• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permainan Tradisional Benteng

BAB II LANDASAN TEORI

4. Permainan Tradisional Benteng

a. Permainan Tradisional Benteng Nusantara 1) Permainan benteng yang berasal dari Lampung

Permainan ini dilakukan oleh anak-anak atau perempuan sebanyak 16-24 orang. Permainan ini memerlukan tempat yang cukup luas dengan ukuran kira-kira 10 x 5m sehingga dapat bermain secara leluasa. Alat yang diperlukan yaitu beberapa buah bata atau batu ebagi sebagai bentengnya.

Ditinjau dari segi edukatif, permainan ini sangat baik bagi perkembangan akal dan membantu pertumbuhan jasmani anak-anak karena secara tidak langsung melatih kelincahan dan kecepatan lari, juga melatih penglihatan di samping mempelajari ara mengecoh lawan.23

2) Permainan benteng yang berasal dari Jawa (petak benteng)

Permainan berkelompok yang terbagi menjadi dua tim. Inti permainan ini adalah memasuki benteng lawan dengan menyentuh baris pertahanan mereka. Biasanya yang dianggap sebagai benteng

22

Euis kurniati, Permainan Tradisional Dalam Mengembangkan Keterampilan Social

Anak, (Jakarta: kencana, 2016), h. 23-25

23

Eka Rahmawati, Bermain Asyik Permainan Tradisional, (Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan, 2010), h. 33.

adalah sebuah tiang listrik yang di jaga oleh beberapa orang, dan lawan berusaha menyentuh tiang listrik tersebut.24

3) Permainan benteng yang berasal dari Sulawesi Tengah (Nokaluri) Nokaluri adalah istilah dari Sulawesi tengah yang artinya hadang. Permainan ini dilakukan oleh dua kelompok dan setiap kelompok berjumlah 5 orang, satu orang bertindak sebagai pimpinan dan tidak menggunakan alat kecuali lapangan sebagai tempat bermain. Bentuk permainan ini bersifat hiburan, tetapi terdapat unsur-unsur pendidikan, seni, dan olahraga. Oleh karena itu, dalam permainan ini banyak aturan yang harus di patuhi.25

b. Konsep Bermain Benteng

Permainan ini merupakan permainan yang menuntut stamina para pemain untuk mengalahkan benteng pertahanan lawan, memperahankan benteng sendiri atau menyelamatkan kawan dari sanderaan lawan.

1. Nama permainan

2. Lokasi

3. Jumlah pemain

4. Bahan yang dibutuhkan

5. Prosedur permainan

: Rerebonan/Bebentengan/Baren : Lapangan / Kebun

: 6 orang atau lebih (bilangan genap) : - : 24 Ibid., h. 66 25 Ibid., h. 79

a. Anak-anak menentukan dua kelompok yang akan saling berlawanan. Misalnya, jumlah anak 10 orang, maka setiap kelompok anak masing-masing terdiri dari 5 orang. Cara menentukan kelompok dengan Hompimpa, yaitu anak-anak menggerakkan telapak tangan kanannya untuk melihat kesamaan posisi telapaknya tersebut pada saat mengucapkan “Limaaan Limaaaaa……ann”. Jika yang dicari untuk setiap kelompok adalah lima orang, maka harus ada sejumlah lima orang anak yang memiliki posisin tangan yang sama, jika kuota belum terpenuhi maka Hompimpa harus dilakukan secara terus menerus sampai jumlah kuota kelompok dapat terpenuhi. Posisi telapak tangan tersebut terdiri dari dua posisi yaitu terlentang dan tertelungkup.26

b. Apabila kelompok telah diketahui, maka permainan pun dapat segera dimulai. Setiap kelompok akan mengatur jarak dan gawang mereka masing-masing dengan posisi saling berhadapan. Kelompok tersebut akan mengatur strategi yang akan jadi penyerang, dan siapa yang akan menjadi penjaga gawang, atau bahkan posisi tersebut bisa fleksibel artinya tanggung jawab bisa berubah-ubah.

c. Hal yang paling penting dilakukan dalam melakukan permainan ini adalah bagaimana memperoleh tawanan sebanyak-banyaknya dari lawan, dan mempertahankan gawang dari serangan lawan.

26

d. Untuk mendapatkan tawanan biasanya kelompok akan saling menstimulasi (dalam bahasa sunda disebut mincing) anak yang lebih dahulu keluar dari gawangnya. Jika anak tersebut tidak dapat menghindari kejaran lawan, maka dia akan ditawan dan posisinya akan berbaris di daerah pertahanan lawan.

e. Permainan ini terus dilakukan sampai tawanan bertambah banyak dan apabila kekuatan telah dirasakan cukup untuk menjebolkan pertahanan lawan, kelompok tersebut dapat membobol pertahanan lawan dengan cara terlebih dahulu menginjakkan kakinya di gawang lawan. Dan jika demikian yang terjadi, maka dilah yang akan keluar sebagai pemenangnya.27

c. Karakter Dalam Permainan Tradisional Benteng

Bentengan dengan kata dasar benteng yang dianalogikan sebagai tempat tinggal atau rumah atau tanah air. Dalam permainan ini harus dilakukan secara berkelompok (bersama) mengisyaratkan bahwa manusia untuk hidup selalu dan akan selalu membutuhkan keberadaan orang lain dan orang banyak, begitupun sebaliknya. Salah satu aturan dalam permainan ini dalah bahwa ketika seoreang teman tertahan maka teman yang lain punya kewajiban untuk membebaskan karena jika tidak dilakukan maka kelompok tersebut akan kalah.

Bahwa setiap orang punya kewajiban yang sama untuk tujuan yang sama, yaitu mempertahankan benteng dan memenangkan

27

permainan, harus bekerja sama atau bergotong royong dalam mencapai tujuannya. Dalam skala besar, kita bisa menilai bahwa dalam kondisi apapun juga, sebuah bangsa harus bekerjasama, bergotong royong mempertahankan tanah airnya dari serangan bangsa luar yang dapat berupa praktek monopoli, kolonialis dan imperialis (perampasan hak).

Sebagaimana pula digambarkan, berlaku juga aturan bagi setiap anak yang baru keluar harus membebaskan anak lain yang lebih dulu keluar atau melindunginya. Pesan moral yang tersirat adalah, bahwa generasi yang hadir atau yang baru memiliki kewajiban untuk memperbaiki dan menata kembali agar lebih baik dari sebelumnya secara bersam-sama dengan generasi sebelumnya. Dari situ dapat dilihat betapa dalam sebuah permainan yang sederhana terkandung nilai-nilai yang begitu luhur dengan penuh penjiwaan yang tinggi untuk mengembangkan atau membangun karakter dan jati diri sebuah bangsa.28

d. Aspek Dakwah Dalam Permainan Benteng 1. Rela

Kata rela berasal dari bahasa Arab, “Ridha” yang artinya senang, sukacita atau puas dalam menerima segala sesuatu yang diberikan Tuhan Yang Mahakuasa. Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang apapun juga adalah bagian dari pemberian Allah SWT. Semuanya terjadi atas anugerah-Nya.

28

Dalam kehidupan ini, atas dasar keimanan yang mantap, terdapat orang-orang yang jiwanya rela (puas) menerima apa pun yag terjadi pada diri mereka. Jiwa mereka puas atas bagian dari Allah SWT, agama, atas ketentuan-ketentuan yang mengatur hidup dan kehidupan maupun atas segala sesuatu yang diberikan-Nya kepada mereka.29

Langkah menerima segala sesuatu dari Allah SWT dengan jiwa yang rela atau puas, sesungguhnya menyehatkan jiwa. Menerima dengan puas dan mensyukuri apa yang dimiliki (sesuai jangkauan/kemampuan) benar-benar penting sekali. Segala usaha, serat perjuangan, sedikit atau banyak ada hasil yang dicapai, baik langsung maupun tidak langsung yang diluar fisik kita (uang, fasilitas dan barang) maupun yang ada di dalam diri kita (kesehatan, akal dan iman). Semua itu jika diterima dan dinikmati dengan puas dan mendayagunakannya secara optimal akan membuat jiwa menjadi lega, bersyukur dan merasakan secercah kebahagiaan.

Sebaliknya, jika jiwa bersikap menolak atau terkadang menumpatkannya denga hanya melihat sisi kekurangannya dari hasil itu, akan tmenjadikan jiwa tersebut kecewa, jengkel, mudah marah dan sedih. Kebahagiaan jiwa terusik karena adanya sikap yang negative, tidak menerima dengan puas. Jadi, jiwa yang negative

29

tidak menguntungkan sama sekali.30 Dalam Alqur`an Surat Ibrahim Allah Berfirman:            

Artinya: “dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".31 (Q.S. Ibrahim: 7).

Tambahan nikmat merupakan suatu kepastian (bukan sebatas kemungkinan) dan akan diberikan kepada mereka yang pandai bersyukur dengan senang/puas, utamanya tambahan berkah dan manfaat.

Semua jenis permainan tradisional termasuk permainan benteng adalah permainan yang bersifat sosial. Salah satu fungsi permainan benteng tersebut adalah untuk mengadakan komunikasi, baik dengan lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya. Komunikasi itu dimaksudkan unuk menciptakan rasa kebersamaan di antara kelompok orang yang terlibat di dalam permainan tersebut. Selain nilai kebersamaan, nilai kesetiaan juga memiliki kedudukan yang sangat penting.

2. Amanah

Kata Amanah berasal dari kata Amina-ya`manu-amnan-wa amanatun, yang secara harfiah berarti aman. Pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerimanya sama-sama aman, tidak cemas dan tidak merasa khawatir dikhianati. Dalam sebuah ensiklopedia dijelaskan,

30

Ibid., h.66-67 31

secara etimologi amanah berarti kejujuran, kepercayaan, kebalikan dari khianat. Dalam hal ini amanah terdapat tiga hal yang berhubungan, yaitu pihak yang memberi amanah, hal yang diamanahkan dan pihak yang menerima amanah. Hal ini berlaku sama, baik dalam lingkup sederhana/kecil maupun lingkup besar.

Amanah tidak hanya membutuhkan kejujuran, tetapi juga tekad yang reguh untuk memelihara dan menjaga sebaik-baiknya segala sesuatu yang diamanahkan, sehingga tetap berjalan dengan aman.32

Mengenai masalah amanah yang melibatkan tiga hal tersebut, Alqur`an mentebutkan:

                  

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”.33

(Q.S. Al-Ahzab: 72).

Dalam konsep islam, mengkhianati suatu amanah berarti berkhianat kepada Alah SWT, sebab tidak ada sesuatu amanah kecuali dari-Nya. Allah dengan tegas mencegah seseorang berkhianat, baik yang merupakan amanah-Nya maupun lainnya. Dalam Alqur`an telah diterangkan:

           

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)

32

Rif`At Syauqi Nawawi, Kepribaidan Qu`Ani., h. 91-92 33

janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Q.S. Al-Anfaal: 27).34

Sebaliknya, Allah memerinthkan kepada umat manusia untuk menunaikan amanah-Nya:

                         

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.35

(Q.S. An-Nisaa: 58). Transfer nilai dalam permainan benteng terjadi melalui penghayatan yang langsung dari pengalamannya bermain. Anak akan memiliki nilai kejujuran karena dalam bermain ia juga berusaha unuk jujur. Nilai juga bisa diperoleh anak melalui pembiasaan peraturan yang ada dalam permainan tersebut. Misalkan anak terbiasa unuk sportif maka ia akan memiliki nilai sportifivitas dengan sendirinya.

Tiap-tiap permainan anak-anak tersebut masing-masing memiliki aturannya sendiri. Setiap pemain yang terlibat dalam permainan tersebut harus menaati peraturan yang berlaku di dalamnya. Bagi yang melanggar aturan yang disepakati bersama, yang berbuat curang, tidak sportif atau tidak jujur, memang tidak dikenai sanksi hukaman tertentu, namun dalam permainan berikutnya orang yang melanggar aturan, curang, dan tidak jujur

34

Q.S. Al-Anfaal (8): 27 35

tidak akan diajak bermain lagi, sampai yang bersangkutan dapat mengubah prilakunya. Artinya, mereka yang pernah melakukan hal-hal yang dianggap kurang sportif maka pertama-tama mereka akan dikenakan sanksi sosial untuk tidak dilibatkan dalam permainan sejenis pada waktu berikutnya.

3. Tolong Menolong

Tolong menolong dalam bahasa Arab adalah Ta`awun, sedangkan menurut istilah, pengertian Ta`awun adalah sifat tolong menolong diantara sesame manusia dalam hal kebaikan dan taqwa. Dalam ajaran Islam, tolong menolong merupakan kewajiban setiap muslim. Sudah semsetinya konsep tolong menolong ini dikemas sesuai dengan styariat Islam, dalam artian tolong menolong hanya diperbolehkan dalam kebaikan dan taqwa, dan tidak diperbolehkan tolong menolong dalam hal dosa atau kemaksiatan.36

Allah SWT telah menyebutkan perintah tolong menolong dalam ayat Alqur`an sebagai berikut:

……                

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.37 (Q.S. Al- Maidah: 2).

Dari redaksi ayat diatas, dapat di ketahui bahwa Islam sangat menjunjung tinggi tolong menolong. Tolong menolong telah

36

Siti Afifah, Tolong Menolong Dalam Islam, dalam www.gardapena.com, diunduh pada

10 maret 2018 37

menjadi keharusan, karena apapun yang kita kerjakan tentu membutuhkan pertolongan dari orang lain.

Maka dalam suatu hadits telah disebutkan bahwa antar mukmin satu dengan mukmin yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan yang lainnya. Walaupun begitu juga dengan Ta`awun, tolong menolong adalah suatu system yang benar-benar memperindah Islam. Manusia satu dengan yang lainnya pastilah saling membutuhkan pertolongan dari yang lainnya.

Selain itu anak juga mendapatkan nilai dengan menirukannya dari orang yang lebih tua. Anak akan melakukan pengaturan strategi atau memimpin melalui cara menirukannya dari anak yang lebih tua dalam memimpin dan mengatur permainan benteng, hingga akhirnya anak yang lebih kecil juga memiliki nilai pengaturan strategi, kepemimpinan, dan tolong menolong.

Dokumen terkait