BAB III METODE PENELITIAN
4.1 Analisis Deskriptif
4.1.3 Perkembangan Produktivitas Pertanian
Produktivitas pertanian di Indonesia dari tahun 1986 sampai tahun 2012 mengalami perubahan setiap tahunnya. Perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada tahun 1986 produktivitas pertanian sebesar 3,97 ton/ha dan pada tahun 1987 produktivitas pertanian mengalami peningkatan sebesar 0,06 ton/ha, peningkatan produktivitas pertanian ini tidak menunjukkan dampak yang signifikan pada produksi padi.
Dari tahun 1987 sampai tahun 1991 produktivitas pertanian rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 1,8 persen. Peningkatan produktivitas pertanian di Indonesia pada tahun 1991 tidak diikuti dengan peningkatan produksi padi, dimana pada tahun 1991 produksi padi mengalami penurunan sebesar 490.504 ton. Produksi padi yang cenderung tidak mengalami peningkatan disebabkan karena dalam periode yang sama luas panen padi juga mengalami penurunan sebesar 2,10 persen dan ini menunjukkan bahwa di Indonesia produktivitas pertanian bukan hanya menjadi faktor utama untuk meningkatkan produksi padi.
Pada tahun 1992 produktivitas pertanian tidak mengalami peningkatan dari tahun 1991 atau tidak mengalami pertumbuhan. Namun meskipun pada tahun 1992 produktivitas pertanian tidak mengalami pertumbuhan, produksi beras menunjukkan peningkatan sebesar 7,9 persen dari tahun 1991, peningkatan ini dipengaruhi oleh luas panen beras yang meningkat serta harga dasar yang diperoleh petani. Perkembangan harga rata-rata gabah di pedesaan dalam tahun 1988/1989 sampai tahun 1992/1993 menunjukkan kecenderungan yang meningkat dan berada diatas harga dasar yang ditetapkan, pada tahun 1992/1993 walaupun harga rata-rata gabah dipedesaan menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi, perkembangan harga rata-rata gabah tersebut tetap diatas harga dasar dan menunjukkan bahwa gabah yang dihasilkan dan dijual oleh para petani telah memperoleh harga yang wajar, sehingga keadaan ini mendorong produktivitas pertanian dan meningkatkan produksi beras dalam negeri.
Perkembangan produktivitas pertanian di Indonesia dari tahun 1986 sampai 2012 dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1
Perkembangan Produktivitas Pertanian di Indonesia Tahun 1986-2012 (ton/ha) No Tahun Produktivitas Pertanian Pertumbuhan Produktivitas Pertanian (%) 1 1986 3.97 0 2 1987 4.03 1.51 3 1988 4.11 1.98 4 1989 4.24 3.16 5 1990 4.3 1.41 6 1991 4.34 0.92 7 1992 4.34 0 8 1993 4.37 0.69 9 1994 4.34 -0.68 10 1995 4.34 0 11 1996 4.41 1.61 12 1997 4.43 0.45 13 1998 4.19 -5.41 14 1999 4.25 1.43 15 2000 4.4 3.52 16 2001 4.38 -0.45 17 2002 4.46 1.82 18 2003 4.53 1.56 19 2004 4.53 0 20 2005 4.57 0.88 21 2006 4.62 1.09 22 2007 4.7 1.73 23 2008 4.89 4.04 24 2009 4.99 2.04 25 2010 5.01 0.4 26 2011 4.98 -0.59 27 2012 5.13 3.01
Tahun 1993 produktivitas pertanian kembali mengalami peningkatan, sehingga berdampak pada pengurangan impor beras di Indonesia. Keberhasilan peningkatan produktivitas sangat berkorelasi dengan inovasi teknologi, strategi pengolahan lahan dan pendekatan program intensifikasi. Produktivitas pertanian pada tahun 1993 berperan besar dalam peningkatan produksi beras, karena walaupun pada periode yang sama luas lahan pertanian terjadi penurunan, khususnya di pulau jawa dimana luas panen mengalami penyusustan sebagai akibat dari proses industrialisasi dan urbanisasi yang didorong oleh laju pertumbuhan penduduk yang rata-rata pertahun pertumbuhannya masih tinggi namun produksi padi dapat ditingkatkan.
Selain di pulau jawa Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal, sebagian lahan potensi tersebut merupakan lahan suboptimal seperti lahan kering, rawa, pasang surut dan gambut yang produktivitasnya relatif rendah, karena lahan tersebut masih memiliki kendala dalam hal kekurangan dan kelebihan kadar air dan jenis tanah yang kurang subur. Namun apabila lahan suboptimal tersebut dapat diolah dan dijadikan lahan yang subur serta didukung infrastruktur jalan dan irigasi, maka lahan tersebut dapat menjadi lahan-lahan produktif.
Peningkatan produktivitas pertanian tidak bertahan sampai tahun 1994, ini terlihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan produktivitas pertanian mengalami penurunan sebesar 0,68 persen, penurunan produktivitas pertanian ini dipengaruhi oleh musim kemarau yang panjang
sehingga menyebabkan lahan pertanian kering serta disebabkan lahan usaha pertanian padi mulai menunjukkan kejenuhan.
Gambar 4.3
Pertumbuhan Produktivitas Pertanian
Permasalahan yang kompleks mempengaruhi produktivitas pertanian dan produksi beras di Indonesia pada tahun 1998. Hal ini bukan hanya terjadi karena kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami krisis ekonomi, tetapi juga dikarenakan penggunaan pupuk pada tahun 1998 yang lebih sedikit dibandingkan dengan tahun sebelumnya maupun tahun 1999 sehingga berpengaruh pada penurunan produktivitas pertanian. Penggunaan pupuk yang rendah tersebut disebabkan oleh naiknya harga pupuk setelah penghapusan subsidi pupuk oleh pemerintah pada tahun 1998. Penurunan produktivitas pertanian juga dipengaruhi oleh bencana kekeringan sebagai akibat El Nino yang menghancurkan struktur fisik pertanian, dihapuskannya kredit program Kredit Usaha Tani (KUT) yang diubah menjadi Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang menggunakan sistem
-6 -4 -2 0 2 4 6 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Pertumbuhan Produktivitas Pertanian (%)
Pertumbuhan Produktivitas Pertanian (%)
eksekuting dan subsidi bunga serta dipengaruhi bergulirnya desentralisasi dan otonomi daerah. Dampak dari kondisi tersebut menyebabkan penurunan pertumbuhan produktivitas pertanian mencapai 5,41 persen.
Pada tahun 2000 produktivitas pertanian mengalami peningkatan sebesar 3,52 persen dikarenakan pada tahun 2000 nilai subsidi untuk pertanian meningkat secara dramatis, peningkatan subsidi ini dikarenakan keputusan untuk mempertahankan subsidi pupuk meskipun biaya produksi pupuk meningkat. Subsidi pupuk ini merupakan program utama yang digunakan pemerintah untuk memberikan dukungan anggaran kepada sektor pertanian dan didukung oleh kondisi cuaca yang baik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi pada tahun 2001 hanya sebesar 50,46 juta ton lebih rendah dibandingkan tahun 2000 yaitu 51,89 juta ton. Kondisi ini dipengaruhi oleh turunnya luas panen dan produktivitas pertanian. Kecenderungan produksi yang semakin menurun merupakan ancaman bagi ketahanan pangan. Selama ini produksi padi dalam negeri masih tergantung pada produksi di pulau jawa, dimana 56 persen produksi padi dipulau jawa, selebihnya 22 persen di pulau sumatera, 10 persen di pulau Sulawesi dan 5 persen di pulau Kalimantan.
Pulau jawa merupakan pusat produksi padi yang utama dan berperan sebagai penyangga produksi beras nasional. Namun setiap tahun luas luas lahan di pulau jawa semakin menurun, hal ini disebabkan pertambahan penduduk yang relatif tinggi di pulau jawa sehingga berdampak pada permintaan lahan perumahan yang tinggi pula, pembangunan infrastruktur yang semakin meningkat
setiap tahunnya, industrialisasi yang cenderung berlokasi di pulau jawa dan hambatan lain yang menyebabkan usaha peningkatan hasil per hektar menurun karena harga pupuk dan pestisida/inseksida yang meningkat. Penghasilan petani yang rendah juga menyebabkan sebagian besar petani padi masih terperangkap kemiskinan, demikian juga pengolahan gabah ke beras semakin menurun sehingga akan berpengaruh negatif terhadap produksi beras.
Pada tahun 2008 produktivitas pertanian menunjukkan peningkatan pertumbuhan sebesar 4.04 persen. Dari tahun 1986 sampai tahun 2012 pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2008. Meningkatnya produtivitas pertanian mempengaruhi peningkatan poduksi, sehingga produksi beras yang merupakan pangan utama dalam negeri sangat membantu menstabilkan harga pangan, sehingga Indonesia terhindar dari krisis pangan yang melanda banyak negara pada periode yang sama. Krisis pangan lebih terasa pada saat terjadi krisis keuangan global yang berdampak pada meningkatnya harga pangan internasional terutama negara-negara produsen. Secara umum harga komoditas pangan dalam negeri lebih stabil bila dibandingkan dengan harga internasional. Di lain pihak, produksi beras yang surplus memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengekspor beras, sehingga akan meningkatkan pendapatan petani dan citra pertanian Indonesia.
Dari tahun 2005 sampai tahun 2010 pertumbuhan produktivitas pertanian menunjukkan peningkatan, namun hal ini tidak dapat dipertahankan pada tahun 2011, sehingga pada tahun 2011 pertumbuhan produktivitas pertanian mengalami penurunan sebesar 0,59 persen. Pertumbuhan produktivitas pertanian kembali
meningkat di tahun 2012 yaitu sebesar 3,01 persen. Peningkatan produktivitas petanian pada tahun 2012 tidak terlepas dari peningkatan kemampuan petani dalam mengaplikasikan teknologi yang dibutuhkan dalam kegiatan usahatani serta kegiatan pendapingan dan penyuluhan yang dilakukan pemerintah. Pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dapat dilihat dari peningkatan produksi padi dari tahun ke tahun dan peranan penyuluhan sangat penting dalam mengembangkan kemampuan petani.