DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
(Studi Pada Pembayaran Zakat Penghasilan Masyarakat di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah)
Oleh:
TOIFATUL KHASANAH NPM. 13112969
Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO
1439 H / 2018 M
ii
PEMANFAATAN BUNGA BANK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
(Studi Pada Pembayaran Zakat Penghasilan Masyarakat di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh:
TOIFATUL KHASANAH NPM. 13112969
Pembimbing I : Drs. H. Musnad Rozin, MH Pembimbing II : Hj. Siti Zulaikha, S.Ag, MH
Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO
1439 H / 2018 M
iii
iv
v
PEMANFAATAN BUNGA BANK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi Pada Pembayaran Zakat penghasilan Masyarakat di Kampung
Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah)
ABSTRAK Oleh:
TOIFATUL KHASANAH
Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga setelah dua kalimat syahadat dan mendirikan sholat. Zakat mempunyai kedudukan dan posisi yang penting karena keberadaannya menyangkut aspek kehidupan masyarakat. Terutama bagi umat muslim yang keadaannya memprihatinkan. Setiap Muslim yang memiliki harta dan telah memenuhi syarat-syarat tertentu diwajibkan mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada fakir miskin atau mereka yang berhak, dengan syarat- syarat yang ditentukan sesuai dengan agama Islam. Oleh karena itu, harta yang dimiliki wajib zakat seperti perusahaan, perdagangan dan lain sebagainya yang mendatangkan keuntungan wajib dikenakan zakat agar hasilnya juga dirasakan masyarakat. Zakat tersebut ialah zakat penghasilan. Zakat penghasilan adalah zakat yang dikenakan pada penghasilan karena profesinya dan dilandasi dengan jiwa yang bersih, dengan begitu zakat akan mensucikan dan menumbuhkan pahalanya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan bunga bank dalam perspektif hukum Islam pada pembayaran zakat penghasilan masyarakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah.
Meskipun keharaman bunga sudah jelas, namun dalam realitas sosial bunga bank masih banyak digunakan oleh masyarakat muslim. Ada ulama yang dengan tegas mengharamkan semua bentuk bunga, namun ada juga yang masih menerima bunga bank asalkan digunakan untuk kemaslahatan umum.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara (interview) dan dokumentasi. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan wawancara bebas terpimpin yaitu peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan kerangka pertanyaan yang telah dipersiapkan, sedangkan objek yang diberikan kebebasan dalam memberikan jawaban. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa kualitatif dengan metode berfikir induktif.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa praktik pemanfaatan bunga bank untuk pembayaran zakat profesi Masyarakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah diperbolehkan. Hal ini dikarenakan terdapat masalahat di dalamnya. Selain itu, diperbolehkan menggunakan bunga bank tersebut untuk kepentingan sosial lainnya. Hal ini berdasarkan kaidah syari’ah yang melarang menyia-nyiakan harta dan tidak memanfaatkannya. Akan lebih baik jika harta bunga bank itu digunakan untuk kepentingan umum yang membawa kemaslahatan.
vi
vii MOTTO
...
...
Artinya: ...“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (Q.S. Al-Baqarah: 275)1
1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2008), h. 108
viii
PERSEMBAHAN
Dengan kerendahan hati dan rasa syukur kepada Allah SWT, peneliti persembahkan skripsi ini kepada:
1. Ayahanda Asrori dan Ibunda Samikem yang senantiasa berdo’a, memberikan kesejukan hati, dan memberikan dorongan demi keberhasilan peneliti.
2. Kakak-kakakku tercinta yang senantiasa memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Almamater IAIN Metro.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik hidayah dan inayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini.
Penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah (HESy) Fakultas Syari’ah IAIN Metro guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H).
Dalam upaya penyelesaian skripsi ini, peneliti telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya peneliti mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag, selaku Rektor IAIN Metro
2. H. Husnul Fatarib, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Metro 3. Sainul, SH, MA, selaku Ketua Jurusan Hukum Ekonomi Syariah
4. Bapak Drs. H. Musnad Rozin, MH, selaku Pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga dalam mengarahkan dan memberikan motivasi kepada peneliti.
5. Ibu Hj. Siti Zulaikha, S.Ag, MH, selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga dalam mengarahkan dan memberikan motivasi kepada peneliti.
6. Kepala Desa dan segenap warga Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah yang telah membantu peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
x
Kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini sangat diharapkan dan akan diterima dengan kelapangan dada. Dan akhirnya semoga skripsi ini kiranya dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu Hukum Ekonomi Syariah.
Metro, Juni 2018 Peneliti,
Toifatul Khasanah NPM. 13112969
xi DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN ABSTRAK ... v
HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
HALAMAN KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
D. Penelitian Relevan ... 10
BAB II LANDASAN TEORI A. Riba ... 13
1. Pengertian Riba ... 13
2. Dasar Hukum Riba ... 14
3. Macam-Macam Riba ... 16
B. Konsep Bunga Bank ... 18
C. Zakat Penghasilan ... 27
1. Pengertian Zakat Penghasilan ... 27
2. Dasar Hukum Zakat Penghasilan ... 31
3. Ketentuan Nisab dan Kadar Zakat Penghasilan ... 34
4. Tujuan Zakat Penghasilan ... 37
5. Cara Menghitung Zakat Penghasilan ... 39
xii BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Sifat Penelitian ... 43
B. Sumber Data ... 44
C. Metode Pengumpulan Data ... 46
D. Metode Analisa Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah ... 49
B. Pelaksanaan Pembayaran Zakat penghasilan Masyarakat di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah ... 55
C. Pembayaran Zakat penghasilan dengan Memanfaatkan Bunga Bank pada Masyarakat di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah ... 63
BAB V PENUTUP ... 74
A. Kesimpulan ... 74
B. Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman 1. Jenis Profesi Masyarakat Desa Purwodadi Kecamatan Bangun
Rejo Tahun 2017... 5
2. Daftar Nama-nama Lurah/Kades Desa Purwodadi ... 50
3. Kondisi Geografis Desa Purwodadi... 51
4. Kondisi Ekonomi, Sosial dan Budaya Kampung ... 52
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman 1 Struktur Organisasi Desa Purwodadi ... 54
xv
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Bimbingan 2. Outline
3. Alat Pengumpul Data 4. Surat Research 5. Surat Tugas
6. Surat Balasan Izin Research
7. Formulir Konsultasi Bimbingan Skripsi 8. Foto-foto Penelitian
9. Surat Keterangan Bebas Pustaka 10. Riwayat Hidup
A. Latar Belakang Masalah
Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keadaan kesejahteraan sosial. Hal ini dapat dilihat dari substansi yang terkandung dalam rukun Islam, yakni adanya aturan tentang kewajiban membayar zakat, karena agama Islam merupakan agama universal, yang tidak hanya berisi ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya yang berupa ibadah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang disebut dengan muamalah.
