Pengaturan mengenai dilution yang berlaku secara International tidak serta merta dapat diterapkan di Indonesia, melainkan harus melalui ratifikasi dan diterjemahkan kedalam peraturan perundang-undangan. Hal ini disebabkan Indonesia m enganut (sistem hukum sipil atau disebut ju g a sistem hukum Eropa Kontinental) yaitu hukum yang berlaku adalah berupa peraturan-peraturan tertulis
70 Lihat Pasal 61 ayat (2) sebagai b e rik u t:
Penghapusan pendaftaran M erek atas prakarsa Direktorat Jenderal dapat dilakukan jika:
1. M erck tidak digunakan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut dalam perdagangan barang dan/atau jasa sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir, kecuali apabila ada alasan yang dapat
diterima oleh Direktorat Jenderal; atau
2. M erek digunakan untuk jenis barang dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dim ohonkan pendaftaran, termasuk pemakaian M erek yang tidak sesuai dengan Merek
yang didaftar.
pemilik merek biasa dan pemilik merek terkenal. Pembatalan pendaftaran merek diatur dalam Pasal 68 (1) sebagai b e r ik u t:
“ Gugatan pembatalan pendaftaran merek dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan sebagaimana dim aksud dalam Pasal 4, Pasal 5 atau Pasal 6.”
Dalam penjelasan pasal tersebut, yang dimaksud dengan pihak yang berkepentingan antara lain: jaksa, yayasan/lembaga di bidang perlindungan konsumen, dan majelis lembaga keagamaan.
Pasal 69 ayat (2) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek menyatakan gugatan pembatalan dapat diajukan tanpa batas waktu apabila pendaftaran merek yang bersangkutan bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum, termasuk di dalamnya pendaftaran dengan iktikad tidak baik dan menyangkut merek terkenal. Jadi berdasarkan pasal tersebut gugatan pembatalan yang menyangkut merek terkenal tidak terbatas waktu, bisa dilakukan kapan saja.
Dalam hal Penghapusan Merek diatur dalam Pasal 61 sampai dengan Pasal 72 UU No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek. Pasal 61 ayat (2)70 menyatakan bahwa merek yang tidak digunakan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir dapat dilakukan penghapusan.
2.2.3 Perlindungan Merek Terkenal dari Perbuatan Pencemaran M erek Terkenal (DILUTION)
Pengaturan mengenai dilution yang berlaku secara International tidak serta merta dapat diterapkan di Indonesia, melainkan harus melalui ratifikasi dan diterjemahkan kedalam peraturan perundang-undangan. Hal ini disebabkan Indonesia menganut (sistem hukum sipil atau disebut ju g a sistem hukum Eropa Kontinental) yaitu hukum yang berlaku adalah berupa peraturan-peraturan tertulis
70 Lihat Pasal 61 ayat (2) sebagai b e rik u l:
Penghapusan pendaftaran M erek atas prakarsa Direktorat Jenderal dapat dilakukan jika:
1. M erek tidak digunakan selam a 3 (tiga) tahun berturut-turut dalam perdagangan barang dan/atau jasa sejak tanggal pendaftaran atau pemakaian terakhir, kecuali apabila ada alasan yang dapat
diterima oleh Direktorat Jenderal; atau
2. M erek digunakan untuk jenis barang dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dimohonkan pendaftaran, termasuk pemakaian M erek yang tidak sesuai dengan Merek yang didaftar.
yang dibuat oleh pembuat undang-undang bukan berdasar pada pendapat hakim (hakim berperan ak tif m enemukan hukum atas suatu perkara di pengadilan).
Peraturan perudang-undangan Indonesia tidak ada yang secara eksplisit memberikan perlindungan terhadap pemilik merek terkena! dari dilution, baik dilution karena pengaburan ataupun dilution karena pencemaran merek terkenal.
N am un perlindungan yang diberikan oleh U ndang-undang merek 1992, 1997, dan 2001 terhadap Merek terkenal merupakan pengakuan terhadap keberhasilan pemilik m erek dalam menciptakan image eksklusif dari produknya yang diperoleh melalui pengiklanan atau penjualan produk produknya secara langsung. Jadi dengan kata lain U ndang-Undang Merek mengakui balnva merek pada merek terkenal tidak hanya sebagai pembeda tetapi mempunyai nilai komersial yang tinggi dibandingkan dengan merek biasa.
