PENDAPATAN MASYARAKAT: Perubahan dan Faktor Berpengaruh
4.2. PERUBAHAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA
4.2.2. Perubahan Pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan
Pendapatan rata-rata rumah tangga
Perubahan pendapatan nelayan di lokasi COREMAP Kabupaten Raja Ampat terlihat dari perbandingan distribusi pendapatan tahun 2006 dan 2008 (Tabel 4.4). Dari hasil perbandingan tersebut terlihat, bahwa perubahan yang cukup signifikan terjadi pada kelompok rumah tangga yang berpendapatan kurang dari Rp 500.000 dan kelompok rumah tangga yang mempunyai pendapatan lebih dari Rp 2.500.000. Perbandingan hasil baseline dan BME menunjukkan bahwa proporsi rumah tangga yang mempunyai pendapatan kurang dari Rp 500.000 turun secara signifikan. Pada tahun 2006 proporsi yang mempunyai pendapatan kurang dari Rp 500.000 sekitar 26 persen, turun menjadi hanya 8 persen pada tahun 2008. Sebaliknya kelompok rumah tangga yang mempunyai pendapatan di atas Rp 2,5 juta naik cukup signifikan selama dua tahun. Pada tahun 2008, kelompok rumah tangga yang mempunyai pendapatan di atas Rp 2,5 juta sekitar 12.5 persen naik sekitar 10 persen jika dibandingkan tahun 2006 yang proporsinya hanya 2.5 persen.
Perubahan distribusi pendapatan juga terjadi pada kelompok rumah tangga yang berpendapatan antara Rp 1 juta - Rp1,5 juta. Jumlah rumah tangga yang mempunyai pendapatan antara Rp 1 juta- Rp1,5 juta naik sekitar 10 persen selama dua tahun. Pada tahun 2006 jumlah rumah tangga yang mempunyai pendapatan Rp 1 juta - Rp1,5 juta sebesar 17,5 persen naik menjadi 27 persen pada tahun 2008.
Tabel 4. 4. Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Jumlah Pendapatan di Tiga Kampung Lokasi COREMAP Kabupaten Raja Ampat, 2006 dan 2008
No Kategori Pendapatan Friwen
Yenbeser Mutus Friwen, Yenbeser Mutus Tahun 2006 (T0) 1. < Rp 500.000 39,3 11,9 25,8 2. Rp 500.000 - Rp 999.000 42,6 35,6 39,2 3. Rp 1.000.000 – Rp 1.499.000 11,5 23,7 17,5 4. Rp 1.500.000 – Rp 1.999.000 3,3 18,6 10,8 5. Rp 2.000.000 – Rp 2.499.000 1,6 6,8 4,2 6. Rp 2.500.000 – Rp 2.999.000 1,6 0 0,8 7. Rp 3.000.000 – Rp 3.499.000 0 2 1,7 Jumlah 100 100 100 N 61 59 120 Tahun 2008 ( T1) 1. < Rp 500.000 13,3 3,3 8,3 2. Rp 500.000 - Rp 999.000 46,7 36,1 41,3 3. Rp 1.000.000 – Rp 1.499.000 21,7 32,8 27,3 4. Rp 1.500.000 – Rp 1.999.000 8,3 4,9 6,6 5. Rp 2.000.000 – Rp 2.499.000 1,7 8,2 5,0 6. Rp 2.500.000 – Rp 2.999.000 3,3 6,6 5,0 7. Rp 3.000.000 – Rp 3.499.000 0 4,9 2,5 8. >Rp 3.500.000 5,0 3,3 4,1 Jumlah 100 100 100 N 61 60 121
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data Primer BME Sosial- Ekonomi, COREMAP –LIPI, 2008.
Apabila dilihat menurut wilayah, penurunan jumlah rumah tangga yang berpendapatan kurang dari Rp 500.000 yang sangat signifikan terjadi di Desa Friwen dan Yenbeser (Waigeo Selatan). Sebaliknya
kenaikan jumlah rumah tangga yang berpendapatan di atas 2,5 juta yang cukup tinggi terjadi di Mutus (Waigeo Barat). Selama dua tahun jumlah rumah tangga nelayan yang berpendapatan kurang dari Rp 500.000 turun sekitar 26 persen. Sementara di Mutus (Waigeo selatan) penurunan jumlah kelompok rumah tangga tersebut hanya terjadi sekitar 8 persen. Penurunan yang relatif kecil ini dikarenakan proporsi rumah tangga yang berpendapatan kurang dari Rp 500.000 di wilayah ini relatif kecil. Kenaikan jumlah rumah tangga yang berpendapatan di atas 2,5 juta di Waigeo Barat sekitar 11 persen dan di Waigeo Selatan kurang dari 6 persen.
