• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen

3. Pihak-pihak Dalam Hukum Perlindungan Konsumen

huruf d UUPK mengenai sistem perlindungan hukum juga belum terlaksanakan. Sampai saat ini sistem perlindungan di Indonesia belum juga terbentuk, sedangkan hal tersebut merupakan kewenangan dari pemerintah selaku pembina, pengawas serta pelaksana Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia.53

3. Pihak-Pihak Dalam Hukum Perlindungan Konsumen

a. Konsumen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia54 Konsumen adalah : (1) pemakai barang hasil produksi (bahan pakaian, makanan, dsb): kepentingan Konsumenpun harus diperhatikan; (2) penerima pesan iklan; (3) pemakai jasa (pelanggan dsb).

Sedangkan menurut Peraturan Perundang-undangan yaitu Pasal 1 angka 2 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, “konsumen” adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.55

53 Az Nasution, op.cit., hlm. 9.

54 Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, Konsumen, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2015, hlm 630.

55 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

31

Menurut Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo56, cakupan “konsumen” dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen adalah sempit. Bahwa yang dapat dikualifikasi sebagai “konsumen” sesungguhnya tidak hanya terbatas pada subjek hukum yang disebut “orang”, akan tetapi masih ada subjek hukum lain yang juga sebagai konsumen akhir yaitu “badan hukum” yang mengonsumsi barang dan/atau jasa serta tidak untuk diperdagangkan.

Oleh karena itu lebih tepat bila dalam pasal ini ditentukan “setiap pihak yang memperoleh barang dan/atau jasa” yang dengan sendirinya tercakup orang dan badan hukum, atau paling tidak ditentukan dalam penjelasan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Terkait dengan Pasal 45 Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang mengatur tentang gugatan ganti kerugian dari konsumen kepada pelaku usaha, maka keluarga, orang lain dan makhluk hidup lain, tidak dapat menuntut ganti kerugian karena mereka tidak termasuk konsumen, tetapi kerugian yang dialaminya dapat menjadi alasan untuk mengadakan tuntutan ganti kerugian.

Selain itu, perlu juga dikemukakan dalam pengertian konsumen tentang “tidak untuk diperdagangkan” yang menunjukan sebagai konsumen akhir sehingga membedakan dengan konsumen antara, yang mana

32

konsumen antara tidak dapat menuntut pelaku usaha berdasarkan undang-undang ini.57

b. Pelaku Usaha

Definisi formal “pelaku usaha” dalam peraturan perundang-undangan Indonesia diatur di dalam Pasal 1 angka 3 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu “pelaku usaha” adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.58

Dari definisi “pelaku usaha” tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa “pelaku usaha” bisa berupa orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum seperti PT dan Koperasi maupun yang bukan badan hukum seperti Persekutuan Perdata, Firma dan Persekutuan Komanditer.

57 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo. Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: Rajawali Pers, 2010, hlm 4-5.

58 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

33

Kemudian kegiatan usaha dari pelaku usaha menurut Abdulkadir Muhammad59 adalah berbagai jenis usaha di bidang perekonomian, yang meliputi bidang perindustrian, perdagangan, perjasaan, dan keuangan (pembiayaan).

c. Hak dan Kewajiban Konsumen dan Pelaku Usaha

Hak konsumen sebagaimana pertama kali dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy di depan kongres pada tanggal 15 Maret 1962, yaitu terdiri atas hak memperoleh keamanan, hak memilih, hak mendapat informasi, hak untuk didengar.60

1) Hak Konsumen

Secara keseluruhan pada dasarnya dikenal 10 macam hak konsumen, yaitu sebagai berikut :61

a) Hak atas keamanan dan keselamatan

Hak atas keamanan dan keselatamatan ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang dan jasa yang diperolehnya,

59 Abdulkadir Muhammad. 2010. Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung : Citra Aditya Bakti.hlm.2.

60 Hondius, Konsumentenrecht, Praeadvis in Nederlanse Vereniging voor Rechterlijking, Kluwer-Deventer,1972, hlm.14,26,131 dst. Dikutip dari : Mariam Darus Badrulzaman, “Perlindungan Terhadap Konsumen Dilihat dari Sudut Perjanjian Baku” , dimuat dalam hasil Simposium Aspek Aspek hukum masalah Perlindungan Konsumen yang diselenggarakan oleh BPHN, Bina Cipta, Jakarta,1986,hlm.61. Lihat juga C.Tantri D dan Sulastri, Gerakan Organisasi

Konsumen, Seri Panduan Konsumen, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia – The Asia

Foundation, Jakarta, 1995, hlm.19-21.

