• Tidak ada hasil yang ditemukan

Banyak orang yang berafiliasi dengan PKI atau organisasi kiri lainnya tidak melawan ketika ditangkap; Suparno datang ke kantor polisi atas keinginannya sendiri, lalu ditahan; Mansur secara teratur melapor ke kantor polisi pada awal Oktober, lalu diijinkan kembali ke rumah. Ia baru ditahan setelah kedatangan ke kantor polisi yang kesekian kalinya. Karena yakin tidak melakukan kesalahan, mereka tidak mencoba

melarikan diri. Mereka tidak membayangkan suatu saat akan ditangkap tanpa tuduhan (kecuali tuduhan serampangan ‘terlibat G-30-S’) dan ditahan selama bertahun-tahun tanpa pengadilan. Umumnya, orang yang menjadi sasaran penangkapan mencoba bekerja sama dengan polisi dan militer dengan harapan nama-nama mereka akan dibersihkan dan kemudian dilepas.

Mungkin satu-satunya tempat terjadinya perlawanan terhadap RPKAD adalah Klaten. Setelah mendengar apa yang dilakukan RPKAD di Semarang dan pantai utara Jawa Tengah, para aktivis di Klaten menghimpun diri untuk mencegah pasukan ‘baret merah’ itu memasuki wilayah mereka.6 Saya berbicara dengan mantan pengurus SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia)di Tegalgondo, Klaten, yang bernama Winata. Demikian ia menggambarkan perlawanan kaum buruh Klaten:

Menjelang pada tahun 65, aktivitas saya sendiri sudah beralih ke Jawa Tengah. Jadi ya mulai tahun 65, saya agitasi (mobilisasi orang) ke Pekalongan tiga bulan, konsolidasi tugas buruh SOBSI. Selesai tiga bulan, pulang. Di rumah satu minggu, dikirim ke Purwokerto. Kira-kira baru mendapatkan setengah bulan di Purwokerto, kejadian di Jakarta itu. Jadi saya di Purwokerto itu. Lantas, ‘Gimana ini?’ Tapi saya punya firasat bahwa sudah ndak enak itu. Firasat saya, ‘Gimana ini?’ Saya kurang lebih masih bertahan satu minggu. Kawan-kawan di sana sudah banyak trauma, panik. Lebih baik saya pulang. Saya pulang. Pulang ke rumah, terus saya laporan ke Semarang. Laporan ke Semarang, sudah bulan Oktober sampai di Semarang, RPKAD sudah sampai di Semarang machtsvertoon (pawai), mubeng-mubeng

(berputar-putar) di kota Semarang itu. Lantas saya kembali ke rumah dalam keadaan stand by (bersiaga).

Nah, kita mengadakan satu protes. Protes. Tapi sudah tidak dihiraukan lagi oleh kekuasaan Soeharto. Protes-protes itu sampai kita mengadakan pemogokan. Pemogokan kaum buruh, misalnya di Delanggu pabrik karung Delanggu, kereta api, di Serikat Buruh Gula. Jadi mulai dari Tegalgondo sampai di Delanggu sebelah sana pohon-pohon di tepi jalan itu kan ditebangi, gerakan tebangan-tebangan. Ya untuk merintangi RPKAD- RPKAD itu. Untuk memperlambat gerakan. Dengan itu juga sampai adanya gerakan protes-protes, gerakan pemogokan kaum buruh tadi ya bersamaan. Nah, gerakan-gerakan pada waktu itu, ya sampai ada isu, entah itu soal benar atau tidak, akan mengadakan satu serangan umum, begitu. Tapi akhirnya nggak ada apa-apa, jadi keadaan kita sudah terputus-putus, sudah ndak ada hubungan secara langsung. Instruksi secara langsung itu ndak ada. Jadi kalau ada begitu ya sudah, terus adakan satu persiapan, begitu saja. Dengan demikian akhirnya kesemuanya itu bisa dipatahkan. Akhirnya kita diadakan suatu penangkapan-penangkapan dan ada satu pengejaran- pengejaran. Nah mulai itu, sudah mulai ada satu pembunuhan- pembunuhan. Jadi setelah selesai itu, artinya telah ada penebangan- 6 Jurnalis Amerika, John Hughes, mencatat ‘ada keributan di wilayah Bojolali dan Klaten’ yang dimulai pada 22

Oktober 1965. Tapi, informasinya mengenai kejadian-kejadian itu berasal dari Angkatan Darat. Indonesian Upheaval (New York, Fawcett, 1967), h. 132.

penebangan, pemrotesan-pemrotesan, adanya satu gerakan-gerakan pemogokan-pemogokan itu, baik itu di dalam maupun di perkebunan itu mulai ada satu penangkapan-penangkapan dan adanya satu pembunuhan- pembunuhan.

