• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III FUNGSI DAN PERANAN PENDAFTARAN TANAH

A. Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Sertipikat Hak

perlindungan hukum terhadap pemegang sertipikat hak atas tanah yang berkepastian hukum, bermanfaat, dan berkeadilan dengan cara merespon kebutuhan serta keinginan pemegang hak atas tanah dalam kehidupan masyarakat bangsa secara transparan, tanpa tipu daya, intimidasi atau diskriminasi, sesuai Pasal 26 Kovenan International “ Semua orang adalah sama dihadapan hukum dan atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi apapun”.

Hukum Pertanahan Indonesia menginginkaan kepastian siapa pemegang hak milik atau hak-hak lain atas sebidang tanah. Di dalam realitasnya, pemegang sertipikat atas tanah belum merasa aman akan kepastian haknya, bahkan sikap keragu-raguan yang seringkali muncul dengan banyaknya gugatan yang menuntut pembatalan sertipikat tanah melalui pengadilan.

Sertipikat tanah sebagai produk pendaftaran yang memenuhi aturan hukum normatif, belum menjamin kepastian hukum dari sudut pandang sosiologi hukum. Yang dimaksud kepastian hukum dari sudut pandang sosiologi hukum itu adalah realitas sosial yang terjadi di masyarakat.76

Dengan memperhatikan kemampuan pemerintah, maka pelaksanaan pendaftaran tanah dilakukan secara bertahap. Sebagai langkah awal dilakukan pengukuran desa demi desa untuk memenuhi ketersediaan Peta Dasar Pendaftaran Tanah yang memuat titik-titik dasar teknik dan unsur-unsur geografis serta batas fisik bidang-bidang tanah. Pada wilayah yang belum dilakukan secara sistematik, peta dasar pendaftaran tanah sangat diperlukan untuk mengidentifikasi dan menetapkan letak tanah yang akan didaftarkan secara sporadik, dan selanjutnya menjadi dasar untuk pembuatan peta pendaftaran.

Di dalam PP Nomor 10 Tahun 1961 ditentukan bahwa pekerjaan pendaftaran yang meliputi pengukuran dan pemetaannya, termasuk juga pendaftaran hak-hak atas tanah harus dilakukan pengukuran desa demi desa di daerah-daerah yang ditunjuk Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Sehubungan dengan pemberian mengenai kepastian hukum hak-hak atas tanah, baik mengenai subyek maupun obyeknya, maka pemerintah mengharuskan dilakukan pengumuman mengenai hak-hak atas tanah, yang meliputi :77

1. Pengumuman mengenai subyek yang menjadi pemegang hak yang dikenal dengan sebagai asas publisitas dengan maksud agar masyarakat luas dapat mengetahui tentang subyek dan obyek atas satu bidang tanah. Adapun implementasi dari asas publisitas ini adalah dengan mengadakan pendaftaran tanah.

2. Penetapan mengenai letak, batas-batas, dan luas bidang-bidang tanah yang dipunyai seseorang atas sesuatu hak atas tanah, dikenal sebagai asas spesialitas dan implementasinya adalah dengan mengadakan Kadaster.

Dengan demikian, maka seseorang yang hendak membeli suatu hak atas tanah tidak perlu melakukan penyelidikan sendiri, karena keterangan mengenai subyek dan obyek atas suatu bidang tanah dapat diperoleh dengan mudah pada instansi pemerintah yang ditugaskan menyelenggarakan Pendaftaran Tanah.

Pelaksanaan pendaftaran tanah sebagaimana yang diatur oleh PP Nomor 10 Tahun 1961 belum berjalan efektif, hal ini selain sasaran utamanya daerah yang diutamakan adalah daerah-daerah perkotaan, juga menyangkut tata cara administrasi dan biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat pemegang hak atas tanah sangatlah berat dirasakan oleh masyarakat pemegang hak atas tanah serta sosialisasi terhadap pelaksanaan PP Nomor 10 Tahun 1961 ini sendiri belum maksimal. Dengan kondisi tersebut maka tujuan pendaftaran tanah belum tercapai.

