BAB I PENDAHULUAN
D. Penelitian Relevan
Penelitian relevan berisi tentang uraian mengenai hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji.10 Ada beberapa penelitian yang berhubungan dengan tema yang dibahas dalam penelitian ini.
Oleh karena itu, akan dipaparkan tentang penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini. Diantaranya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Syafruddin, dengan judul “Implementasi Zakat penghasilan di Kalangan PNS dan TNI/POLRI di Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat”. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa rendahnya realisasi zakat penghasilan di kalangan pekerjaanonal di Kecamatan Bahorok disebabkan oleh beberapa faktor penghambat, diantaranya adalah: kurangnya pemahaman terhadap hukum zakat penghasilan, rendahnya kesadaran para pekerjaanonal dalam menjalankan hukum zakat penghasilan, kurangnya sosialisasi tentang Undang-Undang zakat dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang zakat penghasilan.11
2. Penelitian yang dilakukan oleh Arsan Rolanda, dengan judul: “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat penghasilan di Kota
10 Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Revisi Cet 1, (Metro: STAIN Juraisiwo, 2016), h. 25
11 Syafruddin, “Implementasi Zakat penghasilan di Kalangan PNS dan TNI/POLRI di Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat”, dalam http://repository.uinsu.ac.id/1571/1/Tesis%20 Syafruddin%20.pdf. diakses pada tanggal 11 Agustus 2017.
Medan”. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dari 100 responden yang diteliti, 60 menyatakan paham dan 40 tidak paham terhadap zakat penghasilan. Hanya 38 responden dari 60 responden yang paham zakat penghasilan yang bersedia memberitahu skala tingkat pemahaman terhadap zakat penghasilan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat pemahaman PNS muslim Kota Medan terhadap zakat penghasilan relatif baik dengan rata-rata pemahaman bernilai 6,55. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengimplementasian zakat penghasilan adalah: sosialisasi, pembuatan perda, dan pembelajaran akan zakat penghasilan tersebut. kendala yang terjadi dalam penerapan zakat penghasilan tersebut adalah: kurangnya sosialisasi, dukungan yang kurang dari pemimpin dan anggota instansi, faktor lingkungan, dan pengetahuan agama dari para PNS.12
3. Penelitian yang dilakukan oleh Fuad Tsani, dengan judul: “Bunga Bank (Studi Perbandingan Antara Pandangan Muhammad ‘Abduh dan Murtada Mutahhari) ”. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai bunga bank antara Muhammad ‘Abduh dan Murtada Mutahhari. Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan metode ijtihad dalam melihat persoalan bunga bank. Dimana Mutahhari lebih cenderung untuk melihat tekstualitas ayat tentang riba dan bersikap hati-hati. Sedangkan ‘Abduh lebih menonjolkan kemampuan ijtihad
12 Arsan Rolanda, “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat penghasilan di Kota Medan” dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/38865/cover.pdf;
jsessionid=599628EDFAABA80EC6C6D8C32652D8F6? sequence=7, diakses pada tanggal 11 September 2017.
dengan metode kemaslahatan yang berlaku umum dan kesesuaian ayat Al-Qur’an lainnya (munasabah). Dan Abduh lebih berpegang pada dogma
“al-Islam Salih likulli zaman wa makan”.
Berdasarkan penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini memiliki kajian yang berbeda, walaupun memiliki fokus kajian yang sama pada tema-tema tertentu. Letak perbedaannya yaitu pada penelitian ini yang akan diteliti adalah pemanfaatan bunga bank dalam pandangan hukum Islam. Pembahasan ini sangat berbeda dengan penelitian pertama, kedua dan ketiga. Sedangkan persamaan pada penelitian ini terletak pada tema bunga bank yang kemudian menjadi objek yang dizakati. Oleh karena itu, penelitian ini lebih ditekankan pada pembayaran zakat penghasilan yang berasal dari bunga bank.
A. Riba
1. Pengertian Riba
Kata riba berasal dari bahasa Arab, secara etimologis berarti tambahan (azziyadah), berkembang (an-numuw), membesar (al-'uluw) dan meningkat (alirtifa').1 Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.2
Sehubungan dengan arti riba dari segi bahasa tersebut, ada ungkapan orang Arab kuno menyatakan sebagai berikut; arba fulan 'ala fulan idza azada 'alaihi (seorang melakukan riba terhadap orang lain jika di dalamnya terdapat unsur tambahan atau disebut liyarbu ma a'thaythum min syai'in lita'khuzu aktsara minhu (mengambil dari sesuatu yang kamu berikan dengan cara berlebih dari apa yang diberikan).3
Menurut terminologi syara, ulama fikih sependapat bahwa riba adalah tambahan atau sejumlah pinjaman ketika pinjaman itu dibayar dalam tenggang waktu tertentu tanpa ‘iwad (ganti).4 Menurut Muhammad Syafi’i
1 Abu Sura'i Abdul Hadi, Bunga Bank Dalam Islam, Alih Bahasa M. Thalib, (Surabaya: al-Ikhlas, 1993), h. 125.
2 M. Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam dan Wakaf, (Jakarta: UI Press, 1980), h. 10.
3 Khoiruddin Nasution, Riba dan Poligami, Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan ACAdeMIA, 1996), hal. 37.
4 Abd. Al-Rahman al-Jaziri, Kitab Fiqih Aal-Mazahib al-Arba’ah, Terjemah Kitab Fiqh Empat Madzhab, (Jakarta: Litera Nusa, tth), h. 245
Antonio, riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.5
Berdasarkan pengertian di atas, riba adalah bunga kredit yang harus diberikan oleh orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang, sebagai imbalam untuk menggunakan sejumlah milik berpiutang dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Misalnya si A memberi pinjaman pada si B dengan syarat si B harus mengembalikan uang pokok pinjaman serta sekian persen tambahannya.
2. Dasar Hukum Riba
Terdapat beberapa ayat yang membicarakan riba dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya adalah Firman Allah SWT:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda6 dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan,” (QS. Al-Imran: 130).
Ayat ini jelas menyatakan bahwa, memakan bunga dapat menyebabkan rakus, tamak, kikir, dan egois bagi orang yang mengambilnya; dan kebencian, kemarahan, kecemburuan bagi orang yang
5 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 19.
6 Yang dimaksud Riba di sini ialah Riba nasi'ah. menurut sebagian besar ulama bahwa Riba nasi'ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
membayarkannya. Oleh karena itu, Allah telah mengecam dan melarang riba dan menganjurkannya untuk berbuat amal baik sebagai suatu penangkal terhadap praktek riba.7
Allah juga berfirman dalam QS. Ar-Rum: 39
Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”Pada ayat di atas, Allah SWT mencela riba dan memuji zakat. Ayat ini secara halus menyebutkan bahwa riba itu tidak baik dan tidak bermanfaat bagi pelakunya, karena si pelaku tidak akan mendapat pahala di sisi Allah SWT. Sebaliknya, pada ayat ini dijelaskan bahwa perbuatan yang baik dan terpuji adalah zakat yang akan menghasilkan pahala di sisi-Nya.8
Pada waktu ayat ini turun, al-Qur’an sedang memperkenalkan zakat, yang diambil dari harta yang dianggap bersih yang dimiliki seseorang.
Ketika masih ada seseorang yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, maka zakat adalah jalan keluarnya, bukan justru dengan meminjamkan uang tetapi memungut tambahan sisa waktu pengembaliannya. Ini adalah perbuatan yang tidak baik.
7 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 4 (Yogayakarta: Dana Bakti Wakaf, 1996), h. 131.
8 Sayyid Qutub, Tafsir Ayat-Ayat Riba,. h. 70-72.
Konsep pelarangan riba dalam Islam dapat dijelaskan dengan keunggulannya secara ekonomis dibandingkan dengan konsep ekonomi konvensional. Riba secara ekonomis lebih merupakan sebuah upaya untuk mengoptimalkan aliran investasi dengan cara memaksimalkan kemungkinan investasi melalui pelarangan adanya pemastian (bunga).
Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besar kemungkinan aliran investasi yang terbendung. Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bendungan. Semakin tinggi dinding bendungan, maka semakin besar aliran air yang terbendung.9
Hikmah pelarangan riba menurut Syaikh Abu Zahrah sebagaimana dikutip oleh Yusuf Qardhawi, yaitu bahwa pengharaman masalah riba dimaksudkan untuk mengatur ekonomi terhadap modal yang diambil manfaatnya agar dapat dikembangkan dan dijalankan oleh manusia. Dan bagi orang yang memiliki modal, tapi tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya maka modal tersebut diberikan kepada orang lain yang mampu mengembangkannya.10
3. Macam-Macam Riba
Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba utang piutang dan riba jual-beli.11 Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan jahiliyah. Adapun kelompok kedua, riba jual-beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasiah.
9 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), h. 17.
10 Yusuf Qardhawi, Ijtihad Kontemporer Kode Etik dan Berbagai Penyimpangan, ., h. 101.
11 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah (Deskripsi dan Ilustrasi) (Yogyakarta: Ekonisia, 2003) h. 15-16.
a. Riba Qardh
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyatarkan terhadap yang berutang (muqtaridh).12
b. Riba Jahiliyah
Utang dibayar lebih dari pokonya karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. Riba jahiliyah di larang karena kaedah “kullu qordin jarra manfa ah fahuwa riba” (setiap pinjaman yang mengambil manfaat adalah riba.) dari segi penundaan waktu penyerahannya, riba jahiliyah tergolong riba nasi’ah;
dari segi kesamaan objek yang dipertukarkan tergolong riba fadhl.13 c. Riba fadhl
Riba fadl ialah pertukaran barang sejenis, dengan ketentuan terdapat kelebihan pada suatu barang tersebut.14 Oleh karena itu, terlarangnya riba fadl merupakan penetapan hukum secara sadduz zai’ah, yaitu diharamkan karena ia merupakan jalan terjadinya riba nasiah.15
Riba fadhl disebut juga riba buyu yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya sama kuantitasnya, dan sama waktu penyerahannya.16
Pertukaran seperti ini mengandung gharar yaitu ketidak jelasan bagi kedua pihak akan nilai masing-masing barang yang dipertukarkan.
12 Ibid.
13 Ibid.
14 Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 1993), h. 169.
15 Abu Sura’i Abdul Hadi, Bunga Bank dalam Islam, (Surabaya: Al-Ihlas 1993), h. 27.
16 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga., h. 16
Ketidak jelasan ini dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak, kedua pihak dan pihak-pihak yang lain.17
d. Riba Nasi’ah
Menurut Umer Chapra, istilah nasiah berasal dari kata nasa’a yang berarti menunda, menangguhkan atau menunggu dan mengacu atau merujuk pada waktu yang diizinkan bagi peminjaman untuk membayar kembali hutang berikut “tambahan” atau “premi.’18
Riba nasi’ah juga disebut riba duyun yaitu riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko dan hasil usaha muncul bersama biaya. Transaksi semisal mengandung ini pertukaran kewajiban menanggung beban hanya karena perjalannya waktu. Riba Nasi’ah adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya.19
B. Konsep Bunga Bank
Secara leksikal, bunga sebagai terjemahan dari kata interest. Bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan presentase dari uang yang dipinjamkan. Pendapat lain menyatakan “interest yaitu sejumlah uang yang dibayar atau dikalkulasi untuk penggunaan modal.
Jumlah tersebut misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase
17 Ibid.
18 M. Umer Chapra, Sistem Moneter Islam, Alih Bahasa: Ikhwan Abidin Basri, (Jakarta:
Gema Insani Press, 2000), h. 22.
19 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga.,
modal yang bersangkut paut dengan itu yang sekarang sering dikenal dengan suku bunga modal“.20
Secara istilah sebagaimana diugkapkan dalam kamus Oxford English Dictionary of the English Language yang mengartikan bunga atau interest dengan: (1) money paid for the usa of money lent (the principal), or for forbearance of a debt, according to a fixed ratio (rate perecnt). (2) premium or interest or money (or goods) or received on loam, gain made by lending money, yakni bunga, adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan porsentase dari uang yang dipinjamnkan atau imbalan yang diberikan kepada penyimpan uang yang besarnya telah ditetapkan di muka.
Biaya atau imbalan tersebut biasanya ditetapkan dalam bentuk prosentase (%) dan akan terus dikenakan selama masih ada sisa simpanan atau pinjaman sehingga tidak terbatas pada waktu jangka kontrak.21
Bunga bank dapat di artikan sebagai balas jasa yang di artikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga bagi bank dapat di artikan sebagai harta yang harus di bayar oleh nasabah (yang memiliki simpanan) dan harga yang harus di bayar oleh nasabah kepada bank (nasabah) yang memperoleh pinjaman.22
Bunga merupakan tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan. Kemudian apakah
20 Abdul Salam , Bunga Bank dalam Perspektif Islam (Studi Pendapat Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah), dalam JURNAL EKONOMI SYARIAH INDONESIA, Volume III, No.1 Juni 2013 , h. 88.
21 Sr. Syahruni Usman, Bunga Bank dalam Perspektif Hukum Islam, dalam Jurnal Tahkim, Vol. X No. 1 Juni 2014, h. 31.
22 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada) h. 133
bunga termasuk riba, ada dua pendapat; pertama, menurut ijma ulama di kalangan semua mazhab fiqh bahwa bunga dengan segala bentuknya termasuk kategori riba.23 Dan kedua, pendapat yang menyatakan bahwa bunga tidak termasuk kategori riba.
Para ulama fiqh mulai membicarakan tentang bunga bank (riba), ketika mereka memecahkan berbagai macam pesoalan muamalah. Dasar hukum pelarangan bunga bank sama dengan pelarangan riba.
Menurut J. Van Zwijndregt, bunga bank terbagi menjadi dua, yakni bunga konsumtif dan bunga produktif. Bunga konsumtif diperoleh dari kredit konsumtif, sedangkan bunga produktif diperoleh melalui kredit produktif.24 Sedangkan menurut Bohn Bawerk sebagai tokoh penganut teori bunga produktif, menganggap bahwa produktivitas sebagai suatu kekayaan yang dihasilkan oleh modal dan hasil dari modal inilah sebagai penyebab bunga uang.25 Dengan demikian, bunga berarti hak yang dicapai oleh pemilik modal dalam penggunaan modalnya dalam proses produksi dari surplus atau nilai lebih yang terbentuk selama proses tersebut.26
Bunga bank sendiri di Indonesia mengalami kontroversi karena di satu pihak ia dapat dimasukkan dalam riba, namun di sisi lain ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hal ini lah yang membuat banyak
23 Ummi Kalsum, Riba dan Bunga Bank Dalam Islam (Analisis Hukum dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Umat), dalam Jurnal Al-‘Adl IAIN Kendari, Vol. 7 No. 2, Juli 2014, h.
71.
24 Maxime Rodiso, Islam dan Kapitalism, Alih Bahasa: Asep Hikmat, (Bandung: Igra, tth), h. 152.
25 Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 3, (Jakarta: PT. Dana Bakti Wakaf, 1995), Cet. Ke-1, h. 21.
26 Winardi, Istilah Ekonomi dalam Tiga bahsas, Inggris, Belanda, dan Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1996), h. 203.
tokoh Islam meninjau kembali karakteristik riba yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an.27
Majelis Ulama Indonesia (MUI ) pernah mengadakan lokakarya bunga bank dan perbankan pada tanggal 9-12 Agustus 1990 di Cisarua, Jawa Barat dan memutuskan bunga bank itu termasuk riba. Wacana ini yang dijadikan dasar untuk adanya bank tanpa bunga, karena sebagian umat Islam mengharamkan bunga bank. Putusan keharaman bunga bank ini menjadi momen berdirinya bank tanpa bunga pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat Indonesia.28
Kemudian sidang MUI berlanjut pada sidang ijtima komisi fatwa MUI pada tanggal 16 Desember 2003 yang memutuskan bahwa bunga bank adalah riba dan haram hukumnya. Meskipun hasil sidang ini pada waktu itu tidak difatwakan secara terbuka dan kurang dikomunikasikan dengan masyarakat luas.29
Ada beberapa hal yang menjadi masalah kontroversial seputar bunga yang terjadi di kalangan para tokoh Islam antara argumen terhadap pembenaran konsep bunga dikemas dalam bentuk bersifat ilmiah dan argumen sebagai bantahan dan kritikan terhadap teori-teori yang dikemukan kalangan yang membenarkan adanya bunga. 30
27 Muhammad Zuhri, Riba dan al-Qur’an dan Masalah Perbankan, (Sebuah Tilikan Antisipatif), Cet. 2, (Jakarta: Raja Grafindo, 1997), h. 59.
28 Achyar Ilyas, Menunggu Tindak Lanjut Fatwa Bunga Bank, dalam Republika 23 Desember 2003, h. 2.
29 Ibid.
30 Ummi Kalsum, Riba dan Bunga.,
Pertama, pada persoalan tingkat bunga, pada tingkat yang wajar maka bunga dibolehkan. Namun tingkat bunga wajar sangat subjektif tergantung pada waktu, tempat, jangka waktu, jenis usaha dan skala usaha. Aspek ini juga terdapat pada ayat pelarangan riba tahap ketiga yang terdapat pada Q.S. Ali Imran [3]: 130 merupakan ayat pertama yang menyatakan secara tegas terhadap pengharaman riba bagi orang Islam. Larangan ini merujuk kepada apa yang dipraktekkan oleh orang-orang Arab pada masa itu, dengan cara menambah bayaran jika hutang tidak bisa dibayar ketika jatuh tempo.
Perkataan berlipat ganda dalam ayat ini merupakan ciri hutang zaman jahiliah yang senantiasa bertambah sehingga menjadi berlipat ganda.7 Bukan berarti bunga yang dikenakan yang tidak berlipat ganda menjadi halal.8 Quraish Shihab juga menafsirkan bahwa adh’afan mudha’afatan pada ayat ini bukan merupakan syarat. Jadi walaupun tidak berlipat ganda berarti bunga tetap tidak halal. Penafsiran ini, diperkuat dengan ayat-ayat tentang riba yang selanjutnya Q.S. al-Baqarah [2]: 275-276 dan 278-279 (ayat terakhir turun tentang proses pengharaman riba), telah secara tegas menyatakan setiap tambahan melebihi pokok pinjaman termasuk riba. Hal ini berlaku bagi setiap bunga baik bersuku rendah, berlipat ganda, tetap maupun berubah-ubah bahkan sisa-sisa riba sekalipun dilarang. Ayat ini secara total mengharamkan riba dalam bentuk apapun.31
Beberapa tokoh berbeda pendapat tentang riba yang diharamkan adalah riba yang bersifat adh’afan mudha’afatan atau berlipat ganda.
31 Ibid.
Pendapat ini dikemukakan oleh Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad Asad, yang menafsirkan riba sebagai usury yang berarti suku bunga yang lebih dari biasanya atau suku bunga yang tinggi dan bukan interest (bunga yang rendah).
Adanya perbedaan penafsiran terhadap interest dan usury ini membawa konsekwensi problem konseptual yang serius sehingga timbul perbedaan pendapat terhadap kategori riba yang diharamkan. Jika merujuk kepada pendapat tafsiran Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad Asad maka bunga bank tidak termasuk riba yang diharamkan. Senada dengan pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad Abduh, Muhammad Rashid Rida, Abd al-Wahab Khallaf, Mahmud Shaltut. Mereka berpendapat bahwa riba yang diharamkan adalah riba yang berlipat ganda dan tidak termasuk riba yang kadarnya rendah. Mereka memahami sesuai dengan konteks ayat riba yang mengharamkan riba yang berlipat ganda. Sanhuri juga menganggap bahwa bunga yang rendah atas modal adalah halal atas dasar kebutuhan. Ia menambahkan bahwa hukum harus menentukan batas-batas suku bunga, metode pembayaran dan total bunga yang harus dibayar. Namun pendapat terakhir ini mempunyai beberapa kelemahan, karena sepanjang sejarah tingkat (kadar) suku bunga berbeda-beda (fluktuatif) mengikuti keadaan, baik dari segi waktu dan tempat. Oleh karena itu sukar untuk menentukan tingkat suku bunga yang tinggi atau yang rendah berdasarkan waktu dan tempat. 32
Kedua, adanya pembenaran unsur bunga dengan cara apa pun sebagai kompensasi atas terjadinya inflasi dan ini merupakan pendapat umum yang
32 Ibid.
diadopsi dari teori agio. Namun argumen ini lemah ketika adanya suku bunga yang lebih tinggi dari inflasi yang diperkirakan atau tingkat inflasi dapat mencapai nol atau negatif (deflasi). Justru keberadaan bunga memicu penyebab terjadinya inflasi. Jika alasan untuk menjaga nilai uang yang terkikis oleh inflasi maka kompensasinya tidak mesti dengan bunga tetapi dengan instrumen lain.33
Ketiga, konsep marginal utility, yaitu konsumsi menurun menurut waktu.
Artinya unit konsumsi di masa yang akan datang memiliki nilai guna yang lebih kecil dibanding dengan nilai guna saat ini. Konsep ini muncul sebagai akibat dari proses perbandingan antara nilai guna pada masa sekarang dengan masa yang akan datang. Konsep ini dikritisi dengan argumen bahwa pendapatan di masa akan datang tidak selalu meningkat. Untuk itu marginal utility di masa yang akan datang tidak pasti selalu lebih rendah. Jika kondisi seperti ini maka mencari nilai diskonto dari nilai kegunaan di masa yang akan menjadi tidak relevan. Di samping itu, pendekatan marginal utility yang mengandalkan pada identifikasi yang tepat mengenai pendapatan mana yang akan dianalisis ketika menghitung pertumbuhan pendapatan, apakah pendapatan orang miskin, orang kaya, atau rata-rata pendapatan secara nasional.34
Keempat, konsep yang memandang bunga sebagai sewa15 dari uang.
Pendapat ini ditentang kebanyakan pakar ekonom muslim. Sebab menurut mereka istilah sewa untuk uang tidak relevan sebab sewa digunakan hanya
33 Ibid, h. 72-73.
34 Ibid, h. 73.
untuk benda yang diambil manfaatnya tanpa kehilangan hak kepemilikannya.
Sedangkan pada kasus meminjamkan uang manfaat diperoleh tetapi kepemilikan terhadap uang hilang. 35
Kelima, pembenaran bunga atas dasar darurah (dire necessity) dan hajah (need). Salah satu unsur penting dalam perekonomian adalah bank, yang di dalamnya terkandung sistem bunga. Bunga bank (interest) yang dianggap sama dengan riba akan sulit untuk dihentikan, karena jika bank dilarang akan menimbulkan kemacetan ekonomi. Oleh karena itu, dapat dikatakan kondisi semacam ini adalah darurat, yaitu membolehkan yang dilarang atas dasar darurat sehingga tercipta suatu sistem yang tidak menimbulkan kemacetan ekonomi. Namun konsep ini harus melihat kondisiriilnya apakah termasuk kategori dharurah (dire necessity) dan hajah (need). Contohnya kondisi dharurah tidak terpenuhi karena menyimpan uang tidak mesti di bank atau pada saat ini, lembaga keuangan syariah telah tersebar di tanah air.36
Argumen lainnya yang menyatakan bahwa karena bunga yang diberikan oleh institusi keuangan saat ini tidak sama dengan riba yang
Argumen lainnya yang menyatakan bahwa karena bunga yang diberikan oleh institusi keuangan saat ini tidak sama dengan riba yang