BAB II KAJIAN TEORI
D. Konsep Dasar Belajar
2. Permasalahan dalam Belajar
56
kemudian dimunculkan kembali pada saat dibutuhkan dalam proses pemecahan masalah.
Proses belajar secara kasat mata tidak dapat diamati. Namun demikian, terdapat beberapa indikator pada individu yang dikatakan telah belajar. Menurut Nana Sudjana belajar adalah sebuah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang54. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap, dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan aspek lain yang ada pada individu55. Atas dasar tersebut, wujud dari adanya proses belajar pada individu dapat dilihat dari sikap dan perilaku yang dimunculkan oleh individu tersebut dalam bentuk-bentuk perubahan perilaku yang positif dan menjadi lebih baik. Sementara hasil dari proses belajar tidak selalu sesuatu yang baru. Hal ini disebabkan sangat memungkinkan hasil belajar dapat berupa pengembangan pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu sebelumnya.
2. Permasalahan dalam Belajar
Proses pembelajaran bukan sekedar kegiatan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa melalui berbagai aktivitas belajar mengajar. Namun demikian, dalam proses pembelajaran guru bertanggung jawab mendampingi siswa agar dapat menguasai materi pelajaran dengan baik dan tuntas serta mendampingi
54 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Sinar Baru Algesindo, 2014), 28.
57
proses perkembangan siswa, termasuk menyelesaikan program-program belajar dan pembelajaran. Tujuannya tidak lain agar siswa dapat berkembang sesuai potensi dan perkembangannya serta tugas-tugas belajar, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya.
Keberhasilan siswa dalam menyelesaikan program-program pembelajaran dan mengikuti proses pembelajaran dapat terlihat dari prestasi belajar yang dicapai. Jika prestasi belajar siswa tinggi, proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil. Namun sebaliknya, jika prestasi belajar siswa berada di bawah norma yang telah ditentukan, siswa dikatakan kurang atau belum berhasil. Atas dasar prestasi belajar itulah, guru akan menentukan siapa saja siswa yang memang memerlukan perhatian dan bantuan belajar secara khusus. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk mengenali dan memahami siswa secara individual, bagi siswa yang mengalami kesuliatan belajar dapat dibantu dengan segera secara optimal, efektif, dan efisien. Terlebih dahulu, guru harus melaksanakan proses untuk melakukan identifikasi kesulitan belajar pada siswa dalam upaya menentukan sumber dan faktor penyebabnya56. Tujuannya adalah membantu siswa mengatasi kesulitan belajarnya melalui berbagai alternatif pemecahannya atas dasar data/informasi yang lengkap dan akurat yang telah terkumpul.
Kita harus mengenal hal-hal umum yang terdapat pada semua anak, dan hal-hal yang unik dan khusus. Hal-hal yang umum merupakan dasar dan norma
58
yang akan menolong pembimbing mengetahui ciri-ciri dan unik pada tiap-tiap anak. Faktor-faktor umum yang perlu dikenal ialah57:
a. Hakikat anak: Anak bukan manusia dalam bentuk kecil atau seorang dewasa minus beberapa hal yang belum dimiliki. Anak adalah seorang yang berada pada sesuatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa. Di dalam dirinya ada misalnya kecenderungan untuk mementingkan diri daripada mengutamakan orang lain. Walaupun demikian jiwa seorang anak amat berharga dan hal ini juga penting untuk diakui.
b. Kebutuhan pokok anak: tiap anak membutuhkan hal-hal tertentu dan apabila kebutuhan itu tidak dipenuhi anak tersebut akan mengalami masalah-masalah tertentu. Kebutuhan pokok dapat dibagi dalam tiga aspek atau jenis, yaitu kebutuhan jasmani, kebutuhan kejiwaan (psychologis) dan kebutuhan rohani.
c. Langkah-langkah perkembangan: perkembangan anak meliputi segi-segi jasmani, jiwa, dan rohani juga. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang mengambil peranan besar dalam membentuk watak anak. Masa perkembangan ini penting untuk dikenal karena memberi kepada anak masalah-masalah khusus, pengalaman-pengalaman tertentu dan kesiapan untuk memiliki keterampilan dan penguasaan-penguasaan yang berguna bagi masa perkembangan berikutnya.