Pembangunan nasional sangat memerlukan dukungan jaminan kepastian hukum di bidang pendaftaran tanah dan oleh karena PP Nomor 10 Tahun 1961 dipandang tidak lagi sepenuhnya mendukung tercapainya hasil yang lebih nyata pada pembangunan nasional sehingga perlu dilakukan penyempurnaan, dengan menimbang hal-hal tersebut, maka pemerintah memandang perlu membuat suatu aturan yang lengkap mengenai pendaftaran tanah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk adanya jaminan kepastian hukum dan akhirnya pada tanggal 8 Juli 1997, Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 24 Tahun 1997, dengan berlakunya

PP Nomor 24 Tahun 1997 tidak serta menghapuskan keberlakuan PP Nomor 10 Tahun 1961, akan tetapi PP Nomor 10 Tahun 1961 tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan atau diubah atau diganti dengan PP Nomor 24 Tahun 1997.

Obyek pendaftaran tanah bila dikaitkan dengan sistem pendaftaran tanah maka menggunakan sistem pendaftaran tanah bukan pendaftaran akta, karena sistem pendaftaran tanah ditandai atau dibuktikan dengan adanya dokumen Buku Tanah sebagai dokumen yang memuat data yuridis dan data fisik yang dihimpun dan disajikan serta diterbitkannya sertipikat sebagai surat tanda bukti hak yang sudah didaftar, sedangkan pendaftaran akta yang didaftar bukan haknya melainkan justru aktanya yang didaftar, yaitu dokumen-dokumen yang membuktikan yang diciptakannya hak yang bersangkutan dan dilakukannnya perbuatan-perbuatan hukum mengenai hak tersebut.

Di dalam pelaksanaan administrasi pertanahan, data pendaftaran tanah yang tercatat di Kantor Pertanahan harus selalu sesuai dengan keadaan atau status sebenarnya mengenai bidang tanah yang bersangkutan, baik yang menyangkut data fisik mengenai bidang tanah tersebut ataupun data yuridisnya. Penerbitan sertipikat hak atas tanah digunakan untuk pegangan kepada pemiliknya akan bukti-bukti haknya yang tertulis, kecuali masih ada catatan pada buku tanah maka sertipikat tidak dapat diterbitkan78.

Memiliki sertipikat, maka kepastian hukum berkenaan dengan jenis hak atas tanahnya, subyek hak dan obyek haknya menjadi nyata selain hal tersebut sertipikat memberikan berbagai manfaat, misalnya mengurangi kemungkinan sengketa dengan pihak lain, serta memperkuat posisi tawar menawar apabila hak atas tanah yang telah

78http://www.scribd.com/doc/51632324/sertifikat-hak-atas-tanah-sebagaitanda-bukti-

bersertipikat diperlukan pihak lain untuk kepentingan pembangunan apabila dibandingkan dengan tanah yang belum bersertipikat serta mempersingkat proses peralihan serta pembebanan hak atas tanah. Bagi pemegang hak atas tanah, memiliki sertipikat mempunyai nilai lebih yaitu akan memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum sebab dibandingkan dengan alat bukti tertulis lainnya, sertipikat merupakan tanda bukti hak yang kuat, artinya pemegang hak atas tanah yang namanya tercantum dalam sertipikat harus dianggap sebagai benar sampai dibuktikan sebaliknya di Pengadilan dengan alat bukti lain.

Selain hal tersebut di atas, maka sehubungan dengan fungsi sosial hak atas tanah sebagaimana diatur di dalam Pasal 6 UUPA, maka pemegang sertipikat akan melepaskan haknya apabila tanahnya akan digunakan untuk kepentingan umum dengan pembayaran ganti rugi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal ini menunjukan bahwa pemegang sertipikat diberikan perlindungan dan juga dihargai sebagai pihak yang mempunyai hak atas tanah.

Sifat pembuktian sertipikat sebagai tanda bukti hak dimuat dalam Pasal 32 PP Nomor 24 Tahun 1997 :79

1. Sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah yang bersangkutan.

2. Dalam atas hal suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 tahun sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertipikat.

Berdasarkan ketentuan Pasal 32 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997, maka sistem publikasi pendaftaran tanah yang dianut adalah sistem publikasi yang negatif, yaitu sertipikat hanya merupakan surat tanda bukti yang mutlak. Hal ini berarti bahwa data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam sertipikat mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima hakim sebagai keterangan yang benar selama dan sepanjang tidak ada alat bukti lain yang membuktikan. Dengan demikian, pengadilanlah yang berwenang memutuskan alat bukti mana yang benar dan apabila terbukti sertipikat tersebut tidak benar, maka diadakan perubahan dan pembetulan sebagaimana mestinya.

PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah sebagai pengganti PP Nomor 10 Tahun 1961 dilatarbelakangi oleh adanya kesadaran akan semakin pentingnya peran tanah dalam pembangunan yang semakin mamerlukan dukungan kepastian hukum di bidang pertanahan. Sistem Publikasi dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah yang dipakai oleh UUPA jo PP Nomor 10 Tahun 1961 adalah

sistem publikasi negatif. Dalam kenyataannya masih menimbulkan keraguan akan pemberian jaminan kepastian hukum bagi pemegang sertipikat hak atas tanah. Karena pemilik hak atas tanah masih rentan terhadap gangguan akan gugatan terhadap kepemilikannya dari pihak lain setiap saat. Meskipun PP Nomor 24 Tahun 1997 masih menggunakan sistem publikasi yang sama dengan PP Nomor 10 Tahun 1961 tetapi aspek kepastian hukum dan perlidungan hukumnya nampak nyata tertuang dalam Pasal 32 ayat (2). Ketentuan pasal ini menegaskan kakuatan sertipikat sebagai alat bukti yang kuat dengan batasan waktu salama 5 tahun yang diperoleh dengan itikad baik. Kepastian ini menghindari rasa was-was bagi pemegang sertipikat tanah atas gugatan pihak lain tersebut. Keberadaan peraturan ini perlu dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen oleh sumber daya manusia pendukungnya. Karena secara empiris masih timbul adanya pro dan kontra dalam penerapannya.

Pasal 32 ayat (2) PP Nomor 24 Tahun 1997 mempunyai kelemahan yang menyatakan bahwa Negara tidak menjamin kebenaran data fisik dan data yuridis yang disajikan dan tidak adanya jaminan bagi pemilik sertipikat dikarenakan sewaktu- waktu akan mendapatkan gugatan dari pihak lain yang merasa dirugikan atas diterbitkannya sertipikat. Untuk menutupi kelemahan dalam ketentuan Pasal 32 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997 dan untuk memberikan perlindungan hukum kepada pemilik sertipikat dari gugatan dari pihak lain dan menjadikannya sertipikat sebagai tanda bukti yang bersifat mutlak.

Sehubungan dengan apa yang diuraikan diatas maka makna dari sertipikat itu merupakan alat pembuktian yang kuat dan tujuan dari pendaftaran tanah yang

diselenggarakan dalam rangka menjamin kepastian hukum dibidang pertanahan menjadi kelihatan dan dirasakan walaupun sistem publikasinya bersifat negatif.

Menurut Irwan Soerodjo menyatakan bahwa ketentuan setelah 5 (lima) tahun sertipikat tanah tak bisa digugat, disatu sisi memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum tetapi disisi lain kebijakan tersebut riskan dan tidak memberikan perlindungan hukum kepada rakyat kecil yang sejauh ini belum sepenuhnya paham hukum.80

Pengumuman penerbitan sertipikat tanah di kantor kepala desa/Kelurahan atau media massa tidak menjamin masyarakat dapat mengetahui atas adanya pengumuman sehubungan dengan penerbitan sertipikat. Hal ini dikarenakan masyarakat belum terbiasa membaca pengumuman di Kelurahan atau media massa.81

Menurut Bachtiar Effendi, pendaftaran tanah dengan sistem positif sudah saatnya untuk ditinggalkan, karena dengan sistem positif sertipikat tanah merupakan satu-satunya tanda bukti hak atas tanah. Dengan demikian akan dihindari tumpang tindihnya sertipikat tanah sehingga apa yang diharapkan suatu kepastian hukum pemegangan hak atas tanah akan dapat terlaksana. Dalam praktek peradilan di Indonesia seringkali dijumpai adanya sengketa sertipikat tanah yang tumpang tindih, atau zegel tanah berhadapan dengan sertipikat tanah yang bernilai “kuat”. Dengan kata lain, karena UUPA menganut sistem negatif maka terhadap mereka yang merasa berhak atas sebidang tanah selalu terbuka kesempatan untuk dapat mengajukan persoalannya melalui Pengadilan Negeri atau Pengadilan Tata Usaha Negara untuk dinyatakan sebagai yang berhak atas tanah tersebut. Kelemahan dari sistem negatif ini

80Ibid,hal. 186

81 Wawancara dengan Rotua Novi Yanti, Kepala Sub Seksi Perkara Pertanahan di Kantor

adalah bahwa akan membuka kemungkinan kepada siapa saja yang merasa berhak atas tanah untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Tata Usaha Negara kendatipun diatas tanah yang disengketakan itu telah diterbitkan sertipikat tanahnya, sehingga dengan demikian mungkin saja terjadi kekurangtelitian para petugas dalam memberikan sertipikat tanah, karena akhirnya instansi Pengadilan Negeri atau Pengadilan Tata Usaha Negara yang akan menilai kebenaran siapa pemilik atau pemegang hak atas tanah sesungguhnya dari tanah yang disengketakan. Pemakaian sistem positif ini tidak menutup kemungkinan andai kata sertipikat tanah tersebut diperolehnya dengan penipuan atau uang sogok, pemegang hak atas tanah yang sebenarnya selalu dapat mengajukan tuntutannya berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.82

Arie S. Hutagalung mengemukakan bahwa sistem pendaftaran tanah negatif dengan tendensi positif inilah yang diterapkan saat ini, jadi sertipikat hak atas tanah yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional dapat saja digugat keabsahannya dengan mengajukan gugatan ke pengadilan dan hakim dapat membatalkan sertipikat tersebut, jadi sertipikat hak atas tanah hanya sebagai alat bukti yang kuat, bukan alat bukti yang mutlak. Adapun tendensi positif dalam pendaftaran tanah menurut PP Nomor 10 Tahun 1961 yang telah disempurnakan oleh PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dalam wujud adanya upaya “contradictoir delimitation”, yaitu upaya mengurangi sengketa mengenai (tanda) batas-batas tanah, dimana

petugas Badan Pertanahan Nasional aktif melibatkan para pihak pemilik tanah yang letaknya berbatasan untuk menentukan tanda batas.83

Demikian pula dalam Penjelasan PP Nomor 24 Tahun 1997 ditegaskan bahwa dalam pendaftaran tanah, sistem publikasi adalah sistem publikasi negatif tetapi yang mengandung unsur positif karena akan menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Sistem hukum tanah nasional tidak menganut sistem publikasi positif dimana kebenaran data yang disajikan dijamin sepenuhnya, melainkan sistem publikasi negatif tetapi yang mengandung unsur positif. Hal ini dapat diketahui dari ketentuan Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA yang menyatakan bahwa pendaftaran meliputi pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Pernyataan yang demikian tidak akan terdapat dalam peraturan pendaftaran dengan sistem publikasi negatif yang murni. Sedangkan sistem pendaftaran tanah yang digunakan adalah sistem pendaftaran hak (“registration of titles”) yang tampak dari adanya buku tanah sebagai dokumen yang memuat data yuridis dan data fisik yang dihimpun dan disajikan serta diterbitkannya sertipikat sebagai surat tanda bukti hak yang didaftar. Pembukuan dalam buku tanah serta pencatatannya pada surat ukur dan bidang tanahnya yang diuraikan dalam surat ukur secara hukum telah didaftar menurut PP Nomor 24 Tahun 1997.

83Arie S. Hutagalung, “Perlindungan Pemilikan Tanah Dari Sengketa Menurut Hukum Tanah

Nasional” dalam Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, (Jakarta: Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia, 2005), hal. 397-398

Menurut Pasal 31 PP Nomor 24 Tahun 1997 untuk kepentingan pemegang hak yang bersangkutan diterbitkan sertipikat sesuai dengan data fisik yang ada dalam surat ukur dan data yuridis yang telah didaftar dalam buku tanah.

