iv ABSTRAK
VINATA PUTRI ADILLA, NIM 11150480000168, “Hak Eksklusif Merek Terkenal Pada Ketentuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011)”. Konsentrasi Hukum Bisnis, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam putusan Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011 antara Crocodile The Chillington dan Crocodile Indonesia, dan perlindungan hukum sengketa Merek antara Crocodile The Chillington dan Crocodile Indonesia. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu normatif-doktriner dengan pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) dan kasus (Case Approach). Selanjutnya, penelitian ini diperoleh dari studi kepustakaan (Library Research) dengan melakukan pengkajian terhadap sumber data yang terdiri dari bahan hukum primer yaitu putusan mahkamah agung dalam perkara Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011, Undang- undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis serta sumber data sekunder yang didapat dari literatur-literatur hukum yang terkait dengan objek penelitian yakni buku, jurnal, dan artikel.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa hakim Mahkamah Agung pada putusannya mengabulkan seluruh gugatan Penggugat, dengan pertimbangan hakim yang menyatakan bahwa Penggugat adalah pemagang hak khusus dari merek dagang Crocodile Inggris. Gugatan yang dilayangkan Crocodile Inggris dikabulkan karena Crocodile Indonesia terbukti memplagiasi Crocodile Inggris.
Dengan dasar pertimbangan tersebut, hakim memutuskan merek dagang bahwa Crocodile Indonesia harus dibatalkan dari Daftar Umum Merek karena dalam Pasal 76 ayat 1 huruf (b) menyatakan bahwa merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya untuk barang yang sejenis harus dihentikan semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut.
Kata Kunci : Merek Terkenal, Sengketa Merek, Plagiasi Merek.
Pembimbing Skripsi : Mustolih Siradj, S.H.I., M.H.
Daftar Pustaka : Tahun 1983 sampai Tahun 2019.
v
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya dan telah memberikan kemudahan sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “HAK EKSKLUSIF MEREK TERKENAL PADA KETENTUAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011)” dapat diselesaikan dengan baik, walaupun terdapat beberapa kendala yang dihadapi saat proses penyusunan skripsi ini.
Penelitian skripsi ini tidak dapat dicapai tanpa adanya bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa hormat saya ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. M. Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H. Ketua Program Studi Ilmu Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum.
Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Mustolih Siradj, S.H.I., M.H., Pembimbing Skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya serta kesabaran dalam membimbing sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini.
4. Kepala Urusan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pimpinan Pusat Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah menyediakan fasilitas yang memadai guna menyelesaikan penelitian skripsi ini.
5. Kedua orang tua saya dan kakak adik saya tersayang yang selalu memberikan dukungan serta doa yang tak pernah henti untuk peneliti.
Semoga peneliti dapat selalu membahagiakan dan membanggakan keluarga serta selalu dalam ridho Allah SWT.
vi
6. Semua Pihak terkait yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah memberikan semangat dan doa tanpa henti kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Akhir kata, peneliti berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat. Terima Kasih.
Wassalamu'alaikum, Wr.Wb
Ciputat, 28 April 2020
Vinata Putri Adilla
vii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...i
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI...ii
LEMBAR PERNYATAAN...iii
ABSTRAK...iv
KATA PENGANTAR...v
DAFTAR ISI...vii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah...3
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian...4
D. Metode Penelitian...5
E. Sistematika Pembahasan...7
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI HAK MEREK DALAM HAK INDONESIA DAN CROCODILE INGGRIS...24
A. Profil Perusahaan...24
1. The Chillingtoon Tool Company Limited (Crocodile Inggris)...24
2. Crocodile Indonesia...25
B. DudukPerkara...26
C. Posisi Kasus...29
KEKAYAAN INTELEKTUAL... 9
A. Kerangka Konseptual...9
1. Pengertian Hak Kekayaan Intelektual...9
2. Pengertian Merek...12
3. Pelanggaran Merek...15
4. Perlindungan Merek Terkenal...17
B. KerangkaTeori...21
1. Teori Perlindungan Hukum...21
C. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu...22 BAB III DUDUK PERKARA SENGKETA MEREK DAGANG CROCODILE
viii
A. Pertimbangan Putusan Hakim Mahkamah Agung Dalam Kasus Merek
Crocodile...41
55 B. Putusan Hakim Terhadap Gugatan Penggugat...47
C. Perlindungan Hukum Bisnis di Bidang Merek...48
BAB V PENUTUP...53
A. Kesimpulan...53
B. Rekomendasi...54
DAFTAR PUSTAKA BAB IV ANALISIS KASUS PERSAMAA .... ... N MEREK DAGANG ANTARA CROCODILE INDONESIA DAN CROCODILE INGGRIS MENURUT PUTUSAN PENGADILAN NEGERI NIAGA JAKARTA PUSATDAN MAHKAMAH AGUNG...41
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara hukum yang dideklarasikan secara tegas dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, secara konseptual memiliki suatu komponen penting yakni adanya penjaminan Hak Asasi Manusia yang di realisasi kan dengan hadirnya Pasal 28 A-J Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Penjaminan Hak Asasi Manusia sendiri meliputi beberapa aspek baik politik, sosial, budaya dan bahkan ekonomi. Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam aspek ekonomi, salah satunya adanya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual dengan tujuan melindungi hak-hak masyarakat yang berkaitan dengan kekayaan intelektual, perlindungan ini mencegah terjadinya pelanggaran atas hak kekayaan intelektual.
Pengertian mengenai Hukum Kekayaan Intelektual dalam sistem hukum Anglo Saxon dikenal istilah hukum Intelectual Property Rights dan terserap pula kedalam sistem hukum Eropa kontinental yang kemudian dipergunakan dalam sistem hukum Indonesia. Istilah hukum tersebut diterjemahkan kedalam bahasa indonesia menjadi 2 macam istilah hukum:
Hak Milik Intelektual dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Perbedaan terjemahan terletak pada kata property. Kata tersebut memang dapat diartikan sebagai kekayaan, dapat juga sebagai milik.1
Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak yang berkenaan dengan kekayaan yang timbul karena kemampuan intelektual manusia. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) telah menjadi bagian penting dalam perkembangan perkonomian Nasional maupun Internasional. Indonesia sebagai negara berkembang harus mampu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk dapat mengantisipasi segala perubahan dan perkembangan serta
1Abdulkadir Muhammad, Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, (Bandung: PT. Citra Aditya, 2007), h.1.