59
Dapat disimpulkan bahwa semua orang yang ikut berpartisipasi dalam proses pendidikan dan pengajaran anak, hendaknya mengenal pribadi anak didik. Sebagaimana motto: “semakin kita mengenal diri sendiri, semakin kita dapat mengenal orang lain. Semakin kita terampil mengembangkan dan mengubah diri sendiri, semakin kita berhasil menolong orang mengembangkan diri”.
Kesulitan belajar pada siswa, jenis, sifat, maupun manifestasinya tidak selalu sama pada masing-masing siswa meskipun berjenis kelamin, usia, dan kelas yang sama. Permasalahan belajar yang tidak sama pada setiap siswa akan ditanggapi, dirasakan, dan diatasi secara berbeda pula.
Menurut Warkitri dkk. dalam Sugihartono dkk., terdapat beberapa jenis permasalahan belajar yang sering dialami siswa sebagai berikut58.
a. Kekacauan Belajar atau Learning Disorder
Merupakan jenis permasalahan belajar yang terjadi ketika proses belajar siswa terganggu karena ada dan munculnya respon yang bertentangan dengan tujuan pembelajaran. Siswa ini memiliki potensi dasar yang baik, tetapi dalam proses belajar terganggu oleh reaksi-reaksi belajar yang bertentangan sehingga siswa tidak dapat menguasai materi pelajaran dengan baik dan juga mengalami kebingungan untuk memahami materi pelajaran.
60
b. Ketidakmampuan Belajar atau Learning Disability
Merupakan jenis permasalahan belajar saat siswa menunjukkan gejala tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab dan alasannya sehingga hasil belajar yang dicapai berada di bawah potensi intelektualnya.
c. Learning Disfunction
Merupakan jenis permasalahan belajar yang mengacu pada adanya gejala-gejala dalam bentuk siswa tidak dapat mengikuti dan melaksanakan proses belajar dan pembelajaran dengan baik. Pada dasarnya, siswa ini tidak menunjukkan adanya gangguan subnormal secara mental, gangguan alat indra, ataupun gangguan psikologis lainnya. Namun demikian, siswa tersebut tetap tidak mampu menguasai materi pelajaran meskipun sudah belajar dengan tekun.
d. Under Achiever
Merupakan jenis permasalahan belajar yang terjadi dan dialami oleh siswa dengan potensi intelektual tinggi dan atau tingkat kecerdasan di atas rata-rata normal, tetapi prestasi belajar yang ia capai tergolong rendah. Siswa ini mengalami kesulitan belajar yang dapat dilihat dari gejalanya, yaitu mengalami ketidak sesuaian tingkat kecerdasan dengan prestasi yang diperoleh. Artinya, potensi kecerdasan matematika yang seharusnya mampu mencapai skor 9, tetapi hanya mencapai skor 5.
61
e. Lambat Belajar atau Slow Leaner
Slow learner merupakan jenis permasalahan belajar yang disebabkan
siswa sangat lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguasai materi pelajaran dibandingkan siswa lain dengan tingkat potensi intelektual yang berbeda.
Kesulitan belajar pada seorang siswa sangat mungkin akan bersifat menetap atau mungkin juga hanya sementara dan berlangsung dalam kurun waktu tertentu, baik sebentar ataupun dalam kurun waktu yang lama. Lama atau tidaknya siswa mengalami kesulitan belajar akan sangat tergantung oleh banyak faktor termasuk faktor individu siswa, yaitu usaha mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialaminya. Artinya, kesulitan belajar akan berbeda pada masing-masing siswa.
Beberapa tipe gangguan psikologis yang dapat mempengaruhi anak-anak:
a. Gangguan Perkembangan Pervasif59
Anak-anak dengan gangguan perkembangan pervasif (pervasive
developmental disorders/PDDs) menunjukkan perilaku atau fungsi pada berbagai
area perkembangan. Gangguan ini umumnya menjadi tampak nyata pada tahun-tahun pertama kehidupan dan seringkali dihubungkan dengan retardasi mental.
