BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembayaran Zakat penghasilan dengan
Kabupaten Lampung Tengah
Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan di berbagai bidang, termasuk bidang ekonomi dunia perbankan semakin berkembang dengan pesat. Perbankan tidak dapat terlepas dari kehidupan kita sehari-hari, karena saat ini berbagai sistem pembayaran, belanja dan pelayanan jasa termasuk pelayanan transportasi seperti Gojek atau Grab telah bekerja sama dengan bank. Melihat kenyataan ini, maka mau tidak mau kita dihadapkan pada keharusan menggunakan jasa dunia perbankan yang berbasis bunga.
Bunga bank sendiri di Indonesia mengalami kontroversi karena di satu pihak ia dapat dimasukkan dalam riba, namun di sisi lain ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Hal ini lah yang membuat banyak
28 Wawancara dengan Sutomo, Amil Zakat.,
tokoh Islam meninjau kembali karakteristik riba yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an.29
Majelis Ulama Indonesia (MUI ) pernah mengadakan lokakarya bunga bank dan perbankan pada tanggal 9-12 Agustus 1990 di Cisarua, Jawa Barat dan memutuskan bunga bank itu termasuk riba. Wacana ini yang dijadikan dasar untuk adanya bank tanpa bunga, karena sebagian umat Islam mengharamkan bunga bank. Putusan keharaman bunga bank ini menjadi momen berdirinya bank tanpa bunga pertama di Indonesia, yaitu Bank Muamalat Indonesia.30
Kemudian sidang MUI berlanjut pada sidang ijtima komisi fatwa MUI pada tanggal 16 Desember 2003 yang memutuskan bahwa bunga bank adalah riba dan haram hukumnya. Meskipun hasil sidang ini pada waktu itu tidak difatwakan secara terbuka dan kurang dikomunikasikan dengan masyarakat luas.31
Ada ulama yang dengan tegas mengharamkan semua bentuk bunga, namun ada juga yang masih menerima bunga bank asalkan digunakan untuk kemaslahatan umum. Maksudnya adalah kebutuhan masyarakat dalam suatu wilayah tertentu untuk menunjang kesejahteraan lahiriyah. Baik kebutuhan itu berdimensi zahiriyah atau kebutuhan dasar yang menjadi sarana pokok untuk mencapai kemaslahatan agama, akal pikiran, jiwa, keturunan dan harta
29 Lihat Bab II, h. 19.
30 Lihat Bab II, h. 19.
31 Lihat Bab II, h. 20.
benda, maupun kebutuhan hajiyah (sekunder) dan kebutuhan yang takmiliyah atau pelengkap.32
Bayu Imantoro mengutip pendapat Mohamad Hatta bahwa bunga bank untuk kepentingan produktif bukanlah riba, tetapi untuk kepentingan konsumtif riba. Sementara itu Kasman Singodimedjo berpendapat, sistem perbankan modern diperbolehkan karena tidak mengandung unsur eksploitasi yang dzalim, oleh karenanya tidak perlu didirikan bank tanpa bunga.
Nurcholish Madjid juga menyatakan bahwa riba di mengandung unsur eksploitasi satu pihak kepada pihak lain, sementara dalam perbankan (konvensional) tidaklah seperti itu.33
Pada dasarnya kedudukan bank konvensional tidak dapat terlepas dari kehidupan masyarakat mengingat bank-bank BUMN mayoritas adalah bank konvensional yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu dan ada beberapa penghasilan atau pekerjaan yang sistem penggajiannya melalui bank konvensional. Melihat hal ini, tentu bank konvensional adalah sesuatu yang sulit dihindari.
Oleh sebab itu, menggunakan jasa perbankan konvensional diperbolehkan jika dalam kondisi dan mengingat posisinya yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat saat ini. Bunga bank
32 Lihat Bab II, h. 20.
33 Bayu Imantoro, Hukum Riba Dan Bunga Bank Antara Pendapat Yang Mengharamkan Dan Membolehkan Serta Solusi Untuk Berpegang Pada Pendapat Jumhur Ulama, Diakses Melalui Laman: https://www.kompasiana.com/bayuimantoro/54fff46ca3331152635100d2/hukum- riba-dan-bunga-bank-antara-pendapat-yang-mengharamkan-dan-membolehkan-serta-solusi-berpegang-pada-pendapat-jumhur-ulama Pada 16 Juli 2018.
tersebut bisa diambil dan digunakan untuk keperluan non konsumsi atau untuk kemaslahatan banyak orang.
Sebagaimana yang diungkapkan Nasrun Haroen, bahwa maslahat mengandung pengertian manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat. Lebih lanjut, Yusuf Qardhawi mengungkapkan bahwa dalam menemukan kemaslahatan yang telah ditetapkan oleh syari’ah, kemaslahatan terdiri dari tiga tingkatan, yakni daruriyah (sesuatu yang kita tidak bisa hidup tanpanya), hajiah (kehidupan bisa tanpa kehadirannya, namun akan sulit), dan tahsiniyah (sesuatu yang digunakan untuk memperindah kehidupan).34
Yusuf Qardhawi mengemukakan bahwa setiap orang memiliki pendapat yang tidak teratur misalnya seperti pekerjaan dokter, advokat dan juga penjahit, setiap minggu bahkan per harinya berbeda-beda. Lain halnya dengan pekerjaan pegawai yang memiliki gaji tetap setiap bulannya. Maka, disini terdapat dua kemungkinan penetapan nisab, yakni: Pertama, menetapkan nisab pada setiap jumlah pendapatan atau penghasilan yang diterima. Hal ini diberlakukan pada setiap pekerjaan yang tiap bulannya memiliki penghasilan yang tetap seperti para pegawai swasta dan negeri.
Kedua. Mengumpulkan penghasilan yang didapatkannya setiap harinya dan wajib mengeluarkannya ketika nisab. contohnya dalam kasus nisab pertambangan, hasil pertambangan yang didapatkan setiap harinya yang tidak terputus ketika mencapai nisab maka wajib untuk dizakati. Selain itu, juga dalam kasus nisab buahan, menurut madhab Hambali walaupun
34 Lihat Bab II, h. 20.
buahan yang dihasilkan berbeda-beda dan satu tahunnya dua kali panen maka dapat dikumpulkan menjadi satu sehingga mencapai nisab dan itu wajib untuk dizakatkan.35
Bila melihat penghitungan zakat penghasilan yang dilakukan oleh amil, maka penghitungan tersebut sesuai dengan pendapat Yusuf Qardhawi yang menetapkan nisab pada setiap jumlah pendapatan atau penghasilan yang diterima. Sehingga amil akan menanyakan berapa pendapatan yang diterima muzakki dan mengalikannya dengan kadar nisab zakat penghasilan.
Zakat penghasilan merupakan sesuatu yang bertujuan untuk menyeimbangkan kehidupan ekonomi antara si kaya dengan si miskin.
Namun, membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank di satu sisi juga dipertanyakan keabsahannya mengingat riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam Islam.
Konsep pelarangan riba dalam Islam dapat dijelaskan dengan keunggulannya secara ekonomis dibandingkan dengan konsep ekonomi konvensional. Riba secara ekonomis lebih merupakan sebuah upaya untuk mengoptimalkan aliran investasi dengan cara memaksimalkan kemungkinan investasi melalui pelarangan adanya pemastian (bunga). Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besar kemungkinan aliran investasi yang terbendung. Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bendungan. Semakin tinggi dinding bendungan, maka semakin besar aliran air yang terbendung.36
35 Lihat Bab II, h. 28-29.
36 Lihat Bab II, h. 15.
Hikmah pelarangan riba menurut Syaikh Abu Zahrah sebagaimana dikutip oleh Yusuf Qardhawi, yaitu bahwa pengharaman masalah riba dimaksudkan untuk mengatur ekonomi terhadap modal yang diambil manfaatnya agar dapat dikembangkan dan dijalankan oleh manusia. Dan bagi orang yang memiliki modal, tapi tidak memiliki kemampuan untuk menjalankannya maka modal tersebut diberikan kepada orang lain yang mampu mengembangkannya.37 dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)...” (QS. Al Baqarah: 278).38
Jika melihat ayat ini secara tekstual, maka siapa saja yang telah melakukan amalan ribawi, maka dia wajib meninggalkan riba tersebut.
