• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HUBUNGAN HUKUM ANTARA KOPERASI

C. Perlindungan terhadap Koperasi Karyawan PT. PLN

Perjanjian Pembiayaan

Dalam rangka menyalurkan kredit dan guna mempermudah pengawasan serta untuk mencapai efisiensi maka dalam pelaksanaannya kredit di Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai, tersebut memberikan kredit kepada anggota biasa dan anggota luar biasa dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Koperasi.124

Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai dalam Pemberian pembiayaan kepada Anggota koperasi karyawan yang telah pensiun dalam prakteknya selalu memberikan pinjaman kepada anggota koperasi yang telah pensiun yang mengajukan pinjaman pada koperasi karena pihak Koperasi hanya

123 Wawancara Puspa Sari, Manager Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero), Cabang Binjai, tanggal 20 Maret 2017, pukul 11.00 WIB

124 Wawancara Puspa Sari, Manager Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero), Cabang Binjai, tanggal 20 Maret 2017, pukul 11.00 WIB

Universitas Sumatera Utara

mengetahui pinjaman anggota koperasi karyawan pada Koperasi dan Pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai hanya menanyakan kepada anggota Karyawan apakah mereka mempunyai pinjaman di luar Koperasi. Untuk itu ada kemungkinan anggota koperasi karyawan yang telah pensiun berbohong dalam menjawab pertanyyan itu agar pinjamanya disetujui pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai.

Demi terciptanya suatu persetujuan antara kedua belah pihak yang menginginkan adanya kegiatan yang saling menguntungkan dan demi terciptanya perekonomian masyarakat yang sehat maka pihak-pihak atau lembaga pemberi kredit termasuk koperasi harus melakukan penelitian terhadap debitur selaku penerima kredit pada faktor-faktor yang harus dimiliki debitur sebelum menerima kredit, faktor-faktor tersebut lazim disebut dengan The five C'5 of credit Analisys sebagai ukuran untuk menganalisis kemampuan debitur tentang kesanggupan debitur agar dapat mengembalikan pinjamanya dalam suatu permohonan kredit.

The Five C'5 Of Credit Analysis tersebut terdiri dari:125 1. Character ( watak)

Ialah keadaan watak dan sifat dari calon nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usahanya. Penilaian character merupakan penilaian terhadap kejujuran, ketulusan, kepatuhan akan janji serta kemauan kembali untuk membayar hutanghutangnya.

2. Capacity ( kapasitas )

Kapasitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh calon nasabah untuk membuat rencana dan mewujudkan rencana tersebut menjadi kenyataan, termasuk

125Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Koperasi, (Bandung, Citra Aditya Bakti :1991), Hal 48

Universitas Sumatera Utara

dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Sehingga pada nantinya calon nasabah tersebut dapat melunasi hutang-hutangnya dikemudian hari.

3. Capital (dana)

Kapital adalah dana yang dimiliki oleh calon nasabah untuk menjalankan dan memelihara kelangsungan usahanya.Adapun penilaian terhadap kapital adalah untuk mengetahui keadaan, permodalan, sumber-sumber dana dan penggunaanya.

4. Condition Of Economi (kondisi ekonomi)

Kondisi ekonomi adalah keadaan sosial ekonomi suatu saat yang mungkin dapat mempengaruhi maju mundurnya usaha calon nasabah. Penilaian terhadap kondisi yang dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana kondisi ekonomi itu berpengaruh terhadap kegiatan usaha calon nasabah dan bagaimana nasabah tersebut mengatasi atau mengantisipasinya sehingga usahanya tetap hidup dan berkembang.

5. Collateral (jaminan)

Collateral adalah barang-barang yang diserahkan calon nasabah sebagai agunan dari kredit yang akan di terimanya. Tujuan penilaian collateral adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana resiko tidak dipenuhinya kewajiban financier kepada pihak pemberi kredit dapat ditutup oleh nilai agunan yang diserahkan oleh calon nasabah . Penilaian terhadap barang agunan ini meliputi jenis atau macam barang, nilainya, lokasinya, bukti pemilikan atau status hukumnya.

