BAB II TINJAUAN TENTANG HUKUM PERJANJIAN BAKU,
A. Kerangka Konseptual
4. Perlindungan Konsumen
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam Pasal 1 angka 2 memuat pengertian konsumen yang berbunyi:
“Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan / atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan dalam Pasal 1 Ayat (1) bahwa perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Cakupan perlindungan konsumen itu dapat dibedakan dalam dua aspek, yaitu:
1) Perlindungan terhadap kemungkinan barang yang diserahkan kepada konsumen tidak sesuai dengan apa yang telah disepekati;
2) Perlindungan terhadap diberlakukannya syarat-syarat yang tidak Adil kepada konsumen.
Maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa hukum perlindungan konsumen dapat dikatakan sebagai dasar hukum (legal standing) yang memberikan perlindungan kepada konsumen dengan berbagai macam cara
dalam rangka pemenuhan kebutuhan konsumen.
b. Asas-asas dalam Hukum Perlindungan Konsumen
Mengacu pada ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen terdapat 4 (empat) asas Perlindungan Konsumen, yaitu: “Perlindungan konsumen berasaskan Manfaat, Keadilan, Keseimbangan, Keamanan dan Keselamatan Konsumen, dan yang terakhir Kepastian Hukum”. Asas-asas tersebut meliputi: 17
1) Asas Manfaat mengamanatkan bahwa segala upaya dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan
2) Asas Keadilan mengamanatkan bahwa partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.
3) Asas Keseimbangan mengamanatkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materil dan sprititual.
4) Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen mengamanatkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan / atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
5) Asas kepastian hukum dimaksudkan agar pelaku usaha maupun mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen serta Negara menjamin kepastian hukum.
c. Hak dan Kewajiban Konsumen
Hak dan kewajiban Konsumen diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, berikut Hak Konsumen sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen:
17 Siahaan N.H.T,Hukum Konsumen Perlindungan Konsumen Dan Tanggung Jawab Produk, (Jakarta: Pantai Rei, 2005), h. 82.
1) Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/jasa yang;
2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
8) Hak untuk mendapat kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya
9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
Disamping pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mengatur mengenai Hak Konsumen, juga memiliki Kewajiban yang diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen:
1) Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan atau jasa demi keamanan dan keselamatan;
2) Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
3) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang telah disepakati;
4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut;
d. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
Menurut Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyatakan Pelaku Usaha adalah setiap Perseorangaan atau Badan Usaha, baik yang berbentuk hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melakukan perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
Hak pelaku usaha diatur pada Pasal 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yaitu sebagai berikut :
1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan
2) Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik
3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya didalam penyelesaian sengketa konsumen
4) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang/jasa yang diperdagangkannya
5) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Kewajiban pelaku usaha, diatur pada Pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen :
1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya 2) Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang dan atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan
3) Memperlakukan pelayanan konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
4) Menjamin mutu barang dan atau jasa yang diproduksi dan atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang/jasa yang berlaku
5) Memberi kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang atau jasa yang diperdagangkan
e. Hubungan Konsumen dengan Pelaku Usaha
Hubungan hukum (rechtbetrekkingen) adalah sebuah hubungan antara dua subyek hukum atau lebih spesifik mengenai hak dan kewajiban di satu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain.18
Hubungan hukum dapat terjadi antara sesama subyek hukum ataupun antara subyek hukum dengan benda. Hubungan antara sesama subyek hukum dapat terjadi antara orang, orang dengan badan hukum, ataupun
18 R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), h. 269.
antara sesama badan hukum. Hubungan hukum antara subyek hukum dengan benda berupa hak apa yang dikuasai oleh subyek hukum itu atas benda tersebut, baik benda berwujud, benda bergerak, atau benda tidak bergerak.19
Hubungan hukum memiliki syarat-syarat yaitu adanya dasar hukum dan adanya pristiwa hukum. Menurut Ernest Barker, supaya hak-hak konsumen itu dapat sempurna apabila memenuhi 3 (tiga) syarat berikut, yaitu Hak tersebut dibutuhkan untuk perkembangan manusia, Hak tersebut diakui oleh masyarakat dan Hak tersebut dinyatakan demikian dan karena itu dilindungi dan dijamin oleh lembaga Negara.20 Dimana hubungan antara konsumen dan pelaku usaha diatur dalam UUPK.