Adapun jika seseorang telah mengambil riba tersebut karena tidak tahu bahwa itu riba dan tidak tahu bahwa riba itu haram, maka taubat akan menutupi kesalahan sebelumnya dan riba tersebut (sebelum datang larangan) telah menjadi miliknya. Hal ini berdasarkan firman Allah,
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang
37 Lihat Bab II, h. 15.
38 QS. Al Baqarah (2): 278.
telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan).” (QS. Al Baqarah:
275).39
Adapun jika seseorang telah mengambil riba tersebut dan dia mengetahui bahwa riba tersebut haram, maka sebaiknya digunakan untuk bersedekah dengan riba tersebut. Bisa saja dia manfaatkan untuk membangun masjid, juga jika dia orang yang tidak mampu lunasi hutangnya, boleh untuk melunasi hutangnya, jika mau, boleh juga diserahkan pada kerabatnya yang membutuhkan.
Tujuan dari syari’at Islam adalah untuk kemaslahatan manusia, baik untuk kemaslahatan dunia maupun kemaslahatan akhirat. Maslahah berarti manfaat atau semua pekerjaan yang mengandung kemanfaatan, baik dengan pencapaian atau manfaat maupun penolakan terhadap kerusakan.
Imam Gazali sebagaimana dikutip Nasrun Haroen memandang bahwa suatu kemaslahatan harus sejalan dengan tujuan syara’ sekalipun bertentangan dengan tujuan-tujuan manusia, karena kemaslahatan mansuia tidak selamanya didasarkan pada kehendak syara’, tetapi sering didasarkan pada kehendak hawa nafsu. Tujuan syara’ yang harus dipelihara tersebut adalah ada lima bentuk, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.40
Ketiga muzakki menganggap bahwa lebih baik menggunakan bunga bank untuk membayar zakat penghasilan ketimbang hanya menyimpan uang di rumah tanpa menghasilkan bunga. Jika menghasilkan bunga, maka bunga tersebut dapat digunakan untuk kemaslahatan umat. Lagi pula, ketika muzakki
39 QS. Al Baqarah (2): 275.
40 Lihat Bab II, h. 21.
membayar zakat, tidak serta merta bunga bank itu cukup untuk membayar zakat penghasilan mengingat suku bunga yang ditetapkan bank sangat kecil (kecuali jika suku bunga pinjaman). Terlebih setiap bulan ada potongan atau biaya administrasi dari pihak bank walaupun tidak besar jumlahnya.41
Allah juga berfirman dalam QS. Ar-Rum: 39
Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”Pada ayat di atas, Allah SWT mencela riba dan memuji zakat. Ayat ini secara halus menyebutkan bahwa riba itu tidak baik dan tidak bermanfaat bagi pelakunya, karena si pelaku tidak akan mendapat pahala di sisi Allah SWT.
Sebaliknya, pada ayat ini dijelaskan bahwa perbuatan yang baik dan terpuji adalah zakat yang akan menghasilkan pahala di sisi-Nya.42
Pada waktu ayat ini turun, al-Qur’an sedang memperkenalkan zakat, yang diambil dari harta yang dianggap bersih yang dimiliki seseorang. Ketika masih ada seseorang yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, maka zakat adalah jalan keluarnya, bukan justru dengan meminjamkan uang tetapi memungut tambahan sisa waktu pengembaliannya.
Ini adalah perbuatan yang tidak baik.
41 Wawancara dengan Ibu Linda, Bapak Jali dan Bapak Misdi, Muzakki Zakat.,
42 Lihat Bab II, h. 14.
Apabila membayar zakat yang bertujuan untuk mencari keridhaan Allah menggunakan bunga bank (yang dianggap riba), maka terdapat dua hal yang saling berlawanan dilakukan. Namun, bila melihat realitas sosial kehidupan masyarakat saat ini, maka menghindari bunga bank adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin dilakukan, khususnya bagi para pegawai yang pembayaran gajinya dilakukan dengan jasa perbankan.
Menurut Winardi, bunga berarti hak yang dicapai oleh pemilik modal dalam penggunaan modalnya dalam proses produksi dari surplus atau nilai lebih yang terbentuk selama proses tersebut.43 Berdasarkan pendapat ini, maka bunga bank tidak akan ada selama modal yang digunakan tidak menghasilkan surplus.