59Jeffrey S. Nevid dkk., Perkembangan Anak, Terjemahan Tim Fakultas PsikologiUI (Jakarta: Erlangga, 2003), 143-145.
62
Autisme
Tipe mayor dari perkembangan pervasif salah satunya adalah gangguan autistik (autisme), yakni gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan kegagalan untuk bersosialisasi dengan orang lain, terbatasnya kemampuan bahasa, perilaku motorik yang terganggu, gangguan intelektual, dan tidak menyukai perubahan dalam lingkungan, bahkan terlihat hidup di dunianya sendiri.
Gangguan perkembangan pervasif lainnya adalah:
Gangguan asperger
Bentuknya yang lebih ringan dari gangguan perkembangan pervasif yang ditunjukkan dengan adanya defisit pada interaksi sosial dan perilaku stereotip tetapi tanpa disertai keterlambatan yang signifikan pada aspek bahasa dan kognitif seperti pada autisme.
Gangguan rett
Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormalitas fisik, perilaku, motorik, dan kognitif yang dimulai setelah beberapa bulan perkembangan normal.
Gangguan disintegratif masa kanak-kanak
Gangguan perkembangan pervasif yang melibatkan hilangnya keterampilan-keterampilan yang pernah dikuasai dan fungsi yang abnormal setelah satu periode perkembangan normal pada dua tahun pertama kehidupan.
63
b. Retardasi Mental (Mental Retardation)60
Yaitu keterlambatan yang mencakup rentang yang luas dalam perkembangan fungsi kognitif dan sosial. Perkembangan retardasi mental bervariasi. Banyak anak dengan retardasi mental menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu, terutama bila mereka mendapatkan dukungan, bimbingan, dan kesempatan pendidikan yang besar. Mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang kurang mendukung dapat mengalami kegagalan untuk berkembang atau kemunduran dalam hubungannya dengan anak-anak lain.
c. Gangguan Belajar61
Rockefeller menderita disleksia (dyslexia), istilah yang berasal dari bahasa Yunani dys artinya buruk, dan lexikon artinya dalam kata-kata. Disleksia mungkin merupakan gangguan yang paling umum dari gangguan belajar (learning
disorder) juga disebut ketidakmampuan belajar. Disleksia merupakan 80% dari
kasus gangguan belajar dan terjadi pada individu-individu yang mengalami kesulitan membaca walaupun mereka memiliki intelegensi rata-rata. Retardasi mental melibatkan keterlambatan secara umum dalam perkembangan intelektual. Orang-orang dengan gangguan belajar, bisa juga orang yang pandai, mungkin berbakat, tetapi menunjukkan perkembangan yang buruk dalam kemampuan membaca, matematika, atau menulis hingga menghambat prestasi sekolah atau fungsi sehari-hari.
60Ibid., 149. 61Ibid., 156.
64
Gangguan belajar cenderung menjadi gangguan kronis yang selanjutnya mempengaruhi perkembangan sampai masa dewasa. Anak-anak dengan gangguan belajar cenderung berprestasi buruk di sekolah. Mereka sering dinilai gagal oleh guru dan keluarga mereka. Tidak mengherankan bahwa sebagian besar dari mereka mengembangakan ekspektasi yang rendah dan bermasalah dengan self
esteem.
Tipe-tipe gangguan belajar mencakup:
Gangguan Matematika, menggambarkan anak-anak dengan kekurangan kemampuan aritmetika. Mereka dapat memiliki masalah memahami istilah-istilah matematika dasar atau operasi seperti penjumlahan atau pengurangan; memahami simbol-simbol matematika (+, =, dll.); atau belajar tabel perkalian.
Gangguan Menulis, mengacu pada anak-anak dengan keterbatasan kemampuan menulis. Keterbatasan dapat muncul dalam bentuk kesalahan mengeja, tata bahasa, tata baca, atau kesulitan dalam membentuk kalimat dan paragraf.
