BAB III PEMBAHASAN
A. Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Sebagai Pengguna Internet
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Penggunaan klausula baku atau perjanjian baku dalam perjanjian jual beli, memang secara Hukum Perdata diakui sah karena tidak adanya unsur pemaksaan kehendak di dalamnya, yakni jika konsumen menyetujui perjanjian maka ia sudah tahu mengenai segala sesuatu risiko yang akan ditanggungnya. Namun jika ia menolak klausula baku maka para pengusaha tidak akan memaksanya. Artinya, ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam klausula baku itu dibuat hanya oleh salah satu pihak saja yaitu pihak pengusaha. Namun, dalam hal ini tetap diberikan kepada konsumen untuk menentukan pilihannya yakni adanya hak untuk menerima klausula baku tersebut (take it) ataupun menolaknya (leave it). Semua tergantung kepada konsumen. Oleh karena itulah, klausula baku ini lebih dikenal dengan istilah “take it or leave it contract”.
Pada prakteknya, konsumen demi memenuhi kebutuhan hidupnya tidak jarang juga menyetujui klausula baku yang telah terlebih dahulu ditetapkan oleh
72
pengusaha. Melihat kondisi demikian, sering kali pengusaha membuat isi klausula baku itu cenderung lebih menguntungkan dirinya sendiri, sehingga timbullah ketidakseimbangan hak dan kewajiban antara pengusaha dengan konsumen.
Permasalahan ini pula yang pernah terjadi yakni antara PT. Telekomunikasi Indonesia yang merupakan satu-satunya BUMN telekomunikasi serta penyelenggara layanan telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia dengan pelanggan atau konsumennya. Permasalahan timbul ketika pihak konsumen merasa dirugikan dengan klausula baku yang dibuat oleh PT. Telkom dimana dalam layanan internet IndiHome memberikan tiga fasilitas berlangganan disebut Triple Play, yang terdiri dari:116
1. Internet on Fiber atau High Speed Internet yaitu layanan internet berkecepatan tinggi menggunakan Fiber optik dari PT. Telkom Indonesia yang memiliki unggulan lebih cepat dan stabil.
2. UseeTV Cable, yaitu layanan Televisi Interaktif dan personalized berteknologi internet protocol.
3. Dan telepon rumah, yaitu layanan Komunikasi telepon dengan keunggulan biaya yang lebih murah dan kualitas suara yang jernih.
Dalam layanan Triple Play beberapa pelanggan yang ingin berhenti berlangganan dengan alasan paling banyak yaitu mahalnya harga yang akan
116 Product Bundles, https://shop.telkom.co.id/product-bundles diakses pada tanggal 15 Desember 2016
73
dibayar per bulannya, pelanggan ingin beralih ke operator intenet lain. Sering terjadinya gangguan jaringan dengan sistem fiber optik yang sering mati apabila terjadi hujan. Ada juga yang diiming-imingkan paket internet dan TV kabel dengan harga Rp 200.000,- selama 1 tahun. Namun dalam satu bulan tagihan pembayarannya digunakan tarif normal yakni Rp 300.000,- lebih, maka dari itu tidak sesuai dengan promo yang diberitahukan awalnya. 117
Adapun kronologis permasalahan klausula baku PT. Telkom dengan pelanggan internet IndiHome adalah sebagai berikut: Pelanggan yang awalnya tertarik untuk menggunakan layanan internet Indihome ditawarkan dengan fasilitas yang menarik dan menguntungkan yang dapat diperoleh pelanggan apabila bersedia untuk menyetujui kontrak berlangganan yang sudah ditetapkan oleh pihak PT. Telkom. Pelanggan biasanya jarang untuk membaca kontrak tersebut dan langsung menandatangani kontrak karena penempatan klausula baku yang sulit dibaca dan kecil penulisaannya. Setelah pelanggan sepakat untuk menikmati fasilitas internet IndiHome, PT. Telkom akan memberikan pesawat telepon yang baru, modem internet, dan pesawat TV satelit yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pelanggan.
Namun apabila pelanggan ingin berhenti berlangganan layanan IndiHome yang dipasang program TriplePlay (Internet, Telepon, UseeTV) maka secara
117Beberapa Alasan Berhenti Menggunakan Layanan IndiHome TriplePlay,
http://m/okezone.com/read/2016/06/27/207/1426698/alasan-pelanggan-berhenti-telkom-indihome, diakses tanggal 14 Januari 2017.