Maka hubungan antara pelaku usaha dengan konsumen sudah dimulai sejak pelaku usaha memberikan penawaran janji atau informasi yang berhubungan dengan barang dan/atau jasa. Karena sejak itu timbul hak dan kewajiban bagi para pihak. Hubungan hukum tersebut didasarkan pada Pasal 1320 dan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dimana pelaku usaha telah sepakat terhadap apa yang dijanjikan pada saat memberikan janji pada sebuah iklan yang dibuatnya, sehingga janji-janji tersebut akan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.
f. Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Tanggung jawab hukum terjadi karena adanya kewajiban yang tidak dipenuhi oleh salah satu pihak yang melakukan perjanjian, hal tersebut juga membuat pihak lain mengalami kerugian akibat haknya tidak dipenuhi oleh salah satu pihak tersebut. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.21
Tanggung jawab menyangkut hubungan manusia dengan manusia,
19 Peter Mahmud Marzuki,Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 254.
20 Adrian Sutendi, Tanggung Jawab Produk Dalam Hukum Perlindungan Konsumen, (Bogor : Ghalia Indonesia 2008), h.50.
21 Joko Tri Prasetyo,Ilmu Budaya Dasar (Bandung : Pustaka Setia, 2004), h. 54.
hubungan manusia dengan alam sekitar, ataupun hubungan manusia dengan tuhan. Dalam ketiga jenis hubungan tersebut terdapat kewajiban dan hak. Tanggung jawab muncul berkenaan dengan pemenuhan kewajiban, jadi tanggung jawab adalah:22
1) Memenuhi segala kewajiban, memikul segala beban, menanggung segala akibat yang timbul dari perbuatan sendiri ataupun perbuatan orang lain, sesuai dengan norma kehidupan;
2) Rela mengabdi dan berkorban karena sayang, senang, belas kasihan pada alam lingkungan, sehingga kelestariannya dapat dipelihara sesuai dengan norma kehidupan;
3) Pasrah mengabdi, menyembah, dan memuja kepada tuhan sesuai dengan norma kehidupan beragama.
Tanggung Jawab Pelaku Usaha dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlndungan Konsumen Bab VI muat pada Pasal 19 sampai dengan Pasal 28, yang mengatur mengenai tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen apabila konsumen mengalami kerugian akibat pelaku usaha yaitu pelaku usaha yang tidak menunaikan kewajibannya serta memenuhi hak dari konsumen tersebut.
Adapun tanggung jawab pelaku usaha yang dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang pada intinya adalah:
1) Tanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan (Lihat Pasal 19 ayat (1) UUPK)
2) Tanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan iklan tersebut (Pasal 20 UUPK)
3) Tanggung jawab sebagai pembuat barang (importir) dan/atau penyedia jasa yang diimpor apabila importasi barang dan/atau jasa tersebut tidak dilaksanakan oleh agen atau perwakilan luar negeri (Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) UUPK).
22 Abdulkadir Muhammad,Hukum Perdata Indonesia (Cetakan Ketiga), (PT. Citra Aditya Bakti: Bandung, 2000) h. 157.
4) Pelaku usaha yang menjual produk kepada pelaku usaha lain juga berkewajiban memenuhi ganti rugi konsumen apabila produk yang diperoleh dari pelaku usaha sebelumnya (tidak ada perubahan produk) mengakibatkan kerugian konsumen (Pasal 24 UUPK).
5) Pelaku usaha berkewajiban menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas purna jual apabila pemanfaatan barang lebih dari 1 (satu) tahun (Pasal 25 UUPK).
Adapun Pelaku Usaha memiliki batasan-batasan dalam Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku Usaha yang dimuat dalam Pasal 8 Junto Pasal 17 UUPK Kemudian Ketentuan Pencantuman Klausa Baku dalam Pasal 18 UUPK. Dan tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha yang dimuat dalam Pasal 19 Junto Pasal 28 UUPK, maka apabila seorang Pelaku Usaha tidak melakukan Kewajibannya dan melanggar hak-hak konsumen seperti yang telah diuraikan di atas, maka ia berkewajiban untuk bertanggung jawab dengan memberikan ganti kerugian kepada Konsumen yang dirugikan.