kecenderungan global sehingga tujuan nasional dapat tercapai. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah memasyarakatkan dan melindungi kekayaan intelektual. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Ditjen HKI) berusaha untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, memasyarakatkan kekayaan intelektual, dan menjamin kepastian hukum dalam rangka mewujudkan institusi kekayaan intelektual berstandar internasional.2
Hak kekayaan intelektual merupakan hak privat dan memiliki keistimewaan tersendiri dibanding hak perdata lainnya. Keistimewaannya yakni pada sifat eksklusifnya. Hak kekayaan intelektual hanya diberikan dan berlaku kepada pemiliknya, si pencipta, penemu ataupun pemegang karya intelektual lainnya. Pihak mana pun dilarang untuk meniru, memakai, dan mempergunakan dalam perdagangan suatu karya intelektual tanpa seizin pemiliknya. Ekslusivitas hak kekayaan intelektual memberi hak paling unggul kepada pemiliknya. Hak kekayaan intelektual merupakan bagian dari harta kekayaan (kebendaan). Harta kekayaan adalah benda milik orang atau badan yang memiliki nilai ekonomi, diakui dan dilindungi oleh hukum berdasarkan bukti yang sah, serta dapat dialihkan kepada pihak lain, baik karena perjanjian maupun karena undang-undang.3
Dalam kasus ini permasalahannya adalah act of omission (tindakan pembiaran), yang dilakukan oleh negara atau institusi/
organisasi/perkumpulan. Tindakan pembiaran yang dilakukan oleh negara Indonesia dalam hal ini Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual yang mengesahkan merek yang serupa dengan merek produk lain. Hal ini terjadi di kasus The Chillington yang melaporkan bahwa ada perusahaan Indonesia yang melakukan plagiasi terhadap merek Crocodile. Dari pemaparan tersebut peneliti tertarik untuk menganalisis dan membahas masalah ini dengan mengambil judul “HAK EKSKLUSIF MEREK TERKENAL PADA KETENTUAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2016
2“Buku Panduan Hak Kekayaan” sesuai artikel di http://jip.jogjaprov.go. id/
dokumen/panduan_ hki. pdf diakses pada tanggal 15 Februari 2019, pukul 12:48
3Abdulkadir Muhammad, Hukum Ekonomi, … h. 13.
3
TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011)”
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dijabarkan sebelumnya, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Perlindungan merek bagi pendaftar pertama menurut ketentuan undang-undang.
b. Standar pengawasan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual terhadap peniruan dalam merek belum optimal.
c. Ketentuan hukum melindungi merek dari itikad tidak baik pendaftar selanjutnya.
d. Kebijakan perlindungan hukum merek di Indonesia.
e. Perlindungan hukum masih kurang terhadap merek terkenal yang telah terdaftar.
2. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, agar terfokus dan tidak terlalu melebar dalam pembahasannya, maka peneliti membatasi permasalahan dalam penulisan ini mengenai pembahasan mengenai sengketa yang terjadi antara Crocodile The Chillington dan Crocodile Indonesia Putusan Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah, maka peneliti membatasi permasalahan dalam penulisan ini mengenai ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan untuk pendaftar merek pertama. Untuk mempertegas masalah utama yang diuraikan di atas maka peneliti menjabarkan penulisan ini melalui rincian perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan:
a. Bagaimana pertimbangan hakim dalam putusan No. 803 K/Pdt.Sus/2011 antara Crocodile Inggris dan Crocodile Indonesia?
b. Bagaimana perlindungan hukum sengketa Merek antara Crocodile Inggris dengan Crocodile Indonesia?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Terdapat beberapa hal yang dijadikan tujuan dalam penelitian yang dilakukan, antara lain:
a. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam putusan Nomor Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011 pada perkara pembatalan merek terdaftar terkait dengan prinsip itikad tidak baik dalam sistem pendaftaran merek.
b. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam putusan sengketa merek antara Crocodile Inggris dengan Crocodile Indonesia.
2. Manfaat Penelitian
Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan manfaat dalam penelitian yang dilakukan, antara lain:
a. Manfaat Teoritis
Melatih kemampuan untuk melakukan penelitian secara ilmiah dan menuliskan hasil-hasil penelitian tersebut kedalam bentuk tulisan, menerapkan teori-teori yang diperoleh dari bangku perkuliahan untuk di praktikan di lapangan dan untuk memperoleh manfaat di bidang hukum pada umumnya maupun bidang ketatanegaraan secara khususnya dengan mempelajari literatur yang ada serta perkembangan hukum yang timbul di dalam kehidupan masyarakat.
b. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah menggali lebih dalam peraturan perundang-undangan yang ada, serta sebagai bahan rujukan tulisan dimasa mendatang terkait perlindungan Hak Kekayan Intelektual terkhusus pada Hak Merek akan menambah pengetahuan
5
serta kepekaan atas situasi aktifitas kehidupan hukum yang terjadi di dalam masyarakat yang mengenai akan hal tersebut.
D. Metode Penelitian
Ada beberapa hal terkait metode yang digunakan dalam penulisan ini antara lain:
1. Jenis Penelitian
Untuk memperoleh data atau informasi dalam penulisan penelitian ini, penulis memilih metode penelitian dengan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang dapat diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah memperoleh pemahaman, mengembangkan teori dan menggambarkan secara kompleks.
Pendekatan kualitatif ini memang tidak terlalu membutuhkan data yang banyak dan lebih bersifat monografis, atau berwujud kasus-kasus.
Berbeda halnya dengan pendekatan kuantitatif yang membutuhkan banyak data atau berjumlah besar sehingga dalam mengkualifikasi dalam kategori-kategori lebih mudah.4
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah normatif-doktriner. Pendekatan normatif-doktriner tersebut mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat, dengan 2 (dua) pendekatan penelitian, yaitu pendekatan perundang-undangan (Statue Approach) yakni pendekatan dengan memandang hukum sebagai sebuah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Jika
4Amirudin & H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), h. 167-168.
demikian, pendekatan peraturan perundang-undangan adalah pendekatan dengan menggunakan legislasi dan regulasi.5 Pendekatan penelitian ini juga menggunakan pendekatan kasus (Case Approach) yang memberikan penerapan-penerapan dari norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktek hukum. Dalam menggunakan pendekatan kasus, peneliti melakukan analisis pada ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum hakim yang digunakan oleh hakim untuk sampai pada putusannya.6 3. Data Penelitian dan Bahan Penelitian
Data penelitian dan bahan penelitian yang digunakan dalam penelitan ini, dikelompokan menjadi 3 (tiga) jenis bahan hukum, diantaranya:
a. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri atas perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.7
Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pasal 69 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek, dan telah diperbaharui dalam Pasal 77 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, dan putusan Mahkamah Agung Nomor 803 K/Pdt.Sus/2011.
b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari buku-buku, skripsi, dan jurnal yang berkenaan dengan Hak Asasi Manusia, Hak Kekayaan Intelektual, Hak Merek.
c. Bahan non-Hukum
5Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Ed.Revisi, (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2005), h. 137.
6Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, ... h. 158.
7Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, ... h. 181.
7
Penelitian ini menggunakan bahan atau rujukan yang berupa petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus hukum, ensklopedia, berita, dan lain- lain.
4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan dengan mencari referensi untuk mendukung materi penelitian ini melalui berbagai literatur seperti buku, bahan ajar perkuliahan, artikel, jurnal, skripsi, tesis dan undang- undang di berbagai perpustakaan umum serta universitas.
5. Teknik Pengelolaan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif-kualitatif.
Analisis deskriptif-kualitatif adalah data yang diedit dan dipilih menurut kategori masing-masing dan kemudian dihubungkan satu sama lain atau ditafsirkan dalam usaha mencari jawaban atas masalah penelitian.
Secara detail langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan analisis tersebut adalah : Pertama, semua bahan hukum yang diperoleh melalui normatif disistematisir dan diklasifikasikan menurut objek bahasanya. Kedua, setelah disistematisir dan diklasifikasikan kemudian dilakukan eksplikasi, yang diuraikan dan di jelaskan objek yang diteliti berdasarkan teori. Ketiga, bahan yang dilakukan evaluasi, yakni dinilai dengan menggunakan ukuran ketentuan hukum maupun teori hukum yang berlaku.
E. Sistematika Pembahasan
Pedoman penulisan yang digunakan oleh peneliti dalam menyusun skripsi ini berpacu dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah dan buku
“Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2017”.
Untuk mempermudah penulisan dalam penelitian ini maka peneliti akan menguraikan metode penulisan yang terdiri dari 5 (lima) bab sebagai berikut:
BAB -I : Merupakan Pendahuluan, pada bab ini akan diuraikan mengenai: Latar Belakang Masalah, Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Pedoman Penelitian dan Sistematika Pembahasan.
BAB -II : Merupakan Kajian Pustaka yang dalam bab ini akan diuraikan mengenai kajian teoritis yang terdiri dari pemaparan kerangka konsep yakni pengertian dan tinjauan terkait hak kekayaan intelektual, dan hak merek.
BAB –III : Merupakan bab yang menguraikan tentang data penelitian, berupa regulasi penyelesaian sengketa merek didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek Dan Indikasi Geografis.
BAB -IV : Merupakan bab yang membahas mengenai kasus sengketa merek dan analisis akan regulasi dari penyelesaian sengketa merek didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek Dan Indikasi Geografis.
BAB -V : Merupakan bab penutup. Bab ini merupakan bagian akhir dari seluruh kegiatan penelitian, yang berisi kesimpulan dan rekomendasi yang didapatkan berdasarkan paparan dari bab- bab sebelumnya.
9 BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI HAK MEREK DALAM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
A. Kerangka Konseptual
1. Pengertian Hak Kekayaan Intelektual
Hukum hak kekayaan intelektual adalah hukum yang mengatur perlindungan bagi para pencipta dan penemu karya-karya inovatif sehubungan dengan pemanfaatan karya-karya mereka secara luas dalam masyarakat, karena itu tujuan hukum hak kekayaan intelektual adalah menyalurkan kreativitas individu untuk kemanfaatan manusia secara luas.1 Istilah hak kekayaan intelektual merupakan terjemahan dari istilah Intellectual Property Rights dalam sistem hukum Anglo Saxon.
Sedangkan istilah hak atas milik intelektual merupakan terjemahan dari istilah intellectuele eigendomsrecht (Bahasa Belanda) dalam sistem hukum kontinental.2
Substansinya hak atas kekayaan intelektual merupakan bagian dari benda yaitu benda tidak berwujud (benda immateril). Benda dalam kerangka hukum perdata diklasifikasikan dalam dua kategori yaitu benda berwujud dan tidak berwujud. Dalam konteks ini dilihat pengertian benda dalam hak atas kekayaan intelektual yang dimaksud. untuk memahami lebih lanjut mengenai benda yang dimaksud dapat dilihat dalam Pasal 499 KUHPerdata berbunyi "Menurut paham undang-undang yang dimaksud dengan benda ialah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik". Dapat kita simpulkan bahwasanya benda terdiri dari sebuah barang dan hak milik.3
1Nuzulia Kumalasari, Pentingnya Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Dalam Era Globalisasi, (Qistie 3 No. 3, 2009), h. 25.
2Pipin Syarifin dan Dedah Jubaedah, Peraturan Kekayaan Intelektual di Indonesia, (Bandung: Pustakan Bani Quraisy, 2004), h. 1.
3OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), h. 11.
Hak Kekayaan Intelektual selalu mengandung tiga unsur yaitu mengandung hak eksklusif yang diberikan oleh hukum, hak tersebut berkaitan dengan usaha manusia yang didasarkan pada kemampuan intelektual, dan kemampuan intelektual tersebut memiliki nilai ekonomi.4 Pada intinya hak kekayaan intelektual adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreatifitas intelektual.5 Hak yang berasal dari hasil kegiatan intelektual manusia yang mempunyai manfaat ekonomi. Konsepsi mengenai hak kekayaan intelektual didasarkan pada pemikiran bahwa karya intelektual yang telah dihasilkan manusia memerlukan pengorbanan tenaga, waktu dan biaya. Adanya pengorbanan ini menjadikan karya yang telah dihasilkan memiliki nilai ekonomi karena manfaat yang dapat dinikmatinya. Berdasarkan konsep ini maka mendorong kebutuhan adanya penghargaan atas hasil karya yang telah dihasilkan berupa perlindungan hukum bagi hak kekayaan intelektual.
Ada beberapa macam bentuk hak kekayaan intelektual, yaitu:
a. Hak Cipta (Copy Right)
Hak cipta adalah hak eksklusif atau yang hanya dimiliki si Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil karya atau hasil olah gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan" atau hak untuk menikmati suatu karya. Hak cipta juga sekaligus memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi pemanfaatan, dan mencegah pemanfaatan secara tidak sah atas suatu ciptaan. Mengingat hak eksklusif itu mengandung nilai ekonomis yang tidak semua orang bisa membayarnya, maka untuk adilnya hak eksklusif dalam hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas. 6
4Arus Akbar Silondae, Aspek Hukum Dalam Ekonomi dan Bisnis, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2010), h. 155-156.
5Muhammad Firmansyah, Tata Cara Mengurus HAKI, (Jakarta: Visi Media, 2008), h.7.
6Harris Munandar dan Sally Sitanggang, Mengenal HAKI (Hak Kekayaan Intelektual : Hak Cipta, Paten, Merek dan Seluk-beluknya), http://www.hakiindonesia.co.id, diakses pada tanggal 5 Juli 2019
11
b. Paten (patent)
Menurut Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten, pengertian paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.
c. Desain Industri (industrial design)
Desain Industri adalah bagian dari Hak Atas Kekayaan Intelektual. Perlindungan atas Desain Industri di dasarkan pada konsep pemikiran bahwa lahirnya desain industri tidak terlepas dari kemampuan kreatifitas cipta, rasa dan karsa yang dimiliki oleh manusia. Jadi ia merupakan produk intelektual manusia, produk perdaban manusia.7
d. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (integrated circuit layout design) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Sirkuit Terpadu (integrated circuit) adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang di dalamnya terdapat elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik.
e. Rahasia Dagang (trade secret)
Rahasia dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum dibidang teknologi dan atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiannya oleh pemilik rahasia dagang.8
f. Perlindungan Varietas Ranaman (plant varieties protection)
Varietas Tanaman adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, bijidan ekspresi karakteristik genotipe atau
7OK Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 467.
8Ermansyah Djaja, Hukum Hak Kekayaan Intelektual, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 362.
kombinasi genotipe yang dapat membedakan dari jenis atau spesies yang sama oleh sekurangkurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan.9
g. Merek (trademark)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis merupakan dasar-dasar hukum yang terbaru tentang perlindungan merek di Indonesia. Sampai saat ini, tercatat pemerintah telah empat kali merevisi Undang-Undang Merek, yaitu tahun 1992 (Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992), tahun 1997 (Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1997), tahun 2001 (Undang- Undang Nomor 2015 tahun 2001) dan tahun 2016 (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016). Menurut Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016, merek adalah tanda yang dapat di tampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.
2. Pengertian Merek
Merek (trademark) sebagai hak atas kekayaan intelektual pada dasarnya ialah tanda untuk mengidentifikasikan asal barang dan jasa (an indication of origin)10 dari suatu perusahaan dengan barang dan/atau jasa perusahaan lain. merek merupakan ujung tombak perdagangan barang dan jasa. melalui merek, pengusaha dapat menjaga dan memberikan jaminan akan kualitas (a guarantee of quality)11 barang dan/atau jasa yang dihasilkan dan mencegah tindakan persaingan (konkurensi) yang tidak jujur dari pengusaha lain yang beritikad buruk yang bermaksud membonceng reputasinya.12
9KP-KIAT, Buku Panduan Hak Kekayaan Intelektual, (Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2006) h. 65.
10Rahmi Jened, Implikasi Persetujuan TRIPS Bagi Perlindungan Merek di Indonesia, (Surabaya: Yuridika, 2000), h.1.
11AIPO, "Brochur Trademark Application", (Sydney, Australia, 1997), h. 1-2.
12AIPO, "Brochur Trademark Application", ... h. 15.
13
Pengertian merek yang diberikan TRIPs tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) TRIPs Agreement:
"Any sign, or any combination of signs, capable of distinguishing the goods or services of one undertaking from those of other undertakings, shall be capable of constituting a trademark. Such signs, in particular words including personal names, letters, numerals, figurative elements and combinations of colours as well as any combination of such signs, shall be eligible for registration as trademarks. Where sign are not inherently capable of distinguishing the relevant goods or services.
Members may make registrability depend on distinctiveness acquired through use. Members may require, as a condition of registration, that signs be visually perceptible."13
"Setiap lambang, atau kombinasi dari beberapa lambang, yang mampu membedakan barang atau jasa suatu usaha dari usaha lain, dapat menjadi merek dagang. Lambang-lambang dimaksud, terutama yang berupa rangkaian kata-kata dari nama pribadi, huruf, angka, unsur figur dan kombinasi dari beberapa warna dapat didaftarkan sebagai merek dagang. Dalam hal suatu lambang tidak dapat membedakan secara jelas beberapa barang atau jasa satu sama lain. Anggota dapat menetapkan persyaratan bagi pendaftarannya pada sifat pembeda yang diperoleh karena penggunaannya. Anggota dapat menetapkan persyaratan, sebagai syarat pendaftaran suatu merek dagang, agar suatu lambang dapat divisualisasikan."
Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang merek, antara lain:
a. OK. Saidin, S.H, M.Hum., menyatakan bahwa merek adalah suatu tanda (sign) untuk membedakan barang-barang atau jasa yang sejenis yang dihasilkan atu diperdagangkan seseorang atau kelompok orang atau badan hukum dengan barang-barang atau jasa yang sejenis yang dihasilkan oleh orang lain, yang memiliki daya pembeda maupun
13WTO, Section2: trademarks Article 15 Protectable Subject Matter http://www.wto.org/english/docs_e/legal_e/27-trips_04_e.htm, Article 15 Protectable Subject Matter, diakses pada tanggal 5 Januari 2020, pukul 18.07 WIB.
sebagai jaminan atas mutunya dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.14
b. David Aaker menyatakan merek adalah nama atau simbol yang bersifat membedakan (seperti logo, cap, atau kemasan) engan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seseorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu. Dengan demikian konsumen dapat membedakannya dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh para kompetitor. Sehingga merekpada gilirannya dapat memberikan tanda kepada konsumen mengenai sumber produk tersebut dan melindungi konsumen maupun perusahaan dari para kompetitor yang berusaha membuat produk-produk yang tampak identik.15
c. Molengraaf mengemukakan bahwa merek yaitu dengan mana dipribadikanlah sebuah barang tertentu, untuk menunjukkan asal barang, dan jaminan kualitas sehingga bisa dibandingkan dengan barang-barang sejenis yang dibuat, dan diperdagangkan oleh orang, atau perusahaan lain.16
d. Philip S. James menyatakan bahwa merek dagang adalah suatu tanda yang dipakai oleh seorang pengusaha atau pedagang untuk menandakan bahwa suatu bentuk tertentu dari barang-barang kepunyaannya, pengusaha atau pedagang tersebut tidak perlu penghasilan sebenarnya dari barang-barang itu, untuk memberikan kepadanya hak untuk memakai sesuatu merek, cukup memadai jika barang-barang itu ada di tangannya dalam lalu lintas perdagangan.17 Merek dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis yang dikenal di masyarakat, diantaranya yaitu:
a. Merek Biasa (Normal Marks), disebut juga sebagai normal mark yang tergolong kepada merek biasa adalah merk yang tidak memiliki
14OK Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan, ... h. 345.
15David Aaker, Manajemen Ekuitas Merek, (Jakarta: Spektrum, 2009), h. 16.
16Muhamad Djumhana dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual Sejarah (Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia), (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003), h. 164.
17OK Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan, ... h. 34.
15
reputasi tinggi. Merek yang berderajat biasa ini dianggap kurang memberi pancaran simbolis gaya hidup, baik dari segi pemakaian dan teknologi, masyarakat atau konsumen melihat merek tersebut kualitasnya rendah.
b. Merek Terkenal (Well Known Mark), merek terkenal biasa disebut sebagai well known mark. Merek jenis ini memiliki reputasi tinggi karena lambangnya memiliki kekuatan untuk menaik perhatian.
Merek yang demikian itu memiliki kekuatan pancaran yang memukau dan menarik, sehingga jenis barang apa saja yang berada dibawah merek ini langsung menimbulkan sentuhan keakraban (familiar attachment) dan ikatan mitos (famous mark).
c. Merek Termashyur (Famous Mark), tingkat derajat merek yang tertinggi adalah merek termahsyur. Sedemikian rupa tingkat termahsyurnya di seluruh dunia, mengakibatkan reputasinya digolongkan sebagai merek aristokrat dunia. Derajat merek termahsyur pun lebih tinggi daripada merek biasa, sehingga jenis barang apa saja yang berada dibawahnya merek ini langsung menimbulkan sentuhan mitos. Oleh karena definisi tersebut bagi yang mencoba, besar sekali kemungkinannya akan terjebak dengan perumusan tumpang tindih merek terkenal.18
3. Pelanggaran Merek
Arti pelanggaran merek menurut Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis Nomor 20 Tahun 2016 dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu:
a. Perbuatan pelanggaran merek yang dilakukan secara sengaja dan tanpa hak dengan menggunakan merek yang sama;
b. Perbuatan pelanggaran merek yang dilakukan secara sengaja dan tanpa hak dengan menggunakan merek yang serupa;
c. Perbuatan pelanggaran merek yang dilakukan karena kelalaiannya;
18M. Yahya Harahap, Tinjauan Merk Secara Umum Dan Hukum Merk Di Indonesia Berdasarkan Undang-undang No. 19 Tahun 1992, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996), h. 80.
d. Perbuatan pelanggaran merek karena menggunakan tanda yang dilindungi berdasarkan indikasi geografis atau indikasi asal yang dilakukan secara sengaja dan tanpa hak sehingga menyesatkan masyarakat mengenai asal barang dan jasa.
Pelanggaran merek dilakukan karena terkait dengan fungsi merek sebagai identitas suatu produk atau jasa yang telah mempunyai reputasi dan juga terkait dengan fungsi merek sebagai jaminan terhadap kualitas barang.19
Merek terkenal sering menjadi obyek pelanggaran karena terkait dengan reputasi yang dimiliki oleh merek terkenal tersebut. Ada beberapa faktor atau alasan yang menyebabkan pihak-pihak tertentu melakukan pelanggaran merek milik orang lain diantaranya:
a. Memperoleh keuntungan secara cepat dan pasti oleh karena merek yang dipalsu atau ditiru itu biasanya merek-merek dan barang- barang yang laris di pasaran;
b. Tidak mau menanggung resiko rugi dalam hal harus membuat suatu merek baru menjadi terkenal karena biaya iklan dan promosi biasanya sangat besar;
c. Selisih keuntungan yang diperoleh dari menjual barang dengan merek palsu itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh jika menjual barang yang asli, karena pemalsu tidak pernah membayar biaya riset dan pengembangan, biaya iklan dan promosi serta pajak, sehingga bisa memberikan potongan harga yang lebih besar kepada pedagang.