Kepastian hukum dalam pendaftaran tanah mempunyai sasaran untuk mencapai perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah, oleh karenanya setiap permasalahan yang timbul pada saat sengketa yang bergulir di pengadilan harus melalui proses pembuktian. Dari sisi kepastian hukum, PP Nomor 24 Tahun 1997 memang lebih memberikan jaminan yang cukup kuat dibandingkan PP Nomor 10 Tahun 1961. Dalam PP Nomor 10 Tahun 1961 tidak ditentukan suatu jangka waktu tertentu untuk memberikan kepastian, sehingga sertipikat sebagai tanda bukti pemilikan tanah masih dapat dibatalkan apabila ada bukti data yang dipergunakan sebagai dasar penerbitannya cacat. Sedangkan PP Nomor 24 Tahun 1997 menyebutkan setelah lewat jangka waktu 5 (lima) tahun setelah diterbitkan sertipikat, maka sertipikat tanah tidak dapat digugat lagi, sehingga hal tersebut akan relatif lebih memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum.

Meskipun prinsip rechtsverwerking diterapkan dengan tujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada pihak yang dengan itikad baik menguasai tanah dan didaftar sebagai pemegang hak dalam buku tanah dengan sertipikat hak atas tanah sebagai tanda bukti pemilikannya, prinsiprechtsverwerkingakan menjadi tidak efektif atau tidak dapat memberikan perlindungan hukum serta dapat merugikan bagi pihak yang memiliki tanah namun tidak dapat membuktikan dengan alat bukti sertipikat hak atas tanah. Perlindungan hukum juga sulit diberikan kepada pemegang

hak atas tanah yang memperoleh hak atas tanah hanya dengan berdasarkan asas itikad baik.84

Dalam Pasal 1320 sampai dengan Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terdapat suatu penegasan bahwa persetujuan mengakibatkan batal apabila mengandung paksaan, penipuan, kekhilafan, ketidakcakapan si pembuat dan tanpa sebab (causa tak halal). Dengan demikian apabila di dalam proses peralihan atau perolehan sertipikat hak atas tanah terdapat unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1320 sampai dengan Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka sertipikat tanah yang dipunyai seseorang belum menunjukan orang tersebut sebagai pemegang hak yang sebenarnya. Dalam keadaan yang demikian, sertipikat hak atas tanah setiap waktu dapat dibatalkan apabila ternyata ada pihak lain yang dapat membuktikan secara hukum bahwa ia adalah pemilik yang sebenarnya.

Berbeda dengan sistem pendaftaran tanah positif, yaitu tanda bukti hak seseorang atas tanah adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Apabila ternyata terdapat bukti yang cacat, menunjukan cacat hukum dari perolehan hak tersebut, maka ia tidak dapat menuntut pembatalan, kecuali tuntutan pembayaran ganti kerugian.

Kasus pertanahan pada Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Nomor 02/G/2010/PTUN-MDN sebagaimana dapat dilihat kasus posisinya sebagai beriku: Sulaiman als Lai Sie Mien, Kewarganegaraan Indonesia, Pekerjaan Wiraswasta, beralamat Jalan Percut No.41, Kelurahan Pandau Hilir, Kecamatan Medan

Perjuangan, Kota Medan. Dalam hal ini diwakili oleh Kuasanya : SARONO, SH, Advokat dan Konsultan Hukum, Kewarganegaraan Indonesia. Berkantor di Jalan Merbau Lt. II No. 10-D Medan, sesuai dengan Surat Kuasa Khusus tertanggal 10 Desember 2009, selanjutnya disebut sebagai penggugat ; -

………..L A W A N ………..

1. Kepala Kantor Pertanahan Kota Medan, Berkedudukan di Jalan Jenderal Besar Abdul Haris No. 17 Medan, Kota Medan. Dalam hal ini diwakili oleh Kuasanya : Sri Puspita Dewi, SH, Kepala Seksi Sengketa, Konflik dan Perkara, sutrisno Ginting, SH, Kepala Sub Seksi Sengketa dan Konflik Pertanahan, Rotua Noviyanti, SH, Staf Seksi Sengketa, Konflik dan Perkara berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 18 Januari 2010 No. 279/SK-12.71/2010, selanjutnya disebut sebagai tergugat;-

2. Ir. H. Amiruddin Harahap. Kewarganegaraan Indonesia, Bertempat di Medan. Dalam hal ini memberi Kuasa kepada :

Hakim Tua Harahap, SH, MH, Bambang Nurdiansyah, SH, Raja Faisal Harahap, SH, Kewarganegaraan Indonesia, Pekerjaan Advokat-Penasehat Hukum, Berkantor di Kantor Hukum Duta Keadilan di Jalan. Prof. H.M. Yamin, SH Komplek Serdang Mas Blok B No. 9 Medan, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 23 Januari 20120 dan Yani Mirsal P. Rajagukguk, SH berdasarkan Surat Kuasa Substitusi tertanggal 17

Maret 2010, 17 Mei 2010 dan 19 Mei 2010 selanjutnya disebut sebagai Tergugat II Intervensi.

