• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Hukum Bagi Investor Pasca

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG DELISTING

D. Perlindungan Hukum Bagi Investor Pasca

Oleh karena itu, diharapkan untuk ke depannya pemerintah selaku regulator dapat melengkapi dan menyempurnakan Undang-Undang Pasar Modal guna melindungi semua pihak yang terlibat di pasar modal.

Terciptanya kepastian hukum tercermin dalam pembentukan Undang- Undang Pasar Modal dengan tujuan untuk melindungi kepentingan investor di pasar modal dari praktek curang dan kejahatan pasar modal. Hal tersebut dikarenakan investor adalah pihak yang lemah posisinya dalam menerima segala resiko yang dapat menyebabkan kerugian dari nilai posisi investasi yang mereka lakukan di pasar modal.222

Kepastian hukum akan mewujudkan suatu pasar yang teratur, wajar dan kompetitif, dengan tetap memberikan perlindungan maksimal kepada investor yang menempatkan dananya di pasar modal.223

Kepastian hukum ini diperoleh dengan adanya landasan hukum untuk berpijak. Di bidang pasar modal yang menjadi landasan hukumnya adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Dalam konsiderans

221

Boby W. Hernawan & I Made B. Tirthayatra, op.cit., hal. 5.

222

Undang-Undang Pasar Modal huruf c dikatakan bahwa agar pasar Modal dapat berkembang dibutuhkan adanya landasan hukum yang kukuh untuk lebih menjamin kepastian hukum pihak-pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal serta melindungi kepentingan masyarakat pemodal dari praktik yang merugikan.

Jadi yang dilindungi di sini adalah kepentingan masyarakat pemodal yang melakukan investasi di pasar modal. Hal ini penting karena modal yang ditanamkan adalah milik para pemodal ini jadi harus dipertanggungjawabkan kepada mereka. Tujuan pemodal ini melakukan investasi adalah untuk mendapatkan capital gain walaupun tidak tertutup kemungkinan terjadinya

capital lost. Jadi tetap diusahakan untuk melindungi kepentingan para pemodal ini.

Kemudian muncul pertanyaan siapa yang harus melakukan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat pemodal ini? Perlindungan hukum ini dilakukan oleh Bapepam, Bursa dan emiten itu sendiri.

Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) merupakan palang pintunya hukum pasar modal. Lembaga ini merupakan benteng sekaligus ujung tombak dalam melakukan law enforcement dari kaidah-kaidah hukum pasar modal. Karena itu, apakah pasar modal akan menjadi lebih baik, lebih aman, adil dan tertib atau sebaliknya semakin kacau, penuh trik, dan tipu muslihat dari para aktor pasar modal dan spekulan yang bringas dan penuh nafsu.224

Secara umum, Undang-Undang Pasar Modal mengatur kewenangan dan tugas Bapepam sebagai lembaga pembina, lembaga pengatur, dan lembaga pengawas. Sementara itu, pelaksanaan kewenangan Bapepam sebagai lembaga pengawas dapat dilakukan secara:

1. Preventif, yakni dalam bentuk aturan, pedoman, bimbingan dan pengarahan. 2. Represif, yakni dalam bentuk pemeriksaan, penyidikan dan penerapan sanksi-

sanksi.225

Bapepam berwenang untuk membekukan atau membatalkan pencatatan suatu Efek pada Bursa Efek atau menghentikan Transaksi Bursa atau Efek tertentu untuk jangka waktu tertentu guna melindungi kepentingan pemodal.226 Selain itu, Bapepam juga berwenang untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerugian masyarakat sebagai akibat pelanggaran atas ketentuan di bidang pasar Modal.227

225

Ibid., hal. 89.

226

Pasal 5 huruf j Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Kedua kewenangan di atas dijadikan dasar hukum bagi Bapepam untuk melakukan suspensi atau men-delist emiten atau perusahaan publik yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan Pasar Modal. Hal ini dilakukan untuk melindungi masyarakat khususnya investor.

Bapepam mengeluarkan dua peraturan yang berkaitan erat dengan proses

go private yaitu Peraturan Bapepam No. IX.F.1 tentang Penawaran Tender dan Peraturan Bapepam No. IX.E.1 tentang Benturan Kepentingan .

Bagi Bapepam, hal utama yang diperhatikan dalam go private adalah perlindungan terhadap pemegang saham publik. Karena itu, untuk melakukan go private ini pihak yang melakukan pembelian saham wajib melakukan penawaran tender. Perlindungan yang didapat melalui ketentuan penawaran tender tersebut adalah dalam hal harga saham dan adanya kesempatan yang sama bagi semua pemegang saham publik untuk menjual saham yang dimilikinya.228

Sebagaimana pada aksi korporasi lainnya, perhatian Bapepam dalam proses go private terletak pada perlindungan kepentingan pemegang saham publik. Pada proses go private, disamping berusaha memastikan bahwa tidak terdapat informasi yang disembunyikan perusahaan, Bapepam juga mempersyaratkan adanya persetujuan pemegang saham independen dan dilakukannya penawaran tender atas saham yang dimiliki pemegang saham publik.229

Memang ketentuan go private di pasar modal belum diatur secara jelas. Akan tetapi Bapepam telah menentukan rambu-rambu ketentuan yang terkait dengan pelaksanaan go private, beberapa memang diambil dari ketentuan- ketentuan yang memang sudah ada sebelumnya ditambah dengan perubahan- perubahan untuk menampung aspek perlindungan bagi investor publik.230

Bagi perusahaan yang delisting atau go private diwajibkan oleh Bapepam untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Independen, di mana hal

228

Mukhti, op.cit., hal.37.

229

tersebut wajib dilakukan oleh perusahaan yang go private guna melindungi kepentingan pemegang saham publik atau minoritas.231

Yang dimaksud dengan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan adalah jika suatu transaksi di aman seorang direktur, komisaris, pemegang saham utama atau pihak terafiliasi dari direktur, komisaris atau pemegang saham utama mempunyai benturan kepentingan, maka transaksi dimaksud terlebih dahulu harus disetujui oleh para pemegang saham independen atau wakil mereka yang diberi wewenang untuk itu dalam RUPS sebagaimana diatur dalam Peraturan Di samping itu, perlindungan investor ini juga dilakukan dalam hal terjadinya benturan kepentingan. Dalam pasal 82 Undang-undang Pasar Modal dinyatakan bahwa Bapepam dapat mewajibkan emiten atau perusahaan publik untuk memperoleh persetujuan mayoritas pemegang saham independen apabila

emiten atau perusahaan publik tersebut melakukan transaksi di mana kepentingan ekonomis emiten atau perusahaan publik berbenturan dengan kepentingan ekonomis pribadi direktur, komisaris, atau pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik dimaksud. Dalam penjelasan pasal 82 tersebut menyatakan bahwa untuk melindungi kepentingan pemegang saham independen yang umumnya merupakan pemegang saham minoritas dari kemungkinan adanya penetapan harga yang tidak wajar atas transaksi yang dilakukan oleh emiten

disebabkan oleh adanya benturan kepentingan antara pribadi direktur, komisaris atau pemegang saham utama, Bapepam dapat mewajibkan emiten untuk terlebih dahulu memperoleh persetujuan mayoritas dari pemegang saham independen.

Bapepam No. IX.E.1. Persetujuan mengenai hal tersebut harus ditegaskan dalam bentuk akta notaris.

Meskipun secara definisi benturan kepentingan transaksi tersebut tidak termasuk dalam go private, tetapi Bapepam berdasarkan surat Ketentuan Bapepam kepada perusahaan yang akan go private wajib memenuhi sebagian ketentuan tersebut antara lain dengan mewajibkan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Independen.

Persetujuan go private oleh pemegang saham independen dalam RUPS ini menjadi penting artinya, mengingat apabila tidak diperoleh persetujuan oleh pemegang saham independen, maka langkah selanjutnya baik itu penawaran tender, delisting di bursa saham dan perubahan anggaran dasar menjadi tidak berguna lagi. Jadi aspek hukum untuk memperoleh persetujuan pemegang saham independen merupakan langkah awal rencana go private dibandingkan dengan yang lainnya.