34

sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian (fisik maupun psikis) apabila mengonsumsi suatu produk.

b) Hak untuk memperoleh informasi

Hak atas informasi ini sangat penting, karena tidak memadainya informasi yang disampaikan kepada konsumen ini dapat juga merupakan salah satu bentuk cacat produk, yaitu yang dikenal dengan cacat instruksi atau cacat karena informasi yang tidak memadai. Hak atas informasi yang jelas dan benar dimaksudkan agar konsumen dapat memperolah gambaran yang benar tentang suatu produk yang diinginkan/sesuai kebutuhannya serta terhindar dari kerugian akibat kesalahan dalam penggunaan produk. c) Hak untuk memilih

Hak untuk memilih dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk-produk tertentu sesuai dengan kebutuhannya, tanpa ada tekanan dari pihak luar. Berdasarkan hak untuk memilih ini konsumen berhak memutuskan untuk membeli atau tidak terhadap suatu produk, demikian pula keputusan untuk memilih baik kualitas maupun kuantitas jenis produk yang dipilihnya. d) Hak untuk didengar

35

Hak untuk didengar ini merupakan hak dari konsumen agar tidak dirugikan lebih lanjut, atau hak untuk menghindarkan diri dari kerugian. Hak ini dapat berupa pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila informasi yang diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, ataukah berupa pengaduan atas adanya kerugian yang telah dialami akibat penggunaan suatu produk, atau yang berupa pernyataan/pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen.

e) Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup

Hak ini merupakan hak yang sangat mendasar, karena menyangkut hak untuk hidup. Dengan demikian, setiap konsumen berhak untuk memperoleh kebutuhan dasar (barang atau jasa) untuk mempertahankan hidupnya secara layak. Hak-hak ini terutama yang berupa hak atas pangan, sandang, papan, serta hak hak lainnya yang berupa hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, dan lain lain.

f) Hak untuk memperoleh ganti kerugian

Hak atas ganti kerugian ini dimaksudkan untuk memulihkan keadaan yang telah menjadi rusak akibat adanya

36

penggunaan barang atau jasa yang tidak memenuhi harapan konsumen. Hak ini sangat terkait dengan penggunaan produk yang telah merugikan konsumen, baik yang berupa kerugian materi, maupun kerugian yang menyangkut diri (sakit,cacat bahkan kematian) konsumen. Untuk merealisasikan hak ini tentu saja harus melalui proosedur tertentu , baik yang diselesaikan secara damai (di luar pengadilan) maupun yang diselesaikan melalui pengadilan. g) Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen.

Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen ini dimaksudkan agar konsumen memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan agar dapat terhindar dari kerugian akibat penggunaan produk, karena dengan pendidikan konsumen tersebut, konsumen akan dapat menjadi lebih kritis dan teliti dalam memilih suatu produk yang dibutuhkan.

h) Hak memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Hak atas lingkungan yang bersih dan sehat ini sangat penting bagi setiap konsumen dan lingkungan. Hak untuk memperoleh lingkungan bersih dan sehat serta hak untuk memperoleh informasi tentang lingkungan ini diatur dalam

37

Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

i) Hak untuk mendapatkan barang sesuai dengan nilai tukar yang diberikannya.

Hak ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari kerugian akibat permainan harga secara tidak wajar. Karena dalam keadaan tertentu konsumen dapat saja membayar harga suatu barang yang jauh lebih tinggi daripada kegunaan atau kualitas dan kuantitas barang atau jasa yang diperolehnya.

j) Hak untuk mendapatkan upaya penyelesaian hukum yang patut. Hak ini tentu saja dimaksudkan untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah dirugikan akibat penggunaan produk, dengan melalui jalur hukum.

Sementara menurut Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, dari sembilan butir Hak Konsumen yang diberikan di atas, terlihat bahwa masalah kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen merupakan hal yang paling pokok dan utama dalam perlindungan konsumen.62 Pendapat tersebut senada dengan Pendapat Janus Sidabalok, setiap produk, baik dari segi komposisi bahannya, dari segi desain dan konstruksi, maupun dari segi

62 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. 2000. Hukum tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. hlm.29-30.

38

kualitasnya harus diarahkan untuk mempertinggi rasa kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.63

Sedangkan Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tentang Hak-hak konsumen adalah sebagai berikut :64

a) hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

b) hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c) hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d) hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e) hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; f) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; g) hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur

serta tidak diskriminatif;

h) hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima

63 Janus Sidabalok. Hukum Perlindungan Konsumen Op.Cit., hlm.40.

64 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

39

tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i) hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

2) Kewajiban Konsumen

Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tentang Kewajiban konsumen. Kewajiban konsumen adalah:65

a) membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;

b) beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c) membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;

d) mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa

perlindungan konsumen secara patut.

