• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1439 H / 2018 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO 1439 H / 2018 M"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL (BENTENG) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI DESA YOSODADI

METRO TIMUR

Oleh

AHMAD WAHYU NOVIANTO NPM14125236

Fakultas: Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Jurusan: Komunikasi dan Penyiaran Islam

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

METRO

(2)

ii

PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL (BENTENG) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI DESA YOSODADI

METRO TIMUR

Diajukan Untuk memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos.)

Oleh

AHMAD WAHYU NOVIANTO NPM 14125236

Pembimbing I: Dra. Yerni, M.Pd. Pembimbing II: Romli, M.Pd.

Fakultas: Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Jurusan: Komunikasi dan Penyiaran Islam

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

METRO

(3)
(4)
(5)

v ABSTRAK

PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL (BENTENG) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI DESA YOSODADI METRO

TIMUR Oleh

AHMAD WAHYU NOVIANTO

Permainan tradisional benteng adalah permainan tradisional berkelompok yang membutuhkan ketangkasan, kecepatan berlari dan strategi yang handal. Permainan ini merupakan salah satu permainan tradisional yang sangat baik untuk berolahraga. Hal ini disebabkan karena setiap pemain harus berlari untuk menjaga benteng dan menangkap lawan. tujuan utama dari permainan benteng ini adalah menyerang dan mengambil alih “benteng/markas” lawan.

Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif lapangan dengan tujuan untuk meneliti Permainan Tradisional (Benteng), dalam Pembentukan Karakter Anak Di Desa Yosodadi Metro Timur. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap 1 Tokoh Masyarakat serta 3 orang tua dari anak di desa Yosodadi khususnya di lingkungan RT 23 Desa Yosodadi Metro Timur untuk memperoleh data tentang penerapan permainan tradisional (benteng) dan karakter anak. Observasi dilakukan pada saat kegiatan bermain permainan tradisional (benteng) dan pengamatan karakter anak sedang berlangsung.

Permainan tradisional benteng merupakan permainan tradisional berkelompok yang mamiliki manfaatnya bermacam-macam dari aspek kognitif, emosional bahkan spiritual. Selain manfaat tersebut membutuhkan ketangkasan, kecepatan berlari dan strategi yang handal. Permainan ini merupakan salah satu permainan tradisional yang sangat baik untuk berolahraga. Hal ini disebabkan karena setiap pemain harus berlari untuk menjaga benteng dan menangkap lawan. tujuan utama dari permainan benteng ini adalah menyerang dan mengambil alih “benteng/markas” lawan. permainan tradisional benteng memiliki nilai positif dari permainan ini seperti nilai-nilai yang dapat membentuk karakter si pemainnya ternyata karakter tersebut ada karakter tolong menolong, karakter amanah, dan karakter bertanggungjawab. Dari hasil penelitian, bahwasannya anak-anak yang mulai diajari permainan tradisional benteng ternyata mereka kalau sudah mendengar azan, mereka langsung ke masjid karena mereka punya tanggungjawab dari orang tuanya bahwa setiap azan berkumandang mereka langsung solat terlebih dahulu, sehabis solat diperbolehkan bermain lagi.

(6)
(7)

vii MOTTO



































Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini penulis persembahkan kepada:

1. Orang tuaku Bapak Suyatno dan Ibu Murjiyem yang senantiasa berdoa dan berjuang tak kenal lelah demi keberhasilanku.

2. Adikku Defika Arianti L, Fenti Sulistiarini dan Chairul Afif Hidayat yang telah memberikan dukungan.

3. Teman seperjuangan Enneng Nisa AS, Ameriyan Saputra, Wahid Syaifudin, seluruh rekan-rekan Mahasiswa S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam Kelas A dan B Tahun 2014 serta sahabatku Enggal Wildan Prabowo, Arya Ramdhanni Ahmad, Dian Basyori semoga dalam lindungan-Nya dan sukses selalu.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas taufik hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan program SI Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung, guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu SI (S.Sos).

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Enizar, M.Ag, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Bapak Dr. Mat Jalil, M.Hum Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Ibu Dra. Yerni M.Pd Pembimbing I, dan Bapak Romli M.Pd Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga dalam memberikan motivasi. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan sarana prasarana selama penulis menempuh pendidikan.

Kritik dan saran demi kebaikan Skripsi ini sangat diharapkan dan akan diterima dengan kelapangan dada. sekiranya semoga hasil penelitian yang telah dilakukan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama Islam.

Metro, Februari 2018 Penulis,

Wahyu Novianto NPM 14125236

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

NOTA DINAS ... v

ABSTRAK ... vi

HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... x

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 6

C. Fokus Penelitian ... 7

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

E. Penelitian Relevan ... 8

BAB II LANDASAN TEORI A. Permainan Tradisional ... 13

1. Definisi Permainan Tradisional ... 13

2. Jenis-jenis Permainan Tradisional ... 18

3. Kelebihan Permainan Tradisional ... 19

4. Permainan Tradisional Benteng... 20

a. Permainan Tradisional Benteng di Nusantara ... 20

b. Konsep Bermain Benteng ... 22

c. Karakter dalam Permainan Tradisional Benteng ... 24

d. Aspek Dakwah Permainan Benteng ... 25

B. Definisi Karakter ... 32

1. Anak dalam Pandangan Al-Quran ... 32

2. Pengertian Karakter ... 33

3. Nilai Budi Pekerti ... 35

4. Faktor-Faktor Pembentukan Karakter Anak ... 36

(11)

xi BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Sifat Penelitian ... 44

B. Sumber Data ... 45

C. Teknik Pengumpulan Data ... 46

D. Tenik Penjamin Keabsahan Data ... 49

E. Teknik Analisis Data ... 50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Aktivitas Keseharian Anak-anak di Desa Yosodadi Metro Timur ... 52

B. Permainan Tradisional Menurut Anak-anak ... 53

C. Manfaat Permainan Tradisional Dari Segi Pembentukan Karakter Dari Aspek Dakwah ... 58

D. Penerapan Permainan Tradisional Benteng Dalam Pembentukan Karakter Anak di Yosodadi Metro Timur ... 65

E. Pengaruh Permainan Tradisional Karakter Anak Lingkungan Tempat Tinggal ... 67

F. Pengaruh Permainan Tradisional Karakter Anak Di Lingkugan Keluarga ... 70 BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 76 B. Saran ... 77 DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Docket & Fleer (2000) menjelaskan bahwa about the time Children Start school, game become important. Games are characterized by the explicitness of rules and by the imposition of some form of sanction if the rukes are broken.sebagaimana dikemukakan oleh Docket & Fleer tentang waktu anak-anak mulai bersekolah, permainan menjadi penting. Permainan dicirikanoleh kejelasan aturan dan dengan penerapan beberapa bentuk saksi jika rukunnya rusak.1

Direktorat Nilai Budaya (2000) menjelaskan bahwa permainan tradisional untuk bertanding terdiri dari tiga kelompok yakni: (1) permainan yang bersifat strategis (game of strategy), seperti permainan galah asin, (2) permainan yang lebih mengutamakan kemampuan fisik (game of phsyical skill), seperti permainan bakiak, serta (3) permainan yang besifat untung-untungan (game of change)2

Permainan tradisional sesungguhnya memiliki banyak manfaat bagi anak-anak. Selain tidak mengeluarkan banyak biaya dan bisa juga untuk menyehatkan badan. Permainan tradisional adalah sebagai olahraga, karena semua permainan menggunakan gerak badan yang ekstra. Permainan tradisional sebenarnya sangat baik untuk melatih fisik dan mental anak. Secara tidak langsung, anak akan dirangsang kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan dan keluasan wawasannya

1

Euis Kurniati, Permainan Tradisional Dan Peranannya Dalam Mengembangkan

Keterampilan Social Anak, (Jakarta: kencana, 2016), h.1.

