Mulyadi seorang Muslim. Ayah dan kakeknya adalah kyai. Baris agama dalam KTP-nya menandakan ia Muslim. Isterinya pun Muslim. Identitas keagamaannya sepertinya sangat jelas. Tapi, status sebagai tapol yang mendekam di penjara selama 14 tahun membuat hubungannya dengan agama yang terlembaga menjadi sangat rumit.
Orang tuanya berasal dari Tegal yang pindah ke Jakarta saat Mulyadi masih kecil. Ia bersekolah di sebuah sekolah Katolik di wilayah Salemba:
Nah di Jakarta lah saya pertama kali tinggal di bilangan Cipinang Cempedak, kemudian pindah ke Karet Belakang, daerah Tanah Abang, dekat Pejompongan sana itu. Terakhir pindah ke daerah Salemba. Nah masa kecil dan remajaku inilah kami alami di Salemba ini. Aku sekolah di SD di daerah kampungku ini, yang namanya SD Rumah Kita… Seratus persen murid- murid yang di sana itu umumnya dari keluarga penduduk kampung di lingkungan situ saja, yang 100 persen memang orang Islam semua. Tapi masyarakat di sana tidak pernah complain, atau keberatan, dan tidak mempersoalkan – sebetulnya Rumah Kita itu sebenarnya singkatan dari Roma Katolik.
Ia tinggal di kampung miskin. Banyak penduduk kampung itu terlibat dalam organisasi sayap kiri. Abangnya aktif dalam Pemuda Rakyat, sementara ibu tirinya ikut Gerwani. Sekretariat ranting PKI setempat ada di sebelah rumahnya. Saat masuk SMA, ia bergabung dengan IPPI, yang juga condong pada politik nasionalis-kiri. Tentu saja sebagai anak berusia 16 tahun pengetahuannya tentang politik sangat terbatas. Tapi yang penting baginya adalah kegiatan-kegiatan di dalam IPPI sendiri:
Paling-paling kegiatannya kan koor, gerak jalan, olahraga, kompetisi apalah, atletik di sekolah atau bikin majalah dinding di sekolah, jadi seperti itu … Tapi saya sendiri sebenarnya kurang begitu jelas apa sih sebenarnya kiri dan kanan ketika itu. Tidak sampai seperti itu. Artinya bahwa kita masuk IPPI karena kegiatan anak-anak sekolah seperti belajar, jadi tidak politik gitu.
Ia mengingat ada beberapa organisasi lain di kampungnya, seperti Ansor dan Front Pemuda Marhaenis. Tapi seingatnya, tidak ada konflik di antara bermacam organisasi ini. Kaum muda di kampungnya ‘rukun-rukun saja.’ Konflik biasanya hanya terjadi dengan para crossboys, yang sekarang disebut preman, tapi konflik semacam itu pun tidak pernah
menyangkut masalah politik.
Pada 1965, Mulyadi masih kelas dua SMA. Ia hidup biasa sebagai remaja dan tidak tahu bahwa ada krisis politik yang serius. Ia tentu saja tidak terlibat dalam G-30-S dan tidak tahu apa-apa mengenai gerakan itu. Namun, saat gerakan itu berakhir, hidupnya pun ikut jungkir-balik: ‘tiba-tiba semua ketenangan kami sekeluarga menjadi berantakan setelah meletus peristiwa G-30-S.’
Nah waktu itu saya melihat rumahku itu diserang oleh massa. Kemudian ayah saya temukan di kantor polisi, minta perlindungan, dan saya sendiri nampaknya dicari. Semua anak laki di situ dicari. Kalau kakak saya, nampaknya tidak tahu saya dia di mana saat itu. Saya sendirian.
Ia kehilangan kontak dengan keluarganya dan harus mencari jalan sendiri agar bisa bertahan hidup. Ia pergi ke Tegal untuk tinggal bersama kakek-nenek dan pamannya.
Karena saya tidak punya rumah di Jakarta lagi, saya kembali ke kampung. Nah di kampung ternyata, ya orang, terutama saudara-saudara agak dingin menyambut saya kan gitu. Bahkan rasa-rasanya kalau bisa menolak ya ditolak. Aku tinggal di rumah nenek. Nenek dari bapak saya yang sudah tidak ada lagi, tinggal saudara tinggal di sana … Umumnya orang dari Jakarta ketika itu sangat menakutkan kan, gitu. Karena konotasinya barangkali setiap orang dari Jakarta itu mesti terlibat, gitu kan, pelarian, atau apa. Mungkin dituduh membunuh jendral, main di Lubang Buaya atau apa-apa itu, seperti apa yang kita baca di surat-surat kabar. Jadi memang situasinya sangat tidak anu sekali, sangat mengerikanlah untuk orang seperti saya itu.
Karena pengaruh propaganda militer dan histeria anti-komunis, keluarganya pun tidak mempercayainya. Salah seorang pamannya, yang juga menjadi pejabat desa, memutuskan bahwa militer dan polisi harus menentukan nasibnya, apakah ia terlibat PKI atau tidak.
Sampai pada suatu hari gitu kan, saya dibawa oleh oom saya sendiri ke kantor polisi dan kemudian dijebloskan ke dalam, apa namanya, kamp. Di sana itu kamp itu isinya mungkin seribu atau berapa gitu, saking padat sekali. Ya itu bekas sekolah Tionghoa, kami ditampung di sana2… terus itu biasanya orang-orang itu dipanggil baik di pagi hari, malam hari, siang, karena begitu banyak harus melakukan screening [pemeriksaan]. Nah di-screening inilah saya mengatakan bahwa saya anggota IPPI. Kemudian diterima, tetapi setelah beberapa saat saya dikembalikan ke kamp lagi, dipindahkan ke kamp yang satu ke kamp yang lain, lalu saya dijebloskan ke dalam penjara. Nah di penjara itu saya hampir empat tahunlah.
Seorang remaja berusia delapan belas tahun harus menghadapi polisi, mengakui keanggotaannya dalam sebuah organisasi yang sampai Oktober 1965 adalah organisasi 2 Kami mendengar dari banyak tapol di wilayah yang berlainan bahwa militer menyita gedung dan bangunan
milik orang Tionghoa, beberapa di antaranya adalah anggota Baperki, dan menggunakannya sebagai tempat penahanan. Hal seperti itu tampaknya lazim dilakukan.
resmi, legal, patriotik, dan pro-pemerintah, dan akhirnya disekap di penjara. Ia tidak pernah didakwa melakukan kejahatan dan pemeriksaan pun tidak menunjukkan indikasi ia pernah berbuat jahat. Satu-satunya alasan yang membuatnya ditahan adalah hubungannya dengan sebuah organisasi pelajar yang punya hubungan longgar dengan PKI. Menjadi anggota sebuah organisasi adalah ‘kejahatannya’, sekalipun pada usia 18 tahun ia tentu tidak punya pengertian politik yang dalam.
Kehidupan di penjara antara 1965 sampai 1969, seperti kita lihat dalam uraian Tan di atas, penuh ketidakpastian. Banyak tahanan yang meninggal karena kelaparan atau dibawa keluar untuk dieksekusi. Bayangkan diri Anda sebagai seorang remaja, yang sedang menempuh kehidupan yang tenang dan menyenangkan, lalu tiba-tiba disekap di penjara yang penuh ancaman kematian.
Saya pernah di sel, di penjara di dalam sel itu delapan orang. Lalu satu persatu tiap malam diambil, katanya sih dipindah. Kemudian semakin lama semakin berkurang, tinggal saya berdua dengan salah seorang yang katanya tokoh di kota itu, yang pada akhirnya orang ini juga mati disiksa. Orang ini sebetulnya oom saya [bukan oom yang aparat desa]. Nah ketika itulah saya merasa tertekan. Saya harus minta tolong siapa? Tiap kali yang datang dalam bayangan saya adalah teman-teman kecil, keluarga, adik, kakak, ibu, bapak. Saya nggak tahu harus bagaimana.
Sejumlah saudaranya dari kampung cukup berani untuk mengunjunginya sekali seminggu dan mengantarkan makanan. Dengan makanan itu ia berhasil bertahan hidup dan membaginya dengan tiga orang lain dalam sebuah kelompok makan.
