Dinamika organisasi pada tahun 2020 yang mempengerahui berbagai kebijakan pimpinan baik yang datang dari Pusat maupun yang lahir dari internal Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu, sangat mempengaruhi capaian kinerja yang telah ditargetkan. Kebijakan yang paling terasa mempengaruhi kinerja adalah selama tahun 2020 Badan Karantina Pertanian telah melakukan reposisi pegawai melalui mutasi alih tugas dalam rangka penataan organisasi. Selama tahun 2020 telah dilakukan mutasi alih tugas terhadap pegawai Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada bulan Maret 2020 yang keluar sebanyk 2 (dua) orang sedangkan yang masuk sebanyak 1 (satu) orang dan pada bulan Desember yang masuk 1 (satu) orang serta penambahan penempatan tenaga CPNS hasil pengadaan tahun 2019 sebanyak 4 (empat) orang sehingga posisi pegawai Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu pada akhir bulan Juli 2020 hanya 40 (empat puluh) orang pegawai.
Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan luas wilayah kerja yang harus ditangani apa lagi Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu menangani kegiatan ekspor hasil hutan dan hasil perkebunan serta Sulawesi Tengah sebagai daerah pengeluaran Sapi Potong ke Kalimantan Timur dimana Sulawesi Tengah sebagai daerah endemis penyakit Brucellosis sedangkan Kalimantan Timur merupakan daerah bebas penyakit Brucellosis. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang cukup serius dalam rangka memastikan media pembawa HPHK dan OPTK yang akan keluar benar-benar dalam kondisi bebas dari HPHK dan OPTK.
Selain masalah keterbatasan sumber daya manusia yang dialami oleh Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu sebagai permasalahan yang rutin
dari tahun ke tahun, juga yang tidak kalah dahsyatnya pada tahun 2020 dunia termasuk Indonesia khususnya juga Provinsi Sulawesi Tengah mengalami wabah penyakit menular yakni pandemi Covid-19. Wabah tersebut berdampak pada produkstivitas pegawai baik teknis maupun administrasi menjadi menurun karena harus menerapkan protocol 3 M serta sebagian pegawai harus melakukan pekerjaan dari rumah ( work from home / WFH ) sebagai langkah pengendalian penularan Covid-19. Selain harus menerapkan protokol kesehatan 3M dan pemberlakuan WFH juga berdampak pada pemotongan anggaran belanja kantor yang tertuang dalam DIPA, dalam rangka mendukung anggaran kementerian lain untuk menangani wabah Covid-19 serta dampak yang ditimbulkan.
Walaupun demikian, seluruh jajaran pimpinan bersama staf tidak menyurutkan rasa tanggungjawab untuk tetap melaksanakan tugas dan fungsi Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu secara optimal sudah tentu dengan banyak permasalahan dan hambatan yang dihadapi selama perjalanan tahun 2020 diantara :
a. Jumlah sumber daya manusia / pegawai yang sangat terbatas untuk mendukung pelaksanaan kegiatan teknis karantina hewan, teknis karantina tumbuhan serta pendukung administrasi. Selain karena terbatas jumlah orangnya juga terbatas jumlah jabatannya seperti :
Pelaksanaan tindakan Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan di Wilayah Kerja lingkup Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu tidak didukung jumlah yang seimbang misalnya : Di Wilayah Kerja Pantoloan ditangani oleh 3 (tiga) orang
POPT. Terampil, 3 (tiga) orang POPT. Ahli dan 1 (satu) orang tenaga Administrasi.
Di Wilayah Kerja Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu Tindakan Karantina Pertanian hanya didukung oleh 3 (tiga) orang Medik Veteriner, 2 (dua) orang Paramedik Veteriner serta 3 (tiga) POPT. Ahli dan 3 (tiga) orang POPT. Terampil;
Di Wilayah Kerja Luwuk pelaksanaan tindakan Karantina Pertanian dilakukan oleh 1 (satu) orang Medik Veteriner dan 1 (satu) orang POPT. Ahli;
Di Wilayah Kerja Pagimana hanya dijaga oleh 1 (satu) orang Paramedik Veteriner;
Di Wilayah Kerja Tolitoli hanya diisi oleh 1 (satu) orang POPT. Ahli;
Di Wilayah Kerja Donggala hanya dijaga oleh 2 (dua) orang POPT. Terampil;
Di Wilayah Kerja Ampana ditangani oleh 1 (satu) Medik Veteriner dan 1 orang POPT. Ahli.
Sedangkan untuk fungsional umum/pelaksana administrasi harus merangkap pekerjaan dan tugas dan bahkan sebagian tugas juga harus dibantu oleh tenaga fungsional POPT. Terampil sebagai operator SAIBA, Simonev, SMART, Verifikator SPM dan kehumasan serta pejabat pengadaan dan penerima hasil pekerjaan.
b. Belum tersedianya jabatan fungsional tertentu di Sub Bagian Tata Usaha untuk mendukung kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan kegiatan seperti fungsional analis kepegawaian, pranata komputer, analis perencanaan, dan sebagainya;
c. Terjadinya refocusing / pemotongan anggaran yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan sebanyak dua kali sebagai akibat adanya pandemic Covid-19, pada sudah direncanakan dari tahun 2019 untuk membiayai kegiatan pada tahun 2020 dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu menjadi terhambat;
d. Masih terbatasnya penyelenggaraan pendidikan dan latihan yang dicanangkan oleh Badan Karantina Pertanian untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan pegawai khususnya di sub bagian tata usaha.
B. Solusi / Pemecahan Masalah.
Dari beberapa permasalahan yang terungkap dan dirasakan langsung oleh Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu selama tahun 2020, maka kami mencoba mencarikan solusi untuk pemecahan masalah yakni : a. Dalam mengatasi permasalahan keterbatasan sumber daya manusia
maka salah satu kebijakan yang diambil adalah dengan merekrut tenaga harian lepas dengan sistem kontrak setiap 6 (enam) bulan sekali sebanyak 31 orang. Perekrutan tersebut dimaksudkan untuk membantu tugas-tugas tenaga fungsional tertentu maupun fungsional umum, dengan klasifikasi tugas dan jabatan sebagai petugas keamanan, sebagai sopir, cleaning service dan pramubhakti. Keberadaan tenaga harian lepas untuk sementara dirasakan dapat mengurangi beban dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Biaya honor / upah untuk tenaga harian lepas dibayarkan melalui anggaran yang tersedia dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu.
b. Untuk jabatan fungsional tertentu di Sub Bagian Tata Usaha, maka Balai Karantina Pertanian Kelas II Palu mengusulkan supaya nama-nama pegawai fungsional umum untuk dapat diangkat dalam inpassing jabatan Analis Kepegawaian, Analis dan Pranata Pengelola Keuangan APBN serta Arsiparis Terampil.
c. Dalam meningkatkan skil pegawai senantiasa diusulkan untuk dapat diikutkan dalam kegiatan-kegiatan penyegaran seperti diklat, bimbtek, workshop atau in hose training sehingga pegawai selalu mengasah dan mengupdate pengetahuan sesuai perkembangan yang ada.
d. Perlu dilakukan revisi terhadap peta jabatan terkait jumlah pejabat fungsional dengan jenjang jabatan yang disesuaikan dengan jumlah wilayah kerja dan beban pekerjaan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN