ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Perkembangan Dana Pensiun di Indonesia
2. Perlakuan Perpajakan Dana Pensiun di Indonesia
Undang-undang Pajak Penghasilan tahun 2000 menyebutkan bahwa orang pribadi dan badan merupakan salah satu dari Subyek Pajak.
Berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun dinyatakan bahwa Dana Pensiun merupakan badan hukum yang menjanjikan manfaat pensiun. Dengan demikian Dana Pensiun merupakan Subyek Pajak yang tunduk pada ketentuan perpajakan yang berlaku.
Kedudukan Dana Pensiun sebagai Subyek Pajak dinyatakan dengan tegas pada Pasal 49 Undang–Undang Dana Pensiun yang menyatakan bahwa:
Dana Pensiun yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 11 merupakan Subyek Pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang tentang pajak penghasilan.
Undang-undang Pajak Penghasilan tahun 2000 juga menegaskan kedudukan Dana Pensiun sebagai Subyek Pajak yaitu dalam pasal 2 ayat (1) butir b Undang-undang Pajak Penghasilan tahun 2000 menyatakan yang menjadi Subyek Pajak adalah badan, dalam penjelasannya menyebutkan bahwa badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan
57 dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, Dana Pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya termasuk reksadana.
Sebagai suatu badan hukum, Dana Pensiun merupakan subyek pajak badan yang dikenai kewajiban pajak subyektif yaitu kewajiban pajak yang tidak bisa dilimpahkan kepada subyek pajak lainnya. Kewajiban ini dimulai sejak Dana Pensiun berdiri dan berakhir pada saat status badan hukum Dana Pensiun berakhir.
Kegiatan Dana Pensiun seperti halnya telah disebutkan dalam bab 2, terbagi menjadi 4 (empat) kegiatan yaitu penerimaan iuran, pengembangan investasi, pembayaran biaya operasional dan pembayaran manfaat pensiun. Identifikasi kegiatan Dana Pensiun beserta penerapan pajak pada masing masing kegiatan diuraikan sebagai berikut:
a. Iuran Dana Pensiun.
Iuran Dana Pensiun merupakan sumber dana bagi Dana Pensiun untuk dikelola dalam bentuk investasi untuk menghasilkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan aktiva asset. Penjelasan mengenai pembagian iuran dan tata cara pembayaran iuran yang berlaku di Indonesia diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 343/KMK.017/1998 tentang Iuran dan Manfaat Pensiun.
Iuran Dana Pensiun terdiri dari iuran normal dan iuran tambahan, untuk iuran normal terbagi menjadi iuran normal peserta/karyawan dan
58 iuran normal pemberi kerja. Sedangkan untuk iuran tambahan hanya berlaku bagi DPPK dengan program iuran pasti (PPIP) yaitu pemberi kerja mengakui kewajiban masa kerja lalu (Past Service Liability) atau berdasarkan valuasi aktuaria ternyata kekayaan kurang dari kewajiban membayar manfaat pensiun yang menimbulkan defisit, maka defisit yang terjadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemberi kerja yang dilunasi melalui iuran tambahan dimana peserta tidak boleh dibebani iuran untuk masa kerja lalu. Iuran normal peserta dibayarkan secara bulanan berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Dana Pensiun sedangkan untuk iuran pemberi kerja berdasarkan pada Laporan Aktuaris.
Ketentuan perpajakan untuk iuran pensiun diatur dalam ketentuan Pasal 4 ayat (3) huruf g Undang-undang Pajak Penghasilan nomor 10 tahun 1994 yang diubah menjadi nomor 17 pada tahun 2000, menyatakan bahwa iuran yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun karyawan tidak termasuk obyek pajak. Tidak dimasukkan iuran sebagai objek pajak pada dasarnya iuran yang diterima oleh Dana Pensiun merupakan dana milik peserta pensiun yang akan dibayarkan kembali kepada mereka pada saat mereka pensiun dan pengenaan pajak atas iuran tersebut berarti mengurangi hak para peserta pensiun
59 Salah satu fasilitas yang diberikan pemerintah kepada pemberi kerja dan karyawan dalam hal iuran Dana Pensiun yaitu iuran yang dibayarkan atau ditanggung oleh pemberi kerja dapat dijadikan biaya pemberi kerja yang dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto sedangkan untuk iuran yang dibayarkan oleh karyawan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam perhitungan PPh Pasal 21 karyawan.
