1. Pengertian koperasi
Dilihat dari segi bahasa, secara umum koperasi berasal dari bahasa latin yaitu cum yang berarti “dengan”, dan aperari yang berarti “bekerja”. Dari kedua kata ini. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan Co dan Operation, yang dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah Cooperation Vereneging yang berarti “bekerja bersama” dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu.16
Kata Cooperation kemudian diangkat menjadi istilah ekonomi sebagai koperasi yang dibakukan menjadi suatu bahasa ekonomi yang dikenal dengan istilah koperasi, yang berarti organisasi ekonomi dengan keanggotaan yang sifatnya sukarela. Koperasi sebagai usaha bersama, harus mencerminkan ketentuan-ketentuan sebagaimana lazimnya di dalam kehidupan suatu keluarga, dimana segala sesuatunya dikerjakan secara bersama-sama dan ditujukan untuk kepentingan bersama seluruh anggota keluarga.
Wirjono Prodjodikoro dalam bukunya Hukum Perkumpulan Perseroan
dan Koperasi Indonesia, mendefinisikan koperasi sebagai suatu kerjasama antara
orang-orang yang termasuk golongan kurang mampu, yang ingin bersama untuk meringankan beban hidup atau beban kerja.17
16
R.T. Sutantya Rahardja Hadhikusuma, Hukum Koperasi Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 2.
17 Andjar Pachta W dan Myra Rosana Bachtiar, Hukum Koperasi Indonesia (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 17.
Mohammad Hatta dalam The Cooperative Movement in Indonesia, mengemukakan bahwa koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong.18 Selanjutnya dikemukakan oleh Mohammad Hatta gerakan koperasi melambangkan harapan bagi kaum yang lemah ekonominya berdasarkan self-help dan tolong-menolong diantara anggota- anggotanya yang melahirkan rasa percaya pada diri sendiri dan persaudaraan. Koperasi menyatakan semangat baru untuk menolong diri sendiri yang didorong oleh keinginan memberi jasa kepada kawan berdasarkan kebersamaan.
International Coorpartive Alliance (ICA) memberikan definisi koperasi
sebagai berikut :
Koperasi adalah kumpulan orang-orang atau badan hukum, yang bertujuan untuk perbaikan sosial ekonomi anggotanya dengan memenuhi kebutuhan anggotanya dengan jalan berusaha bersama saling membantu antara yang satu dengan yang lainnya dengan cara membatasi keuntungan dan usaha tersebut harus didasarkan atas prinsip-prinsip koperasi.19
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1965 tentang koperasi mendefinisikan bahwa koperasi adalah organisasi ekonomi dan alat revolusi yang berfungsi sebagai tempat persemaian insan masyarakat serta wahana menuju sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila. Dikarenakan perkembangan zaman diiringi dengan orde baru yang menginginkan semangat dan jiwa orde baru maka lahirlah Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian mendefinisikan bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat, yang berdasarkan asas
kekeluargaan. Dengan ketatnya persaingan usaha yang sangat ketat ini dan semakin meningkatnya masyarakat yang menganut sistem ekonomi liberal dan individualis, memaksa pemerintah untuk membuat Undang-Undang perkoperasian yang baru agar dapat menyelaraskan dengan keadaan ekonomi global. Sehingga terbitlah UU 17/2012 tentang Perkoperasian.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian memberikan definisi bahwa koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi. Namun Undang-Undang ini memberikan dampak yang kurang baik bagi masyarakat. Dikarenakan tidak selaras dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33. Sehingga mengakibatkan dibatalkannya UU 17/2012 tentang Perkoperasian dan secara langsung memberlakukan Undang-Undang Perkoperasian sampai dengan terbentuknya Undang-Undang koperasi baru.
Beberapa rumusan definisi dan pengertian koperasi di atas, jelas dapat diketahui tentang ciri-ciri yang khas dimiliki koperasi di negara kita, yaitu :
a. Adanya sekelompok orang yang mempunyai kepentingan ekonomis yang sama.
b. Memiliki dan membangun satu usaha secara bersama-sama.
c. Memiliki motivasi kuat untuk dapat berdikari sebagai kekuatan utama dari kelompok.
d. Kepentingan bersama yang merupakan cerminan dari kepentingan individu atau anggota adalah tujuan utama usaha bersama.