Diagram 4.5. Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan Tahun 2006 – 2008 39.4 13.3 11.9 3.3 11.5 21.7 25.1 33.7 17.5 27.3 1.6 8.3 2 13.8 2.5 11.5 8.3 25.8 0% 20% 40% 60% 80% 100% 2006 2008 2006 2008 2006 2008 Fr iw e n, Y e nbe s e r Wa ig e o Se la ta n Mu tu s , Wa ig e o Ba ra t Mu tu s , Fr iw e n, Y en b eser
Kurang dari 500 ribu 1 juta - 1, 5 juta 1,5 juta - 2,5 juta 2.5 juta keatas
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data Primer BME Sosial- Ekonomi, COREMAP –LIPI, 2008.
Hasil baseline tahun 2006 menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga nelayan di Waigeo Barat dan Waigeo Selatan sekitar Rp 954.400. Jika dilihat masing-masing distrik, pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayan di Waigeo Barat lebih tinggi dari rumah tangga nelayan Waigeo Selatan. Tingginya pendapatan rumah tangga
nelayan di Mutus ini diperkirakan karena target tangkapan utama nelayan di desa ini adalah kerapu hidup yang harga jualnya relatif tinggi. Wilayah Waigeo Barat dikenal sebagai salah satu sentra penghasil ikan Kerapu di Kabupaten Raja Ampat (TNC, 2001, ).
Tabel 4.5. Statistik Pendapatan Rumah Tangga Nelayan di Tiga Kampung Lokasi COREMAP, Kabupaten Raja Ampat, 2006 dan 2008 (Rupiah) Kampung Pendapatan Friwen Yenbeser (Waigeo Selatan) Mutus (Waigeo Barat) Friwen, Yenbeser Mutus Tahun 2006 (T1) Rata-rata rumah tangga 735.614 1.180.680 954.438 Median 676.333 1.000.000 812.000 Minimum 109.166 313.333 109.166 Maksimum 2.983.333 3.346.666 3.346.666 N 61 59 120 Tahun 2008 (T1) Rata-rata rumah tangga 1.165.894 1.515.082 1.341.931 Median 808.333 1.123.333 1.000.000 Minimum 276.666 293.333 276.666 Maksimum 5.433.333 8.200.000 8.200.000 N 60 61 121
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data Primer BME Sosial- Ekonomi, COREMAP –LIPI, 2008.
Dua tahun kemudian, hasil BME menunjukkan bahwa pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayanan di Waigeo Barat dan Waigeo Selatan meningkat menjadi sekitar Rp 1.340.000. Dalam dua tahun pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayanan naik sekitar Rp 387.000. Apabila dilihat per distrik, pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayanan di Distrik Waigeo Barat konsisten tetap lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan dari kegiatan kenelayanan di Waigeo Selatan. Namun jika dilihat peningkatannya selama dua tahun, peningkatan pendapatan dari kegiatan kenelayanan di Distrik
Waigeo Barat lebih rendah jika dibandingkan dengan Distrik Waigeo Selatan. Dalam jangka waktu dua tahun, pendapatan dari kegiatan kenelayanan di Distrik Waigeo Barat naik sebesar Rp 334.400, sementara di Waigeo Selatan naik sekitar Rp 429.400 (Lihat Diagram 4.6).
Diagram 4.6. Perubahan Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tahun 2006 – 2008 di beberapa lokasi COREMAP, Kabupaten Raja Ampat 0 500000 1000000 1500000 2000000 Waigeo Selatan Waigeo Barat
Waigeo Sel dan Bar
Waigeo Selatan 736600 1,165,800 429,200 Waigeo Barat 1,180,600 1,515,000 334,400 Waigeo Sel dan Bar 954400 1,341,900 387,500
2006 2008 Perubahan
2006-2008
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data Primer BME Sosial- Ekonomi, COREMAP –LIPI, 2008.