Untuk melindungi koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai dalam pemberian kredit atau pinjaman kepada karyawan yang telah pensiun

Universitas Sumatera Utara

ditandatangani Perjanjian kredit yang dibuat antara Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai selaku kreditur dengan Anggota koperasi selaku debitur dituangkan dalam akta dibawah tangan bermaterai yang mengikat kedua belah pihak yang disebut perjanjian pembiayaan.126

Oleh karena perjanjian hanya dibuat dibawah tangan dan bermaterai maka perjanjian tersebut sifatnya hanya mengikat para pihak yang membuatnya dan apabila terjadi sengketa diantara para pihak maka harus dibuktikan kebenarannya, hal ini berbeda apabila perjanjian tersebut dibuat dengan akta notaris yang mempunyai kekuatan hukum yang lebih kuat karena merupakan akta otentik.

Pasal-pasal yang terdapat dalam perjanjian pembiayaan juga sangat sederhana hanya terdiri dari 6 pasal :

1. Pasal 1 berisi tentang kesediaan pihak koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang binjai memberikan pinjaman kepada anggota koperasi karyawan yang telah pensiun dan pihak anggota koperasi bersedia mengembalikan pinjaman dengan jangka waktu yang telah disepakati dengan bagi hasil tertentu.

2. Pasal 2 berisi tentang pembayaran pihak karyawan yang telah pensiun ke rekening Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai.

3. Pasal 3 berisi tentang Bilamana Pihak Bank gagal melalukan pendebitan maka anggota koperasi yang telah pensiun wajib membayar langsung kepada Pihak Koperasi paling lambat tanggal 5 pada bulan berjalan.

4. Pasal 4 tentang Apabila anggota koperasi yang telah pensiun telah melakukan pembayaran transfer ke rekening Koperasi Karyawan PT. PLN

126Wawancara Siti Maria Nasution, Ketua Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero), Cabang Binjai, tanggal 20 Maret 2017, pukul 10.00 WIB

Universitas Sumatera Utara

(Persero) Cabang Binjai maka anggota koperasi yang telah pensiun berhak menginformasikan kepada Pihak Koperasi.

5. Pasal 5 tentang denda keterlambatan sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) /bulan dan sanksi keanggotaan di Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai.

6. Pasal 6 tentang apabila anggota koperasi akan melunasi sisa pembiayaan, maka akan diperhitungkan sisa pokok pembiayaan ditambah biaya administrasi sebesar 2% dari jumlah sisa pokok.

Berdasarkan pasal-pasal tersebut diatas perjanjian pembiayaan yang dibuat oleh pihak Koperasi sangat sederhana sekali sehingga tidak memberikan perlindugan kepada pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai.

Untuk melindungi Pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai dalam hal ini Pihak koperasi harus memasukan pasal tentang :

1. Apabila suatu hari terdapat keadaan tidak terpenuhinya salah satu ketentuan dalam perjanjian kredit atau tidak terbayarnya bunga, pokok angsuran atau kredit macet yang disebabkan tidak mampunya Anggota Koperasi yang telah pensiun melunasi utangnya maka seluruh harta menjadi jaminan dan dapat disita sewaktu-waktu oleh pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai untuk pelunasan utangnya.

2. Atas semua fasilitas kredit yang diterima oleh Anggota Koperasi yang telah pensiun, apabila debitor meninggal dunia maka ahli waris dari Anggota Koperasi yang telah pensiun wajib menanggung sisa kredit yang ada untuk melakukan pembayaran bunga, pokok angsuran kepada pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai.

Universitas Sumatera Utara

Apabila anggota luar biasa yang diberikan pembiayaan pinjaman macet terjadi karena anggota luar biasa Koparasi karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai meninggal dunia maka sisa hutang kredit dilunaskan dan dihitung menjadi biaya yang dikeluarkan koperasi pada laporan akhir tahun koperasi.127 Sedangkan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 833 ayat (1) menyatakan bahwa para ahli waris dengan sendirinya karena hukum mendapat hak milik atas semua barang, semua hak dan semua piutang orang yang meninggal. Selanjutnya Pasal 1100 KUHperdata menyatakan para ahli waris yang telah menerima suatu warisan harus menanggung pembayaran utang, legaat, beban-beban sebesar porsinya menurut keseimbangan sesuai dengan apa yang diterimanya dalam warisan.

