HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Kandang (box) Penampung
4.1.6 Perlakuan Adaptasi
Teknik adaptasi yang dilakukan oleh perusahaan terhadap biawak yang baru datang adalah dengan memindahkannya ke dalam box penampung. Biawak tersebut sebelumnya dibawa dengan menggunakan kantong kain yang diberi sobekan kertas koran. Biawak yang datang biasanya masih berumur anakan sehingga ukuran tubuhnya relatif kecil. Setelah diletakkan ke dalam box penampung, biawak tersebut disiram dengan air. Hal ini dimaksudkan agar biawak tersebut dapat minum dan menyesuaikan dengan kondisi yang baru. Berikut adalah penanganan yang dilakukan perusahaan terhadap biawak yang baru datang (Gambar 20).
(a)
(b)
Gambar 20. Teknik adaptasi biawak (a) penyiraman biawak; (b) kantong berisi biawak.
Biawak dibiarkan selama ± 2 jam setelah diberi air. Setelah itu air di dalam box dibuang dan box diberi koran agar biawak dapat berlindung dan merasa nyaman di dalamnya. Selanjutnya dilakukan perawatan hingga tahap ekspor dilakukan.
4.1.7 Manajemen Pemanfaatan Hasil a. Ekpor Perusahaan
Ukuran satwa yang diekspor untuk hewan peliharaan umumnya adalah berukuran kecil atau yang masih anakan. PT Mega Citrindo mengekspor satwa ke Negara Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Cina. Namun selama ini yang telah menjadi pelanggan tetap perusahaan ini adalah Negara Amerika Serikat. PT Mega Citrindo sampai saat ini belum dapat memanfaatkan hasil penangkaran biawak ekor biru untuk diekspor karena penangkaran tersebut baru dimulai sejak tahun 2008 dan biawak tersebut belum berhasil untuk dikembangbiakkan. Berikut adalah data kuota ekspor biawak ekor biru dan realisasi ekspor yang terjadi selama 6 tahun terakhir yang berasal dari alam berdasarkan SK. Menteri No. 38/Kpts/DJ-IV/2003 (Tabel 11).
Tabel 11. Kuota dan realisasi ekspor biawak ekor biru (Varanus doreanus) perusahaan PT Mega Citrindo tahun 2005-2010
Keterangan Tahun
2005 2006 2007 2008 2009 2010 (s/d juni)
Kuota Perusahaan (ekor) 58 78 88 96 123 94
Kuota Nasional (ekor) 500 500 500 540 540 900 Realisasi Perusahaan (ekor) 54 78 88 96 123 26 Realisasi Nasional (ekor) 500 500 500 520 527 - Persen Kuota (%) 10,8 15,6 17,6 17,8 22,8 10,4 Persen Realisasi (%) 10,8 15,6 17,6 18,5 23,3 -
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2009 kuota ekspor perusahaan mencapai 123 ekor dan pada tahun 2010 kuota ekspor perusahaan mengalami penurunan yaitu sebesar 94 ekor. Namun pada tahun 2010 kuota nasional mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu dari 540 ekor mnejadi 900 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kuota ekspor nasional tidak sebanding dengan penambahan kuota ekspor perusahaan. Kemungkinan penurunan kuota ekspor perusahaan terjadi karena sulitnya menemukan biawak ekor biru di alam. Apabila biawak ekor biru sudah sulit ditemukan di alam maka terdapat kemungkinan jumlah populasi biawak ekor biru mengalami penurunan. Jumlah kuota ekspor biawak ekor biru ditentukan berdasarkan rekomendasi dari pihak peneliti (LIPI) kemudian jumlah kuota tersebut diputuskan berdasarkan hasil keputusan dari pihak management autority.
PT Mega Citrindo merupakan perusahaan yang memiliki kuota ekspor biawak ekor biru terbanyak dibandingkan perusahaan eksportir lainnya. Hal ini terlihat dari grafik yang menjelaskan mengenai kuota ekspor biawak ekor biru dari 11 perusahaan eksportir yang ada di Indonesia berdasarkan SK. Dirjen PHKA tahun 2010 (Gambar 21).
Gambar 21. Kuota ekpor biawak ekor biru (Varanus doreanus) dari 11 perusahaan eksportir reptil pada tahun 2010.
Besarnya kuota ekspor pada masing-masing perusahaan ditentukan berdasarkan kemampuan perusahaan tersebut untuk mengekspor jenis satwa tertentu yang juga merupakan hasil keputusan dari management autority. Selain PT Mega Citrindo, PT Alam Nusantara juga memiliki kuota ekspor biawak ekor biru yang relatif cukup banyak.
b. Teknik Pengepakan
Teknik pengepakan yang dilakukan pengelola pada biawak yang akan diekspor relatif sama dengan teknik adaptasi ketika biawak baru didatangkan. Biawak sebelumnya tidak diberi makan selama 2 hari agar saat proses pengangkutan biawak tidak mengeluarkan kotoran dan mengotori box pengangkut karena perut biawak dalam keadaan kosong. Perlakuan selanjutnya biawak disiram dengan air dan box penampung diisi air setinggi ± 2 cm hal ini dilakukan agar biawak dapat minum sebanyak-banyaknya untuk menghindari dehidrasi saat proses pengangkutan. Perendaman dilakukan selama ± 2 jam agar biawak juga dapat defekasi (mengeluarkan kotoran) sehingga saat pengangkutan biawak tidak mengotori tempat. Setelah direndam, biawak dimasukkan ke dalam kantong kain yang telah diberi sobekan kertas koran. Satu kantong tersebut biasanya berisi 1
0 20 40 60 80 100
hingga 2 ekor biawak. Banyaknya isi kantong disesuaikan dengan ukuran tubuh biawak. Setelah semua satwa dimasukkan ke dalam kantong, kantong-kantong tersebut disusun ke dalam box yang terbuat dari kayu dengan ukuran 80 cm x 57 cm x 35 cm atau yang berukuran 92 cm x 60 cm x 13 cm.
Teknik penyusunan satwa di dalam box pengangkut adalah dengan meletakkan satwa yang memiliki bobot badan lebih besar di bagian paling bawah dan bobot badan yang lebih kecil diletakkan di atas. Hal ini dimaksudkan agar satwa yang lebih kecil tidak tertimpa dengan satwa yang memiliki bobot badan lebih besar. Berikut gambar teknik pengepakan satwa termasuk biawak ekor biru (Varanus doreanus) yang disatukan bersama jenis satwa lain seperti katak, kura-kura, tokek, ular, dan kadal (Gambar 22).
(a) (b)
Gambar 22. (a) Box pengangkut; (b) Pengepakan biawak.
Pengepakan biawak dewasa dilakukan dengan perlakukan yang cukup aman. Pihak perusahaan terlebih dahulu memotong kuku biawak agar biawak tersebut tidak merobek kantong kain yang akan digunakan untuk membungkus biawak. Biawak dimasukkan ke dalam kantong dan diikat dengan menggunakan tali plastik. Bagian sisi-sisi box tempat pengepakan biawak diberi kawat untuk menambah tingkat keamanan saat pengiriman. Box diberi sobekan kertas koran agar biawak tidak mengalami benturan yang keras saat pengangkutan. Ukuran box kayu tempat pengepakan biawak dewasa adalah 92 cm x 60 cm x 13 cm yang hanya berisi satu ekor. Box yang telah diisi satwa ditutup dengan papan triplek dan dipaku bagian tepinya. Papan penutup tersebut juga digunakan untuk menulis alamat dimana satwa tersebut dikirim.
Teknik pengiriman yang dilakukan oleh pihak perusahaan sudah cukup aman karena perusahaan juga mengupayakan agar satwa yang berada di dalam
box tidak mati saat proses pengangkutan. Bagian sisi box juga diberi lubang yang digunakan sebagai tempat sirkulasi udara. Box pengiriman diberi keterangan yang menjelaskan bahwa di dalam box tersebut terdapat satwa jenis reptil yang hidup. Sebelumnya perusahaan juga telah mengurus surat perizinan untuk melakukan ekspor satwa dan biasanya pengiriman satwa dilakukan pada malam hari untuk menghindari stress berlebih pada satwa tersebut.