Muamalah merupakan kegiatan manusia yang berperan sebagai khilafah di muka bumi, yang bertugas menghidupkan dan memakmurkan bumi dengan cara interaksi antar umat manusia, misalnya melalui kegiatan ekonomi. Ekonomi dalam Islam adalah suatu sistem ekonomi yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadis, yang menekankan kepada nilai- nilai keadilan dan keseimbangan. Dengan demikian, berarti agama Islam adalah agama yang memandang pentingnya keadilan demi terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.1
Kepemilikan harta dalam Islam berarti pemeliharaan milik Tuhan dan bukan hak mutlak perorangan. Konsep pemeliharaan berarti bahwa mereka yang berhasil meraih kemakmuran haruslah dapatmenggunakannya untuk
1 Muhammad, Zakat penghasilan: Wacana Pemikiran Zakat dalam Fiqh Kontemporer, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2002), hlm. 2.
menolong orang lain, salah satu bentuknya adalah dengan mengeluarkan zakat.
Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga setelah dua kalimat syahadat dan mendirikan sholat. Zakat mempunyai kedudukan dan posisi yang penting karena keberadaannya menyangkut aspek kehidupan masyarakat.
Terutama bagi umat muslim yang keadaannya memprihatinkan.2
Mengeluarkan zakat hukumnya adalah wajib bagi orang Islam yang telah memenuhi syarat-syaratnya dan zakat wajib atas orang kaya, adapun kriteria harta yang wajib dizakatkan sebagai berikut. Pertama, al-milk at-tam yang berarti harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang memiliki potensi untuk berkembang, misalnya harta perdagangan, peternakan, pertanian, deposito, usaha bersama dan lain sebagainya. Kedua, telah mencapai nisab, harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya, hasil pertanian mencapai 653 kg, emas/perak telah senilai 85 gram, perdagangan telah mencapai nilai emas 85 gram, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dan sebagainya. Ketiga, telah melebihi kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarganya menjadi tanggungan untuk kelangsungan hidupnya. Keempat, telah mencapai satu tahun (haul) untuk harta-harta tertentu, misalnya perdagangan. Akan tetapi untuk tanaman dikeluarkan zakatnya saat memanennya.3
2 Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, dan Sedekah, (Jakarta:
Gema Insani Press, 1998), h. 18
3 Ibid, h.14
Zakat wajib hukumnya untuk dilaksanakan. Firman Allah yang terkait dengan kewajiban membayar zakat dan fungsinya salah satunya terdapat pada Q.S. Al-Baqarah: 43 sebagai berikut:
Artinya: Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang rukuk.4
Ayat di atas menjelaskan, Allah SWT memerintahkan kepada hamba- hambanya yang mukmin agar melaksanakan zakat karena menunaikan zakat sangat mulia jika ditinjau dari segi sosialnya. Dalam hal ibadah zakat sudah jelas merupakan ibadah sekaligus kewajiban sebagaimana penjelasan sebelumnya dan dalam kehidupan sosial, zakat bukan hanya sebatas urusan hamba dengan Allah SWT namun zakat merupakan pondasi Islam yang sangat kokoh seperti hal nya shalat.5
Islam merupakan agama yang memberikan peraturan untuk menunaikan zakat apabila seseorang memiliki kekayaan atau perusahaan yang mendapatkan keuntungan yang banyak (mencapai nisab) maka hendaknya mereka mengeluarkan zakat, hal ini sangat dianjurkan karena untuk mendorong pertumbuhan perekonomian umat serta mendorong tercapainya kemajuan ekonomi.
Setiap Muslim yang memiliki harta dan telah memenuhi syarat-syarat tertentu diwajibkan mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada fakir miskin
4 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2000), h. 2
5 Kementian Agama Islam RI, Al-Qur;an dan Tafsirnya, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), h.170
atau mereka yang berhak, dengan syarat-syarat yang ditentukan sesuai dengan agama Islam. Oleh karena itu, harta yang dimiliki wajib zakat seperti perusahaan, perdagangan dan lain sebagainya yang mendatangkan keuntungan wajib dikenakan zakat agar hasilnya juga dirasakan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan zaman, munculnya usaha-usaha ekonomi di berbagai sektor baik pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, perindustrian, jasa dan lain sebagainya juga semakin luas yang semuanya itu mendatangkan keuntungan harta benda. Berkaitan dengan semakin luasnya usaha ekonomi tersebut, perlu ada penataan dalam pelaksanaan zakat yang pada akhirnya melahirkan apa yang disebut zakat penghasilan. Zakat penghasilan merupakan bagian dari wacana Islam kontenporer yang tentu saja tidak kenal dalam khasanah keilmuan Islam di Masa Rasulullah.
Menurut al Qardhawi, seperti dikutip oleh Didin Hafiduddin zakat penghasilan adalah zakat yang dikenakan kepada penghasilan para pekerja karena pekerjaannya baik itu dilakukan sendirian maupun bersama dengan pihak/lembaga lain yang mana mendatangkan penghasilan (honorarium) yang memenuhi nishab.6 Jadi, dapat dipahami bahwa zakat penghasilan adalah zakat yang dikenakan pada penghasilan karena pekerjaannya dan dilandasi dengan jiwa yang bersih, dengan begitu zakat akan mensucikan dan menumbuhkan pahalanya.
6 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 22
Desa Purwodadi merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah. Sebagian masyarakat Desa Purwodadi banyak yang mendepositokan uangnya di bank. Hal ini umum terjadi karena pekerjaan yang digeluti masyarakat Desa Purwodadi banyak mendapatkan keuntungan seperti pegawai negeri sipil, petani yang mempunyai lahan luas, dan lain sebagainya. Data jenis pekerjaan masyarakat Desa Purwodadi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.
Jenis Pekerjaan Masyarakat Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Tahun 20177
No Jenis Pekerjaan Jumlah
1 Buruh Tani 341
2 Petani 2209
3 Peternak 14
4 Pedagang 551
5 Tukang Kayu 14
6 Tukang Batu 21
7 Penjahit 3
8 PNS 33
9 Pensiunan 4
10 TNI/Polri 3
11 Perangkat Kampung 8
12 Pengrajin 150
13 Industri kecil 13
14 Buruh Industri 207
15 Lain-lain 1773
Jumlah 5025 orang
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pekerjaan petani mendominasi pekerjaan di Desa Purwodadi. Namun, hanya sebagian petani saja yang menyimpan uangnya di bank. Hal ini dikarenakan tidak semua petani memiliki lahan yang luas yang dapat memberikan keuntungan yang
7 Data Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2017
banyak. Sedangkan pekerjaan PNS sebagian besar menyimpan uangnya di bank.
Sejalan dengan hal di atas, penulis melakukan wawancara pra-Survei kepada bapak Jali selaku salah satu warga yang berpekerjaan sebagai PNS yang menyatakan sebagai berikut:
“Hampir semua PNS di desa ini menyimpan uangnya di bank. Hal ini dikarenakan gaji pokok pegawai negeri sipil memang diberikan oleh pemerintah melalui bank. Sebagian warga yang berpekerjaan PNS seperti saya sendiri mempunyai pekerjaan lain seperti petani.