2 Ibid.

(13)

melalui permainan tradisional. Para psikolog menilai bahwa sesungguhnya mainan tradisional mampu membentuk motorik anak, baik kasar maupun halus.

Interaksi yang muncul pada saat permainan berlangsung secara tidak disadari anak-anak mampu mengembangkan banyak aspek perkembangan diantaranya bahasa dimana anak saling berkomunikasi verbal antara satu dengan lainnya, atau anak secara bersama-sama bersenandung sesuai dengan lagu yang ada pada setiap permainan.3

Permainan tradisional biasanya dilakukan secara beregu atau tim. akan tetapi ada yang dilakukan secara hanya berdua saja. Permainan tradisional selalu dilakukan untuk hiburan. Permainan tradisional biasanya dilakukan oleh semua anak dan tidak memandang jenis kelamin.

Dalam kegiatan bermain, anak menggunakan seluruh alat indranya mengeksplorasi lingkungannya, mencintai dan memahami lingkungannya. Dalam permainan, anak seolah-olah memasuki dunia yang menganggap dan membuka kemungkinan bagi anak untuk membangun sendiri dunianya. Anak memasuki dan menghuni dunia bermain itu dengan keterlibatan sepenuhnya. Selain dengan fantasi dan imajinasinya, juga berbagai kualitas dan intensitas emosi menyertai berlangsungnya permainan (Masitoh, 2002).4

3

Iqnahardianti, Permainan Tradisional Indonesia,

(http://iqnahardianti91.blogspot.com/2003/01 permainan-tradisional-Indonesia.hml, diakses 16 April 2013).

4

Euis Kurniati, Permainan Tradisional Dan Peranannya Dalam Mengembangkan

(14)

Rasa sporifitas dan loyalitas sebagai salah satu anggota dalam permainan juga dikembangkan. Menurut (Hamzuri, 1998: 1) hal ini sangat menonjol ditemui dalam permainan tradisional adalah sifat kejujuran atau sportifitas dan teguh memegang aturan dan kebiasaan yang berlaku. Setiap peserta permainan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menentukan jalannya permaianan. Sebab permainan tradisional yang melibatkan banyak peserta lebih membuat anak memiliki rasa bekerjasama, sosialitas, loyalitas serta solidaritas, dibandingkan dengan permainan modern yang lebih mengutamakan sikap individualitas.

Kemajuan teknologi yang semakin pesat ternyata juga mempengaruhi aktivitas bermain anak. Sekarang, anak-anak lebih sering bermain permainan digital seperti Video Games, Playstation (PS), dan games Online. Permainan ini memiliki kesan sebagai permainan modern karena dimainkan menggunakan peralatan yang canggih dengan teknologi yang mutakhir, yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan permainan anak tradisional. Permainan anak tradisional kadang tidak membutuhkan peralatan saat di mainkan, kalaupun ada peralatan yang digunakan hanyalah peralatan yang sederhana yang mudah di dapatkan, dan biasanya ada di sekitar anak saat bermain, seperti bermain batu, ranting kayu, ataupun daun kering.

Kesan modern pada permainan digital tidak hanya melekat pada peralatan yang digunakaan saat bermain, tetapi juga bagaimana cara memainkannya. Permainan digital dimainkan di dalam ruangan yang nyaman karena pada umumnya ber- AC, misalnya di tempat bermain

(15)

seperti timezone atau diwarnet. Hal ini tentu saja berbeda dengan permainan tradisional yang pada umumnya dimainkan di lapangan atau di halaman, kadang saat bermain anak kepanasan apalagi kalau bermainnya di waktu siang ketika matahari masih terik. Saat bermain, anak-anak berlari-larian, melompat-lompat, atau melempar sehingga kadang bajunya basah karena keringat.5

Salah satu permainan tradisional adalah bebentengan/benteng, permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan sebanyak 5- 10 orang. Permainan ini memerlukan tempat yang cukup luas dengan ukuran kira-kira 10 x 5cm sehingga dapat bermain leluasa. Alat yang diperlukan yaitu beberapa buah bata atau batu, bisa sebagai bentengnya. Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang lawan dan mengambil alih benteng lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan menawan seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penawan dan yang tertawan ditentukan dari waktu terakhir saat si penawaan atau tertawan menyentuh benteng mereka masing-masing.

Orang yang paling dekat waktunya ketika menyentuh benteng berhak menjadi penawan dan bisa mengejar dan menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan. Tawanan biasanya ditempatkan di sekitar benteng musuh. Tawanan juga bisa dibebaskan bila rekannya dapat menyentuh dirinya. Dalam permainan ini, biasanya masing-masing

5

Haerani Nur, Membangun Karakter Anak Melalui Permainan Anak Tradisional, FP Universitas Negeri Makassar , (87-89), H.87-88

(16)

anggota mempunyai tugas seperti penyerang, mata-mata, penganggu, dan penjaga benteng. Ditinjau dari segi edukatif, permainan ini sangat baik bagi perkembangan bakat dan memantau pertumbuhan jasmani anak-anak karena secara tidak langsung melatih kelincahan dan kecepatan lari dan juga kemampuan strategi yang handal.

Penulis mengambil sampel anak-anak yang usia 6 tahun sampai 14 tahun yang bertempat di taman Pendidikan Alqur`an Desa Yosodadi Metro Timur. Tempat tersebut dijadikan rutinitas untuk belajar agama sambil bermain. Hal tersebut memudahkan penulis untuk melaksanakan observasi dan wawancara kepada sampel penelitian yaitu anak-anak.6

Observasi dilakukan dengan melihat keadaan taman pendidikan serta melihat rentan umur partisipan. Hal tersebut yang menjadikan bahan pertimbangan penulis untuk memutuskan melakukan pra survey ditempat tersebut. Sementara wawancara dilakukan dengan model satu pertanyaan yang diajukan oleh penulis kemudian responden menjawab tersebut dengan bersama-sama.

Hasil pengamatan di Desa Yosodadi, kondisi yang ada pada lapangan saat ini adalah hanya sebesar 30% anak-anak yang mengetahhui permainan tradisional dan 10% yang mengetahui apa itu permainan bentengan. Selebihnya partisipan hanya mengetahui game online baik itu pada Smartphone dan game online yang tersedia pada Personal Komputer. Permainan tradisional sangat jarang dilakukan baik sekolah maupun dirumah, sehingga anak-anak kurang mengetahui tentang

6

(17)

permainan tradisional, padahal permainan tradisional syarat dengan nilai budaya bangsa, salah satunya yaitu kepemimpinan. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti melakukan penelitian di Desa Yosodadi Metro Timur.

Untuk skripsi yang berjudul “Penerapan Permainan Tradisional (Benteng) dalam Membentuk Karakter Pada Anak di Desa Yosodadi Metro Timur” ini, peneliti berfokus pada pemberdayaan apa yang digunakan dalam melakukan pembentukan karakter pada anak. Berdasarkan pengalaman dari peneliti yang memang sudah melakukan pengamatan terhadap Desa Yosodadi Metro Timur, maka hal ini bahwasanya memang pantas untuk digali lebih dalam melalui penelitian.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis kemudian tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Penerapan Permainan Tradisional (Benteng) Dalam Pembentukan Karakter Pada Anak Didesa Yosodadi Metro Timur”.

B. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan penelitian dalam skripsi ini adalah Bagaimana Penerapan Permainan Tradisional (Benteng) terhadap pembentukan karakter anak dibidang agama dan sosial di desa Yosodadi Metro Timur?

C. Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penelitian memiliki jangkauan yang luas. Sehingga peneliti memfokuskan penelitian tentang

(18)

“Penerapan Permainan Tradisional (Benteng) Dalam Pembentukan Karakter Anak Di desa Yosodadi Metro Timur”.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui dampak terhadap penerapan permainan tradisional (benteng) dalam pembentukan karakter anak didesa Yosodadi Metro Timur.

b. Untuk mengetahui factor penghambat dan pendukung penerapan permainan tradisional (benteng) dalam pembentukan karakter anak di desa Yosodadi Metro Timur.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

a. Menjadi bahan teorietis guna kepentingan penulisan karya ilmiah yang berbentuk proposal skripsi.

b. Memberi pemahaman kepada pembaca bahwa penelitian ini diharapkan dapat mengetahui mengapa permainan tradisional di desa-desa terutama pada Desa Yosodadi Metro Timur semakin menghilang bahkan tidak ada sama sekali.

(19)

c. Menambah khasanah keilmuan dibidang ilmu komunikasi, khusunya Komunikasi dan Penyairan Islam.

E. Penelitian Relevan

Bahwasanya untuk membedakan dengan peneliti lain, maka peneliti mencantumkan peneliti terdahulu agar menunjukkan keaslian dalam penelitian ini:

Skripsi yang di tulis oleh Sucipto, 2013 “Konsep Pendidikan Karakter Anak Dalam Keluarga (Kajian Analitik Buku Prophetic Parenting Karya Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid)”. Dalam hasil penelitiannya Sucipto secara menyebutkan bahwa guna mewujudkan sebuag generasi yang memiliki karakter kokoh serta iman dan Islam yang kuat, maka diperlukan penanaman nilai-nilai kepribadian Islami pada diri anak. Menurut penjabaran Muhammad Nur Suwaid dalam bukunya Prophetic Parenting, aspek-aspek materi yang harus dibentuk dan ditanamkan pada diri anak meliputi: aspek aqidah, ibadah, social kemasyarakatan, akhlak, perasaan, jasmani, ilmu, kesehatan dan seksual. Kesembilan aspek materi tersebut mempunyai hubungan korelatif, berjalan erat dan menyatu antara satu dengan lainya, serta tidak bisa terpisah-pisah. Maka dari itu, orang tua harus secara utuh menanamkan keseluruhan aspek tersebut agar anak memiliki karakter yang sempurna.

Menurut buku Prophetic Parenting, keluarga memliki peran yang penting dalam pembentukan karakter anak. Pendidikan di keluarga adalah pendidikan awal dan utama bagi seorang manusia. Keluarga adalah pemberi pengaruh pertama pada anak. Pembentukan pribadinya saat itu

(20)

masih menerima segala sesuatu dan mudah terpengaruh olehb apapun dalam bentukan lingkungan pertama ini. Sehingga, kunci utama dalam pembentukan karakter anak terdapat dalam keluarga.

Menurut pemikiran beliau, metode yang digunakan untuk membentuk karakter anak dalam buku Prophetric Parenting dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu metode untuk mempengaruhi kaognitif anak, metode untuk mempengaruhi efektif anak.7

Penelitian diatas berfokus pada konsep pendidikan karakter anak dalam keluarga sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis berfokus pada permainan tradisional.

Skripsi yang ditulis Nafisah Wardatun, 2016 “c” dalam hasil penelitiannya Nafisah Wardatun secara menyebutkan bahwa karakter demokratis dan disiplin siswa SDN Pakukerto 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan berada dikategori sedang, yakni 63% dengan jumlah 30 dari 40 siswa untuk karakter disiplin. Permainan tradisional petak umpet dan lompat tali memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk karakter demokraris dan disiplin yakni 10,7% untuk karakter demokratis 9,6% untuk karakter disiplin.

Permainan tradisional petak umpet dan lompat tali berpengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter demokratis dan disiplin. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien regresi sebesar 2,301 dengan signifikan p= 0,026 < 0,05 untuk permainan tradisional petak umpet dan lompat tali

7

Skripsi yang ditulis oleh Sucipto, Konsep Pendidikan Karakter Anak Dalam Keluarga (kajian analitik buku Prophetic Parenting karya Muhammad Nur Abdul Hafizd Suwaid), (Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013)

(21)

terhadap karakter demokratis dan 2,161 dengan signifikan p = 0,036 < 0,05 untuk permainan tradisional petak umpet dan lompat tali terhadap karakter disiplin.

Menurut pemikiran beliau, permainan tradisional merupakan salah satu cara atau saran yang efektif dalam membentuk karakter anak. Sayangnya, permainan tradisonal lambat laun menjadi punah tergantikan oleh permainan modern yang cenderung mengajarkan anak menjadi pribadi individual. Pada masa sekarang ini, hanya ada beberpaa permainan yang masih eksis dimainkan hingga sekarang, diantaranya petak umpet dan lompat tali. Untuk menjaga agar permainan tradisional tetap eksis, pelestarian permainan tradisonal menjadi penting untuk dilakukan. Melalui permaiana tradisional anak akan banyak belajar hal serta tidak langsung dalam menumbuhkan karakter yang dibutuhkan untuk bekal hidup bersosialisasi.8

Penelitian diatas berfokus pada pengaruh permainan tradisional petak umpet dan lompat tali terhadap pembentukan karakter demokratis dan sisiplin anak usia sekolah dasar sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis berfokus pada permainan tradisional dalam pembentukan karakter anak di desa.

Skripsi yang ditulis oleh Syarifatul Anwaria, 2016 “Efektifitas Permainan Tradisional Dalam Mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi Lisan Anak Usia Dini Kelompok B di TK Al-Hukama

8

Skripsi yang ditulis oleh, Nafisah Wardatun, Pengaruh Permainan Tradisionla Petak

Umpet dan Lompat Tali Terhadap Pembentukan Karakter Demokratis dan Disiplin Anak Usia Sekolah Dasar Di SDN Pakukerto 1 Sukorejo Kabupaten Pasuruan, (Universitas Islam Negeri

(22)

Bandar lampung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif dengan pendekatan analisis data kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi partisipan dan dokumentasi.

Menurut pemikiran beliau, permainan tradisional efektif dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi lisan yang ditunjukkan dengan berkembangnya kemampuan melakukan kegiatan sesuai perintah lisan, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dan menceritakan pengalaman.9

Penelitian diatas berfokus pada efektifitas permainan tradisional dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi lisan anak usia dini sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh penulis berfokus pada permainan tradisonal dalam pembentukan karakter anak di desa.

9

Skripsi Yang Ditulis Oleh, Syarifatul Anwaria, Efektifitas Permainan Tradisional

Dalam Mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi Lisan Anak Usia Dini Kelompok B Di TK AL- Hukama Bandar Lampung, ( Universitas Lampung, 2016)

(23)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Permainan Tradisonal

1. Definisi Permainan Tradisonal

Permainan tradisional sebagai satu di antara unsur kebudayaan bangsa tersebar di berbagai penjuru nusantara, namun dewasa ini keberadaannya sudah berangsur-angsur mengalami kepunahan. Terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan, bahkan beberapa diantarannya sudah tak dapat dikenali lagi oleh masyarakat dimana permainan tersebut ada. Beberapa jenis permainan tradisional ada pula yang masih dapat bertahan, itu pun disebabkan karena pelaku permainan tradisional tersebut berada jauh dari jangkauan permainan modern yang lebih menggunakan alat-alat canggih. Permainan tradisional sebagai salah satu bentuk dari kegiatan bermain diyakini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan fisik dan mental anak, namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan permainan tradisional akan di jelaskan pada paparan berikut.10

Santrock (1995), menjelaskan bahwa permainan (play) ialah suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilaksanakan unutk kepentingan kegiatan itu sendiri. Permainan merupakan suatu aktifitas bermain yang di dalamnya telah memiliki aturan yang dan disepakati bersama.

Docket & Fleer (2000) menjelaskan bahwa about the Time Children Start School, Game Become important. Games are characterized by the explicitness of rules and by the imposition of some form of sanction if the rukes are broken.

