57.8 46.4 50.9 42.9 45.5

Indonesian Crude

Price Oil 51.6 60.5 45.9 51.81 42.8 43.1 Sumber: Pink Sheet World Bank, Kementerian ESDM

(28)

pada bulan Agustus 2015 mengalami kenaikan 0,013 juta barel per hari atau menjadi 31,54 juta barel per hari. Selain itu, laporan Energy Information

Administration menyatakan tingkat stok dan distillate fuel oil Amerika Serikat

selama akhir bulan September 2015 masing-masing mengalami peningkatan 4,6 juta barel, dan 1,9 juta barel dibandingkan bulan sebelumnya. Untuk kawasan Asia Pasifik, penguatan harga minyak mentah disebabkan oleh kenaikan permintaan naphta dan gas/minyak diesel untuk industri petrochemical di Korea Selatan, dan potensi peningkatan permintaan Kondensat dari Indonesia, sesuai dengan rencana akan beroperasinya Kilang TPPI (kapasitas 0,1 juta barel per hari) mulai bulan Oktober 2015. Namun demikian, penurunan impor minyak mentah Tiongkok di bulan Agustus 2015 sebesar 4.1 juta mt dibandingkan bulan Juli 2015, dan permintaan minyak mentah jenis direct burning karena menurunnya intake pembangkit listrik di Jepang sempat menyebabkan pelemahan.

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel)

(29)

 Perekonomian Indonesia pada triwulan III tahun 2015 tumbuh sebesar 4,7 persen (YoY), melambat dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,9 persen (YoY).

 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III tahun 2015 defisit sebesar USD 4,6 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan defisit NPI pada triwulan II tahun 2015 yang besarnya USD 2,9 miliar.

(30)

PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Perekonomian Indonesia mengalami perlambatan pada triwulan III tahun 2015 dengan hanya tumbuh sebesar 4,7 persen (YoY), atau menjadi yang paling rendah sejak tahun 2009. Pada triwulan II tahun 2015 dan triwulan III tahun 2014, perekonomian Indonesia mampu tumbuh masing-masing sebesar 4,7 persen (YoY) dan 4,9 persen (YoY). Perlambatan ekonomi Indonesia terutama diwarnai oleh ketidakpastian perekonomian global yang disebabkan oleh ketidakpastian naik atau turunnya Fed Fund Rate dan devaluasi Yuan. Ketidakpastian tersebut menyebabkan volatilitas nilai tukar Rupiah, sehingga mempengaruhi kinerja ekspor dan impor.

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2011- Triwulan III Tahun 2015 (persen)

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sumber: Badan Pusat Statistik

Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi dipicu oleh melambatnya pertumbuhan sebagian besar lapangan usaha. Apabila dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014, sebanyak 12 lapangan usaha mengalami perlambatan (YoY). Kedua belas lapangan usaha tersebut adalah 1) Pertambangan dan Penggalian, 2) Pengadaan Listrik dan Gas, 3) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, 4) Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, 5) Jasa Perusahaan, 6) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, 7) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, 8) Jasa Lainnya, 9) Transportasi dan Pergudangan, 10) Industri Pengolahan, 11) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, dan 12) Real Estat.

(31)

Kinerja Pertambangan dan Penggalian pada triwulan III tahun 2015 melambat dengan kontraksi sebesar 5,6 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang melambat sebesar 0,8 persen (YoY). Penurunan pertumbuhan ini terjadi karena kontraksi pada Pertambangan Bijih Logam sebesar 16,1 persen (YoY). Pertambangan Batubara dan Lignit serta Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi terkontraksi masing-masing sebesar 19,5 persen dan 0,9 persen (YoY). Sementara itu, Pertambangan dan Penggalian Lainnya meningkat 13,3 persen (YoY).

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan III Tahun 2015 Menurut Lapangan Usaha (YoY)

URAIAN 2013 2014 2015

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 4,2 4,6 3,5 4,6 5,3 5,0 3,6 2,8 4,0 6,8 3,2 Pertambangan dan Penggalian 0,9 0,7 2,7 2,7 -2,0 1,1 0,8 2,2 -1,2 -6,2 -5,6 Industri Pengolahan 4,7 5,4 3,7 4,2 4,5 4,8 5,0 4,2 4,0 4,3 4,3 Pengadaan Listrik, Gas dan Produksi