UU No.19 Tahun 1992 menyatakan bahwa “pemilik merek terkenal yang tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan pembatalan merek setelah m engajukan permintaan pendaftaran merek kepada Kantor Merek” . Hal ini menunjukkan bahwa UU tersebut memperlakukan merek terkenal lebih istimewa dengan cara tetap m emberikan perlindungan kepada merek terkenal yang belum terdaftar, walaupun UU ini sudah menganut sistem first to f d e. Jadi Undang-undang ini secara diam-diam telah mengakui bahwa merek terkenal mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan merek biasa.
UU No. 14 Tahun 1997 menyatakan bahwa "kriteria mengenai kriteria M erek Terkenal, selain memperhatikan pengetahuan um um masyarakat, penentuannya ju g a didasarkan pada reputasi merek yang bersangkutan...” . Hal ini m enunjukkan bahwa UU mengakui bahwa merek terkenal mempunyai reputasi sehingga dibedakan dengan merek biasa. UU No. 15 Tahun 2001 m emberikan perlindungan yang lebih luas kepada merek terkenal, yaitu dengan cara menolak pendaftaran dan membatalkan merek yang melanggar m erek terkenal, hal ini tidak hanya terbatas untuk barang sejenis tetapi ju g a untuk barang tidak sejenis. Bahkan dalam hal permohonan pembatalan merek yang m elanggar merek terkenal, diberikan jan g k a waktu yang tidak terbatas.
K etentuan-ketentuan yang diatur dalam UU No. 15 T ahun 2001 m enunjukkan bahw a UU ini mengakui nilai khusus dan reputasi yang dim iliki oleh m erek terkenal. Tidak hanya itu UU ini ju g a m em berikan perlindungan terhadap pem ilik m erek untuk dapat m em pertahankan m ereknya. Selain ketiga UU tersebut pengakuan terhadap nilai dan reputasi m erek terkenal ju g a dianut oleh K eputusan M enteri Kehakiman RI N om or N om or : M .02-H C.01.01 T ahun 1987 dan N om or: M .03-HC.02.01 Tahun 1991. K edua K EPM EN tersebut m em berikan perlindungan kepada merek terkenal sebagai konsekuensi pengakuannya terhadap nilai khusus dan reputasi yang dim iliki oleh m erek terkenal. Bahkan KEPM EN Tahun 1991 tidak hanya m em berikan pengakuan terhadap m erek dalam negeri tetapi ju g a luar negeri.
M eskipun peraturan perundang-undangan telah secara im plisit m engakui nilai khusus dan reputasi yang dimiliki oleh m erek terkenal, nam un hal ini tidaklah cukup untuk memberikan perlindungan terhadap pem ilik m erek terkenal dari perbuatan pencem aran merek terkenal (dilution). D alam m em berikan perlindungan terhadap pem ilik merek terkenal dari dilution ini harus m elihat sistem hukum nya, apakah sudah benar-benar m em berikan perlindungan atau belum .
M enurut Friedm ann sistem hukum terdiri dari struktur hukum , substansi hukum , dan budaya hukum. Peraturan perundang-undangan yang telah d isinggung diaw al term asuk kedaiam substansi hukum. Dalam hal ini substansi hukum nya belum cukup m em berikan perlindungan kepada pem ilik m erek terkenal dari dilution. W alaupun UU merek telah beberapa kali m engalam i perubahan dan penyem purnaan sebagai upaya untuk m em berikan solusi atas perm asalahan- perm asalahan yang dahulu tidak terfikirkan, nam un belum dapat m em berikan solusi secara tepat untuk m enyelesaikan perm asalahan-perm asalahn m erek yang berkaitan dengan dilution.
UU M erek belum mengakui secara eksplisit bahw a m erek terkenal m em iliki nilai khusus dan reputasi yang perlu dilindungi dari dilution karena pengaburan ataupun dilution karena pencem aran yang dapat m engurangi nilai khusus dan reputasi yang dim iliki oleh m erek terkenal. Peraturan
perundang-undangan ju g a tidak m engatur m engenai perbuatan - perbuatan apa saja yang dapat m enyebabkan dilution karena pengaburan dan dilution karena pencem aran.
