• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.5. Kinerja Pengelolaan PSP

3.5.1. Perluasan dan Perlindungan Lahan

Salah satu permasalahan utama dan penting dalam pembangunan pertanian saat ini adalah terjadinya penurunan kondisi sarana dalam prasarana pertanian.

terutama menurunnya jumlah lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Penurunan jumlah dan kualitas lahan menyebabkan menurunnya produksi pertanian. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam menangani aspek pengelolaan lahan guna mendukung peningkatan produksi pertanian. Ketersediaan lahan merupakan salah satu faktor utama dan strategis dalam pembangunan pertanian dalam rangka mewujudkan kemandirian. ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. serta meningkatkan produksi pertanian (pangan, Hortikultura, perkebunan, dan peternakan).

Tahun 2019 pelaksanaan kegiatan Perluasan dan Perlindungan Lahan dalam rangka pembangunan prasarana dan sarana pertanian mendapat alokasi anggaran sebesar Rp2.084.845.333.000,00. Realisasi masing-masing kegiatan secara rinci dijelaskan tabel berikut ini.

Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019

Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 46

Tabel 13. Pagu dan Realisasi Kegiatan Perluasan dan Perlindungan Lahan TA.

2019 Berdasarkan Kegiatan/Output

2.084.845.333.000 1.686.233.983.449 80,88%

2 1795001|Cetak Sawah 112.827.750.000 112.750.237.700 99,93%

3 1795004|Optimasi Lahan 1.764.433.500.000 .435.325.605.025 81,35%

4 1795005|Fasilitasi Teknis FMSRB

9.410.000.000 6.732.260.338 71,54%

5 1795006|Survei Investigasi dan Desain

11.890.500.000 10.248.578.330 86,19%

6 1795007|Fasilitasi Teknis &

Duk. Keg. Lingkup PPL Pertanian

181.752.903.000 118.637.666.330 65,27%

7 1795010|Data Lahan Pertanian

4.530.680.000 2.539.635.726 56,05%

Tabel 14. Target dan Realisasi Fisik Kegiatan Perluasan dan Perlindungan Lahan TA. 2019

No Kode | Nama Kegiatan / Output

(Satuan) Target Realisasi %

Realisasi

1 1795001|Cetak Sawah (Ha) 6.000 6.000 100%

2 1795004|Optimasi Lahan (Ha) 404.109 337.024,94 83,39%

1) Kegiatan Perluasan Sawah

Kementerian Pertanian menginisiasi untuk melakukan pencetakan sawah baru karena masih luasnya potensi lahan untuk bisa dimanfaatkan untuk pembukaan sawah baru melalui program cetak sawah baru, sejumlah lahan yang terlantar dan lahan tidur dapat didayagunakan sehingga program ini sejalan dengan upaya untuk mendukung penyediaan pangan oleh pemerintah. Keuntungan yang bisa diperoleh dari program cetak sawah ini adalah meningkatkan rasio pemanfaatan tanah, mengurangi jumlah lahan terlantar, menambah luas areal tambah tanam, meningkatkan produksi padi secara nasional, meningkatkan pendapatan, dan kesejahteraan petani.

Dibanding tahun 2018 Updating Data Lahan Baku Sawah Nasional Tahun 2019 adalah seluas 7.463.948 Ha. Luas tersebut bersifat dinamis, sebagai dampak adanya alih fungsi lahan, adanya pencetakan sawah dan teknis

Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019

Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 47

pendataan/pemetaan serta peta dasar (basemap) yang digunakan. Luas Lahan Baku Sawah tahun 2019 bertambah seluas 358.051 Ha dibandingkan tahun 2018 hal ini disebabkan lahan sawah yang belum terpetakan lebih besar daripada lahan sawah yang mengalami alih fungsi. Dari target 6000 Ha tahun 2019 terealisasi 100%, dengan realisasi keuangan sebesar Rp98.998.761.300,00 atau 99,999%

dari total Rp. 99.000.000.000,00.

(a) (b)

(c)

Gambar 47. Konstruksi Perluasan Sawah Poktan Tawee di Kampung Kurik Distrik Kurik Kabupaten Merauke Provinsi Papua, (a) Sebelum. (b) Proses. (c) Sesudah

2) Kegiatan Optimasi Lahan Rawa

Optimasi lahan merupakan kegiatan yang diprioritaskan untuk mendukung ketahanan pangan nasional serta upaya meningkatkan kesuburan lahan dan provitas padi pada lahan sawah eksisting. Sasaran kegiatan optimasi lahan adalah kelompok tani padi sawah di lahan rawa pasang surut maupun rawa lebak yang berada dalam hamparan dan atau satu blok tersier dan tersedianya bantuan pemerintah untuk membangun dan merehabilitasi infrastruktur lahan dan air serta memperbaiki kualitas kesuburan lahan.

Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019

Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 48

Kegiatan optimasi lahan rawa tahun 2019 SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) dengan alokasi kegiatannya seluas 404.109 ha yang tersebar di 5 provinsi dan 37 kabupaten, kegiatannya telah terealisasi secara fisik seluas 337.024,94 Ha (83,39%) dan realisasi keuangan sebesar Rp7.737.668.700.000,00 dari total pagu Rp1.416.253.818.100,00 (81,50%).