Hoorn (1993), menyatakan bahwa Games With Rules Play merupakan permainan yang melibatkan kesetiaan dan komitmen pada aturan-aturan permainan yang ada dan telah disepakati

10

Euis Kurniati, Permainan Tradisional Dan Peranannya Dalam Mengembangkan

(24)

bersama. Pada permainan ini, aturan harus disetujui oleh setiap pemain sebelum game (permainan) dilaukan.11

Permainan tradisional merupakan suatu aktifitas permainan yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang syarat dengan nilai-nilai budaya dan tata nilai kehidupan masyarakat yang diajarkan secara turun-temurun dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Dalam permainan ini, anak-anak akan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya, memperoleh pengalaman yang berguna dan bermakna, mampu membina hubungan dengan sesama teman, meningkatkan perbendaharaan kata, serta mampu menyalurkan perasaan-perasaan yang tertekan dengan tetap meleestarikan dan mencintai budaya bangsa.12

Permainan tradisional secara umum memberikan kegemberiaan kepada anak-anak yang melakukannya. Pada umumnya, permainan ini memliki sifat-sifat yang universal sehingga permainan yang muncul di suatu daerah mungkin juga muncul di daerah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap permainan tradisional yang berasal dari suatu daerah tertentu dapat juga dilakukan oleh anak-anak di daerah lainnya. Pada umunya, tiap-tiap daerah memliki cara khas sendiri dalam melakukan permainan tradisional tersebut.13

Keluarga belum melengkapi tugasnya dengan sempurna dalam pendidikan anak-anak sehingga ia menolong bertumbuh dari segi social. Pertumbuhan social ini melibatkan pendidikan social, ekonomi dan politik yang mengatakan bahwa kesediaan-kesediaan dan bakat-bakat asasi 11 Ibid. 12 Ibid., h.2. 13 Ibid.

(25)

anak dibuka dan dikeluarkan kedalam kenyataan berupa hubngan-hubungan social dengan orang-orang disekelilingnya.14

Pendidikan social ini melibatkan bimbingan terhadap tingkah laku social, ekonomi dan politk dalam rangka aqidah Islam yang betul dan ajaran-ajaran dan hukum agama yang berusaha meningkatkan iman, taqwa, takut kepada Alla SWT dan mengerjakan ajaran-ajaran agamanya yang mendorong kepada produksi, mementingkan orang lain, tolong menolong, setia kawan, menjaga kemaslahatan umum, cinta tanah air yang mempunyai nilai social.

Sabda Rasulallah SAW, “cintailah anak-anak dan sayangilah mereka”. Juga sabda beliau, “bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak dan tidak menghormati orang tua”. Juga sabda Rasulallah SAW kepada Aishah R.A. “Hendaklah engkau bersifat lemah lembut, sebab lemah-lembut jika ia berada pada sesuatu ia menghiasinya, sedangkan jika meninggalkan sesuatu ia merusakannya”. (H.R. Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad). Juga sabda Rasulallah SAW, “bertaqwalah kamu kepada Allah dan berbuat adillah antara anak-anakmu”. Sebagaiman keadilan berlaku pada pemberian juga berlaku pada pemberian juga berlaku pada kasih saying, perhatian dan lain-lain.15

Sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas dan mendapat bimbingan dari sekolah, seseorang anak terlebih dahulu memperoleh bimbingan dari keluarganya. Kedua orang tua terutama ibu, untuk pertama kali seseorang anak mengalami pembentukan kepribadian dan pengarahan moral. Keseluruhan kehidupan anak lebih banyak berlangsung dalam

14

Hasan Langgulung, Manusia Dan Pendidikan; Suatu Analisis Psikologi, Filsafat Dan

Pendidikan, (Jakarta: PT. Pustaka Alhusna Baru, 2004), h.313.

15

(26)

pergaulan keluarga. Itulah sebabnya pendidikan keluarga disebut pendidikan setelahnya.16

Rasulallah SAW bersabda:

“Abu Hurairah mengatakan, Rasulallah SAW bersabda: tidaklah seseorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orang hanyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani dan majusi”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kepribadian manusia bukanlah kepribadian yang deprogram secara determisitik, seperti robot, mesin atau otomat. Manusia secara fithri memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam mengaktualisasikan potensinya. Manusia berhak memliki dan menentukan jalan hidup sendiri. Alqur`an pun banyak mengandung ayat-ayat yang menunjukkan kemerdekaan dan kebebasan manusia dalam kepribadianya. Misalnya, kebebasan memilih agama, kebebasan memilih jalan ketakwaan atau melanggar keburukan, kebebasan memilih kehidupan dunia saja, atau akhirat saja, atau kedua keduanya. Oleh karena kebebasan inilah maka manusia di tuntut untuk mengupayakan kepribadiannya secara baik. Tanpa diupayakan, kepribadian itu tidak akan berkembang baik dan maksimal, karena kepribadian itu baik dan buruk akan diberi balasan17 seperti firman Allah SWT:                 Artinya:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna”.18

16

Syahraini Tambak, Pendidikan Komunikasi Islam; Pemberdayaan Keluarga

Membentuk Kepribadian Anak, (Jakarta: kalam mulia, 2013), h. 140-141.

17

Ibid., h.147 18

(27)

Firman Allah diatas kaitannya dengan pendidikan komunikasi Islam dalam keluarga untuk membentuk kepribadian anak akan diberikan balasan dari Allah SWT, dan kepribadian itu juga di upayakan secara maksimal pertumbuhannya kearah kebaikan.

(Syahraini Tambak, 2013), Manusia tidak akan dibebani oleh dosa orang lain maka ia pun tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang telah diupayakannya untuk dirinya. Kemudian manusia akan diberi balasan atas amalnya dengan balasan yang paling sempurna.19

Penulis dalam hal ini melakukan survey disalah satu Desa Yosodadi Metro Timur yang merupakan salah satu desa yang memiliki penduduk yang sangat banyak terutama pada anak-anak, anehnya akhir-akhir ini sekitar dua tahun tahun saya lihat anak-anak tidak ada yang bermain permainan tradisional, mereka lebih memilih permainan yang modern mungkin mereka lebih mudah menjumpai permainan modern dari pada tradisional karena dilihat dari pertumbuhan perekonomian masyarakat desa sekarang semakin lama semakin meningkat jadi tidak kemungkinan orang tua lebih suka membelikan permainan yang lebih modern dari pada orang tua membuatkan permainan tradisional tersebut.

Penghayatan tentang generasi-generasi yang tangguh dan bermoral, semestinya permainan tradisional tidak ditinggalkan begitu saja lantaran tidak modern. Perlu ditegaskan pula bahwa tidak semua yang kuno itu jelek dan sebagainya, tidak semua yang modern itu baik. Semua kebudayaan semestinya diserap dengan akulturasi yang benar, dalam artinya kebudayaan tradisional maupun kebudayaan modern yang baik

19

(28)

harus dilestarikan sedangkan kebudayaan yang bernilai tidak baik bagi kemajuan bangsa harus ditinggalkan atau disingkirkan.

2. Jenis-Jenis Permainan Tradisional

Permainan rakyat tradisional untuk bertanding terdiri dari tiga (3) kelompok yaitu:20

a. Permainan yang bersifat strategis (Game Of Startegy) seperti galah asin. b. Permainan yang lebih mengutamakan kemampuan fisik (Game Of

Physical Skill), seperti permainan bakiak.

c. Permainan yang bersifat untung-untungan (Game Of Change).

Menurut peneliti, permainan dan bermain adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan anak-anak. Permainan dan mainan, hakikatnya dapat dijadikan media belajar yang dapat melatih kecerdasan dan keterampilan. Berbagai bentuk permainan tradisional masyarakat selain mengajarkan kreatifitas seorang anak, juga dituntut untuk dapat membuatnya sendiri ternyata juga mengajarkan kedekatan mereka dengan alam sekitar.

