Era perdagangan global hanya dapat dipertahankan jika terdapat iklim persaingan usaha yang sehat. Disini Merek memegang peranan yang sangat penting yang m emerlukan sistem pengaturan yang lebih memadai. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan sejalan dengan perjanjian-perjanjian intemational yang telah diratifikasi Indonesia serta melaksanakan administrasi merek,diperlukan penyem purnaan Undang-undang merek. Atas dasar itulah U ndang-undang Merek
66 Imam Syahputra, et.al. Hukum M erek Baru Indonesia : Seluk Beluk Tanya Jawab, (Jakarta: Harvarindo), 1997, hal. 24
N om or 15 Tahun 2001 dibcntuk sebagai penyem purnaan dari Undang-undang Merek N om or 14 Tahun 1997.67
Undang-Undang N om or 15 Tahun 2001 tentang merek, menyatakan bahwa dalam merek dikenal adanya hak eksklusif sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 yaitu hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik merek. Secara um um hak eksklusif dapat didefinisikan sebagai ‘hak yang memberi jam inan perlindungan hukum kepada pemilik merek, dan merupakan pemilik satu-satunya yang berhak memakai dan mempergunakan serta melarang siapa saja untuk memiliki dan mempergunakannya. Dengan demikian, hak eksklusif mem uat dua hal, yaitu, pertama,menggunakan sendiri merek tersebut, dan kedua, memberi ijin kepada pihak lain menggunakan merek tersebut.
Hak eksklusif bukan merupakan monopoli yang dilarang sebagai persaingan tidak sehat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang N om o r 5 Tahun 1999 tentang Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat, tetapi justru merupakan hak yang bersifat khusus dalam rangka memberi penghormatan dan insentif pengembangan daya intelektual untuk sebuah persaingan sehat dan kesejahteraan masyarakat.68
Atas hak eksklusif dari merek, UU Nomor 15 Tahun 2001 m emberikan perlindungan terhadap merek terkenal dengan cara menolak permohonan pendaftaran merek seperti yang dinyatakan dalam Pasal 4,5, dan 6 Undang- undang Merek tersebut. Pasal 4 menyatakan bahwa Merek tidak dapat didaftar atas dasar Permohonan yang diajukan oleh Pemohon yang beriktikad tidak baik.
Penolakan pendaftaran Merek ju g a dapat dilakukan karena mengandung salah satu unsur yang dinyatakan dalam Pasal 5, yaitu :
“ Merek tidak dapat didaftar apabila Merek tersebut m engandung salah satu unsur di bawah ini:
a.bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum;
b.tidak memiliki daya pembeda;
c.telah menjadi milik umum; atau
67 Adrian Suledi, Hak Atas Kekayaan Intelektual, cet.l (Jakarta: Sinar Grafika), 2009, hal.89.
68 Prasetyo Madi I>urwandoko,o/).ic/7
d. m e r u p a k a n k e te r a n g a n atau berk aitan d e n g a n b a ra n g atau ja s a y an g d im o h o n k a n p e n d a fta ra n n y a ."
M e r e k y a n g m e m p u n y a i p e rs a m a a n p ad a p o k o k n y a atau k e s e lu ru h a n n y a d e n g a n m e re k y a n g s u d a h terkenal m ilik pihak lain untuk b a ra n g d an /a ta u ja s a sejen is h a ru s d ito la k p e r m o h o n a n p end aftaran ny a. Hal tersebut sesuai d eng an P asal 6 U U N o . 15 T a h u n 2001 T e n ta n g M erek. 69
P e n o la k a n p e r m o h o n a n te rh a d ap M erek terkenal dijelaskan lebih lanjut dalam p e n je la s a n P asal 6 ayat 1 b U U N o. 15/2001, sebagai b e r i k u t :
“ P e n o la k a n p e rm o h o n a n y an g m enyerupai p ersam aan p ad a p o k o k n y a atau k e s e lu ru h a n d e n g an m erek terkenal untuk b aran g d an atau ja s a y an g sejen is d ilak u k an d eng an m em p erh atik an p eng etah u an u m u m m asy ara k at m e n g e n a i m e re k tersebut di bidang usaha y an g bersangkutan. D isam p in g itu, d ip e rh a tik a n pula reputasi M erek Terkenal yang diperoleh karena p ro m o s i y a n g gencar dan besar-besaran, investasi d ib eb erap a negara d id u n ia y a n g dilakukan oleh pem iliknya, dan disertai bukti pendaftaran m e re k terseb u t di b eberapa negara. A pabila hal-hal di atas b elum dian g g ap cu k u p , P en g ad ilan niaga dapat m em erintahkan lem baga y an g bersifat m and iri u n tu k m elakukan survei guna m em peroleh kesim pulan m engenai terkenal atau tidaknya m erek yang menjadi dasar penolakan.”
P en o la k an perm o ho n an pendaftaran m erek dalam hal m e lan gg ar m erek terkenal tidak h an y a terbatas pada barang sejenis, tetapi ju g a untuk b aran g tidak sejenis seperti y an g dinyatakan dalam Pasal 6(2) sebagai b e r i k u t :
‘'K e ten tu an sebagaim ana dim aksud pada ayat (1) h u r u f b dapat pula d ib erlak u k an terhadap barang dan/jasa yang tidak sejenis sepanjang m em en u h i persyaratan tertentu yang akan ditetapkan lebih lanjut dnegan P eraturan P em erintah”
Selain d engan cara menolak permohonan pendaftaran, U ndan g -u n d ang m erek ini ju g a m e ng atu r mengenai pem batalan pendaftaran m erek dan p engh ap u san m erek sebagai cara lain untuk m emberikan perlindungan kepada
69 Lihat Pasal 6 ayat 1 UU No. 15 Tahun 2001 yang berbunyi sebagai berikut : 1). Perm ohonan harus ditolak oleh Direktorat Jenderal apabila M erek tersebut;
a. M em punyai persam aan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan M erek m ilik pihak lain yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis;
b. M em punyai persam aan pada pokoknya atau keselum hannya dengan M erek yang sudah terkenal m ilik pihak lain untuk barang dan/alau jasa sejenis;
C. M em punyai persam aan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi-geografis yang sudah dikenal.
pemilik merek biasa dan pemilik merek terkenal. Pembatalan pendaftaran merek diatur dalam Pasal 68 (1) sebagai b e r ik u t:
“ Gugatan pembatalan pendaftaran merek dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan sebagaimana dim aksud dalam Pasal 4, Pasal 5 atau Pasal 6.”
Dalam penjelasan pasal tersebut, yang dim aksud dengan pihak yang berkepentingan antara lain: jaksa, yayasan/lembaga di bidang perlindungan konsumen, dan majelis lembaga keagamaan.
Pasal 69 ayat (2) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek menyatakan gugatan pembatalan dapat diajukan tanpa batas waktu apabila pendaftaran m erek yang bersangkutan bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum, termasuk di dalamnya pendaftaran dengan iktikad tidak baik dan menyangkut merek terkenal. Jadi berdasarkan pasal tersebut gugatan pembatalan yang menyangkut merek terkenal tidak terbatas waktu, bisa dilakukan kapan saja.
D alam hal Penghapusan Merek diatur dalam Pasal 61 sampai dengan Pasal 72 UU No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Pasal 61 ayat (2)70 menyatakan bahw a m erek yang tidak digunakan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir dapat dilakukan penghapusan.
2.2.3 Perlindungan Merek Terkenal dari Perbuatan Pencemaran M erek Terkenal