BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI HAK MEREK DALAM HAK
C. Perlindungan Hukum Bisnis di Bidang Merek
Perlindungan hukum pada bidang bisnis telah dituangkan pada teori perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo. Menurut
7HM. Soerya Respationo, Putusan Hakim: Menuju Rasionalitas Hukum Refleksi dalam Penegakan Hukum Jurnal Hukum Yustitia. No.86 Th. XXII Mei-Agustus 2013, (Surakarta:
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta), h. 43.
Satjipto Rahardjo, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.8 Perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat yang pada dasarnya merupkan kesepakatan masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan perilaku antara anggota-anggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.9 Dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia peranan merek menjadi sangat penting dalam menjaga persaingan usaha yang sehat. Undang-Undang merek merupakan bentuk pengaturan tentang merek sebagai peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu merek memegang peranan yang penting terutama dalam dunia perdagangan. Dengan adanya merek masyarakat dapat menentukan pilihannya kepada suatu produk yang mempunyai merek. Merek adalah jaminan suatu produk barang atau jasa.
Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, yang dimaksud dengan Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam dunia perdagangan barang atau jasa. Merek dibagi menjadi dua, yaitu merek dagang dan merek jasa. Sedangkan merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan barang atau jasa sejenisnya. Dalam merek ada istilah lisensi yaitu izin yang diberikan oleh pemilik merek terdaftar kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakan merek tersebut, untuk barang atau jasa. Selain itu merek dapat diartikan
8 Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), h. 69.
9Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, .... h. 53.
51
sebagai tanda pengenal yang membedakan milik seseorang dengan milik orang lain. Merek adalah tanda pengenal suatu produk yang dapat digunakan untuk membedakan antara barang atau jasa yang satu dengan yang lain.
Merek adalah suatu hak kekayaan intelektual yang perlu dilindungi.10
Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, dijelaskan bahwa hak atas Merek adalah hak khusus yang diberikan Negara kepada pemilik merek terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk jangka waktu tertentu menggunakan sendiri merek tersebut atau memberi izin kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum atau menggunakannya. Hak atas merek merupakan salah satu hak kekayaan intelektual yang harus dilindungi oleh Negara. Karena merek mempunyai fungsi yaitu sebagai alat pembeda antara barang atau jasa yang satu dengan barang atau jasa yang lain, terutama barang atau jasa yang sejenis. Sehingga masyarakat dapat mengerti serta dapat membedakannya antara merek terkenal dan tidak terkenal. Karena merek mempunyai arti yang sangat penting maka perlu adanya perlindungan terhadap merek atau hak atas merek kepada pemegang merek terdaftar.
Pemberian perlindungan hak atas merek, hanya diberikan kepada pemilik merek yang mereknya sudah terdaftar saja. Perlindungan merek diberikan manakala terjadi suatu pelanggaran merek yang dilakukan oleh pihak yang tidak mempunyai hak terhadap suatu merek. Dalam dunia perdagangan merek mempunyai peranan yang penting, karena dengan merek yang terkenal maka akan dapat mempengaruhi keberhasilan suatu usaha terutama dalam hal pemasaran. Dalam dunia perdagangan sering terjadi pelanggaran terhadap merek terkenal. Pelanggaran terjadi karena ada pihak yang tidak mempunyai hak menggunakan merek terdaftar untuk kepentingannya. Penyebab pelanggaran merek yang terjadi di Indonesia adalah sebagai berikut:
10Harsono Adisumarto, Hak Milik Intelektual Khusunya Hukum Paten dan Merek, (Jakarta, Akademika Pressindo, 1990), h. 19.
a. Undang-Undang HAKI di Indonesia masih lemah, pangsa pasar umumnya masyarakat lebih senang membeli produk yang harganya murah walaupun kualitasnya rendah,
b. Lemahnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan tersebut,
c. Animo masyarakar terhadap produk bermerek tetapi harganya murah, d. Daya beli masyarakat yang masih rendah,
e. Kurang memperhatikan kualitas suatu produk,
f. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pelanggaran merek yang masih rendah,
g. Kondisi perekonomian dimana masyarakat cenderung membeli merek palsu, karena murah.