Menurut Satjipto Raharjo, ”Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti, ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut hak. Tetapi tidak di setiap kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut sebagai hak, melainkan hanya kekuasaan tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu pada seseorang.128

Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Perlindungan Hukum Preventif

127Wawancara Siti Maria Nasution, Ketua Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero), Cabang Binjai, tanggal 20 Juli 2017, pukul 10.00 WIB

128Satjipto Rahardjo, Op.Cit. hal. 53.

Universitas Sumatera Utara

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan sutu kewajiban.

2. Perlindungan Hukum Represif.

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.129

Untuk itu diperlukan kerangka yang kuat dan tegas dalam isi perjanjian pembiayaan yang dibuat oleh Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai agar dapat melindungi kepentingan pihak koperasi apabila terjadi segketa di kemudian hari dari Pinjaman yang diberikan kepada anggota koperasi karyawan yang telah pensiun.

Dalam hal Pembiayaan tanpa jaminan yang diberikan oleh Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai Perjanjian Pembiayaan yang diberikan oleh Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai selaku kreditur tanpa adanya suatu jaminan hanya dilakukan atau diberikan kepada anggotanya.130

Untuk Pinjaman tanpa jaminan karena pihak Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai tidak menentukan dari awal apa yang menjadi agunannya dan dalam hal ini memang tidak menggunakan agunan, maka berdasarkan pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata, harta kekayaan milik dari Anggota Karyawan yang telah pensiun seluruhnya menjadi jaminan terhadap jumlah utang yang harus dibayarkan oleh debitur. Akibatnya jika terjadi wanprestasi dari pihak debitur, maka pihak Bank melakukan eksekusi berdasarkan pasal 1131 dan 1132 KUHPer.

Dengan menggunakan kedua pasal tersebut pihak Koperasi Karyawan PT. PLN

129Muchsin, Op.cit, hal. 20

130 Wawancara Syaiful Anwar Siregar, Pensiunan Karyawan PT. PLN (Persero), Cabang Binjai, Tanggal 26 Mei 2017, Pukul 09.00 WIB

Universitas Sumatera Utara

(Persero) Cabang Binjai melakukan penilaian terhadap nilai ekonomi seluruh harta maupun barang-barang berharga milik debitur yang wanprestasi sebagai pelunasan dari sisa prestasinya yang belum terpenuhi.

Universitas Sumatera Utara

98 BAB IV

PENYELESAIAN HUTANG KREDIT DALAM HAL ANGGOTA KOPERASI KARYAWAN PT. PLN (PERSERO) CABANG BINJAI

MELAKUKAN WANPRESTASI

A. Wanprestasi Anggota Koperasi Karyawan PT. PLN (Persero) Cabang Binjai Dalam Perjanjian Pembiayaan

1. Pengertian dan Dasar Hukum Wanprestasi

Perkataan wanprestasi berasal dari Bahasa Belanda yang artinya prestasi buruk. Wanprestasi adalah suatu sikap dimana seseorang tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dan debitur.131 Pengertian mengenai wanprestasi belum mendapat keseragaman, masih terdapat bermacam-macam istilah yang dipakai untuk wanprestasi, sehingga tidak terdapat kata sepakat untuk menentukan istilah mana yang hendak dipergunakan. Istilah mengenai wanprestasi ini terdapat di berbagai istilah yaitu ingkar janji, cidera janji, melanggar janji, dan lain sebagainya. Dengan adanya bermacam-macaam istilah mengenai wanprestsi ini, telah menimbulkan kesimpang siuran dengan maksud aslinya yaitu “wanprestasi”.

Ada beberapa sarjana yang tetap menggunakan istilah “wanprestasi” dan memberi pendapat tentang pengertian mengenai wanprestasi tersebut. Wirjono Prodjodikoro mengatakan bahwa wanprestasi adalah ketiadaan suatu prestasi didalam hukum perjanjian, berarti suatu hal yang harus dilaksanakan sebagai isi dari suatu perjanjian. Barangkali dalam Bahasa Indonesia dapat dipakai istilah “pelaksanaan janji untuk prestasi dan ketiadaan pelaksanaannya janji untuk wanprestasi.”132

131Abdul R Saliman, 2004, Esensi Hukum Bisnis Indonesia, Kencana, Jakarta, hal.15.

132Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Perjanjian, (Bandung: Sumur, 1999), hal.17.

Universitas Sumatera Utara

R. Subekti mengemukakan bahwa “wanprestasi” itu adalah kelalaian atau kealpaan yang dapat berupa 4 macam yaitu:

a. Tidak melakukan apa yang telah disanggupi akan dilakukannya.

b. Melaksanakan apa yang telah diperjanjikannya, tetapi tidak sebagai mana yang diperjanjikan.

c. Melakukan apa yang diperjanjikan tetapi terlambat.

d. Melakukan suatu perbuatan yang menurut perjanjian tidak dapat dilakukan.133 Wanprestasi memberikan akibat hukum terhadap pihak yang melakukannya dan membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan ganti rugi, sehingga oleh hukum diharapkan agar tidak ada satu pihak pun yang dirugikan karena wanprestasi tersebut. Dasar hukum wanprestasi yaitu: Pasal 1238 KUHPerdata: “Debitur dinyatakan Ialai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”. Pasal 1243 KUHPerdata: “Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan”.

2. Bentuk-Bentuk Wanprestasi

Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi yaitu:

a. Tidak memenuhi prestasi sama sekali. Sehubungan dengan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.

b. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya.

c. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru.134

133 R.Subekti, Hukum Perjanjian, Cetakan Kedua, (Jakarta: Pembimbing Masa, 1970), hal.

50.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Subekti, bentuk wanprestasi ada empat macam yaitu:135 a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan;

b. Melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya;

c. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat;

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Untuk mengatakan bahwa seseorang melakukan wanprestasi dalam suatu perjanjian, kadang-kadang tidak mudah karena sering sekali juga tidak dijanjikan dengan tepat kapan suatu pihak diwajibkan melakukan prestasi yang diperjanjikan.

Menurut Pasal 1238 KUHPerdata yang menyatakan bahwa: “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatan sendiri, ialah jika ini menetapkan bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

3. Pengaturan Wanprestasi

Dalam KUHPerdata Pasal 1235 KUHPerdata: “dalam tiap perikatan untuk memberikan sesuatu adalah termasuk kewajiban si berhutang untuk menyerahkan kebendaan yang bersangkutan dan untuk merawatnya sebagai seorang bapak keluarga yang baik, sampai pada saat penyerahan.” Penyerahan menurut Pasal 1235 KUHPerdata dapat berupa penyerahan nyata maupun penyerahan yuridis.

Dalam hal debitur tidak memenuhi kewajiban sebagaimana mestinya dan ada unsur kelalaian dan salah, maka ada akibat hukum yang atas tuntutan dari kreditur bisa menimpa debitur, sebagaimana diatur dalam Pasal 1236 KUHPerdata dan Pasal 1243 KUHPerdata, juga diatur pada Pasal 1237 KUHPerdata. Pasal 1236

134 J. Satrio, Hukum Perikatan, (Bandung: Alumni, 1999), hal.84.

135Ibid.

Universitas Sumatera Utara

KUHPerdata: “si berhutang adalah wajib untuk memberikan ganti biaya, rugi dan bunga kepada si berhutang, apabila ia telah membawa didinya dalam keadaan tidak mampu menyerahkan bendanya, atau telah tidak merawat sepatutnya guna menyelamatkannya”. Pasal 1243 KUHPerdata: “Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya”. Pasal 1236 KUHPerdata dan Pasal 1243 KUHPerdata berupa ganti rugi dalam arti:

a. Sebagai pengganti dari kewajiban prestasi perikatannya.

b. Sebagian dari kewajiban perikatan pokoknya atau disertai ganti rugi atas dasar cacat tersembunyi.

c. Sebagai pengganti atas kerugian yang diderita kreditur.

d. Tuntutan keduanya sekaligus baik kewajiban prestasi pokok maupun ganti rugi keterlambatannya.

