• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan dan kendala dalam pengelolaan COREMAP

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1.2. Permasalahan dan kendala dalam pengelolaan COREMAP

Pengelolaan COREMAP di tingkat Kabupaten

• Pengelolaan program dan kegiatan COREMAP di tingkat kabupaten dilakukan oleh ketua PMU yang dibantu oleh pengelola masing-masing komponen dan konsultan. Sedangkan pengelolaan keuangan dilakukan oleh Kuasa Pemegang Anggaran (KPA) yang dalam hal ini dilakukan oleh ketua PMU. Terpusatnya pengelolaan keuangan pada KPA dan PPK yang dibantu oleh beberapa staff serta teknis pelaporan keuangan yang cukup rumit mengakibatkan berbagai kegiatan tidak berjalan sesuai jadwal. Teknis pelaporan dan pertanggung – jawaban

keuangan COREMAP cukup rumit, rinci dan berkaitan antara kegiatan yang satu dengan yang lain. Jika suatu kegiatan pelaporan administrasi keuangannya belum selesai, maka kegiatan lain yang pelaporan keuangannya telah selesai menjadi terganggu. Dalam hal ini kegiatan yang telah selesai pelaporan keuangannya belum dapat melakukan pencairan dana untuk kegiatan selanjutnya sebelum semua kegiatan dilaporkan pertanggung-jawaban keuangannya. Salah satu komponen pembiayaan yang tertunda pembayarannya adalah honor untuk para SETO dan CF yang bertugas di lokasi.

• Lokasi COREMAP di Kabupaten Raja Ampat cukup menyebar dengan jarak yang cukup jauh antara satu dengan yang lainnya. Terbatasnya sarana transportasi dan kondisi alam yang kurang bersahabat, terutama pada musim ombak besar menjadi kendala bagi mobilitas dan komunikasi antara SETO, CF dan pengelola di tingkat kabupaten. Mobilisasi dan komunikasi yang terkendala ini mempengaruhi kelancaran pelaksanaan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh SETO, CF, pengelola di tingkat kabupaten dan konsultan.

• Kajian ini menemukan bahwa kapasitas CF yang ditugaskan di masing – masing kampung sangat bervariasi. Terdapat sebagian CF yang kinerjanya masih belum optimal dalam melakukan pendampingan di masyarakat. Pemahaman tentang tujuan dan pendekatan COREMAP pada sebagian CF masih minim. Padahal mereka ditugaskan untuk mendampingi masyarakat dan melakukan fasilitasi agar semua kegiatan COREMAP di lapangan dapat berjalan baik. Kondisi ini tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan program mengingat masyarakat di lokasi masih belum sepenuhnya mandiri dalam melakukan seluruh kegiatan COREMAP.

Pengelolaan di tingkat lokasi

Lembaga pengelola COREMAP di tingkat lokasi adalah LPSTK. Lembaga ini mempunyai peran memberikan dukungan

operasional terhadap semua kegiatan COREMAP di lokasi. Peran LPSTK dapat berjalan baik jika didukung oleh kinerja dan kapasitas pengurus yang mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, tujuan dan pendekatan yang dipakai oleh COREMAP dalam upaya menjaga kelestarian terumbu karang. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemahaman sebagian pengurus LPSTK tentang COREMAP masih belum memadai. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan beberapa kegiatan yang dilaksanakan. Keterbatasan pemahaman ini berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia yang ada. Secara umum pendidikan warga masyarakat di beberapa kampung lokasi COREMAP relatif rendah.

• Motivator desa bertugas membantu CF dan SETO melaksanakan kegiatan COREMAP mulai dari pembentukan kelembagaan sampai dengan melaksanakan sosialisasi dan identifikasi kegiatan Pokmas. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum kinerja para motivator belum optimal. Hal ini tercermin dari minimnya pemahaman mereka tentang konsep dan tujuan COREMAP serta pendekatan yang digunakan. Rendahnya pemahaman motivator tentang konsep, tujuan dan pendekatan COREMAP ini menjadi kendala dalam memberikan fasilitasi kepada masyarakat tentang pentingnya penyelamatan terumbu karang.

Program dan kegiatan di lokasi

• Secara umum kegiatan sosialisasi tentang penyelamatan terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat cukup berhasil yang terlihat dari menurunnya beberapa kegiatan illegal seperti penggunaan bom dan potas untuk menangkap ikan.

• Keberadaan pondok informasi di beberapa lokasi belum termanfaatkan secara optimal untuk media dan sumber informasi bagi penyebarluasan kegiatan COREMAP. Materi terkait dengan informasi mengenai program dan kegiatan COREMAP seperti brosure, leaflet dan buku-buku yang ada di pondok sangat minim.

Pondok informasi yang cukup lengkap materinya hanya dapat ditemui di Kampung Meos Manggara.

• Kegiatan UEP yang telah dimulai dari tahun 2007 secara umum hasilnya belum optimal. Dana bergulir yang disalurkan ke anggota Pokmas di Kampung Mutus dan Yenbeser dengan jumlah yang relatif kecil (masing-masing anggota Rp 500.000) belum dapat dipergunakan untuk membantu menambah modal usaha masyarakat. Sebagian besar pinjaman tersebut digunakan oleh anggota Pokmas untuk modal usaha dan sebagian lainnya ada yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Usaha yang dilakukan oleh para anggota Pokmas diantaranya adalah berjualan kue, membeli tali untuk membuat senat (tikar khas Raja Ampat), berjualan sirih pinang dan menambah modal untuk menangkap ikan di laut. Sebagian dari usaha tersebut ada yang berhasil, namun sebagian besar tidak berkelanjutan.

Di Kampung Friwen, karena jumlah rumah tangga di kampung ini relatif kecil (sekitar 28 KK), maka setiap anggota Pokmas mendapatkan pinjaman maksimal Rp 2 juta. Dana bergulir yang disalurkan anggota Pokmas ini sebagian besar dipakai untuk menambah modal usaha penangkapan ikan dan usaha warungan. Usaha yang dilakukan oleh Pokmas ini sebagian berhasil namun sebagian besar tidak berkelanjutan. Terdapat satu usaha warungan yang cukup berkembang berkat adanya modal dari dana bergulir COREMAP.

Kurang berhasilnya berbagai usaha yang dilakukan oleh Pokmas ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor adalah kurangnya bimbingan oleh pengelola COREMAP. Monitoring terhadap kegiatan usaha Pokmas ini belum dilakukan, sehingga tidak ada kontrol (pengawasan) dan bimbingan terhadap para anggota Pokmas. Monitoring dan bimbingan diperlukan untuk mengetahui kendala - kendala yang dihadapi oleh anggota Pokmas dalam menjalankan usahanya dan sekaligus dapat memberikan alternatif solusinya.

• Kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat secara umum masih berjalan meskipun belum mendapat fasilitas yang memadai. Minimnya sarana dan prasarana (armada patroli dan perlengkapannya) menjadi kendala bagi masyarakat untuk melakukan patroli secara efektif. Armada yang dipakai oleh nelayan setempat tidak sebandung dengan armada yang dipakai oleh para nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan secara illegal di perairan sekitar Waigeo Selatan dan Waigeo Barat.

5.1.2. Perubahan pendapatan masyarakat dan faktor yang