Aksi protes dan perlawanan itu hanya bersifat reaktif. Oleh karenanya, aksi tersebut tidak terlalu solid dan dengan mudah dipatahkan aparat keamanan. Fenomena ini mencerminkan bahwa para aktivis di Klaten sebenarnya tidak tahu persis posisi PKI dalam peristiwa G-30-S. Jika mereka tahu secara persis posisi PKI, tentu mereka akan membuat persiapan untuk menyikapi situasi pasca-peristiwa G-30-S.

Pada operasi RPKAD 30 Oktober 1965, Winata tertangkap. Saat menjalani pemeriksaan, ia diperintahkan untuk merangkak sambil dicambuki oleh tentara RPKAD. Ia dibebaskan setelah ditahan semalaman di Markas RPKAD Kartosuro, karena seorang lurah bersedia menjelaskan pada aparat bahwa Winata hanya orang biasa. Tentara mempercayai keterangan lurah tersebut karena aktivitas politik Winata memang tidak terlalu menyolok di kampungnya. Dia lebih sering berada di tingkat pusat atau bertugas ke daerah lain untuk memberikan pendidikan tentang sistem pengairan dan pengorganisasian buruh. Tampaknya, informasi yang diterima tentara dari masyarakat seputar aktivitas politik Winata memang tidak banyak.

Setelah terjadinya 65, saya pada operasi pertama tanggal 30 Oktober, tanggal 30 Oktober saya tertangkap. Operasi besar-besaran RPKAD, sehingga saya dengan kawan-kawan digiring ke lapangan oleh RPKAD. Di lapangan situ saya disuruh merangkak. RPKAD sudah membawa pecut yang besar itu, kita merangkak terus dipecuti, terus begitu. Saya mberangkang

(merangkak), dipecuti terus, sampai terus digiring ke jalan besar. Saya terus diangkut ke Markas RPKAD. Hanya semalam di situ.

Nah, akhirnya kita semalam di RPKAD, paginya saya dilepaskan, disuruh pulang. Tapi pulang saya sudah merasa sendiri, introspeksi, saya sudah merasa saya ini memang orang penting, orang yang banyak diketahui. Kalau di sini [kelurahan Tegalgondo] memang tidak diketahui, tapi kalau di Klaten [kota] itu kita dikenal. Kalau di desa saya nggak dikenal, sebab saya jarang di rumah dan tidak tampak kita beraktivitas di sini. Oleh karena itu terus setelah sampai di rumah saya juga terus umpetan (bersembunyi) saja.

Umpetan saja, sama dengan kakak saya. Kakak saya dipanggil Koramil, ‘Jangan dilayani, nggak usah ke sana.’ Semboyan saya, saya menyerah mati – lebih baik saya nggak menyerah biarpun mati. Kakak saya saya bilangi begitu juga manut (menurut).

Winata merasa, cepat atau lambat, aktivitasnya pasti akan diketahui. Oleh karena itu, segera setelah dibebaskan, ia dan sang kakak melarikan diri, menjadi ‘buron’. Satu bulan dalam persembunyian, keduanya tertangkap.

Jadi, satu bulan setelah 30 Oktober tertangkap, kita terus lari. Dikejar satu bulan, terus 30 November kita tertangkap. Setelah itu kita terus dibawa ke tempat markasnya Hanra [Pertahanan Rakyat]. Terus saya dibawa ke Grogolan, RPKAD, dibawa ke Markas RPKAD. Sudah, saya sudah ndak ada

harapan, akan hidup sudah ndak ada harapan. Setelah itu lantas saya di RPKAD situ mau dipindah ke Klaten. Mau dipindah ke Klaten sebab RPKAD mau akan kembali ke Jakarta. Suasananya pada waktu itu memang mengkhawatirkan. Dikirim ke Klaten itu kalau ndak keliru pada bulan akhir Januari atau awal Februari itu ke Klaten. Kita mampir di Delanggu itu, di kantor polisi itu satu malam, paginya terus diangkat ke Kodim. Di Kodim kita diinterogasi supaya membikin pernyataan dalam surat-surat tertulis. Ya musti saja saya nggak mau terus terang soal itu. Ya, misalnya kita dengan alasan, saya nggak kenal masalah penebangan.

Winata menduga ia dan saudaranya akan dieksekusi di dalam tahanan. Sekitar 26 Maret 1966, tengah malam, 15 orang tapol, termasuk Winata dan kakaknya, dipanggil dan dikumpulkan. Dia masuk dalam kelompok 4, sedangkan sang kakak masuk dalam kelompok 11. Tengah malam itu adalah terakhir kali Winata bertemu dengan kakaknya. Tak satu orang pun dari kelompok 11 kembali setelah peristiwa itu. Winata yakin, kakak dan rekan-rekannya telah dibunuh. Ia sendiri baru dibebaskan dari tahanan tujuh tahun kemudian, yaitu pada Oktober 1972.