b. Investasi Dana Pensiun
Investasi merupakan kegiatan utama Dana Pensiun agar dapat menjamin ketersediaan dana untuk kegiatan operasional serta pembayaran manfaat pensiun yang telah jatuh tempo. Jika pengelolaan terhadap investasi tidak dilakukan secara profesional oleh pengurus Dana Pensiun, maka akan mengakibatkan Dana Pensiun tersebut kesulitan likuiditas yang nantinya akan dirasakan oleh pemberi kerja untuk Dana Pensiun dengan PPMP atau oleh peserta untuk Dana Pensiun dengan PPIP.
Biro Dana Pensiun, Departemen Keuangan mengatur agar pengelolaan investasi oleh pengurus Dana Pensiun dapat lebih profesional dan menjaga agar hak-hak peserta tidak akan dirugikan.
Hal-hal yang diatur oleh Biro Dana Pensiun ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 511/KMK.06/2002 tentang investasi yaitu mengenai jenis-jenis investasi dan batasan maksimal
60 tiap jenis investasi serta batasan tiap pihak yang boleh ditempatkan oleh Dana Pensiun.
Dalam peraturan tersebut ditetapkan bahwa investasi Dana Pensiun hanya dapat ditempatkan pada jenis investasi sebagai berikut : 1) Deposito berjangka pada bank;
2) Deposito on call pada bank;
3) Sertifikat deposito pada bank;
4) Saham yang tercatat di bursa efek;
5) Obligasi yang tercatat di bursa efek;
6) Penempatan langsung pada saham yang diterbitkan oleh badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia;
7) Surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia;
8) Tanah di Indonesia;
9) Bangunan di Indonesia;
10) Tanah dan bangunan di Indonesia;
11) Unit penyertaan reksadana sebagaimana di maksud dalam Undang-Undang Pasar Modal;
12) Sertifikat bank Indonesia;
13) Surat berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
61 Jenis penempatan investasi di atas, dibatasi secara kuantitatif yaitu :
a) Untuk jenis investasi surat pengakuan utang yang berjangka waktu lebih dari satu tahun dan penempatan langsung pada saham yang tidak tercatat pada bursa efek tidak boleh melebihi 20 % dari total investasi;
b) Untuk jenis investasi pada tanah, bangunan serta tanah dan bangunan tidak boleh melebihi 15% dari total investasi.
c) Dana Pensiun juga dilarang untuk menempatkan total investasinya lebih dari 20% pada satu pihak dan tidak diperkenankan melakukan investasi di luar negeri.
Selain ketentuan tersebut, Dana Pensiun juga diwajibkan untuk menetapkan Arahan Investasi sebagai pedoman bagi pengurus Dana Pensiun dalam melakukan investasi yang minimal harus memuat informasi mengenai jenis investasi yang akan ditempatkan, batasan maksimal tiap jenis investasi, batasan tiap pihak, sasaran hasil investasi serta tingkat likuiditas minimum di Dana Pensiun.
Dari seluruh jenis investasi Dana Pensiun yang diperkenankan diatas, hasil investasi yang diperoleh dapat digolongkan menjadi bunga, deviden, sewa, laba/rugi pelepasan investasi, selisih kurs dan bagian laba dari reksadana. Berikut ini akan diuraikan perlakuan pajak atas masing-masing pendapatan :
62 1) Pendapatan bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena
jaminan pengembalian utang.
Berdasarkan definisi bagian yang termasuk objek pajak yang terdapat dalam pasal 4 ayat (1) huruf f dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan, pendapatan bunga termasuk premium, diskonto dan jaminan pengembalian utang merupakan penghasilan kena pajak.
Apabila dilihat pengelolaan dana yang dilakukan oleh Dana Pensiun, maka pendapatan bunga ini dapat dibedakan sebagai berikut :
a) Bunga Tabungan;
b) Bunga Deposito, yaitu bunga yang diperoleh dari investasi dalam Deposito Berjangka;
c) Bunga dari Surat Pengakuan Hutang;
d) Bunga Obligasi;
e) Diskonto dari Sertifikat Deposito;
f) Diskonto dari Setifikat Bank Indonesia.
Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 tanggal 15 Desember 2000 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia menegaskan bahwa pajak penghasilan adalah sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto atas penghasilan tersebut dan bersifat final. Untuk bunga obligasi, besarnya pajak penghasilan diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 06 tahun 2002 yang menyatakan bahwa pajak
63 penghasilan atas bunga dan diskonto obligasi sebesar 20% yang sifat pemotongannya tidak final.
Akan tetapi, berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf h Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 2000 menyatakan bahwa penghasilan untuk bidang tertentu yang ditanami modal oleh Dana Pensiun bukan merupakan objek pajak. Ketentuan dalam undang-undang pajak pada tahun 2000 ini sama dengan ketentuan undang-undang pajak sebelumnya pada tahun 1994 sehingga setelah diterbitkannya Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 10 tahun 1994, yang berhubungan dengan bidang tertentu yang ditanami modal Dana Pensiun bukan objek pajak, maka menteri keuangan mengidentifikasi bidang tertentu tersebut dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 651/KMK.04/1994 tanggal 29 Desember 1994 tentang bidang penanaman modal tertentu yang memberikan penghasilan kepada Dana Pensiun yang tidak termasuk objek pajak penghasilan yaitu penghasilan yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dari penanaman berupa :
a) Bunga dan diskonto dari deposito, sertifikat deposito dan tabungan pada bank di Indonesia serta SBI;
b) Bunga dari obligasi yang diperdagangkan di pasar modal di Indonesia;
64 c) Dividen dari saham pada Perseroan Terbatas yang tercatat di bursa
efek di Indonesia.
Untuk bunga yang berasal dari Surat Pengakuan Hutang adalah objek pajak yang jumlahnya harus dilaporkan dalam SPT tahunan pajak penghasilan. Berdasarkan informasi diatas dapat disimpulkan bahwa untuk pendapatan bunga termasuk atas deposito, diskonto dan obligasi tidak dikenakan pajak penghasilan. Sedangkan bunga dari Surat Pengakuan Hutang harus dilaporkan dalam SPT tahunan pajak penghasilan.
2) Pendapatan Dividen
Dalam pendapatan dividen ini harus dibedakan antara dividen dari :
a) Saham yang diperjualbelikan di bursa efek di Indonesia;
b) Saham dari penyertaan langsung.
Seperti halnya dalam bunga di atas, berlaku pula ketentuan dalam Pasal 23 Undang-Undang Pajak Penghasilan bahwa dividen ini dikenakan pajak penghasilan sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto. Namun, sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 651/KMK.04/1994 tanggal 29 Desember 1994 seperti telah dikutip pada huruf a, untuk dividen dari saham yang diperjualbelikan di bursa efek di Indonesia bagi Dana Pensiun, bukan merupakan objek pajak penghasilan. Sedangkan dividen yang dikenakan pajak penghasilan hanya untuk dividen yang berasal dari penyertaan saham
65 di luar bursa efek yaitu sebesar 15% dari jumlah bruto yang bersifat final.
3) Pendapatan Sewa
Bagi Dana Pensiun, maksud dari pendapatan sewa ini adalah bagi Dana Pensiun yang memiliki investasi berupa tanah dan bangunan, yang kemudian mengoptimalkannya dengan menyewakan kepada pihak lain. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 tanggal 18 April 1996 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Persewaan Tanah dan atau Bangunan yang kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 394/KMK.04/1996 tanggal 5 Juni 1996 tentang Pelaksanaan Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan dinyatakan sebagai berikut :
a) PPh atas sewa tanah dan bangunan bersifat final;
b) PPh bagi WP Badan dan BUT yang menyewakan adalah 6% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan;
c) PPh bagi orang pribadi dalam negeri yang menyewakan adalah 10% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan.