74
otomatis layanan TriplePlay tersebut akan dicabut. Sesuai dalam kontrak berlangganan layanan IndiHome Pasal 2 butir 2.1.9 tentang Kewajiban Pelanggan berbunyi,
“Menyerahkan perangkat CPE milik TELKOM yang terinstal di alamat pelanggan untuk layanan IndiHome, apabila pelanggan berhenti berlangganan layanan IndiHome”.
Dilihat dari pasal tersebut, PT. Telkom tidak memenuhi hak pelanggan untuk mendapatkan informasi yang jelas sesuai yang tertulis di kontrak berlangganan layanan IndiHome. Sehingga isi pasal tersebut tidak menegaskan bahwa berhenti berlangganan layanan TriplePlay beserta nomor telepon harus diserahkan kembali kepada pihak Telkom. Sebagaimana sudah dijelaskan bahwa pelanggan menyerahkan perangkat CPE apabila ingin berhenti langganan
IndiHome. Perangkat CPE (Customer Premises Equipment) itu sendiri merupakan
terminal dan terkait peralatan yang terletak pada lokasi pelanggan yang terhubung ke jaringan telekomunikasi operator. Contohnya pesawat telepon atau ADSL
modem.118 Yang membuktikan bahwa nomor telepon bukan termasuk dalam
perangkat CPE. Tetapi dalam prakteknya, Pihak Telkom mengambil seluruh perangkat CPE yang sudah terinstal dalam program TriplePlay serta mencabut nomor telepon pelanggan yang terdaftar. Padahal nomor telepon tersebut bukan
118 Pengertian CPE,
75
merupakan bagian dari perangkat CPE. Hal inilah yang dianggap merugikan konsumen atas klausula baku yang dibuat yang tidak memenuhi hak pelanggan untuk mendapatkan informasi yang jelas sesuai yang tertulis di kontrak berlangganan layanan IndiHome yaitu Pasal 2.2 butir 2.2.3 tentang Hak pelanggan:
“Mendapatkan informasi mengenai spesifikasi teknis, sifat-sifat dan karakteristik umum layanan IndiHome yang disediakan PT. Telkom.”
PT. Telkom sendiri tidak pernah memberitahukan dalam iklannya atau dalam promosinya bahwa nomor telepon juga harus diserahkan kembali kepada pihak PT. Telkom. Padahal nomor telepon tersebut bukan merupakan bagian dari layanan Triple Play. Yang mengalami kerugian akan hal tersebut yaitu koorperasi, industri rumah tangga, toko online, warnet, dan sebagainya.
Berdasarkan kondisi yang tidak seimbang ini, perlindungan hukum yang diberikan untuk konsumen berdasarkan sifatnya yaitu:
1. Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban. Misalnya, UU No. 8
76
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang membatasi hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha dalam PT. Telkom khususnya layanan internet TriplePlay.
2. Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran. Yaitu dengan penyelesaian di Pengadilan Negeri (PN) atau di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
Pemerintah juga memberikan perlindungan kepada konsumen dari tindakan sewenang-wenang dari pelaku usaha terkait pemakaian klausula baku dalam setiap perjanjian jual beli.35 Dalam hal ini, pemerintah mengatur mengenai ketentuan apa saja yang boleh dimasukkan ke dalam klausula baku dan hal yang dilarang untuk dicantumkan, dengan tujuan agar konsumen tidak dirugikan. Pengaturan mengenai klausula baku tersebut diatur dalam Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1988, yang menyatakan sebagai berikut:119
119 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
77
(1) Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk perdagangan dilarang membuat dan/atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila :
a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha
b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak menyerahkan kembali barang yang dibeli konsumen
c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen
d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik scara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran
e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang dan pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen
f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi
objek jual beli jasa
g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa atauran baru, tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya
78
h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran. (2) Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak dan bentuknya
sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau yang mengungkapkannya sulit dimengerti.
(3) Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum.
(4) Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan undang-undang ini.