Secara umum peningkatan pendapatan nelayan di lokasi COREMAP berkaitan dengan beberapa faktor, diantaranya peningkatan kepemilikan perahu motor, naiknya harga ikan dan meningkatnya hasil tangkapan serta permintaan ikan yang cenderung mengalami kenaikan karena pertambahan jumlah konsumen (penduduk). Apabila dilihat per distrik, peningkatan pendapatan nelayan di Waigeo Barat lebih disebabkan oleh meningkatnya harga ikan dan sedikit kenaikan hasil tangkapan. Sementara itu di Distrik Waigeo Selatan peningkatan pendapatan selain karena kenaikan harga ikan dan kenaikan hasil
tangkapan juga dikarenakan oleh naiknya permintaan ikan untuk konsumsi lokal di sekitar ibukota Kabupaten (Waisai).
Hasil tangkapan nelayan di Waigeo Barat yang utama adalah ikan-ikan karang yang dijual dalam bentuk ikan-ikan hidup. Komoditi ini termasuk ke dalam jenis yang bernilai ekonomi tinggi. Seperti telah diketahui bahwa Waigeo Barat merupakan salah satu sentra penghasil ikan hidup yang cukup berpotensi di kabupaten Raja Ampat. Sekitar tahun 2000 – 2004 penggunan potas untuk menangkap ikan di wilayah ini cukup marak. Namun berkat adanya berbagai program penyadaran masyarakat, baik oleh COREMAP maupun (CI) penggunaan potas di wilayah ini sudah sangat berkurang. Berkurangnya pemotasan sejak beberapa tahun terakhir ini telah menunjukkan hasilnya, yaitu munculnya beberapa jenis ikan karang di sekitar perairan desa. Menurut seorang narasumber yang pernah menggunakan potas, pada saat sekarang ini muncul beberapa jenis ikan-ikan karang dengan populasi yang cukup banyak di sekitar perairan Pulau Mutus, Meosmanggara dan beberapa pulau lainnya di Waigeo Barat. Dua tahun sebelumnya beberapa jenis ikan tersebut sudah jarang ditemui. Dengan demikian berkurangnya penangkapan ikan menggunakan potas telah mempunyai dampak positif terhadap pendapatan nelayan, yaitu mulai meningkatnya populasi ikan karang yang pada akhirnya meningkatkan hasil tangkapan nelayan.
Berbeda dengan nelayan di Distrik Waigeo Barat, hasil tangkapan utama nelayan di Distrik Waigeo Selatan utamanya adalah berbagai jenis ikan yang dijual dalam bentuk ikan segar atau dibuat ikan asin. Dalam beberapa tahu terakhir ini terjadi peningkatan permintaan ikan segar untuk kebutuhan makan sehari-hari masyarakat di sekitar ibukota kabupaten raja Ampat (Waisai). Adanya pembangunan Waisai sebagai ibukota Kabupaten Raja Ampat mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk di wilayah ini. Penduduk yang datang ke wilayah ini selain bekerja sebagai pegawai pemerintah juga bekerja di sektor lainnya seperti sebagai pekerja bangunan, berdagang berbagai komoditi (kebutuhan sehari-hari, bahan bangunan, makanan dsbnya) dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya terkait dengan peningkatan pembangunan fisik yang terjadi. Peningkatan jumlah
penduduk ini berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan pangan, termasuk ikan sebagai lauk pauk sehari-hari masyarakat Kabupaten Raja Ampat.
Selain peningkatan hasil tangkap berupa ikan segar dan ikan asin, terdapat kecenderungan terjadi peningkatan hasil tangkap berupa ikan hidup (ikan karang dan lobster) di wilayah ini. Hasil utama nelayan di wilayah ini adalah ikan segar dan ikan asin, namun terdapat juga sejumlah nelayan yang pada musim-musim tertentu menangkap ikan - ikan karang hidup dan lobster. Karena meningkatnya permintaan ikan hidup, termasuk lobster dan adanya penampung lokal maka para nelayan mulai meningkatkan hasil tangkapannya. Jika sebelumnya memancing ikan hidup hanya dilakukan pada musim-musim tertentu, pada saat sekarang ini menjadi salah satu target tangkapan utama. Hasil tangkapan berupa ikan hidup dan lobster ini langsung dijual ke penampung lokal yang ada di desa. Oleh penampung lokal ikan-ikan ini dijual ke penampung yang lebih besar yang datang ke desa setiap bulan.
Peningkatan hasil tangkap nelayan di Distrik Waigeo Selatan ini ditunjang oleh adanya bantuan kapal motor dari dana otonomi khusus Provinsi Papua. Penduduk Kampung Yen Beser dan Friwen mendapatkan bantuan kapal motor dari dana otonomi khusus. Adanya perahu motor ini telah meningkatkan hasil tangkapan nelayan karena wilayah tangkapnya menjadi lebih jauh.
Perbedaan pendapatan menurut musim
Secara umum pendapatan rumah tangga nelayan sangat dipengaruhi oleh musim. Pendapatan rumah tangga nelayan pada musim gelombang lemah umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan pada musim gelombang kuat. Sementara itu pada musim pancaroba (peralihan antara gelombang lemah dan gelombang kuat), pendapatan rumah tangga nelayan cenderung berada pada kisaran angka antara pendapatan musim gelombang kuat dan gelombang lemah.
Hasil baseline tahun 2006 menunjukkan adanya perbedaan pendapatan yang sangat signifikan antara musim gelombang lemah, musim pancaroba dan gelombang kuat. Pada musim gelombang lemah, sekitar 48 persen rumah tangga nelayan mempunyai pendapatan antara Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000 dan terdapat rumah tangga yang mempunyai pendapatan di atas Rp 3.500.000. Pada musim ini rumah tangga yang mempunyai pendapatan di bawah Rp 500.000 hanya sekitar 12 persen. Sebaliknya pada musim gelombang kuat, sebagian besar rumah tangga (lebih dari 80 persen) hanya mempunyai pendapatan di bawah Rp 500.000. Pendapatan maksimum rumah tangga hanya mencapai antara Rp 1.500.000 sampai Rp 2.000.000. Sementara itu, pada musim pancaroba sekitar separoh dari jumlah rumah tangga nelayan berpendapatan di bawah Rp 500.000 dan sekitar seperempatnya mempunyai pendapatan antara Rp 500.000 – Rp 1.000.000 (Diagram 4.7).
Diagram 4.7. Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Nelayan, Menurut Musim, Tahun 2006 (Persentase)
0 20 40 60 80 100 Gel lemah Pancaroba Gel Kuat Gel lem ah 12.5 21.7 18.3 19.2 10.8 5.8 4.2 7.5 Pancaroba 55.8 25 8.3 7.5 1.7 0 1.7 0 Gel Kuat 83.3 12.5 2.5 1.7 0 0 0 0 <500,000500,000 - 999, 000 1,000,000 - 1,499,000 1,500,000 - 1,999,000 2,000,000 - 2,499,000 2,500,000 - 2,999,000 3,000,000 - 3,499,000 >3,500,00 0
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Diagram 4.8. Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Nelayan, Menurut Musim, Tahun 2008 (Persentase)
0 20 40 60 80 100 P er se n tase Gel lemah Pancaroba Gel Kuat Gel lem ah 1.7 9.9 10.8 16.7 21.7 16.7 6.7 20.8 Pancaroba 36.4 45.5 5.8 7.4 1.7 0.8 1.7 0.8 Gel Kuat 41.2 43.7 10.1 0.8 1.7 0 0 2.5 <500,000 500,000 - 999, 000 1,000,000 - 1,499,000 1,500,000 - 1,999,000 2,000,000 - 2,499,000 2,500,000 - 2,999,000 3,000,000 - 3,499,000 >3,500,00 0
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data Primer BME Sosial-Ekonomi, COREMAP –LIPI, 2008.
Dua tahun kemudian berdasarkan hasil BME 2008 dapat diketahui bahwa perbedaan pendapatan rumah tangga nelayan antar musim masih terjadi. Namun demikian perbedaan tersebut cenderung menipis -- kurang signifikan jika dibandingkan dengan perbedaan pada tahun 2006 --. Diagram 4.8 mengiformasikan bahwa pada musim gelombang lemah sebagian besar rumah tangga (55 persen) mempunyai pendapatan antara Rp 1.500.000 – Rp 3.000.000, hanya sebagian kecil (sekitar dua persen) yang berpendapatan kurang dari Rp 500.000. Rumah tangga yang mempunyai pendapatan di atas Rp 3.500.000 jumlahnya cukup besar, mencapai lebih dari 20 persen. Sebaliknya pada musim gelombang kuat, jumlah rumah tangga yang mempunyai pendapatan diatas Rp 3.500.000 hanya 2,5 persen. Sebagian besar rumah tangga hanya mempunyai pendapatan dibawah Rp 500.000 dan antara Rp 500.000 – Rp 1.000.000 (masing-masing 44 persen dan 41 persen).
Statistik pendapatan rumah tangga nelayan tahun 2006 dan 2008 yang terlihat pada Tabel 4.6 menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata, pendapatan minimum dan maksimum serta median pendapatan secara
umum naik pada seluruh musim (gelombang lemah, pancaroba dan gelombang kuat). Jika dicermati lebih lanjut terlihat bahwa peningkatan riil (nominal) pendapatan rata-rata yang cukup signifikan terjadi pada musim gelombang lemah. Selama dua tahun (2006-2008) pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan pada musim gelombang lemah telah meningkat sebesar Rp 1.050.000 atau sekitar 65,7 persen (dari Rp 1.605.100 tahun 2006 menjadi Rp 2.659.300 pada tahun 2008). Jika peningkatan dilihat dari persentasenya (bukan nilai riilnya), maka peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada musim gelombang kuat. Pada tahun 2006 pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan sebesar Rp 310.600 meningkat menjadi Rp 692.400 pata tahun 2008. Jadi selama kurun waktu dua tahun terjadi peningkatan sebesar Rp 381.800 atau sekitar 122,9 persen. Pada musim pancaroba peningkatan pendapatan secara riil maupun persentase lebih kecil jika dibandingkan dengan peningkatan pada musim gelombang lemah dan gelombang kuat (lihat Diagram 4.9).
Tabel 4.6. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim, di Tiga Kampung Lokasi COREMAP Kabupaten Raja Ampat, 2006 dan 2008 (Rupiah)
Musim Pendapatan
Gelombang Lemah Pancaroba Gelombang Kuat Tahun 2006 (T1) Rata-rata 1.605.100 625.008 310.608 Median 1.330.000 410.000 232.500 Minimum 96.000 0 0 Maksimum 6.300.000 3.450.000 1.700.000 N 120 120 120 Tahun 2008 (T2) Rata-rata 2.659.300 707.404 692.478 Median 1.800.000 500.000 550.000 Minimum 400.000 96.000 100.000 Maksimum 19.200.000 3.750.000 5.000.000 N 120 121 119
Peningkatan Pendapatan Tahun 2006 -2008
Nominal 1.054.200 172.400 381,800
Persen 65,7 27,6 122,9
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data statistik menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga maksimum cukup tinggi terjadi pada musim gelombang lemah dan gelombang kuat. Pada musim gelombang lemah peningkatan cukup tinggi, mencapai hampir tiga kali lipat (dari Rp 6.300.000 menjadi Rp 19.200.000). Demikian pula pada musim gelombang kuat, terjadi peningkatan cukup tajam dari Rp 1.700.000 menjadi Rp 5.000.000 (meningkat hampir 300 persen). Peningkatan pendapatan yang cukup besar pada musim gelombang kuat ini mengindikasikan bahwa pada musim ini terdapat sejumlah rumah tangga nelayan yang tetap bisa melaut dengan perolehan hasil tangkapan yang cukup besar sehingga pendapatannya tetap tinggi.
Diagram 4.9. Perubahan Pendapatan Rumah Tangga Nelayan Tahun 2006 -2008 Menurut Musim (Rupiah)
0 1,000,000 2,000,000 3,000,000 Ru p iah Gel lemah Pancaroba Gel Kuat Gel lemah 1,605,100 2,659,300 1,054,200 Pancaroba 625,000 707,400 172,400 Gel Kuat 310,600 692,400 381,800 Tahun 2006 Tahun 2008 Perubahan
2006 - 2008
Sumber: Data Primer Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, COREMAP-LIPI, 2006
Data Primer BME Sosial-Ekonomi, COREMAP –LIPI, 2008.
Meningkatnya pendapatan nelayan di lokasi COREMAP berkaitan dengan beberapa faktor. Salah satu faktor adalah adanya bantuan perahu motor dari Pemerintah Propinsi (dana otonomi khusus). Seperti telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa telah terjadi
peningkatan kepemilikan perahu motor di ketga kampong lokasi COREMAP. Dengan adanya perahu motor, pada musim gelombang kuat, para nelayan masih bisa melaut dengan mempertimbangkan cuaca. Seperti dikemukakan oleh salah satu narasumber bahwa pada musim gelombang kuat, para nelayan kadang-kadang masih bisa melaut dengan wilayah tangkap yang terbatas. Pada musim ini kadang-kadang nelayan bahkan mencari lobster di sekitar perairan desa. Walaupun perolehan tangkapan jumlahnya kecil, tetapi harga ekonominya cukup tinggi.