Pelanggaran terhadap merek terutama disebabkan adanya keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam perdagangan yang biasanya dilakukan dengan menggunakan merek- merek terkenal dalam masyarakat. Pelanggaran dibidang merek
19Wiratmo Dianggoro, Pembaharuan Undang- Undang Merek dan Dampaknya Bagi Dunia Bisnis, (Jakarta: Yayasan Perkembangan Hukum Bisnis, 1997), h. 34.
17
dilakukan dengan cara pemakaian merek terkenal tanpa izin atau peniruan terhadap merek terkenal dengan tujuan memudahkan pemasaran karena merek terkenal sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Pada dasarnya, untuk memahami apakah perbuatan itu merupakan pelanggaran merek, harus dipenuhi unsur-unsur berikut ini:
a. Larangan undang-undang Perbuatan yang dilakukan oleh pengguna hak kekayaan intelektual dilarang dan dapat diancam dengan hukuman oleh undang-undang.
b. Izin (Lisensi) Penggunaan Hak Kekayaan Intelektual dilakukan tanpa persetujuan (lisensi) dari pemilik atau pemegang hak terdaftar.
c. Pembatasan undang-undang Penggunaan Hak Kekayaan Intelektual melampaui batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh undang- undang.
d. Jangka waktu Penggunaan Hak Kekayaan Intelektual dilakukan dalam jangka waktu perlindungan yang telah ditetapkan oleh undang-undang atau perjanjian tertulis atau lisensi.20
4. Perlindungan Merek Terkenal
Reputasi atau itikad baik dalam dunia bisnis di pandang sebagai kunci sukses atau kegagalan dari sebuah perusahaan. Banyak pelaku usaha berjuang untuk mendapatkan dan menjaga reputasi mereka dengan mempertahankan kualitas produk dan memberikan jasa kelas satu kepada para konsumen. Kalangan pelaku usaha mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk keperluan periklanan membangun reputasi produk baru atau mempertahankan reputasi dari produk yang telah ada.
Robert S. Smith mengemukakan teoriberkaitan dengan jaminan perlindungan merek dan barang produksinya. Suatu merek menyajikan fungsi perlindungan sebagai investasi dari pemilik merek dengan itikad baik, dan melayani konsumen dengan suatu tanda yang mudah dari
20Abdulkadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, (Bandung:
Citra Aditya Bakti, 2007), h. 144.
sumber dan kualitas barang produksi dari label merek itu. Jaminan keaslian barang produksi dari pemilik merek yang beritikad baik merupakan suatu promosi untuk menghilangkan keraguan dari konsumen. Dengan demikian, perlindungan merek menjadi fungsi utama dan sekaligus melindungi konsumen dari membeli barang palsu.
William Jay Gross menyatakan, basis dari suatu merek mempunyai fungsi untuk memberi keuntungan kepada perusahaan dan konsumen.
Keuntungan perusahaan diperoleh dari keunggulan kompetisi dan meningkatkan keuntungan berdasarkan investasi merek yang diciptakan.
Di sisi lain, keuntungan konsumen diperoleh dari hasil merek yang menginformasikan produk dan dukungan perusahaan yang memproduksi barang-barang berkualitas. Dengan demikian, hukum merek memberikan perlindungan kepada konsumen dan perusahaan terhadap pemalsuan merek.21 Pemakaian merek atas barang-barang produksi bertujuan untuk melindungi masyarakat konsumen dari bujukan yang dilakukan pesaing atau pemalsu merek. Produsen barang memakai simbol merek untuk promosi dalam rangka memperoleh simpati konsumen. Karena loyalitas konsumen terhadap suatu simbol merek merupakan bagian dari itikad baik bisnis.
Hukum melindungi orang-orang yang memiliki reputasi dari orang- orang yang ingin “membonceng” kesuksesan mereka. Meskipun reputasi tersebut adalah sesuatu yang tidak berwujud, hukum memandangnya sebagai asset berharga yang harus dilindungi. Kompetitor atau pelaku usaha lain tidak dapat menggunakan merek-merek, tulisan-tulisan, kesan atau indikasi lain yang akan mendorong pembeli meyakini bahwa barang-barang yang dijual mereka diproduksi oleh orang lain.
Pemilik merek dapat mengajukan gugatan ganti rugi maupun tuntutan
21Effendy Hasibuan, Perlindungan Merek Studi Putusan Pengadilan Indonesia dan Amerika Serikat, (Jakarta, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2003), h. 18-19.
19
hukum pidana melalui aparat penegak hukum. Pemilik merek terdaftar juga memiliki hak untuk mengajukan permohonan pembatalan pendaftaran merek terhadap merek yang sama yang didaftarkan orang lain secara tanpa hak.
Perlindungan hukum yang represif ini diberikan apabila telah terjadi pelanggaran hak atas merek. Di sini peran lembaga peradilan dan aparat penegak hukum lainnya, seperti kepolisian, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan kejaksaan sangat diperlukan Pemilik merek terdaftar atau penerima Lisensi Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Niaga di wilayah hukum tempat tinggal atau domisili tergugat, terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa gugatan rugi dan/ atau penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut. Berdasarkan bukti yang cukup pihak penggugat, dengan mengajukan secara tertulis dapat meminta kepada hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan sementara tentang penyimpanan alat bukti yang berkaitan dengan pelanggaran tersebut dengan dua persyaratan yaitu melampirkan bukti kepemilikan dan melampirkan bukti adanya petunjuk awal yang kuat atas terjadinya pelanggaran merek.
Selama masih dalam pemeriksaan dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar, atas permohonan pemilik merek atau penerima lisensi selaku penggugat, hakim dapat memerintahkan tergugat untuk menghentikan produksi, pengedaran atau perdagangan barang atau jasa yang menggunakan merek tersebut secara tanpa hak. Dalam hal tergugat dituntut juga menyerahkan barang yang menggunakan merek secara tanpa hak, hakim dapat memerintahkan bahwa penyerahan barang atau nilai barang tersebut dilaksanakan setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Penggugat juga harus menunjukkan bahwa representasi yang menyesatkan dari tergugat telah menyebabkan
kerugian nyata dan kerugian tersebut akan terus berlanjut jika aktifitas tergugat diteruskan.
Penggugat dapat mengalami kerugian dalam tiga bentuk:
a. Penggugat dapat menunjukkan bahwa bisnisnya sudah menderita kerugian atau secara potensial menderita kerugian baik dalam itikad baik maupun dalam reputasi bisnisnya. Penurunan itikad baik dapat disebabkan oleh diversi perdagangan tergugat sebagai akibat dari anggapan keliru tergugat yang menciptakan kesan palsuseolah-olah barang-barang atau jasa-jasa dari penggugat maupun tergugat adalah sama atau mempunyai karakter yang sama. Penggugat juga dapat menderita kerugian melalui “pencemaran” reputasinya dimana anggapan yang keliru atas produk tergugat mengurangi kesan eksklusif atau reputasi dari produk penggugat.
b. Penggugat dapat menunjukkan bahwa tergugat merusak potensi penggugat untuk mempergunakan itikad baiknya di masa yang akan datang
c. Penggugat telah kehilangan kesempatan untuk mengembangkan usahanya di bidang lain Penyelesaian pelanggaran merek selain melalui proses Pengadilan Niaga para pihak dapat menyelesaikan sengketa melalui Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Pemilik merek terdaftar selain mendapat perlindungan hukum secara perdata juga mendapat perlindungan hukum secara pidana. Dan hak untuk mengajukan gugatan secara perdata tidak akan mengurangi hak negara untuk melakukan tuntutan tindak pidana di bidang merek.