Nah kelompok saya ini kelompok yang minus, jadi seminggu sekali saya dikirim, nah saya punya anggota kelompok itu tiga orang yang nggak pernah dikirim. Karena mereka dari luar kota, dari Lampung, Jakarta, dari mana, saya nggak tahu, karena pengakuan kan nggak jelas ya. Karena kita nggak tahu mereka siapa, karena yang tahu kan biasanya anu, pemeriksa saja. Kita nggak peduli dia siapa, pokoknya kita sama-sama di situ, kita saling bantu-membantu.
Saat menggambarkan penderitaannya di penjara, Mulyadi tidak terlihat emosional. Hal yang membuatnya sedih, bahkan sampai hari ini, adalah penderitaan keluarganya yang tinggal di luar penjara. Ia tidak tahan dan menangis saat bercerita tentang saudarinya yang jatuh miskin dan terpaksa memotong rambutnya yang indah untuk dijual.
Kerabatnya yang membawakan makanan hanya bisa membeli jenis makanan paling sederhana dan murah, termasuk nasi sisa makan mereka sendiri.
Bahkan pada suatu hari, saya pernah bertanya sama keluarga saya, ‘Uang dari mana sih ngirim-ngirim saya?’ – padahal waktu itu kirimannya juga nggak banyak, mungkin segaking, segaking itu tahu? Nasi yang dikeringin, nasi yang nggak habis, barangkali dari tetangga-tetangga itu diminta gitu, terus dijemur, ya kan? Kemudian setelah kering itu dikirim ke penjara. Nah lalu di sana itu disiram dengan air panas, direbus, itu sudah bisa dimakan gitu ya? Nah itu segaking. Kami kirimannya seperti itu, garam, sederhana
sekali.
Saat di penjara, ia mengalami tekanan psikologis yang mendalam. Ia dipisahkan dari orang tua, saudara, dan teman-teman lamanya di Salemba. Tidak jelas berapa lama ia akan ditahan. Mungkin untuk selamanya. Ia tidak pernah tahu kenapa sampai ditahan di penjara dan apa kesalahan yang dilakukannya. Salah seorang pamannya mati karena disiksa. Ia tahu bahwa tahanan yang dibawa keluar tidak ‘dipindahkan’, tapi dibunuh. Seperti banyak orang lain dalam keadaan serupa ia menderita krisis kejiwaan. Sebagai seorang Muslim, ia berharap dapat menemukan ketenangan dalam agama. Tapi para ulama yang bertugas di penjara kerjanya hanya memaki-maki para tahanan:
Keadaan kami sebenarnya kan patut ditolong. Tapi sebaliknya apa yang kami terima dalam rangka Santiaji di penjara – kita selalu dikumpul di situ. Kemudian mereka – biasanya yang paling menonjol itu dari kelompok Islam itu saya lihat - bapak-bapak yang atas nama Islam itu banyak mengkritik kita, mengkafir-kafirkan kita. Kita dianggap orang sesat, dianggap orang tak bertuhan.
Banyak tahanan lain yang menggambarkan sikap para ulama yang tidak memberi kenyamanan secara emosional atau memberi bantuan material.3 Sementara itu, para rohaniwan Kristen dan Katolik lebih simpatik dan juga mau memberikan bantuan kemanusiaan.
Dari kelompok Kristen tidak pernah mengkritik. Tidak pernah misalnya ngatain kita ini kafir dan sebagainya, tidak pernah. Paling-paling memberikan semacam pengertian bahwa tidak ada dosa yang tidak terampuni. Tuhan selalu datang kepada kita dan mengetuk hati kita untuk menjadi orang-orang baru dengan darah dan tubuh Yesus semua akan diselamatkan. Seperti itu saja. Tidak pernah bicara misalnya ada, ‘Lu PKI’, ‘Lu semua sesat, setan, patut masuk neraka,’ gitu misalnya. Jadi tumbuhlah rasa simpati. Karena di dalam kesulitan ini, orang itu batinnya, itu jiwanya itu berkembang, mencari jalan untuk kedamaian gitu kan.
Pada 1969, Mulyadi dipindahkan ke Pulau Buru. Di sana ia melihat banyak tapol Muslim yang berpindah agama.4 Mereka tidak menghadiri pelajaran agama yang disampaikan oleh para ulama, tapi malah ikut dalam kelas bagi tahanan Kristen dan Katolik.
Setelah saya pindah di Pulau Buru dengan teman-teman, itu barangkali dua pertiga dari semua – tanpa ‘Kristenisasi’ ya, artinya kesadaran kita sendiri – kita itu mulai mencantumkan agamanya itu mulai berubah. Kebanyakan itu
3 H. Achmadi Moestahal, seorang tapol yang ditahan di Salemba dan Pulau Buru, misalnya, dalam memoarnya
mencatat hanya sedikit ustadz yang simpatik dan baik hati, sementara kebanyakan tidak demikian: ‘siraman rohani para perwira Binroh (Pembina Rohani) Islam yang lain, Masya Allah.’ Cara mereka menyelenggarakan pelajaran agama, ‘justru menimbulkan antipati terhadap Islam, karena cara-cara yang tidak mendidik dan vulgar, penuh dengan cacian dan makian terhadap penganut faham Komunisme dan atheisme ... Bahwa semua tapol adalah al- kuffaar musyrikin dan orang yang sesat.’ Moestahal berasal dari keluarga santri dan lulus dari Pondok Pesantren Gontor. Dari Gontor ke Pulau Buru (Yogyakarta: Syarikat, 2002), h. 252.
4 Mengenai pendidikan agama di Pulau Buru, lihat I.G. Krisnadi, Tahanan Politik Pulau Buru 1969-1979 (Jakarta:
Katolik atau Protestan. Ya udah, yang Katolik harus ke gereja, yang Protestan harus ke gereja gitu kan. Jadi kita begitu, pindah agama akhirnya. Pimpinan militer di Pulau Buru menyadari perubahan ini awal 1970an. Pegawainya memeriksa kembali catatan para tapol dan melihat bahwa banyak dari mereka yang menyebut diri Muslim saat tiba di sana.
[Mereka] ngecek kembali pertama kali masuk itu orang-orang ini agamanya apa saja, ternyata setelah dicek sebagian besar dari mereka itu pindah agama ke Kristen, begitu banyaknya. Sehingga ada peraturan itu harus kembali sesuai dengan data pertama masuk kan [tertawa]. Harus kembali. Kami dikumpulin tuh di lapangan, di lapangan dikumpulin, ‘Kalian tidak boleh begitu, harus kembali ke agamanya masing-masing.’5
Bagi para pemimpin militer, agama bukan pilihan bebas. Agama adalah sesuatu yang bisa dipaksakan kepada orang lain, walaupun alasan bagi para tahanan untuk pindah agama tidak lain karena militer menciptakan penderitaan begitu hebat.
Ya seru juga ya, orang sudah keyakinan orang ya, harus kembali. Yah dengan cara paksalah. Dikumpulkan, kemudian dipanggil satu-satu, kemudian disuruh mengucapkan dua kalimat syahadat dan harus besoknya itu melakukan ibadah Islam. Saya termasuk kena tuh. Tapi jujur saya katakan, saya waktu itu tidak protes, karena percuma, iya kan? Lagi juga saya bicara dengan orang yang tidak mengerti apa kemauan saya. Dan tidak mengerti – apa namanya – diri saya, ya percuma saja. Kemudian saya minta waktu, waktu itu di lapangan. Saya diam-diam ya karena untuk begitu men-switch
(pindah) dengan kecepatan yang amat mendadak itu tadi. Memang agak berat. Ya memang karena saya dulunya orang Islam ya, dulunya fasih sekali mengucapkan syahadat. Tetapi dalam hatiku pun saya berdoa Bapak Kami. Di sini pertentangan yang hebat di dalam jiwa saya yang mungkin sulit sekali dilukiskan.