Alam hakikatnya menyediakan media mainan yang tak terbatas bagi anak. Dari mainan dan permainan tradisional inilah kita akan berbicara tentang masa depan manusia yang bijak dengan alamnya. Berikut ini jenis-jenis permainan tradisional yang mungkin masih banyak dilakukan oleh anak-anak, yaitu: bebentengan, congklak, petak umpet,

20

(29)

lompat tali, bekel, susumputan, dogdog lojor, pacublek-cublek suweng, ucing kuriling dan galah bandung.21

3. Kelebihan Permainan Tradisional

Terdapat banyak kelebihan yang bisa didapatkan dari aktifitas yang telah dilakukan oleh anak-anak yang kerap melakukan permainan tradisional.

Kelebihan permainan tradisional akan di uraikan sebagai berikut:

a. Mampu mengembangkan keterampilan social anak yang diperoleh anak melalui proses bermain. Proses yang dimaksudkan diantaranya: Ketrampilan anak ketika menentukan jenis permainan yang akan dilakukan, ketika menentukan siapa yang akan menjadi kucing, ketika menentukan kelompok-kelompok kecil, ketika menunggu giliran, munculnya proses resolusi konflik yang muncul dan diselesaikan menurut pola pikir anak.

b. Beberapa permainan yang memliki nilai kompetisi dalam permainan mampu memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar besaing secara sehat untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

c. Dengan bermain bersama teman, anak akan mampu mengembangkan proses interaksi social, salah satu interaksi social yang akan muncul adalah beracakap-cakap antar pemain, yang hal ini akan sangat membantu mengembangkan Social Skill, Motoric Skill, dan Emosional Skill. Bentuk lain dari proses interaksi social adalah munculnya keterampilan bekerjasama.

21 Ibid.

(30)

d. Permainan tradisional sangat mendidik anak-anak untuk menghadapi masa depan. Sebab, dalam cerita rakyat, permainan anak-anak terdapat banyak nilai yang bisa dijadikan pegangan hidup. Nilai moral, etika kejujuran, etos kerja, solidaritas social dan sebagainya secara implisit ada pada warisan leluhur itu.22

4. Permainan Tradisional Benteng

a. Permainan Tradisional Benteng Nusantara 1) Permainan benteng yang berasal dari Lampung

Permainan ini dilakukan oleh anak-anak atau perempuan sebanyak 16-24 orang. Permainan ini memerlukan tempat yang cukup luas dengan ukuran kira-kira 10 x 5m sehingga dapat bermain secara leluasa. Alat yang diperlukan yaitu beberapa buah bata atau batu ebagi sebagai bentengnya.

Ditinjau dari segi edukatif, permainan ini sangat baik bagi perkembangan akal dan membantu pertumbuhan jasmani anak-anak karena secara tidak langsung melatih kelincahan dan kecepatan lari, juga melatih penglihatan di samping mempelajari ara mengecoh lawan.23

2) Permainan benteng yang berasal dari Jawa (petak benteng)

Permainan berkelompok yang terbagi menjadi dua tim. Inti permainan ini adalah memasuki benteng lawan dengan menyentuh baris pertahanan mereka. Biasanya yang dianggap sebagai benteng

22

Euis kurniati, Permainan Tradisional Dalam Mengembangkan Keterampilan Social

Anak, (Jakarta: kencana, 2016), h. 23-25

23

Eka Rahmawati, Bermain Asyik Permainan Tradisional, (Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan, 2010), h. 33.

(31)

adalah sebuah tiang listrik yang di jaga oleh beberapa orang, dan lawan berusaha menyentuh tiang listrik tersebut.24

3) Permainan benteng yang berasal dari Sulawesi Tengah (Nokaluri) Nokaluri adalah istilah dari Sulawesi tengah yang artinya hadang. Permainan ini dilakukan oleh dua kelompok dan setiap kelompok berjumlah 5 orang, satu orang bertindak sebagai pimpinan dan tidak menggunakan alat kecuali lapangan sebagai tempat bermain. Bentuk permainan ini bersifat hiburan, tetapi terdapat unsur-unsur pendidikan, seni, dan olahraga. Oleh karena itu, dalam permainan ini banyak aturan yang harus di patuhi.25

b. Konsep Bermain Benteng

Permainan ini merupakan permainan yang menuntut stamina para pemain untuk mengalahkan benteng pertahanan lawan, memperahankan benteng sendiri atau menyelamatkan kawan dari sanderaan lawan.

1. Nama permainan

2. Lokasi

3. Jumlah pemain

4. Bahan yang dibutuhkan

5. Prosedur permainan

: Rerebonan/Bebentengan/Baren : Lapangan / Kebun

: 6 orang atau lebih (bilangan genap) : - : 24 Ibid., h. 66 25 Ibid., h. 79

(32)

a. Anak-anak menentukan dua kelompok yang akan saling berlawanan. Misalnya, jumlah anak 10 orang, maka setiap kelompok anak masing-masing terdiri dari 5 orang. Cara menentukan kelompok dengan Hompimpa, yaitu anak-anak menggerakkan telapak tangan kanannya untuk melihat kesamaan posisi telapaknya tersebut pada saat mengucapkan “Limaaan Limaaaaa……ann”. Jika yang dicari untuk setiap kelompok adalah lima orang, maka harus ada sejumlah lima orang anak yang memiliki posisin tangan yang sama, jika kuota belum terpenuhi maka Hompimpa harus dilakukan secara terus menerus sampai jumlah kuota kelompok dapat terpenuhi. Posisi telapak tangan tersebut terdiri dari dua posisi yaitu terlentang dan tertelungkup.26

b. Apabila kelompok telah diketahui, maka permainan pun dapat segera dimulai. Setiap kelompok akan mengatur jarak dan gawang mereka masing-masing dengan posisi saling berhadapan. Kelompok tersebut akan mengatur strategi yang akan jadi penyerang, dan siapa yang akan menjadi penjaga gawang, atau bahkan posisi tersebut bisa fleksibel artinya tanggung jawab bisa berubah-ubah.

c. Hal yang paling penting dilakukan dalam melakukan permainan ini adalah bagaimana memperoleh tawanan sebanyak-banyaknya dari lawan, dan mempertahankan gawang dari serangan lawan.

26

(33)

d. Untuk mendapatkan tawanan biasanya kelompok akan saling menstimulasi (dalam bahasa sunda disebut mincing) anak yang lebih dahulu keluar dari gawangnya. Jika anak tersebut tidak dapat menghindari kejaran lawan, maka dia akan ditawan dan posisinya akan berbaris di daerah pertahanan lawan.

e. Permainan ini terus dilakukan sampai tawanan bertambah banyak dan apabila kekuatan telah dirasakan cukup untuk menjebolkan pertahanan lawan, kelompok tersebut dapat membobol pertahanan lawan dengan cara terlebih dahulu menginjakkan kakinya di gawang lawan. Dan jika demikian yang terjadi, maka dilah yang akan keluar sebagai pemenangnya.27

c. Karakter Dalam Permainan Tradisional Benteng

Bentengan dengan kata dasar benteng yang dianalogikan sebagai tempat tinggal atau rumah atau tanah air. Dalam permainan ini harus dilakukan secara berkelompok (bersama) mengisyaratkan bahwa manusia untuk hidup selalu dan akan selalu membutuhkan keberadaan orang lain dan orang banyak, begitupun sebaliknya. Salah satu aturan dalam permainan ini dalah bahwa ketika seoreang teman tertahan maka teman yang lain punya kewajiban untuk membebaskan karena jika tidak dilakukan maka kelompok tersebut akan kalah.

Bahwa setiap orang punya kewajiban yang sama untuk tujuan yang sama, yaitu mempertahankan benteng dan memenangkan

27

(34)

permainan, harus bekerja sama atau bergotong royong dalam mencapai tujuannya. Dalam skala besar, kita bisa menilai bahwa dalam kondisi apapun juga, sebuah bangsa harus bekerjasama, bergotong royong mempertahankan tanah airnya dari serangan bangsa luar yang dapat berupa praktek monopoli, kolonialis dan imperialis (perampasan hak).

Sebagaimana pula digambarkan, berlaku juga aturan bagi setiap anak yang baru keluar harus membebaskan anak lain yang lebih dulu keluar atau melindunginya. Pesan moral yang tersirat adalah, bahwa generasi yang hadir atau yang baru memiliki kewajiban untuk memperbaiki dan menata kembali agar lebih baik dari sebelumnya secara bersam-sama dengan generasi sebelumnya. Dari situ dapat dilihat betapa dalam sebuah permainan yang sederhana terkandung nilai-nilai yang begitu luhur dengan penuh penjiwaan yang tinggi untuk mengembangkan atau membangun karakter dan jati diri sebuah bangsa.28

d. Aspek Dakwah Dalam Permainan Benteng 1. Rela

Kata rela berasal dari bahasa Arab, “Ridha” yang artinya senang, sukacita atau puas dalam menerima segala sesuatu yang diberikan Tuhan Yang Mahakuasa. Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang apapun juga adalah bagian dari pemberian Allah SWT. Semuanya terjadi atas anugerah-Nya.

28

(35)

Dalam kehidupan ini, atas dasar keimanan yang mantap, terdapat orang-orang yang jiwanya rela (puas) menerima apa pun yag terjadi pada diri mereka. Jiwa mereka puas atas bagian dari Allah SWT, agama, atas ketentuan-ketentuan yang mengatur hidup dan kehidupan maupun atas segala sesuatu yang diberikan-Nya kepada mereka.29

Langkah menerima segala sesuatu dari Allah SWT dengan jiwa yang rela atau puas, sesungguhnya menyehatkan jiwa. Menerima dengan puas dan mensyukuri apa yang dimiliki (sesuai jangkauan/kemampuan) benar-benar penting sekali. Segala usaha, serat perjuangan, sedikit atau banyak ada hasil yang dicapai, baik langsung maupun tidak langsung yang diluar fisik kita (uang, fasilitas dan barang) maupun yang ada di dalam diri kita (kesehatan, akal dan iman). Semua itu jika diterima dan dinikmati dengan puas dan mendayagunakannya secara optimal akan membuat jiwa menjadi lega, bersyukur dan merasakan secercah kebahagiaan.

Sebaliknya, jika jiwa bersikap menolak atau terkadang menumpatkannya denga hanya melihat sisi kekurangannya dari hasil itu, akan tmenjadikan jiwa tersebut kecewa, jengkel, mudah marah dan sedih. Kebahagiaan jiwa terusik karena adanya sikap yang negative, tidak menerima dengan puas. Jadi, jiwa yang negative

29

(36)

tidak menguntungkan sama sekali.30 Dalam Alqur`an Surat Ibrahim Allah Berfirman:             

Artinya: “dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".31 (Q.S. Ibrahim: 7).

Tambahan nikmat merupakan suatu kepastian (bukan sebatas kemungkinan) dan akan diberikan kepada mereka yang pandai bersyukur dengan senang/puas, utamanya tambahan berkah dan manfaat.

Semua jenis permainan tradisional termasuk permainan benteng adalah permainan yang bersifat sosial. Salah satu fungsi permainan benteng tersebut adalah untuk mengadakan komunikasi, baik dengan lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya. Komunikasi itu dimaksudkan unuk menciptakan rasa kebersamaan di antara kelompok orang yang terlibat di dalam permainan tersebut. Selain nilai kebersamaan, nilai kesetiaan juga memiliki kedudukan yang sangat penting.

2. Amanah

Kata Amanah berasal dari kata Amina-ya`manu-amnan-wa amanatun, yang secara harfiah berarti aman. Pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerimanya sama-sama aman, tidak cemas dan tidak merasa khawatir dikhianati. Dalam sebuah ensiklopedia dijelaskan,

30

Ibid., h.66-67 31

(37)

secara etimologi amanah berarti kejujuran, kepercayaan, kebalikan dari khianat. Dalam hal ini amanah terdapat tiga hal yang berhubungan, yaitu pihak yang memberi amanah, hal yang diamanahkan dan pihak yang menerima amanah. Hal ini berlaku sama, baik dalam lingkup sederhana/kecil maupun lingkup besar.

Amanah tidak hanya membutuhkan kejujuran, tetapi juga tekad yang reguh untuk memelihara dan menjaga sebaik-baiknya segala sesuatu yang diamanahkan, sehingga tetap berjalan dengan aman.32

Mengenai masalah amanah yang melibatkan tiga hal tersebut, Alqur`an mentebutkan:

                   

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”.33

(Q.S. Al-Ahzab: 72).

Dalam konsep islam, mengkhianati suatu amanah berarti berkhianat kepada Alah SWT, sebab tidak ada sesuatu amanah kecuali dari-Nya. Allah dengan tegas mencegah seseorang berkhianat, baik yang merupakan amanah-Nya maupun lainnya. Dalam Alqur`an telah diterangkan:

           

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)

32

Rif`At Syauqi Nawawi, Kepribaidan Qu`Ani., h. 91-92 33

(38)

janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Q.S. Al-Anfaal: 27).34

Sebaliknya, Allah memerinthkan kepada umat manusia untuk menunaikan amanah-Nya:

                            

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.35

(Q.S. An-Nisaa: 58). Transfer nilai dalam permainan benteng terjadi melalui penghayatan yang langsung dari pengalamannya bermain. Anak akan memiliki nilai kejujuran karena dalam bermain ia juga berusaha unuk jujur. Nilai juga bisa diperoleh anak melalui pembiasaan peraturan yang ada dalam permainan tersebut. Misalkan anak terbiasa unuk sportif maka ia akan memiliki nilai sportifivitas dengan sendirinya.

Tiap-tiap permainan anak-anak tersebut masing-masing memiliki aturannya sendiri. Setiap pemain yang terlibat dalam permainan tersebut harus menaati peraturan yang berlaku di dalamnya. Bagi yang melanggar aturan yang disepakati bersama, yang berbuat curang, tidak sportif atau tidak jujur, memang tidak dikenai sanksi hukaman tertentu, namun dalam permainan berikutnya orang yang melanggar aturan, curang, dan tidak jujur

34

Q.S. Al-Anfaal (8): 27 35

(39)

tidak akan diajak bermain lagi, sampai yang bersangkutan dapat mengubah prilakunya. Artinya, mereka yang pernah melakukan hal-hal yang dianggap kurang sportif maka pertama-tama mereka akan dikenakan sanksi sosial untuk tidak dilibatkan dalam permainan sejenis pada waktu berikutnya.

3. Tolong Menolong

Tolong menolong dalam bahasa Arab adalah Ta`awun, sedangkan menurut istilah, pengertian Ta`awun adalah sifat tolong menolong diantara sesame manusia dalam hal kebaikan dan taqwa. Dalam ajaran Islam, tolong menolong merupakan kewajiban setiap muslim. Sudah semsetinya konsep tolong menolong ini dikemas sesuai dengan styariat Islam, dalam artian tolong menolong hanya diperbolehkan dalam kebaikan dan taqwa, dan tidak diperbolehkan tolong menolong dalam hal dosa atau kemaksiatan.36

Allah SWT telah menyebutkan perintah tolong menolong dalam ayat Alqur`an sebagai berikut:

……                   

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.37 (Q.S. Al- Maidah: 2).

Dari redaksi ayat diatas, dapat di ketahui bahwa Islam sangat menjunjung tinggi tolong menolong. Tolong menolong telah

36

Siti Afifah, Tolong Menolong Dalam Islam, dalam www.gardapena.com, diunduh pada

10 maret 2018 37

(40)

menjadi keharusan, karena apapun yang kita kerjakan tentu membutuhkan pertolongan dari orang lain.

Maka dalam suatu hadits telah disebutkan bahwa antar mukmin satu dengan mukmin yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan yang lainnya. Walaupun begitu juga dengan Ta`awun, tolong menolong adalah suatu system yang benar-benar memperindah Islam. Manusia satu dengan yang lainnya pastilah saling membutuhkan pertolongan dari yang lainnya.

Selain itu anak juga mendapatkan nilai dengan menirukannya dari orang yang lebih tua. Anak akan melakukan pengaturan strategi atau memimpin melalui cara menirukannya dari anak yang lebih tua dalam memimpin dan mengatur permainan benteng, hingga akhirnya anak yang lebih kecil juga memiliki nilai pengaturan strategi, kepemimpinan, dan tolong menolong.

B. Definisi Karakter

1. Anak dalam Pandangan Alquran

Anak dalam pandangan Alqur`an sebagai amanat Allah yang dititipkan kepada kedua orang tua.38 Anak pada dasarnya harus memperoleh perawatan, perlindungan dan perhatian yang cukup dari kedua orang tua, karena kepribadiannya ketika dewasa akan bergantung kepada pendidikan masa kecilnya, terutama yang diperoleh dari lingkungan keluarga. Sebab pendidikan yang diperolehnya pada masa

38

Juwariyah, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Dalam Alqur`An, (Yogyakarta: teras, 2010), h. 69

(41)

kecil akan jauh lebih membekas dalam membentuk kepribadian anak dari pada pendidikan yang diperolehnya ketika tumbuh dewasa.

Dengan demikian, maka sesungguhnya kedua orang tua itulah yang memiliki tanggung jawab langsung dan lebih besar terhadap pendidikan anak-anaknya.

sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (H.R. Thabrani dan Bhaihaqi, dalam Aljami` Ash-Shahiir, 287, Hadits No. 2386).

Alqur`an telah dengan tegas mengingatkan kepada umat manusia bahwa harta dan anak itu adalah fitnah/cobaan dari Allah SWT, sebagaimana dalam Firman-Nya:



        

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.39 (Q.S. Al-Taghaabuun: 15).

Berangkat dari penjelasan ayat Alqur`an diatas, maka bagaimana sikap kedua orang tua di dalam menghadapi dan memperlakukan cobaan anak yang akan mempengaruhi kondisi anak dalam perkembangannya.40 Maka, adalah kewajiban orang tua khususnya para pendidik pada umunya untuk mengarahkan dan membimbing anak-anak menuju hal-hal yang baik dan benar, dan menjauhkan mereka dari pengaruh-pengaruh jelek yang dapat mewarnai keimanan seerta kepribadian mereka masing-masing.

39

Q.S. At-Taghaabuun: 15 40

(42)

2. Pengertian Karakter

Akar dari semua tindakan yang baik dan buruk, terletak pada hilangnya karakter. Karakter yang juat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepada populasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dapat dipenuhi dengan kebaikan dan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan tidak normal.

Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berprilaku yang khas tiap-tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan setiap akibat dari keputusannya.41

Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan dengan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari dalam besikap maupun bertindak.

Karakter merupakan sifst-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik.

41

Muchlas Samani, Konsep Dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), h. 41

(43)

Scrento (1997) mendefiniskan karakter sebagai atribut atau circiri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Sementara itu “The Free Dictionary” dalam situs Onlinenya yang dapat diunduh secara bebas mendefinisikan karakter sebagai suatu kombinasi kualitas atau ciri-ciri yang membedakan seseorang atau kelompok atau suatu benda dengan yang lainnya. Karakter juga didefinisikan sebagai sesuatu deskripsi dari atribut, ciri-ciri atau kemampuan seseorang.42

3. Nilai Budi Pekerti

Muchlas Samawi (2012: 47), juga mengemukakan ada beberapa butir jangkauan sikap dan perilaku yang harus ditanamkan pada diri seorang manusia, diantaranya sebagai berikut:

a. Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan tuhan, yaitu, disiplin, beriman, bertaqwa, berfikir jauh kedepan, bersyukur, jujur, mawas diri, pemaaf, pemurah dan pengabdi.

b. Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan diri sendiri yaitu, bekerja keras, berani memikul resiko, disiplin, berhai lemah lembut, berempati, berfikir matang, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bertanggung jawab, bijaksana, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, menghargai waktu, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, percaya diri, rela berkorban, sabar, setia, adil, hormat, tertib, sportif, susila, tangguh, tegas, rukun, tekun, tepat janji/amanah dan terbuka.

c. Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan keluarga, bekerja keras, berfikir jernih, bijaksana, cerdik, cermat, berkemauan keras, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, ramah tamah, dan lain sebagainya.

d. Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan masyarakat yaitu, bekerja keras, berfikir jauh kedepan, bertegang rasa/toleran, bijaksana, cerdik, jujur, lugas, setia, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemurah, rasa kasih sayang, rela berkorban, adil, tertib, amanah dan terbuka.

e. Sikap dan perilaku dalam hubungan dengan alam sekitar, yaitu bekerja keras, berfikir jauh kedepan, menghargai kesehatan dan pengabdi.

42

(44)

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai sikap dan perilaku tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus ditanamkan oleh pendidik kepada anak didiknya. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama yaitu pemerintah, orang tua dan masayarakat dalam membentuk karakter anak didik yang sesuai dengan ssalah satu tujuan pendidikan nasional yang memiliki akhlakul karimah yang senantiasa mendapatkan Ridha Alla SWT.43

4. Factor-faktor yang Mempengaruhi Karakter Anak

Terdapat banyak factor yang mempengaruhi karakter anak. Dari sekian banyak factor tersebut, para ahli menggolongkannya ke dalam dua bagian, yaitu factor Intern dan Ekstern.

a. Faktorn Intern

Terdapat banyak hal yang mempengaruhi factor intern ini, diantaranya adalah, Insting dan Naluri.44 Insting adalah suatu sifat yang dapat menumbuhkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berfikir lebih dahulu kearah tujuan itu, dan tidak didahului latihan perbuatan itu. Setiap perbuatan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (insting). Naluri merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir dan merupakan suatu pembawaan yang asli.

Para ahli psikologi membagi insting manusia sebagai pendorong tingkah laku ke dalam beberapa bagian diantaranya naluri

43

Maisah, Manajemen Pendidikan, (Ciputat: Gaung Persada Press Group, 2013), h. 37-38 44

Heri Gunawan, Pendidikan Karakter; Konsep Dan Implementasi, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 19

(45)

makan, naluri berjodoh, naluri ke-ibu bapak-an, naluri berjuang dan naluri bertuhan.

1) Adat atau kebiasaan (habit)

Salah satu factor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang menjadi akhlak (karakter) sangat erat sekali dengan kebiasaan. Yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan yang selalu di ulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan.

Factor kebiasaan ini memegang peranan sangat penting dalam membentuk dan membina akhlak (karakter). Sehubungan kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan, maka hendaknya manusia memaksakan diri untuk mengulang-ulang perbuatan yang baik, sehingga kebiasaan dan terbentuknya akhlak (karakter) yang baik padanya.

2) Kehendak / kemauan (Iradah)

Kemauan ialah kemauan untuk melangsungkan segala ide dan segala yang dimaksud, walau disertai dengan berbagai rintangan dan kesukaran-kesukaran, namun sekali-kali tidak mau tunduk kepada rintangan-rintangan tersebut. Salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingkah lau adalah kehendak atau kemauan keras (azam).

Itulah yang menggerakkan dan merupakan kekuatan yang mendorong manusia dengan sungguh-sungguh untuk berprilaku (berakhlak). Sebab dengan kehendak itulah dapat menjelma suatu

(46)

niat yang baik dan buruk dan tanpa kemauan pula, semua ide, keyakinan, kepercayaan dan pengetahuan menjadi pasif dan taka da artinya bagi kehidupan.45

3) Suara batin atau suara hati

Didalam diri manusia terdapat suatu kekuatan yang sewaktu-waktu memberikan peringatan (isyarat) jika tingkah laku manusia berada di ambang bahaya dan keburukan. Kekuatan tersebut adalah suara batin atau suara hati. Suara batin berfungsi memperingatkan bahayanya perbuatan buruk dan berusaha untuk mencegahnya. Disamping dorongan untuk melakukan perbuatan baik, suara hati dapat terus mendidik dan dituntut akan menaiki jenjang kekuatan rohani.