Bahkan sam pai saat ini belum ada peraturan pelaksana (berupa Peraturan Pem erintah) dari U ndang-undang merek No. 15 Tahun 2001 yang m en g atu r m engenai m erek terkenal seperti yang telah diam anatkan dalam UU m erek tersebut. Peraturan Pelaksana ini penting sekali, sehingga ada guideline (pedom an) bagi penegak hukum dalam m enafsirkan m erek terkenal. Peraturan P elaksana ju g a penting untuk m em berikan perlindungan kepada pem ilik m erek terkenal dari hal-hal yang belum diatur dalam U ndang-undang M erek.71
S elain substansi hukum , sistem hukum ju g a ditentukan oleh stru k tu r hukum dan budaya hukum . Dilihat dari struktur hukum nya, dalam hal ini yang berkaitan adalah D PR yang belum dapat m em buat U ndang-undang yang m engakom odir isu-isu yang berkem bang dalam m asyarakat International, terutam a dalam hal perlindungan pem ilik merek terkenal dari dilution. Selain itu tidak ada kesesuaian keputusan diantara hakim yang m em utus perkara-perkara y an g b erkaitan dengan pelanggaran merek terkenal pada um um nya dan dilution pada khususnya. Hal ini dikarenakan hakim pengadilan niaga dan hakim agung perlu m em iliki pem aham an yang sam a soal m erek, sehingga ada kesam aan dalam m em buat putusan. Selam a ini, banyak hakim yang sudah m enjalani p elatihan m asalah H A K I, kem udian tiba-tiba mereka dipindah ke pengadilan um u m .72
C handra H am zah, Ketua Asosiasi K onsultan Hak K ekayaan Intelektual m enyarankan supaya m utasi hakim di pengadilan niaga lebih dikhususkan kepada pengadilan yang sam a, m isalnya hakim dari Pengadilan N iaga Jakarta dim utasikan ke Pengadilan N iaga Medan. “Jangan sam pai m utasi dari hakim pengadilan niaga ke pengadilan um um .” Selain itu, dia ju g a m enyarankan supaya penunjukan hakim niaga baru hendaknya lebih ditujukan kepada yang pernah m enjalani pelatihan di bidang HaKI. M enurut praktisi hukum itu, ada putusan hakim di pengadilan niaga yang m engacaukan pakem yang ada di m erek. “ Ini
7lferyindrawan, M enunggu lahirnya P P m erek terkenal, Bisnis &
M anajemen, Ekonomi, Politik & H ukum , ttp://afewgoodwords.\vordpress.com /2007/03/
07/m enunggu-lahirnya-pp-merek-terkenal/, diunduh 6 Agustus 2009
bahaya sekali. Selam a ini sudah ada patokan yang dipakai soal m erek, tapi oleh hakim dilanggar.” 73
D ilihat dari budaya hukum nya, m asyarakat khususnya m asyarakat pelaku usaha belum m em iliki kesadaran yang tinggi m engenai nilai khusus dan reputasi yang dibangun oleh pem ilik merek terkenal. Hal ini dapat terlihat dari sem akin m araknya sengketa-sengketa yang berkaitan dengan pelanggaran m erek terkenal yang dapat m enurunkan atau merusak daya pem beda atau m encem arkan reputasi m erek terkenal. Selain itu tingkat pem aham an m asyarakat terhadap hukum m erek yang m asih rendah. Tidak adil menuntut m asyarakat m em aham i sendiri aturan m erek tanpa bim bingan yang memadai m engingat HAKI m erupakan konsep hukum baru yang padat dengan teori lintas ilmu. HAKI pada um um nya dan m erek pada khususnya m em iliki kendala klasik untuk dapat dim engerti dan dipaham i oleh m asyarakat yaitu kurangnya sosialisasi.
Dari uraian di atas tampak bahwa faktor pem aham an m asyarakat dan kesiapan aparat penegak hukum , memiliki korelasi yang kuat dengan kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan. Sosialisasi menjadi tingkat prakondisi bagi efektivitas penegakan hukum . Efektivitas penegakan hukum sungguh sangat dipengaruhi oleh tingkat pem aham an masyarakat dan kesiapan aparat. Sem akin tinggi pem aham an m asyarakat semakin tinggi pula tingkat kesadaran hukum nya.
D em ikian pula kondisi aparat. Semakin bulat pem aham an aparat, sem akin m antap kinerja m ereka di lapangan. Keduanya m erupakan faktor yang m enentukan.
K arenanya, sosialisasi m erupakan keharusan. Sosialisasi diperlukan utam anya untuk m em bangun pem aham an dan m enum buhkan kesadaran m asyarakat. S eiring dengan itu untuk m eningkatkan pem ahaman dan m em antapkan kem am puan aparat dalam m enangani m asalah merek.