4. Sebab Terjadinya Wanprestasi

Dalam pelaksanaan isi perjanjian sebagaimana yang telah ditentukan dalam suatu perjanjian yang sah, tidak jarang terjadi wanprestasi oleh pihak yang dibebani kewajiban (debitur) tersebut. Tidak dipenuhinya suatu prestasi atau kewajiban (wanprestasi) ini dapat dikarenakan oleh dua kemungkinan alasan. Dua kemungkinan alasan tersebut antara lain yakni :

a. Karena kesalahan, baik karena kesengajaan ataupun kelalaiannya.

Universitas Sumatera Utara

Kesalahan di sini adalah kesalahan yang menimbulkan kerugian.136 Dikatakan orang mempunyai kesalahan dalam peristiwa tertentu kalau ia sebenarnya dapat menghindari terjadinya peristiwa yang merugikan itu baik dengan tidak berbuat atau berbuat lain dan timbulnya kerugian itu dapat dipersalahkan kepadanya. Dimana tentu kesemuanya dengan memperhitungan keadaan dan suasana pada saat peristiwa itu terjadi.

Kerugian itu dapat dipersalahkan kepadanya (debitur) jika ada unsur kesengajaan yang merugikan itu pada diri debitur yang dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. Kita katakan debitur sengaja kalau kerugian itu memang diniati dan dikehendaki oleh debitur, sedangkan kelalaian adalah peristiwa dimana seorang debitur seharusnya tahu atau patut menduga, bahwa dengan perbuatan atau sikap yang diambil olehnya akan timbul kerugian.137Disini debitur belum tahu pasti apakah kerugian akan muncul atau tidak, tetapi sebagai orang yang normal seharusnya tahu atau bisa menduga akan kemungkinan munculnya kerugian tersebut.138 Dengan demikian kesalahan disini berkaitan dengan masalah “dapat menghindari” (dapat berbuat atau bersikap lain) dan

“dapat menduga” (akan timbulnya kerugian).139

b. Karena keadaan memaksa (overmacht / force majure) , diluar kemampuan debitur,debitur tidak bersalah.

Keadaan memaksa ialah keadaan tidak dapat dipenuhinya prestasi oleh pihak debitur karena terjadi suatu peristiwa bukan karena kesalahannya, peristiwa

136 J. Satrio, Op. cit, hal. 90.

137 Ibid, hal. 91.

138 Ibid.

139 Ibid.

Universitas Sumatera Utara

mana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan.140 Vollmar menyatakan bahwa overmacht itu hanya dapat timbul dari kenyataan-kenyataan dan keadaan-keadaan tidak dapat diduga lebih dahulu.141 Dalam hukum anglo saxon (Inggris) keadaan memaksa ini dilukiskan dengan istilah “frustration” yang berarti halangan, yaitu suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi diluar tanggung jawab pihak-pihak yang membuat perikatan (perjanjian) itu tidak dapat dilaksanakan sama sekali.142

Dalam keadaan memaksa ini debitur tidak dapat dipersalahkan karena keadaan memaksa tersebut timbul diluar kemauan dan kemampuan debitur.

Wanprestasi yang diakibatkan oleh keadaan memaksa bisa terjadi karena benda yang menjadi objek perikatan itu binasa atau lenyap, bisa juga terjadi karena perbuatan debitur untuk berprestasi itu terhalang seperti yang telah diuraikan diatas. Keadaan memaksa yang menimpa benda objek perikatan bisa menimbulkan kerugian sebagian dan dapat juga menimbulkan kerugian total.