Karena sifat dari tindak pidana tersebut adalah delik aduan maka setiap orang yang memiliki merek terdaftar dan haknya dirugikan dapat melaporkan pihak yang melakukan pelanggaran terhadap merek miliknya kepada polisi, yang disertai dengan bukti hak atas merek tersebut dan polisi akan melakukan tindakan terhadap terlapor setelah mendapatkan laporan dari pemilik merek.
21
B. Kerangka Teori
1. Teori Perlindungan Hukum
Terkait dengan teori perlindungan hukum, ada beberapa ahli yang menjelaskan bahasan ini, antara lain yaitu Fitzgerald, Satjipto Raharjo, Phillipus M Hanjon dan Lily Rasyidi. Fitzgerald mengutip istilah teori perlindungan hukum dari Salmond bahwa hukum bertujuan mengintegrasikan dam mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyrakat karena dalam suatu lalulintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan tertentu dapat dilakukan dengan cara membatasi berbagai kepentingan di lain pihak. Kepentingan hukum adalah mengurusi hak dan kepentingan manusia, sehingga hukum memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan kepentingan manusia yang perlu diatur dan dilindungi. Perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat yang pada dasarnya merupkan kesepakatan masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan perilaku antara anggota-anggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.22
Menurut Satjipto Rahardjo, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.23 Menurut Phillipus M. Hadjon bahwa perlindungan hukum bagi rakyat sebagai tindakan pemerintah yang bersifat preventif dan resprensif.
Perlindungan Hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan diskresi dan perlindungan yang resprensif bertujuan untuk mencegah terjadinya
22Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), h. 53.
23Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, … h. 69.
sengketa, termasuk penanganannya di lembaga peradilan.24 Menurut Lili Rasjidi dan I.B Wysa Putra bahwa hukum dapat didifungsikan untuk menghujudkan perlindungan yang sifatnya tidak sekedar adaptif dan fleksibel, melaikan juga predektif dan antipatif. Sedangkan menurut Lili Rasjidi dan I.B Wysa Putra bahwa hukum dapat didifungsikan untuk menghujudkan perlindungan yang sifatnya tidak sekedar adaptif dan fleksibel, melaikan juga predektif dan antipatif. 25
Sesuai dengan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa fungsi hukum adalah melindungi rakyat dari bahaya dan tindakan yang dapat merugikan dan menderitakan hidupnya dari orang lain, masyarakat maupun penguasa. Selain itu berfungsi pula untuk memberikan keadilan serta menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
C. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu
Untuk mengehindari adanya kesamaan atau plagiarisme dalam penulisan skripsi ini, maka peneliti mereview beberapa skipsi terdahulu yang pernah ada sebelumnya mengenai persamaan hak kekayaan intelektual, yang pertama adalah skripsi yang dibuat oleh Avid Ativiyanti Meikasari, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang pada Tahun 2016.
Skripsi ini membahas penelitian FLAMESON dan LAMESON yang hanya memiliki perbedaan pada huruf “F” yang menjadi pembeda di antara keduanya dan ini mengakibatkan kebingungan publik. Pertimbangan hakim harus dilakukan dengan penalaran dan acuan yang tepat agar menimbulkan keadilan bagi pihak yang bersengketa dan seluruh warga Indonesia.
FLAMESON yang sudah dibatalkan kemudian pada 2014 kembali mendaftarkan mereknya. Saran untuk lebih melakukan seleksi dalam penerimaan pendaftran merek agar tidak kembali terjadi sengketa dan hasil putusan sengketa merek yang ada lebih baik diumumkan melalui media
24Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, … h. 54.
25Lili Rasjidi dan I.B Wysa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, (Bandung: Remaja Rusdakarya, 1993), h. 118.
23
massa agar memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai merek dan diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya sengketa merek.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah peneliti lebih fokus kepada alasan hukum bagaimana Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual melindungi pendaftar merek pertama yang diplagiasi oleh pendaftar merek kedua.26
Dalam skripsi Safira Maharani Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Jakarta pada Tahun 2016, dibahas Putusan Nomor 890 K/Pdt.Sus/2012, untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap suatu merek dari tindakan passing off dan untuk mengetahui apakah interpretasi hakim dalam pertimbangan hukum pada kasus white horse ini telah sesuai dengan ketentuan pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek.27
Peneliti juga mereview dari artikel Ridwan Khairandy, Perlindungan Hukum Merek Terkenal Di Indonesia (Jurnal Hukum. No. 12 Vol. 6. 1999) (Universitas Islam Indonesia). Ia menganalisis sengketa merek yang terjadi di Indonesia, yang didominasi oleh gugatan pembatalan merek dan gugatan ganti rugi yang berkaitan dengan merek terkenal.28
26Avid Ativiyanti Meikasari, Analisis Yuridis Terhadap Sengketa Merek Lameson dan Flameson Terkait Merek Yang Memiliki Persamaan Pada Pokoknya Untuk Barang Sejenis, (Universitas Negeri Semarang, 2016), h. 10-11.
27Safira Maharani, Perlindungan Hukum Terhadap Pendaftaran Pertama Merek Dalam Tindakan Passing Off (Analisis Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 890 K/Pdt.Sus/2012), (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2016), h. 12-13.
28Ridwan Khairandy, "Perlindungan Hukum Merek Terkenal di Indonesia." vol. 6, no. 12 (Universitas Islam Indonesia, 1999), h. 75.
24 BAB III
DUDUK PERKARA SENGKETA MEREK DAGANG CROCODILE INDONESIA DAN CROCODILE INGGRIS
A. Profil Perusahaan
1. The Chillington Tool Company Limited (Crocodile Inggris)
The Chillington Tool Company Limited adalah Perseroan Terbatas (PT) yang didirikan berdasarkan hukum Negara Inggris, berkantor Pusat di Crocodile House, Strawberry Lane, Wilehall West Midlands, WV 13 3RS, England. The Chillington Tool Company Limited mempunyai beberapa merek dagang, diantaranya adalah Crocodile. Crocodile Inggris merupakan salah satu merek fashion terkemuka yang berasal dari Hong Kong, dan terkenal di dunia khususnya di Asia. Gambar buaya yang menjadi logo merek ini membuat orang mengenal merek ini sebagai cap buaya.
Crocodile Inggris didirikan pertama kali oleh Dr. Chan Shun pada tahun 1952. Ketika ia masih muda, Chan belajar menjahit dan memperbaiki mesin jahit, yang ia gunakan untuk mendapatkan uang saat bepergian ke kota-kota Cina di masa remajanya. Chan mendirikan perusahaannya, yang kemudian disebut Pabrik Kaos Pria Li Wah pada tahun 1952. Merek Crocodile diperkenalkan setelah Chan ingin produknya dikenal tangguh dan mewah seperti kulit buaya. Perusahaan ini dapat mengamankan merek dagang, awalnya terdaftar pada tahun 1910 oleh Jerman sebelum disita oleh otoritas Inggris setelah Perang Dunia II. Chan pensiun pada tahun 1970 dan membiarkan anak-anaknya menjalankan perusahaan.