Bila merujuk pendapat J. Van Zwijndregt, maka bunga bank terbagi menjadi dua, yakni bunga konsumtif yang diperoleh dari kredit konsumtif dan bunga produktif yang diperoleh melalui kredit produktif. Lebih lanjut Bohn Bawerk sebagai mana diungkapkan Afzalurrahman menganggap bahwa produktivitas sebagai suatu kekayaan yang dihasilkan oleh modal dan hasil dari modal inilah sebagai penyebab bunga uang.44
Nasabah yang menyimpan uangnya di bank akan mendapatkan bunga meskipun suku bunganya lebih kecil bila dibandingkan dengan deposan (nasabah yang mendepositokan uangnya). Bunga ini juga akan bercampur dengan uang nasabah, sehingga ketika nasabah mengecek uangnya tanpa melalui buku tabungan, dia tidak akan mengetahui seberapa banyak bunga
43 Lihat Bab II, h. 18.
44 Lihat Bab II, h. 19.
yang dihasilkan setiap bulan. Semakin banyak uang tabungan nasabah, maka bunganya akan semakin besar.
Hal ini tentu berbeda dengan nasabah yang menggunakan sistem deposito. Bunga yang dihasilkan setiap bulan melalui deposito sudah sangat jelas dan pasti nilainya karena nilai uang yang didepositokan juga sudah jelas dan deposito ini tidak dapat diambil sewaktu-waktu. Apalagi uang yang didepositokan tidak akan masuk ke dalam rekening nasabah. Sehingga berdasarkan perjanjian deposito antara bank dan nasabah tersebut hanya bunga dari deposito saja yang masuk ke dalam rekening nasabah.
Bila nasabah ingin uang deposito tersebut masuk ke dalam rekeningnya, maka ia harus mengambil deposito tersebut terlebih dahulu sehingga nanti uang tersebut akan menjadi tabungan biasa. Hanya saja, jika nasabah mengambil uang deposito sebelum waktu yang ditentukan, maka nasabah akan mendapatkan pinalti (potongan).
Muzakki yang membayarkan bunga bank untuk zakat penghasilan adalah nasabah bank yang menggunakan sistem deposito di bank karena mereka mengetahui dengan pasti nilai bunga yang didapatkan setiap bulan.
Sementara itu, para pegawai lain yang juga membayarkan zakat penghasilan bisa saja sebenarnya membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank tanpa mereka sadari mengingat uang tabungannya sudah tercampur menjadi satu dengan bunga dan sulit dibedakan.
Menurut Bapak Sutomo, bunga bank akan lebih baik digunakan untuk kegiatan keagamaan dan sosial. Oleh sebab itu, membayar zakat penghasilan
menggunakan bunga bank diperbolehkan. Muzakki yang berniat membayarkan bunga bank untuk zakat penghasilan sudah memiliki iktikad baik demi membantu sesama dan mencapai kemaslahatan.45
Menggunakan bunga bank untuk membayar zakat penghasilan atau bersedekah menurut peneliti sudah tepat. Jika PNS yang membayar zakat penghasilan menggunakan bunga tersebut hanya menyimpan uang di bank tanpa mengambil bunganya, maka mudharat-nya akan lebih besar karena akan lebih baik jika bunga tersebut diambil dan digunakan untuk kemaslahatan umat. Maslahah yang ada pada bunga bank itu baru bisa dikatakan maslahah jika memang maslahah yang dicapai adalah kemaslahatan umum bukan kemaslahatan individu dan yang paling utama bahwa penyaluran zakat menggunakan bunga bank tersebut adalah penyaluran yang haqiqi atau bukan rekayasa dan tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan syara’.
