3.4. Kinerja Subsektor Peternakan
3.4.1. UPSUS Peningkatan Produksi Daging Sapi dan Kerbau
Pada tahun 2019 produksi daging sapi dan kerbau tercapai sebesar 514,4 ribu ton dari target sebesar 755 ribu ton atau 68,13% bila dibandingkan dengan capaian tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 2,56%. Perkembangan produksi daging sapi dan kerbau tahun 2015-2019 lebih rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 44. Perkembangan Produksi Daging Sapi Kerbau Tahun 2015-2019
Meskipun pencapaian kinerja produksi daging sapi dan kerbau mengalami penurunan, namun jumlah populasi sapi dan kerbau mengalami peningkatan. Lebih rinci keragaannya sebagaimana dijelaskan gambar berikut ini.
Sumber : Angka terkoreksi dengan Parameter Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) BPS 2018; 2019 angka sementara)
Gambar 45. Populasi Sapi dan Kerbau Tahun 2015-2019
Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019
Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 40
Perkembangan populasi sapi dan kerbau selama 2015-2019 menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015 jumlah populasi sapi dan kerbau sebanyak 15,45 juta ekor dan meningkat menjadi 16,23 juta ekor tahun 2016; 17,12 juta ekor tahun 2017; 17,91 juta ekor di tahun 2018, dan 18,82 juta ekor di tahun 2019. Keberhasilan capaian produksi daging sapi dan kerbau ditunjang oleh beberapa kebijakan yang dilaksanakan secara konsisten antara lain:
1) Penerbitan beberapa regulasi terkait ruminansia besar, antara lain:
a) Permentan Nomor 2/Permentan/PK.440/2/2018 merupakan perubahan atas Permentan Nomor 49/Permentan/PK.440/10/2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke dalam wilayah NKRI. Penyempurnaan yang dilakukan dalam Permentan ini adalah terkait jangka waktu pemenuhan rasio swasta/koperasi untuk mengimpor sapi indukan, spesifikasi ternak ruminansia besar, dan masa berlaku rekomendasi.
b) Permentan Nomor 13/Permentan/PK.240/5/2018 tentang Kemitraan Usaha Peternakan. Salah satu wujud regulasi tersebut, pada tanggal 14 Desember 2018, Kementerian Pertanian memfasilitasi penandatangan MoU antara Bank dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang bertujuan untuk mendorong peran aktif, serta sinergi antara Pemerintah Daerah, Perbankan dan investor dalam pengembangan peternakan sapi.
2) Optimalisasi Reproduksi melalui Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB)
UPSUS SIWAB adalah kegiatan yang terintegrasi untuk percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau secara berkelanjutan. Percepatan peningkatan populasi dilaksanakan melalui Inseminasi Buatan (IB). Tahun 2019 merupakan tahun ketiga pelaksanaan kegiatan optimalisasi reproduksi melalui UPSUS SIWAB. Capaian akseptor dari Januari s.d Desember 2019 sebanyak 3.586.374 akseptor atau 119,55% dari target 3.000.000 akseptor. Capaian bunting sebanyak 2.334.474 ekor atau 111,17% dari target 2.100.000 ekor, dan lahir sebanyak 1.995.528 ekor atau 118,78% dari target 1.680.000 ekor.
3) Penanaman dan Pengembangan Tanaman Pakan Berkualitas
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ternak ruminansia pada lokasi kegiatan melalui penanaman dan pemanfaatan tanaman pakan ternak yang berkualitas yang dapat diakses oleh kelompok ternak, dalam rangka mendukung kegiatan UPSUS SIWAB. Progres kegiatan dukungan HPT dalam Program Upsus Siwab sampai dengan Desember 2019: kegiatan Gerbang Patas dari target 163 Ha sudah terealisasi 151 Ha (92,63%), kegiatan Pengembangan Padang Penggembalaan dari target 100 Ha sudah terealisasi 100 Ha (100,00%), kegiatan Pemeliharaan Padang Penggembalaan dari target 472 Ha sudah terealisasi 472 Ha (100,00%), dan kegiatan Pengembangan Unit Usaha Hijauan Pakan Ternak dari target 50 Ha sudah terealisasi 50 Ha (100,00%).
4) Penyediaan Semen Beku dan N2 Cair
Semen beku yang digunakan dalam UPSUS SIWAB adalah yang ber-SNI atau
Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019
Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 41
telah melakukan uji lab berkala yang terstandar, hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa semen beku yang beredar di masyarakat harus terjamin kualitasnya sehingga tidak merugikan peternak sebagai produsen. Ketersediaan semen beku dari Januari-Desember 2019 secara nasional dari target triwulan I-IV total 4.831.430 dosis sudah terealisasi sebanyak 5.138.130 dosis (106,35%), dengan sebaran rumpun seperti Simental, Limousin, Angus, FH, Brahman, PO, Bali, Madura, Aceh dan Kerbau.