Sehingga kebutuhan hidup sehari-hari sudah dapat terpenuhi dengan hasil tani tersebut, sedangkan gaji yang diterima dari pemerintah tetap disimpan di bank. Selain itu, menyimpan dana bank dirasa lebih aman tanpa khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan”.8
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa menyimpan uang di bank bagi masyarakat Desa Purwodadi dirasa lebih aman daripada disimpan di rumah.
Bank adalah badan yang memberikan jasa penyimpanan uang, pengiriman uang, serta permintaan dan penawaran kredit. Kegiatan yang dilakukan bank antara lain menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan, deposito dan sebagainya. Dalam menjalankan usahanya, bank menerapkan prinsip bunga, yaitu bank memberikan bunga kepada nasabah yang menyimpan uangnya dan mengenakan bunga kepada masyarakat yang mengambil kredit. Sedangkan bunga sendiri adalah keuntungan yang diberikan kepada pemilik modal (nasabah) dengan tingkat tertentu sesuai kebijakan yang berlaku.
8 Hasil Wawancara Pra-Survei dengan Bapak Jali selaku warga Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah pada 10 Agustus 2017.
Praktik pemberian bunga di perbankan cenderung menyerupai riba, yaitu melipatgandakan pembayaran. Riba berarti tambahan (ziyadah), bisa juga diartikan berkembang (nama’). Sedangkan secara istilah, riba didefinisikan sebagai pengembalian tambahan dari modal pokok secara bathil dan bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam. Maka dari itu, riba diharamkan dalam Islam.
Riba merupakan praktek meminjam atau hutang-piutang yang disertai adanya tambahan (bunga) pada pinjaman atau hutang pokok berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang telah disepakati sebelumnya. Pada masa sekarang,masyarakat dihadapkan pada bunga bank yang merupakan riba.
Akan tetapi, di masa sekarang ini bunga bank menjadi suatu permasalahan yang tidak dapat dihindari banyak orang yang melakukan kegiatan ekonomi, khususnya dalam dunia perbankan.
Persoalan halal haramnya bunga bank sebgaai instrumen keamanan merupakan hal yang kontriversial dalam Islam sejak lama. Hal ini berkaitan dengan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang melarang praktek riba. Namun, sebagian ulama mengharamkan bunga bank dan sebagian menganggap halal hukumnya bunga bank karena mereka menganggap bunga bank tidak sama dengan riba.
Berdasarkan data yang didapat dari monografi desa, ada 33 penduduk yang berpekerjaan sebagai PNS. Namun, tidak semua PNS tersebut membayar zakat penghasilan meskipun sudah mencapai nishab zakat. Nishab zakat yang harus dipenuhi adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai
85gr emas (harga emas diperkirakan Rp. 520.000/gram) dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok.
Ini berarti nishab zakat penghasilan yaitu Rp. 520.000 x 85 (gram) = 44.200.000 per tahun. Artinya orang yang mendapatkan penghasilan per tahun sesuai nominal 85 gram emas sebagaimana yang peneliti contohkan di atas, sudah terkena kewajiban membayar zakat penghasilan.
Dari 33 PNS yang ada, baru 9 orang yang membayar zakat penghasilan dan 3 diantaranya membayar dengan menggunakan bunga bank.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Misidi, selaku salah satu PNS yang membayar zakat penghasilan dengan bunga bank menyatakan sebagai berikut:
“Saya membayar zakat penghasilan dengan mengambil bunga dari bank di tempat saya menyimpan uang. Sebagian warga di sini juga seperti itu. Bunga tersebut sudah lama tidak saya ambil, jadi saya gunakan untuk membayar zakat penghasilan saja”.9
Penelitian ini sangat penting untuk dilakukan karena pada dasarnya dalam hukum Islam ada perbedaan pendapat ulama tentang hukum mengambil bunga tabungan di bank, untuk kemudian disalurkan ke berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan termasuk salah satunya adalah untuk membayar zakat. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti sangat tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai “pandangan hukum Islam terhadap membayar zakat penghasilan menggunakan hasil bunga bank di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah”.
9 Hasil Wawancara dengan Bapak Misidi selaku warga Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah pada 10 Agustus 2017.
B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, pertanyaan penelitian yang muncul dalam penelitian ini, yaitu: Bagaimana pemanfaatan bunga bank untuk pembayaran zakat penghasilan di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah perspektif hukum Islam?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pemanfaatan pemanfaatan bunga bank untuk pembayaran zakat penghasilan di di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah perspektif hukum Islam.
2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoretis
Secara teoretis hasil peneliti ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti untuk menambah wawasan yang ada pada pemanfaatan bunga bank untuk pembayaran zakat penghasilan di Desa Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah perspektif hukum Islam.
b. Secara Praktis
Manfaat secara praktis penelitian ini adalah dapat dijadikan bahan pertimbangan yang berguna sebagai bahan masukan atau
informasi dan pengetahuan bagi lembaga wajib zakat, pembaca, serta masyarakat luas pada umumnya.
D. Penelitian Relevan
Penelitian relevan berisi tentang uraian mengenai hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji.10 Ada beberapa penelitian yang berhubungan dengan tema yang dibahas dalam penelitian ini.
Oleh karena itu, akan dipaparkan tentang penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini. Diantaranya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Syafruddin, dengan judul “Implementasi Zakat penghasilan di Kalangan PNS dan TNI/POLRI di Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat”. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa rendahnya realisasi zakat penghasilan di kalangan pekerjaanonal di Kecamatan Bahorok disebabkan oleh beberapa faktor penghambat, diantaranya adalah: kurangnya pemahaman terhadap hukum zakat penghasilan, rendahnya kesadaran para pekerjaanonal dalam menjalankan hukum zakat penghasilan, kurangnya sosialisasi tentang Undang-Undang zakat dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang zakat penghasilan.11
2. Penelitian yang dilakukan oleh Arsan Rolanda, dengan judul: “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat penghasilan di Kota
10 Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Revisi Cet 1, (Metro: STAIN Juraisiwo, 2016), h. 25
11 Syafruddin, “Implementasi Zakat penghasilan di Kalangan PNS dan TNI/POLRI di Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat”, dalam http://repository.uinsu.ac.id/1571/1/Tesis%20 Syafruddin%20.pdf. diakses pada tanggal 11 Agustus 2017.
Medan”. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dari 100 responden yang diteliti, 60 menyatakan paham dan 40 tidak paham terhadap zakat penghasilan. Hanya 38 responden dari 60 responden yang paham zakat penghasilan yang bersedia memberitahu skala tingkat pemahaman terhadap zakat penghasilan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat penghasilan relatif baik dengan rata-rata pemahaman bernilai 6,55. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengimplementasian zakat penghasilan adalah: sosialisasi, pembuatan perda, dan pembelajaran akan zakat penghasilan tersebut. kendala yang terjadi dalam penerapan zakat penghasilan tersebut adalah: kurangnya sosialisasi, dukungan yang kurang dari pemimpin dan anggota instansi, faktor lingkungan, dan pengetahuan agama dari para PNS.12
3. Penelitian yang dilakukan oleh Fuad Tsani, dengan judul: “Bunga Bank (Studi Perbandingan Antara Pandangan Muhammad ‘Abduh dan Murtada Mutahhari) ”. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai bunga bank antara Muhammad ‘Abduh dan Murtada Mutahhari. Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan metode ijtihad dalam melihat persoalan bunga bank. Dimana Mutahhari lebih cenderung untuk melihat tekstualitas ayat tentang riba dan bersikap hati-hati. Sedangkan ‘Abduh lebih menonjolkan kemampuan ijtihad
12 Arsan Rolanda, “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat penghasilan di Kota Medan” dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/38865/cover.pdf;
jsessionid=599628EDFAABA80EC6C6D8C32652D8F6? sequence=7, diakses pada tanggal 11 September 2017.
dengan metode kemaslahatan yang berlaku umum dan kesesuaian ayat Al- Qur’an lainnya (munasabah). Dan Abduh lebih berpegang pada dogma
“al-Islam Salih likulli zaman wa makan”.
Berdasarkan penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini memiliki kajian yang berbeda, walaupun memiliki fokus kajian yang sama pada tema-tema tertentu. Letak perbedaannya yaitu pada penelitian ini yang akan diteliti adalah pemanfaatan bunga bank dalam pandangan hukum Islam. Pembahasan ini sangat berbeda dengan penelitian pertama, kedua dan ketiga. Sedangkan persamaan pada penelitian ini terletak pada tema bunga bank yang kemudian menjadi objek yang dizakati. Oleh karena itu, penelitian ini lebih ditekankan pada pembayaran zakat penghasilan yang berasal dari bunga bank.
A. Riba
1. Pengertian Riba
Kata riba berasal dari bahasa Arab, secara etimologis berarti tambahan (azziyadah), berkembang (an-numuw), membesar (al-'uluw) dan meningkat (alirtifa').1 Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.2
Sehubungan dengan arti riba dari segi bahasa tersebut, ada ungkapan orang Arab kuno menyatakan sebagai berikut; arba fulan 'ala fulan idza azada 'alaihi (seorang melakukan riba terhadap orang lain jika di dalamnya terdapat unsur tambahan atau disebut liyarbu ma a'thaythum min syai'in lita'khuzu aktsara minhu (mengambil dari sesuatu yang kamu berikan dengan cara berlebih dari apa yang diberikan).3
Menurut terminologi syara, ulama fikih sependapat bahwa riba adalah tambahan atau sejumlah pinjaman ketika pinjaman itu dibayar dalam tenggang waktu tertentu tanpa ‘iwad (ganti).4 Menurut Muhammad Syafi’i
1 Abu Sura'i Abdul Hadi, Bunga Bank Dalam Islam, Alih Bahasa M. Thalib, (Surabaya: al- Ikhlas, 1993), h. 125.
2 M. Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam dan Wakaf, (Jakarta: UI Press, 1980), h. 10.
3 Khoiruddin Nasution, Riba dan Poligami, Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan ACAdeMIA, 1996), hal. 37.
4 Abd. Al-Rahman al-Jaziri, Kitab Fiqih Aal-Mazahib al-Arba’ah, Terjemah Kitab Fiqh Empat Madzhab, (Jakarta: Litera Nusa, tth), h. 245
Antonio, riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.5
Berdasarkan pengertian di atas, riba adalah bunga kredit yang harus diberikan oleh orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang, sebagai imbalam untuk menggunakan sejumlah milik berpiutang dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Misalnya si A memberi pinjaman pada si B dengan syarat si B harus mengembalikan uang pokok pinjaman serta sekian persen tambahannya.
2. Dasar Hukum Riba
Terdapat beberapa ayat yang membicarakan riba dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya adalah Firman Allah SWT:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda6 dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan,” (QS. Al-Imran: 130).
Ayat ini jelas menyatakan bahwa, memakan bunga dapat menyebabkan rakus, tamak, kikir, dan egois bagi orang yang mengambilnya; dan kebencian, kemarahan, kecemburuan bagi orang yang
5 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 19.
6 Yang dimaksud Riba di sini ialah Riba nasi'ah. menurut sebagian besar ulama bahwa Riba nasi'ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
membayarkannya. Oleh karena itu, Allah telah mengecam dan melarang riba dan menganjurkannya untuk berbuat amal baik sebagai suatu penangkal terhadap praktek riba.7
Allah juga berfirman dalam QS. Ar-Rum: 39
Artinya: “Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”
Pada ayat di atas, Allah SWT mencela riba dan memuji zakat. Ayat ini secara halus menyebutkan bahwa riba itu tidak baik dan tidak bermanfaat bagi pelakunya, karena si pelaku tidak akan mendapat pahala di sisi Allah SWT. Sebaliknya, pada ayat ini dijelaskan bahwa perbuatan yang baik dan terpuji adalah zakat yang akan menghasilkan pahala di sisi-Nya.8
Pada waktu ayat ini turun, al-Qur’an sedang memperkenalkan zakat, yang diambil dari harta yang dianggap bersih yang dimiliki seseorang.
Ketika masih ada seseorang yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, maka zakat adalah jalan keluarnya, bukan justru dengan meminjamkan uang tetapi memungut tambahan sisa waktu pengembaliannya. Ini adalah perbuatan yang tidak baik.
7 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 4 (Yogayakarta: Dana Bakti Wakaf, 1996), h. 131.
8 Sayyid Qutub, Tafsir Ayat-Ayat Riba,. h. 70-72.
Konsep pelarangan riba dalam Islam dapat dijelaskan dengan keunggulannya secara ekonomis dibandingkan dengan konsep ekonomi konvensional. Riba secara ekonomis lebih merupakan sebuah upaya untuk mengoptimalkan aliran investasi dengan cara memaksimalkan kemungkinan investasi melalui pelarangan adanya pemastian (bunga).
Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besar kemungkinan aliran investasi yang terbendung. Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bendungan. Semakin tinggi dinding bendungan, maka semakin besar aliran air yang terbendung.9
Hikmah pelarangan riba menurut Syaikh Abu Zahrah sebagaimana dikutip oleh Yusuf Qardhawi, yaitu bahwa pengharaman masalah riba dimaksudkan untuk mengatur ekonomi terhadap modal yang diambil manfaatnya agar dapat dikembangkan dan dijalankan oleh manusia. Dan bagi orang yang memiliki modal, tapi tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya maka modal tersebut diberikan kepada orang lain yang mampu mengembangkannya.10
3. Macam-Macam Riba
Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing- masing adalah riba utang piutang dan riba jual-beli.11 Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan jahiliyah. Adapun kelompok kedua, riba jual-beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasiah.
9 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), h. 17.
10 Yusuf Qardhawi, Ijtihad Kontemporer Kode Etik dan Berbagai Penyimpangan, ., h. 101.
11 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah (Deskripsi dan Ilustrasi) (Yogyakarta: Ekonisia, 2003) h. 15-16.
a. Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyatarkan terhadap yang berutang (muqtaridh).12
b. Riba Jahiliyah
Utang dibayar lebih dari pokonya karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. Riba jahiliyah di larang karena kaedah “kullu qordin jarra manfa ah fahuwa riba” (setiap pinjaman yang mengambil manfaat adalah riba.) dari segi penundaan waktu penyerahannya, riba jahiliyah tergolong riba nasi’ah;
dari segi kesamaan objek yang dipertukarkan tergolong riba fadhl.13 c. Riba fadhl
Riba fadl ialah pertukaran barang sejenis, dengan ketentuan terdapat kelebihan pada suatu barang tersebut.14 Oleh karena itu, terlarangnya riba fadl merupakan penetapan hukum secara sadduz zai’ah, yaitu diharamkan karena ia merupakan jalan terjadinya riba nasiah.15
Riba fadhl disebut juga riba buyu yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya sama kuantitasnya, dan sama waktu penyerahannya.16
Pertukaran seperti ini mengandung gharar yaitu ketidak jelasan bagi kedua pihak akan nilai masing-masing barang yang dipertukarkan.
12 Ibid.
13 Ibid.
14 Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 1993), h. 169.
15 Abu Sura’i Abdul Hadi, Bunga Bank dalam Islam, (Surabaya: Al-Ihlas 1993), h. 27.
16 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga., h. 16
Ketidak jelasan ini dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak, kedua pihak dan pihak-pihak yang lain.17
d. Riba Nasi’ah
Menurut Umer Chapra, istilah nasiah berasal dari kata nasa’a yang berarti menunda, menangguhkan atau menunggu dan mengacu atau merujuk pada waktu yang diizinkan bagi peminjaman untuk membayar kembali hutang berikut “tambahan” atau “premi.’18
Riba nasi’ah juga disebut riba duyun yaitu riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko dan hasil usaha muncul bersama biaya. Transaksi semisal mengandung ini pertukaran kewajiban menanggung beban hanya karena perjalannya waktu. Riba Nasi’ah adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya.19
B. Konsep Bunga Bank
Secara leksikal, bunga sebagai terjemahan dari kata interest. Bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan presentase dari uang yang dipinjamkan. Pendapat lain menyatakan “interest yaitu sejumlah uang yang dibayar atau dikalkulasi untuk penggunaan modal.
Jumlah tersebut misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase
17 Ibid.
18 M. Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, Alih Bahasa: Ikhwan Abidin Basri, (Jakarta:
Gema Insani Press, 2000), h. 22.
19 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga.,
modal yang bersangkut paut dengan itu yang sekarang sering dikenal dengan suku bunga modal“.20
Secara istilah sebagaimana diugkapkan dalam kamus Oxford English Dictionary of the English Language yang mengartikan bunga atau interest dengan: (1) money paid for the usa of money lent (the principal), or for forbearance of a debt, according to a fixed ratio (rate perecnt). (2) premium or interest or money (or goods) or received on loam, gain made by lending money, yakni bunga, adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan porsentase dari uang yang dipinjamnkan atau imbalan yang diberikan kepada penyimpan uang yang besarnya telah ditetapkan di muka.
Biaya atau imbalan tersebut biasanya ditetapkan dalam bentuk prosentase (%) dan akan terus dikenakan selama masih ada sisa simpanan atau pinjaman sehingga tidak terbatas pada waktu jangka kontrak.21
Bunga bank dapat di artikan sebagai balas jasa yang di artikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga bagi bank dapat di artikan sebagai harta yang harus di bayar oleh nasabah (yang memiliki simpanan) dan harga yang harus di bayar oleh nasabah kepada bank (nasabah) yang memperoleh pinjaman.22
Bunga merupakan tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan. Kemudian apakah
20 Abdul Salam , Bunga Bank dalam Perspektif Islam (Studi Pendapat Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah), dalam JURNAL EKONOMI SYARIAH INDONESIA, Volume III, No.1 Juni 2013 , h. 88.
21 Sr. Syahruni Usman, Bunga Bank dalam Perspektif Hukum Islam, dalam Jurnal Tahkim, Vol. X No. 1 Juni 2014, h. 31.
22 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada) h. 133
bunga termasuk riba, ada dua pendapat; pertama, menurut ijma ulama di kalangan semua mazhab fiqh bahwa bunga dengan segala bentuknya termasuk kategori riba.23 Dan kedua, pendapat yang menyatakan bahwa bunga tidak termasuk kategori riba.
Para ulama fiqh mulai membicarakan tentang bunga bank (riba), ketika mereka memecahkan berbagai macam pesoalan muamalah. Dasar hukum pelarangan bunga bank sama dengan pelarangan riba.
Menurut J. Van Zwijndregt, bunga bank terbagi menjadi dua, yakni bunga konsumtif dan bunga produktif. Bunga konsumtif diperoleh dari kredit konsumtif, sedangkan bunga produktif diperoleh melalui kredit produktif.24 Sedangkan menurut Bohn Bawerk sebagai tokoh penganut teori bunga produktif, menganggap bahwa produktivitas sebagai suatu kekayaan yang dihasilkan oleh modal dan hasil dari modal inilah sebagai penyebab bunga uang.25 Dengan demikian, bunga berarti hak yang dicapai oleh pemilik modal dalam penggunaan modalnya dalam proses produksi dari surplus atau nilai lebih yang terbentuk selama proses tersebut.26
Bunga bank sendiri di Indonesia mengalami kontroversi karena di satu pihak ia dapat dimasukkan dalam riba, namun di sisi lain ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hal ini lah yang membuat banyak
23 Ummi Kalsum, Riba dan Bunga Bank Dalam Islam (Analisis Hukum dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Umat), dalam Jurnal Al-‘Adl IAIN Kendari, Vol. 7 No. 2, Juli 2014, h.
71.
24 Maxime Rodiso, Islam dan Kapitalism, Alih Bahasa: Asep Hikmat, (Bandung: Igra, tth), h. 152.
25 Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 3, (Jakarta: PT. Dana Bakti Wakaf, 1995), Cet. Ke-1, h. 21.
26 Winardi, Istilah Ekonomi dalam Tiga bahsas, Inggris, Belanda, dan Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1996), h. 203.
tokoh Islam meninjau kembali karakteristik riba yang dijelaskan di dalam Al- Qur’an.27
Majelis Ulama Indonesia (MUI ) pernah mengadakan lokakarya bunga bank dan perbankan pada tanggal 9-12 Agustus 1990 di Cisarua, Jawa Barat dan memutuskan bunga bank itu termasuk riba. Wacana ini yang dijadikan dasar untuk adanya bank tanpa bunga, karena sebagian umat Islam mengharamkan bunga bank. Putusan keharaman bunga bank ini menjadi momen berdirinya bank tanpa bunga pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat Indonesia.28
Kemudian sidang MUI berlanjut pada sidang ijtima komisi fatwa MUI pada tanggal 16 Desember 2003 yang memutuskan bahwa bunga bank adalah riba dan haram hukumnya. Meskipun hasil sidang ini pada waktu itu tidak difatwakan secara terbuka dan kurang dikomunikasikan dengan masyarakat luas.29
Ada beberapa hal yang menjadi masalah kontroversial seputar bunga yang terjadi di kalangan para tokoh Islam antara argumen terhadap pembenaran konsep bunga dikemas dalam bentuk bersifat ilmiah dan argumen sebagai bantahan dan kritikan terhadap teori-teori yang dikemukan kalangan yang membenarkan adanya bunga. 30
27 Muhammad Zuhri, Riba dan al-Qur’an dan Masalah Perbankan, (Sebuah Tilikan Antisipatif), Cet. 2, (Jakarta: Raja Grafindo, 1997), h. 59.
28 Achyar Ilyas, Menunggu Tindak Lanjut Fatwa Bunga Bank, dalam Republika 23 Desember 2003, h. 2.
29 Ibid.
30 Ummi Kalsum, Riba dan Bunga.,
Pertama, pada persoalan tingkat bunga, pada tingkat yang wajar maka bunga dibolehkan. Namun tingkat bunga wajar sangat subjektif tergantung pada waktu, tempat, jangka waktu, jenis usaha dan skala usaha. Aspek ini juga terdapat pada ayat pelarangan riba tahap ketiga yang terdapat pada Q.S. Ali Imran [3]: 130 merupakan ayat pertama yang menyatakan secara tegas terhadap pengharaman riba bagi orang Islam. Larangan ini merujuk kepada apa yang dipraktekkan oleh orang-orang Arab pada masa itu, dengan cara menambah bayaran jika hutang tidak bisa dibayar ketika jatuh tempo.
Perkataan berlipat ganda dalam ayat ini merupakan ciri hutang zaman jahiliah yang senantiasa bertambah sehingga menjadi berlipat ganda.7 Bukan berarti bunga yang dikenakan yang tidak berlipat ganda menjadi halal.8 Quraish Shihab juga menafsirkan bahwa adh’afan mudha’afatan pada ayat ini bukan merupakan syarat. Jadi walaupun tidak berlipat ganda berarti bunga tetap tidak halal. Penafsiran ini, diperkuat dengan ayat-ayat tentang riba yang selanjutnya Q.S. al-Baqarah [2]: 275-276 dan 278-279 (ayat terakhir turun tentang proses pengharaman riba), telah secara tegas menyatakan setiap tambahan melebihi pokok pinjaman termasuk riba. Hal ini berlaku bagi setiap bunga baik bersuku rendah, berlipat ganda, tetap maupun berubah-ubah bahkan sisa-sisa riba sekalipun dilarang. Ayat ini secara total mengharamkan riba dalam bentuk apapun.31
Beberapa tokoh berbeda pendapat tentang riba yang diharamkan adalah riba yang bersifat adh’afan mudha’afatan atau berlipat ganda.
31 Ibid.
Pendapat ini dikemukakan oleh Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad Asad, yang menafsirkan riba sebagai usury yang berarti suku bunga yang lebih dari biasanya atau suku bunga yang tinggi dan bukan interest (bunga yang rendah).
Adanya perbedaan penafsiran terhadap interest dan usury ini membawa konsekwensi problem konseptual yang serius sehingga timbul perbedaan pendapat terhadap kategori riba yang diharamkan. Jika merujuk kepada pendapat tafsiran Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad Asad maka bunga bank tidak termasuk riba yang diharamkan. Senada dengan pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad Abduh, Muhammad Rashid Rida, Abd al- Wahab Khallaf, Mahmud Shaltut. Mereka berpendapat bahwa riba yang diharamkan adalah riba yang berlipat ganda dan tidak termasuk riba yang kadarnya rendah. Mereka memahami sesuai dengan konteks ayat riba yang mengharamkan riba yang berlipat ganda. Sanhuri juga menganggap bahwa bunga yang rendah atas modal adalah halal atas dasar kebutuhan. Ia menambahkan bahwa hukum harus menentukan batas-batas suku bunga, metode pembayaran dan total bunga yang harus dibayar. Namun pendapat terakhir ini mempunyai beberapa kelemahan, karena sepanjang sejarah tingkat (kadar) suku bunga berbeda-beda (fluktuatif) mengikuti keadaan, baik dari segi waktu dan tempat. Oleh karena itu sukar untuk menentukan tingkat suku bunga yang tinggi atau yang rendah berdasarkan waktu dan tempat. 32
Kedua, adanya pembenaran unsur bunga dengan cara apa pun sebagai kompensasi atas terjadinya inflasi dan ini merupakan pendapat umum yang
32 Ibid.
diadopsi dari teori agio. Namun argumen ini lemah ketika adanya suku bunga yang lebih tinggi dari inflasi yang diperkirakan atau tingkat inflasi dapat mencapai nol atau negatif (deflasi). Justru keberadaan bunga memicu penyebab terjadinya inflasi. Jika alasan untuk menjaga nilai uang yang terkikis oleh inflasi maka kompensasinya tidak mesti dengan bunga tetapi dengan instrumen lain.33
Ketiga, konsep marginal utility, yaitu konsumsi menurun menurut waktu.
Artinya unit konsumsi di masa yang akan datang memiliki nilai guna yang lebih kecil dibanding dengan nilai guna saat ini. Konsep ini muncul sebagai akibat dari proses perbandingan antara nilai guna pada masa sekarang dengan masa yang akan datang. Konsep ini dikritisi dengan argumen bahwa pendapatan di masa akan datang tidak selalu meningkat. Untuk itu marginal utility di masa yang akan datang tidak pasti selalu lebih rendah. Jika kondisi seperti ini maka mencari nilai diskonto dari nilai kegunaan di masa yang akan menjadi tidak relevan. Di samping itu, pendekatan marginal utility yang mengandalkan pada identifikasi yang tepat mengenai pendapatan mana yang akan dianalisis ketika menghitung pertumbuhan pendapatan, apakah pendapatan orang miskin, orang kaya, atau rata-rata pendapatan secara nasional.34
Keempat, konsep yang memandang bunga sebagai sewa15 dari uang.
Pendapat ini ditentang kebanyakan pakar ekonom muslim. Sebab menurut mereka istilah sewa untuk uang tidak relevan sebab sewa digunakan hanya
33 Ibid, h. 72-73.
34 Ibid, h. 73.
untuk benda yang diambil manfaatnya tanpa kehilangan hak kepemilikannya.
Sedangkan pada kasus meminjamkan uang manfaat diperoleh tetapi kepemilikan terhadap uang hilang. 35
Kelima, pembenaran bunga atas dasar darurah (dire necessity) dan hajah (need). Salah satu unsur penting dalam perekonomian adalah bank, yang di dalamnya terkandung sistem bunga. Bunga bank (interest) yang dianggap sama dengan riba akan sulit untuk dihentikan, karena jika bank dilarang akan menimbulkan kemacetan ekonomi. Oleh karena itu, dapat dikatakan kondisi semacam ini adalah darurat, yaitu membolehkan yang dilarang atas dasar darurat sehingga tercipta suatu sistem yang tidak menimbulkan kemacetan ekonomi. Namun konsep ini harus melihat kondisiriilnya apakah termasuk kategori dharurah (dire necessity) dan hajah (need). Contohnya kondisi dharurah tidak terpenuhi karena menyimpan uang tidak mesti di bank atau pada saat ini, lembaga keuangan syariah telah tersebar di tanah air.36
Argumen lainnya yang menyatakan bahwa karena bunga yang diberikan oleh institusi keuangan saat ini tidak sama dengan riba yang dipraktekkan pada zaman jahiliah. Tetapi argumen ini, tidak mampu menggoyangkan pendapat para fuqaha dan mayoritas ekonom muslim modern yang menjunjung konsensus historis tentang riba, yang banyak mendapat dukungan. Pendapat mereka, istilah riba mengandung arti bunga dalam segala manifestasinya tanpa membedakan antara pinjaman untuk konsumtif maupun produktif, antara pinjaman bersifat personal maupun komersial,atau apakah
35 Ibid.
36 Ibid, h. 73-74.
peminjam itu pemerintah, individu swasta atau perusahaan dan tidak membedakan antara suku bunga rendah maupun tinggi. Hal ini jelas terangkum pada Q.S. al-Baqarah [2]: 275-279. Argumen bagi kalangan yang mencari celah untuk membolehkan bunga, bahwa bunga dilarang karena pada zaman Rasulullah Saw hanya ada pinjaman konsumtif dan bunga yang disertakan dalam pinjaman tersebut termasuk pemerasan. Tetapi pendapat ini tidak tepat dan bertentangan dengan fakta. Sebab secara historis, pada periode Nabi Saw masyarakat muslim telah terbiasa dengan cara hidup yang sederhana dan tidak melakukan praktek konsumsi mencolok, oleh karena itu, tidak ada alasan untuk meminjam uang untuk tujuan pamer diri dan untuk keperluan konsumsi yang tidak penting. Kalaupun diasumsikan ada, praktek pinjaman ini pasti sangat terbatas pada kalangan tertentu dan jumlahnya pun sedikit sehingga dapat dipenuhi lewat qardh al-hasan.37
Meskipun keharaman bunga sudah jelas, namun dalam realitas sosial bunga bank masih banyak digunakan oleh masyarakat muslim. Ada ulama yang dengan tegas mengharamkan semua bentuk bunga, namun ada juga yang masih menerima bunga bank asalkan digunakan untuk kemaslahatan umum.
Maksudnya adalah kebutuhan masyarakat dalam suatu wilayah tertentu untuk menunjang kesejahteraan lahiriyah. Baik kebutuhan itu berdimensi zahiriyah atau kebutuhan dasar yang menjadi sarana pokok untuk mencapai kemaslahatan agama, akal pikiran, jiwa, keturunan dan harta benda, maupun
37 Ibid, h. 74.
kebutuhan hajiyah (sekunder) dan kebutuhan yang takmiliyah atau pelengkap.38
Sebagaimana yang diungkapkan Nasrun Haroen, bahwa maslahat mengandung pengertian manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat.39 Lebih lanjut, Yusuf Qardhawi mengungkapkan bahwa dalam menemukan kemaslahatan yang telah ditetapkan oleh syari’ah, kemaslahatan terdiri dari tiga tingkatan, yakni daruriyah (sesuatu yang kita tidak bisa hidup tanpanya), hajiah (kehidupan bisa tanpa kehadirannya, namun akan sulit), dan tahsiniyah (sesuatu yang digunakan untuk memperindah kehidupan).40
Imam Gazali sebagaimana dikutip Nasrun Haroen memandang bahwa suatu kemaslahatan harus sejalan dengan tujuan syara’ sekalipun bertentangan dengan tujuan-tujuan manusia, karena kemaslahatan mansuia tidak selamanya didasarkan pada kehendak syara’, tetapi sering didasarkan pada kehendak hawa nafsu. Tujuan syara’ yang harus dipelihara tersebut adalah ada lima bentuk, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.41
C. Zakat penghasilan
1. Pengertian Zakat penghasilan
Zakat berarti kesucian dan kebersihan. Sebagian dari harta benda, yang disisihkan dan diberikan kepada fakir miskin. Karena dengan cara demikian harta dan jiwa kita menjadi bersih dan suci. Harta seseorang
38 Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, Cet. I, h. 9.
39 Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I, Cet. 3, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 114.
40 Yusuf Qardhawi, Fiqih Prioritas: Urusan yang Terpenting dari yang Terpenting, Cet. I, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 13.
41 Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I., h. 114.
yang tidak dizakati adalah harta yang kotor dan tidak bersih karena tidak ada rasa berterimakasih kepada Allah.42
Zakat penghasilan dalam Islam dikenal dengan istilah al-kasab, yaitu harta yang diperoleh melalui berbagai usaha, baik melalui kekuatan fisik, akal pikiran maupun jasa.43 Di dalam buku Didin Hafiddudin, Yusuf al-Qaradhawi menyatakan bahwa di antara hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian kaum muslimin saat ini adalah penghasilan atau pendapatan yang diusahakan melalui keahliannya, baik keahlian yang dilakukan sendiri maupun bersama-sama, seperti para karyawan, pegawai atau para pengusaha. Semua itu menghasilkan pendapatan atau gaji.
Pencarian dan pekerjaan dapat diambil zakatnya bila sudah setahun dan cukup senisab.44
Hal ini pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, bahwa seseorang pekerja jarang yang penghasilannya tidak mencapai nishab, tetapi tidak semua pegawai atau karyawan yang penghasilannya telah mencapai satu nishab. Oleh karena itu, zakat penghasilan ini wajib dikeluarkan zakatnya bila sudah mencapai nishab. Nishab zakat penghasilan diqiaskan dengan nishab emas dan nishab tanaman. Zakat penghasilan yang dikeluarkan setahun sekali nishabnya adalah 85 gram emas.45
42 Abdu A’la Maududi, Dasar-dasar Islam, diterjemahkan Oleh Achsin Mohammad, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1422-2001 M), H. 171.
43 Muhammad Hadi, Problematika Zakat penghasilan dan Solusinya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), Cet. I, h. 53.
44 Didin Hafidhudin, h. 93-94.
45 Ibid.
Zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha yang halal dan dapat mendatangkan hasil (uang) yang relatif banyak dengan cara yang mudah, baik melalui suatu keahlian tertentu ataupun tidak.46 Adapun istilah ulama salaf bagi zakat ini biasa disebut dengan al-mal al- mustafad.47
Menurut Didin Hafidhuddin bahwa zakat penghasilan dapat dianalogikan pada dua hal, yaitu pada zakat pertanian serta zakat emas dan perak. Jika dianalogikan pada zakat pertanian, maka zakat penghasilan tidak ada ketentuan haul. Dan nishabnya senilai 653 kilogram padi dan waktu mengeluarkan zakatnya adalah pada saat menerima gaji. Sedangkan bila dianalogikan dengan zakat emas dan perak, maka zakat yang wajib dikeluarkan dari suatu pekerjaan adalah seperempat puluh atau 2,5%. Hal ini karena gaji, upah, atau yang lainnya pada umumnya diterima dalam bentuk uang.48
Sedangkan Amin Rais berpendapat bahwa zakat terhadap pekerjaan-pekerjaan modern perlu di tingkatkan sekitar 10% atau 20%. Hal ini didasarkan dari begitu mudahnya seseorang dalam mendapatkan rizki yang melimpah. Pekerjaan-pekerjaan yang mendapatkan rizki secara gampang misalnya: dokter, komisaris perusahaan, konsultan, akuntan, pengacara, notaris, importir, eksportir, dan masih banyak lagi pekerjaan
46 Ibid., Pasal 668, Ayat 3.
47 Wahbah az-Zuhaili, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, Alih Bahasa: Abdul Hafiz dan muhammad Afifi, Cet. Ke-2, (Jakarta: Penerbit akmahira, 2002), h. 122
48 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h.
97.
modern yang lain. Semua ini demi kehidupan sosial yang lebih sehat supaya jarak antara yang kaya dan miskin tidak semakin menganga lebar.49
Zakat penghasilan adalah zakat dari setiap pendapatan seperti gaji, honorium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.50
Berdasarkan pengertian di atas bahwa yang wajib mengimplementasikan zakat penghasilan tersebut adalah: setiap orang Islam yang termasuk dalam katagori profesional seperti pejabat negara, pegawai/guru atau karyawan, dokter, pengacara, konsultan, dan sebagainya.
Dalam Undang-Undang RI nomor 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat telah mewajibkan setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam untuk mengeluarkan zakat, yang salah satunya berasal dari pendapatan dan jasa.51 Selain itu dalam Undang-Undang ini juga mewajibkan pembentukan badan amil zakat sebagai badan pengelola dan pengumpul zakat.52
Berdasarkan pengertian di atas, zakat penghasilan dapat diartikan sebagai zakat yang dikenakan pada setiap pekerjaan atau ahli profesional tertentu, baik yang dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain yang
49 Amin Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita Dan Fakta, (Bandung: Mizan, 1987), h. 58- 61.
50 Ketentuan umum Fatwa MUI nomor 3 tahun 2003 tentang zakat penghasilan
51 Pasal 1 ayat 2, pasal 2, pasal 11 poin f, UU RI nomor. 38 tahun 1999. Dalam pasal 2 disebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam dan mampu atau badan yang dimiliki oleh orang muslim berkewajiban menunaikan zakat.
52 Pasal 6 dan 12, UU RI nomor. 38 tahun 1999.
mendatangkan penghasilan (uang) yang memenuhi nisab (batas minimum untuk bisa berzakat).
2. Dasar Hukum Zakat penghasilan
Kewajiban zakat penghasilan pada dasarnya ditetapkan berdasarkan kewajiban zakat. Zakat penghasilan (penghasilan) sebagaimana tersebut di atas termaksud masalah ijtihadi, yang perlu dikaji dengan seksama menurut pandangan hukum syari’ah dengan memperhatikan hikmah zakat dan dalil- dalil syar’i yang terkait. Menurut Masfuk Zuhdi, semua macam penghasilan tersebut terkena wajib zakat.53 Dalil yang berasal dari Alquran antara lain firman Allah:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”54
Kata ام adalah termasuk kata yang mengandung pengertian umum, yang artinya “apa saja”. Jadi ام متبسك artinya “sebagian dari hasil (apa saja) yang kamu usahakan yang baik-baik”. Maka jelaslah, bahwa semua macam penghasilan (gaji, honorarium, dan lain-lainnya) terkena wajib zakat
53 Masfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, (Jakarta; Haji Masagung, 1991), h. 214.
54 QS. Al-Baqarah (2): 267.
berdasarkan ketentuan surat al-Baqarah ayat 267 tersebut yang mengandung pengertian umum.55
Imam al-Thabariy mengatakan dalam menafsirkan dalam menafsirkan ayat ini (al-Baqarah: 267) bahwa maksud ayat itu adalah:
“Zakatlah sebagian yang baik yang kalian peroleh dengan usaha kalian, baik melalui perdagangan atau pertukangan, yang berupa emas dan perak”.56
Sedang menurut Imam al-Razi, ayat itu menunjukkan bahwa zakat wajib atas semua kekayaan yang diperoleh dari usaha, termasuk ke dalamnya perdagangan, emas, perak dan tembaga, oleh karena semuanya ini digolongkan hasil usaha.57
Nash ini mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik dan halal dan mencakup seluruh yang dikeluaran Allah Swt dari dalam dan atas bumi, seperti hasil-hasil pertanian, maupun hasil pertambangan seperti minyak. Karena itulah, nash ini mencakup semua harta, baik yang terdapat di zaman Rasulullah, baik yang sudah diketahui secara langsung, maupun yang diqiyaskan kepadanya.58
Sedangkan dalil dari sunnah antara lain sabda Nabi SAW:
ُلوُسَر اًدامَُمُ انَأَو للها الَيإ َهَليإ َلَ ْنَأ يةَد اَهَش ٍسَْخَ ىَلَع ُمَلاسيلإْا َينُِب للها
َناَضَمَر يمْوَصو اجَْلْاَو يةاَكازلا يءاَتْ ييإَو يةَلااصلا يماَقيإَو
55 Masfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, h. 215.
56 Yusuf Qardhawy, Fiqhuz Zakat, h. 300.
57 Ibid., h.301.
58 Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), H. 94.
Artinya: “Islam dibangun di atas lima pilar: Kesaksian bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). 59
Sementara itu, ijma’ mengenai kewajiban zakat sudah ada sejak zaman diutusnya Rasulullah saw hingga sekarang tanpa ada yang berani mengingkarinya.60
Berdasarkan firman Allah, hadis dan ijma di atas dapat dipahami bahwa zakat merupakan ibadah fardhu bagi umat muslim. Perintah melaksanakan zakat yang dinyatakan bersamaan dengan perintah shalat berarti bahwa betapa pentingnya melaksanakan zakat bagi setiap umat muslim yang telah memenuhi syarat-syaratnya.
3. Ketentuan Nisab dan Kadar Zakat penghasilan
Menurut Sjehul Hadi sebagaimana dikutip Muhammad Hadi, zakat tidak dapat dikatakan zakat kecuali memenuhi tiga unsur: 1) kadar khusus yang ditentukan oleh syara’, dari 10% sampai 5% (nisf ‘ushr) atau (2,5%).
2) unsur peribadatan dan 3) pendayagunaannya khusus sebagaimana ketentuan yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an. Unsur pertama tidak
59 Abdul aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, diterjemahkan oleh Kamran As’at Irsyady, ahsan Taqwim dkk, (Jakarta, Amzah, 2009), cet. I, h.
344-345.
60 Ibid.