4) Keturunan

Keturunan merupakan suatu factor yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia. Dalam kehidupan, dapat dilihat anak-anak yang berprilaku menyerupai orang tuanya, bahkan nenek moyangnya sekalipun sudah jauh.

Sifat yang diturunkan itu garis besarnya ada dua macam, yaitu:

1. Sifat jasmaniyah, yakni kekuatan dan kelemahan otot-otot dan urat saraf orang tua yang dapat diwariskan kepada anaknya.

2. Sifat ruhaniyah, yakni lemah dan kekuatannya suatu naluri dapat diturunkan pula oleh orang tua, yang kelak mempengaruhi perilaku anak cucunya.46

45

Ibid., h. 20 46

(47)

b. Faktorn Ekstern

Selain factor Intern (yang bersifat dalam) yang dapat mempengaruhi karakter, akhlak, moral, budi pekerti dan etika manusia, juga terdapat factor ekstern (yang bersifat dari luar) , diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Pendidikan

Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter, akhlak dan etika seseorang, sehingga baik dan buruknya akhlak seseorang sangat tergantung pada pendidikan.

Pendidikan ikut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang telah diterima oleh seseorang baik formal maupun non formal. Betapa pentingnya factor pendidikan itu, karena naluri yang terdapat pada seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah.47

Oleh karena itu, pendidikan agama perlu dimanifestikan melalui berbagai media, baik pendidikan formal disekolah, pendidikan informal dilingkungan keluarga dan pendidikan non formal yang apa pada masyarakat.

2) Lingkungan

Lingkungan (Milieu) adalah suatu yang melingkupi suatu tubuh hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan, tanah, udara dan

47 Ibid.

(48)

pergaulan. Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya atau juga dengan alam sekitarnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul, dalam pergaulan itu saling mempengaruhi pikiran, sifat dan tingkah laku.

Adapun lingkungan dibagi kedalam dua bagian, yaitu:48 a. Lingkungan yang bersifat kebendaan.

Alam yang melingkupi manusia merupakan factor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku manusia. Lingkungan alam ini dapat mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa seseorang.

b. Lingkungan pergaulan yang bersifat kerohanian.

Seseorang yang hidup dalam lingkungan yang baik secara langsung atau tidk langsung dapat membentuk kepribadiannya menjadi baik, begitu pula sebaliknya seseorang yang hidup dalam lingkungan kurang mendukung dalam pembentukan akhlak maka setidaknya dia terpengaruh lingkungan tersebut.

5. Pembentukan Karakter Anak

Para ahli pendidikan dan psikologi berpendapat bahwa tahap-tahap awal kehidupan. Seseorang anka merupakan masa yang sangat penting untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang akan memberi warna ketika ia menjadi dewasa. Pada saat ini pembrntukan karakter dasar, kemampuan penginderaan, berfikir dan pertumbuhan standar nilai-nilai dan moral agama sebagai awal pencapaian identitas diri anak.

Sikap kebiasaan dan perilaku yang dibentuk pada tahun-tahun awal kehidupan seseorang anak sangat menentukan seberapa jauh ia berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika dewasa

48

(49)

kelak. Usia dini disebut sebagai masa kritis dan sensitive yang akan menentukan sikap, nilai dan pola perilaku seseorang anak dikemudian hari. Dimana kritis ini potensial dan kecenderungan serta kepekaannya akan mengalami aktualisasi apabila mendapat rangsangan yang tepat.

Menurut Reber, periode kritis dan sensitif seorang anak perlu diberi rangsangan, perlakuan secara tepat, agar mempunyai dampak yang positif. Sebaliknya, kalau periode ini terlewatkan, maka pengaruh dari luar tidak akan bermanfaat bagi pembentukan karakter anak. Periode pertumbuhan kritis pada usia dini erat hubungannya dengan perkembangan biologis terutama perkembangan otak seorang anak, karena otak bagian susunan saraf yang berfungsi mengontrol aktifitas fisik maupun mental seseorang mulai tumbuh.

Pada usia dini ini, pertumbuhan otak seseorang belum berkembang secara optimal, sehingga rangsangan yang tepat dilakukan pada pertumbuhan otak secara optimal. Tentu aja keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan anak untuk menjadi pribadi yang matang.

Orang tua sebagai lingkungan social pertama bagi anak, sehingga sikap dan perilaku orang tua terhadap anak akan mempengaruhi kepribadian anak. Peran dan tanggung jawab harus dimulai saat anak dapat menerima rangsangan dari luar. Anak akan mulai mempelajari bagaiamana ia harus menerima, mengolah dan bereaksi terhadap rangsangan. Meskipun anak akan bereaksi dengan memperlihatkan jati dirinya, namun ia mulai menanamkan pola-pola

(50)

tertentu dalam bereaksi terhadap rangsangan luar.Pola inilah kemudian menjadi dasar pengembangan karakter.

Para ahli menyimpulkan bahwa sekalipun bayi belum dapat diberi pendidikan atau belum dapat menangkap pengertian verbalitas dan perilaku, namun demikian ia seolah-olah dapat menyadari perlakuan mana yang penuh ksih sayang dan sikap mana yang tidak disertai dengan kasih sayang.

Menurut Erickson, dengan timbulnya rasa percaya dan aman, sebagai lingkungan pertumbuhan dan perkembangan, maka anak membangun kepercayaan selama hidupnya, dan akan membuat anak mengekspresikan kebaikan hati, harapan dan cinta kasih secara timbal balik. Selanjutnya, anak secara berangsur-angsur akan mengurangi ketergantungannya terhadap orang tua. Akhirnya anak sudah mengetahui apakah sesuatu itu salah atau benar, baik atau buruk maka akan berproses menuju orang yang bermoral. Dengan demikian, hubungan orang tua dan anaknya sejak dini merupakan kunci bagi pertumbuhan dan perkembangan karakter anak.49

49

A. Rahmat Rosyid, Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter Anak Usia

Gambar

Gambar 1.Foto Wawancara dengan Pegawai di Kantor Kelurahan Yosodadi Metro  Timur (Dokumentasi tanggal 29 juni 2018)
Gambar 3. Foto Wawancara dengan Orang tua anak di Desa Yosodadi Metro  Timur (Dokumentasi tanggal 30 juni 2018)
Gambar 5. Foto Wawancara dengan Orang Tua anak di Desa Yosodadi Metro  Timur (Dokumentasi tanggal 29 juni 2018)
Gambar 7. Foto Kegiatan Penerapan Permainan Tradisional Benteng di Desa  Yosodadi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tugas yang diberikan kepada sisiwa hendaknya mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai, jenis tugas yang sesuai dengan kemampuan siswa, ada petunjuk yang dapat

Bahwa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dengan berbagai produknya. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip

Riba merupakan praktek meminjam atau hutang-piutang yang disertai adanya tambahan (bunga) pada pinjaman atau hutang pokok berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang telah

11 Akhsanul Huda, Pengaruh Bimbingan Orangtua terhadap Motivasi Belajar Baca Tulis Al-Qur’an Anak TPA Al-Maghfiroh Desa Bumi Harjo Kecamatan Batanghari Lampung Timur,

7 tahun 1992, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka tabungan dan/atau bentuk

Kualitas pelayanan adalah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen atau nasabah serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan

Dari hasil penelitian, orangtua di desa Pempen Kecamatan Gunung Pelindung Kabupaten Lampung Timur telah melaksanakan tanggung jawab dan kewajiban untuk mendidik

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian adalah mengetahui penggunaan media benda kongkrit