2 3 Perlindungan Pem ilik M erek Terkenal dari Pencem aran M erek terkenal (Dilutiori) di N egara Lain
Sebagai perbandingan, perlu diketahui bagaim ana perlindungan pem ilik m erek terkenal dari pencem aran m erek terkenal (dilutiori) di negara lain. Hal ini
nIbid.
44
bisa dilihat dari aspek-aspek sistem hukum yaitu struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum di negara tersebut dalam memberikan perlindungan.
Berikut akan dijabarkan bagaimana Amerika dan Uni Eropa sebagai negara- negara yang sangat perhatian terhadap merek terkenal, memberikan perlindungan kepada pemilik merek terkenal terutama yang berkaitan dengan dilution.
2.3.1 Perlindungan Merek Terkenal di Amerika
Amerika Serikat memimpin berkenaan dengan perlindungan anti -dilution atas merek terkenal. Hukum dasarnya adalah Trademark Act tahun 1946 (disebut dengan The Lanham Act). Undang-undang ini melarang pelanggaran merek dan melindungi konsumen dari kebingungan menyangka membeli produk dengan merek terkenal, tetapi kenyataannya membeli mutu yang rendah. Kriteria merek terkenal menurut UU ini diatur dalam Pasal 43 (c)(l) yang menyatakan bahwa untuk menentukan apakah suatu merek mempunyai sifat daya pembeda dan terkenal, Pengadilan dapat mempertimbangkan faktor-faktor seperti (tetapi tidak terbatas p a d a ):
H A1. Derajat sifat yang tidak terpisahkan atau mempunyai sifat daya pembeda dari merek tersebut;
2. Jangka waktu dan ruang lingkup pemakaian merek yang berkaitan dengan barang atau jasa dari merek;
3. Jangka waktu dan ruang lingkup dari pengiklanan dan publisitas merek tersebut;
4. Ruang lingkup geografis dari daerah perdagangan tempat merek tersebut dipakai;
5. Jaringan perdagangan barang atau jasa dari merek yang dipakai;
6. Derajat pengakuan atas merek tersbeut dari arena perdagangan dan jaringan perdagangan dari pemilik merek dan larangan terhadap orang atas pemakaian merek tersebut dilaksanakan;
7. Sifat umum dan ruang lingkup pemakaian merek yang sama oleh pihak ketiga;
dan
74 Imam Syahputra, et.al. op.ci /, hal. 21-22
Universitas Indonesia
8. Keberadaan pendaftaran merek tersebut berdasarkan Undang-Undang Tanggal 3 Maret 1981 atau Undang-Undang Tanggal 20 Februari 1905 atau pendaftaran pertama.
The Lanham Act diamandemen oleh kongres pada tahun 1995 menjadi Federal Trademark Dilution Act (FTDA). FTDA bertujuan mengizinkan bisnis untuk melindungi perusahaan investasi dalam membuat merek produknya. Di Amerika, pemilik merek terkenal dapat menghentikan penggunaaan mereknya oleh pihak lain meskipun bukan untuk produk yang bersaing, dengan dasar bahwa penggunaan itu dapat menurunkan nilai mereknya. Kerugian yang sebenarnya dari pengurangan nilai merek terkenal bukan kebingungan konsumen tetapi identitas merek yang secara bertahap berkurang oleh penggunaan produk-produk bukan bersaing. 75 FTDA memberikan difinisi dari dilution sebagai berikut:
“The term “dilution” means the lessening o f the capacity o f a famous mark to identify and distinguish goods or services, regardless o f the presence or absence o f (I) competition between the owner o f the famous mark and other parties, or (2) likelihood of confusion, mistake, or deception.”
Dalam FTDA kriteria actual-dilution untuk perlindungan merek terkenal diberlakukan.76
Majelis hakim dalam perkaran gugatan viacom menyatakan sebagai berikut : “Unlike the traditional cause o f action under trademark law , dilution theory protects not the consumer but rather the value o f the trademark to the trademark holder ”. Jadi berdasarkan pernyataan majelis hakim tersebut, dilution theory tidak melindungi konsumen tetapi lebih melindungi nilai dari merek untuk pemegang merek. 77
Mengenai kriteria actual-dilution mengundang banyak perdebatan diantara circuit pada peradilan amerika, antara lain dalam kasus Ringling Bros. Circuit ke empat menemukan bahwa untuk memenuhi test untuk dilution sesuai dengan Pasal 43(c) dari Lanham Act, penggugat harus menunjukkan bahwa tergugat
75 Ida Madieha bt Abdul Ghani Azmi, Trade Marks Law in Malaysia Cases and Commentary , Sweet &Maxwell Asia,2004.hal. 339-340.
