Keuntungan ROA
MANAJEMEN TEKNOLOGI
6.1. PERMASALAHAN DAN KERANGKA PEMECAHAN PERMASALAHAN
Seperti dikemukakan pada bab-bab sebelumnya industri komponen kapal memiliki berbagai potensi permasalahan yang cukup menghambat dalam pengembangannya. Dari berbagai permasalahan tersebut paling tidak terdapat berbagai permasalahan yang jelas sangat mempengaruhi perkembangan yaitu terutama:
1. Aspek Regulasi
Peraturan menteri Keuangan No. 29/PMK.011/2009 tentang Bea Masuk Ditanggung Pemerintah atas Impor Barang dan bahan oleh Industri Perkapalan Guna Pembuatan dan/atau Perbaikan Kapal untuk tahun 2009. Peraturan ini memberi dampak masuknya berbagai komponen kapal dari luar atau bahkan masuknya produk kapal utuh dari luar. Hal ini tidak dapat ditanggulangi oleh industri komponen kapal secara langsung. Dalam hal ini kebijakan pemerintah menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya saing industri kapal.
2. Produk Tidak Memenuhi Spesifikasi Standar.
Produk yang dihasilkan industri komponen kapal selama ini harusnya mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh biro klasifikasi nasional. Namun demikian kenytataannya standar sebagian besar industri komponen kapal belum dapat mengimplementasikannya. Hal ini berakibat menurunnya daya saing produk yang dihasilkan.
3. Kualitas SDM dan peralatan produksi
VI PENDEKATAN DAN METODOLOGI
“ Agar dapat melaksanakan kegiatan kajian teknis
peningkatan produktivitas industri komponen kapal dengan baik dan hasil pelaksanaan sesuai dengan maksud dan tujuan serta yang diharapkan maka diperlukan beberapa pendekatan yang sesuai.”.
Kualitas SDM dan peralatan produksi pada industri komponen kapal pada umumnya masih kurang. Hal ini berkaitan erat dengan ketidka sesuaian produk yang dihasilkan dengan standar yang ada. Pengingkatan kualitas SDMdan peralatan menjadi hal yang mutlak diperlukan pada pengembangan industri komponen kapal. Ekonomi biaya tinggi sehingga barang impor bisa lebih murah dari buatan lokal. Masuknya produk China yang berkualitas rendah dan murah, tidak ada yang bisa menangkalnya.
Tingginya tuntutan kualitas komponen kapal dari biro klasifikasi Indonesia yang dinyatakan dalam rule and Regulations for Sea Going Steel Ship, termasuk kepada kapal-kapal inland waterways.
Galangan kapal cenderung mencari barang jadi ex import yang ready, karena menyangkut delivery yang singkat.
Sulitnya melakukan type approval untuk komponen kapal karena keterbatasan laboratorium uji, dan mahalnya biaya uji
Belum ada statistic kebutuhan pasar sehingga produsen tidak mau berspekulasi membuat produk untuk stock.
Peran IPERINDO belum maksimal (Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia)
Berbagai permasalahan, terutama yang berkaitan erat dengan kualitas dan kuatitas produksi yang sangat erat kaitannya dengan produktivitas tersbut menjadi mutlak perlu untuk diperbaiki. Dan hal tersebut dapat diperbaiki salah satunya dengan melakukan kajian teknis. Yaitu dengan memberikan pendampingan terhadp industri sehingga diharapkan nantinya dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya meningkatkan daya saing industri komponen kapal. Secara garis besar keterkaitan antara permasahan dan kerangka pemecahan permasahan dapat dilihat pada gambar berikut;
Gambar 6.1. Kerangka Pemecahan Masalah Regulasi Kurang Mendukung Pengingkatan Komponen Impor Impor Kapal Utuh
PRODUKTIVITAS INDUSTRI KOMPONEN KAPAL MENJADI
RENDAH
Kapasitas Produksi Rendah
Ketidak Sesuaian produk dengan Standar Kualitas SDM Rendah Tingkat Inovasi
Teknologi Rendah
DAYA SAING TURUN (RENDAH)
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS INDUSTRI KOMPONEN KAPAL MELALUI
BIMBINGAN TEKNIS
Regulasi yang mendukung
Kegiatan :
Pendataan Industri dan Potensi
Koordinasi Antar Stakeholder
Penyusunan Standar Acuan Bimbingan Teknis
Fasilitasi Pendampingan Pengujian Produk Monitoring dan evaluasi
produksi sesuai Standar Acuan
Hasil Kegiatan dan Rekomendasi
6.2. PENDEKATAN
Agar dapat melaksanakan kegiatan kajian teknis peningkatan produktivitas industri komponen kapal dengan baik dan hasil pelaksanaan sesuai dengan maksud dan tujuan serta yang diharapkan maka diperlukan beberapa pendekatan yang sesuai. Pendekatan-pendekatan ini terutama untuk memperoleh data-data pendukung dan penetapa metode yang sesuai dalam pelaksanaan pekerjaan. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut:
6.2.1. PENDEKATAN PROSES
Pendekatan proses (processes approach) terfokus pada proses produksi pada industri komponen kapal. Sesuai dengan penekanan pada kegiatan ini, maka pendekatan proses diutamakan untuk melihat aliran proses produksi, mulai dari pengadaan bahan baku, seleksi bahan baku, treatment bahan baku, proses pengolahan bahan baku, penyimpanan dan pengepakan (packaging), penggudangan, distribusi. Namun demikian hal yang paling ditekankan adalah dalam produksi terutama dalam kaitan kegiatan produksi yang dilakukan dengan kesesuaian prosedur yang benar sehingga menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi dan standar.
Dengan mengenali proses produksi pada industri komponen kapal dapat memberikan informasi berkaitan dengan permasalahan yang terjadi pada setiap lini produksi; sehingga akan lebih mudah dalam menetapkan prioritas program perbaikan pada saat melakukan kajian teknis untuk dapat memenuhi persyaratan standar produk. Salah satu ilustrasi pendekatan proses ini disajikan berikut ini:
6.2.2. PENDEKATAN MANAJEMEN TEKNOLOGI
Pendekatan manajemen teknologi juga dapat digunakan sebagai langkah mengenali komponen-komponen teknologi dalamindustri komponen kapal. Sharif (1993) menyebutkan komponen teknologi terdiri dari: (1) perangkat keras – hardware; (2) perangkat manusia–
humanware; (3) perangkat informasi–infoware; dan (4) perangkat organisasi–orgaware.
Sementara Hubeis (1993) membagi teknologi menjadi empat, yaitu: (1) teknologi standar, dengan sistem produksi standar, peralatan standar, dan memerlukan pekerja dengan kualifikasi sedang; (2) teknologi mutakhir, dengan sistem produksi kompleks, peralatan kompleks, dan memerlukan pekerja dengan kualifikas tinggi; (3) teknologi tradisional, dengan sistem produksi standar, peralatan tidak banyak dan memerlukan pekerja yang kurang berkualifikasi; dan (4) teknologi transisi, dengan sistem produksi standar, peralatan sederhana dan memerlukan pekerja yang kurang berkualifikasi.
Pendekatan manajemen teknologi terkait dengan pendekatan proses; karena dalam proses produksi komponen kapal, faktor teknologi menjadi dominan dalam menghasilkan
Bahan Baku
Bahan Penolong (Impor)
Komponen-Komponen Pendanaan TEKNOLOGI Komponen Teknologi Kemampuan Teknologi Iklim Teknologi Infrastruktur Teknologi Produk Akhir Produk Sampingan Produk Jasa Evaluasi Mutu dan Produktivitas Manajemen Teknologi Perbaikan Mutu dan Produktivitas Inovasi Kinerja
(Sumber : Gumbira Sa’id et al, 2001, modifikasi)
Gambar 6.2. Ilustrasi pendekatan proses
INPUT PROSES OUTPUT
Teknologi Tua
Mutu dan Produktivitas
produk yang sesuai degan klasifikasi dan standar yang berlaku. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diketahui bagaimanakah kondisi teknologi yang ada pada perusahaan industri komponen kapal dengan memperhatikan komponen-komponen atau karakteristik teknologinya.
6.2.3. SUPPLIER BASED APPROACH
Maksudnya adalah pendekatan terhadap pemasok, baik dalam hal ini pemasok bahan baku sebagai pemasok industri komponen kapal maupun terhadap industri komponen kapal yang memiliki produk standar yang dalam hal ini sebagai pemasok pada industri kapal. Tujuan dari pendekatan ini adlah untuk memperolehberbagai data yang relevan baik spesifikasi, standar mutu, kapasitas produksi, kemampuan pasok maupun dat lainnya yang sesuai.
6.2.4. USER BASED APPROACH
Maksdunya adalah untuk mamperoleh informasi dari pengguna dalam hal ini industri galangan kapal. Baik mengenai daftar pemasok, spesifikasi teknis yang diminta pengguna, tingkat permintaan, data kualitas produk impor yang selam ini dipasok dari impor.
6.2.5. PENDEKATAN PARTISIPATORI
Proses pembelajaran (Kajian Teknis) harus didukung dengan proses partisipatoris dari semua pihak yang ada dalam perusahaan komponen kapal. Inti dari proses partisipatoris adalah keterlibatan setiap pelaku usaha (pada semua level) dalam kaitannya dengan kajian teknis dan bantuan tenaga ahli. Dalam konteks ini, pengertian partisipatoris akan lebih dekat kepada upaya-upaya pelibatan para pihak dalam perumusan dan penyusunan langkah-langkah dalam peningkatan produktivitas pada perusahaannya. Pretty dan Guijt (1992:23) dalam Mikkelsem (1999:63) menjelaskan bahwa proses partisipatoris harus mulai dengan personil yang paling mengetahui tentang sistemnya terutama pada system produksi, dalam hal ini adalah proses produksi pada industri komponen kapal. Pendekatan ini harus menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, dan memberikan sarana yang perlu bagi mereka supaya mengembangkan diri. Ini memerlukan perombakan dalam seluruh praktik dan pemikiran, di samping adanya fasilitasi sesuai dengan kebutuhan.