Perlindungan terhadap merek terkenal diberikan oleh Negara melalui undang-undang baik perlindungan yang bersifat preventive maupun yang bersifat represif. Perlindungan yang preventitive terdapat dalam Pasal 4, 5, 6 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, sedangkan perlindungan represifnya ada dalam Pasal Ketentuan Pidana dari Pasal 90 sampai dengan Pasal 95 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Apabila terjadi pelanggaran merek maka pemilik merek akan dilindungi oleh pasal preventive dan pasal represif.
Dengan adanya perlindungan tersebut menunjukkan bahwa Negara berkewajiban dalam menegakkan hukum merek. Oleh karena itu apabila ada pelanggaran merek terdaftar, pemilik merek dapat mengajukan gugatan ke Kantor Pengadilan. Dengan perlindungan tersebut maka akan terwujud keadilan yang menjadi tujuan dari hukum. Salah satu tujuan hukum adalah mewujudkan keadilan masyarakat. Dengan perlindungan hukum maka pemilik merek yang sah terlindungi hak-haknya. Negara wajib memberikan perlindungan terhadap pihak-pihak yang dirugikan sesuai dengan konteks State Law.
Dalam kasus merek yang dialami oleh usaha dagang yang Crocodile Indonesia dan PT Crocodile Inggris, tentunya sangat berkaitan dengan teori
53
perlindungan hukum yang memiliki hubungan kuat dengan dalam menjaga dan mengawal hak asasi manusia terutama dalam bidang bisnis. Jika dikaitkan dengan teori perlindungan hukum dalam kasus tersebut bahwa usaha dagang Crocodile Indonesia bertentangan dengan hak PT Crocodile Inggris yang telah mendaftarkan merek dagangnya ke DJKI (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual).
Meskipun usaha dagang Crocodile Indonesia lolos dan mendapat nomor pendaftaran dalam seleksi DJKI, namun nama, lambang, dan barang yang didaftarkan sama persis dengan PT Crocodile Inggris yang telah didaftarkan lebih dulu. Apabila mengacu kepada konsep besar teori perlindungan hukum yang bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan kepentingan dalam masyarakat yang juga berdampingan dengan kepentingan pihak lain.
Hal tersebut dilakukan dengan cara membatasi beberapa kepentingan pihak lain.
Selain itu, konsep teori perlindungan hukum yang berkaitan dengan bidang hukum bisnis. Teori perlindungan hukum yang dikemukakan Satjipto Rahardjo menjamin bahwa sesungguhnya perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat. Dalam kasus ini terlihat jelas bahwa yang dilakukan usaha dagang Crocodile Indonesia bertentangan dengan teori perlindungan hukum yang dipaparkan oleh Satjipto Rahardjo.
Teori perlindungan hukum juga didukung dengan ketentuan dari Konvensi Paris Pasal 5 c ayat (2) yang berbunyi Penggunaan suatu merek dagang dengan pemegang hak milik yang berbeda dalam elemen-elemen yang tidak merubah karakter khusus dari merek itu dan dalam mana merek dagang tersebut telah terdaftar di salah satu negara anggota Persatuan harus tidak menyebabkan pendaftaran merek dagang tersebut menjadi tidak sah dan tidak mengurangi perlindungan yang telah diberikan tehadap merek, yang dimana pasal tersebut memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada PT Crocodile Inggris, karena kesamaan nama, lambang, dan barang,
dinilai tidak sesuai dengan landasan perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo yang menyebutkan bahwa teori perlindungan hukum lahir untuk mengurus hak dan kepentingan manusia.