Hal ini belumlah mencukupi untuk memberikan perlindungan hukum kepada pemegang saham publik yang pada saat penawaran tender tidak mau menjual sahamnya atau karena dia memberikan suara tidak setuju pada saat RUPS Independen. Meskipun dalam surat ketua Bapepam tersebut mewajibkan Perseroan untuk tunduk kepada Pasal 55 angka 1 huruf a UUPT No. 1 Tahun 1995 sekarang diubah menjadi UU No.40 Tahun 2007 dengan harga yang wajar minimum harga pada saat penawaran tender dilakukan, akan tetapi setelah

Perseroan tersebut menjadi Perseroan Tertutup, maka akan menjadi pertanyaaan apakah Perseroan tersebut tetap akan mematuhi Surat Ketua Bapepam tersebut.232

1. menghapus pencatatan efek tertentu di bursa

Perlindungan kepentingan publik tidak hanya diatur dalam Peraturan Bapepam, melainkan juga dalam peraturan yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Peraturan BEI Nomor I-I mengenai Ketentuan Penghapusan Pencatatan (delisting) dan Pencatatan Kembali Saham (relisting) menyatakan bahwa untuk melindungi kepentingan publik dan dalam rangka penyelenggaraan perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien, bursa berwenang untuk:

2. menyetujui atau menolak permohonan pencatatan kembali termasuk penempatannya pada papan pencatatan dengan mempertimbangkan faktor- faktor yang menjadi penyebab delisting.233

Kendala bagi Bapepam untuk tetap membela kepentingan publik belumlah menyentuh sampai pemegang saham publik yang terakhir, karena sebagai perusahaan tertutup maka Perseroan tidak tunduk lagi kepada ketentuan pasar modal.234

Direksi dan komisaris emiten atau perusahaan publik juga wajib untuk melindungi pemegang saham khususnya pemegang saham minoritas. Hal ini dikarenakan dalam praktik sering didapat adanya perlakuan yang kurang adil oleh pemegang saham mayoritas dan pengurus perseroan terhadap pemegang saham

232

Mukhti, op.cit., hal 114.

233

Ketentuan II.1. Peraturan Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa.

minoritas. Ada tiga faktor yang menyebabkan perlakuan tidak adil tersebut, yaitu:235

1. Kurangnya ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak pemegang saham minoritas. Pada kenyataannya sekalipun ketentuan-ketentuan tersebut ada, dirasakan masih belum cukup. Hal itu terbukti dari seringnya pemegang saham minoritas yang dirugikan kepentingannya oleh pemegang saham mayoritas yang beritikad buruk dalam melaksanakan UUPT. Selain itu, adanya kewenangan yang diberikan oleh UUpt kepada organ Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menetapkan kebijakan perseroan, secara tegas tidak mengatur adanya kewajiban partisipasi aktif bagi pemegang saham minoritas untuk mengajukan pendapatnya, akibatnya pemegang saham mayoritas begitu dominan dan dapat dengan mudah mengabaikan hak-hak pemegang saham minoritas tersebut.

2. Sikap dan perilaku pemegang saham mayoritas. Direksi atau Komisaris yang memiliki karakter moral hazard. Faktor sikap tersebut pada akhirnya dapat mengakibatkan kerugian pada Perseroan Terbatas.

3. Posisi lemah dari pemegang saham minoritas karena kurang modal, pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk mengelola Perseroan Terbatas, sehingga pemegang saham minoritas tersebut tidak berdaya dalam

235

Misahardi Wilamarta, Hak Pemegang Saham Minoritas dalam Rangka Good Corporate Governance, Cet.1, (Jakarta: Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas

menghadapi sikap dan perilaku pemegang saham mayoritas yang memiliki itikad tidak baik

Dalam surat edaran yang disampaikan kepada pemegang saham terdapat kalimat yang dicetak dalam huruf tebal sehingga langsung menarik perhatian pembaca, yaitu Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan, baik secara sendiri- sendiri maupun bersama-sama bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran dan kelengkapan informasi yang diungkapkan dalam surat edaran ini, dan setelah melakukan penelitian secara seksama, menegaskan bahwa sepanjang pengetahuan dan keyakinan mereka, tidak ada fakta penting dan terkait lainnya yang tidak diungkapkan atau dihilangkan sehingga menyebabkan informasi yang diberikan dalam surat edaran ini menjadi tidak benar atau menyesatkan.236