Menurut Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo 66, kewajiban konsumen membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan

65 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

40

prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan, merupakan hal penting mendapat pengaturan.

Adapun pentingnya kewajiban ini karena sering pelaku usaha telah menyampaikan peringatan secara jelas pada label suatu produk, namun konsumen tidak membaca peringatan yang telah disampaikan kepadanya. Dengan pengaturan ini, memberikan konsekuensi pelaku usaha tidak bertanggung jawab, jika yang bersangkutan menderita kerugian akibat mengabaikan kewajiban tersebut.67

Kewajiban lain yang perlu mendapat penjelasan lebih lanjut adalah kewajiban konsumen mengikuti upaya penyelesaiaan hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. Kewajiban ini dianggap sebagai hal baru, sebab sebelum diundangkannya UU Perlindungan Konsumen hampir tidak dirasakan adanya kewajiban secara khusus seperti ini dalam perkara perdata.68

66 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo. Op.Cit., hlm.47-49..

67 Ibid.

41

3) Hak Pelaku Usaha

Pasal 6 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tentang hak pelaku usaha adalah sebagai berikut :69

a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;

c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;

d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

e. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Hak Pelaku usaha untuk menerima pembayaran sesuai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan, menunjukkan bahwa pelaku usaha tidak dapat menuntut lebih

69 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

42

banyak jika kondisi barang dan/atau jasa yang diberikannya kepada konsumen tidak atau kurang memadai menurut harga yang berlaku pada umumnya atas barang dan/atau jasa yang sama. Dalam praktek yang biasa terjadi, suatu barang dan/atau jasa yang kualitasnya lebih rendah daripada barang yang serupa, maka para pihak menyepakati harga yang lebih murah. Dengan demikian yang dipentingkan dalam hal ini adalah harga yang wajar.70

Janus Sidabalok berpendapat bahwa pokok-pokok hak dari

pelaku usaha adalah menerima pembayaran, mendapat

perlindungan hukum, melakukan pembelaan diri, rehabilitasi nama baik, dan hak-hak lainnya menurut undang-undang.71

Menyangkut hak pelaku usaha yang tersebut pada huruf b, c, d sesungguhnya merupakan hak-hak yang lebih banyak berhubungan dengan pihak aparat pemerintah dan/atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen/Pengadilan dalam tugasnya melakukan penyelesaian sengketa. Melalui hak-hak tersebut diharapkan perlindungan konsumen secara berlebihan hingga mengabaikan kepentingan pelaku usaha dapat dihindari. Satu-satunya yang berhubungan dengan kewajiban konsumen atas hak-hak pelaku usaha yang disebutkan pada huruf b, c, d tersebut

70 Ibid., hlm.50-51,

43

adalah kewajiban konsumen mengikuti upaya penyelesaian sengketa sebagaimana diuraikan sebelumnya.72

4) Kewajiban Pelaku Usaha

Pasal 7 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. Kewajiban pelaku usaha adalah:73

a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya; b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur

mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta

72 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo. Loc.Cit.

73 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

44

memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;

f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan

pemanfaatan barang dan/atau jasa yang

diperdagangkan;

g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Menurut Janus Sidabalok74, jika dibandingkan dengan hak dan kewajiban konsumen sebagaiamana diatur di dalam Pasal 4 dan Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, tampak bahwa hak dan kewajiban pelaku usaha bertimbal balik dengan hak dan kewajiban konsumen.

Menurut Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo75, kewajiban pelaku usaha beritikad baik dalam melakukan kegiatan usaha merupakan salah satu asas yang dikenal dalam hukum perjanjian. Ketentuan tentang itikad baik ini diatur dalam Pasal 1338 ayat 3

74 Janus Sidabalok. Op.Cit., hlm.96.

45

KUHPerdata bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.

Kewajiban kedua pelaku usaha yaitu memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan, disebabkan karena informasi di samping merupakan hak konsumen, juga karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi), yang akan sangat merugikan konsumen.76

5) Tanggung Jawab Pelaku Usaha

Pengaturan tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha diatur di dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagai berikut :77

a) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.

76 Ibid., hlm.54.

77 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

46

b) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi.

d) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.

e) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.