Berkaitan dengan pasal 18, pemerintah melindungi konsumen dengan memberikan pengaturan terbatas pada penyusunan perjanjian baku pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yakni dilarang adanya suatu bentuk peralihan tanggung jawab dari pelaku usaha dalam memproduksi barang dapat dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh konsumen.
Menyangkut hal ini terdapat dalam perjanjian baku kontrak berlangganan layanan IndiHome oleh PT. Telkom dalam Pasal 4 tentang Pembatasan Tanggung Jawab Telkom yang menjelaskan bahwa: Telkom dibebaskan dari tanggung jawab atas pembayaran kompensasi atau kerugian yang telah ditanggung oleh pelanggan,
79
baik kerugian langsung ataupun tidak langsung sebagai akibat dari berfungsinya sambungan layanan IndiHome, karena:
1. Kerusakan/ganguan layanan IndiHome akibat kesalahan pelanggan; 2. Perubahan jaringan akses, perubahan nama atau jaringan
telekomunikasi PT. Telkom;
3. Kegagalan interkoneksi jaringan layanan IndiHome dengan penyelenggara telekomunikasi lain;
4. Kesalahan tagihan akibat dari akses/pemakaian jasa layanan IndiHome yang disediakan oleh penyelengara jasa telekomunikasi lain diluar PT. Telkom;
5. Kerusakan akibat peristiwa/kejadian diluar batas kendali normal PT. Telkom (force majeur).
Dilihat dari apa yang terkandung dalam kontrak berlangganan layanan
IndiHome ini pihak PT. Telkom telah melakukan pengalihan tanggung jawab dari
pelaku usaha dalam memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh konsumen. Padahal seharusnya PT. Telkom bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, perubahan jaringan akses internet, kegagalan interkoneksi jaringan internet, kesalahan tagihan, dan kerusakan akibat peristiwa diluar batas kendali tersebut karena bukanlah sepenuhnya kesalahan pada pihak konsumennya yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 18 ayat 1 (a) UUPK.
80
Undang-undang Perlindungan Konsumen juga mengatur bahwa pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku d itempat yang tersembunyi, ditulis dengan huruf kecil yang tidak keliatan dengan jelas sehingga sulit untuk dipahami oleh masyarakat. Terhadap klausula baku yang memuat Pasal 18 ayat (1) dan (2) ini dinyatakan batal demi hukum. Namun dalam kenyataannya salah satu pelaku usaha yaitu dalam formulir berlangganan layanan IndiHome menempatkan perjanjian baku di balik lembaran formulirnya yang dicetak tidak terang warnanya serta penulisan yang sangat kecil sehingga tidak dapat dibaca dengan jelas oleh konsumen.
Dengan demikian, tampaklah peranan pemerintah untuk melindungi konsumen terhadap penggunaan klausula baku yang telah terlebih dahulu ditetapkan oleh pelaku usaha dengan memberikan batasan-batasan tertentu yang tidak menghilangkan hak dari konsumen, sehingga terdapatnya keseimbangan hak dan kewajiban antara pelaku usaha dan konsumen. Jika, terhadap konsumen yang merasa dirugikan oleh pelaku usaha baik yang berkaitan dengan klausula baku yang menjebak konsumen ataupun hal-hal lain yang merugikan hak dan kepentingan konsumen, maka konsumen dapat mengajukan gugatan dan menuntut pelaku usaha sesuai dengan hukum yang berlaku.120
120 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. “Hukum Tentang Perlindungan Konsumen”. Jakarta. Gramedia Pustaka, 2001. Hlm.51.
81
Adapun peran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada konsumen ada dua cara, yaitu :121
1. Pembinaan
Peranan pemerintah dalam melindungi konsumen dilakukan melalui pembinaan diatur dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 29 ayat (1) yang menyatakan bahwa,
“Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha”.
Pembinaan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha, dan memastikan agar setiap pelaku usaha dan konsumen melakukan apa yang menjadi kewajibannya.122 Agar terdapatnya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika hal ini telah tercipta, maka akan mengurangi terjadinya sengketa konsumen. Tugas pembinaan dalam rangka memberikan perlindungan konsumen dilakukan oleh menteri atau menteri teknis terkait.