Berkaitan dengan hal tersebut, maka selaku pemegang saham wajib membaca surat edaran tersebut sehingga nantinya mereka tidak dirugikan akibat

Dalam analisis penulis, kalimat di atas akan menjadi sia-sia jika direksi dan dewan komisaris perseroan tidak mau membagi pengetahuan mereka mengenai informasi yang berkaitan dengan prospek perusahaan ke depan. Di mana informasi tersebut biasanya dimiliki oleh pemegang saham pengendali atau pemegang saham utama atau mungkin juga dimiliki oleh direksi dan dewan komisaris. Sedangkan Bapepam sendiri sudah berusaha melakukan penelaahan dari aspek keterbukaan, akuntansi dan hukum untuk lebih memberikan keterbukaan informasi bagi pemegang saham dalam rangka perlindungan hukum bagi pemegang saham publik.

kurang lengkapnya informasi termasuk prospek ke depan dari perusahaan dalam pengambilan keputusan terhadap rencana go private. Jadi dalam hal ini investor harus lebih jeli lagi dalam menetapkan keputusannya, meskipun dalam surat edaran dinyatakan juga bahwa jika ragu mengenai aspek apapun dari surat edaran ini atau mengenai tindakan yang harus diambil, maka haruslah berkonsultasi dengan wakil pedagang efek anda atau wakil perusahaan efek terdaftar lainnya, manajer investasi, penasihat hukum, akuntan atau penasehat profesional lainnya.237

Karena Bapepam tidak memberikan surat pernyataan efektif ataupun kecukupan informasi yang disampaikan dalam surat edaran, menyebabkan pemegang saham harus menggali dan mencari keterbukaan informasi yang mungkin tidak dibagi kepada mereka.238

1. Untuk melindungi masyarakat proses go private harus melalui prosedur yang ketat. Dokumen dan informasi yang terbuka harus disampaikan kepada masyarakat. Analogi penawaran tender (tender offer) dapat menjadi acuan sebelum peraturan go private dikeluarkan oleh Bapepam.

Menurut I Putu Gede Ari Suta, ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan dalam memperbolehkan suatu perusahaan go private dengan tetap berpedoman pada perlindungan rakyat, yaitu:

2. Bapepam dan bursa harus memastikan bahwa tidak terdapat informasi yang disembunyikan oleh perusahaan. Hal ini dilakukan untuk mencegah insider trading yang akan merugikan masyarakat.

237

3. Janji-janji emiten pada saat IPO, right issue dan offering lain harus di-review

agar tidak kontradiktif dengan proses go private itu sendiri.

4. Prosedur detail termasuk tata cara penilaian saham, penunjukkan agen (wakil)

emiten, jangka waktu pengembalian saham dan lain-lain harus jelas.

5. Mengingat go public merupakan permanent capital formation maka tindakan

go private juga harus diasumsikan sebagai permanent capital deficiency. Dengan demikian apabila telah diputuskan go private dan kemudian ingin go public lagi dalam jangka waktu dekat dan dilakukan oleh pihak yang sama patut diwaspadai dan dapat dianggap sebagai tidakan yang menyesatkan pasar (kriminal).239

239

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari uraian pada bab-bab terdahulu sebagai intisari dari skripsi ini dapat diambil beberapa kesimpulan pokok, antara lain:

1. Prinsip Keterbukaan menurut Undang-Undang Pasar Modal adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten, Perusahaan Publik dan Pihak lain yang tunduk pada Undang-undang ini untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh Informasi Materiil mengenai usahanya atau Efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud dan atau harga dari Efek tersebut. Setiap anggota dari suatu bursa saham wajib melakukan hal ini. Prinsip ini dijabarkan dalam pasal 85-89 Undang-Undang Pasar Modal, di mana setiap anggota suatu pasar modal (bursa efek, lembaga Kliring dan penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek, Penasihat Investasi, Biro Administrasi Efek, Bank Kustodian, Wali Amanat, dan pihak lainnya yang telah memperoleh izin, persetujuan atau pendaftaran dari Bapepam) wajib menyampaikan laporan kepada Bapepam. Di samping itu, emiten juga wajib menyampaikan laporan baik laporan berkala maupun laporan insidentil kepada Bapepam dan mengumumkannya kepada masyarakat. Adapun Prinsip Keterbukaan ini mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk memelihara

kepercayaan publik terhadap pasar, menciptakan mekanisme pasar yang efisien dan mencegah penipuan (fraud).

2. Penghapusan Pencatatan (Delisting) adalah penghapusan Efek dari daftar Efek yang tercatat di Bursa sehingga Efek tersebut tidak dapat diperdagangkan di Bursa. Namun sebelum sebuah efek dapat di-delist

maka efek tersebut harus melalui tahapan pencatatan (listing). Pencatatan (Listing) adalah pencantuman suatu Efek dalam daftar Efek yang tercatat di Bursa sehingga dapat diperdagangkan di Bursa. Tanpa ada pencatatan tidak mungkin ada penghapusan pencatatan. Penghapusan pencatatan ini dapat terjadi karena dua hal yaitu karena dihapus oleh Bursa (forced delisting) dan atas permintaan emiten (voluntary delisting). Delisting

merupakan hal yang sering terjadi khususnya pada akhir tahun 2008 yang lalu. Akibat krisis finansial banyak perusahaan publik merugi dan kemudian mengundurkan diri dari bursa efek. Hal ini tentu merugikan bagi bursa efek dan para investor.

3. Adanya Prinsip Keterbukaan di pasar modal maka setiap pihak diwajibkan untuk terbuka dalam melakukan setiap hal, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan perusahaan. Jadi ketika akan melakukan delisting, emiten juga wajib untuk terbuka kepada masyarakat investor. Keterbukaan ini dimulai dengan pengumuman kepada masyarakat tentang adanya rencana delisting baik oleh emiten maupun oleh bursa. Namun sering terjadi delisting yang mempunyai maksud tersembunyi. Oleh karena itu, penting diperhatikan maksud dari tindakan

delisting tersebut. Yang utama adalah Bapepam maupun Bursa Efek dapat mengawasi dan memeriksa alasan dari tindakan delisting tersebut sehingga merugikan para investor. Namun sangat disayangkan dalam Undang-Undang Pasar Modal belum diatur mengenai delisting dan pengaturan tentang pertanggungjawabannya setelah delisting dari bursa efek. Mengingat bahwa marak terjadi delisting di pasar modal Indonesia. Sehingga dikhawatirkan bahwa akan terjadi konflik di kemudian hari karena tidak adanya perlindungan bagi para investor.

B. Saran

Beberapa saran yang menyangkut masalah keterbukaan emiten dalam melakukan delisting di pasar modal, antara lain:

1. Perlu adanya pengaturan yang lebih baik lagi mengenai tindakan delisting

yang terjadi di pasar modal. Masalah delisting hanya diatur dalam Peraturan Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa. Hal ini menunjukkan bahwa delisting tidak sepenting listing karena hanya diatur dalam bentuk peraturan Bapepam sedangkan masalah listing yang merupakan bagian dari penawaran umum diatur secara lengkap dalam Undang-Undang Pasar Modal. Sebagaimana diketahui bahwa baik listing maupun delisting

merupakan hal yang berkaitan erat dengan berjalannya suatu pasar modal. Jadi disarankan agar adanya pengaturan yang adil.

2. Agar Bapepam dan pihak pengelola Bursa Efek untuk memberikan perlakuan yang sama kepada setiap pihak yang ada dalam pasar modal. Hal ini dikeluhkan oleh saudara Andy Alexander dan Wisnu Wardhana dalam pesannya di adanya akses yang lebih mudah kepada pemain-pemain besar/ brokers

untuk dapat membeli dan menjual dari broker yang berbeda. Seorang investor retail mengeluhkan bahwa para investor besar (bandar) sudah memiliki banyak kelebihan dari pada investor retail semisal fee lebih rendah, informasi lebih cepat, lengkap dan akurat, eksekusi trading yang lebih cepat, dan akses ke informasi internal perusahaan. Kenapa masih ditambahkan dengan keleluasaan seperti pertukaran saham lewat belakang pasar dan peminjaman? Bagaimana investor retail bisa punya kesempatan? Oleh karena itu, diharapkan bahwa baik Bapepam maupun Ketua Bursa Efek memberikan perhatian lebih.