TENTANG DUDUKNYA PERKARA

Menimbang, bahwa Penggugat telah menggugat Tergugat dengan surat gugatannya tertanggal 14 Desember 2009 yang diterima dan terdaftar Kepaniteraan Pengadilan Tata Usaha Negara Medan Nomor. 02/G/2010/PTUN-MDN pada tanggal 07 Januari 2010 dan terhadap gugatan tersebut telah dilakukan perbaikan formal tanggal 01 Februari 2010 yang pada pokoknya berisi sebagai berikut :.

OBYEK GUGATAN :

Sertifikat Hak Milik Nomor : 582/Karang Barombak, tertanggal 28-07-1998 yang diterbitkan oleh Tergugat atas nama : Ir. Amiruddin Harahap, luas tanah 1.855 M2, Kelurahan Karang Berombak Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Propinsi Sumatera Utara, Dengan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKHP) Nomor : 423/HM/22.01/1998 Tertanggal 22-05-1998, Surat Ukur Nomor : 26/Karang Berombak/1998, tertanggal 11-2-1998 NIB. 02.01.01.06.00026; Adapun alasan-alasan gugatan Penggugat sebagai berikut :

1. Bahwa Penggugat mempunyai sebidang tanah yang merupakan bahagian dari Hak Konsesi “Sungai Agul” (SK Gubernur No. 46/K/Agraria tertanggal 18 Desember 1951) berikut dengan apa yang ada diatasnya dengan luas 5 Ha yang terletak di Jalan Karya, Lingkungan IV, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan

Barat, sesuai dengan Surat Jual Beli Nomor : 39 tertanggal 14 Desember 1955 anteara Tengku Nopaluddin dan Tengku Djanit dengan Tuan Soetomo: Surat Keterangan Nomor : 157 tertanggal 27 Juli 1964 oleh Notaris Roesli tentang Pengakuan dan Penyerahan Hak oleh Tuan Soetomo kepada Sulaiman als. Lai Sie Min/Penggugat ;

2. Bahwa untuk tanah seluas 1.855 M2 sesuai dengan Sertipikat Hak Milik Nomor 582/Karang Berombak atas nama : Ir. Amiruddin Harahap adalah merupakan sebahagian dari tanah Penggugat yang terletak di Jalan Karya Lingkungan XIV, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan yang jumlah keseluruhannya semua adalah  5 Ha, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat- surat yang Penggugat miliki tersebut di atas yakni : Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 46/K/Agraria tertanggal 18 Desembre 1951; Surat Djual Beli Nomor : 39 tertanggal 14 Desember 1955 antara Tengku Nopaluddin dan Tengku Djahit (penjual) dengan Tuan Soetomo (pembeli) yang dibuat dihadapan Notaris Oesman Aljoefry; Surat Keterangan Nomor : 157 tertanggal 27 Juli 1964 oleh Notaris Roesli yakni tentang keterangan dan pernyataan serta pengakuan dan penyerahan Hak dari Tuan Soetomo yang menerangkan bahwa tanah dengan luas  5 Ha sesuai dengan Akta Jual Beli No. 39 tanggal 14 Desember 1955 dengan adanya Surat Keterangan ini sudah sah menjadi hak sepenuhnya Sdr. Sulaiman als Lai Sie Min/Penggugat; Gambar Peta Lokasi tanah perkara;

3. Bahwa sejak tanah berikut dengan apa yang terdapat diatasnya Penggugat punyai/miliki sesuai dengan keberadaan surat-surat kepemilikian tersebut diatas

Penggugat tidak pernah menyerahkan/menjual/menggandakan/memindahkan tanah tersebut kepada orang lain/pihak ketiga termasuk kepada Sdr. Ir. Amiruddin Harahap, adapun batas-batas tanah yang diajukan gugatannya oleh Penggugat

Dokumen terkait