Fungsi pasal ini berkaitan dengan masalah skripsi yang penulis angkat yaitu adanya pembinaan dari pemerintah terhadap PT. Telkom untuk
121 Happy Susanto., Hak-hak Konsumen Jika Dirugikan, Visimedia, Jakarta 2008, hal 63.
82
memberitahukan informasi, kelebihan atau kekurangan yang bersangkutan dengan produk yang diperdagangkan secara jelas kepada konsumennya sehingga konsumen tidak merasa dirugikan nantinya apabila mereka setuju untuk melakukan perjanjian terhadap PT. Telkom yaitu layanan IndiHome sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Beberapa tugas pemerintah dalam melakukan pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen, yaitu sebagai berikut :
(1). Menciptakan iklim usaha dan hubungan yang sehat antara pelaku usaha dan
konsumen, yang terdapat dalam Pasal 4 PP No. 5 Tahun 2001, yaitu :
a) Menyusun kebijakan di bidang perlindungan konsumen
b) Memasyarakatkan peraturan perundang-undangan dan informasi yang berkaitan dengan perlindungan konsumen
c) Meningkatkan peran BPKN dan BPSK melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan lembaga
d) Meningkatkan pemberdayaan konsumen melalui pendidikan, pelatihan dan keterampilan
e) Meneliti terhadap barang dan/atau jasa beredar yang menyangkut perlindungan konsumen
83
f) Meningkatkan kualitas barang dan jasa
g) Meningkatkan kesadaran sikap jujur dan tanggung jawab pelaku usaha dalam memproduksi, menawarkan, mempromosikan, mengiklankan, dan menjual barang dan/atau jasa
h) Meningkatkan pemberdayaan usaha kecil dan menengah dalam memenuhi standar mutu barang dan/atau jasa serta pencantuman label dan klausula baku.
(2). Berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya mayarakat yang
pengaturannya terdapat dalam Pasal 5, yaitu:
a) Memasyarakatkan peraturan perundang-undangan dan informasi yang berkaitan dengan perlindungan konsumen
b) Melakukan pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia pengelola LPKSM melalui pendidikan, pelatihan, dan keterampilan c) Meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang
perlindungan konsumen yang dimaksudkan untuk meningkatkan sumber daya manusia.
84
2. Pengawasan
Upaya perlindungan yang dilakukan pemerintah dalam pengawasan diatur dalam UU Perlindungan Konsumen Pasal 30 ayat (1) yaitu,
“Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan
konsumen serta penerapan ketentuan peraturan
Perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat”.
Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen dilakukan secara bersama oleh pemerintah, masyarakat, dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM). Hal ini dikarenakan banyaknya ragam dan jenis barang dan/atau jasa yang beredar di pasaran.
a) Pengawasan oleh pemerintah
Tugas pengawasan pemerintah dilakukan oleh menteri atau menteri teknis terkait. Bentuk pengawasan oleh pemerintah diatur dalam PP No.8 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Perlindungan Konsumen pada Pasal 8, yaitu pengawasan terhadap pelaku usaha dalam memenuhi standar mutu produksi barang dan/atau jasa, pencantuman label, klausula baku, promosi, periklanan, serta pelayanan purnajual barang dan/atau jasa. Pengawasan dilakukan dalam bentuk mengawasi proses produksi, penawaran, promosi, dan penjualan barang dan/atau jasa.
85
b) Pengawasan oleh Masyarakat
Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat ini diatur dalam Pasal 9 Peraturan Pemerintah ini, yaitu masyarakat dapat mengawasi barang dan/atau jasa yang beredar di pasaran yang dilakukan melalui cara penelitian, pengujian, atau survei. Aspek pengawasan meliputi pengumpulan informasi tentang risiko penggunaan barang dan/atau jasa, serta pengiklanan yang berlebihan. Hasil dari pengawasan ini dapat diberitahukan kepada masyarakat luas dan dapat disampaikan kepada menteri terkait.
c) Pengawasan oleh LPKSM
Bentuk pengawasan yang dilakukan LPKSM sama dengan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat. Adapun tambahan lain adalah survei yang dilakukan oleh LPKSM mengenai barang dan/atau jasa yang diduga tidak memenuhi unsur keamanan, kesehatan dan kenyamanan, dan keselamatan konsumen. Survei dapat dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat baik perorangan atau kelompok.
86
B. Hak Informasi Dalam Kontrak Berlangganan Layanan IndiHome