Crocodile pertama kali terdaftar di Bursa Efek Hong Kong pada tahun 1971, dan pada tahun 1987 Chan menjual bisnis ini kepada Lai Sun Garment, yang dikendalikan oleh almarhum miliarder Lim Por Yen.
Awalnya, Crocodile hanya menjual kemeja, namun terus berkembang menjadi jaringan toko pakaian terbesar di Hong Kong. Merek Crocodile
25
diekspor ke Jepang, Singapura dan negara-negara Asia lainnya.
Crocodile awalnya menjual kemeja sebelum berkembang menjadi toko garmen terbesar di Hong Kong. Mereka mengekspor ke Jepang, Singapura dan negara-negara Asia lainnya. Baris kedua yang disebut Cal- Thomas dimulai di CA, AS. Crocodile muncul sebagai label mode terkemuka. Dengan perluasan garis wanita dan garis anak-anak yang disebut CrocoKids.
Pada puncaknya, pakaian Crocodile adalah rantai garmen terbesar sebelum konsepsi G2000, Giordano, U2 dan Bossini pada 1990-an. Pada tahun 1980, Crocodile bermitra dengan perusahaan pakaian Prancis Lacoste untuk menjadi distributor tunggal produk Lacoste di Hongkong.
Saat ini Crocodile mempunyai cabang resmi di Indonesia, Singapore, Malaysia, Korea, China, Taiwan, Vietnam, Thailand, India, Bangladesh, Brunei, Nepal, dan Sri Lanka.1
2. Crocodile Indonesia
Crocodile Indonesia adalah usaha dagang yang didirikan oleh Hertiny Soedjianto. Hertiny Soedjianto mendaftarkan usaha dagang ini pada tanggal 25 Maret 2004, dan diperpanjangkan jangka waktu perlindungan merek terdaftar pada tanggal 24 November 2009. Usaha dagang menurut hukum dagang adalah perusahaan perseorangan yang biasanya dilakukan atau dijalankan oleh satu orang pengusaha.
Perusahaan perseorangan ini modalnya dimiliki oleh satu orang.
Pengusahanya langsung bertindak sebagai pengelola yang kadangkala dibantu oleh beberapa orang pekerja. Pekerja tersebut bukan termasuk pemilik tetapi berstatus sebagai pembantu pengusaha dalam mengelola perusahaannya berdasarkan perjanjian kerja atau pemberian kuasa.
Perusahaan perseorangan ini biasa disebut dengan one man corporation. Dalam perusahaan perseorangan kadang-kadang tampak banyak orang yang bekerja, tetapi mereka itu adalah pembantu
1Profil dan Sejarah Dari Brand Crocodile, diakses dari https://www.pgsjjakarta.com/2017/10/profil-dan-sejarah-dari-brand-crocodile.html pada tanggal 17 September 2019
pengusaha dalam perusahaan, yang hubungan hukumnya dengan pengusaha bersifat perburuhan dan pemberian kuasa. Modal dalam perusahaan perseorangan milik satu orang, yaitu milik si pengusaha.
Karena modal ini milik satu orang, maka biasanya modal itu tidak besar.
Sebagian besar perusahaan perseorangan ini modalnya termasuk modal kecil atau modal lemah.
Kedudukan hukum dari Perusahaan Dagang (PD) atau Usaha Dagang (UD) tidaklah tegas karena tidak dapat dikategorikan dengan Maatschap, Firma, dan CV yang diatur dalam KUHD. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seakan-akan cendrung mempersamakan bentuk perusahaan perseorangan ini dengan “Handelsvennootschap”
yang dapat mendekati pengertian “vennootschap” pada umumnya seperti Maatschap, Firma, dan CV. Sedangkan pengertian vennootschap (menurut BW baru Belanda) adalah suatu perjanjian yang diadakan oleh dua orang atau lebih yang mana mengikatkan diri untuk bersama-sama membiayai, mengerjakan atau menjalankan suatu perusahaan.2
B. Duduk Perkara
Merek berdasarkan Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf- huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Namun berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.
2M. Natzir Said, Hukum Perusahaan di Indonesia 1 (Perorangan), (Bandung: Alumni, 1987), h. 51.
27
Salah satu unsur utama dari merek adalah memiliki daya pembeda yang mana daya pembeda adalah indikator untuk mempermudah mengetahui perbedaan suatu merek, daya pembeda ini dapat dilihat dari apakah dalam suatu merek terdapat persamaan pada pokoknya atau keseluruhan dengan merek lain.
Logo merek Crocodile Inggris diatas adalah logo yang dipakai Crocodile Indonesia, tanpa ada perbedaan sedikitpun. Kesamaan baik dalam bentuk penyusunan huruf, penggambaran visual, serta persamaan bunyi dalam pengucapan, maka hal ini telah melanggar fungsi dari merek tersebut.
Menurut P.D.D. Dermawan, fungsi merek ada tiga, yaitu:
1. Fungsi indikator sumber, artinya merek berfungsi untuk menunjukkan bahwa suatu produk bersumber secara sah pada suatu unit usaha dan karenanya juga berfungsi untuk memberikan indikasi bahwa produk itu dibuat secara profesional;
2. Fungsi indikator kualitas, artinya merek berfungsi sebagai jaminan kualitas khususnya dalam kaitan dengan produk- produk bergengsi;
3. Fungsi sugestif, artinya merek memberikan kesan akan menjadi kolektor produk tersebut. Tiga fungsi merek tersebut, menyebabkan perlindungan hukum terhadap merek menjadi begitu sangat bermakna. Persamaan itu tidak saja sama secara keseluruhan, tetapi memiliki persamaan secara prinsip. Sama secara keseluruhan berarti merek tersebut secara totalitas ditiru.3 Penjelasan tentang unsur utama dari merek lah yang menjadi permasalahan antara merek Crocodile Inggris dengan Crocodile Indonesia saat The Chillington mendapati mereknya di Indonesia di plagiasi oleh
3Ari Purwadi, Aspek Hukum Perdata Pada Perlindungan Konsumen, (Yuridika, Majalah Fakultas Hukum Airlangga, Nomor 1 Dan 2, Tahun VII, Jan-Feb-Maret), h. 59.
warga Semarang, Hertiny Soedjianto. Gugatan pun dilayangkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kata-kata Crocodile dan lambang buaya merupakan ciri khas dari merek Crocodile Inggris, di plagiasi oleh Crocodile Indonesia milik Hertiny Soedjianto, yang mendaftarkan merek nya ke Direktorat Jenderal HKI pada tanggal 25 Maret 2004.
Crocodile Inggris terdaftar di Direktorat Merek, Direktorat Jenderal HKI, dan Kementrian Hukum & HAM pada tanggal 12 Maret 1994, dan diperbarui pada tanggal 12 Maret 2004. Crocodile Inggris yang didirikan oleh Chan Shun pada tahun 1952, pertama kali terdaftar di Bursa Efek Hong Kong pada tahun 1971, dan pada tahun 1987 Chan menjual bisnis ini kepada Lai Sun Garment, yang dikendalikan oleh almarhum miliarder Lim Por Yen.