Menurut Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo78,

memperhatikan substansi Pasal 19 ayat 1 dapat diketahui bahwa tanggung jawab pelaku usaha, meliputi :

a) Tanggung jawab ganti rugi atas kerusakan;

47

b) Tanggung jawab ganti kerugian atas pencemaran;dan c) Tanggung jawab ganti kerugian atas kerugian konsumen.

Kelemahan yang juga sulit diterima karena sangat merugikan konsumen yaitu ketentuan Pasal 19 ayat 3 yang menentukan bahwa pemberian ganti kerugian dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah transaksi. Apabila ketentuan ini dipertahankan, maka konsumen yang mengonsumsi barang di hari yang kedelapan setelah transaksi tidak akan mendapatkan penggantian kerugian dari pelaku usaha, walaupun secara nyata konsumen yang bersangkutan telah menderita kerugian. Oleh karena itu, agar Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini dapat memberikan perlindungan yang maksimal tanpa mengabaikan kepentingan pelaku usaha, maka seharusnya Pasal 19 ayat 3 menentukan bahwa tenggang waktu pemberian ganti kerugian kepada konsumen adalah 7 (tujuh) hari setelah terjadinya kerugian, dan bukan 7 (tujuh) hari setelah transaksi seperti rumusan yang ada sekarang.79

Namun demikian, dengan memperhatikan Pasal 19 ayat 5 UU Perlindungan Konsumen maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

79 Ibid

48

apabila kesalahan ada pada konsumen, maka pelaku usaha dibebaskan dari kewajiban tersebut. 80

1. Doktrin Perlindungan Konsumen. a. Doktrin Caveat Emptor

Istilah caveat emptor berasal dari bahasa Latin yang berarti pembeli harus waspada dalam membeli barang. Jika pembeli tidak berhati hati dalam pembeliannya, ia akan bertanggung jawab sendiri dan

memikul seluruh risiko atas pembelian yang

merugikannya.81

Tanggung jawab pelaku usaha terus dikembangkan dengan standar yang cukup keras, ketika ditetapkan tiga perilaku produsen yang dikategorikan sebagai kejahatan yaitu kelalaian dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, tidak mengungkap cacat tersembunyi dari suatu barang yang dijual dan penjual produk yang tidak memenuhi standar sesuai yang diperjanjikan.

Pelaku usaha juga harus dapat

mempertanggungjawabkan barang-barang yang menderita cacat tersembunyi yang jelas merugikan konsumen.

80 Janus Sidabalok. Hukum Perlindungan Konsumen. Op.Cit., hlm.96

81 Iman Sjahputra. Perlindungan Konsumen dalam Transasksi Elektronik. Bandung : Alumni. hlm.47

49

Perluasan tanggung jawab hukum ini telah mendorong turunnya skala kerugian aktual yang dialami konsumen.

Pada tahun 1921, Roscoe Pound mengatakan bahwa tanggung jawab (liability) produsen adalah : (1) kewajiban memenuhi tuntutan konsumen yang mengalami kerugian; (2) pengejawantahan kewajiban itu harus dilaksanakan secara formal.82

b. Doktrin Caveat Venditor sebagai Antitesa Caveat Emptor. Doktrin ini menghendaki agar produsen, dalam memproduksi dan memasarkan produknya, berhati-hati dan mengindahkan kepentingan masyarakat luas.83 Doktrin caveat venditor menuntut produsen untuk memberikan informasi yang cukup kepada konsumen tentang produk yang bersangkutan. Apabila hal itu tidak dilakukan maka produsen wajib bertanggung jawab atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh produknya.

Unsur-unsur pokok prinsip tanggung jawab produsen dan pelaku usaha tercermin dalam doktrin caveat

venditor sebagai antitesa caveat emptor. Pengejawantahan

82 Roscoe Pound, An Introduction the Philosophy of Law, Yale University Press, hlm.76.

83 http://kuliahonline.unikom.ac.id/?listmateri/&detail=2946&file=/Doktrin-Caveat-Venditor.html diakses pada tanggal 25 Desember 2016 jam 10.00.

50

doktrin caveat venditor dan meningkatnya kesadaran hukum untuk melindungi konsumen menyebabkan Pemerintah dan DPR menerbitkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.84

Oleh karena itulah kemudian berkembang doktrin

Caveat Venditor (let the producer aware) yang berarti

bahwa produsen harus berhati-hati. Doktrin ini menghendaki agar produsen, dalam memproduksi dan memasarkan produknya, berhati-hati dan mengindahkan kepentingan masyarakat luas.

Dokumen terkait