55 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bab satu sampai bab empat, dapat ditarik kesimpulannya sebagai berikut:
1. Dasar pertimbangan hakim yang memutus dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011 atas perkara sengketa merek Crocodile telah sesuai dengan ketentuan yang dilihat secara yuridis dalam aspek Undang-undang Merek, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tentang Pendaftaran Merek, secara filosofis yang berintikan pada kebenaran dan keadilan dengan tujuan untuk terwujudnya kepastian hukum yang menjadi landasan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pihak yang berkepentingan, dan secara sosiologis menerapkan kaidah-kaidah hukum yang berlaku sesuai dengan kondisi dan fakta yang terjadi.
2. Perlindungan hukum memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.
Dalam kasus ini terlihat jelas bahwa yang dilakukan usaha dagang Crocodile Indonesia bertentangan dengan teori perlindungan. Teori perlindungan hukum juga didukung dengan ketentuan dari Konvensi Paris Pasal 5 c Ayat (2) yang berbunyi Penggunaan suatu merek dagang dengan pemegang hak milik yang berbeda dalam elemen-elemen yang tidak merubah karakter khusus dari merek itu dan dalam mana merek dagang tersebut telah terdaftar di salah satu negara anggota Persatuan harus tidak menyebabkan pendaftaran merek dagang tersebut menjadi tidak sah dan tidak mengurangi perlindungan yang telah diberikan tehadap merek, yang dimana pasal tersebut memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada PT Crocodile Inggris, karena kesamaan nama, lambang, dan barang, dinilai tidak sesuai dengan landasan perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo yang
menyebutkan bahwa teori perlindungan hukum lahir untuk mengurus hak dan kepentingan manusia.
B. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan yang peneliti uraikan diatas maka rekomendasi yang dapat diberikan oleh peneliti diantaranya, sebagai berikut:
1. Direkomendasikan agar semua para pebisnis di tanah air ini, khususnya dibidang perusahaan paham tentang aturan-aturan yang bersangkutan dengan Merek Dagang, serta me-review kembali peraturaan yang berlaku saat ini seperti Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang dan Indikasi Geografis, sebelum mencetuskan penemuan nama di bidang merek.
2. Untuk meminimalisir tingkat terjadinya sengketa merek, sebaiknya Undang-Undang Merek memberikan kriteria yang dapat membedakan persamaan pada pokoknya dengan persamaan secara keseluruhan, dan menerapkan syarat filosofi suatu merek sebagai kelengkapan persyaratan permohonan pendaftaran merek agar dapat menciptakan merek-merek lokal yang memiliki orisinilitas atau ciri khas bangsa Indonesia.
57
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Aaker, David. Manajemen Ekuitas Merek, Jakarta: Spektrum, 2009.
Adisumarto, Harsono. Hak Milik Intelektual Khusunya Hukum Paten dan Merek, Jakarta: Akademika Pressindo, 1990.
AIPO, "Brochur Trademark Application", Sydney, Australia, 1997.
Akbar Silondae, Arus. Aspek Hukum Dalam Ekonomi dan Bisnis, Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2010.
Amirudin & H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2006.
Arto, Mukti. Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004.
Dianggoro, Wiratmo. Pembaharuan Undang- Undang Merek dan Dampaknya Bagi Dunia Bisnis, Jakarta: Yayasan Perkembangan Hukum Bisnis, 1997.
Djaja, Ermansyah. Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Djumhana, Muhamad. dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual Sejarah (Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia), Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003.
Firmansyah, Muhammad. Tata Cara Mengurus HAKI, (Jakarta: Visi Media, 2008.
Hasibuan, Effendy. Perlindungan Merek Studi Putusan Pengadilan Indonesia dan Amerika Serikat, Jakarta, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003.
Jened, Rahmi. Implikasi Persetujuan TRIPs Bagi Perlindungan Merek di Indonesia, Surabaya, Yuridika, 2000.
Kadir Muhammad, Abdul. Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, PT.
