• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Perangkat Daerah

Pelaksanaan tugas dan fungsi Satuan Polisi Pamong Praja seperti yang diamanatkan dalam Perbup No. 56 tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Fungsi dan Tugas serta Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja.

Tentang Satuan Polisi Pamong Praja disebutkan bahwa fungsi Satpol PP yang mencakup fungsi operasi, fungsi koordinasi dengan Polri, PPNS Daerah dan aparatur lainya serta fungsi pengawasan, menunjukkan betapa penting dan strategisnya satuan itu dalam menyangga kewibawaan pemerintah daerah, serta penciptaan situasi kondusif dalam kehidupan pembangunan bangsa.

Dengan kata lain, keberadaan Satpol PP sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya, termasuk didalamnya penyelenggaraan perlindungan masyarakat (Linmas).

24

Tabel 3.1

Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi OPD Satuan Polisi Pamong Praja

Aspek Kajian Capaian/Kondisi saat ini Standar yang digunakan

Faktor yang mempengaruhi

Permasalahan Pelayanan OPD

Internal (Kewenangan OPD) Eksternal (diluar kewenangan OPD)

1 2 3 4 5 6

Gambaran pelayanan Sat Pol PP

Penegakan Perda dan Penyelenggaraan Tibum Tramas

UU No. 25 tahun 2004 UU No. 23 tahun 2014 PP No. 18 tahun 2014 Perda No. 14 Tahun 2016 Perbup No.56 Tahun 2016

1. PPNS yang mengawal Perda dimasing-masing OPD belum optimal 2. Kurangnya koordinasi antar OPD 1. Regulasi lambat mengikuti perubahan 2. Masih banyaknya pelanggaran dikarenakan kurangnya sosialisasi Perda dan Perbup

Kurangnya PPNS yang

mengawal Perda dan

Perbup

Kajian Renstra SatPol PP Provinsi DIY

Koordinasi dan Fasilitasi Peningkatan SDM Pol PP

PP No. 6 tahun 2010 PP No. 58 tahun 2010

Koordinasi antar seksi dengan SatPol PP DIY

Koordinasi dan konsultasi dengan SatPol PP DIY

Belum optimalnya peran

Provinsi terhadap

Kabupaten

Kajian terhadap

Renstra Kementrian Dalam Negeri

Koordinasi dan Laporan PP Nomor 6 tahun 2010 PP No. 58 tahun 2010

Kurangnya konsultasi dan

komunikasi dengan

Kemendagri

Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemendagri sangat kurang

Belum optimalnya peran

Kemendagri terhadap

pengembangan Satpol PP Kabupaten

25

3.2 Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan wakil kepala daerah Terpilih Visi Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Kulon Progo tahun 2017-2022 adalah: “Terwujudnya Kulon Progo yang sejahtera, aman, tenteram,

berkarakter, dan berbudaya berdasarkan iman dan taqwa”.

Misi untuk mewujudkan visi pembangunan tersebut adalah:

1. Mewujudkan SDM yang sehat, berprestasi, mandiri, berkarakter, dan berbudaya;

2. Menciptakan sistem perekonomian yang berbasis kerakyatan;

3. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dalam lingkungan kehidupan yang tertib, aman, dan tenteram;

4. Mewujudkan pembangunan berbasis kawasan dengan mengoptimalkan sumber daya alam dan didukung infrastruktur yang berkualitas.

Misi “Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dalam

lingkungan kehidupan yang aman, tertib, dan tenteram”. Ketentraman dan

ketertiban merupakan kondisi yang diharapkan masyarakat agar dapat melangsungkan kehidupan dengan tenang dan damai, dan merupakan jaminan bagi terselenggaranya pembangunan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bersama. Kondisi yang tenteram dan tertib akan terwujud apabila terdapat kesadaran kolektif dan komitmen patuh dari seluruh stakeholder pembangunan terhadap berbagai ketentuan yang telah disepakati bersama, yang direalisasikan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan hukum.

Penegakan hukum dan ketertiban merupakan faktor yang sangat penting dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan bermartabat. Oleh karena itu, penegakan hukum harus dilaksanakan secara konsekuen dan adil tanpa diskriminasi. Selain itu, faktor penting bagi terpeliharanya stabilitas kehidupan yang tentram, tertib dan dinamis adalah adanya rasa saling percaya dan harmoni dari seluruh stakeholder pembangunan.

