• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN EKONOMI TRIWULAN II TAHUN 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "LAPORAN EKONOMI TRIWULAN II TAHUN 2015"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia merupakan publikasi triwulanan yang diterbitkan oleh Kedeputian Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas.

Publikasi triwulan II tahun 2015 ini memberikan gambaran dan analisa mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan II tahun 2015. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II tahun 2015 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, perkembangan investasi dan kerja sama internasional, serta industri dalam negeri.

Sangat disadari bahwa publikasi ini masih jauh dari sempurna dan memerlukan banyak perbaikan dan penyempurnaan. Oleh sebab itu, masukan dan saran yang membangun dari pembaca tetap sangat diharapkan, agar tujuan dari penyusunan dan penerbitan publikasi ini dapat tercapai.

Jakarta, Agustus 2015

(3)

Ringkasan Eksekutif

Perekonomian dunia hingga semester I tahun 2015 masih melambat akibat perbaikan secara bertahap perekonomian negara-negara maju, dan perlambatan ekonomi negara-negara berkembang. Perekonomian Amerika Serikat triwulan II tahun 2015 tumbuh sebesar 3,7 persen, melambat dibandingkan triwulan II tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,6 persen (YoY). Perlambatan ini disebabkan oleh penurunan investasi non-residensial dan pelemahan belanja pemerintah.

Pada triwulan yang sama, perekonomian 28 negara Uni Eropa (EU28) tumbuh sebesar 1,4 persen (YoY), menguat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,0 persen (YoY). Meskipun demikian, perbaikan resesi ekonomi regional akibat krisis keuangan global 2008 dan krisis utang Eropa 2010 masih berjalan melambat. Perlambatan ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi Jerman yang berada di bawah perkiraan, stagnasi perekonomian Perancis, dan perekonomian Finlandia yang terkontraksi.

Pada semester I tahun 2015, kondisi ekonomi Tiongkok masih dihadapkan pada ketidakpastian kondisi ekonomi global dan ekonomi domestik, serta tekanan bagi pemerintah makin kuat. Sepanjang bulan April hingga Juni 2015 perekonomian Tiongkok tumbuh sebesar 7,0 persen (YoY), sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,5 persen (YoY).

Perekonomian Indonesia mengalami perlambatan pada triwulan II tahun 2015 dengan tumbuh sebesar 4,7 persen (YoY). Perlambatan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh pelemahan pertumbuhan investasi, konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga. Di samping itu, lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian tumbuh terkontraksi akibat pertambangan batubara yang menurun. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini diiringi dengan peningkatan inflasi beserta tren melemahnya nilai tukar Rupiah selama triwulan II tahun 2015. Tingkat inflasi Juni 2015 mencapai 7,3 persen (YoY) dengan nilai tukar Rupiah pada posisi akhir bulan Rp 13.339/USD.

Neraca perdagangan total Indonesia pada triwulan II tahun 2015 mengalami surplus sebesar USD 2.096,3 juta, hal itu disebabkan karena neraca perdagangan sektor non-migas mengalami surplus sebesar USD 4.822,3 juta. Sementara itu, neraca perdagangan sektor migas pada triwulan yang sama mengalami defisit sebesar USD 2.726,0 juta. Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia triwulan II tahun 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 195,4 persen (YoY).

(4)

sebesar USD 4,5 miliar (2,1 persen PDB). Sejalan dengan surplus NPI, cadangan devisa Indonesia pada triwulan II tahun 2015 mencapai USD 108,0 miliar atau setara dengan 6,8 bulan impor. Jumlah ini menurun dibanding triwulan I tahun 2015 yang mencapai USD 111,6 miliar (QtQ). Penurunan tersebut disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Realisasi investasi untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) semester I tahun 2015 sebesar Rp 85.459,2 miliar, lebih besar dari realisasi semester I tahun 2014 atau tumbuh sebesar 17,4 persen. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA), realisasi semester I tahun 2015 sebesar USD 13.936,1 juta, dan mengalami pertumbuhan negatif sebesar 2,5 persen dibandingkan semester I tahun 2014. Dalam lima tahun terakhir, utang pemerintah terus menunjukkan peningkatan. Sampai dengan triwulan II tahun 2015, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 2.864,2 triliun.

(5)

DAFTAR ISI

Pagu dan Realisasi Pembiayaan Utang ... 30

Posisi Utang Pemerintah ... 31

Surat Berharga Negara (SBN) ... 33

Pinjaman ... 36

ISU TERKINI PERDAGANGAN INTERNASIONAL... 38

Isu Terkini ... 38

Devaluasi Yuan, Ini Dampak Bagi Indonesia Menurut Mantan Menkeu Era SBY ... 38

Bentuk Depo Bapok Kita, Mendag Pangkas Rantai Distribusi ... 38

Menteri Perdagangan terbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No 48/M/DAG/PER/7/2015 tentang Ketentuan Umum di Bidang Impor guna mengatasi masalah dwelling time ... 39

Pemerintah Fasilitasi Permasalahan Investasi (debottlenecking) ... 40

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN ...41

Perkembangan Ekspor ... 41

Perkembangan Impor ... 45

Perkembangan Neraca Perdagangan ... 47

Kondisi Bisnis Indonesia Triwulan II Tahun 2015 ... 50

Perkembangan Harga Domestik ... 51

Perkembangan Harga Komoditi Internasional ... 51

PERKEMBANGAN INVESTASI ...54

Perkembangan Investasi... 54

(6)

Realisasi Per Sektor ... 55

Realisasi Per Lokasi ... 56

Realisasi per Negara ... 58

PERKEMBANGAN KERJA SAMA EKONOMI INTERNASIONAL ...59

Perkembangan Perjanjian Ekonomi Internasional Indonesia ... 59

Perkembangan Ekspor Impor Dalam Kerangka ASEAN-Tiongkok FTA... 59

Ekspor ASEAN Ke Tiongkok ... 60

Impor ASEAN Dari Tiongkok ... 60

Perkembangan Perjanjian Ekspor Berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) ... 61

Perkembangan Ekspor dan Impor Dalam Kerangka ASEAN FTA ... 63

Ekspor Impor Indonesia-ASEAN ... 63

Nilai Tukar Mata Uang Dunia ... 73

Indeks Harga Saham ... 75

Indeks Harga Komoditas Internasional ... 76

Harga Bahan Pokok Nasional ... 78

Respon Kebijakan Moneter ... 79

SEKTOR PERBANKAN ...80

Laporan Perkembangan Sektor Industri Triwulan I Tahun 2015 ...84

Pertumbuhan Industri Pengolahan ... 84

Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri ... 86

Data Penjualan Komoditas Industri Utama ... 89

Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja Industri ... 91

Jumlah Wisatawan ... 92

LAMPIRAN ... 95

Lampiran 1: Inflasi Domestik (lanjutan) ... 96

Lampiran 1: Inflasi Domestik (lanjutan) ... 97

Lampiran 2: Nilai Tukar Mata Uang ... 98

Lampiran 2: Nilai Tukar Mata Uang (lanjutan) ... 99

Lampiran 3: Indeks Saham Global ... 100

Lampiran 3: Indeks Saham Global (lanjutan) ... 101

Lampiran 4: Indeks Harga Komoditas Internasional ... 102

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY) ... 3

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Eropa dan Uni Eropa ... 5

Tabel 3. Purchasing Manager IndexTM Tiongkok Tahun 2015 (YoY) ... 8

Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi Singapura Tahun 2015 ... 9

Tabel 5.Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurut IMF ... 10

Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia (YoY) ... 12

Tabel 7. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barel) ... 14

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 Menurut Lapangan Usaha (YoY) ... 20

Tabel 9. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 (persen) Menurut Jenis Pengeluaran (YoY) ... 22

Tabel 10. Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015 Menurut Sektor dan Variabel Pembentuknya ... 23

Tabel 11. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Oktober 2014 – Juli 2015... 24

Tabel 12. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan II Tahun 2015 ... 28

Tabel 13.Perkembangan Pembiayaan Utang Pemerintah 2010 - Triwulan II Tahun 2015 (Triliun Rupiah) ... 30

Tabel 14. Pagu Dan Realisasi Pembiayaan Utang s.d. Triwulan II Tahun 2015 (Triliun Rupiah) ... 31

Tabel 15. Posisi Utang Pemerintah Tahun 2010 s.d. Triwulan II Tahun 2015 ... 32

Tabel 16. Persentase Pinjaman dan SBN Terhadap Total Utang Pemerintah Tahun 2010 – Triwulan II Tahun 2015 ... 32

Tabel 17. Posisi Outstanding Surat Berharga Negara 2010 – Triwulan II Tahun 2015 (triliun Rupiah) ... 33

Tabel 18. Realisasi Penerbitan Surat Berharga Negara s.d. Triwulan II Tahun 2015 (Neto) (Juta Rupiah) ... 34

Tabel 19. Posisi Kepemilikan SBN DOMESTIK Per 31 Triwulan II Tahun 2015 (triliun Rupiah) ... 35

Tabel 20. Realisasi Pembiayaan Utang Melalui Pinjaman 2010- Triwulan II 2015 (trilun Rupiah) ... 36

Tabel 21. Perkembangan Ekspor Triwulan II Tahun 2015 ... 41

Tabel 22. Perkembangan 10 Golongan Barang dengan Nilai Ekspor Non-Migas Terbesar Triwulan II Tahun 2015 ... 43

Tabel 23. Perkembangan 10 Golongan Barang dengan Volume Ekspor Non-Migas Terbesar Triwulan II Tahun 2015 ... 44

Tabel 24. Perkembangan Ekspor Non-Migas ke Negara Tujuan Utama Triwulan II Tahun 2015 ... 44

Tabel 25. Perkembangan Impor Triwulan II Tahun 2015 ... 45

Tabel 26. Perkembangan Impor Non-Migas Menurut Golongan Barang Terpilih Triwulan II Tahun 2015 ... 46

Tabel 27. Negara Utama Asal Impor Non-Migas Triwulan II Tahun 2015 ... 47

Tabel 28. Neraca Perdagangan Indonesia Triwulan II Tahun 2015 ... 48

Tabel 29. Neraca Perdagangan Indonesia-Tiongkok ... 48

Tabel 30. Neraca Perdagangan Indonesia-Jepang ... 48

Tabel 31. Neraca Perdagangan Indonesia-Amerika ... 49

(8)

Tabel 33. Indeks Tendensi Bisnis Menurut Sektor Triwulan II Tahun 2015 ... 50

Tabel 34. Harga dan Inflasi Komoditas Tertentu ... 51

Tabel 35. Perkembangan Harga untuk Komoditas Terpilih ... 52

Tabel 36. Pertumbuhan dan Share PMTB Triwulan II Tahun 2015 (persen) ... 54

Tabel 37. Realisasi PMA dan PMDN Tahun 2007-2015 Semester I ... 55

Tabel 38. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMDN dan PMA Semester I Tahun 2015 Berdasar Sektor ... 55

Tabel 39. Lima Besar Sektor Realisasi Investasi Semester I Tahun 2015 ... 56

Tabel 40. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMDN Semester I Tahun 2015 Berdasarkan Lokasi (Rp Miliar) ... 57

Tabel 41. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMA Semester I Tahun 2015 Berdasarkan Lokasi (USD Juta) ... 57

Tabel 42. Lima Besar Lokasi Realisasi Investasi Semester I Tahun 2015 ... 58

Tabel 43. Lima Besar Negara Asal Realisasi Investasi PMA Semester I Tahun 2015 ... 58

Tabel 44. Status Perjanjian Ekonomi Internasional ... 59

Tabel 45. Ekspor ASEAN ke Tiongkok ... 60

Tabel 46. Impor ASEAN dari Tiongkok ... 61

Tabel 47. Presentase Penggunaan SKA terhadap Total Ekspor Indonesia ... 61

Tabel 48. Ekspor Indonesia-ASEAN ... 63

Tabel 49. Impor Indonesia-ASEAN ... 64

Tabel 50. Perdagangan Antar Negara ASEAN Tahun 2012-2014... 64

Tabel 51. Penurunan Suku Bunga Bank Sentral Berbagai Negara Triwulan II Tahun 2015 (persentase) ... 67

Tabel 52. Tingkat Inflasi Global (YoY) ... 70

Tabel 53. Tingkat Inflasi Domestik ... 71

Tabel 54. Tingkat Inflasi Domestik berdasarkan Komponen... 71

Tabel 55. Inflasi berdasarkan Sumbangan (Share) ... 72

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel)... 15

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2011- Triwulan II Tahun 2015 (persen) ... 19

Gambar 3. Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 ... 24

Gambar 4. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia April 2014 – Juli 2015 ... 25

Gambar 5. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015 ... 26

Gambar 6. Neraca Perdagangan Non-migas dan Migas Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015 ... 26

Gambar 7. Neraca Transaksi Finansial Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015.. 27

Gambar 8. Nilai dan Volume Ekspor Hingga Juni 2015 ... 41

Gambar 9. Nilai dan Volume Impor Hingga Juni 2015 ... 45

Gambar 10. Indeks Tendensi Bisnis Indonesia Triwulan I Tahun 2010 - Triwulan II Tahun 2015 ... 50

Gambar 11. Persentase Penggunaan SKA Preferensi terhadap Total SKA Preferensi ... 62

Gambar 12. Persentase Penggunaan SKA Non-Preferensi terhadap Total SKA Non-Preferensi ... 62

Gambar 13. Posisi Cadangan Devisa Dunia (triliun USD) ... 66

Gambar 14. Pertumbuhan Uang Beredar (YoY) ... 69

Gambar 15. Real Effective Exchange Rate ASEAN-5 (2010=100) ... 74

Gambar 16. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Pangan Global ... 76

Gambar 17. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Mineral Global ... 77

Gambar 18. Perkembangan Indeks Harga Komoditas Kebutuhan Pokok ... 78

Gambar 19. Perkembangan Kinerja Bank Umum di Indonesia ... 80

Gambar 20. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit di Indonesia ... 81

Gambar 21. Perkembangan Kredit Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya ... 82

Gambar 22. Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas (YoY, %) ... 84

Gambar 23. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Non Migas Triwulan II-Tahun 2015 ... 84

Gambar 24. Proporsi Subsektor Industri Pengolahan Non-Migas ... 85

Gambar 25. Ekspor Produk Industri ... 86

Gambar 26. Realisasi Investasi PMA Dan PMDN Sektor Industri Tahun 2015 ... 86

Gambar 27. Realisasi Proyek Investasi PMA Sektor Industri Tahun 2015 ... 87

Gambar 28. Realisasi Investasi PMA Sektor Industri Tahun 2015 ... 87

Gambar 29. Realisasi Proyek Investasi PMDN Sektor Industri Tahun 2015 ... 88

Gambar 30. Realisasi Investasi PMDN Sektor Industri Tahun 2015 ... 88

Gambar 31. Penjualan Mobil Di Indonesia Triwulan II Tahun 2015 ... 89

Gambar 32. Penjualan Motor Di Indonesia Triwulan II Tahun 2015 ... 90

Gambar 33. Penjualan Semen Di Indonesia Triwulan II Tahun 2015 ... 90

Gambar 34. Kredit Modal Kerja Dan Investasi Triwulan II Tahun 2015 ... 91

Gambar 35. Jumlah Wisatawan Mancanegara Triwulan II Tahun 2015 ... 92

(10)

Gambar 38. Perbandingan Daya Saing Pariwisata Tahun 2015 ... 94

Gambar 39. Inflasi YoY 66 Kota April-Juni 2015 ... 96

Gambar 40. Inflasi MtM 66 Kota April-Juni 2015 ... 97

Gambar 41. Perkembangan Nilai Tukar ... 98

Gambar 42. Perkembangan Indeks Nilai Tukar (1 Januari 2004 = 100) ... 99

Gambar 43. Perkembangan Indeks Saham Global ... 100

Gambar 44. Perkembangan Indeks Saham Global ... 101

Gambar 45. Indeks Harga Komoditas Internasional ... 102

(11)

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA

 Ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan pada triwulan II tahun 2015 menjadi sebesar 3,7 persen (YoY).

 Perekonomian 28 negara Uni Eropa (EU28) tumbuh sebesar 1,4 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2015, menguat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,0 persen (YoY).

 Sepanjang bulan April hingga Juni 2015, ekonomi Tiongkok tumbuh sebesar 7,0 persen (YoY), sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,4 persen (YoY).

 Pada bulan Juli 2015, IMF memproyeksi perekonomian dunia tetap tumbuh sebesar 3,3 persen pada tahun 2015.

(12)

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA

Perekonomian dunia hingga semester I tahun 2015 masih melambat akibat perbaikan secara bertahap perekonomian negara-negara maju, dan perlambatan ekonomi negara-negara berkembang. Kondisi ini menggambarkan kelanjutan kontraksi output Amerika Serikat yang menyebar ke negara-negara lain seperti Kanada dan Meksiko. Hal ini disebabkan oleh musim dingin yang buruk dan pemogokan buruh di Pantai Barat Amerika Serikat, seiring dengan penurunan

capital expenditure sektor minyak yang berkontribusi pada pelemahan aktivitas

perekonomian Amerika Serikat. Pertumbuhan output dan permintaan dalam negeri pada negara-negara maju dan negara-negara berkembang mengalami pelemahan. Harga minyak mengalami penguatan diatas ekspektasi pada triwulan II tahun 2015, akibat permintaan yang lebih tinggi dan pertumbuhan produksi minyak Amerika Serikat. Seiring dengan penguatan harga minyak mentah, harga bahan bakar minyak mulai meningkat. Hal ini berdampak pada kenaikan inflasi umum bulanan pada mayoritas negara-negara maju, meskipun inflasi inti tetap stabil. Inflasi umum di negara-negara berkembang cenderung menurun akibat pelemahan permintaan dalam negeri.

Perkembangan Ekonomi Amerika Serikat

Bureau Economic Analysis merilis revisi terakhir pertumbuhan ekonomi Amerika

Serikat triwulan I tahun 2015 yang sebelumnya terkontraksi sebesar 0,2 persen menjadi tumbuh sebesar 0,6 persen (YoY). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2015 disebabkan oleh aktivitas di pelabuhan Pantai Barat Amerika Serikat yang terganggu akibat pemogokan buruh. Di sisi lain, penguatan konsumsi domestik dan investasi residensial menopang perekonomian Amerika Serikat dalam menghadapi pelemahan ekonomi global. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh sebesar 3,7 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2015, melambat dibandingkan triwulan II tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,6 persen (YoY). Perlambatan ini disebabkan oleh pelemahan belanja pemerintah. Meskipun demikian, kenaikan belanja konsumen, dan ekspor lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

(13)

persen (YoY), dan konsumsi jasa naik sebesar 2,0 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2015. Peningkatan belanja konsumen yang cukup kuat khususnya pada barang tahan lama seperti kendaraan, dan peralatan rumah tangga dapat mengimbangi pelemahan investasi bisnis terutama peralatan.

Belanja Pemerintah Amerika Serikat secara keseluruhan tumbuh sebesar 2,6 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2015, melambat dibandingkan triwulan II tahun 2014 sebesar 1,2 persen (YoY). Pengeluaran pemerintah pusat tidak mengalami pertumbuhan, dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 1,2 persen. Selanjutnya, belanja pemerintah untuk bidang pertahanan tumbuh sebesar 0,3 persen, meningkat setelah terkontraksi sebesar 0,5 persen (YoY). Di sisi lain, belanja pemerintah non-pertahanan mengalami kontraksi sebesar 0,4 persen pada triwulan II tahun 2015, cenderung membaik setelah terkontraksi 2,2 persen (YoY) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Berbeda dengan belanja pemerintah pusat, belanja pemerintah daerah mengalami kenaikan dengan tumbuh sebesar 4,3 persen (YoY), sedangkan triwulan II tahun 2014 tumbuh sebesar 2,6 persen (YoY).

Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY)

2014 2015

(14)

2015, The Fed melaksanakan kebijakan tight monetary policy, seiring dengan tren penurunan harga komoditas dunia termasuk minyak mentah, serta perbaikan kosumsi dalam negeri, pasar tenaga kerja, dan apresiasi mata uang dolar. Pada bulan September 2015, rencana kenaikan federal fund rate dilakukan untuk menjaga momentum perekonomian Amerika Serikat yang terus membaik, dan tren penurunan tingkat pengangguran.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat merilis neraca perdagangan pada bulan Juni 2015 masih menunjukkan posisi defisit mencapai USD 43,8 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD 40,9 miliar. Defisit perdagangan barang naik menjadi sebesar USD 63,5 miliar, sedangkan sektor jasa mengalami penurunan surplus menjadi sebesar USD 19,7 miliar. Ekspor barang dan jasa turun USD 0,2 miliar menjadi USD 127,6 miliar. Kinerja ekspor barang menurun terutama disebabkan oleh penurunan barang modal, bahan dan penawaran barang industri, serta barang konsumsi. Sementara itu, ekspor jasa mengalami sedikit kenaikan disebabkan oleh peningkatan bisnis jasa (jasa penelitian dan pembangunan, jasa manajerial dan proesional, jasa hubungan dan teknis perdagangan) dan transportasi (termasuk jasa pelabuhan dan tarif penumpang). Impor barang dan jasa meningkat USD 2,7 miliar menjadi USD 191,1 miliar, dengan peningkatan pada impor barang yang disebabkan oleh kenaikan pada barang konsumsi, barang modal, serta bahan dan penawaran barang industri. Sedangkan impor jasa berupa peningkatan biaya untuk transportasi (termasuk jasa pelabuhan dan tarif penumpang) dan wisata (untuk semua tujuan termasuk pendidikan).

Berdasarkan Bureau of Labor Statistics, jumlah pengangguran hingga bulan Juni 2015 hanya turun sebesar 375.000 orang menjadi 8,3 juta orang. Dalam 12 bulan terakhir tingkat pengangguran turun 0,8 persen atau sebesar 995.000 orang. Kenaikan jumlah lapangan kerja baru tersebar luas di berbagai sektor, diantaranya pada bisnis jasa dan profesional, kesehatan, keuangan, perdagangan retail, serta pergudangan dan transportasi. Kondisi ini menandai momentum menurunnya tingkat pengangguran sejak bulan Oktober 2008. Pada bulan Juni 2015, penyerapan tenaga kerja di sektor non-pertanian sebesar 223.000 orang. Penurunan tingkat pengangguran diharapkan berimbas pada penguatan perekonomian dalam negeri menghadapi gejolak perekonomian global.

Perkembangan Ekonomi Uni Eropa

(15)

Namun demikian, tercapainya kesepakatan bailout ketiga dari kreditor dengan Yunani untuk dana privatisasi independen, dan pengaturan terhadap kredit perbankan yang macet sebesar EUR 86,0 miliar. Perbaikan ekonomi Yunani yang terus membaik diharapkan dapat mendorong akselerasi perekonomian kawasan Eropa.

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Eropa dan Uni Eropa Pertumbuhan PDB (%)

Berdasarkan publikasi Eurostat, Latvia diperkirakan menjadi negara di kawasan Eropa yang mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan II tahun 2015, yaitu sebesar 1,2 persen (QtQ). Sementara, perekonomian Jerman diperkirakan sedikit meningkat dengan tumbuh 0,4 persen (QtQ), dibandingkan triwulan I tahun 2015 yang tumbuh hanya 0,3 persen. Finlandia menjadi negara yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi paling dalam pada triwulan II tahun 2015, yang besarnya 0,4 persen (QtQ). Di sisi lain, perekonomian Perancis diperkirakan mengalami stagnasi pada triwulan II tahun 2015. Sedangkan Italia, Portugal, dan Spanyol dalam tren positif yang diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 0,2 persen (QtQ), 0,4 persen (QtQ), dan 1,0 persen (QtQ). Perekonomian Yunani diperkirakan tumbuh sebesar 0,8 persen, setelah sebelumnya mengalami stagnasi pada triwulan I tahun 2015.

Pada bulan Juni tahun 2015, indeks harga sektor industri dari keseluruhan industri di kawasan Eropa dan Uni Eropa kembali mengalami penurunan sebesar 2,2 persen (YoY), dan 2,9 persen (YoY). Sementara, produksi industri di kawasan Eropa dan Uni Eropa mengalami peningkatan dengan tumbuh sebesar 1,2 persen (YoY), dan 1,7 persen (YoY), dibandingkan periode waktu yang sama tahun sebelumnya. Produksi industri meningkat disebabkan oleh kenaikan produksi barang modal sebesar 1,7 persen, barang konsumsi tidak tahan lama sebesar 2,5 persen, barang setengah jadi sebesar 0,2 persen, dan barang konsumsi tahan lama sebesar 0,1 persen dibandingkan Juni 2014. Sementara itu, produksi sektor industri yang menguat di kawasan Uni Eropa disebabkan oleh peningkatan barang modal sebesar 2,4 persen, barang konsumsi tahan lama sebesar 2,2 persen, produksi energi sebesar 1,7 persen, barang konsumsi tidak tahan lama sebesar 1,5 persen, serta barang setengah jadi sebesar 0,8 persen dibandingkan bulan Juni 2014.

(16)

2015, negara-negara Uni Eropa juga mengalami surplus sebesar EUR 10,4 miliar, meningkat dibandingkan bulan Juni 2014 yang surplus sebesar EUR 2,0 miliar. Sejalan dengan tren positif neraca perdagangan Eropa, volume perdagangan ritel bulan Juni 2015 di kawasan Eropa meningkat sebesar 1,2 persen (YoY) dan 2,0 persen (YoY) di Uni Eropa dibandingkan bulan Juni 2014. Hal ini disebabkan oleh kenaikan penjualan pada sektor non-makanan sebesar 2,3 persen, bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 1,8 persen serta sektor makanan, minum, dan tembakau sebesar 0,1 persen. Di sisi lain, peningkatan volume perdagangan Uni Eropa karena penjualan pada sektor makanan naik sebesar 3,4 persen, dan sektor makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 0,8 persen, serta bahan bakar kendaraan bermotor naik sebesar 1,4 persen.

Kondisi fiskal di kawasan Eropa dan Uni Eropa menunjukkan perbaikan. Rasio defisit anggaran pemerintah terhadap PDB pada triwulan I tahun 2015 di kawasan Eropa menjadi sebesar 2,3 persen, menurun dibandingkan triwulan IV tahun 2014 sebesar 2,5 persen. Defisit anggaran pemerintah terhadap PDB di Uni Eropa juga menurun dari triwulan IV tahun 2014 sebesar 2,8 persen menjadi 2,6 persen pada triwulan I tahun 2015. Sebaliknya, perbaikan fiskal di kawasan Eropa dan Uni Eropa tidak diikuti perbaikan kondisi tingkat utang terhadap PDB. Pada triwulan I tahun 2015, di kawasan Euro tingkat utang mencapai 92,9 persen dari PDB, sedikit meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 92,0 persen. Sejalan dengan peningkatan tingkat utang terhadap PDB di kawasan Eropa, Uni Eropa juga mengalami peningkatan tingkat utang sebesar 88,2 persen terhadap PDB dibandingkan triwulan IV tahun 2014 sebesar 86,9 persen. Pada triwulan I tahun 2015, Yunani, Italia, dan Portugal menjadi negara dengan tingkat utang terhadap PDB tertinggi yaitu masing-masing sebesar 168,8 persen; 135,1 persen; dan 129,6 persen. Sementara itu negara dengan tingkat utang terhadap PDB terendah adalah Estonia sebesar 10,5 persen, Luxemburg sebesar 21,6 persen, dan Bulgaria sebesar 29,6 persen.

(17)

Spanyol (22,5 persen). Sementara itu tingkat pengangguran paling rendah adalah Jerman (4,7 persen), dan Republik Ceko (4,9 persen).

Perekonomian Tiongkok

Pada semester I tahun 2015, kondisi ekonomi Tiongkok masih dihadapkan pada ketidakpastian kondisi ekonomi global, ekonomi domestik, dan tekanan bagi pemerintah yang semakin kuat. Pemerintah Tiongkok menerapkan perekonomian yang terus bergerak maju dengan tetap menjaga stabilitas, melalui perbaikan regulasi ekonomi makro, reformasi sistem, dan inovasi kelembagaan. Hal ini menyebabkan perekonomian Tiongkok secara bertahap masih melambat seiring dengan reformasi struktural yang kembali dilanjutkan. Sepanjang bulan April hingga Juni 2015, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 7,0 persen (YoY), sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,5 persen (YoY). Perekonomian Tiongkok bergerak pada jalur yang tepat, beberapa indikator ekonomi mengalami kenaikan secara stabil. Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tidak lagi menjadi prioritas. Pemerintah Tiongkok menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 hanya sebesar 7,0 persen (YoY). Tiongkok mengharapkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan, serta dapat memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter untuk mencegah perlambatan tajam yang berdampak pada berkurangnya lapangan kerja dan pendapatan.

Dalam laporan yang dirilis National Bureau of Statistic China, nilai tambah industri tersier pada triwulan II tahun 2015 menyumbang 49,5 persen dari PDB dan tumbuh 8,4 persen (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menandai percepatan pengembangan dan inovasi di bidang perindustrian. Kesenjangan pendapatan antara rumah tangga perkotaan dan pedesaan semakin mengecil. Pada triwulan II tahun 2015, pendapatan per kapita rumah tangga di perkotaan adalah 2,83 kali dari rumah tangga pedesaan atau berkurang 0,04 persen (YoY) dari triwulan yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula dengan pengurangan konsumsi energi per unit PDB mencapai 5,9 persen (YoY).

(18)

membeli barang-barang konsumsi sebelum harga barang naik, namun penguatan konsumsi dalam negeri belum dapat menahan laju perlambatan ekonomi, dan penurunan harga-harga komoditas.

Sektor properti Tiongkok yang sempat terpuruk akibat perlambatan ekonomi pada semester I tahun 2014, secara bertahap semakin menguat. Pada triwulan II tahun 2015, penjualan bangunan perumahan dan bangunan komersial turun masing-masing sebesar 12,9 persen (YoY) dan 10,0 persen (YoY). Meskipun demikian, total investasi di sektor real estate selama semester I tahun 2015 sebesar CNY 4.6395,1 miliar, atau tumbuh sebesar 4,6 persen (YoY) diharapkan dapat memberikan sentimen positif dalam penguatan kinerja sektor properti Tiongkok. Pada 30 Maret

2 5, People’s Bank of China PBOC melaksanakan kebijakan penurunan rasio uang

muka untuk pembelian rumah kedua dari 60,0 persen menjadi sebesar 40,0 persen di seluruh wilayah negara. Pencabutan kebijakan awal tersebut dilakukan untuk mendorong terjadinya pertumbuhan, mengingat investasi properti merupakan faktor pendorong utama perekonomian Tiongkok.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2015 akibat reformasi struktural berdampak pada kinerja neraca perdagangan yang memburuk. Perdagangan Tiongkok pada bulan Juni 2015 hanya mencapai surplus sebesar USD 46,54 miliar. Surplus neraca perdagangan Tiongkok menurun dibandingkan bulan Mei 2015 sebesar USD 59,50 miliar. Kinerja ekspor bulan Juni 2015 mengalami peningkatan sebesar 2,8 persen (YoY) dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan devaluasi mata uang Yuan, dan perbaikan ekspor negara-negara di kawasan Asia Timur seperti Korea Selatan menjadi penanda perbaikan permintaan global terhadap barang dan jasa Tiongkok. Sementara itu, impor mengalami penurunan sebesar 6,1 persen (YoY) dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Kinerja impor yang melemah akibat penurunan harga komoditas global, dan perbaikan pemintaan dalam negeri Tiongkok.

Tabel 3. Purchasing Manager IndexTM Tiongkok Tahun 2015 (YoY)

PMI Tiongkok

Mei-15 Jun-15

HSBC 49,2 49,6

NBS China 50,2 50,2

Sumber: HSBC PMITM dan National Bureau of Statistic China, 2015

(19)

sektor manufaktur. National Bureau of Statistic China juga merilis data PMITM

sebesar 50,2 tidak berubah dibandingkan bulan Mei 2015. Hal ini disebabkan oleh indeks produksi, indeks permintaan baru, dan indeks waktu pengiriman dari supplier sebagai indikator pembentuk PMITM nilainya lebih tinggi dari batas nilai

indeks PMITM manufaktur Tiongkok sebesar 50,0. Kondisi ini menggambarkan

perekonomian Tiongkok kehilangan momentum penguatan sektor manufaktur pada triwulan II tahun 2015 dan upaya bertahap untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja dari pemerintah sangat dibutuhkan.

Perekonomian Singapura

Perlambatan ekonomi Singapura pada triwulan II tahun 2015 disebabkan oleh

rebalancing ekonomi Tiongkok, kontraksi sektor manufaktur akibat permintaan

global yang tidak menentu, pasar properti melambat, dan ketidakpastian perbaikan ekonomi global. Perekonomian Singapura sangat dipengaruhi oleh siklus bisnis global akibat keterkaitan investasi dan perdagangan yang besar, sehingga permasalahan eksternal akan berdampak besar terhadap kinerja perekonomian dalam negeri Singapura.

Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi Singapura Tahun 2015

Tahunan (YoY) Triwulanan (QtQ)

Sumber: Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Singapura

Seiring dengan perlambatan ekonomi, kinerja perdagangan luar negeri Singapura mengalami penurunan. Berdasarkan Departement of Statistics Singapore, kinerja ekspor terkontraksi sebesar 5,8 persen (YoY), menurun dibandingkan bulan Juni 2014. Sementara, kinerja impor juga terkontraksi sebesar 4,1 persen (YoY), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan kinerja ekspor disebabkan oleh penurunan tajam ekspor minyak domestik yang terkontraksi hingga 25,3 persen (YoY). Namun, penguatan ekspor domestik non-minyak sebesar 4,7 persen (YoY), dan re-ekspor minyak sebesar 1,9 persen (YoY) belum dapat mendorong secara optimal laju pertumbuhan ekspor pada bulan Juni 2015.

(20)

perdagangan ritel dan grosir pada triwulan II tahun 2015 semakin membaik disebabkan oleh perbaikan kinerja segmen perdagangan grosir, perdagangan besar, dan kenaikan penjualan kendaraan bermotor yang cukup kuat. Seiring dengan penguatan di sektor perdagangan ritel dan grosir, sektor asuransi dan keuangan juga mengalami perbaikan disebabkan oleh penguatan segmen manajemen keuangan. Pertumbuhan sektor akomodasi dan jasa makan Singapura terkontraksi pada triwulan II tahun 2015. Penurunan kinerja di sektor akomodasi dan jasa makanan didorong oleh perlambatan akibat melemahnya kinerja sektor makanan dan minuman. Sementara, pertumbuhan di sektor bisnis jasa yang cenderung melambat disebabkan pelemahan segmen sewa dan leasing serta jasa administrasi dan pendukung.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Singapura memperkirakan tahun 2015 negara tersebut akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cenderung moderat. Sektor yang berorientasi eksternal seperti asuransi dan keuangan, serta perdagangan besar mendukung pertumbuhan semester II tahun 2015. Penurunan harga minyak mentah menyebabkan perlambatan pertumbuhan sektor kelautan dan lepas pantai. Di sisi lain, sektor yang berorientasi dalam negeri seperti bisnis jasa, serta sektor komunikasi dan informasi diperkirakan tumbuh moderat. Sementara, pengetatan pasar tenaga kerja akan berimplikasi pada tertahannya laju pertumbuhan sektor padat karya seperti jasa makanan. Dengan demikian, pemerintah Singapura akan menjaga pertumbuhan ekonomi pada level 2,5-4,0 persen.

(21)

ekonomi di Amerika Utara mempengaruhi upaya perbaikan perekonomian negara-negara maju. Namun demikian, akselerasi aktivitas perekonomian negara-negara-negara-negara maju akan terwujud melalui pelonggaran kebijakan, neutral fiscal policy di Kawasan Eropa, penurunan harga minyak mentah, serta perbaikan kepercayaan dan kondisi pasar tenaga kerja. Sentimen positif bagi perbaikan ekonomi tersebut juga diimbangi dengan faktor negatif seperti rencana kenaikan federal fund rate Amerika Serikat, kenaikan suku bunga sovereign bond beberapa negara di kawasan Eropa, serta perlambatan tingkat konsumsi dan investasi bisnis khususnya peralatan di Jepang.

IMF memperkirakan akselerasi pertumbuhan konsumsi, dan investasi di Amerika Serikat. Selain itu, kenaikan tingkat upah, perbaikan kondisi pasar tenaga kerja, kelonggaran kebijakan pasar keuangan, penurunan harga minyak mentah, dan penguatan pasar properti menjadi penanda penguatan ekonomi Amerika Serikat tahun 2016. Di sisi lain, perekonomian di kawasan Eropa diperkirakan cenderung tumbuh moderat, permintaan dalam negeri dan inflasi mulai tumbuh. Penurunan harga minyak dunia, kinerja kredit yang membaik, kebijakan fiskal yang lebih netral, dan depresiasi mata uang Euro dapat mendorong pemulihan ekonomi pada tahun 2015 dan 2016. Pemulihan ekonomi Eropa mendorong perbaikan permintaan domestik yang cukup kuat, dan kenaikan tingkat inflasi mulai terjadi. IMF merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi mayoritas negara di kawasan Eropa, kecuali Yunani.

Sementara, pertumbuhan ekonomi negara berkembang masih akan cenderung melambat pada tahun 2015. Hal ini disebabkan oleh perekonomian negara eksportir minyak yang melemah, rebalancing perekonomian Tiongkok, hambatan struktural, serta proyeksi pelemahan ekonomi Amerika Selatan akibat penurunan harga komoditas global. Pada tahun 2016, kondisi perekonomian negara berkembang diperkirakan membaik. Hal ini digambarkan melalui perbaikan kondisi di beberapa negara yang mengalami pelemahan ekonomi termasuk Rusia, Timur Tengah dan Afrika Tengah. Meskipun demikian, beberapa negara berkembang diperkirakan akan tumbuh moderat diatas tren pertumbuhan. Pada tahun 2015, IMF menyatakan transisi perekonomian Tiongkok menuju model pertumbuhan ekonomi baru digambarkan melalui terganggunya pasar keuangan yang terjadi pada bulan Juni 2015. Namun demikian, pemerintah Tiongkok diharapkan dapat melaksanakan kebijakan untuk antisipasi cepat tidak hanya pertumbuhan kredit dan investasi, tetapi juga kemungkinan gejolak ekonomi lainnya sebagai bagian dari rebalancing

perekonomian.

(22)

perekonomian jangka pendek, penurunan harga komoditas, serta ruang kebijakan yang terbatas. Sementara itu, Brazil sebagai salah satu perekonomian terbesar diperkirakan tumbuh dibawah prediksi akibat tantangan daya saing, risiko jangka pendek pembatasan air dan listrik, pengetatan fiskal serta dampak penyelidikan kasus Pertrobas. Perekonomian di kawasan Sub Sahara Afrika cenderung mengalami perlambatan. Hal ini tercermin melalui penurunan harga komoditas, kinerja perekonomian negara-negara yang terkena dampak Ebola, dan permasalahan geopolitik. Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan pembiayaan negara eksportir minyak di Sub Sahara Afrika rentan terhadap berbagai sentimen negatif seperti tight

monetary policy Amerika Serikat, serta lambatnya pemulihan ekonomi Eropa dan

Tiongkok.

Table 6. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia (YoY) Pertumbuhan PDB (%)

Pada bulan Juli 2015, ADB mengeluarkan proyeksi mengenai pertumbuhan negara-negara berkembang di Asia tahun 2015 dan 2016. Pertumbuhan negara-negara-negara-negara berkembang Asia yang cenderung stabil menyebar ke berbagai kawasan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Selatan dikoreksi naik dan tumbuh lebih cepat dibandingkan kawasan lain di Asia. Sementara, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara diperkirakan masih cenderung moderat, serta Asia Tengah menunjukkan pelemahan.

(23)

bulan Mei 2015, dan tingkat ekspor Korea Selatan yang terkontraksi pada bulan Juni 2015, serta penurunan invetasi dan belanja pemerintah Taiwan.

Menurut ADB, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2015 didorong oleh rendahnya harga komoditas, penguatan konsumsi domestik, dan kenaikan permintaan global yang berdampak pada ekspor. Sektor keuangan Tiongkok terkena dampak dari pertumbuhan tidak proporsional dalam tiga triwulan terakhir. Hal ini berdampak terhadap koreksi di pasar saham, dan berimplikasi terhadap tingkat konsumsi, serta investasi Tiongkok sepanjang triwulan II tahun 2015. Namun demikian, kebijakan stimulus diperkirakan terus berlanjut untuk menjaga agenda reformasi, mengantisipasi penurunan harga-harga komoditas, dan memperbaiki pertumbuhan dari perdagangan luar negeri. Pada tahun 2016, harga komoditas diperkirakan kembali meningkat, sehingga mendorong pelemahan ekonomi. ADB menyarankan pemerintah Tiongkok untuk melaksanakan kebijakan fiskal yang proaktif, dan kebijakan moneter yang akomodatif.

Sementara itu, estimasi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan pada tahun 2015 dan 2016 semakin membaik disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi India yang cenderung stabil, penguatan di sektor pertanian akibat angin monsoon pada musim panen, sektor manufaktur, kenaikan jumlah proyek investasi dan perolehan pajak tidak langsung di India. Di sisi lain, perlambatan aktivitas ekonomi negara-negara lain dapat memberi sentimen negatif bagi pertumbuhan kawasan Asia Selatan. Kondisi ini disebabkan oleh resiko geopolitik di Pakistan, Bangladesh dan Sri Lanka, pelemahan investasi infrastruktur di Maladewa, serta lambatnya pemulihan ekonomi akibat gempa besar di Nepal.

Perekonomian di kawasan Asia Tengah diperkirakan kembali melemah seiring dengan penurunan harga komoditas, dan perlambatan ekonomi Federasi Rusia. Pada tahun 2015, pertumbuhan negara-negara eksportir energi seperti Azerbaijan, Kazakhstan, Turkmenistan, serta Uzbekistan melambat akibat penurunan harga minyak mentah dan gas. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negara-negara importir energi seperti Armenia, Georgia, Kirgiztan, serta Tajikistan juga melambat karena pelemahan konsumsi domestik akibat remittances yang lebih rendah. Pada tahun 2016, pelemahan ekonomi pada sebagian besar negara-negara eksportir, rendahnya permintaan dalam negeri, dan perlambatan ekonomi Federasi Rusia akan menahan laju pertumbuhan ekonomi di Kawasan Asia Tengah.

(24)

Perekonomian Thailand juga mengalami perlambatan akibat penurunan harga komoditas yang berpengaruh besar pada sektor pertanian dan meningkatnya utang rumah tangga, meskipun konsumsi swasta, penguatan sektor pariwisata, dan investasi meningkat. Di sisi lain, perlambatan ekonomi juga terjadi di negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam akibat penurunan harga komoditas global.

Dalam publikasi Asian Development Outlook 2015, proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura dikoreksi turun disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan pada sektor manufaktur sebesar 4,0 persen menyebabkan penurunan output rekayasa transportasi, dan industri biomedis. Pertumbuhan yang moderat juga ditunjukkan oleh sektor jasa khususnya perdagangan besar, retail, dan bisnis jasa. Faktor-faktor sepertinya penurunan harga minyak mentah akan berdampak pada kinerja beberapa sektor, dan indutsri yang terkait pariwisata akan dipengaruhi penurunan jumlah wisatawan yang datang dalam satu tahun.

PERKEMBANGAN HARGA MINYAK DUNIA

Pada triwulan II tahun 2015, pergerakan harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi akibat kekhawatiran pasar minyak mentah akibat kondisi oversupply. Tren harga minyak mentah menurun pada triwulan II tahun 2015 disebabkan oleh kemungkinan penghapusan sanksi ekonomi terkait kesepakatan nuklir Iran, dan kekhawatiran penurunan permintaan energi Eropa akibat potensi gagal bayar utang Yunani kepada IMF. Sementara itu, minyak mentah dari Nigeria mulai mencari pasar ke Amerika Serikat, dan kebijakan baru dari pemerintah Amerika Serikat mengizinkan ekspor kondensat. Kondisi ini dapat mendorong harga minyak mentah semakin terpuruk mengingat Amerika Serikat merupakan konsumen minyak kedua terbesar di dunia. Demikian pula dengan kebijakan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak, dan lemahnya permintaan minyak mentah akibat perlambatan ekonomi negara-negara maju semakin menekan pasar global.

Tabel 7. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barel)

Harga Minyak Mentah

(25)

menyatakan tingkat stok dan distillate fuel oil Amerika Serikat selama bulan Juni 2015 masing-masing mengalami peningkatan menjadi 218,5 juta barel, dan 135,4 juta barel dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk kawasan Asia Pasifik, penguatan harga minyak mentah disebabkan oleh peningkatan ekspor minyak mentah Iran meskipun perlambatan ekonomi Tiongkok masih perlu diwaspadai.

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel)

(26)

Box 1. Dampak Devaluasi Yuan Terhadap Perekonomian Indonesia

Perekonomian Tiongkok kembali melambat pada triwulan II tahun 2015. Pertumbuhan yang melambat merupakan bagian dari proses rebalancing

perekonomian Tiongkok, sehingga dapat tumbuh sesuai target sebesar 7,0 persen (YoY). Perlambatan ekonomi Tiongkok triwulan II tahun 2015 disebabkan oleh penurunan harga komoditas global dan kinerja sektor manufaktur, pengurangan jumlah buruh pabrik-pabrik paling tajam dalam enam tahun terakhir, kinerja ekspor pada bulan Juni 2015 hanya tumbuh sebesar 7,6 persen (YoY), serta surplus neraca perdagangan terus menurun hingga mencapai USD 46,54 miliar pada bulan Juni 2015. Pasar keuangan Tiongkok juga terkena dampak dari perlambatan ekonomi seperti capital loss terbesar dalam delapan tahun terakhir, pada 8 juni 2015 indeks harga saham turun tajam hingga posisi 3.507,19, serta dalam sepuluh menit lebih dari 1.000 saham turun di pasar saham Shanghai dan Shenzen hingga terkena autorejection.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk meredam perlambatan ekonomi adalah devaluasi mata uang. Pada 11 agustus 2015, People's Bank of China (PBoC) melakukan devaluasi atas nilai tukar harian yuan sekitar 2,0 persen atau terbesar sepanjang sejarah, menjadi sebesar CNY 6,3306 per USD atau level terendah dalam 35 bulan terakhir. Kebijakan ini dilakukan bertujuan untuk mecegah pelemahan kinerja ekspor dan mencegah capital outflow. Namun demikian, beberapa pertimbangan lain juga mendasari PBoC diantaranya menjaga nilai tukar Yuan terhadap US Dolar dengan stabil dengan kebijakan trading band, dan menjadikan mata uang Yuan sebagai Global Reserve Currency. Trading band adalah kebijakan pemerintah hanya memperbolehkan fluktuasi mata uang Yuan terhadap mata uang Internasional sebesar persentase tertentu per hari. Upaya pemerintah Tiongkok menjadikan Yuan sebagai mata uang internasional semakin terlihat melalui lobi kepada IMF untuk menyertakan Yuan dalam Special Drawing Rights (SDR) dan perkirakan kebijakan devaluasi berlaku dalam jangka panjang.

(27)
(28)

 Perekonomian Indonesia mengalami perlambatan pada triwulan II tahun 2015 dengan tumbuh sebesar 4,7 persen (YoY).

 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II tahun 2015 surplus sebesar USD 2,9 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan NPI pada triwulan I tahun 2015 yang mencapai surplus USD 2,4 miliar.

(29)

PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Perekonomian Indonesia mengalami perlambatan pada triwulan II tahun 2015 dengan tumbuh sebesar 4,7 persen (YoY) atau menjadi yang paling rendah sejak tahun 2009. Pada triwulan II tahun sebelumnya, ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,0 persen (YoY). Perlambatan ekonomi Indonesia terutama disebabkan oleh pelemahan harga komoditas, perlambatan ekonomi negara mitra dagang, dan ketidakpastian kenaikan Fed Fund Rate. Dari dalam negeri, perlambatan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh pelemahan pertumbuhan investasi, konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga.

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2011- Triwulan II Tahun 2015 (persen)

Sumber: Badan Pusat Statistik

(30)

Kinerja Pertambangan dan Penggalian pada triwulan II tahun 2015 semakin menurun dengan kontraksi sebesar 5,9 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II tahun 2014 yang terkontraksi 1,1 persen (YoY). Penurunan pertumbuhan ini terjadi karena kontraksi pada pertambangan batu bara dan lignit dengan kontraksi sebesar 24,2 persen (YoY). Sementara itu, pertambangan bijih logam serta minyak, gas, dan panas bumi juga menurun 7,1 persen dan 2,2 persen (YoY).

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 Menurut Lapangan Usaha (YoY)

(31)

Selain itu, Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor juga melambat dengan hanya tumbuh sebesar 1,7 persen meskipun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya mampu tumbuh 5,1 persen (YoY). Kontraksi pada perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya sebesar 3,6 persen (YoY) menyebabkan perlambatan pertumbuhan lapangan usaha ini. Perlambatan pertumbuhan yang tinggi juga terjadi pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan pertumbuhan 3,9 persen (YoY), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan II tahun 2014 sebesar 6,5 persen (YoY).

Perlambatan juga terjadi pada Jasa Perusahaan dengan pertumbuhan sebesar 7,6 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2015 meskipun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya mampu tumbuh sebesar 10,0 persen (YoY). Transportasi dan Pergudangan tumbuh sebesar 6,6 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2015 atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan II tahun 2014 sebesar 8,5 persen (YoY). Hal ini terjadi akibat perlambatan pertumbuhan angkutan rel yang hanya tumbuh sebesar 1,8 persen (YoY).

Industri Pengolahan tumbuh sebesar 4,4 persen (YoY), juga melambat dibandingkan dengan triwulan II tahun 2014 yang besarnya 4,8 persen (YoY) akibat kontraksi yang besar pada industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 6,3 persen. Di samping itu, terjadi kontraksi pada industri kertas dan barang dari kertas; percetakan dan reproduksi sebesar 3,1 persen (YoY); industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya sebesar 2,0 persen (YoY); serta industri batubara dan pengilangan migas sebesar 1,9 persen (YoY).

Sementara itu, kinerja Jasa Pendidikan yang tumbuh sebesar 12,2 persen (YoY) cukup berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2015. Pada triwulan yang sama tahun sebelumnya, lapangan usaha ini hanya mampu tumbuh 5,4 persen (YoY). Meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan II tahun 2014 yang mampu tumbuh 10,5 persen (YoY), kinerja Informasi dan Komunikasi dengan pertumbuhan sebesar 9,6 persen (YoY) juga berperan dalam mendorong perekonomian. Pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh pertumbuhan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 8,1 persen (YoY) meskipun melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 8,5 persen (YoY).

(32)

Tabel 9. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 yang Melayani Rumah Tangga) terkontraksi sebesar 7,9 persen (YoY), menurun tajam dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi LNPRT pada triwulan II tahun 2014 sebesar 22,8 persen (YoY).

Sementara itu, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh 2,3 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan pada triwulan II tahun 2014 yang terkontraksi sebesar 1,5 persen (YoY). Perlambatan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah pada triwulan II tahun 2015 didorong oleh pertumbuhan pada konsumsi individu yang hanya mampu tumbuh sebesar 13,0 persen (YoY) meskipun konsumsi kolektif terkontraksi 3,7 persen (YoY) sedangkan pada triwulan yang sama tahun sebelumnya terkontraksi masing-masing 1,4 persen (YoY) dan 1,6 persen (YoY).

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan II tahun 2015 tumbuh sebesar 3,6 persen (YoY), sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan PMTB pada triwulan II tahun 2014 yang besarnya mencapai 3,7 persen (YoY). Perlambatan PMTB terutama dipengaruhi oleh kontraksi pertumbuhan kendaraan sebesar 7,5 persen (YoY) serta mesin dan perlengkapan sebesar 5,6 persen (YoY). Selain itu, terjadi perlambatan pada produk kekayaan intelektual yang tumbuh sebesar 4,2 persen (YoY) dan bangunan yang tumbuh sebesar 4,8 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2014.

(33)

dengan triwulan II tahun 2014 yang pertumbuhannya terkontraksi sebesar 8,8 persen (YoY). Selain itu, ekspor jasa juga tumbuh 1,3 persen (YoY), meskipun melambat dibandingkan triwulan II tahun 2014 yang tumbuh sebesar 5,2 persen (YoY). Di sisi lain, impor barang dan jasa terkontraksi sebesar 6,8 persen (YoY) atau menurun dibandingkan triwulan II tahun 2014 yang tumbuh sebesar 0,4 persen (YoY). Penurunan pertumbuhan impor terjadi akibat menurunnya pertumbuhan impor barang non-migas dan jasa yang masing-masing tumbuh 11,1 dan 1,5 persen (YoY). Dengan demikian, net ekspor mencapai Rp 31.933 triliun.

Indeks Tendensi Konsumen

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan II tahun 2015 mencapai 105,2 basis poin yang menunjukkan kondisi ekonomi konsumen sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan kondisi ekonomi konsumen disebabkan oleh peningkatan pada semua komponen indeks. Komponen pendapatan rumah tangga meningkat dengan nilai sebesar 104,4. Selain itu, komponen pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari serta tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan juga meningkat dengan nilai sebesar 105,6 basis poin. Tingkat optimisme konsumen ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I tahun 2015 yang mencapai 100,9.

Tabel 10. Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015 Menurut Sektor dan Variabel Pembentuknya

Variabel Pembentuk 2014 2015

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

Pendapatan rumah tangga 108,8 110,7 113,5 106,1 96,63 104,4

Pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari 110,4 112,6 109,9 106,3 109,0 105,6 Tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan (daging,

ikan, susu, buah-buahan, dll) dan bukan makanan (pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, dan rekreasi)

112,5 108,5 113,2 113,0 100,7 105,6

Indeks Tendensi Konsumen 110,0 110,8 112,4 107,6 100,9 105,2

Sumber: Badan Pusat Statistik

(34)

Gambar 3. Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Indeks Keyakinan Konsumen

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia melemah pada bulan April 2015 yang besarnya 107,4. Pada bulan Mei 2015, nilai IKK meningkat menjadi sebesar 112,8. Namun pada bulan Juni 2015, IKK mengalami pelemahan menjadi 111,3. Pelemahan kembali terjadi pada bulan Juli 2015 dengan nilai IKK sebesar 109,9. Pelemahan tersebut terutama didorong oleh melemahnya kedua komponen pembentuknya baik Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini maupun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing turun sebesar 1,5 poin dari bulan sebelumnya.

Tabel 11. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Oktober 2014 – Juli 2015

KETERANGAN 2014 2015

Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 120,6 120,1 116,5 120,2 120,2 116,9 107,4 112,8 111,3 109,9 Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini

(IKE) 113,3 114,1 110,2 109,7 110,3 107,5 98,9 102,6 100,3 98,8

Penghasilan saat ini 129,1 128,1 123,8 124,5 124,5 124,8 118,2 120,9 120,5 114,6

Ketersediaan lapangan kerja 99,5 103,2 100,5 96,5 95,6 93,5 84,3 89,5 86,1 84,9

Ketepatan waktu pembelian barang

tahan lama 111,2 110,9 106,4 108,2 110,8 104,2 94,3 98,5 94,3 97,0

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 128,0 126,1 122,8 130,7 130,2 126,2 115,9 122,9 122,4 120,9

Ekspektasi Penghasilan 135,4 135,5 133,2 143,4 144,1 141,9 135,1 139,5 138,7 137,7

Ekspektasi Ketersediaan Lapangan

Kerja 118,7 116,1 113,9 114,7 113,6 110,5 101,7 107,5 105,9 104,7

Ekspektasi Kegiatan Usaha 129,9 126,6 121,3 133,9 132,7 126,2 111,1 121,9 122,5 120,4

Sumber: Bank Indonesia

(35)

menjadi sebesar 84,9 pada bulan Juli 2015. Meskipun demikian, indeks persepsi responden terhadap ketepatan waktu pembelian barang tahan lama pada bulan Juli 2015 sebesar 97,0 meningkat dibandingkan dengan bulan Juni 2015.

Di sisi lain, IEK pada bulan Juli 2015 sebesar 120,9 lebih rendah dibandingkan dengan IEK pada bulan Juni 2015 yang besarnya 122,4. Pada bulan Juli 2015, indeks ekspektasi kegiatan usaha yang melemah menyebabkan pelemahan IEK dengan nilai indeks sebesar 120,4 dari 122,5 pada bulan Juni 2015. Sementara itu, indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja dan indeks ekspektasi penghasilan juga mengalami pelemahan masing-masing sebesar 1,2 dan 1,0 poin.

Gambar 4. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia April 2014 – Juli 2015

Sumber: Bank Indonesia, diolah

Trend penurunan IKK terjadi pada bulan April–Juli 2015. Pada bulan April 2015, pertumbuhan IKK sempat menurun tajam hingga 5,7 persen (YoY). Pertumbuhan IKK pada bulan Mei 2015 melambat menjadi sebesar 3,5 persen (YoY). Sementara pada bulan Juni 2015, IKK mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 4,3 persen (YoY) dan kembali menurun tajam hingga 8,3 persen (YoY) pada bulan Juli 2015.

Neraca Pembayaran Indonesia

(36)

Gambar 5. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015

Sumber: Bank Indonesia

Kinerja defisit neraca transaksi berjalan yang membaik pada triwulan II tahun 2015 didorong oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan non-migas sebesar USD 5,9 miliar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang surplus sebesar USD 3,9 miliar. Kenaikan surplus ini terjadi seiring dengan kenaikan ekspor non-migas menjadi sebesar USD 34,7 miliar dari USD 33,1 miliar pada triwulan sebelumnya serta penurunan impor non-migas menjadi USD 28,8 miliar dari USD 29,1 miliar pada triwulan sebelumnya seiring dengan melambatnya permintaan domestik.

Gambar 6. Neraca Perdagangan Non-migas dan Migas Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015

Sumber: Bank Indonesia

(37)

Defisit neraca perdagangan jasa pada triwulan II tahun 2015 sebesar USD 2,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada triwulan I tahun 2015 sebesar USD 1,9 miliar. Peningkatan defisit neraca perdagangan jasa dipengaruhi oleh menurunnya net penerimaan jasa perjalanan akibat turunnya penerimaan dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia dan bertambahnya penduduk Indonesia yang bepergian ke luar negeri selama masa liburan sekolah.

Di sisi lain, surplus neraca transaksi finansial yang menurun dipengaruhi oleh ketidakpastian di pasar keuangan global akibat terus meningkatnya kekhawatiran investor. Hal ini mendorong aliran masuk modal asing pada instrumen finansial domestik yang masih cukup besar. Selain itu, arus keluar investasi penduduk ke luar negeri terutama dalam bentuk penempatan simpanan swasta di luar negeri juga mempengaruhi penurunan surplus neraca transaksi modal dan finansial. Pada triwulan II tahun 2015, aliran investasi langsung sebesar USD 6,7 miliar lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD 5,8 miliar seiring dengan penarikan pinjaman dari pihak afiliasi yang lebih tinggi, di saat aliran modal asing langsung melalui ekuitas sedikit lebih rendah.

Gambar 7. Neraca Transaksi Finansial Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun 2015

Sumber : Bank Indonesia

Investasi portofolio mencapai surplus sebesar USD 5,8 miliar, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD 8,8 miliar. Masih berlanjutnya ketidakpastian kenaikan suku bunga Fed Fund Rate, terus menurunnya harga komoditas, melambatnya perekonomian Tiongkok, melemahnya perekonomian domestik dan melemahnya nilai tukar Rupiah memengaruhi penurunan investasi portofolio.

(38)

ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penempatan simpanan sektor swasta domestik di luar negeri dan peningkatan piutang dagang yang sejalan dengan peningkatan ekspor. Selain itu, penarikan pinjaman luar negeri juga menurun akibat perlambatan perekonomian domestik.

Tabel 12. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan II Tahun 2015

(39)

PERKEMBANGAN UTANG INDONESIA

 Sampai dengan triwulan II tahun 2015, realisasi pembiayaan utang seluruhnya mencapai Rp 186,1 triliun.

 Sampai dengan triwulan II tahun 2015, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 2.864,2 triliun.

 Penerbitan SBN mengalami peningkatan yang cukup siginifikan dari Rp 1.064,6 triliun pada akhir tahun 2010 menjadi Rp 2.171,2 triliun pada triwulan II tahun 2015.

(40)

PERKEMBANGAN UTANG INDONESIA

Pembiayaan Utang Pemerintah

Dalam tahun 2015, utang pemerintah ditargetkan mencapai Rp 279,4 triliun (neto) yang terdiri dari penerbitan SBN (neto) sebesar Rp 297,7 triliun, pinjaman luar negeri (neto) sebesar negatif Rp 20,0 triliun, dan pinjaman dalam negeri (neto) sebesar Rp 1,7 triliun. Dalam lima tahun terakhir, utang pemerintah terus menunjukkan peningkatan. Tabel 13 di bawah menunjukkan perkembangan pembiayaan utang pemerintah selama lima tahun terakhir. Dalam periode 5 tahun terkahir (2010-2014), realisasi pembiayaan utang pemerintah meningkat rata-rata sebesar 30,6 persen. Pada tahun 2010 pembiayaan utang pemerintah mencapai sebesar Rp 86,9 triliun dan terus meningkat menjadi Rp 252,2 triliun di tahun 2014. Di tahun 2014, realisasi pembiayaan bersumber dari SBN (neto) sebesar Rp 265,0 triliun, pinjaman luar negeri (neto) sebesar negatif Rp 13,4 triliun, dan pinjaman dalam negeri (neto) sebesar Rp 0,6 triliun.

Tabel 13.Perkembangan Pembiayaan Utang Pemerintah 2010 - Triwulan II Tahun 2015 (triliun )

(41)

Tabel 14. Pagu Dan Realisasi Pembiayaan Utang s.d. Triwulan II Tahun 2015 (Triliun Rupiah)

TOTAL (neto) 217,4 246,5 279,4 186,1 66,6%

PINJAMAN (neto) -7,3 -18,5 -18,3 -20,2 110,1%

Pinjaman Luar Negeri (neto) -7,7 -19,2 -20,0 -20,5 102,5%

- Pinjaman Program 18,4 17,8 7,5 1,3 16,7%

- Pinjaman Proyek 35,0 30,3 41,1 10,5 25,6%

- Penerusan Pinjaman (SLA) -3,9 -3,0 -4,5 -0,6 14,2%

- Pembayaran Cicilan Pokok ULN -57,2 -64,2 -64,2 -31,6 49,3%

Pinjaman Dalam Negeri (neto) 0,4 0,6 1,7 0,3 19,6%

- Pinjaman Dalam Negeri 0,5 0,8 2,0 0,4 20,1%

-Pembayaran Cicilan Pokok PDN 0,1 0,1 0,3 0,1 22,8%

SURAT BERHARGA NEGARA (neto) 224,7 265,0 297,7 206,3 69,3%

- SBN 327,7 428,1 452,2 286,6 63,4%

- Jatuh tempo dan Buyback SBN -103,1 163,2 -154,5 -80,3 52,0%

Real 2014 APBN-P

2015 Real 2015 Persentase

INSTRUMEN Real 2013

Sumber : Kementerian Keuangan

Berdasarkan komposisinya, sampai dengan triwulan II tahun 2015, realisasi pembiayaan utang melalui SBN (neto) memiliki porsi terbesar, yakni sebesar Rp 206,3 triliun atau mencapai 69,3 persen dari nilai yang ditetapkan dalam APBN-P 2015. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh pinjaman luar negeri dan pinjaman dalam negeri. Sampai dengan triwulan II tahun 2015, realisasi pinjaman (neto) mencapai negatif Rp 20,2 triliun. Realisasi pinjaman luar negeri (neto) mencapai sebesar negatif Rp 20,5 triliun atau melebihi target 2,5 persen dari nilai yang ditetapkan di dalam APBN-P 2015 yang mencapai negatif Rp 20,0 triliun. Sementara itu, sampai dengan akhir triwulan II tahun 2015, realisasi pinjaman dalam negeri (neto) mencapai angka Rp 0,3 triliun atau mencapai sebesar 19,6 persen dari nilai APBN-P 2015 yang ditargetkan sebesar Rp 1,7 triliun.

Posisi Utang Pemerintah

Posisi utang pemerintah dalam periode tahun 2010 – triwulan II tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 15. Dalam kurun waktu 2010-Juni 2015, total utang pemerintah pusat meningkat rata-rata sebesar 11,2 persen. Sampai dengan triwulan II tahun 2015, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 2.864,2 triliun. Total utang pemerintah tersebut terdiri atas dua bagian, yakni utang dalam bentuk pinjaman dan dalam bentuk SBN. Sampai dengan triwulan II tahun 2015, outstanding pinjaman pemerintah mencapai sebesar Rp 692,9 triliun atau naik rata-rata sebesar 2,3 persen dalam kurun waktu 2010–triwulan II tahun 2015. Sementara itu,

outstanding SBN sampai dengan triwulan II tahun 2015 mencapai Rp 2.171,2 triliun,

(42)

Tabel 15. Posisi Utang Pemerintah Tahun 2010 s.d. Triwulan II Tahun 2015

Persentase pinjaman dan SBN terhadap total utang pemerintah selama 2010-triwulan II tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 16. Dalam kurun waktu tersebut, porsi pinjaman dalam struktur utang pemerintah terus mengalami penurunan dari 36,7 persen di tahun 2010 menjadi 24,2 persen pada triwulan II tahun 2015.

Tabel 16. Persentase Pinjaman dan SBN Terhadap Total Utang Pemerintah Tahun 2010 – Triwulan II Tahun 2015

Prosentase Pinjaman Terhadap Total Utang 36,7% 34,3% 31,1% 30,1% 25,9% 24,2%

Prosentase SBN Valas Terhadap Total Utang 9,6% 10,8% 13,4% 16,8% 17,5% 19,4%

Prosentase SBN Domestik Terhadap Total Utang 53,7% 54,8% 55,5% 53,1% 56,6% 56,5%

Sumber: Kementerian Keuangan

(43)

Surat Berharga Negara (SBN)

Posisi outstanding SBN dalam kurun waktu 2010-triwulan II tahun 2015 ditunjukkan pada tabel 17. Dalam kurun waktu tersebut, penerbitan SBN mengalami peningkatan yang cukup siginifikan dari Rp 1.064,6 triliun pada akhir tahun 2010 menjadi Rp 2.171,2 triliun pada triwulan II tahun 2015. Dalam kurun lima tahun terakhir, pasar keuangan domestik menjadi prioritas penerbitan SBN. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan penerbitan SBN di pasar keuangan domestik dari tahun ke tahun. Selama periode tersebut, penerbitan SBN domestik meningkat rata rata sebesar 12,4 persen. Meningkatnya penerbitan SBN tersebut berdampak pada meningkatnya outstanding SBN domestik. Outstanding SBN domestik meningkat dari Rp 902,4 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp 1.617,0 triliun pada triwulan II tahun 2015.

Tabel 17. Posisi Outstanding Surat Berharga Negara 2010 – Triwulan II Tahun 2015 (triliun Rupiah)

JENIS SBN 31 Des 2010 31-Des-11 31-Des-12 31-Des-13 31-Des-14 31 Juni 2015

I. SBN Rupiah

(44)

miliar dan dalam mata uang euro sebesar EUR 1 miliar. Penerbitan SBN dalam mata uang EUR ini dilakukan Pemerintah untuk pertama kalinya pada bulan Juli 2014. Alasan yang melatarbelakangi penerbitan SBN EUR ini, antara lain (i) sebagai diversifikasi instrumen dan diversifikasi basis investor, (ii) benchmark yield curve

surat utang RI yang baru, dan (iii) pembiayaan tambahan bagi APBN.

Selanjutnya Eurobonds diharapkan dapat membuka basis investor baru bagi pemerintah untuk menerbitkan surat utang di masa depan. Permintaan atas Euro Bonds sangat tinggi yang menunjukkan bahwa kepercayaan asing terhadap Indonesia makin meningkat. Selain itu strategi yang dilakukan pemerintah ketika

yield dalam dolar naik, maka pemerintah masuk ke Euro dimana yield di Euronya

mengalami penurunan. Imbal hasil (yield) Eurobonds ini juga jauh lebih rendah, sedangkan harganya juga lebih bagus. Selain membuka basis investor baru, penerbitan Eurobonds juga diharapkan mampu memperoleh suatu benchmark yield

curve surat utang Indonesia yang baru yang akan menjadi reference bagi para pihak

di Indonesia di kemudian hari dalam menerbitkan Eurobonds.

Tabel 18. Realisasi Penerbitan Surat Berharga Negara s.d. Triwulan II Tahun 2015 (Neto) (Juta Rupiah)

(45)

Posisi kepemilikan SBN domestik sampai dengan triwulan II tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 19 di bawah ini. Dari sisi kepemilikan SBN domestik, sampai dengan triwulan II tahun 2015, realisasi penerbitan SBN domestik lebih banyak diserap oleh investor non-bank; terutama oleh investor asing, asuransi, reksadana, dan investor lainnya termasuk investor individu. Nilai total SBN domestik yang diserap oleh investor non-bank mencapai Rp 906,8 triliun atau 66,9 persen dari total SBN domestik. Investor perbankan menyerap Rp 369,1 triliun atau 27,2 persen dari total SBN domestik. Sedangkan sisanya sebesar 5,94 persen dimiliki oleh Institusi Pemerintah.

Selanjutnya dari tabel 19 dapat dilihat juga bahwa kepemilikan SBN domestik oleh investor non-bank dalam kurun waktu 2010 - triwulan II tahun 2015 meningkat rata-rata sebesar 14,3 persen. Peningkatan ini lebih besar dibanding peningkatan kepemilikan SBN domestik oleh investor perbankan yang meningkat rata-rata 11,2 persen dari Rp 217,27 triliun di akhir tahun 2010 menjadi Rp 369,1 triliun pada triwulan II tahun 2015. Sedangkan kepemilikan SBN domestik oleh Institusi Pemerintah meningkat tinggi rata-rata sebesar 35,8 persen dari Rp 17,42 triliun di tahun 2010 menjadi Rp 80,6 triliun pada triwulan II tahun 2015.

Tabel 19. Posisi Kepemilikan SBN DOMESTIK Per 31 Triwulan II Tahun 2015 (triliun Rupiah)

2010 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-Rata Persentase

Kepemilikan

Gambar

Gambar 1. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel)
Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I  Tahun 2013 – Triwulan II Tahun 2015 Menurut Lapangan Usaha (YoY)
Gambar 7. Neraca Transaksi Finansial Indonesia Triwulan I Tahun 2014 – Triwulan II Tahun
Tabel 12. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan II Tahun 2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Berdasarkan telaah kinerja PDRB menurut lapangan usaha ( q-to-q ) pada Triwulan II/2014, sektor yang mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur mengalami

Beberapa subsektor yang mengalami peningkatan peranan secara drastis bagi industri pengolahan nonmigas pada triwulan I tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2014

Inflasi inti pada triwulan II 2015 relatif terkendali dan rendah akibat perlambatan ekonomi domestik dan penurunan harga komoditas global.... Inflasi Inti Nontraded Ekspektasi

Kelompok industri yang menunjukkan penurunan pertumbuhan produksi pada triwulan II/2015 terhadap triwulan II/2014 dan cukup besar diantaranya kelompok industri Komputer,

 Sektor ekonomi yang memiliki peranan terbesar dalam perekonomian DIY pada triwulan II 2013 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 20,75 persen,

Dalam Tabel 2, sektor ekonomi yang menunjukan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku terbesar pada triwulan II-2014 bila diurutkan adalah sektor pertanian,

2.2 PERANAN SEKTOR INDUSTRI TERHADAP PDB NASIONAL Pada triwulan II-2014, Industri Pengolahan merupakan sektor industri terbesar dalam memberikan kontribusi kepada PDB

Perlambatan kinerja ekspor Provinsi Papua tercermin dari pertumbuhan tahunan volume ekspor non migas yang mengalami penurunan pada periode triwulan I-2011 sebesar -38%