Es 9,8 4,7 2,4 4,4 3,3 6,5 6,0 6,5 1,7 0,8 0,6 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 3,5 3,6 4,7 4,5 3,6 3,2 2,8 2,7 2,9 6,0 7,6 Konstruksi 5,4 6,3 6,5 6,2 7,2 6,5 6,5 7,7 6,0 5,4 6,8 Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 3,0 4,8 4,9 6,1 6,1 5,1 4,8 3,5 4,0 1,8 1,5 Transportasi dan Pergudangan 7,4 8,9 8,3 8,9 8,4 8,5 8,0 7,1 6,3 6,6 7,1 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 7,0 7,0 6,9 6,3 6,5 6,4 5,9 4,9 3,6 3,9 4,5 Informasi dan Komunikasi 10,6 11,4 10,1 9,5 9,8 10,5 9,8 10,0 10,1 9,8 10,8 Jasa Keuangan dan Asuransi 13,2 11,0 9,2 3,5 3,2 4,9 1,5 10,2 7,6 2,5 10,3 Real Estate 8,9 7,7 5,4 4,3 4,7 4,9 5,1 5,3 5,3 5,0 4,8 Jasa Perusahaan 7,8 7,6 8,2 8,0 10,3 10,0 9,3 9,7 7,4 7,6 7,6 Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

1,6 -2,1 6,4 3,8 2,9 -2,5 2,6 6,9 4,7 6,6 1,2 Jasa Pendidikan 11,7 3,2 8,6 9,4 5,2 5,4 7,3 7,1 5,9 12,2 8,3 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 6,9 5,2 8,3 10,7 7,7 8,5 9,9 6,1 7,3 8,2 6,5 Jasa lainnya 5,6 5,6 6,2 8,2 8,4 9,5 9,5 8,4 8,0 8,1 8,2

PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,6 5,6 5,5 5,6 5,1 5,0 4,9 5,0 4,7 4,7 4,7

Sumber: Badan Pusat Statistik

(32)

terjadi karena kontraksi pada pengadaan gas dan produksi es sebesar 6,4 persen (YoY).

Selain itu, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial meningkat sebesar 6,5 persen (YoY) meskipun melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan III tahun 2014 yang besarnya 9,9 persen (YoY). Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor juga melambat dengan hanya tumbuh sebesar 1,5 persen (YoY), lebih lambat dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,8 persen (YoY). Perlambatan ini dipengaruhi oleh Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor yang melambat sebesar 1,5 persen (YoY). Meskipun demikian, Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya tumbuh sebesar 1,6 persen (YoY).

Perlambatan pertumbuhan yang tinggi juga terjadi pada Jasa Perusahaan dengan pertumbuhan sebesar 7,6 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan III tahun 2014 yang besarnya 9,3 persen (YoY). Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga melambat, yaitu tumbuh sebesar 4,5 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 5,9 persen (YoY).

Sementara itu, Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib tumbuh sebesar 1,2 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015 atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan III tahun 2014 yang besarnya 2,6 persen (YoY). Jasa lainnya tumbuh sebesar 8,2 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 9,5 persen (YoY). Transportasi dan Pergudangan tumbuh 7,1 persen (YoY), lebih rendah dari pertumbuhan pada triwulan III tahun 2014 yang besarnya 8,0 persen (YoY). Perlambatan ini terjadi akibat perlambatan pertumbuhan Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan, Angkutan Laut, serta Angkutan Darat yang hanya tumbuh masing-masing sebesar 1,5 persen (YoY), 1,6 persen (YoY), dan 7,5 persen (YoY). Industri Pengolahan tumbuh sebesar 4,3 persen (YoY), juga melambat dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang besarnya 5,0 persen (YoY) akibat kontraksi yang besar pada Industri Tekstil dan Pakaian Jadi serta Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, masing-masing sebesar 6,1 persen (YoY) dan 3,8 persen (YoY).

(33)

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun 2015 ditopang oleh Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang masing-masing tumbuh sebesar 6,6 persen (YoY), 6,4 persen (YoY) dan 5,0 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang paling tinggi adalah Konsumsi Kolektif yang tumbuh sebesar 8,9 persen (YoY), meningkat signifikan dibanding disbanding triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 1,8 persen (YoY).