Ketersediaan semen beku di sebagian Provinsi pada tahun 2019 dalam kondisi aman, kecuali di Provinsi Jawa Tengah dan Lampung. Dan untuk ketersediaan/stock N2 cair diperoleh bahwa sebagian besar provinsi khususnya di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan serta Sulawesi ketersediaan N2 cair kurang.
Untuk mengatasi hal tersebut agar Provinsi segera mempercepat proses pengadaan dan pendistribusian N2 cair di lapangan serta untuk Provinsi yang alokasi anggaran pengadaan N2 cairnya masih kurang dari jumlah kebutuhannya dapat mencari alternatif pendanaan dari sumber lain. Ketersediaan N2 cair harus sinkron dengan ketersediaan semen beku di lapangan agar kualitas semen beku tetap terjaga. Untuk provinsi yang stock N2 cairnya dalam kondisi kurang disarankan agar pengiriman semen beku ke provinsi tersebut ditunda sementara sampai dengan kondisi N2 cair di provinsi tersebut terpenuhi, hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan semen beku.
5) Pengendalian Pemotongan Betina Produktif
Kegiatan pengendalian pemotongan betina produktif merupakan salah satu kegiatan dalam Program UPSUS SIWAB. Pengendalian pemotongan betina produktif bertujuan untuk mencegah pemotongan sapi/kerbau betina produktif yang masih terjadi di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R). Sapi/kerbau betina produktif merupakan mesin produksi sapi/kerbau yang harus dilindungi, oleh sebab itu pemotongannya harus dikendalikan, sehingga sapi/kerbau betina produktif yang diselamatkan diharapkan akan mempertahankan keberadaan akseptor pelaksanaan UPSUS SIWAB baik akseptor yang akan di-IB maupun akseptor yang sudah bunting.
Dalam upaya pengendalian pemotongan betina produktif telah dilakukan kegiatan pengendalian pemotongan betina produktif yang terdiri dari sosialisasi, perjanjian kerjasama (MoU) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Baharkam Polri), dan pengawasan.
Perjanjian Kerjasama (MoU) antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Kepolisian Republik Indonesia dilakukan sejak tanggal 9 Mei 2018.
Pada tahun 2019 kegiatan ini dilaksanakan di 41 Kabupaten/Kota dan 17 Provinsi dalam bentuk advokasi dan pengawasan, serta di 16 Provinsi dalam bentuk sosialisasi dan pengawasan
Laporan Tahunan Kementerian Pertanian Tahun 2019
Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 42
Pengendalian Pemotongan betina produktif sampai dengan Desember 2019 menunjukkan bahwa total ternak betina yang masuk ke Rumah Potong Hewan (RPH) sebanyak 178.081 ekor, dengan rincian sebanyak 163.364 ekor (91,74%) merupakan ternak betina tidak produktif dan 14.717 ekor (8,26%) ternak betina produktif. Dari 14.717 ekor ternak betina produktif ini sebanyak 9.741 ekor (66,19%) dilakukan pemotongan dan sebanyak 4.976 ekor (33,81%) berhasil ditolak untuk dipotong/berhasil dikendalikan. Pemotongan sapi dan kerbau betina produktif secara Nasional pada periode Januari sampai Desember 2019 sebanyak 9.741 ekor. Jumlah pemotongan tersebut mengalami penurunan 20,22% jika dibandingkan dengan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif pada periode yang sama tahun 2018.
6) Pengembangan Populasi Sapi Potong dan Kerbau
Kegiatan ini bertujuan untuk menembah jumlah populasi di kelompok ternak. Pada tahun 2019 realisasi kegiatan pengembangan populasi sapi lokal sebanyak 2.284 ekor untuk 204 kelompok, pengembangan populasi kerbau sebanyak 200 ekor untuk 20 kelompok. Belum tercapainya target produksi daging sapi dan kerbau di tahun 2019 disebabkan terjadinya gangguan reproduksi pada indukan ternak sapi, pemotongan betina produktif, produktivitas sapi dan kerbau dengan Body Conditioning Score (BCS) yang masih rendah, skala kepemilikan peternak yang kecil, ternak sebagai usaha sampingan, kekurangan jumlah SDM tenaga teknis repoduksi (IB, PKb, dan ATR), dan kurangnya sarana dan prasarana.
Untuk menjawab berbagai permasalahan tersebut, telah disusun rekomendasi perbaikan tahun 2019 dan perbaikan di masa mendatang, antara lain: (1) penanggulangan gangguan reproduksi pada indukan sapi, (2) penanganan pemotongan sapi betina produktif, (3) perbaikan pakan sapi, (4) penguatan kelembagaan peternak, (5) pelatihan dan bimbingan teknis, dan (6) penyediaan dan distribusi sarana dan prasarana semen beku, N2 Cair, dan kontainer.
3.4.2. Pengembangan Unggas dan Aneka Ternak melalui Kegiatan