BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.3 Interpretasi Data Penelitian
4.3.1. Perluasan Hutan Lindung di Desa Hutaginjang
4.3.1.2. Perluasan Hutan menyebabkan munculnya konflik
Konflik adalah suatu masalah sosial yang timbul karena adanya perbedaan pandangan yang terjadi di dalam masyarakat maupun negara.Konflik juga merupakan situasi dan kondisi dimana terjadi pertentangan dan kekerasan dalam menyelesaikan masalah antar sesama anggota masyarakat, antara masyarakat dengan pemerintah maupun antara masyarakat dengan organisasi di suatu wilayah.”
Hak Tanah Ulayat di desa Hutaginjang terdapat masalah yang sangat kompleks mengenai tanah, karena terjadinya perluasan kawasan hutan lindung atas kepemilikan tanah yang selama ini digunakan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat desa Hutaginjang. Masyarakat desa Hutaginjang yang sistem kepemilikan tanah adalah tanah warisan dari nenek moyang ini tak bisa menunjukkan sertifikat kepemilikannya, yang menjadi masalah masyrakat desa adalah salah satu keluarga besar terpecah dan desa Hutaginjang terbagi menjadi dua kelompok.
Penetapan kawasan hutan lindung merupakan salah satu strategi dengan tujuan untuk melindungi keanekaragaman jenis dan ekosistemnya dari kepunahan. Hutan lindung merupakan hutan yang dilindungi keberadaannya karena berperan penting menjaga ekosistem. Kawasan hutan ditetapkan sebagai hutan lindung karena berfungsi sebagai penyedia cadangan air bersih, penahan erosi, paru-paru kota atau fungsi-fungsi lainnya. Pengertian hutan lindung secara gamblang dijelaskan dalam UU No.41 tahun 1999 tentang kehutanan, berikut kutipannya: “Kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.”Jika perlu
perluasan hutan lindung di desa Hutaginjang maka tidak secara keseluruhan dijadikan sebagai areal hutan llindung.
Masyarakat yang bermukim di desa Hutaginjang sudah sejak sebelummasa kolonial Belanda memiliki akses pada kawasan hutan.Pada masa itu, masyarakat sekitar masih leluasa melaksanakan kegiatan pertanian huma (lahan kering) di kawasan hutan, karena lahan yang tersedia masih luas. Masyarakat desa Hutaginjang yang sudah sejak lama tinggal dan mendiami desa Hutaginjang tidak akan pernah mau daerah mereka dijadikan sebagai perluasan hutan lindung. Selain merugikan hak ulayat juga membuat mereka akan berpindah daerah. Sesama warga desa Hutagainjang juga berkonflik dilihat dari pemilihan kepala desa bulan maret tahun 2016 yang saling menyalahkan dan menuduh akan perizinan perluasan hutan lindung, hingga pilkades didesa hutaginjang bermasalah dengan tidak dilantiknya kepala desa. Masyarakat tahu bahwa di desa Hutaginjang sudah dijadikan sebagai perluasan hutan lindung sejak adanya kampanye pilkades.Selama ini masyarkat tahu bahwa desa Hutaginjang dengan system kepemilikan tanah warisan.Hal inilah yang membuat pilkades di desa Hutaginjang berantakan.Selain itu ada yang mencoba saling menyudutkan dengan adanya laporan kepada aparat, mencoba pembunuhan, mencoba melapor salah satu warga penebangan hutan illegal loging. Hal tersebut terjadi dikalangan warga masyarakat desa Hutaginjang.berdasarkan hasil wawancara dengan responden Polma Rajagukguk selaku Sekretaris Desa,
“Khusus untuk Desa Hutaginjang kami tidak tahu menahu secara pasti yang mana batas dari kawasan hutan lindung kalaupun pemerintah mengklaim bahwa tanah atau areal pertanian yang sedang kami usahai masuk ke kawasan hutan lindung terus terang inilah yang menjadi polemic di masyarakat desa Hutaginajnag antar warga yang mempertanyakan kapan dan siapa yang menyerahkan areal tersebut keareal hutan lindung(hasil wawancara tanggal 13 Mei 2016)”..”
Warga setempat mengatakan bahwa desa Hutaginjang, bahwa hampir seluruh desa Hutaginjang dijadikan sebagai perluasan hutan lindung dan dilingkaran tutorial hutan lindung ada terlepas dari hutan lindung seperti area bangunan Sekolah Dasar, SMP, TK, dan sebagian dusun I. Berdasarkan hasil wawancara dengan Mangatur Ompusunggu selaku tokoh masyarakat dan anggota kelompok tani,
“Dari daerah huta gurgur sampai huta dolok siregar (dusun II sampai dusun III) semuadijadikan hutan lindung oleh pemerintah. Kami masih mencari tahu siapa yang memberi ijin hal tersebut untuk dijadikan sebagai perluasan hutan lindung karena tidak mungkin pemerintah mau menjadikan desa Hutaginjang sebagai perluasan hutan lindung tanpa ada iin dari kepala Desa(hasil wawancara tanggal 18 Mei 2016)”..”
Pengelolaan Hutan Lindung dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah atau komunitas, seperti masyarakat adat. Hutan lindung yang dikelola masyarakat adat biasanya berwujud sebagai hutan larangan atau hutan tutupan.Namun, masyarakat tahu bahwa hutan yang ada di desa Hutaginjang adalah hutan rakyat.Hal ini membuat masyarakat tidak nyaman karena selain hutan rakyat yang dijadikan sebagai hutan lindung daerah pertanian maupunpersawahan telah dijadikan sebagai perluasan hutan lindung sehingga memunculkan konflik di tengah-tengah masyarakat desa Hutaginjang.
Konflik di desa Hutaginjang mencapai tahap konflik terbuka (manifest). Fuad dan Maskanah (2000) membagi wujud konflik menjadi tiga yaitu konflik tertutup (latent), mencuat (emerging), dan terbuka (manifest). Konflik latent adalah konflik yang tersembunyi,dicirikan oleh tekanan-tekanan yang tidak tampak, tidak sepenuhnya berkembang, dan belum terangkat ke permukaan. Konflik mencuat adalah konflik yang sudah dapat dikenali pihak-pihak yang berselisih, diakui bahwa perselisihan memang ada, permasalahannya telah jelas tetapi penyelesaiannya belum berkembang. Konflik terbuka adalah konflik dengan pihak-pihak yang berselisih terlibat secara aktif dalam perselisihan
yang terjadi, sudah mulai bernegosiasi, atau menghadapi kebuntuan. Akses atas sumber daya hutan baik berupa penggarapan kawasan hutan untuk budi daya pertanian maupun untuk permukiman diperoleh warga masyarakat melalui hubungan hubungan sosial antara masyarakat dengan petugas. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden Manat Simaremare selaku BPD,
“Di tahun 2013 juga pernah digalakkan program penghijauan di desa Hutaginjang. Tujuannya pada waktu itu ingin meningkatkan produktivitas lahan kritis, mengelola tata air dan menyediakan bahan baku kayu bagi masyarakat. Dan pada saat itu belum ada konflik sama sekali antar warga dan memang perluasan hutan lining sudah ada pada saat itu namun warga tidak mengetahui nya. Pada tahun 2014 mulai sesama warga tahu sedikit keadaan desa yang dijadikan sebagai perluasan hutan lindung. Pada saat itu hanya ada sungut- sungut sesama warga(hasil wawancara tanggal 14 Mei 2016)”..”
Pada tahun 2004 di desa Hutaginjang yang terjadi masih konflik laten dan pada tahun 2015 mulai konflik terbuka (manifest) dan pada tahun 2015 sampai sekarang itu konflik mencuat yakni diantaranya terjadi pembabatan hutan, pembakaran hutan, penikaman sesama warga, penudingan atau penuduhan antar warga.
Dahrendorf dalam George Ritzer (2014: 148-149) mengatakan bahwa masyarakat terintegrasi karena adanya kelompok kepentingan dominan yang menguasai masyarakat banyak. Teoritisi konflik lainnya, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan, dimana teoritisi koflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Toritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada diatas dengan penekanan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Menurut Dahrendorf bahwa teoritisi konflik harus menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat bersama dihadapan tekanan itu dimana masyarakat disatukan oleh “ketidakbebasan yang dipaksakan.” Setelah adanya perluasan hutan lindung, dari luas tanah
desa Hutaginjang tiga per empat milik kehutanan, satu per empat di kelola masyarakat. Dalam proses hubungan sosial tersebut terjadi negosiasi-negosiasi dan konsensus, maupun terjadi pemaksaan atau tekanan (pressure). berdasarkan hasil wawancara dengan responden Polma Rajagukguk selaku Sekretaris Desa,
“Masyarakat berusaha mencari siapa yang menjadikan atau memberi lahan tersebut ke kawasan hutan lindung dan menurut saya inilah yang menjadikan polemic atau masalah di desa Hutaginjang(hasil wawancara tanggal 13 Mei 2016)”..”
Sepengetahuan masyarakat lahan yang ada di desa Hutaginjang itu tetap milik rakyat ulayat. Masyarkat pernah membakar sebagian hutan rakyat yang ada di desa Hutaginjang dengan sengaja dan mereka mengambil ranting pohon untuk dijadikan sebagai kayu bakar, namun saat itu tim aparat kepolisian datang melarang warga setempat untuk tidak mengganggu hutan.Di dusun II juga warga setempat dengan sengaja membakar hutan rakyat yang mana telah dijadikan sebagi perluasan hutan lindung. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden Porman Rajagukguk selaku tokoh masyarakat dan anggota kelompok tani,, “Jika demikian semua dilindungi pemerintah dan kami tidak lagi bisa mengelola lahan kami sendiri bagaimana kehidupan kami sebagai warga di desa Hutaginjanghasil wawancara tanggal 24 Mei 2016).”.”
Konflik di desa Hutaginjang yang awalnya laten, manifest dan terakhirnya mencuat menjadi suatu ketegangan social dalam masyarakat yakni konflik antarkelompok dalam warga. Dimana konflik yang bersifat kolektif antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dan kelompok masyarakat dengan Kemenhut atau Negara. Berikut skema konflik yang terjadi di desa Hutaginjang Kecamatan Muara;
Keterangan:
= Bentuk yang menolak adanya perluasan kawasan hutan lindung = Bentuk yang mendukung perluasan kawasan hutan lindung
Gambar 5.Skema konflik yang terjadi di desa Hutaginjang Kecamatan Muara