76 Under the FTDA, actual dilution criteria fo r well-knownmark 's was applied.
77 Liu Lu., loc.cit. Dikutip dari Viacom Inc.v.Ingram Enters.,Inc., 141 F.3d 886, 890 n.7 (8th Cir. 1998)
i K o l e k s i 1
^AKULT-Vj H'JI .y ■ u j Universitas Indonesia
8. K eberadaan pendaftaran m erek tersebut berdasarkan U ndang-U ndang Tanggal 3 M aret 1981 atau U ndang-U ndang Tanggal 20 Februari 1905 atau pendaftaran pertam a.
T he Lanham Act diam andem en oleh kongres pada tahun 1995 m enjadi Federal Trademark Dilution Act (FTDA). FTD A bertujuan m engizinkan bisnis untuk m elindungi perusahaan investasi dalam m em buat m erek produknya. Di A m erika, pem ilik m erek terkenal dapat m enghentikan penggunaaan m ereknya oleh pihak lain m eskipun bukan untuk produk yang bersaing, dengan d asar bahw a penggunaan itu dapat m enurunkan nilai mereknya. K erugian yang sebenarnya dari pengurangan nilai m erek terkenal bukan kebingungan konsum en tetapi identitas m erek yang secara bertahap berkurang oleh penggunaan produk-produk bukan bersaing.75 FTD A m em berikan difinisi dari dilution sebagai b e r ik u t:
“T h e term “dilution” means the lessening o f the capacity o f a fam ous m ark to identify and distinguish goods or services, regardless o f the p resen ce or absence o f (1) com petition between the ow ner o f the fam ous m ark and o ther parties, or (2) likelihood o f confusion, m istake, or d eception.”
D alam FTDA kriteria actual-dilution untuk perlindungan m erek terkenal diberlakukan.
M ajelis hakim dalam perkaran gugatan viacom m enyatakan sebagai berikut : “ Unlike the traditional cause o f action under trademark law , dilution theory protects not the consumer but rather the value o f the tradem ark to the trademark ho ldertf. Jadi berdasarkan pernyataan m ajelis hakim tersebut, dilution theory tidak m elindungi konsum en tetapi lebih m elindungi nilai dari m erek untuk pem egang m erek.77
M engenai kriteria actual-dilution m engundang banyak perdebatan diantara circuit pada peradilan am erika, antara lain dalam kasus Ringling Bros. Circuit ke em pat m enem ukan bahw a untuk m emenuhi test untuk dilution sesuai dengan Pasal 43(c) dari Lanham Act, penggugat harus m enunjukkan bahw a tergugat
75 Ida M adieha bt Abdul Ghani Azmi, Trade M arks Law in M alaysia Cases and Commentary, Sweet &Maxwell Asia,2004.hal. 339-340.
76 Under the FTDA, actual dilution criteria f o r w e ll-b w w n m a rk’s hyw applied.
11 Liu Lu., loc.cit. Dikutip dari Viacom / nc.v.Jngram Enters..Inc.,141 F .3d 886, 890 n.7 (#* O r. / 998)
m enyebabkan actual dilution dari m erek penggugat (m erek sebelum nya).
M eskipun hukum negara bagian yang lebih awal m engacu pada
“likelyhood o f dilution" tetapi versi original dari FTDA tidak. M alahan dalam kasus Ringting Bros, pengadilan pada intinya m enyatakan kerugian yang dim aksud adalah kerugian yang sebenarnya, bukan kerugian yang m ungkin m uncul di m asa yang akan datang. Persyaratan kerugian yang sebenarnya diadopsi ju g a oleh circuit kelima.