Citra Aditya Bandung, 2007
Mahmud Marzuki, Peter. Penelitian Hukum, Ed.Revisi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2005.
Mustafa, Marni Emmy. Aneka Penegakan Hukum Hak Cipta, Paten, Merek dan Indikasi Geografis, Cet. Ke-2, Bandung: PT Alumni, 2018.
Natzir Said, M. Hukum Perusahaan di Indonesia 1 (Perorangan), Bandung:
Alumni, 1987.
Purwaka, Tommy Hendra. Perlindungan Merek, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018.
Rasjidi, Lili. dan I.B Wysa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Bandung:
Remaja Rusdakarya, 1993.
Raharjo, Satjipto. Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000.
Rifa'i, Achmad. Penemuan Hukum oleh Hakim (Dalam Perspektif Hukum Progresif), Jakarta: Sinar Grafika, 2011.
Saidin, Aspek Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Right), Jakarta: Raja Grafindo, 1995.
Saidin, OK. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013.
Syarifin, Pipin. Dedah Jubaedah, Peraturan Kekayaan Intelektual di Indonesia, Bandung: Pustakan Bani Quraisy, 2004.
Yahya Harahap, M. Tinjauan Merk Secara Umum Dan Hukum Merk Di Indonesia Berdasarkan Undang-undang No. 19 Tahun 1992, Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, 1996.
B. Jurnal
“Buku Panduan Hak Kekayaan” sesuai artikel di http://jip.jogjaprov.go. id/
dokumen/panduan_hki. pdfdiakses pada tanggal 15 Februari 2019, pukul 12:48
Ativiyanti Meikasari, Avid. Analisis Yuridis Terhadap Sengketa Merek Lameson dan Flameson Terkait Merek Yang Memiliki Persamaan Pada Pokoknya Untuk Barang Sejenis, Universitas Negeri Semarang, 2016.
Danu Tejo Mukti, "Analisis Sengketa Pembatakan Merek Terhadap Barang
59
Tidak Sejenis Dalam Perkara Pembatalan Merek Nashua No 166 PK/PDT.SUS/2010 Dikaitkan Dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek", Fakultas Hukum Padjajaran, 2012.
HM. Soerya Respationo, "Putusan Hakim: Menuju Rasionalitas Hukum Refleksi dalam Penegakan Hukum Jurnal Hukum Yustitia. No.86 Th. XXII Mei-Agustus 2013", Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2013.
Khairandy, Ridwan. "Perlindungan Hukum Merek Terkenal di Indonesia." vol.
6, no. 12, Universitas Islam Indonesia, 1999.
KP-KIAT, Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual, Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2006.
Kumalasari, Nuzulia. Pentingnya Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Dalam Era Globalisasi, Qistie 3 No. 3, 2009.
L. Hendi Permana, "Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Dalam Penjatuhan Pidana Di Bawah Minimum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Kesusilaan (Perkara No. 107/Pid.Sus/2015/Pn.Met)", Fakultas Hukum Universitas Lampung Jurnal, 2016.
Maharani, Safira. Perlindungan Hukum Terhadap Pendaftaran Pertama Merek Dalam Tindakan Passing Off (Analisis Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 890 K/Pdt.Sus/2012), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2016.
Munandar, Harris. dan Sally Sitanggang, Mengenal HAKI (Hak Kekayaan Intelektual : Hak Cipta, Paten, Merek dan Seluk-beluknya), http://www.hakiindonesia.co.id, diakses pada tanggal 5 Juli 2019
Profil dan Sejarah Dari Brand Crocodile, diakses dari
https://www.pgsjjakarta.com/2017/10/profil-dan-sejarah-dari-brand-crocodile.html pada tanggal 17 September 2019
Purwadi, Ari. Aspek Hukum Perdata Pada Perlindungan Konsumen, (Yuridika, Majalah Fakultas Hukum Airlangga, Nomor 1 Dan 2, Tahun VII, Jan-Feb-Maret), h. 59