Sedangkan keadaan memaksa yang menghalangi perbuatan debitur memenuhi prestasi itu bisa bersifat sementara maupun bersifat tetap.143

Unsur –unsur yang terdapat dalam keadaan memaksa itu ialah :

a. Tidak dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang membinasakan benda yang menjadi objek perikatan, ini selalu bersifat tetap

b. Tidak dapat dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi, ini dapat bersifat tetap atau sementara.

c. Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan baik oleh debitur maupun oleh kreditur. Jadi bukan karena kesalahan pihak-pihak, khususnya debitur.144

140 Abdulkadir Muhammad, Op. cit, hal. 27.

141 Ibid. Hal. 31.

142 Ibid. Hal. 27.

143 Ibid 144 Ibid

Universitas Sumatera Utara

Mengenai keadaan memaksa yang menjadi salah satu sebab timbulnya wanprestasi dalam pelaksaanaan perjanjian. Dikenal dua macam ajaran mengenai keadaan memaksa tersebut dalam ilmu hukum, yaitu ajaran memaksa yang bersifat objektif dan subjektif. Yang mana ajaran mengenai keadaan memaksa (overmachtsleer) ini sudah dikenal dalam Hukum Romawi, yang berkembang dari janji (beding) pada perikatan untuk memberikan suatu benda tertentu.145 Dalam hal benda tersebut karena adanya keadaan yang memaksa musnah maka tidak hanya kewajibannya untuk menyerahkan tetapi seluruh perikatan menjadi hapus, tetapi prestasinya harus benar-benar tidak mungkin lagi.146 Pada awalnya dahulu hanya dikenal ajaran mengenai keadaan memaksa yang bersifat objektif. Lalu dalam perkembangannya, kemudian muncul ajaran mengenai keadaan memaksa yang bersifat subjektif.

a. Keadaan memaksa yang bersifat objektif

Objektif artinya benda yang menjadi objek perikatan tidak mungkin dapat dipenuhi oleh siapapun.147 Menurut ajaran ini debitur baru bisa mengemukakan adanya keadaan memaksa (overmacht) kalau setiap orang dalam kedudukan debitur tidak mungkin untuk berprestasi (sebagaimana mestinya).148Jadi keadaan memaksa tersebut ada jika setiap orang sama sekali tidak mungkin memenuhi prestasi yang berupa benda objek perikatan itu. Oleh karena itu ukurannya

“orang” (pada umumnya) tidak bisa dak bisa berprestasi, sehingga kepribadiannya, kecakapan, keadaannya, kemampuan finansialnya tidak dipakai sebagai ukuran, yang menjadi ukuran adalah orang pada umumnya dan karenanya

145 J. Satrio, Op. cit. hal. 254

146 Ibid.

147 Abdulkadir Muhammad, Op. cit. hal. 28.

148 J. Satrio, Op.Cit

Universitas Sumatera Utara

dikatakan memakai ukuran objektif.149Dasar ajaran ini adalah ketidakmungkinan.

Vollmarr menyebutkan keadaan memaksa ini dengan istilah “absolute overmacht”

apabila benda objek perikatan itu musnah diluar kesalahan debitur.150 Marsch and soulsby juga menyatakan bahwa suatu perjanjian tidak mungkin dilaksanakan apabila setelah perjanjian dibuat terjadi perubahan dalam hukum yang mengakibatkan bahwa perjanjian yang telah dibuat itu menjadi melawan hukum jika dilaksanakan.151 Dalam keadaan yang seperti ini secara otomatis keadaan memaksa tersebut mengakhiri perikatan karena tidak mungkin dapat dipenuhi.

Dengan kata lain perikatan menjadi batal, keadaan memaksa disini bersifat tetap.152

b. Keadaan Memaksa yang Bersifat Subjektif

Dikatakan subjektif dikarenakan menyangkut perbuatan debitur itu sendiri, menyangkut kemampuan debitur sendiri, jadi terbatas pada perbuatan atau kemampuan debitur.153Salah seorang sarjana yang terkenal mengembangkan teori tentang keadaan memaksa adalah houwing. Menurut pendapatnya keadaan memaksa ada kalau debitur telah melakukan segala n yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan patut untuk dilakukan,sesuai dengan perjanjian

Dikatakan subjektif dikarenakan menyangkut perbuatan debitur itu sendiri, menyangkut kemampuan debitur sendiri, jadi terbatas pada perbuatan atau kemampuan debitur.153Salah seorang sarjana yang terkenal mengembangkan teori tentang keadaan memaksa adalah houwing. Menurut pendapatnya keadaan memaksa ada kalau debitur telah melakukan segala n yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan patut untuk dilakukan,sesuai dengan perjanjian