2. Sejarah koperasi
a. Sejarah koperasi pada umumnya
Koperasi sebagai produk budaya eksistensinya tak dapat dilepaskan dari sejarah panjangnya sebagai sebuah gerakan perubahan sosial. Gerakan koperasi di dunia lahir adalah untuk memerangi pemerasan, kebodohan, kemiskinan, dominasi, persaingan bebas dan berbagai bentuk eksploitasi kemanusiaan lainya. Koperasi merupakan sejarah perkembangan pemikiran manusia yang tujuanya adalah untuk mengangkat derajat kemanusian lebih tinggi diatas entitas modal dalam sistem yang kapitalistik.
Koperasi merupakan institusi (lembaga) yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan kerjasama antar individu, yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia sampai pada awal revolusi industrial di Eropa pada akhir abad 18 dan selama abad 19, sering disebut sebagai Koperasi Historis atau Koperasi Pra- Industri. Koperasi modern didirikan pada akhir abad 18, terutama sebagai jawaban atas masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal revolusi industri.
b. Masa Penjajahan Belanda
Di Indonesia ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria Wiraatmajapada, diawali pada tanggal 16 Desember 1895 beliau mendirikan “De Porwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden” (Bank Bantuan dan Simpanan Purwokerto) atau lebih dikenal dengan sebutan “ Bank Priyayi Purwokerto”. Bank ini didirikan dengan
tujuan untuk menolong para pegawai pemerintah di wilayah purwokerto yang sering terjerat hutang pada rentenir.20
Koperasi dalam aktivitasnya, lembaga keuangan tersebut memberikan kredit tidak hanya sebatas pada pegawai pemerintah, melainkan juga kepada petani. Bank tersebut untuk selanjutnya oleh de Wolf van Westerrode diubah menjadi “Purwokerto Hulp, Spaaren, Landbouwer Credit Bank” (bank Bantuan dan Simpanan serta Kredit Petani Purwokerto.21
Zaman Belanda Perekonomian Indonesia mengalami kemerosotan, terutama ekonomi dari penduduk pribumi. Hal ini dapat dikaitkan dengan penggolongan dan diskriminasi penduduk Indonesia kedalam penduduk golongan Eropa dan Timur Asing (India dan Cina) di satu pihak dengan penduduk pribumi dipihak yang lain.22 Tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging yang berlaku baik bagi penduduk golongan Eropa, Timur Asing, dan Pribumi.23 Akan tetapi, karena aturan tersebut merupakan terjemahan dari peraturan koperasi di Belanda, maka koperasi seakan hanya diperuntukkanbagi orang-orang belanda dan cina.Hal ini mengingat dalam pendirian koperasi disyaratkan beberapa hal yang tidak dapat dipenuhi oleh penduduk pribumi, yaitu:
1) Akte pendirian harus dibuat oleh Notaris, dimana pembuatan akta tersebut memerlukan biaya yang cukup tinggi;
20 Muslimin Nasution, Koperasi Menjawab Kondisi Ekonomi Nasional,( Jakarta: Pusat Informasi Perkoperasian, 2008). hal 120.
21
Ibid, hlm. 123.
22 Hudiyanto, Sistem Koperasi Ideologi dan Pengelolaan, (Yogjakarta: UII Pres Yogjakarta,2002). hlm. 176.
2) Biaya materai sekurang-kurangnya 50 gulden; dan
3) Hak atas tanah harus diatur menurut aturan hukum Eropa.24
Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusaha-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi. Hingga saat ini kepedulian pemerintah terhadap keberadaan koperasi nampak jelas dengan membentuk lembaga yang secara khusus menangani pembinaan dan pengembangan koperasi.