Tabel 9. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 (persen) Menurut Jenis Pengeluaran (YoY)

URAIAN 2013 2014 2015

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

Pengeluaran Konsumsi Rumah

Tangga 5,5 5,2 5,4 5,4 5,4 5,1 5,1 5,0 5,0 5,0 5,0

Pengeluaran Konsumsi LNPRT 6,5 6,4 6,7 12,8 23,7 22,8 5,6 -0,2 -8,3 -7,9 6,4 Pengeluaran Konsumsi

Pemerintah 3,0 3,2 12,4 7,9 6,1 -1,5 1,3 2,8 2,7 2,1 6,6

Pembentukan Modal Tetap

Domestik Bruto 7,9 5,5 6,0 2,1 4,7 3,7 3,9 4,3 4,4 3,7 4,6

Ekspor Barang dan Jasa 3,5 2,1 1,3 9,4 3,2 1,4 4,9 -4,5 -1,0 -0,1 -0,7 Dikurangi Impor Barang dan

Jasa 2,9 0,9 4,9 -0,9 5,0 0,4 0,3 3,2 -2,4 -6,9 -6,1

PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,6 5,6 5,5 5,6 5,1 5,0 4,9 5,0 4,7 4,7 4,7

Sumber : Badan Pusat Statistik

Pada triwulan III tahun 2015, Pengeluaran Konsumsi LNPRT (Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga) tumbuh sebesar 6,4 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi LNPRT pada triwulan III tahun 2014 yang besarnya 5,6 persen (YoY). Pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi LNPRT didorong oleh berbagai kegiatan persiapan menjelang PILKADA.

Sementara itu, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 6,6 persen (YoY), meningkat cukup berarti dibandingkan pada triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 1,3 persen (YoY). Peningkatan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah pada triwulan III tahun 2015 didorong oleh peningkatan konsumsi kolektif yang besarnya 8,9 persen (YoY) dan penurunan konsumsi individu sebesar 2,8 persen (YoY). Sementara itu, pada triwulan II tahun 2015 konsumsi kolektif terkontraksi sebesar 3,9 persen (YoY), dan sedangkan konsumsi individu tumbuh sebesar 12,9 persen (YoY).

(34)

sebesar 6,3 persen (YoY). Produk kekayaan intelektual dan CBR terkontraksi masing-masing sebesar 5,8 persen (YoY) dan 9,8 persen (YoY) pada triwulan III tahun 2015. Sementara itu, peralatan lainnya melambat dan tumbuh sebesar 7,3 persen (YoY).

Ekspor barang dan jasa masih menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia dimana ekspor barang dan jasa masih terkontraksi sebesar 0,7 persen (YoY), memburuk dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang pertumbuhannya mencapai 4,9 persen (YoY). Pertumbuhan negatif tersebut terjadi akibat perlambatan ekonomi negara mitra dagang seperti Amerika Serikat yang melemah dari 2,7 persen menjadi 2,0 persen, Tiongkok yang melambat dari 7,0 persen menjadi 6,9 persen, dan Singapura dari 1,7 persen menjadi 1,4 persen. Sementara itu, ekspor barang non-migas yang terkontraksi sebesar 2,6 persen (YoY). Selain itu, ekspor barang migas mengalami perlambatan sebesar 7,3 persen (YoY). Meskipun demikian, ekspor jasa mampu tumbuh tinggi sebesar 4,7 persen (YoY), meningkat dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang pertumbuhannya sebesar 1,6 persen (YoY). Di sisi lain, impor barang dan jasa terkontraksi sebesar 6,1 persen (YoY) atau menurun dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 0,3 persen (YoY). Penurunan pertumbuhan impor terjadi akibat terkontraksinya pertumbuhan impor barang non-migas dan jasa yang masing-masing tumbuh 8,0 dan 6,0 persen (YoY).

Indeks Tendensi Konsumen

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan III tahun 2015 mencapai 109,0 basis poin yang menunjukkan kondisi ekonomi konsumen sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan kondisi ekonomi konsumen disebabkan oleh peningkatan pada semua komponen indeks. Komponen pendapatan rumah tangga meningkat dengan nilai sebesar 108,4. Selain itu, komponen pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari serta tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan juga meningkat dengan nilai sebesar 109,1 basis poin. Tingkat optimisme konsumen ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II tahun 2015 yang mencapai 105,2.

Tabel 10. Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan III Tahun 2015 Menurut Sektor dan Variabel Pembentuknya

Variabel Pembentuk

(daging, ikan, susu, buah-buahan, dll) dan bukan makanan (pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, dan rekreasi)

112,5 108,5 113,2 113,0 100,7 105,6 111,6

Indeks Tendensi Konsumen 110,0 110,8 112,4 107,6 100,9 105,2 109,0

(35)

Meskipun pada triwulan III tahun 2015 pertumbuhan ITK menurun 3,0 persen (YoY), masih terdapat optimisme konsumen yang menganggap triwulan III tahun 2015 lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme konsumen pada triwulan IV tahun 2015 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2015 dengan ITK sebesar 102,6 basis poin. Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II tahun 2015 terutama didorong oleh penurunan perkiraan pendapatan rumah tangga sebesar 109,1 dan penurunan rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan sebesar 102,6.

Gambar 3.Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan III Tahun 2015

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3

2013 2014 2015

Indeks Tendensi

Konsumen 104.7 108 112 109.6 110 110.8112.4107.6100.9105.2 109 Kenaikan YoY (persen)

(RHS) -1.7 -0.7 0.8 0.9 5.06212.59260.3571-1.825-8.273-5.054-3.025 -10 112,6. Namun pada bulan September 2015, IKK mengalami pelemahan menjadi 97,5. Pada bulan Oktober, nilai IKK meningkat tipis menjadi sebesar 99,3. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 4 poin, meskipun Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) menurun 0,3 poin.

Tabel 11. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Januari –Oktober 2015

(36)

KETERANGAN

Pada bulan Oktober 2015, terjadi pelemahan IKE dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang disebabkan oleh persepsi responden terhadap penghasilan yang menurun dari 108,1 pada bulan September 2015 menjadi sebesar 106,7 pada bulan Oktober 2015. Selain itu, pelemahan IKE juga disebabkan oleh persepsi responden terhadap ketersediaan lapangan kerja yang juga menurun dari 68,6 pada bulan September 2015 menjadi sebesar 66,8 pada bulan Oktober 2015. Meskipun demikian, indeks persepsi responden terhadap ketepatan waktu pembelian barang tahan lama pada bulan Oktober 2015 sebesar 88,9 meningkat dibandingkan dengan bulan September 2015.

Sementara itu, IEK pada bulan Oktober 2015 sebesar 111,2 meningkat dibandingkan dengan IEK pada bulan September 2015 yang besarnya 107,2. Pada bulan Oktober 2015, indeks ekspektasi kegiatan usaha yang meningkat dari 106,9 pada bulan September 2015 menjadi 110,2 pada bulan Oktober 2015. Di sisi lain, indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja dan indeks ekspektasi penghasilan juga mengalami peningkatan masing-masing sebesar 6,7 dan 2,2 poin.

Gambar 4. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia April 2014 – Oktober 2015

Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt 2014 2015

Indeks Keyakinan Konsumen

(IKK) 120,6120,1116,5120,2120,2116,9107,4112,8111,3109,9112,697,5 99,3 Kenaikan YoY (persen) (RHS) 10,1 5,1 0 3 3,4 -1,1 -5,7 -3,5 -4,3 -8,3 -6,32-18,6-17,7

Gambar

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I  Tahun 2013 – Triwulan III Tahun 2015 Menurut Lapangan Usaha (YoY)
Gambar 4. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia April 2014 – Oktober 2015
Tabel 12. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan III Tahun 2015
Tabel 14. Pagu Dan Realisasi Pembiayaan Utang s.d. Triwulan III Tahun 2015 (Triliun Rupiah)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bila dibandingkan triwulan yang sama di tahun sebelumnya, perekonominan Kalimantan Selatan tumbuh sebesar 5,77 persen (y-o-y), dimana pertumbuhan tertinggi di

 Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (triwulan I-2016/y-o-y) mengalami pertumbuhan

Nilai ekspor produk industri Indonesia pada triwulan IV tahun 2014 mencapai USD 29,48 miliar atau mengalami penurunan sebesar -0,8 persen dibandingkan triwulan IV tahun 2013

Perekonomian Indonesia pada triwulan III tahun 2017 tumbuh sebesar 5,1 persen (YoY), lebih tinggi baik dari triwulan sebelumnya maupun triwulan yang sama tahun sebelumnya,

Jika dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya, posisi M2 pada akhir triwulan II tahun 2018 tumbuh 5,91 persen (YoY) sebesar Rp5.533,7 triliun, lebih rendah

Perseroan mengalami penurunan pendapatan usaha sebesar 12,02 persen hingga periode September 2014 menjadi US$239,26 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang

Capaian penerimaan pajak daerah tersebut mengalami penurunan sebesar 6 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya dimana pada triwulan III tahun 2018 capaian

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi kumulatif hingga triwulan III-2015 terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah, yakni sebesar 8,71 persen, diikuti