4) Keuntungan karena Selisih Kurs
Berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 1994 yang diubah dengan Undang-Undang nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan pasal 4 ayat (1) huruf l bahwa keuntungan karena selisih
66 kurs mata uang asing termasuk penghasilan yang menjadi objek pajak penghasilan.
Pajak Penghasilan atas jenis penghasilan ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 597/KMK.04/1997 tanggal 21 November 1997 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan terhadap Selisih Kurs Valuta Asing bahwa pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh wajib pajak dengan syarat ketentuan secara taat asas, oleh karena itu laba/rugi selisih kurs yang diperoleh wajib pajak badan harus dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.
5) Laba/(Rugi) Pelepasan Investasi
Berdasarkan kegiatan Dana Pensiun, laba/rugi pelepasan investasi dapat diperoleh dari :
a) Pelepasan saham di bursa efek
Dalam pelepasan saham di bursa efek, ketentuan pajaknya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 bahwa pajak penghasilan atas pelepasan saham di bursa efek bersifat final sebesar :
0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan, dan
tambahan 0,5% dari nilai saham perusahaan bagi saham Pendiri
67 Yang dimaksud saham pendiri adalah saham yang dimiliki oleh mereka yang termasuk dalam katagori pendiri yaitu saham yang diperoleh pendiri yang berasal dari kapitalisasi agio pada saat IPO serta saham yang berasal dari pemecahan saham pendiri. Bagi Dana Pensiun, tidak ada aturan khusus mengenai laba dari pelepasan saham di bursa efek, sehingga Dana Pensiun dikenakan ketentuan sebagaimana telah disebutkan di atas.
b) Penjualan tanah dan bangunan
Penghasilan dari penjualan tanah dan bangunan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran PPh atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan Bangunan bahwa atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan baik dalam kegiatan usahanya maupun diluar usahanya wajib dibayar atau dipungut pajak penghasilannya pada saat terjadinya transaksi tersebut atau dengan kata lain pemungutan bersifat final.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 79 tahun 1999 menetapkan besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar/dipungut adalah 5% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.
68 6) Bagian Laba dari Saham/Unit Penyertaan Reksa Dana
Khusus bagi Reksa Dana, berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor 18/PJ.42/1996 tentang Pajak Penghasilan atas usaha Reksa Dana, dapat dijelaskan sebagai berikut :
a) Penghasilan reksadana yang berasal dari :
Dividen dan bunga obligasi bukan merupakan objek PPh;
Bunga deposito/tabungan dikenakan PPh fnal sebesar 15%;
Capital gain saham dibursa dikenakan PPh final sebesar 0,1%;
Comercial paper atau surat utang dikenakan tarif pajak umum.
b) Bagian laba yang diterima pemegang saham:
Bagi Pemegang Saham PT, Koperasi, BUMN, BUMD, Yayasan, bukan objek pajak;
Bagi Pemegang Saham badan selain di atas, dikenakan tarif umum;
Bagi Pemegang Saham Orang Pribadi dikenakan tarif umum.
Namun, dari sisi investor yang memiliki penghasilan dari reksadana yang diakui dalam bentuk Nilai Aktiva Bersih (NAB) tidak dapat dikategorikan sebagai objek pajak
c. Biaya Operasional
Biaya operasional diperlukan Dana Pensiun dalam melaksanakan kegiatannya. Menurut Peraturan Pemerintah No. 76 tahun 1992 dalam pasal 4 huruf q yang pada bagian penjelasannya menyebutkan bahwa pengeluaran Dana Pensiun yang utama adalah untuk pembayaran
69 manfaat pensiun dan agar pengeluaran lain dari Dana Pensiun yang merupakan bagian dari biaya penyelenggaraan program pensiun tetap terkendali dan tidak mengurangi bagian yang diperuntukkan bagi pembayaran manfaat pensiun, maka perlu ditetapkan biaya-biaya yang dapat dikeluarkan dari Dana Pensiun.
Biaya-biaya ini harus ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun untuk membatasi pengurus agar tidak mengeluarkan biaya operasional terlalu boros dan sekaligus melindungi Pendiri dari kewajiban pendanaan yang besar untuk keperluan diluar pembayaran manfaat pensiun. Oleh karena itu, setiap jenis biaya yang dapat dikeluarkan sebagai biaya operasional wajib ditetapkan secara jelas dalam Peraturan Dana Pensiun.
Dalam keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan No.
2959/LK/95 diberikan terminologi bahwa biaya operasional merupakan biaya yang digunakan untuk penyelenggaraan Dana Pensiun dan tidak termasuk biaya investasi. Biaya operasional tersebut antara lain meliputi gaji karyawan, Pengurus/Pengelola dan Dewan Pengawas Dana Pensiun, biaya kantor, biaya jasa pihak ketiga yaitu jasa aktuaris, akuntan publik dan penyusutan aktiva operasoinal
Dari sisi perpajakan, biaya operasional merupakan pengurang dalam menghitung PPh badan untuk Dana Pensiun, seperti halnya badan usaha lainnya.
70 d. Manfaat Pensiun
Untuk manfaat pensiun berdasarkan asas penundaan manfaat yaitu hanya dapat dibayarkan pada saat peserta mencapai usia pensiun serta dibayarkan secara bulanan untuk seumur hidup. Untuk PPMP, pembayaran manfaat pensiun dibayarkan sendiri oleh Dana Pensiun sedangkan untuk PPIP, pembayarannya dialihkan ke perusahaan asuransi jiwa dalam bentuk produk anuitas.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 343/KMK.017/1998 tentang Iuran dan Manfaat Pensiun, menjelaskan mengenai jenis, usia dan pembayaran manfaat pensiun yang terbagi menjadi :
1) Manfaat Pensiun Normal
Manfaat pensiun normal dibayarkan pada saat peserta mencapai usia pensiun normal yang biasanya 55 tahun, dengan dihitung berdasarkan rumus :
Manfaat Pensiun = Faktor Penghargaan x Masa Kerja x PhDP 2) Manfaat Pensiun Cacat
Manfaat pensiun cacat dibayarkan apabila peserta mengalami cacat fisik pada saat bekerja, besarnya manfaat pensiun dihitung berdasarkan rumus :
Manfaat Pensiun = Nilai Sekarang x Faktor x Masa Kerja x PhDP
71 Masa kerja maksimum yang dapat diakui dapat termasuk masa kerja sampai dengan peserta mencapai usia pensiun normal dan bisa tanpa nilai sekarang.
3) Manfaat Pensiun Dipercepat
Manfaat pensiun dipercepat dibayarkan apabila peserta mencapai usia pensiun dipercepat atau cacat (biasanya 45 tahun) dengan dihitung berdasarkan rumus:
Manfaat Pensiun = Nilai Sekarang x Faktor x Masa Kerja x PhDP Dalam jumlah manfaat pensiun dipercepat diatur setinggi-tingginya sama dengan rumus manfaat pensiun normal dan nilai sekarang dihitung berdasarkan laporan akturis.
4) Manfaat Pensiun Ditunda
Manfaat pensiun ditunda dibayarkan apabila Peserta (bekas karyawan) mencapai usia pensiun dipercepat yang besarnya manfaat pensiun dihitung berdasarkan rumus yang sama dengan manfaat pensiun di percepat.
Dari sisi perpajakan, berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 2000, pada pasal 21 ayat 5 huruf c menjelaskan bahwa Dana Pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan pembayaran lain dengan nama apapun dalam rangka pensiun merupakan objek pajak.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 121/KMK.03/2001 tentang Pemotongan PPh 21 atas Penghasilan
72 berupa Uang Pesangon, Uang Tebusan Pensiun, dan Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua, maka untuk uang tebusan/manfaat pensiun dikenakan PPh 21 yang bersifat final dengan tarif sebagai berikut :
Tabel 4.7
Tarif Pajak Manfaat Pensiun
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
sampai dengan Rp 25.000.000,00 0 %
di atas Rp 25.000.000,00 s.d. Rp50.000.000,00 5 % di atas Rp 50.000.000,00 s.d. Rp 100.000.000,00 10%
di atas Rp 100.000.000,00 s.d. Rp
200.000.000,00 15%
di atas Rp 200.000.000,00 25%
Sumber : KMK No 121/KMK.03/2001
C. Pembahasan