3. Mengingat sudah begitu banyak perubahan terjadi di pasar modal Indonesia dan pasar modal dunia, khususnya dalam rangka menuju era globalisasi perekonomian dan masih kurang lengkapnya pengaturan mengenai beberapa hal dalam undang-undang pasar modal yang berlaku sekarang (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 tentang Pasar Modal) maka perlu dipertimbangkan untuk membuat draft atau rancangan Undang-Undang Pasar Modal yang baru dan mengesahkannya sehingga dapat menjadi payung hukum dalam menegakkan keadilan di bidang pasar modal. Dengan demikian akan tercipta kondisi yang kondusif dan

stabil dalam rangka meningkatkan perekonomian Indonesia di masa yang akan datang.

BAB II

PRINSIP KETERBUKAAN DI PASAR MODAL

A. Pengertian Prinsip Keterbukaan

Hakim Goldberg saat menyampaikan pendapat pengadilan pada kasus

SEC v. Capital Gains Research Bureau, Inc mengutip apa yang pernah diungkapkan oleh Dean Shulman “a picture not simply of the show window, but of the entire story ... not simply truth in the statements volunteered, but disclosure.”37 Ungkapan Shulman tersebut dapat dipahami sebagai penekanan pentingnya keterbukaan dalam transaksi saham dan jika dikaitkan dengan teori keterbukaan dalam transaksi saham yang pernah berkembang, maka pilihan teorinya adalah yang berkaitan dengan standar tinggi dari suatu moralitas bisnis sebagaimana dibutuhkan oleh undang-undang yang mengatur transaksi saham di pasar modal, yaitu untuk melaksanakan keterbukaan secara lengkap dan jujur, seperti yang digariskan dalam teori “sistim kewajiban keterbukaan” (mandatory disclosure system).38 Oleh karena pelaksanaan sistem kewajiban keterbukaan yang umum dan khusus merupakan upaya meminimalisasi risiko dari informasi yang tidak akurat, agar risiko yang dihadapi investor dapat dibatasi sebab risiko itu inherent dalam instrumen investasinya.39

37

SEC v. Capital Gains Bureau, 375 U.S., 201, 1963.

38

375 U.S., 201, 1963.

39

Glen Wallace Roberts II, “10(b) or Not 10(b) : Central Bank of Denver v. First Interstate Bank of Denver,” North Carolina Law Review, (Vol. 73, 1995), hal. 1239.

Pada prinsipnya membeli suatu barang janganlah seperti membeli kucing dalam karung. Tetapi barang yang dibeli haruslah jelas wujudnya. Namun demikian untuk yang namanya tindakan membeli efek maka sektor hukum mensyaratkan unsur keterbukaan lebih dari sekadar yang berlaku untuk membeli barang biasa. Cukup banyak pemikiran telah dicurahkan, dan cukup banyak dan ketat aturan main telah digulirkan hanya untuk menjamin agar unsur transparansi tersebut benar-benar muncul ke permukaan. Begitu pentingnya eksistensi dan kedudukan unsur disclosure dalam hukum pasar modal, sehingga kalau belum bisa menjamin unsur disclosure ini, hukum pasar modal tersebut dianggap masih belum apa-apa. 40

Pengertian Prinsip Keterbukaan di atas sejalan dengan pendapat William H. Beaver. William H. Beaver berpendapat bahwa Prinsip Keterbukaan menjadi persoalan inti di pasar modal dan sekaligus merupakan jiwa pasar modal itu sendiri. Keterbukaan tentang fakta materiel sebagai jiwa pasar modal didasarkan pada keberadaan Prinsip Keterbukaan yang memungkinkan tersedianya bahan pertimbangan bagi investor, sehingga ia merasa rasional dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembelian atau penjualan saham.

Dalam Pasal 1 angka 25 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal disebutkan bahwa Prinsip Keterbukaan adalah pedoman umum yang

Dokumen terkait