Crocodile Inggris dan Crocodile lokal sama-sama bergerak di bidang busana yang menjual baju, celana, sepatu, tas, dompet, dan perlengkapan busana lainnya. Busana yang di jual pun memiliki ciri khas tersendiri, yaitu lambang buaya nya yang sudah di kenal di seluruh dunia.
Persamaan antara Crocodile Inggris dan Crocodile Inggris adalah nama merek, cara pelafalan nama merek, bergerak di bidang serupa, mengikuti desain, dan menjual model barang serupa, yang merupakan bagian esensial dari merek Crocodile Inggris.
Crocodile lokal terkesan dapat mengecohkan masyarakat luas, karena tidak adanya perbedaan diantara kedua merek tersebut. Crocodile Inggris menggugat Crocodile lokal pertama kali pada tanggal 22 Juni 2011, yang didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dibawah register Nomor 67/MEREK/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst karena terlihat memiliki niat untuk membonceng ketenaran merek dagang Crocodile Inggris, bahkan Crocodile Inggris tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari Crocodile lokal.
Saat Crocodile Inggris menggunggat, ia menginginkan setidaknya merek Crocodile Indonesia dibatalkan. Dalam perkaranya penggugat meminta agar merek tergugat dibatalkan oleh Direktorat Jenderal Hak
29
Kekayaan Intelektual yang diatur dalam Pasal 70 ayat (3), dan Pasal 71 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Merek Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, yang menjelaskan bahwa pembatalan pendaftaran merek dilakukan oleh Direktorat Jenderal dengan mencoret merek yang bersangkutan dari Daftar Umum Merek dengan memberi catatan tentang alasan dan tanggal pembatalan tersebut. Dalam Pasal 20 dan 21 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis tercantum peraturan terkait merek yang tidak dapat didaftar dan ditolak, sebagai berikut:
Permohonan ditolak jika Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:
a. Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
b. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
c. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa tidak sejenis yang memenuhi persyaratan tertentu; atau
d. Indikasi Geografis terdaftar.
C. Posisi Kasus
Posisi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 803K/Pdt.Sus/2011 merupakan kasus merek antara Crocodile Inggris sebagai penggugat dan Crocodile Indonesia milik Hertiny Soedijanto sebagai tergugat. Gugatan pertama kali dilayangkan ke Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan Nomor 67/Merek/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst. pada tanggal 22 Juni 2011.
Crocodile Inggris yang dimiliki oleh The Chillington Tool Company Limited melayangkan gugatan kepada Crocodile Indonesia yang dimiliki oleh Hertiny Soedijanto karena terindikasi plagiasi. Crocodile Inggris sudah mendaftarkan merek nya ke Direktorat Merek, Direktorat Jenderal HKI, dan Kementerian Hukum & HAM sejak tanggal 12 Maret 1994, dan di perbaharui
pada tanggal 12 Maret 2004. Crocodile Inggris adalah perusahaan baju, tas, sepatu, dan aksesoris berasal dari Inggris, berdiri sejak tahun 1952 yang di rintis oleh Dr. Chan Shun. Crocodile Inggris pertama kali terdaftar di Bursa Efek Hong Kong pada tahun 1971, dan pada tahun 1987 Chan menjual bisnis ini kepada Lai Sun Garment, yang dikendalikan oleh almarhum miliarder Lim Por Yen. Pada tahun 1980, Crocodile bermitra dengan perusahaan pakaian Prancis Lacoste untuk menjadi distributor tunggal produk Lacoste di Hongkong.
Crocodile Inggris sendiri sudah berkiprah di dunia mode sejak lama, dan mempunyai lambang merek yang khas yaitu tulisan CROCODILE bergambarkan buaya disampingnya. Lambang merek yang khas itu menjadi sorotan masyarakat, terutama masyarakat menengah ke atas, karena tidak ada merek lain yang berlambangkan gambar buaya selain Crocodile Inggris.
Material baju, tas, sepatu dan aksesorisnya yang berkualitas, membuat barang-barang Crocodile Inggris di bandrol dengan harga yang tidak murah.
Karena harga nya yang tidak murah, menyebabkan masyarakat yang haus akan barang bagus namun tidak memiliki uang yang cukup membuat Crocodile palsu yang sudah pasti dengan kualitas rendah.
Crocodile Indonesia milik Hertiny Soedijanto pertama kali mendaftarkan merek dagang nya ke Direktorat Jenderal HKI pada tanggal 25 Maret 2004. Hertiny membuat merek Crocodile Indonesia dengan penulisan merek, lambang merek, barang-barang yang sama persis dengan Crocodile Inggris. Di Indonesia, stereotype barang palsu sudah biasa, menyebabkan dagangan milik Hertiny berkembang pesat, walaupun masyarakat Indonesia sudah tahu bahwa Crocodile milik Hertiny adalah barang palsu. Hertiny memasukan barang-barang dagangannya ke pasar modern & pasar tradisional dengan harga yang jauh berbeda dengan Crocodile Inggris, dan tentunya dengan kualitas yang jauh berbeda pula.
Crocodile Inggris pertama kali mengetahui bahwa mereknya di plagiasi oleh Crocodile milik Hertiny pada tanggal 22 Juni 2011, dan langsung melayangkan gugatannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang
31
didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dibawah register Nomor 67/MEREK/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst. Crocodile Inggris ingin Crocodile Indonesia dibatalkan mereknya, karena telah terindikasi plagiasi.
Crocodile Inggris memohon kepada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat agar berkenan memutuskan bahwa;
1. Crocodile Inggris menyatakan bahwa Crocodile Inggris adalah pemegang hak khusus di Indonesia dari Merek Dagang Crocodile Inggris dan mempunyai hak tunggal/khusus memakai Merek Dagang tersebut di Indonesia,
2. Crocodile Inggris dan gambar buaya merupakan bagian essential dari Merek Dagang Penggugat,
3. Crocodile Indonesia mempunyai merek yang mengandung bagian essential dari Crocodile Inggris, baik dari cara pengucapan kata, maupun dengan suara yang sama.
4. Crocodile Inggris ingin Crocodile Indonesia setidak-tidaknya membatalkan Pendaftaran Merek Nomor IDM000001038 dalam Daftar Umum, dengan segala akibat hukumnya.
Lalu, pada hari persidangan yang telah ditetapkan, untuk Crocodile Inggris (selanjutnya disebut sebagai Penggugat) hadir kuasanya George Widjojo, SH., advokat pada Kantor Pengacara George Widjojo, SH. &
Partners, yang beralamat di Jalan Kali Besar Barat Nomor 5 Jakarta Kota, sedangkan untuk Crocodile Indonesia (selanjutnya disebut sebagai Tergugat) hadir kuasanya Tjahya Kuntjara, BSc., yang beralama di Jalan Peterongan Sari Raya Nomor 22-A Semarang, dan Sri Purwaningsih SH., yang beralamat di Jalan Lamper Mijen Nomor 319-A Semarang, keduanya karyawan Usaha Dagang "Sinar Utama" yang beralamat di Kampung Utri Nomor 3 Semarang, berdasarkan surat kuasa khusus, tertanggal 16 Juli 2011, sesuai dengan surat izin untuk beracara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 67.P.H.K.I/VII/2011/PN.JKT.PST, tertanggal 26 Juni 2011, untuk Tergugat hadir kuasanya Elfrida N. Br. Nainggolan, SH., MH., pegawai Direktorat