• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

E. Slow Learner (Pembelajar Lamban)

86

b) Menganalisis masalah

Guru menganalisis penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang serta penyebab penyimapangan tersebut. Selanjutnya menentukan alternatif untuk solusi atau penangulangannya.

c) Menilai alternatif-alternati pemecahan

Guru menilai dan mencari alternatif atau solusi yang tepat untuk menanggulangi atau memecahkan masalah.

d) Mendapatkan balikan

Guru memonitoring dengan maksud menilai apakah alternatif atau solusi yang ditawarkan bermanfaat atau tidak untuk mencapai sasaran sesuai dengan yang direncanakan.

E. Slow Learner (Pembelajar Lamban)

1. Pengertian Slow Learner

Slow learner adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia

membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Apabila diamati, maka ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam mencapai hasil belajar secara tuntas dengan variasi dua kelompok besar.71

Kelompok pertama merupakan sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian yang sulit dari

87

seluruh bahan yang harus dipelajari. Kelompok kedua adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai, dapat pula ketuntasan belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan karakteristik murid yang bersangkutan.

Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat penguasaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami,mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dikuasai dengan baik.

2. Ciri-Ciri Slow Learner

Pada umumnya anak yang lambat belajar adalah anak yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata, tetapi tidak sampai pada taraf imbisil atau idiot. Anak yang lambat belajar disebut juga anak yang “subnormal” atau “mentally retarded”. Gejala-gejala anak yang lambat belajar antara lain sebagai berikut72:

a. Perhatian dan konsentrasi singkat b. Reasinya lambat

c. Kemampuannya terbatas untuk mengerjakan hal-hal yang abstrak dan menyimpulkan

d. Kemampuan terbatas dalam menilai bahan yang relevan

88

e. Kelambatan dalam menghubungkan dan mewujudkan ide dengan kata-kata

f. Gagal mengenal unsur dalam situasi baru g. Belajar lambat dan mudah lupa

h. Berpandangan sempit

i. Tidak mampu menganalisa, memecahkan masalah, dan berfikir kritis

3. Faktor-Faktor Penyebab Slow Learner

Kelainan tingkah laku anak yang tergolong dalam slow learner adalah menggambarkan adanya sesuatu yang kurang sempurna pada pusat susunan syarafnya, kemungkinan ada suatu syaraf yang tidak berfungsi lagi karena telah mati atau setidak-tidaknya telah menjadi lemah. Keadaan demikian itu biasanya terjadi semasa anak masih dalam kandungan ibunya atau pada waktu dilahirkan, dapat pula terjadi karena adanya faktor-faktor dari dalam (endogen) atau dari luar (eksogen).

Apabila ditinjau dari segi waktu, maka sebab-sebab slow learner dapat diklasifikasi atas tiga masa73. Ketiga masa itu adalah: a. masa sebelum dilahirkan (pranatal), b. masa kelahiran (natal), dan c. masa setelah dilahirkan (post natal).

a. Masa Sebelum dilahirkan (Pranatal)

Masa sebelum dilahirkan disebut juga masa pranatal, yaitu proses kelainan pada pusat susunan syaraf anak telah terjadi semasa masih dalam

89

kandungan perut ibunya. Hal ini mungkin terjadi akibat dari infeksi penyakit si ibu, misalnya:

1) Penyakit sipilis (penyakit kelamin), cacar, campak, dan sejenisnya. 2) Obat-obatan yang dimakan si ibu pada waktu hamil muda dengan

maksud yang sebenarnya adalah untuk mengurangi rasa sakit.

3) Kelainan pada kelenjar gondok, yang mengakibatkan pertumbuhan kurang wajar, keterlambatan kecerdasan, dan lain-lain.

4) Penyinaran dengan sinar rontgen dan radiasi yang berlebihan.

5) Letak bayi dalam perut sang ibu yang tidak normal, misalnya tali pusar bayi tertekan hingga mengakibatkan peredaran darah terganggu.

6) Sang ibu menderita keracunan pada waktu mengandung, sehingga mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan bayi yang sedang dikandungnya, misalnya keracuna radioaktif, alkohol, dan lain-lain. 7) Kecelakaan yang langsung menimpa kandungan sang ibu yang sedang

mengandung, hingga menimbulkan kerusakan pada syaraf-syaraf otak bayi yang berada dalam kandungan.

8) Kehidupan batiniah yang tidak stabil atau seimbang selama ibu mengandung, kurang hati-hati dan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja yang berakibat buruk terhadap perkembangan bayi di dalam kandungan.

b. Masa Kelahiran (Natal)

Proses kelainan pusat susunan syaraf pada anak yang waktu dilahirkan terjadi karena:

90

1) Bayi mengalami proses kelahiran terlalu lama, hingga bayi menderita kekurangan zat asam (walaupun sedikit saja) dan hal ini akan mempengaruhi sel-sel syaraf otak.

2) Akibat pendarahan pada otak yang terjadi karena sulitnya proses kelahiran yang terpaksi dibantu dengan mempergunakan alat.

3) Akibat kelahiran bayi sebelum cukup umur, yang dikenal dengan kelahiran prematur, biasanya disebabkan keadaan tulang-tulang pelindung otak anak itu masih lemah sehingga mudah mengalami perubahan bentuk karena tertekan.

4) Bayi tidak dapat segera menangis setelah lahir, yang mengakibatkan terlambatnya bayi untuk memulai bernafas secara efektif.

c. Masa Setelah Dilahirkan (Post Natal)

Masa setelah dilahirkan atau sering dikenal dengan masa post natal adalah keadaan anak yang telah dilahirkan itu dalam keadaan normal, tetapi karena adanya sesuatu hal sehingga terjadi kerusakan pada otak yang dapat terlihat atau nampak dengan kemundurannya dari kecerdasan anak itu. Keadaan anak itu mungkin terjadi karena akibat kecelakaan, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel otak, mungkin juga terjadi karena adanya penyakit yang akut, sehingga mengakibatkan pendarahan di otak (encipalitis) atau peradangan pada selaput otak (meningitis). Selain itu anak menderita penyakit avitaminosis yaitu kekuranganvitamin-vitamin yang sangat diperlukan dan berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

91

Berdasarkan uraian di atas, apabila kita meninjau dari sifat masalahnya, ternyata anak slow learner itu merupakan suatu masalah yang sangat kompleks, yaitu masalah yang beruang lingkup pendidikan, psikologis, medis psikiatris, kultur (budaya), dan masalah-masalah sosial.

Apabila dihubungkan dengan usia anak Madrasah Ibtidaiyah, maka kesulitan belajar yang dihadapi anak pada umumnya berkaitan dengan masalah membaca, menulis, dan berhitung. Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung atau tidak langsung dalam berbagai bentuk tingkah laku dengan adanya hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan tampak dalam aspek-aspek motorik, konatif, kognitif, dan afektif, baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya. Anak slow learner acapkali malas, kalau ditanya biasanya membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya, sering lupa mengerjakan tugasnya, kalaupun dikerjakan biasanya tidak tuntas, cara berpikirnya lamban.