Gambar 21. Penilaian antar teman
Di Gambar 21 tersebut terlihat menurut penilaian salah satu siswa terdapat beberapa teman dalam kelompoknya yang menunjukkan keaktifan yang baik dalam kelompok, mengerjakan tugas dengan tanggung jawab, serta menyumbangkan ide selama projek cerdig ini. Namun ada temannya yaitu siswa nomor 4 yang kurang bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dan kurang menyumbangkan ide pada projek kelompok mereka. Penilaian antar teman ini bisa dimanfaatkan untuk pertimbangan penilaian siswa dan juga berkontribusi dalam evaluasi projek cerdig ini.
F. Permasalahan yang Dihadapi dan Solusinya
Selama pengamatan saat pelaksanaan Projek Cerdig dan hasil evaluasi siswa terhadap projek ini, terdapat beberapa masalah yang dihadapi dan perlu dipecahkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain:
1. Siswa yang kurang aktif
Seperti ditunjukkan di hasil penilaian antar teman, dalam setiap kelompok terdapat siswa yang dominan dan siswa yang kurang aktif. Hal ini menjadi permasalahan klasik saat guru menyelenggarakan pembelajaran dalam kelompok. Solusi yang mungkin dilakukan adalah manajemen pembagian kelompok yang perlu diubah dan pengaktifan siswa yang kurang aktif agar terlibat dalam kelompok serta memberikan pengertian kepada siswa yang dominan agar berbagi tugas dengan siswa lain di kelompoknya.
2. Kesalahan grammatical
Pada tahap desain (pengorganisasian ide) yaitu penggubahan teks essay menjadi dialog-dialog dalam script cerdig, waktu yang dibutuhkan terlalu lama. Siswa masih melakukan kesalahan penulisan yang berupa kesalahan grammar/tata bahasa. Pada tahap ini, guru memberikan umpan balik berupa koreksi-koreksi pada kalimat yang kurang tepat. Hal ini di projek berikutnya dapat dipecahkan dengan pemberian materi tambahan dalam tata bahasa sehingga siswa bisa lebih tepat dalam membuat kalimat atau menulis.
3. Pelafalan siswa
Pelafalan atau pronunciation menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran speaking. Siswa perlu mendapatkan model yang tepat dalam melafalkan atau mengucapkan kata tertentu. Di samping pengucapan kata, dalam projek cerdig kali ini yang menjadi masalah utama adalah intonasi dan penjiwaan karakter dalam membaca dialog. Banyak siswa yang masih datar dalam berdialog seperti membaca teks saja.
Hal inilah yang menyebabkan proses rekaman berjalan lambat karena terlebih dahulu guru memberikan drilling pronunciation. Setelah pengulangan rekaman lebih dari lima kali terpaksa suara yang direkam masih belum maksimal karena pertimbangan waktu yang ada.
4. Teks yang terlalu panjang
Teks naratif yang panjang yang digunakan dalam projek cerdig ini menyebabkan beberapa kesalahan grammatical dan pengucapan pada saat proses penulisan script dan rekaman. Meskipun guru memberikan pendampingan penulisan script atau naskah dan juga proses rekaman, namun dengan panjangnya naskah ada banyak kesalahan yang terjadi dan perlu diperbaiki.
Selain itu, naskah cerdig yang panjang juga berpengaruh pada storyboarding di mana siswa mengalami kesulitan mencari gambar atau image yang sesuai. Beberapa kelompok bahkan menggunakan satu image visual untuk menggambarkan narasi dengan durasi yang lama. Dari permasalahan yang muncul di projek ini, solusi yang bisa diterapkan di projek yang akan datang adalah penggunaan teks yang tidak terlalu panjang sehingga siswa bisa lebih fokus dalam mengerjakan cerdignya.
5. Alokasi waktu
Pmbelajaran Bahasa Inggris di SMPN 5 Panggang memiliki alokasi waktu 2x40 menit per pertemuan dan 3 pertemuan tiap minggunya. Sedangkan untuk KD 10.2 naratif hanya mendapatkan alokasi waktu 4 JP dalam silabus dan RPP semester tersebut. Namun kenyataannya, projek cerdig ini memakan waktu lebih dari 4 JP karena dilaksanakan tahap demi tahap. Pada fase desain (pengorganisasian ide) yang berupa penggubahan teks essay menjadi naskah atau script drama memakan memerlukan alokasi waktu lebih dari 2x40 menit. Begitu pula pada saat browsing visuals dan mengunduhnya serta merekam narasi audio.
Solusi yang dilakukan untuk mengakomodasi kekurangan waktu ini adalah pelaksanaan tahapan projek cerdig di luar jam pelajaran baik sebagai penugasan terstruktur kelompok maupun pemanfaatan jam sepulang sekolah. Selanjutnya untuk masalah sejenis di projek yang akan datang, guru perlu memetakan Kompetensi Dasar (KD) yang akan diuji coba atau diberi tindakan tertentu dengan alokasi waktu yang lebih lama disesuaikan dengan
tingkat kompleksitas dan ketersediaan waktu di semester yang akan berjalan sehingga praktik-praktik inovasi pembelajaran seperti ini tidak akan menghambat pembelajaran pada KD lainnya.
BAB IV PENUTUP A. Simpulan
Pembelajaran speaking khususnya teks naratif melalui projek cerdig ini mengadaptasi model pembelajaran speaking berbasis proses (Nation dan Newton, 2009: 125-7) dan menulis berbasis proses (Hyland, 2003: 10-4) serta desain pembelajaran berbasis multimedia (Lee and Owens, 2004). Projek ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) pemilihan topic, (2) desain (pengorganisasian ide), (3) pengembangan, (4) evaluasi, dan (5) publikasi. Hasil dari projek cerdig ini adalah empat produk cerdig yang dibuat oleh siswa dengan judul antara lain: (1) the Legend of Banyuwangi, (2) the Legend of Danau Toba, (3) the Legend of Tangkuban Perahu, dan (4) Malinkundang. Produk cerdig tersebut bisa diakses di media sosial www.youtube.com. Projek cerdig ini juga diyakini oleh banyak siswa dapat: (a) membuat mereka senang saat pembelajaran speaking, (b) meningkatkan partisipasi mereka dalam pembelajaran, (c) meningkatkan kemampuan speaking mereka khususnya dalam bercerita naratif legenda lokal, dan (d) meningkatkan keterampilan TIK mereka seperti browsing, mengunduh data, dan digital storytelling atau membuat movie dengan WMM 2.6 B. Saran Merujuk pada permasalahan yang dihadapi selama projek cerdig berlangsung, ada beberapa saran yang bisa dipakai dalam projek sejenis, yaitu: (1) managemen kelomok yang lebih baik untuk mengurangi dominasi siswa dalam kelompok dan mengaktivkan siswa yang kurang aktif, (2) memberikan perhatian atau tambahan materi pada tata bahasa dan pelafalan (pronunciation), (3) memberikan tantangan yang sesuai dengan karakteristik siswa tidak terlalu mudah ataupun sulit, dan (4) pengorganisasian materi atau pemetaan kompetensi dasar yang di awal semester. C. Rekomendasi Perkembangan teknologi digital storytelling saat ini bisa dimanfaatkan dalam projek sejenis. Program-program yang bisa diunduh gratis dengan smartphone seperti Viva Video, We Video, Mini Movie bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran.