• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

C. Analisa Univariat

2. Perkembangan psikososial anak usia prasekolah

Ada beberapa definisi perkembangan menurut para ahli. Menurut Hurlock (1990), development (perkembangan) adalah bertambahnya skill (kemampuan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Wong (2002) mengemukakan bahwa, perkembangan adalah perubahan dan perluasan secara bertahap, perkembangan tahap kompleks dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, peningkatan dan perluasan kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, maturasi serta pembelajaran.

Setiap organisme pasti mengalami peristiwa perkembangan setiap hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisme ini, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Jadi arti peristiwa perkembangan itu, khususnya perkembangan manusia, tidak hanya tertuju pada aspek psikologisnya saja, tetapi juga aspek biologis (Susanto, 2011).

Menurut Yusuf (2004 dalam Susanto, 2011), perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).

Perkembangan digunakan untuk menunjukkan bertambahnya keterampilan dan fungsi yang kompleks. Seseorang berkembang dalam

pengaturan neuromuskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan terbentuk pula kepribadiannya. Maturasi dan diferensiasi sering dipergunakan sebagai sinonim untuk perkembangan (Hassan, 2007) a. Perkembangan Kognitif

Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar (Susanto, 2011).

Perkembangan kognitif adalah perkembangan dari pikiran. Pikiran adalah bagian dari berpikir dari otak, bagian yang digunakan yaitu untuk pemahaman, penalaran, pengetahuan, dan pengertian. Pikiran anak mulai aktif sejak lahir, terus berkembang dari hari ke hari sepanjang pertumbuhannya. Perkembangan pemikirannya, seperti: 1) Belajar tentang orang

2) Belajar tentang sesuatu

3) Belajar tentang kemampuan-kemampuan baru 4) Memperoleh banyak ingatan

5) Menambah banyak pengalaman

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif adalah suatu perkembangan pikiran yang dapat berpengaruh pada perkembangan aktivitas anak dalam beradaptasi terhadap lingkungan.

b. Perkembangan Emosional

Kesadaran diri anak dalam merasakan rentang emosi yang semakin luas terus bertambah.Anal-anak, seperti halnya orang dewasa, mengalami beragam emosi sepanjang hari. Perkembangan emosional mereka pada masa kanak-kanak awal memungkinkan mereka untuk mencoba memahami reaksi emosional orang lain dan mulai belajar mengendalikan emosi mereka sendiri (Santrock, 2011).

Perkembangan emosional berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Perkembangan emosi dan sosial merupakan dasar perkembangan kepribadian di masa datang. Setiap orang akan mempunyai emosi rasa senang, marah, kesal dalam menghadapi lingkungan sehari-hari (Susanto, 2011).

Setiap anak menunjukkan ekspresi yang berbeda sepanjang perkembangannya. Pada awal perkembangan anak, mereka telah menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang yang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik sosial maupun emosional (Susanto, 2011).

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosional adalah keadaan manusia yang dipengaruhi oleh kejiwaan seperti senang, marah, kesal atau keadaan lingkungan disekitarnya sehingga mendorong untuk bertindak.

c. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial juga diartikan sebagai proses

belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi, dan bekerja sama (Susanto, 2011).

Anak dilahirkan belum bersifat sosial, artinya anak belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Anak harus belajar tentang cara-cara penyesuaian diri dengan orang lain untuk mencapai kematangan sosial. Anak memperoleh kemampuan ini melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya baik orang-orang tua, saudara, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya (Susanto, 2011).

Jadi perkembangan sosial merupakan sebuah proses interaksi yang dibangun oleh seseorang dengan orang lain. Perkembangan sosial ini berupa jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas.

d. Perkembangan Psikososial

Perkembangan psikososial merupakan tahap perkembangan yang dipengaruhi faktor sosial dan kultural. Erikson(1950 dalam Susanto, 2011) menemukan bahwa dalam tahap-tahap kehidupan setiap individu, terdapat tugas-tugas perkembangan penting yang perlu diselesaikan dengan baik.

Keberhasilan individu dalam menyelesaikan suatu tugas perkembangan akan menjadi dasar bagi tugas perkembangan selanjutnya, sehingga kemungkinan individu untuk dapat menyelesaikan tugas berikutnya akan lebih besar. Namun sebaliknya,

kegagalan individu dalam menyelesaikan tugas dalam suatu tahap perkembangan akan cenderung menghambat individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan pada tahap selanjutnya. Seorang anak harus melewati tahapan perkembangan psikososial ini secara urut dan masing-masing tahapan harus diselesaikan (Susanto, 2011).

B. Perkembangan psikososial 1. Definisi

Menurut Erikson (1950 dalam Santrock, 2011) pada usia 3-6 tahun anak memasuki tahap perkembangan psikososial inisiatifdan rasa bersalah.Tahap ini merupakan tahap ketiga yang berlangsung selama tahun-tahun sekolah. Ketika mereka memasuki dunia sekolah mereka lebih tertantang dibanding ketika masih bayi. Anak-anak diharapkan aktif untuk menghadapi tantangan ini dengan rasa tanggung jawab atas perilaku, mainan, dan hewan peliharaan mereka.Anak-anak bertanggung jawab meningkatkan prakarsa.Namun, perasaan bersalah dapat muncul, bila anak tidak diberikan kepercayaan dan merasa sangat cemas.

2. Karakteristik perkembangan psikososial anak prasekolah

Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun yang merupakan masa persiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Menurut Montessori (1870 dalam Susanto, 2011) masa ini ditandai dengan masa peka terhadap segala stimulasi yang diterimanya melalui pancaindera. Masa peka memiliki arti penting bagi perkembangan setiap anak. Apabila orang tua mengetahui anaknya telah memasuki masa peka dan segera memberi stimulasi yang

tepat, maka akan mempercepat penguasaan terhadap tugas-tugas perkembangan pada usianya.

Anak usia prasekolah merupakan tahapan terakhir pada masa balita. Masa balita merupakan periode penting dalam pertumbuhan danperkembangan, karena perkembangan masa ini merupakan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensi berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak masih dalam kandungan, sebaliknya lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangannya (Soetjiningsih, 2002).

Tinjauan Erikson (1963 dalam Wong, 2002) menyatakan krisis

yang dihadapi pada anak usia antara 3 sampai 6 tahun disebut “inisiatif

versus rasa bersalah”. Perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara

mengkaji lingkungan melalui kemampuan inderanya. Anak mengembangkan keinginan dengan cara eksplorasi terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Hasil akhir yang diperoleh adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu sebagai prestasinya. Perasaan bersalah akan timbul pada anak apabila anak tidak mampu berprestasi sehingga merasa tidak puas atas perkembangan yang tidak dicapai. Menurut Erikson (1963 dalam Wong, 2002) pada fase inisiatif versus rasa bersalah anak menunjukkan karakteristik:

a) Orang terdekat anak usia prasekolah adalah orang tua.

b) Anak yang normal telah menguasai perasaan otonomi dengan dukungan orang tua dalam imajinasi dan aktivitas, dan anak berupaya menguasai perasaan inisiatif.

c) Anak mengembangkan perasaan bersalah ketika orang tua menyebabkan anak merasa bahwa imajinasi dan aktivitasnya tidak dapat diterima. Ansietas terjadi ketika pemikiran dan aktivitas anak tidak sesuai dengan harapan orang tua.

Beberapa karakteristik perkembangan psikososial anak prasekolah antara lain:

a) Karakteristik sosial

1) Hubungan anak dengan orang lain, termasuk kakek-nenek, saudara kandung dan guru-guru di sekolah.

2) Anak memerlukan interaksi yang teratur dengan teman sebaya untuk membantu mengembangkan keterampilan sosial.

3) Tujuan utama program usia prasekolah adalah membentuk dan mengembangkan keterampilan sosial anak.

b) Karakteristik perilaku

Sesuai dengan tugas perkembangannya, anak prasekolah akan memperlihatkan perilaku sebagai berikut (Keliat, 2008) :

1) Perilaku anak prasekolah berdasarkan tugas perkembangan yang normal : inisiatif

a. Mengkhayal dan kreatif

c. Belajar keterampilan fisik baru

d. Menikmati bermain bersama dengan anak seusianya e. Mudah berpisah dengan orang tua

f. Mengetahui hal-hal yang salah dan benar serta mengikuti aturan

g. Minimal mengenal 4 warna

h. Merangkai kata-kata dalam bentuk kalimat i. Mampu mengerjakan pekerjaan yang sederhana j. Mengenal jenis kelamin

2) Perilaku anak prasekolah berdasarkan tugas perkembangan : rasa bersalah

a. Tidak percaya diri, malu untuk tampil b. Pesimis, tidak memiliki cita-cita c. Takut salah dalam melakukan sesuatu

d. Sangat membatasi aktivitasnya, sehingga terkesan malas dan tidak mempunyai inisiatif

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikososial

Menurut Akbar (2009 dalam Susanto, 2011) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososial yaitu penerimaan kelompok, keamanan status, tipe kelompok, perbedaan anggota kelompok, kepercayaan diri dan perkembangan intelektual.

a) Penerimaan kelompok

Anak-anak yang populer akan mudah tumbuh dan diterima sebagai anggota kelompoknya. Anak-anak yang kurang

motivasinya untuk bersosialisasi akan mengalami kesulitan untuk diterima dalam kelompok sosialnya.

b) Keamanan status

Anak-anak yang merasa aman di lingkungan kelompoknya akan merasa bebas mengutarakan segenap kreativitasnya, sebaliknya anak-anak yang merasa tidak aman akan bersifat tertutup dan akan takut untuk berbuat sesuatu. Dalam keluarga harus diciptakan suasana aman untuk anak-anak agar perkembangannya dapat optimal.

c) Tipe kelompok

Kelompok sosial dibagi menjadi beberapa tingkatan hubungan dan bergantung pada keefektifan hubungan tersebut meliputi, primer (keluarga), sekunder (kelompok bermain), tersier (hubungan antar anak-anak dalam bis dan kereta). Kelompok primerlah yang memiliki peran terbesar dalam perkembangan psikososial anak. d) Perbedaan anggota kelompok

Peran terbesar dalam kelompok dipegang oleh anak yang populer dan yang berperan terkecil adalah anak-anak yang tidak populer.

e) Kepercayaan diri

Rasa percaya diri perlu ditanamkan pada anak-anak sehingga dapat tumbuh dengan baik. Anak yang kurang percaya diri tidak akan dapat berperan dalam kelompok sosialnya, sehingga perlu distimulasi motivasinya untuk dapat memiliki rasa percaya diri.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2011) tentang hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan anak usia tiga sampai enam tahun, yang dilakukan di Dusun Jatisari Desa Purwodadi Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan pada Senin 4 Juli 2011 kepada anak usia prasekolah, menunjukkan hasil bahwa pola asuh orang tua memiliki hubungan terhadap perkembangan anak usia tiga sampai enam tahun.

C. Pola asuh 1. Definisi

Parenting (pola asuh) atau perawatan anak sangat bergantung pada nilai-nilai yang dimiliki keluarga (Supartini, 2004). Pola asuh merupakan proses dari tindakan yang mempunyai tujuan untuk dicapai sedang masa tersebut dimulai dari masa kehamilan (Wong, 2002). Pola asuh menurut Soetjiningsih (2004) adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan masyarakat pada umumnya. Pada dasarnya tujuan utama pengasuhan orang tua adalah untuk mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya, memfasilitasi anak untuk mengembangkan kemampuan sejalan dengan tahapan perkembangannya dan mendorong peningkatan kemampuan berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakininya. Kemampuan orang tua atau keluarga menjalankan peran pengasuhan ini tidak dipelajari secara formal melainkan berdasarkan pengalaman dalam menjalankan peran tersebut secara trial dan error (Supartini, 2004).

2. Peran keluarga dalam pola asuh a) Pola asuh oleh ibu

Peranibu adalah sebagai pelindung dan pengasuh.Seorang ibu, tua maupun muda, kaya atau miskin secara naluri mengetahui tentang garis-garis besar dan fungsinya sehari-hari dalam keluarga. Ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga, khususnya bagi anak-anak usia dini. Oleh karena itu keterlibatan ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak sejak masih bayi dapat membawa pengaruh positif maupun negatif bagi perkembangan anak di masa yang akan datang.

Hubungan yang erat dengan ibu ditahun pertama kehidupan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang anak yang selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Peran ibu sedini mungkin akan membuat anak merasa aman dan nyaman karena adanya kontak fisik ketika ibu menyusui anak segera setelah lahir. Kekurangan kasih sayang ibu pada tahunpertama kehidupan mempunyai dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun sosial emosi (Soetjiningsih, 2000).

Peran seorang ibu sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Keyakinan, pemikiran dan perilaku ibumemiliki pengaruh yang sangat dalam terhadap pemikiran dan perilaku anak,karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan keluarga (Lyen, 2003).

Menurut Gunarsa (2003), perpisahan yang relatif lama antara ibu dan anak bisa menjadi dasar timbulnya kesulitan-kesulitan tingkah

laku dan kepribadian anak. Kemerosotan dalam hubungan keluarga juga semakin mengganggu perkembangan anak, hal ini menyebabkan perasaan tidak aman dan tidak bahagia sehingga anak akan mengalami kesulitan penyesuaian sosial di luar rumah serta menurunkan kemampuan berkonsentrasi dan belajar (Hurlock, 1990).

Anak yang mendapatkan kasih sayang cukup dari ibu akan dapat menghadapi dan menyelesaikan masalah baru di luar rumah. Jika ibu terlalu ikut campur dalam urusan anak atau memaksakan anak untuk mentaati ibu, maka hal ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan pembentukan kepribadian anak.

b) Pola asuh oleh keluarga

Kenyataan bahwa pola asuh dalam keluarga utuh dan dalam satu rumah, serta hanya satu yang berperan sebagai ibu adalah tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh semua orang tua baik di Indonesia maupun di negara lain. Masalah di negara timur termasuk Indonesia, keluarga besar masih lazim dianut dan peran ibu sering dilakukan oleh beberapa orang seperti ayah, kakek, nenek, bibi dan keluarga dekat lainnya.Kecenderungan wanita untuk bekerja di luar rumah menyebabkan meningkatnya peran pengganti ibu, sehingga peran "Ibu pengganti" menjadi sangat penting. Pada keluarga yang disharmonis atau adanya perpisahan sementara dengan ibu karena tugas, maupun perpisahan permanen karena orang tua bercerai atau meninggal, atau anak dititipkan di panti asuhan dapat menyebabkan masalah psikis pada anak karena tidak ada atau kurang adanya kasih sayang yang

sangat dibutuhkan oleh anak untuk mendukung tercapainya pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal (Hurlock, 1990 dan Soetjiningsih, 2000).

Pengasuh penganti merupakan pemberi perhatian utama dan anak akan menganggap pengasuh tersebut sebagai figur ibu. Anak yang diasuh oleh orang lain dalam jangka panjang akan mengalami kesulitan lebih besar ketika harus berkumpul kembali dengan orang tua. Anak menjadi tidak patuh dan menolak batasan-batasan yang diterapkan oleh orang tua (Lyen, 2003).

c) Pola asuh oleh nenek

Hurlock (2004) berpendapat bahwa nenek berperan sebagai pengasuh atau pengganti ibu. Hubungan yang sering terjadi dari semua sanak keluarga adalah antara anak dan nenek dari pihak ibu karena ibu sering meminta bantuan nenek untuk merawat anak apabila tidak ada pembantu pada saat orang tua harus pergi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ariani (2005) tentang pengasuhan anak dikalangan keluarga TKI, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang cukup menonjol antara anak-anak yang diasuh oleh orang tua tunggal, dengan ank-anak-anak yang diasuh oleh keluarga luas. Orang tua tunggal lebih tegas dan bertindak cepat dalam pengambilan keputusan terhadap anak dari pada pola asuh yang dilakukan oleh nenek-kakeknya. Anak dalam pengasuhan orang tua tunggal akan menghasilkan pola asuh yang lebih mandiri, tidak menghadapi kendala yang cukup berarti. Saat ibu atau ayah berpergian

ke luar negeri, segala beban tugas diambil alih oleh suami, isteri, atau keluarga luasnya. Anak-anak yang ditinggalkan tidak mangalami kendala yang berarti. Anak dapat berkomunikasi dengan ibu kapan saja, sehingga kondisi anak dan keluarga yang 'mencari nafkah' ke luar negeri dianggap sebagai hal biasa, karena dalam waktu dekat mereka dapat berkumpul kembali.

3. Tipe pola asuh

Pola asuh orang tua mempengaruhi seberapa baik anak membangun nilai-nilai dan sikap-sikap anak yang bisa dikendalikan. Pakar perkembangan anak Baumrind 1971 (dalam Santrock, 2011) telah mengelompokkan pola asuh dalam empat tipe:

a) Pola asuh bisa diandalkan (Demokratis)

Orang tua yang bisa diandalkan menyeimbangkan kasih sayang dan dukungan emosional dengan struktur dan bimbingan dalam membesarkan anak-anak mereka. Orang tua tipe ini memperlihatkan cinta dan kehangatan kepada anak. Mereka harus mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian, serta menyediakan waktu bertemu yang positif secara rutin dengan anak. Orang tua tipe bisa diandalkan membiarkan anak untuk menentukan keputusan sendiri dan mendorong anak untuk membangun kepribadian.

Anak-anak dari orang tua yang bisa diandalkan cenderung memiliki kebanggaan diri yang sehat, hubungan positif dengan sebayanya, percaya diri, dan sukses.

b) Pola asuh otoriter

Pola asuh otoriter adalah pola asuh anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang tua yang telah membesarkannya.

Anak yang dibesarkan dengan teknik pola asuh seperti ini biasanya tidak bahagia, paranoid/selalu berada dalam ketakutan, mudah sedih dan tertekan, senang berada di luar rumah, benci orang tua, dan lain-lain. Namun dibalik itu biasanya anak yang diasuh oleh orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter lebih bisa mandiri, tumbuh sesuai dengan harapan orang tua, lebih disiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup.

Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter menekankan batasan dan larangan diatas respon positif. Orang tua sangat menghargai anak yang patuh terhadap perintah orang tua dan tidak melawan. Pola asuh otoriter menimbulkan dampak negatif pada anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Suharsono 2009, tentang hubungan pola asuh orang tua terhadap kemampuan sosialisasi anak usia prasekolah telah menunjukkan bahwa anak dari

orang tua otoriter bisa menjadi pemalu, penuh ketakutan, menarik diri, dan berisiko terkena depresi.

c) Pola asuh permisif

Pola asuh permisif adalah jenis pola asuh anak yang tidak mempedulikan pertumbuhan dan perkembangan terhadap anak. Jadi apapun yang mau dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas, materialistis, dan sebagainya.

Pola pengasuhan anak oleh orangtua semacam ini biasanya diakibatkan oleh orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain, sehingga orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Anak hanya diberikan materi atau harta saja dan tidak mempedulikan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anak yang diasuh oleh orangtua dengan pola semacam ini akan berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik pada masa kanak-kanak maupun pada masa dewasa.

Orang tua tipe permisif tidak memberikan struktur dan batasan yang tepat bagi anak. Orang tua tipe ini cenderung mempercayai bahwa ekspresi bebas dari keinginan hati dan harapan sangatlah

penting bagi perkembangan psikologis. Orang tua menyembunyikan ketidaksabaran, kemarahan, atau kejengkelan pada anak.

d) Pola asuh penelantar

Pada pola asuh ini orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Pada tipe ini orang tua hanya memberikan waktu, perhatian dan biaya yang sangat sedikit pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi, seperti bekerja.

Anak yang diasuh oleh orang tua dengan pola asuh semacam ini akan memiliki harga diri yang rendah, cenderung tidak kompeten secara sosial, kurang mandiri dan terasing dari keluarga.

e) Pola asuh campuran

Pola asuh campuran orang tua tidak konsisten dalam mengasuh anak. Orang tua terombang-ambing antara tipe bisa diandalkan, otoriter, atau permisif. Pada pola asuh ini orang tua tidak selamanya memberikan alternatif seperti halnya pola asuh bisa diandalkan, akan tetapi juga tidak selamanya melarang seperti halnya orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter dan juga tidak secara terus menerus membiarkan anak seperti pada penerapan pola asuh permisif.

Pada pola asuh campuran orang tua akan memberikan larangan jika tindakan anak menurut orang tua membahayakan, membiarkan saja jika tindakan anak masih dalam batas wajar dan memberikan alternatif jika anak paham tentang alternatif yang ditawarkan (Dewi, 2008).

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh

Setiap orang mempunyai sejarah sendiri-sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda. Perbedaan ini sangat memungkinkan terjadinya pola asuh yang berbeda terhadap anak. Menurut Syamsu(2004), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh oran tua yaitu:

a) Pendidikan

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. Orang tua yang mempunyai pendidikan yang baik dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, cara menjaga

Dokumen terkait