Circuit kedua m elakukan pendekatan yang berbeda dalam kasus n ab isco 79 karena m enganggap putusan pada kasus Ringling Bros tidak jelas, keputusan dapat dibaca secara sem pit ataupun luas dan im plikasi dari keduanya tidak m em uaskan. Secara sem pit, circuit keempat m ensyaratkan kerugian pendapatan yang sebenarnya dan bukti survey yang konkrit, hal ini m enentang pem buktian kerugian yang sebenarnya dalam konteks adanya kesam aan antara m erek dan produk. K erugian pendapatan yang sebenarnya dan persyaratan survey adalah pem batasan yang berubah-ubah dalam m etode pem buktian karena w alaupun m erek yang m enuntut telah sukses dieksploitasi tetapi jaran g kem ungkinannya m enunjukkan penurunan pendapatan; yang kedua w alaupun penurunan pendapatan dapat ditunjukkan, akan sulit untuk m enunjukkan bahw a penurunan disebabkan karena dilution', bukti survey mahal untuk dikum pulkan dan seringkali tidak terealisasikan; dan bukti tidak langsung (circumstantial evidence) seringkali digunakan untuk m em buktikan dilution.80
Secara lebih luas dari kasus Ringling Bros, m engizinkan m enggunakan bukti tidak langsung, tetapi meskipun demikian m em persyaratkan m erek tergugat telah berada dipasar sebelum tindakan dilution dim ulai. W alaupun circuit kedua
78 The claimant had to show that the d efendant's ju n io r m ark caused actual dilution o f the claim ant ’s senior mark. Lihat kasus Ringling Bros-Barnunt &Bailey Com bined Shows,Inc. v. Utah Div. o f Travel Dew, 170 F J d 449,458 (<T Cir.1999)
79 Kasus Nabisco, Inc, v. P F Brands, Inc., 191 F J d 208 (2nd Cir. 1999)
80Ilanah Simon, "The Actual Dilution Requirement In The United States, U nited Kingdom A nd European Union: A Comparative Analysis", Boston University Journal o f Science and Technology Law, Summer, 2006,12 B.U. J. Sci. & Tech. L. 27. "An actual loss o f revenues and survey requirem ents were an “arbitrary restriction on methods o f p r o o f ” because (i) i f the claim ant's m ark was being exploited successfully, it would seldom be possible to show dim inished revenues; (ii) even i f dim inished revenues could be shown, it w ould be difficult to show that the slump was caused by dilution; (Hi) survey evidence is expensive to collect a n d often unreliable;
and (iv) circumstantial evidence has often been used to prove dilution
m engetahui bahw a undang-undang secara harfiah dapat dibaca dengan cara ini, nam un dapat m engalahkan tujuan undang-undang untuk m encegah kerugian sebelum itu terjadi dan dapat merugikan kedua pihak. Persyaratan actual-dilution ju g a ditolak oleh cirkuit keenam dan ketujuh.
M ahkam ah A gung dalam kasus Victoria's Secret^ m em bedakan antara definisi dilution m erek m enurut The Lanham Acts “m engurangi k apasitas” dari m erek untuk m engidentifikasikan barang, dengan referensi dalam bagian yang sam a untuk pelanggaran merek sebagai “ kem ungkinan dari kebingungan, kesalahan, atau kecurangan” . Bagaimanapun pengadilan m enekankan bahw a konsekuensi dari dilution, dalam hal kerugian yang sebenarnya dari penjualan atau keuntungan tidak perlu dibuktikan. Hal ini m enyisakan ketidakpastian, pengadilan tidak m enjelaskan bagaim ana actual-dilution dapat dibuktikan, m eskipun dianjurkan survey konsum en dapat membantu dan bukti tidak langsung untuk beberapa kasus tertentu cukup.
The Trademark Amandement Act tahun 1999 (TA A ) m em perluas perlindungan dilution dengan menyatakan bahw a pem ilik m erek terkenal dapat m enentang atau m em batalkan pendaftaran merek yang potensial m en g akibatkan dilution. A turan m engenai actual-dilution m enyebabkan perm asalahan dalam penyelesaian sengketa berkaitan dengan proses registrasi. Seringkah p en d aftar m erek belum m ulai menggunakan merek yang didaftar.
K em angkiran menggunakan merek akan m em buat k etidakm ungkinan untuk m enunjukkan bahw a merek yang didaftarkan m em buat dilution m erek terkenal. U ntuk itu, jik a aturan Victorias Secret diterapkan dalam kasus
81 Ibid. “In 1998, the M oseley's (Victor and Cathy) announced that there were opening an intimate lingerie store in a sm all town in Kentucky under the name "Victor's S ecret.” In
81 Ibid. “In 1998, the M oseley's (Victor and Cathy) announced that there were opening an intimate lingerie store in a sm all town in Kentucky under the name "Victor's S ecret.” In