6.3. METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan teknis peningkatan produktivitas industri komponen kapal pada dasarnya dikelompokan dalam dua metode, yaitu; metode pengumpulan dan pengolahan data dan metode pelaksanaan kajian teknis. Berikut adalah uraian penjelasannya.
6.3.1. METODE PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Metode ini terutama dilakukan untuk melakukan pengumpulan data-data yang relevan untuk melakukan kegitan kajian teknis. Data yang dikumpulkan tersebut dapat berupa data primer maupun data sekunder. Data-data tersebut baik primer maupun data sekunder lebih ditekankan pada aspek produksi pada industri komponen kapal baik yang berkaitan degan teknik produksi maupun pada standar komponen kapal yang dipersyaratkan.
Dalam melakukan pengumpulan data baik data primer maupun sekunder dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, studi pustaka, studi instansional, in-depth interview, maupun dengan rapat-rapat teknis terbatas dalam FGD.
Data yang diperoleh dengan kuesioner dan in-depth interview terutama ditekankan pada berbagai potensi dan permasalahan pada industri komponen kapal. Permasalahan yang digali sedapat mungkin dapat menggali akar permasalahan sehingga dapat memberikan masukan dalam perumusan materi dalam kajian teknis sehingga sesuai dengan kebutuhan.
Studi Pustaka terutama dilakukan untuk memperoleh data-data sekunder berkaitan dengan teknik produksi, standar berlaku, dan teori-teori lainnya yang relevan dengan pekerjaan. Studi pustaka ini tidak terbatas pada materi yang bersifat hard (buku) namun juga dapat berupa materi digital yang diperoleh dari internet ataupun sumber digital lainnya.
Studi Instansional terutama berkaitan dengan koordinasi dengan instansi terkait baik dalam upaya koordinasi semata-mata untuk kelancaran pekerjaan mauypun dalam upaya perolehan data. Data yang dapat diperoleh dari kegiatan ini dapat berupa data regulasi kebijakan, standar mutu sesui perundangan maupun data stakeholder terkait yang terdapat dalam instansi tersebut.
Rapat teknis terutama dilakukan dalam merumuskan standar acuan teknis yang nantinya dipergunakan dalam melakukan kajian teknis. Rapat teknis ini tidak perlu melibatkan banyak pihak, cukup dengan pihak-pihak terkait. Hal ini bertujuan agar rapat teknis yang dilakukan lebih efektif.
Dari berbagai metode peroleh data tersebut selanjutnya dapat diidentifikasikan dan dikumpulkan data-data yang diperlukan. Berikut adalah identifikasi data awal untuk kegiatan ini.
No. Jenis Data dan Informasi Sumber Data
1. Data statistik industri komponen kapal pada lokasi kegiatan (sebaran, penyerapan tenaga kerja, kapasitas produksi, ekspor, impor, pasar, nilai input-output dan nilai tambah, penggunaan energi, dan lain sebagainya).
BPS, Dinas terkait di daerah
2. Kondisi eksisting industri komponen kapal yang berkaitan dengan bahan, material, jenis produksi, kemampuan mesin produksi, kualitas, kuantitas, acuan spesifikasi teknis dan pemasaran produsen komponen kapal.
Kementerian Perindustrian, Dinas terkait di daerah, Asosiasi Terkait
3. Data acuan spesifikasi teknis, Standar Komponen Kementerian Perindustrian,
Dinas Perindustrian, Biro Klasifikasi Nasional, Asosiasi 4. Peraturan perundangan yang berlaku, kebijakan dan strategi
pengembangan industri komponena kapal
Kementerian Perindustrian, Kementerian Dalam Negeri 5. Data sumberdaya manusia, yang meliputi : jumlah tenaga kerja
terdidik dan terlatih, kemampuan tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan, dll
Dinas terkait di daerah dan Perusahaan Industri Komponen Kapal 6. Kondisi infrastruktur, teknologi produksi, dan sarana
pendukung lainnya
Dinas terkait daerah
7. Data-data lainnya yang relevan Berbagai sumber
Data-data terebut setelah dilakukan pengumpulan selanjutnya dilakukan pengolahan dengan dilakukan pengelompokan, editing dan penyajian data sesuai dengan kebutuhan dalam analisis maupun untuk pelaksanaan pekerjaan.
6.3.2. METODE PELAKSANAAN KAJIAN TEKNIS
Metode pelaksanaan pekerjaan terdiri dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk dalam rangkaian pelaksanaan kajian teknis. Beberapa metode yang dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah :