BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pelaksanaan Pembayaran Zakat penghasilan
Zakat penghasilan adalah zakat dari setiap pendapatan seperti gaji, honorium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.3
Dari pengertian di atas bahwa yang wajib mengimplementasikan zakat penghasilan tersebut adalah : setiap orang Islam yang termasuk dalam katagori pekerjaanonal seperti pejabat negara, pegawai/guru atau karyawan, dokter, pengacara, konsultan, dan sebagainya. Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat telah mewajibkan setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam untuk mengeluarkan zakat, yang salah satunya berasal dari pendapatan dan jasa. Selain itu dalam Undang-Undang ini juga mewajibkan pembentukan badan amil zakat sebagai badan pengelola dan pengumpul zakat.4
Berdasarkan hasil wawancara dengan amil zakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah, maka masih banyak sekali warga yang tidak memahami zakat penghasilan meskipun mereka termasuk ke dalam orang-orang yang telah mencapai haul dan nisab zakat penghasilan.5 Lebih lanjut, Bapak Sutomo menjelaskan:
3 Lihat di Bab II, h. 21
4 Lihat di Bab II, h. 22.
5 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Pada 19 Januari 2018.
“Sebenarnya warga muslim Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah jumlahnya sangat banyak. Bahkan mereka banyak yang membayar zakat maal, yakni zakat pertanian karena memang mayoritas penduduk adalah petani, Meskipun demikian, jika melihat zakat penghasilan, hanya ada sekitar 10 % yang membayar zakat.”6
Meskipun warga Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah didominasi oleh petani, namun ada juga beberapa orang yang bekerja sebagai PNS dan pegawai yang membayar zakat penghasilan.
Ibu Linda mengungkapkan bahwa pada awalnya ia sangat asing dengan zakat penghasilan, tapi kemudian lama-kelamaan menjadi tau dan melaksanakan karena penghasilannya telah mencapai nisab zakat penghasilan dalam satu tahun.7
Begitu halnya dengan Pak Misidi yang awalnya tidak mengetahui zakat penghasilan, kemudian ia mencari berita dan ketentuan zakat penghasilan di internet serta bertanya pada amil zakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah. Dan karena penghasilan Bapak Misidi telah mencapai ketentuan zakat, maka Bapak Misidi kemudian membayar zakat penghasilan. 8
Sementara itu, Bapak Edi menyatakan bahwa:
“Sebelumnya saya hanya tau zakat fitrah, zakat pertanian, perdagangan, pertambangan dan barang temuan saja. Karena saya hanyalah seroang guru PNS, maka saya tidak pernah membayar zakat pertanian, perdagangan, pertambangan, barang temuan dan juga zakat
6 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
7 Wawancara dengan Ibu Linda, Muzzaki Zakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Pada 19 Januari 2018.
8 Wawancara dengan Bapak Misidi, Muzzaki Zakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Pada 19 Januari 2018.
penghasilan. Namun, ketika saya mendengar cerita kawan saya yang menjadi guru agama di sekolah, kemudian saya mulai membayar zakat penghasilan.”9
Setelah mengetahui zakat penghasilan, kemudian beberapa warga yang merasa telah memenuhi syarat dan ketentuannya mulai membayar zakat penghasilan. Bapak Edi menyatakan bahwa ketika ia bertanya kepada kawannya yang merupakan guru agama di sekolah, kawan tersebut kemudian menjelaskan syarat dan ketentuan zakat penghasilan dan kemudian langsung membayarkan zakat penghasilan ke amil karena menurut syarat dan ketentuan zakat penghasilan, Bapak Edi harus membayar zakat penghasilan.10
Zakat yang wajib dikeluarkan dari suatu penghasilan adalah 2,5%.
Biasanya para muzakki membayarkan zakat penghasilan dalam bentuk uang tunai. Hal ini karena gaji, upah, atau yang lainnya pada umumnya diterima dalam bentuk uang.11
Muzakki yang membayarkan zakat penghasilan adalah masyarakat yang penghasilannya telah mencapai nisab zakat penghasilan. Ada pun jika ada masyarakat yang ingin membayarkan zakat penghasilan namun ternyata belum mencapai haul dan nisab yang menjadi ketentuan yang ditentukan, maka masyarakat kemudian menyedekahkan atau menginfaqkan harta mereka.12
9 Wawancara dengan Bapak Edi, Muzzaki Zakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Pada 19 Januari 2018.
10 Wawancara dengan Bapak Edi, Muzzaki Zakat.,
11 Wawancara dengan Bapak Misidi, Muzzaki Zakat.,
12 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Abdul:
“Berdasarkan syarat dan ketentuan zakat penghasilan, maka zakat penghasilan harus haul dan nisabnya setara dengan 85 gram emas.
Karena penghasilan saya dalam setahun belum mencapai nisab tersebut, maka setiap bulan saya hanya menyedekahkan dan menginfakkan sebagian gaji saya yang setiap bulan masuk ke rekening bank konvensional.13
Terkait dengan jumlah warga yang membayar zakat penghasilan, Bapak Sutomo menyatakan bahwa ada 11 orang yang membayar zakat penghasilan, dan 5 di antaranya adalah petani, sedangkan 6 lainnya adalah PNS, yaitu 4 orang guru, satu orang TNI dan satu orang polisi. Dari enam orang PNS tersebut, kemudian diketahui bahwa ada 3 orang yang menggunakan bunga bank untuk membayar zakat penghasilan.14
Pada awalnya, amil tidak mengetahui bahwa ada muzakki yang membayarkan zakat penghasilan menggunakan bunga bank. Amil baru mengetahui bahwa terdapat muzakki yang membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank ketika ada salah satu muzakki yang membayar zakat penghasilan (Ibu Linda) sambil menanyakan hukum menabung di bank konvensional dan menanyakan hukum membayar zakat menggunakan bunga bank. Amil kemudian memperbolehkan zakat penghasilan menggunakan bunga bank berdasarkan kemaslahatan yang akan dicapai menggunakan zakat penghasilan.15
Berdasarkan pertanyaan yang ditanyakan oleh Ibu Linda tersebut, kemudian amil mulai mendata dan menanyakan para muzakki yang
13 Wawancara dengan Bapak Abdul selaku warga Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah pada 19 Januari 2018
14 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
15 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
menggunakan bunga bank untuk membayar zakat penghasilan dengan tujuan agar zakat yang berasal dari bunga bank dapat dialokasikan khusus pada zakat produktif sehingga membawa kemaslahatan yang lebih besar atau bisa dinikmati banyak orang.16
Alasan ketiga orang ini (Ibu Linda, Bapak Jali dan Bapak Misidi) membayar zakat penghasilan dengan bunga bank bermacam-macam. Ibu Linda beralasan bahwa ia mengetahui bahwa bunga bank hukumnya adalah haram, maka ia tidak ingin menggunakan bunga bank tersebut untuk keperluan pribadi atau dikonsumsi. Sehingga ia menggunakannya untuk membayar zakat penghasilan saja.17
Sementara itu Bapak Misidi, selaku salah satu PNS yang membayar zakat penghasilan dengan bunga bank menyatakan sebagai berikut:
“Saya membayar zakat penghasilan dengan mengambil bunga dari bank konvensional di tempat saya menyimpan uang. Sebagian warga di sini juga seperti itu. Bunga tersebut sudah lama tidak saya ambil karena memang nilainya tidak terlalu besar, jadi saya gunakan untuk membayar zakat penghasilan saja”.18
Sedangkan Bapak Jali selaku salah satu warga yang bekerja sebagai PNS yang menyatakan sebagai berikut:
“Hampir semua PNS di desa ini menyimpan uangnya di bank. Hal ini dikarenakan gaji pokok pegawai negeri sipil memang diberikan oleh pemerintah melalui bank. Sebagian warga yang bekerja PNS seperti saya sendiri mempunyai pekerjaan lain seperti petani. Sehingga kebutuhan hidup sehari-hari sudah dapat terpenuhi dengan hasil tani tersebut, sedangkan gaji yang diterima dari pemerintah tetap disimpan di bank. Selain itu, menyimpan dana bank dirasa lebih aman tanpa khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika ada bunga bank, maka saya gunakan saja itu untuk membayar zakat penghasilan.
16 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
17 Wawancara dengan Ibu Linda, Muzzaki Zakat.,
18 Wawancara dengan Bapak Misidi Muzzaki Zakat.,
Kalaupun jumlahnya lebih dari zakat penghasilan yang saya bayarkan, maka sekalian saya infaqkan, namun jika kurang akan saya tambah.”19 Jika melihat fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003 tentang zakat penghasilan, maka semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nisab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram. Jika melihat nisab ini, maka perkiraan pendapatan minimal yang dimiliki seseorang untuk memenuhi zakat penghasilan adalah Rp.
4.675.000 per bulan yang di dapat dari perkalian nisab 85 gram emas dengan kisaran harga emas Rp. 550.000 dibagi jumlah bulan dalam satu tahun. (85 gram x Rp. 550.000 / 12 bulan).
Namun jika mengikuti pendapat Syarif Hidayatullah maka zakat dihitung dari pendapatan kasar, pendapatan total x 2,5 %.20 Jika merujuk pendapat ini, maka setiap orang yang memiliki pekerjaan atau pekerjaan dapat dikenai kewajiban membayar zakat meskipun tidak mencapai nisab. Oleh sebab itu, banyak orang yang menjadikan pendapat pertama tadi sebagai pegangan dimana ada persyaratan nisab sebesar 85 gram emas sebagaimana persyaratan zakat maal lainnya.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat Pasal 14 mengamanatkan bahwa dalam mengimplementasikan zakat penghasilan, seorang muzakki melakukan penghitungan sendiri hartanya dan kewajiban zakatnya berdasarkan hukum agama.21 Apabila para muzakki tidak dapat melakukan perhitungan sendiri zakatnya, maka muzakki dapat meminta
19 Wawancara dengan Bapak Jali selaku warga Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah pada 19 Januari 2018
20 Lihat Bab II, h. 26.
21 Lihat Bab II, h. 26.
bantuan kepada amil zakat dan sebalikya badan amil zakat dapat memberikan bantuan kepada muzakki untuk menghitungnya.
Berdasarkan hasil wawancara, ketiga muzakki menyatakan bahwa dalam menghitung zakat penghasilan mereka takut salah sehingga mereka meminta kepada amil untuk menghitungnya. Setelah amil memberitahu berapa zakat yang harus dikeluarkan, maka mereka kemudian membayar zakat penghasilan sesuai dengan besar zakat yang dihitung oleh amil.22
Menurut amil zakat, muzakki yang membayar zakat penghasilan akan membayar zakat penghasilan sesuai dengan ketentuan zakat yang ada. Namun, muzakki pada umumnya meminta kepada amil agar menghitung besarnya zakat penghasilan karena muzakki takut perhitungannya salah.23
Amil zakat akan menghitung besar zakat yang dibayar muzakki berpegang teguh pada ketentuan zakat penghasilan yang ada dalam fatwa MUI Tahun 2003 tentang Zakat penghasilan, yakni menghitung berdasarkan gaji dan pendapatan yang didapat oleh muzakki dan ditunaikan setahun sekali atau ditunaikan setiap bulannya agar tidak berat bagi muzakki. Sementara itu dalam penghitungan zakat penghasilan amil menghitungnya dengan langsung menghitung pendapatan dalam satu tahun/bulan dan mengalikannya dengan 2,5%.24
Penghitungan zakat yang dilakukan amil ini adalah penghitungan langsung, artinya tidak dipotong dengan kebutuhan-kebutuhan muzakki lainnya dalam penghitungan. Misalnya setiap bulan mendapatkan gaji sebesar
22 Wawancara dengan Ibu Linda, Bapak Jali dan Bapak Misidi Muzzaki Zakat
23 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
24 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
Rp.5.000.000, maka amil akan mengalikannya dalam jumlah satu tahun dan mengalikannya dengan 2,5 %.25
Berdasarkan zakat penghasilan yang dibayarkan oleh muzakki, maka kisaran zakat penghasilan yang dibayarkan oleh muzzaki adalah antara Rp.
1.000.000-Rp. 2.000.000. Dalam penghitungan besar zakat penghasilan ini amil hanya mengetahui sumber pendapatan muzzaki yang berasal dari penghasilan muzakki tanpa mengetahui pendapatan muzakki yang berasal dari investasi.26
Setelah zakat terkumpul di amil, maka amil kemudian mengelola dan mendistribusikan zakat. Pada awalnya amil tidak mengetahui ada muzakki yang membayar zakat menggunakan bunga. Sehingga, dalam mengelola zakat amil mencampurnya menjadi satu dan kemudian mendistribusikannya sesuai dengan program amil. Namun setelah amil mengetahui bahwa ada PNS yang membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank, maka kemudian amil lebih hati-hati dan teliti lagi dalam mengelola dana zakat.27
Bapak Sutomo menyatakan bahwa:
“Awalnya saya tidak tahu jika ada PNS yang membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank. Ketika tahun 2015 lalu saya sebagai amil zakat tidak pernah tahu apalagi menanyakan dari mana muzakki membayar zakat penghasilannya. Oleh sebab itu ketika tahun 2016, saya mengetahui bahwa ada yang membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank. Oleh sebab itu saya kemudian menanyakan kepada muzakki apakah uang yang digunakan untuk membayar zakat penghasilan tersebut adalah bunga bank atau bukan. Hal ini tentu merepotkan dan terkadang terkesan membuat orang tersinggung, tapi
25 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
26 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
27 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
saya merasa itu lebih baik ketimbang saya ceroboh dalam mengelola zakat.”28
Dalam mengelola dan mendistribusikan zakat, amil tidak hanya mendistribusikan zakat secara konsumtif, tapi juga secara produktif dalam bentuk bantuan dana pendidikan kepada siswa-siswa yang memiliki tunggakan di sekolah. Meskipun pengelolaan zakat produktif baru sebatas pada pemberian bantuan dana pendidikan, namun ini sudah sangat berarti dan membantu bagi masyarakat.
C. Pembayaran Zakat Penghasilan dengan Memanfaatkan Bunga Bank