Gangguan Membaca, -disleksia- mengacu pada anak-anak yang memiliki perkembangan keterampilan yang buruk dalam mengenali kata-kata dan memahami bacaan. Disleksia diperkirakan mempengaruhi 4% dari anak-anak usia sekolah. Anak-anak yang menderita disleksia membaca dengan lambat dan kesulitan, dan mereka mengubah, menghilangkan, atau mengganti kata-kata ketika membaca dengan keras.
65
Prasangka dan diskriminasi bisa menjadi halangan dalam belajar, tidak hanya bagi anak-anak dengan latar belakang sosioekonomi dan etnis yang tidak diuntungkan tetapi juga bagi anak-anak cacat. Kira-kira 10 persen dari semua angka di Amerika Serikat menerima pendidikan khusus atau layanan terkait untuk suatu kecacatan. Lebih dari setengah memiliki cacat dalam belajar (Departemen Pendidikan AS, 2000). Persentase yang substansial dari anak-anak juga memiliki kelemahan dalam berbicara atau berbahasa (19,4 persen dari anak cacat yang menerima layanan khusus), mental terbelakang (11 persen), dan gangguan emosional serius (8,4 persen)62.
Persyaratan legal yang diberikan sekolah di AS kepada anak-anak cacat cukup baru. Hingga Undang-Undang disahkan pada tahun 1970-an yang memandatkan pelayanan terhadap anak cacat, kebanyakan sekolah umum menolak mereka atau memberikan pelayanan yang tidak memadai. Pada tahun 1975, Undang-Undang publik 94-142, Pendidikan bagi Semua Anak Cacat, mendesak agar semua siswa yang cacat diberi pendidikan umum yang memadai dan gratis.
Pada tahun 1990, Undang-Undang publik 94-152 diperbarui menjadi Individual with Disabilities Education Act (IDEA). IDEA diamandemen pada tahun 1997, lalu disahkan kembali pada tahun 2004 dan dinamai Individual with Disabilities Education Improvement Act. IDEA memberikan amanat luas untuk pelayanan terhadap semua anak cacat. Undang-Undang ini mencakup evaluasi dan
62Santrock John W., Perkembangan Anak, Terjemahan Mila Rachmawati dan Anna Kuswanti (Jakarta: Erlangga, 2007), 254.
66
penentuan kelayakan, pendidikan yang tepat dan rencana pendidikan yang disesuaikan dengan individu (IEP), dan pendidikan di lingkungan yang tidak restriktif (LRE).
Aspek utama dari pengesahan kembali IDEA pada tahun 2004 mencakup menyelaraskannya dengan Undang-Undang No Child Left Behind (NCLB) yang diracang untuk memperbaiki prestasi pendidikan semua siswa, termasuk siswa cacat. Mandat IDEA dan NCLB adalah bahwa kebanyakan siswa cacat diikutkan dalam penilaian umum dan kemajuan pendidikan. Penyesuaian ini menuntut kebanyakan siswa cacat untuk “menjalani tes prestasi akademik standar dan mencapai tingkat yang setara dengan siswa normal”. Pergantian tes bagi siswa cacat dan pendanaan untuk membantu negara bagian memperbaiki intruksi, penilaian, dan akuntabilitas dalam mengajar anak cacat dicakup dalam pengesahan kembali IDEA pada tahun 200463.
Rencana pendidikan yang disesuaikan dengan individu (IEP) adalah pernyataan tertulis yang menerangkan program yang secara spesifik disesuaikan dengan siswa yang cacat. Secara umum, IEP harus 1) berhubungan dengan kapasitas belajar anak, 2) disusun secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual anak dan bukan hanya salinan dari apa yang ditawarkan kepada anak lain, 3) dirancang untuk memberikan manfaat pendidikan.
Lingkungan yang paling tidak membatasi (LRE) adalah latar yang semirip mungkin dengan tempat dimana anak-anak normal dididik. Klausul IDEA ini
67
telah memberikan dasar hukum bagi usaha untuk mendidik anak-anak cacat di kelas reguler. Istilah inklusi berarti mendidik seorang anak dengan kebutuhan pendidikan khusus secara penuh di kelas reguler64. Bagi kebanyakan anak, keikutsertan di kelas reguler, dengan modifikasi dan layanan tambahan adalah tepat.