Di satu sisi, agama bukan masalah penting bagi para tapol karena mereka tidak pernah sempat mendalami atau menjalankannya dengan pantas: mereka bangun pagi-pagi sekali, berkumpul di lapangan saat apel, bekerja keras sepanjang hari di ladang, kembali ke barak pada malam hari, makan malam, lalu segera tertidur karena kehabisan tenaga. Tapi, di sisi lain, agama menjadi sangat penting karena itulah satu-satunya forum yang memungkinkan mereka untuk membaca dan bergaul satu sama lain. Satu-satunya bahan bacaan yang tersedia di Pulau Buru saat itu adalah buku-buku agama. Misa atau kebaktian Minggu adalah saat bersantai dengan teman-teman. Melalui praktek keagamaan seperti inilah para tapol menemukan cara untuk mendapat keseimbangan kejiwaan.
Masalah psikologis paling berat bagi tapol di Buru, menurut Mulyadi, adalah kegelisahan saat mengingat orang-orang yang dicintainya. Para tapol sangat cemas dengan keberadaan keluarga mereka, namun tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka merasa sulit dan berat bahkan hanya untuk sekadar berkirim surat saja. Mulyadi sendiri mencoba 5 Kejadian ini juga digambarkan oleh beberapa tapol yang lain.
untuk tidak memikirkan keluarganya.
Ya untuk apa, untuk ini mengalihkan fikiran-fikiran yang negatif, misalnya rindu kepada keluarga, kepada adiknya, itu sangat menyiksa sekali di sana itu. Bahkan banyak orang-orang putus asa karena kerinduan-kerinduan ini. Ada teman-temanku di sana yang bunuh diri, umpamanya, karena nggak tahan sama hidup. Padahal apa sebenernya yang nggak tahan? Kita sudah sama-sama, kerja sama berat. Tapi toh ada yang bunuh diri juga kan? Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama, ada yang lemah. Rata-rata mereka itu, teman-teman yang mati, bunuh diri atau minum racun dan sebagainya, apa yang mereka sebut-sebutkan itu? Cuma ibunya. Apa dia bilang ‘Ibu’ atau ‘Mama’ atau apa, nah itu mereka sangat anu – memang memprihatinkan sekali ya. Dunia harus tahu.
Salah seorang temannya yang bunuh diri, untuk waktu lama dirundung pikiran bahwa isterinya sudah tidak setia lagi. Banyak tapol yang kemudian terjerembab dalam bayangan bahwa isteri mereka sudah menikah lagi. Beberapa diantaranya bahkan meminta isteri-isteri mereka untuk mencari suami lain. Dan justru gagasan inilah yang tidak dapat diterima oleh temannya.
Ada satu tragedi yang saya lihat. Pada suatu hari ada seorang tahanan, seorang teman, dia dulu militer, mendapat foto dari Jawa, foto istrinya. Ini lho sensitifnya orang di sana itu, orang tahanan. Ternyata di dalam foto itu – digunting kan foto itu kan – tapi ada gambar tangan yang memegang tangan istrinya. Gambar itu berotot, gitu kan. Itu sampai gila tuh. ‘Kok istri saya nggak setia? Padahal saya di sini ini setia.’ Bagaimana nggak setia? ‘Padahal aku setia untuk bertemu.’ Padahal orangnya cukup intelektual.
Masalah psikologis penting lainnya di Pulau Buru adalah masa depan yang tidak jelas. Mereka tidak tahu kapan akan dibebaskan dari kerja paksa yang mereka jalani. Sangat sulit mempertahankan keinginan untuk hidup saat kehidupan itu hanya tampak sebagai penderitaan berkepanjangan.
Itu kan sebenarnya rasa ketakutan akan hari depan yang tidak jelas. Itu kan menimbulkan orang itu putus asa. Tapi teman-teman kan punya pandangan kan – ya sebagian besar – katakanlah soal, apa pun maunya orang, kalau Allah mau membebaskan kita ya bebaslah kita, kan gitu? Nggak mungkin. Kita berserah diri sajalah sama yang Di Atas, kan seperti itu? Mereka sholat, sebelum tidur mendoakan keluarganya, mendoakan supaya bebas, seperti itu. Jadi punya harapan untuk bebas. Kita seperti itu. Kan kehidupan itu harus 100 persen harus disedihi. Kan ada saja bagian-bagian yang menghibur, ya kita – banyak hal-hal yang lucu-lucu yang istilahnya selalu susah kan seperti itu. Tapi ya itu tadi, keputusasaan itu bisa saya mengerti, kapan pulangnya, berapa pulangnya. Apalagi ada berita-berita kita nggak akan pulang, sampai mati terus di sini.
Mulyadi termasuk rombongan tapol terakhir yang dibebaskan dari Buru pada 1979. Pada saat pembebasan, para pemimpin militer tidak lagi bersikap keras terhadap tapol yang pindah agama. Ia dibiarkan menganut agama Kristen dan saat kembali ke Jawa memiliki
KTP yang menandakan dirinya beragama Kristen. Beberapa anggota keluarganya, saat menerima kembali, agak keberatan dengan kenyataan bahwa ia telah pindah agama:
Sampai di rumah, begitu keluarga saya sebetulnya fanatik gitu. Ayah saya, gitu kan, tapi ayah saya cuma diam-diam saja. Dia bilang, ‘Agama itu yang penting itu. Ya saya nggak bisa bilang apa, kalau kamu mau masuk agama Nasrani, baik, jadi Nasrani yang baik seperti apa yang diajarkan oleh Nasrani, Nabi Isa kamu.’ Gitu ayah saya. Ibu saya bilang, ‘Ya ialah, agama di mana-mana sama, yang penting baik, rukun,’ kata ibu saya. Tentu saja yang lain seperti kakak saya, ‘Ya nggak, orang Islam ya harus kembali.’ Gitu, murtad dan sebagainya. Dan teman-teman kecilku ketika saya temui setelah saya bebas, teman saya ngaji, itu juga diam-diam protes, ‘Gimana sih kamu, apa nggak sayang sama guru kamu Haji Masruni?’ Nah seperti itu.
Tapi, masalah terpenting bagi Mulyadi saat kembali ke Jakarta bukanlah identitas keagamaannya, tapi cara bertahan hidup secara ekonomi. Ia perlu mencari pekerjaan.
Ada tetangga yang nyupir, dan saya nawari diri gimana kalau saya jadi keneknya. Saya mulai jadi kenek Metromini S63, Pasar Minggu-Depok. Makan satu hari sekali, ya kan. Ketika istirahat kita sama-sama makan di warung Padang bersama-sama dengan kondektur yang lain. Kemudian malamnya pembagian upah gitu kan, ya sebetulnya sedikit, tapi daripada nol. Tapi lama-lama ya nggak betah, karena ya bahaya ya, jadi kenek ya, main di terminal, penuh dengan preman.
Ia ingin mencari pekerjaan lain. Di Buru, ia sempat belajar akupunktur6. Pada awal 1980an, Mulyadi memutuskan untuk melanjutkan pelajaran akupunktur di Yogyakarta.
Saya masuk organisasi akupunktur, gitu. Di mana organisasi itu pun digosipkan sebagai organisasi tempat penampungan orang-orang eks [tapol]. Jadi harus hati-hatilah, gitu. Jadi gimana? Repot juga kan? Didesas- desuskan bahwa organisasi akupunktur ini nggak lebih dari organisasi dari orang-orang tahanan PKI. Tapi nyatanya masyarakat yang saya datangi tidak peduli ya, artinya kami mulai praktek di masyarakat, tentu saja berurusan dengan pemerintah, terutama dalam minta ijin itu bukan main sulitnya. Harus begini, harus begitu, harus bayar ini, bayar itu. Padahal kami ini benar-benar pennyless,artinya ndak punya apa-apa.
Di sini memang pemerintah ada semacam maksud yang ganda ya, mendua. Pertama kami dianjurkan untuk bersosialisasi, tapi di pihak lain kepada masyarakat dia memberikan warning [peringatan] kepada masyarakat, ‘Awas jangan sampai kesusupan orang-orang eks-tahanan politik.’ Jadi ya gimana? Gitu kan? Kalau kita misalnya ngumpul dengan orang-orang di mesjid,
6 Menarik bahwa ratusan tapol dari berbagai penjara di seluruh Indonesia akhirnya menjadi ahli akupunktur.
Mereka biasanya belajar dari tapol Tionghoa yang lebih dulu mempelajari ilmu itu. Di Pulau Buru, seorang tapol