Konstruksi Pengembangan infrastruktur Lahan Rawa dilaksanakan secara swakelola oleh P3A/ GP3A/Poktan/Gapoktan secara bergotong-royong dengan memanfaatkan partisipasi dari anggotanya. Adapun jenis pekerjaan yang dapat dilaksanakan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, antara lain:

a) Pembangunan dan/atau rehabilitasi tanggul/jalan usaha tani;

b) Rehabilitasi dan/atau pembangunan pintu air;

c) Rehabilitasi dan/atau pembangunan saluran air irigasi dan pembuang;

d) Pembangunan unit pompa air dan perlengkapannya dengan ketentuan telah memiliki SNI atau PTM (Persyaratan Teknis Minimal) yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian;

e) Pembangunan/rehabilitasi jembatan usaha tani;

f) Penyiapan/pengolahan lahan

Gambar 48. Optimasi Lahan Rawa Berupa Pembuatan Pintu Air Poktan Aneka Tani di Kecamatan Babat Toman Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan

3) Kegiatan Bantuan Pemerintah Pengembangan Jalan Usaha Tani

Kegiatan ini dilakukan untuk merangsang masyarakat/petani dalam pembangunan/rehabilitasi jalan usahatani sehingga masyarakat/petani merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pemeliharaan jalan tersebut. Pendekatan pengembangan Jalan Usahatani (JUT) pada lokasi lahan pertanian yang memadai dalam memperlancar mobilitas alat mesin pertanian, sarana produksi dan hasil produksi pertanian dari dan ke lahan pertanian, hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh dari semua aspek teknis, sosial,

Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019

Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 49

ekonomis, dan lingkungan, melalui tahapan yang jelas mulai dari penentuan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL), pembuatan desain sederhana, penyiapan lahan, termasuk pengembangan infrastruktur seperti gorong-gorong, jembatan dan saluran drainase. Kegiatan Pilot Percontohan Pengembangan Jalan Usahatani Tahun Anggaran 2019 dilaksanakan di daerah sentra produksi tanaman pangan dan lokasi-lokasi yang berpotensi secara bertahap yang dapat dikembangkan di lokasi lain dengan pola Bantuan Pemerintah (Banpem). Lahan yang ditetapkan sebagai calon lokasi harus memenuhi persyaratan clear dan clean, lahan bersedia tidak dialih fungsikan dengan membuat surat pernyataan, status lahan jelas serta tersedia petani penerima manfaat sesuai dengan kriteria yang telah di tentukan.

Ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan pilot percontohan pengembangan jalan usahatani adalah sebagai berikut :

a. Norma

Pengembangan Jalan Usahatani (JUT) merupakan upaya pembangunan baru, peningkatan kapasitas atau rehabilitasi jalan di kawasan lahan pertanian sebagai akses pengangkutan sarana produksi, alat mesin dan hasil produksi pertanian.

b. Standar Teknis

a) Dimensi lebar badan jalan usahatani minimal 2,5 meter atau dapat dilalui kendaraan roda 3 dan dapat saling berpapasan atau dibuatkan tempat untuk berpapasan, sedangkan kapasitasnya disesuaikan dengan jenis komoditas yang akan diangkut dan alat angkut yang akan digunakan.

b) Spesifikasi dan dimensi komponen jalan usahatani (bahu jalan, badan jalan, saluran draenase, gorong-gorong, jembatan dan lainnya) disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.

c) Standar teknis kegiatan pembangunan baru/ peningkatan kapasitas /rehabilitasi dan penyediaan bahan / material masing-masing lokasi jalan usahatani di sesuaikan dengan kondisi setempat.

c. Kriteria

a) Pada lahan produksi komoditi pertanian

b) Lahan yang di pengaruhi oleh Jalan Usaha Tani tersebut wajib dijamin untuk tidak dialihfungsikan dengan dibuktikan surat pernyataan kelompok tani/gapoktan bermaterai.

c) Areal yang akan dipengaruhi minimal luasan 20 hektar.

Pilot Percontohan Mendukung Aspek Lahan pada Kegiatan Padat Karya Produktif Infrastruktur/Prasarana dan Sarana Pertanian yang berupa Jalan Usaha Tani (JUT) yang merupakan Bantuan Pemerintah Pusat sebesar Rp20.000.000.000,00 telah terrealisasi sebesar Rp18.781.210.951,00 (93,6%). Untuk fisik kegiatan terealisasi 100% dan realisasi keuangan sebesar Rp17.999.600.000,00. Data rekapitulasi

Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019

Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 50

kegiatan Bantuan Pemerintah Jalan Usaha Tani Tahun Anggaran 2019 masing-masing provinsi sebagai berikut.

Tabel 15.Rekapitulasi Kegiatan Bantuan Pemerintah Jalan Usaha Tani (JUT) Tahun Anggaran 2019