45 Wawancara dengan Bapak Sutomo, Amil Zakat.,
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa praktik pemanfaatan bunga bank untuk pembayaran zakat profesi Masyarakat di Kampung Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah diperbolehkan. Diperbolehkannya pembayaran zakat penghasilan menggunakan bunga bank karena terdapat masalahat di dalamnya. Jika PNS yang membayar zakat penghasilan menggunakan bunga tersebut hanya menyimpan uang di bank tanpa mengambil bunganya, maka mudharat-nya akan lebih besar karena akan lebih baik jika bunga tersebut diambil dan digunakan untuk kemaslahatan umat. Maslahah yang ada pada bunga bank itu baru bisa dikatakan maslahah jika memang maslahah yang dicapai adalah kemaslahatan umum bukan kemaslahatan individu dan yang paling utama bahwa penyaluran zakat menggunakan bunga bank tersebut adalah penyaluran yang haqiqi atau bukan rekayasa dan tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan syara’.
B. Saran
Dari pemaparan di atas, ada beberapa saran yang ingin peneliti sampaikan:
1. Kepada amil zakat hendaknya memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penghitungan zakat maal khususnya zakat penghasilan agar
kesadaran masyarakat akan pentingnya zakat penghasilan semakin tinggi dan masyarakat dapat mengetahui nisab zakat serta menghitung besarnya zakat yang harus dibayarkan kepada amil,
2. Kepada masyarakat agar beralih menyimpan uangnya ke perbankan syari’ah sehingga tidak lagi membayar zakat penghasilan menggunakan bunga bank yang riba.
DAFTAR PUSTAKA
Abd. Al-Rahman al-Jaziri. Kitab Fiqih Aal-Mazahib al-Arba’ah. Terjemah Kitab Fiqh Empat Madzhab. Jakarta: Litera Nusa. tth.
Abdu A’la Maududi. Dasar-dasar Islam. diterjemahkan Oleh Achsin Mohammad.
Bandung: Penerbit Pustaka, 2001
Abdul aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. Fiqh Ibadah. diterjemahkan oleh Kamran As’at Irsyady. ahsan Taqwim dkk.
Jakarta. Amzah, 2009. cet. I.
Abdul Salam . Bunga Bank dalam Perspektif Islam Studi Pendapat Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. dalam Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia.
Volume III. No.1 Juni 2013 .
Abdurrahmat Fathoni. Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi.
Jakarta: Rineka Cipta, 2011.
Abu Sura’i Abdul Hadi. Bunga Bank dalam Islam. Surabaya: Al-Ihlas 1993.
Achyar Ilyas. Menunggu Tindak Lanjut Fatwa Bunga Bank. dalam Republika 23 Desember 2003.
Afzalur Rahman. Doktrin Ekonomi Islam. Jilid 4 Yogayakarta: Dana Bakti Wakaf, 1996.
Amin Rais. Cakrawala Islam: Antara Cita Dan Fakta. Bandung: Mizan, 1987.
Arsan Rolanda. “Studi Tingkat Pemahaman PNS Muslim Terhadap Zakat penghasilan di Kota Medan” dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/
handle/123456789/38865/cover.pdf; jsessionid=599628EDFAABA80EC6 C6D8C32652D8F6? sequence=7. diakses pada tanggal 11 September 2017.
Ascarya. Akad dan Produk Bank Syariah. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007.
Burhan Ashafa. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta, 2013.
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Depag RI. Al-Qur’an dan Terjemahan. Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2000.
Didin Hafidhuddin. Panduan Praktis Tentang Zakat. Infak. dan Sedekah. Jakarta:
Gema Insani Press, 1998.
---. Zakat Dalam Perekonomian Modern. Cet. Ke-1. Jakarta:Gema Insani, 2002.
Fakhrudin. Fiqih dan Manajemen Zakat di Indonesia. Malang: UIN Malang Press. tth.
Heri Sudarsono. Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah Deskripsi dan Ilustrasi Yogyakarta: Ekonisia, 2003
Kasmir. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Kementian Agama Islam RI. Al-Qur;an dan Tafsirnya. Jakarta: Lentera Abadi, 2010.
Khoiruddin Nasution. Riba dan Poligami. Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh. cet. I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan ACAdeMIA, 1996
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014.
M. Daud Ali. Sistem Ekonomi Islam dan Wakaf. Jakarta: UI Press, 1980.
M. Umer Chapra. Sistem Moneter Islam. Alih Bahasa: Ikhwan Abidin Basri.
Jakarta: Gema Insani Press, 2000.
Masdar F. Mas’udi dkk. Reinterpretasi Pendayagunaan ZIS Menuju Efektivitas Pemanfaatan Zakat . Infak. Sedekah. Jakarta: Piramedia, 2004.
Maxime Rodiso. Islam dan Kapitalism. Alih Bahasa: Asep Hikmat. Bandung:
Igra. tth.
Muhammad Hadi. Problematika Zakat penghasilan dan Solusinya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2010. Cet. I.
Muhammad Hadi. Problematika Zakat penghasilan dan Solusinya: Sebuah Tinjauan Sosiologi Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Muhammad Syafi’i Antonio. Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press, 2001.
Muhammad Zuhri. Riba dan al-Qur’an dan Masalah Perbankan. Sebuah Tilikan Antisipatif. Cet. 2. Jakarta: Raja Grafindo, 1997.
Muhammad. Zakat Profesi: Wacana Pemikiran Zakat dalam Fiqh Kontemporer.
Jakarta: Salemba Diniyah, 2002.
Nasrun Haroen. Ushul Fiqh I. Cet. 3. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Nukhtoh Arfawie Kurdie. Memungut Zakat dan Infaq Pekerjaan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005.
Sr. Syahruni Usman. Bunga Bank dalam Perspektif Hukum Islam. dalam Jurnal Tahkim. Vol. X No. 1 Juni 2014.
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. R &
D. Bandung: Alfabeta, 2016.
Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta, 2013.
Sutrisno Hadi. Metodologi Reseach I. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Psikologi UGM, 1984.
Syafruddin. “Implementasi Zakat penghasilan di Kalangan PNS dan TNI/POLRI di Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat”. dalam http://repository.
uinsu.ac.id/1571/1/Tesis%20 Syafruddin%20.pdf. diakses pada tanggal 11 Agustus 2017.
Syarif Hidayatullah. Ensiklopedia Rukun Islam Ibadah tanpa Khilafiah “ zakat”.
Cet ke-1. Jakarta: Al-Kausar Mc Prima, 2008.
Syarif Hidayatullah. Ensiklopedia Rukun Islam Ibadah tanpa Khilafiah “ zakat”.
Cet ke-1. Jakarta: Al-Kausar Mc Prima, 2008
Ummi Kalsum. Riba dan Bunga Bank Dalam Islam Analisis Hukum dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Umat. dalam Jurnal Al-‘Adl IAIN Kendari. Vol. 7 No. 2. Juli 2014.
Wahbah az-Zuhaili. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Alih Bahasa: Abdul Hafiz dan muhammad Afifi. Cet. Ke-2. Jakarta: Penerbit akmahira, 2002.
Winardi. Istilah Ekonomi dalam Tiga bahsas. Inggris. Belanda. dan Indonesia.
Bandung: Mandar Maju, 1996.
Yusuf Qardhawi. Fiqih Prioritas: Urusan yang Terpenting dari yang Terpenting.
Cet. I. Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
FOTO-FOTO DOKUMENTASI
Foto 1. Kepala Desa Menandatangani Izin Research
Foto 2. Wawancara dengan Bapak Misidi selaku Salah Satu PNS di Desa Purwodadi Kec. Bangunrejo Kab. Lampung Tengah
Foto 2. Wawancara dengan Ibu Linda selaku Salah Satu PNS di Desa Purwodadi Kec. Bangunrejo Kab. Lampung Tengah
Foto 2. Wawancara dengan Bapak Sutomo selaku Amil Zakat di Desa Purwodadi Kec. Bangunrejo Kab. Lampung Tengah
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Toifatul Khasanah dilahirkan di Purwodadi pada tanggal 14 Mei 1995, putri ketujuh dari 7 bersaudara pasangan Bapak Asrori dan Ibu Samikem.
Pendidikan dasar peneliti tempuh di SDN 02 Purwodadi Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah selesai pada tahun 2007, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Islam Nusantara selesai pada tahun 2010. Sedangkan pendidikan menengah atas dilanjutkan di MA Roudlotul Huda, selesai tahun 2013. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan pada Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro dimulai pada Semester I Tahun Ajaran 2013/2014, yang kemudian pada Tahun 2017, STAIN Jurai Siwo Metro beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung.