• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODA PENELITIAN

C. Teknik Analisis Data

1. Perlakuan Akuntansi Menurut PSAK No 10 terhadap Transaksi Mata Uang Asing. Uang Asing

a. PSAK No 10

Dalam PSAK No 10 mengatur mengenai transaksi di dalam mata uang asing, termasuk penjelasan mengenai pengakuan selisih kurs dan perlakuan alternatif yang diijinkan.

b. Perlakuan akuntansi selisih kurs menurut PSAK No 10

Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang dimana tidak mungkin dilakukan hedging dan menimbulkan kewajiban yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva yang harus dibayar dalam suatu mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat (carrying amount) aktiva yang bersangkutan dengan pengertian nilai tercatat yang disesuaikan tersebut tidak melampaui jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement cost) dan jumlah yang mungkin diperoleh kembali

(amount receivable) dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut. Alternatif yang dipilih harus diungkapkan secukupnya

2. ISAK No 4 a. ISAK No 4

ISAK No 4 mengatur interprestasi atas paragraf 32 PSAK No 10. b. Perlakuan Akuntansi selisih kurs menurut ISAK No 4

1. Terjadi depresiasi luar biasa

Yaitu apabila periode tertentu depresiasi rupiah disetahunkan lebih besar atau sama dengan 133% dari rata-rata depresiasi tiga tahun takwin terakhir.

2. Tidak mungkin dilakukan hedging

Yaitu apabila pada periode tertentu tidak ekonomis atau tidak praktis dilakukan hedging karena:

a. Tingkat hedging demikian tinggi yaitu lebih besar atau sama dengan 133% dari rata-rata premi hedging tiga tahun takwin terakhir.

b. Fasilitas hedging tidak tersedia, karena bank tidak dapat menentukan premi hedging berhubungan fluktuasi rupiah yang tinggi.

3. Mendeskripsikan perlakuan akuntansi menurut perusahaan. a. PSAK No 10

Untuk mencatat transaksi pembelian aktiva tetap secara kredit dengan mata uang asing agar sesuai dengan PSAK No 10 maka perusahaan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Perusahaan harus mengakui nilai aktiva tetapnya sebesar harga perolehan yang meliputi harga beli ditambah dengan biaya lain yang dikeluarkan agar aktiva tersebut siap operasi.

2) Perusahaan harus mengakui kerugian selisih kurs yang terjadi dan membebankannya ke perkiraan “kerugian selisih kurs” di sisi debet. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada pada PSAK No 10 yang menghendaki kerugian selisih kurs yang telah terjadi dibebankan pada periode berjalan.

3) Ayat jurnal penyesuaian untuk penyusutan juga harus sesuai dengan PSAK, karena PSAK menghendaki perusahaan membuat penyesuaian terhadap nilai aktivanya dengan mengakui adanya penyusutan.

4) Pada ayat jurnal penyesuaian, untuk mengakui kerugian selisih kurs yang masih unrealized atas sisa kewajiban valas. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ada dalam PSAK No 10, yang menyatakan bahwa aktiva atau kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs pada tanggal neraca atau kurs tengah Bank Indonesia. Pernyataan ini juga mengandung arti bahwa suatu

entitas harus mengakui selisih kurs yang masih unrealized atas sisa kewajiban valasnya.

b. ISAK No 4

Kapitalisasi selisih kurs ke nilai aktiva yang dapat dilakukan menurut ISAK No 4 bila dua syarat dibawah ini terpenuhi:

1. Terjadi depresiasi luar biasa.

Depresiasi luar biasa terjadi bila periode tertentu depresiasi rupiah yang disetahunkan mencapai 133% dari rata-rata depresiasi rupiah tiga tahun takwin periode tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan:

a. Menghitung depresiasi Rp terhadap US $ Rumus: Dt = [ ( et – eo ) : eo ] x 100%

Keterangan: eo = Kurs rupiah pada waktu eo et = Kurs rupiah pada waktu et Dt = Depresiasi rupiah pada waktu t b. Menghitung rata-rata depresiasi 3 tahun terakhir

Rumus : Wd = ( D1 + D2 + D3 ) : 3

Keterangan: D1 = Depresiasi rupiah pada waktu tahun ke 1 D2 = Depresiasi rupiah pada waktu tahun ke 2 D3 = Depresiasi rupiah pada waktu tahun ke 3 Wd = Rata-rata depresiasi tiga tahun terakhir c. Menghitung patokan angka depresaisi luar biasa

Rumus : Dpt ≥ 133% x Wd

Dpt = Depresiasi luar biasa

Jika terjadi suatu peristiwa dimana depresiasi pada titik tertentu mencapai angka Dpt atau diatasnya, maka dikatakan telah memenuhi syarat depresiasi luar biasa.

2. Tidak mungkin dilakukan hedging

Kondisi ini muncul apabila tingkat premi hedging pada periode tertentu demikian tinggi, yaitu mencapai 133% dari rata-rata premi hedging 3 tahun takwin terakhir.

Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah:

a. Menghitung rata-rata premi hedging 3 tahun takwin terakhir. Rumus : Y = ( TPH1 + TPH2 + TPH3 ) : 3

Keterangan: Y = Rata-rata tingkat premi hedging tiga tahun terakhir.

TPH1 = Tingkat premi hedging 1 tahun terakhir. TPH2 = Tingkat premi hedging 2 tahun terakhir. TPH3 = Tingkat premi hedging 3 tahun terakhir. b. Menghitung tingkat premi hedging tidak ekonomis

Rumus : TPHpt ≥ ( 133% x Y )

Keterangan: TPHpt = Tingkat premi hedging tidak ekonomis. Y = Rata-rata tingkat premi hedging tiga tahun

terakhir.

Dari kedua angka diatas dapat diketahui patokan kondisi tidak ekonomis melakukan hedging bila premi SWAP sama atau lebih besar

dari nilai TPHpt untuk jangka waktu 6 bulan dan untuk jangka waktu 12 bulan.

c. Batasan-batasan Untuk Menerapkan ISAK No 4

a. Selain kurs yang dapat dikapitalisasi merupakan selisih kurs atas kewajiban (hutang) dalam mata uang asing baik realized maupun unrealized. Yang dimaksud dengan realized adalah realisasi selisih kurs atas pelunasan kewajiban valuta asing selama periode tertentu. Sedangkan unrealized adalah sisa kewajiban yang masih ada. Hal ini mengandung arti bahwa apabila suatu kewajiban telah dilunasi terlebih dahulu sebelum periode tertentu maka selisih kurs tersebut tidak dapat dikapitalisasi lagi.

b. Kewajiban valuta asing tersebut timbul dari perolehan aktiva tetap atau persediaan tertentu yang dibayar dengan mata uang asing. Jika kewajiban itu timbul bukan untuk memperoleh aktiva tetap tertentu maka tidak boleh dikapitalisasi.

c. Kapitalisasi harus dilakukan terhadap aktiva yang diperoleh dalam mata uang asing dengan batas minimum, yang mana yang lebih rendah antara biaya pengganti (Replacement Cost) dengan Amount Recoverable. Replacement Cost merupakan jumlah biaya (kas) yang harus dibayar saat ini untuk memperoleh aktiva yang sama. Sedangkan Amount Recoverable (jumlah yang dapat diperoleh kembali) merupakan jumlah kas yang dapat diperoleh dari penggunaan atau

penjualan aktiva. Pengukuran Amount Recoverable dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Value in use

Dengan menggunakan nilai sekarang dari arus kas masuk (present value cash inflow) biasanya diterapkan untuk aktiva tetap yang tidak akan segera dijual tetapi digunakan untuk operasi perusahaan.

2. Current market value

Digunakan jika aktiva tersebut akan segera dijual. Biasanya dipakai untuk menilai persediaan yang akan dijual.

Nilai tercatat suatu aktiva setelah dikapitalisasi selisih kurs tidak boleh melampui nilai terendah antara replacement cost dengan amount recoverable, maka:

Amount Recoverable < Carrying Amount baru < Replacement Cost

4. Membandingkan perlakuan akuntansi atas selisih nilai tukar mata

Dokumen terkait