Masa Utsman Bin Affan
C. Perluasan Wilayah dan Pembengunan Angkatan Laut
Pemerintahan khalifah Utsman bin affan adalah masa pemerintahan yang terpanjang dari semua khalifah dizaman khulafaur rasyidin, yaitu 12 tahun, tetapi sejarah mencatat tidak seluruh masa kekuasaannya menjadi saat yang baik dan sukses baginya. Para pencatat sejarah membagi zaman pemerintahan Utsman menjadi dua periode, ialah 6 tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik, dan 6 tahun terakhir merupakan masa pemerintahan yang buruk (Munawir Sjadzali, 1991 :25-27)
Selama paruh pertama pemerintahannya, Utsman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasan Islam. Daerah-daerah strategi yang sudah dikuasai seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencanakan secara cermat dan simultan di semua front. Di Mesir, pasukan Muslim diintruksikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu pertempuran penting di sini ialah “Zatis Sawari’ (Peperangan Tiang Kapal) yang terjadi di Laut Tengah dekat kota Iskandariyah antara Romawi di bawah pimpinan Kaisar Constantine dengan laskar Muslim pimpinan Abdullah bin Abi Sarah. Dinamakan
perang kapal, karena banyaknya kapal-kapal perang yang terlibat. Konon terdapat 1000 buah kapal, yang 200 kapal kepunyaaan kaum muslimin, sedangkan sisanya milik bangsa Romawi. Tentara Islam berhasil mengusir musuh-musuhnya. Tentara muslim bergerak dari kota Basrah untuk menaklukan sisa wilayah kerajaan Sasan di Irak, dan kota Kufah, gelombang kaum muslimin menyerbu beberapa propinsi di sekitar laut Kaspia.
Karya besar Utsman, selain sukses dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam hingga terbentang dari Maroko sampai Kabul dan berhasil membangun armada angkatan laut yang tangguh adalah mempersembahkan kepada umat Islam ialah susunan kitab suci al-Qur’an. Penyusunan al- Qur’an dimaksudkan untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan serius dalam bacaan al-Qur’an, dikisahkan selama pengiriman ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan perselisihan tentang bacaan al-Qur’an muncul di kalangan tentara muslim, yang sebagian direkrut dari Suriah dan sebagian lagi dari Irak. Ketua Dewan penyusunan al-Qur’an ialah Zaid ibn Sabit, yang mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an antara lain dari Hafsah, salah seorang isteri Nabi saw. Kemudian dewan ini membuat beberapa salinan naskah al-Qur’an untuk dikirim ke wilayah-wilayah gubernuran sebagai pedoman yang benar untuk masa selanjutnya (W. Montgomery, 1991:187). D. Tuduhan Atas Kebijaksanaan Khalifah Utsman
Setelah melewati saat-saat gemilang, pada paruh terakhir masa kekuasaannya, khalifah Utsman menghadapi berbagai pemberontakan dan pembangkangan di dalam negeri yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap tabiat
khalifah dan beberapa kebijaksanaan pemerintahamya, tetapi sebenarnya kekacauan itu sudah dimulai sejak pertama tokoh ini terpilih menjadi khalifah.
Utsman terpilih karena sebagai calon konservatif, ia adalah orang yang baik dan saleh. Namun dalam banyak hal kurang menguntungkan, karena Utsman terlalu terikat dengan kepentingan-kepentingan orang Mekah, khususnya kaum Quraisy dari pihak Umaiyah. Kemenangan Utsman sekaligus adalah suatu kesempatan yang baik bagi sanak saudaranya dari keluarga besar Bani Umaiyah. Oleh karena itu Khalifah Utsman berada dalam pengaruh dominasi seperti itu, maka satu persatu kedudukan tinggi kekhalifahan diduduki oleh anggota-anggota keluarga itu.
Tuduhan yang paling utama atas khalifah Utsman adalah mengenai pengangkatan kerabat dan keluarganya dalam kepemerintahannya yang dianggap sebagai tindakan nepotisme dan juga pemecatan terhadap sejumlah gubernur yang cakap, Muawiyah bin Abi Sofyan. Gubernur Syria adalah kerabat dekat khalifah Utsman. Ia pertama kali menjabat gubernur oleh pengangkatan khalifah Umar dan tetap dipertahankan posisinya pada masa khalifah Utsman. Ia telah mengangkat al-Walid ibn Uqbah sebagaai penguasa Kufah menggantikan Sa’ad bin Abi Waqqas, sekalipun ketika dalam sakitnya khalifah Umar menyampaikan pesannya agar Sa’ad tetap menjabat sebagai Gubernur di daerahnya. Utsman tetap mempertahankan posisi Sa’ad sesuai dengan pesan khalifah Umar, namun ketika terjadi perselisihan antara Sa’ad dan Ibnu Mas’ud, pejabat keuangan di Kufah. Utsman melepaskan jabatan Sa’ad dan mengangkat Walid bin Uqbah menggantikannya, bahwa Walid bin Uqbah adalah keluarga dekat khalifah Utsman, tetapi sebagaimana yang dikatakan
Prof K. Ali dalam bukunya Studi of Islamic History, penunjukkan tersebut terjadi pada masa saat pemerintahannya (pada enam tahun masa pemerintahnnya), dimana ketika ini kaum muslimin merasa puas terhadap kekhalifahan Utsman ra dan belum timbul berbagai macam tuduhan terhadapnya. Dan ketika terbukti bahwa Walid bin Uqbah dalam prilaku mabuk-mabukan. Ia tidak hanya dipecat oleh khalifah Utsman tetapi juga dijatuhi hukuman cambuk sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Jadi jika memang benar ke- bijaksanaan khalifah Utsman bersifat nepotisme (me- mandang dan mengutamakan keluarga dekat) niscaya ia bersifat masa bodoh terhadap kasus Walid tersebut. Kemudian khalifah mengangkat Sa’ad bin ‘Ash sebagai Gubernur Kufah menggantikan Walid, tetapi ketika kepemimpinannya tidak membawa kemajuan ia pun lalu digantikan oleh Abu Musa al-Asy’ary pada tahun 34 H/654 M, sekalipun ia tidak ada hubungan darah dengan khalifah Utsman. Kegaduhan dan protes terbesar pada saat itu terjadi ketika Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah menggantikan kedudukan gubernur Mesir, ‘Anu ibn ‘Ash, bahwa Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah adalah saudara sepupu Utsman, namun pengangkatannya itu karena jasa dan pengabdiannya yang besar terhadap Islam. Kemenangannya melawan Romawi di Afrika Utara juga keberhasilannya mendirikan angkatan laut yang kuat memajukkan kecakapan dan kecerdasannya sehingga ia pantas menerima penghargaan jabatan gubernur.
Beberapa data di atas tersebut, penulis anggap cukup menjelaskan bahwa seandainya benar apa yang dituduhkan kepada khalifah Utsman bahwa ia adalah seorang nepotisme, niscaya ia akan menutup mata dan telinga atas ke-
tidakcakapan kerabatnya. Kenyataannya khalifah Utsman tidah hanya memecat kerabatnya yang tidak mampu menjalankan tugasnya, tetapi juga menjatuhi hukuman terhadap kerabatnya yang melanggar aturan syariat agama dicatat disini adalah bahwa pengangkatan sejumlah kerabat dekat itu terjadi pada masa awal pemerintahannya, ketika itu khalifah Utsman bersib dari segala tuduhan dan belum timbul kegaduhan dan gerakan protes terhadap ke- bijaksanaannya. Belakangan kaum pemberontak menjadikan kebijaksanaan Utsman tersebut untuk menghasut masyarakat agar melawannya. Kiranya lebih tepat ditegaskan bahwa tuduhan nepotisme pemerintahan Utsman tidak beralasan dan tidak benar, Khalifah Utsman bersih dari tuduhan seperti itu.
Pembebastugasan para pejabat dan gubernur yang sudah tua dan digantikan dengan generasi yang lebih muda, terbukti adanya, namun tindakan itu diputuskan oleh khalifah bukan tanpa alasan yang tidak masuk akal, akan tetapi khalifah Utsman menempuh sikap demikian itu demi kepentingan dan kemajuan Islam. Sebagaimana Khalifah Umar ibn Khatab telah membebas tugaskan Kholid ibn walid, Mughirah dan Sa’ad bin Abi Waqqas, namun kebanyakan orang sampai sekarang kurang memahami kebijaksanaan khalifah Utsman tersebut.
Selanjutnya khalifah Utsman dituduh penguasa yang boros dan banyak korupsi uang negara untuk diberikan kepada kerabatnya. Tuduhan seperti itu juga tidak beralasan dan sungguh-sungguh palsu. Khalifah Utsman pada asalnya adalah orang yang terkenal kaya raya dan mempunyai harta yang banyak, ia seorang pengusaha yang terkaya di Arabia, karenanya ia sering disebut dengan panggilan Al-Ghani
(Jutawan). Pada masa Nabi, khalifah Utsman menyum- bangkan hartanya dalam jumlah yang sangat besar. Seluruh hartanya disumbangkan demi kepentingan dan perjuangan Islam, sehingga tidak tersisa, kecuali dua ekor unta yang digunakannya sebagai kendaraan untuk melaksanakan haji. Berikut ini adalah kutipan perkataan khalifah Utsman, menjawab tuduhan tersebut sebagaimana diriwiyatkan oleh Thabari:
“Pada saat pemerintahan dipercayakan kepadaku, aku adalah pemilik harta yang kaya, sekarang ini saya tidak memiliki apa-apa kecuali dua ekor unta sebagai kendaraan haji, sekalipun demikian saya dituduh telah menganak emaskan kerabat saya, hingga mereka menjadi kaya raya, sekalipun benar aku mencintai mereka, namun sekalipun aku tidak pernah membiarkan mereka mengambil hak- hak orang lain. Aku memungut kewajihan pajak atas mereka. jika benar aku sangat mencintai mereka, maka apapun yang aku berikan kepadanya adalah semata-mata berasal dari harta miliku sendiri. Dalam hal dengan harta negara (Baitul Mal), prinsip bagiku berpantangan mengambilnya demi kepentingan diriku maupun untuk kepentingan keluarga.”
Berdasarkan kutipan pemyataan khalifah Utsman di atas, jelaslah bahwa khalifah Utsman tidak mengambil apapun dari Baitul Mal untuk keperluan pribadinya atau kerabat dekatnya selain untuk kepentingan umat Islam.
Ketika tuduhan-tuduhan tersebut tersebar luas, khalifah menyampaikan pengumuman agar masyarakat datang ke Medinah pada musim haji mendatang untuk menyampaikan keluhan-keluhan mereka. Pada musim haji
itu, pejabat pemerintah juga para gubernur hadir, tapi tidak seorang pun yang menyampaikan kepada khalifah. Dari hal ini dapat pula diketahui bahwa tuduhan yang dilontarkan kepada khalifah Utsman hanyalah merupakan hasutan belaka yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kemudian khalifah membentuk sebuah dewan gubernur untuk memikirkan bagaimana cara mengatasi hasutan tersebut, dengan kesepakatan bulat dewan itu memutuskan agar khalifah menindak tegas para penghasut, namun khalifah tidak mengabulkan keputusan tersebut. Khalifah tidak meng- hendaki terjadi pembunuhan terhadap banyak orang semata- mata karena penghasutan yang berkaitan kepada dirinya. Sekalipun sifat dan tingkah laku yang luhur ini ada pada dirinya, namun masyarakat gerombolan masih salah paham terhadap diri dan tindak tanduk sang khalifah.
E. Penilaian atas Pemerintahan Khalifah Utsman