26

Tabel 3.2

Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan OPD

Terhadap Pencapaian Visi, Misi dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah

Visi: Terwujudnya Kabupaten Kulon Progo yang Sehat, Mandiri, Berprestasi, Adil, Aman dan Sejahtera Berdasarkan Iman dan Taqwa

No Misi dan Program

KDH dan Wakil KDH Permasalahan Pelayanan OPD

Faktor Penghambat Pendorong 1 2 3 4 5 Misi : 3 Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dalam lingkungan kehidupan yang tertib, aman, dan tenteram Program : Peningkatan ketentraman dan ketertiban umum Program : Peningkatan penegakan peraturan daerah

1. Belum adanya Panti Sosial untuk penampungan masyarakat yang terjaring dalam operasi.

2. Implementasi Perda Kelembagaan Pol PP yang belum optimal

3. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mentaati peraturan perundang-undangan (penambangan tak berijin, pengurusan IMB)

4. Pelaksanaan regulasi yang mengatur ketugasan beberapa OPD belum berjalan

5. Pelaksanaan ketentuan Perda yang belum dijalankan oleh OPD secara administrasi.

6. Tindak lanjut pelanggaran Undang-Undang yang menjadi kewenangan OPD lain belum siap secara administrasi, SDM dan Sarana prasarana

1. Belum adanya tindak lanjut pasca hasil operasi gepeng, anjal, dan penyakit masyarakat

2. Belum optimalnya kasi Trantib Kecamatan sebagai Mantri Pol PP 3. Masih banyaknya pelanggaran Perda 4. OPD Sektoral belum memahami tugas

dan fungsinya selaku Pembina 5. Pemahaman pelaksanaan

Perundang-undangan yang masih terbatas ke semua OPD

6. Kurang optimalnya kesiapan

perangkat untuk menindak lanjuti pelanggaran Undang-Undang.

1. Mendorong OPD yang mengampu

permasalahan sosial untuk menyiapkan Panti Sosial

2. Segera dibuatkan regulasi implementasi kelembagaan sesuai dengan Perda.

3. Memberi masukan kepada OPD terkait untuk meningkatkan sosialisasi terhadap peraturan

4. Mendorong adanya regulasi pelaksanaan fungsi OPD sesuai dengan ketentuan peraturan secara konsekuen

5. Mendorong kepada semua OPD agar

melaksanakan ketentuan peraturan

perundang-undangan sesuai tugas dan fungsinya

6. Penyiapan SDM administrasi sarana dan prasarana untuk tindak lanjut pelanggaran undang-undang

27

3.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Propinsi

Perumusan Visi Kementerian Dalam Negeri ditujukan untuk mencapai kondisi yang ingin diwujudkan ke depan terkait pelaksanaan tugas dan fungsinya di bidang pemerintahan dalam negeri. Visi Kementerian Dalam Negeri ditetapkan berdasarkan mandat terhadap kedudukan Menteri Dalam Negeri atas tugas pokok dan fungsinya dengan memperhatikan visi, misi, dan arah kebijakan Pemerintah Republik Indonesia untuk lima tahun ke depan, serta kondisi obyektif dan dinamika lingkungan strategis, keberlanjutan kebijakan pembangunan, dan tuntutan perubahan untuk mewujudkan kondisi yang lebih ideal terkait lingkup tugas Kementerian Dalam Negeri.

Atas pertimbangan tersebut, telah ditetapkan Visi Kementerian Dalam Negeri yaitu: “Kementerian Dalam Negeri Mampu Menjadi POROS Jalannya Pemerintahan dan Politik Dalam Negeri, Meningkatkan Pelayanan Publik, Menegakkan Demokrasi Dan Menjaga Integrasi Bangsa”

Beberapa Kata kunci yang terkandung dalam Visi Kementerian Dalam Negeri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Poros Jalannya Pemerintahan dan Politik Dalam Negeri: Poros atau sumbu atau titik keseimbangan, dapat dimaknai bahwa Kementerian Dalam Negeri agar memposisikan sebagai yang terdepan dalam mendorong terciptanya suasana yang kondusif dan stabil bagi jalannya pemerintahan dan politik dalam negeri melalui pembinaan dan pengawasan secara optimal dan efektif. Hal ini sesuai tugas dan fungsinya, yaitu menangani urusan Pemerintah di bidang penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri.

2. Meningkatkan Pelayanan Publik:

Kementerian Dalam Negeri agar mampu mendorong terciptanya pelayanan publik yang optimal di daerah melalui pengawalan secara optimal terhadap penyelenggaraan berbagai urusan pemerintahan di Daerah dalam melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat, khususnya dalam pemenuhan pelayanan dasar oleh Pemerintah Daerah.

3. Menegakkan Demokrasi:

Dapat dimaknai bahwa Kementerian Dalam Negeri memiliki peran strategis untuk berada di tengah masyakarat, para pemangku kepentingan,

28

organisasi kemasyarakatan, dan lembaga Pemerintahan dalam upaya penegakkan demokrasi dan peningkatan kualitas partisipasi politik masyarakat.

4. Menjaga Integrasi Bangsa:

Sejalan dengan tugas dan fungsinya dalam membina dan meningkatkan pemahaman terhadap wawasan kebangsaan, persatuan dan kesatuan, dan rasa cinta tanah air di tengah kebhinekaan, Kementerian Dalam Negeri II-2 memiliki peran strategis dalam menjaga integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Visi Kementerian Dalam Negeri tersebut merupakan komitmen, sikap, dan arah yang tegas untuk mengambil peran terdepan bagi terwujudnya tujuan pembangunan nasional, khususnya dalam aspek tugas dan fungsinya di bidang urusan dalam negeri. Untuk mewujudkan Visi tersebut, Kementerian Dalam Negeri didukung oleh segenap unit kerjayang secara konsisten dan penuh tanggung jawab harus bersinergi guna mewujudkan Visi dimaksud.

Untuk mewujudkan Visi yang telah dirumuskan tersebut, maka ditetapkan Misi Kementerian Dalam Negeri, yaitu:

1. Memantapkan ideologi dan wawasan kebangsaan dengan memperkuat pengamalan terhadap Pancasila, UUD 1945, kebhinekaan, menegakkan persatuan dan kesatuan, demokratisasi, serta membangun karakter bangsa dan stabilitas dalam negeri.

2. Mewujudkan efektivitas penyelenggaraan tugas - tugas pemerintahan umum melalui harmonisasi hubungan pusat-daerah, menciptakan ketentraman, dan ketertiban umum, serta meningkatkan pendayagunaan administrasi kependudukan.

3. Mewujudkan efektivitas penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah melalui peningkatan kapasitas dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan serta didukung pengelolaan anggaran dan keuangan yang akuntabel dan berpihak kepada rakyat.

4. Mendorong terwujudnya keserasian dan keadilan pembangunan antar wilayah dan daerah melalui pembangunan dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa serta perbatasan.

29

5. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan efektif dengan didukung aparatur yang berkompeten dan pengawasan yang efektif dalam rangka pemantapan pelayanan publik.

Rumusan Misi dimaksud merupakan penjabaran lebih lanjut atas arah kebijakan RPJMN Tahun 2015-2019 dan peraturan perundang-undangan, arah kebijakan pemerintah terkait yang perlu dilakukan dan/atau ditindaklanjuti oleh Kementerian Dalam Negeri sesuai tugas dan fungsinya.

Ditinjau dari sasaran jangka menengah Rencana Strategis Kementerian Dalam Negeri periode 2017 – 2022 terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pada Satuan Polisi Pamong Praja, yaitu dapat kita lihat pada tabel 3.3 berikut:

30

Tabel 3.3

Permasalahan Pelayanan SATPOL PP berdasarkan Sasaran Renstra Kementerian Dalam Negeri beserta faktor penghambat dan pendorong keberhasilan penanganannya

No

Sasaran Jangka Menengah Renstra

Kemendagri

Permasalahan

Pelayanan SatPol PP Kulon Progo

Sebagai Faktor

Penghambat Pendorong

(1) (2) (3) (4) (5)

1 Mewujudkan tata

pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa

1. Implementasi Perda Kelembagaan Pol PP yang belum optimal

2. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mentaati peraturan perundang-undangan (penambangan tak berijin, pengurusan IMB) 3. Pelaksanaan regulasi yang mengatur

ketugasan beberapa OPD belum berjalan

1. Belum optimalnya kasi Trantib Kecamatan sebagai Mantri Pol PP

2. Masih banyaknya pelanggaran Perda

3. OPD Sektoral belum memahami tugas dan fungsinya selaku Pembina

1. Segera dibuatkan regulasi implementasi kelembagaan sesuai dengan Perda.

2. Memberi masukan kepada OPD terkait untuk meningkatkan sosialisasi terhadap peraturan 3. Mendorong adanya regulasi pelaksanaan fungsi OPD sesuai dengan ketentuan peraturan secara konsekuen

31

Tidak dilakukan telaahan terhadap renstra propinsi DIY sehubungan renstra propinsi DIY belum ditetapkan.

3.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Untuk mengarahkan pembangunan di Kabupaten Kulon Progo dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan perlu disusun Rencana Tata Ruang Wilayah.

Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten meliputi :

a. pengendalian dan pengembangan pemanfaatan lahan pertanian;

b. peningkatan dan pendayagunaan kawasan pantai yang bersinergi dengan kelestarian ekosistem;

c. peningkatan kawasan pariwisata; d. pengelolaan kawasan pertambangan; e. pengembangan kawasan minapolitan;

f. pengembangan pemanfaatan ruang pada kawasan strategis; g. pengembangan sistem pelayanan perdesaan;

h. pemantapan prasarana wilayah pada sistem perkotaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung;

i. pengendalian fungsi kawasan lindung; dan

j. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.

3.5. Penentuan Isu-isu Strategis

Isu-isu strategis yang menjadi tantangan Satuan Polisi Pamong Praja kedepan akan semakin berat, mengingat saat ini Kabupaten Kulon Progo sedang mempersiapkan Mega Proyek untuk Pabrik Pengolahan Biji Besi, Pembangunan Pelabuhan dan Bandara Internasional. Efek domino yang akan terjadi dari mega proyek tersebut sudah pasti akan mempengaruhi tugas dan fungsi Satuan Polisi Pamong Praja.

Efek yang akan menjadi tugas dan fungsi Satuan Polisi Pamong Praja untuk membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dan penegakan peraturan daerah adalah sebagai berikut:

1. Keberadaan mega proyek akan diikuti dengan peningkatan perekonomian yang akan menarik pihak luar untuk ikut terlibat atau masuk dalam lingkup mega proyek. Peningkatan perekonomian ini akan diimbangi dengan peningkatan aktifitas

32

masyarakat. Aktifitas ini yang akan mempengaruhi tingkat ketertiban umum dan ketentraman masyarakat sehingga Satuan Polisi Pamong Praja harus lebih optimal dalam membantu kepala daerah untuk penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

2. Peningkatan ekonomi sebagai efek mega proyek akan diikuti dengan pendirian bangunan-bangunan baik perusahaan, pabrik, industri, perdagangan atau tempat hunian. Hal ini menjadi beban tugas dari Satuan Polisi Pamong Praja ketika aktifitas tersebut tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada di Kabupaten Kulon Progo. 3. Aktifitas dalam memanfaatkan fasilitas umum juga akan meningkat sebagai efek dari perkembangan ekonomi sehingga penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat juga akan semakin berat.

4. Peningkatan perekonomian akan menjadi magnet bagi pendatang untuk bisa ikut merasakan sehingga pendatang akan banyak yang masuk ke Kabupaten Kulon Progo, dan hal ini akan secara langsung mempengaruhi tingkat kenyamanan, kemananan dan ketertiban masyarakat.

5. Efek lain adalah ketika masyarakat yang tidak merasakan imbas secara positif sehingga akan tersisih dan akan mengarah pada aktifitas yang dapat mengganggu ketertiban umum seperti gelandangan dan pengemis, anak jalanan dan pendirian bangunan-bangunan dilingkungan kumuh

6. Penegakan Peraturan Daerah yang sudah ada dan perda-perda baru seiring dengan perkembangan mega proyek.

33

Tabel 3.4

Identifikasi Isu-Isu Strategis (Lingkungan Eksternal)

No

Isu Strategis

Lain-lain Dinamika Internasional Dinamika Nasional Dinamika Regional/ lokal

1 2 3 4 5

1. - Peran Satuan Polisi Pamong Praja dalam pelaksanaan pemilihan legislatif dan eksekutif untuk ikut membantu menciptakan dan mengendalikan ketentraman dan ketertiban umum serta penegakan peraturan perundang-undangan daerah.

Pilkada dan Pilkades sering membawa dampak kerawanan baik sebelum, pada saat pelaksanaan maupun pasca pemilihan. Oleh karena itu perlu antisipasi dari sisi tibum tranmas.

- 2. - Kebijakan pemerintah untuk memperbaiki infrastuktur perhubungan

khususnya Bandar udara dan perhubungan laut memiliki dampak yang luas bagi perekonomian nasional maupun lokal.

Pembangunan Bandara Internasional, Mega proyek Pasir Besi, Pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto di Kabupaten Kulon Progo, tTumbuhnya obyek wisata baru berupa curug, mangrove, dan lain-lain rawan disalahgunakan untuk kegiatan asusila, berkembangnya kos-kosan, penginapan dan tempat hiburan

- 3. - Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devisa dari sektor pariwisata

membawa konsekuensi kepada daerah untuk mempersiapkan obyek wisata tidak terkecuali aspek keamanannya.

Pengembangan pariwisata telah menarik banyak wisatawan ke Kulon Progo. Wisatawan yang berkunjung ke obwis pantai sering kali kurang memperhatikan faktor keselamatan diri pribadi, akibatnya sering membawa dampak adanya korban jiwa.

- 4. Terorisme internasional Terorisme telah menjadi bahaya laten yang harus diperangi bersama; Terorisme harus diwaspadai oleh semua elemen masyarakat. Masyarakt

harus ikut berperan serta untuk melakukan deteksi dini terhadap terorisme. Satuan Linmas di tingkat RT atau dusun merupakan kekuatan potensial untuk melakukan deteksi dini tersebut;

34

B A B IV

Dokumen terkait