c. Zaman Jepang
Kedudukan Jepang menggantikan Belanda di Indonesia mengubah banyak hal. Susunan dan tata cara pemerintahan di daerah bekas Belanda diatur menurut kebutuhan perang dan tidak lagi merupakan suatu daerah pemerintahan. Pemerintah menggunakan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1942 yang antara lain menentukan bahwa untuk mendirikan perkumpulan dan mengadakan rapat- rapat harus minta ijin terlebih dahulu pada Syuutjokan (residen).25
Penyempitan ruang gerak koperasi juga terjadi ketika pemerintahan militer Jepang mempekerjakan para pegawai Jawatan Koperasi langsung dibawah residen, sehingga hubungan antara Jawatan Koperasi di pusat dan daerah menjadi putus. Tahun 1944 penguasa Jepang mendirikan di Kantor Perekonomian Daerah dengan tugas mengurus hal-hal yang menyangkut perekonomian rakyat. Kantor Jawatan Koperasi akhirnya merupakan bagian dari kantor tersebut, sehingga tugasnya hanya mengurusi masalah koperasi, terlepas dari perdagangan. Koperasi semata-mata hanya menjadi alat pemerintahan militeruntuk mengadakan 24 Soenarto Djojosoempeno, Pola Koperasi Indonesia dan Perkembangannya, (Jogjakarta: Sinar Asia,1964). Hlm. 90.
pengumpulan dan distribusi barang-barang berdasarkan ketentuan dan kebutuhan perang.
d. Zaman Awal Kemerdekaan
Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia membawa arah baru bagi pengembangan koperasi dengan dicantumkannya usaha koperasi dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Disebutkan bahwa perekonomian Indonesia disusun berdasarkan asas kekeluargaan. Sebagaimana diuraikan dalam penjelasan pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bangun usaha yang cocok dengan pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut adalah koperasi. Agar pegembangan koperasi bisa lebih sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945 akhirnya dilakukan reorganisasi di mana Jawatan yang mengurusi Koperasi dipisahkan dari Jawatan Koperasi dan Perdagangan Dalam Negeri. Urusan Koperasi diserahkan pada Jawatan Koperasi.26
Pada tahun 1959 perkembangan koperasi mengalami kemerosotan karena koperasi pada masa demokrasi liberal sering menjadi kendaraan politik bagi pemimpin politik, menyebabkan nama koperasi semakin merosot. Pada tahun 1947 diselenggarakan kongres koperasi karena kemerosotan koperasi dan pada kongres tersebut telah diputuskan untuk:
1) Membentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI): 2) Menetapkan asas koperasi adalah gotong royong:
3) Mendorong kemakmuran rakyat harus dilaksanakan berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dengan koperasi rakyat sebagai pelaksana:
4) Memperhebat dan memperluas pendidikan koperasi di kalangan rakyat, pengurus, dan pegawai serta masyarakat luas:
5) Distribusi barang-barang penting harus diselesaikan oleh koperasi: 6) Menetapkan tanggal 12 Juli sebagai hari Koperasi.
Pada tahun 1958 dikeluarkan Undang-undang tentang Perkoperasian dengan mendasarkan diri pada UUD Sementara Pasal 38. Karena masih mengacu pada 38 UUD Sementara, maka sering dikatakan bahwa jiwa dari Undang-undang tentang Koperasi itu dianggap bertolak belakang, sehingga koperasi yang berdiri merupakan koperasi yang masih bersemangat liberal dan setengah revolusioner.27 Namun demikian beberapa hal yang membedakan undang-undang dengan peraturan sebelumnya adalah sebagai berikut:28
1) Undang-undang tentang koperasi ini berpedoman pada semangat dan asas gotong royong:
2) Pemerintah tidak lagi hanya bertindak sebagai pendaftar dan penasehat saja melainkan aktif membimbing rakyat untuk berkoperasi:
3) Pegertian mengenai asas dan dasar koperasi yang berasal dari luar negeri harus ditinjau dan di sesuaikan dengan asas gotong royong Indonesia:
4) Koperasi tidak boleh merupakan kosentrasi modal dan kekuatan untuk menguasai perekonomian rakyat.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1959 berkaitan dengan koperasi diterbitkan untuk mengganti Undang-undang Nomor 60 Tahun 1958. Berikut ini
27 Soenarto Djojosoempeno, Op.Cit., hal 30. 28 Soenarto Djojosoempeno, Op.Cit., hal 28-29.
adalah beberapa pokok pikiran yang terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1959:
1) Asas koperasi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 79 Tahun 1958 perlu diberikan jaminan akan realisasinya dalam penyelenggaraan koperasi:
2) Perlu adanya sikap aktif pemerintah:
3) Unsur demokrasi serta ekonomi terpimpin harus jelas terlihat dalam penyelenggaraan tiap-tiap koperasi:
4) Segenap instansi pemerintah diikutsertakan dalam membimbing gerakan koperasi menurut bidangnya masing-masing:
5) Terutama dalam lapangan usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak dan di daerah-daerah kerja yang merupakan basis perekonomian rakyat diusahakan berdirinya atau ditumbuhkannya koperasi oleh pemerintah.
e. Zaman Orde Baru
Pergantian kekuasaan dari pemerintahan Sukarno ke Orde Baru diikuti dengan langkah yang sistematis ke arah politik masa mengambang (floating mass) di mana masyarakat harus steril dari hal-hal yang bersifat politik. Banting setir dari politik ke non politik dalam perkembangan koperasi ditandai dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang Koperasi. Perkembangan Koperasi di Indonesia pada zaman Orde Baru pada akhirnya identik dengan perkembangan Koperasi Unit Desa (KUD).
f. Perkembangan koperasi saat ini
Koperasi di seluruh penjuru dunia saat ini telah mampu mengangkat derajat kesejahteraan dan kemanusiaan hingga menjadi lebih baik, sehingga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun harus mengakui dan memberikan kehormatan kepada para aktivis koperasi dengan menjadikan tahun 2012 lalu sebagai tahun koperasi internasional (International Year Co-operative 2012). Selain itu koperasi dalam International Court of Justice (ICJ) telah mendapatkan pengakuan sebagai model organisasi perusahaan yang mampu menjamin keberlanjutanya (sustainability) dan bahkan keamanaan ekonomi (security economic) dan ekonomi ekologis (ecological economic)karena orientasinya yang tidak mengejar keuntungan (profit oriented) namun meningkatkan kesejahteraan anggotanya (benefit oriented).29
Saat ini, koperasi, kapasitasnya bukan saja menjadi layak bagi laki-laki dewasa berkulit putih, tapi untuk segala ras, lintas agama, lintas golongan dan lintas interes politik, untuk perempuan, orang-orang muda dan orang-orang tua yang jompo, miskin ataupun kaya. Hingga saat ini ada 268 anggota organisasi tingkat nasional maupun internasional yang menjadi anggota Internasional Co-
operative Alliance (ICA). Dilaporkan oleh ICA bahwa sekurang-kurangnya telah
merepresentasikan 100 negara dengan 1 Milyar lebih anggota individu yang sebagian besar diantaranya tinggal di kawasan Asia dan Pasifik.30
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam rilisnya tahun 2014 melaporkan, di Colombia, koperasi menguasai 24% jasa kesehatan, di Sweden menyediakan
29 Suroto, “Jatidiri Koperasi dan Undang-Undang Perkoperasian Baru,” Makalah, presentasi di depan DPD RI, 2015. hlm 3
layanan pribadi sehari-hari hingga 60%, di USA 13% jasa layanan listrik dan memiliki separuh saluran distribusi listrik disana. Di sektor keuangan koperasi melayani 326 juta orang anggotanya, 80-99 persen produksi susu di Norwegia, Selandia Baru dan Amerika Serikat, 71 persen untuk produksi perikanan di Korea Selatan dan 40 persen sektor pertanian di Brasil.31
Ditambahkan oleh ICA , Koperasi di Kenya menyumbang PDB sebesar 45%, New Zealand 22%. Di Perancis ; Credit Mutual, Banque Populaire, Credit Agricole menjadi bank kelas dunia. Di Swiss, Migros dan Suisse menguasai 91% pasar ritel, di Singapore, perusahaan ritel koperasi NTUC Fair Price menguasai 59% pangsa pasar disana.
Kurang lebih 3 Milyard orang atau separoh dari jumlah penduduk dunia mendapat layanan dari perluasan usaha-usaha koperasi. Lebih dari 40% penduduk USA adalah anggota koperasi, 25% penduduk Iran, 1 dari tiga orang Canada adalah anggota koperasi. Koperasi menyediakan 100 juta pekerjaan yang berarti 20% lebih besar dari yang diciptakan oleh Korporat Multinational/Transnasional. Sebagai bonus untuk merayakan tahun koperasi internasional, Desjardin Credit Union dan Credit Mutual meraih predikat sebagai Bank of The Year tahun 2010 di Canada dan Perancis. Dunia seperti mulai mengakui bahwa gerakan koperasi sebagai organisasi modern sejak satu setengah abad lebih lalu telah menunjukkan kontribusinya sebagai sebuah perwajahan dunia yang lebih baik.32
Kenyataan-kenyataan di atas, tentu semakin meyakinkan kita bahwa cita- cita koperasi sebagai sebuah gerakan perubahan sosial dari sistem masyarakat
31Ibid., hlm. 4 32Ibid., hlm. 5
yang kapitalistik bisa menjadi kenyataan. Sejarahnya yang panjang dan berlanjut dari generasi ke generasi menunjukkan bahwa koperasi memiliki tradisi yang harmonik terhadap perubahan jaman dan terus berdialog interaktif dengan realitas sosialnya. Koperasi memang produk barat, tapi sebagai suara kemanusiaan terus mengalir ke seluruh penjuru dunia dan sedikit banyak telah mampu membuktikan dirinya sebagai gerakan yang efektif dalam jalan yang damai.
Motif koperasi ini jelas, secara ideologis berusaha menciptakan tatanan sosial masyarakat yang lebih berperikemanusiaan dan berkeadilan melalui jalan demokrasi kooperatif. Sementara itu dalam alasan praktisnya juga kongkrit, dimana dengan membentuk atau bergabung bersama di koperasi manfaat-manfaat dari barang atau jasa dapat diperoleh, diproduksi atau di pasarkan lebih baik oleh koperasi daripada di salurkan sendiri melalui saluran swasta kapitalis atau negara. Orientasi yang berbeda itu juga terlihat dari kemampuan koperasi untuk membangun sistem yang memang tidak hanya dapat dilihat dalam dimensi mikro organisasi saja, atau sebagai bangun perusahaan saja. Koperasi sebagai sistem nilai (values system) memiliki dimensi yang luas baik secara makro-ideologi, mikro-organisasi, sebagai wahana individualitas berikut sebagai bagian penting dari social change movement.
Secara makro ideologi, koperasi bebicara tentang ideologi, sistem sosial ekonomi, politik pembangunan, kebijakan. Secara mikro organisasi berbicara mengenai perusahaan, profesionalisme dan pengaturan/manajemen. Sebagai wahana idividualita koperasi bergerak dalam fungsinya untuk meningkatkan harga diri. Sebagai movement ingin mewujudkan nilai-nilai keadilan dan demokrasi partisipatorik.
Koperasi adalah organisasi orang-orang yang dilandaskan pada prinsip yang jelas, kerjasama adalah kuncinya, bagi si kaya maupun si miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Siapapun mereka, apakah sebagai individu- individu atau merupakan representasi sebuah kelompok dan bagi mereka segala usahanya ditujukan bagi tegaknya keadilan, demokrasi partisipatif adalah afiliasi koperasi. Tidak ada sifat permusuhan bagi koperasi terhadap siapapun. Tapi koperasi dengan caranya sendiri sudah barang tentu menolak segala bentuk ekspolitasi, penindasan, pembodohan, pemelaratan, dan sebagainya. Kezaliman dari sistem kapitalisme adalah musuh abadi koperasi.
Koperasi adalah bagunan sistem yang menginginkan terjadinya keadilan sosial ekonomi secara partisipatif. Dimana kita pahami bahwa suatu sistem ekonomi tentu tidak hanya sebuah perangkat institusional untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan yang ada, tapi juga sebagai suatu cara untuk menciptakan dan membentuk keinginan-keinginan di masa depan . Bagaimana manusia bekerja bersama-sama untuk memuaskan keinginan mereka saat ini bisa mempengaruhi keinginan yang akan mereka punyai kemudian, menjadi orang seperti apa kemudian. Karenanya harus di landaskan pada moral politik dan ekonomi. Mereka tidak hanya harus adil tapi juga disusun supaya mendorong sifat baik keadilan dalam mereka yang ambil bagian di dalamnya (John Rawl, 1995). Koperasi sebagai alternatif dari sistem yang ada, memiliki relevansi yang kuat untuk mewujudkan cita-citanya sebagai bangunan sistem sosial ekonomi yang memungkinkan terwujudnya keadilan. Sebab sesungguhnya tidak ada keadilan tanpa hidup bersama, dan tidak ada hidup bersama tanpa keadilan.33
Pembangunan mikro organisasi, perusahaan koperasi adalah bangunan perusahaan yang futuristik karena di dalamnya dijamin adanya akses sumberdaya, proses serta pembagian hasilnya secara adil dan merata. Di dalam bangun perusahaan koperasi segala hal yang menyangkut urusan privat (res-privata) dan urusan publik (res-publika) mendapatkan tempat yang seimbang. Konsekuensi sosial dan juga hak-hak privat dijamin dalam sistem koperasi. Melalui koperasi, semangat kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) dibangun dan profesionalisme berpengabdian (vocational) koperasi diajarkan.
Dimensinya sebagai wahana individualitas, koperasi memegang peran penting bagi terwujudnya masyarakat yang mandiri dan berkepribadian. Bagi masyarakat koperasi, struktur masyarakat yang pincang atas sebab dominasi dikikis dengan selalu mengasah kepercayaan diri bagi tiap-tiap individu melalui model pendidikan koperasi. Ruang-ruang pendidikan koperasi adalah tempat belajar yang mencerdaskan dan memberikan inspirasi bagi munculnya pembaharuan-pembaharuan di dalam struktur masyarakat.
Koperasi didalam sistem nilai yang lain, koperasi membutuhkan sayap pergerakan, yaitu sebuah perjuangan bagi terwujudnya nilai-nilai universal ; keadilan, solidaritas, demokrasi, kejujuran/transparansi, dll yang merupakan nilai- nilai virtus yang selayaknya juga diperjuangkan bagi kita semua yang mencintai tatanan hidup yang lebih baik menuju masyarakat global yang lebih berkemanusian dan berkeadilan (humanistic global community). Karena sejarah pemikiran demikian maka koperasi bukanlah sub-sistem dari sistem mainstream yang ada. Kalau persoalannya dia dapat bertahan di dalam sistem apapun, itu
karena sifat koperasi yang cukup kenyal. Tapi koperasi adalah memiliki identitasnya sendiri, dan karena identitasnya tersebut maka koperasi ada.
Beberapa prasyarat utama agar koperasi kita berkembang menjadi koperasi kelas dunia. Perasyaratan utamanya adalah tunduk patuh pada nilai-nilai koperasi yang dioperasionalisasi dalam prinsip-prinsipnya. Sebagaimana menjadi keberhasilan koperasi-koperasi kelas dunia, yang tak dapat dibantah, selain harus memenuhi besarnya perputaran bisnis dan asset, mereka semuanya tunduk patuh pada ICIS (International Co-opeative Identity Statement ) atau jatidiri koperasi. Selain penerapan VBPMC (Value Base Profesional Management Co-operative) sebagai terjemahannya dalam operasionalisasi manajemen. Dengan kata lain, koperasi-koperasi tersebut menjadikan jatidiri koperasi sebagai keunggulannya ditengah persaingan yang ketat dengan perusahaan swasta kapitalis. Diantara prasyarat tersebut adalah ; keanggotaan sukarela dan terbuka, pengendalian oleh anggota secara demokratis, partisipasi ekonomi anggota, otonomi dan kebebasan, pendidikan, pelatihan dan informasi, kerjasama antar koperasi, kepedulian terhadap komunitas.34
3. Landasan perkoperasian di Indonesia
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian Bab II Pasal 2, mengemukakan bahwa landasan ideal koperasi Indonesia adalah Pancasila, landasan struktural : Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan landasan geraknya; Pasal 33 ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 , beserta penjelasannya; landasan mentalnya : Setia kawan dan kesadaran berpribadi.35
a. Landasan ideal
Landasan ideal koperasi adalah dasar atau landasan yang digunakan dalam usaha untuk mencapai cita-cita koperasi.36 Koperasi sebagai kumpulan sekelompok orang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Gerakan koperasi sebagai organisasi ekonomi rakyat yang hak hidupnya dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 akan bertujuan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Jadi tujuannya sama dengan apa yang dicita-citakan oleh seluruh bangsa Indonesia, karena itu landasan ideal Negara Republik Indonesia adala Pancasila.
b. Landasan struktural dan gerak koperasi Indonesia
Landasan struktural adalah tempat berpijak koperasi dalam susunan hidup masyarakat. Sedangkan landasan gerak koperasi adalah ketentuan-ketentuan yang terperinci tentang koperasi Indonesia harus berlandaskan dan bertitik tolak dari